alexa-tracking

HUT Ke-72, TNI AU Harus Mengembangkan Sistem Pertahanan Udara

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acb2673620881b4088b4568/hut-ke-72-tni-au-harus-mengembangkan-sistem-pertahanan-udara
HUT Ke-72, TNI AU Harus Mengembangkan Sistem Pertahanan Udara
HUT Ke-72, TNI AU Harus Mengembangkan Sistem Pertahanan Udara

JAKARTA - Pengamat militer dan intelijen, Susaningtyas Kertopati menyatakan, pidato KSAU Marsekal Yuyu Sutisna yang menyatakan pensiunan TNI AU akan mendapat rumah pribadi patut disyukuri. Hal lain mengenai interoperabilitas, pun harus didukung baik dalam politik anggaran maupun implementasinya. TNI netral dalam pemilu juga suatu keniscayaan, bagi perempuan yang karib disapa Nuning itu.

“Jika TNI AU konsisten dengan konsep netwok centric operation, maka langkah awal adalah mulai menggeser kekuatan tempur utama TNI AU di wilayah perbatasan. Mengingat jarak jelajah pesawat TNI AU sangat ditentukan dari mana pangkalan awalnya untuk airborne,” ujar Nuning dalam keterangannya kepada Okezone, Senin (9/4/2018).

Nuning menambahkan, sesuai visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di mana Indonesia sebagai poros maritim dunia, maka TNI AU dapat mengajukan konsep menjaga kedaulatan seluruh perairan dan daratan Indonesia selama 24 jam berdasarkan UNCLOS 1982 yang telah diratifikasi menjadi UU nomor 17 tahun 1985.
“TNI AU juga dapat mengajukan konsep kedaulatan di udara sampai dengan batas ketinggian yang diatur menurut hukum internasional dan nasional hingga ruang angkasa,” imbuhnya.

Faktor ketiga yang tidak kalah penting, kata Nuning, adalah dinamika konflik Laut China Timur dan Laut China Selatan, di mana dua negara yang menjadi aktor utama yaitu Korea Utara dan China telah mengembangkan rudal nuklir jarak jauh.
“TNI AU harus mengembangkan konsep sistem pertahanan udara yang modern dan canggih, melindungi keselamatan NKRI dengan menyiapkan sistem deteksi dini dan sistem interceptor. Perlu dikaji kedua sistem tersebut untuk mampu menangkis datangnya rudal nuklir tersebut di luar ZEE,” terangnya.

Dari ketiga faktor tersebut, Nuning menilai sangat penting bagi TNI AU memodifikasi MEF, seperti penambahan radar Ground Control Interceptor (GCI) dan radar Early Warning (EW) di seluruh Indonesia terutama bagian timur Indonesia.
“Kemudian, menambah skuadron udara tempur agar mampu melaksanakan patroli udara rutin selama 24 jam, minimal frekuensi terbang malam sama dengan terbang siang. Jadi, operational requirement dan technical specification kedua jenis radar tersebut tidak hanya untuk dog fight di udara antara pesawat TNI AU melawan pesawat musuh tapi juga harus mampu dog fight pesawat TNI AU menangkis rudal nuklir,” ujarnya.

Oleh sebab itu, penting pesawat-pesawat tempur TNI AU dipersenjatai rudal anti rudal jarak jangkau minimal 25 Nm (48 km). Dan untuk personel yang harus ditingkatkan kapasitasnya adalah mengirim para perwira muda TNI AU menjadi Master dan Doktor ilmu ruang angkasa (space science) di luar negeri.

“Tidak hanya sampai perbatasan. Harus bisa ke laut internasional karena doktrin pertahanan Indonesia adalah defense active.Jadi penting menekankan peningkatan kadar intelektual perwira TNI AU,” kata Nuning.
Yang tak kalah penting baginya, adalah pergeseran Lanud meliputi pembangunan landasan pacu baru berikut ground facilities dan kedua jenis radar GCI dan EW. “Setelah tahapan tersebut baru digeser skuadron pesawat tempurnya. Yang patut dilakukan adalah melakukan simulasi skema penganggaran MEF dengan merubah sasaran prioritas dan efisiensi anggaran rutin operasional,” tandasnya.
(aky)


https://news.okezone.com/read/2018/0...rtahanan-udara


---------
komen TS:

gimana ya.... anggaran TNI emang harus di naikin lagi sih...jangan malah di kurangin lah... gile aje...
--------

berita tahun kemarin :

Anggaran di 2018 turun, TNI tetap pertimbangkan pengadaan alutsista

Merdeka.com - Pemerintah telah menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2018 kepada DPR beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, pemerintah menjabarkan rancangan anggaran yang dibutuhkan oleh setiap pos kementerian untuk tahun 2018.

Dalam RAPBN 2018, anggaran Kementerian Pertahanan diajukan sebesar Rp 105,7 triliun turun dari APBN-P 2017 yang sebesar Rp 114,8 triliun. Sementara itu, Polri diajukan akan memperoleh pagu anggaran sebesar Rp 77,8 triliun, menurun dari anggaran tahun 2017 sebesar Rp 98,2 triliun.


Kepala Staf Umum TNI Didit Herdiawan mengatakan, meskipun terdapat penurunan anggaran pihaknya akan tetap mempertimbangkan pengadaan peralatan utama sistem persenjataan (alutsista) di tahun 2018. Namun, pengadaan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan program prioritas lainnya.

"Alutsista tetap. Kalau anggaran dikurangi kita harus lakukan dengan pelaksanaan kegiatan yang betul-betul menggunakan skala prioritas. Mana yang penting dan tidak," ujar Didit di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin (21/8).

Didit menegaskan pengadaan alutsista harus komprehensif dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kekuatan TNI dalam jangka panjang. Selain itu, pengadaan tersebut juga harus netral dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan lain.

"Pengadaan alutsista tersebut, ataupun pelaksanaan kegiatan pembangunan kekuatan TNI ke depan, itu harus lebih komprehensif lagi dan betul-betul sesuai dengan kebutuhan yang berkaitan dengan sikap netral," jelasnya.

Selain pengadaan alutsista, TNI juga akan fokus menjaga persatuan dan kesatuan utamanya di daerah terpencil dan perbatasan. Selain itu, program lain yang masih akan terus dijalankan adalah program bela negara dari Sabang sampai Merauke.

Untuk itu, TNI akan bekerja sama dengan kementerian-kementerian terkait agar program tersebut dapat terlaksana.

"Kita tetap laksanakan bela negara berdasarkan kerjasama yang ada dengan Kemenhan dan Kemendagri kita lakukan bela negara di seluruh pelosok tanah air. Tidak hanya di Jawa tapi dari sabang sampai Merauke dan di pedalaman," pungkasnya.

Sebelumnya, dalam RAPBN 2018, Kementerian Pertahanan akan melakukan penggantian sebanyak 50 unit kendaraan tempur, dan pengadaan 10 unit KRI, KAL, Alpung, dan Ranpur/Rantis Matra Laut.

Sementara Polri akan mengalokasikan anggarannya untuk pembinaan pelayanan fungsi oleh 120.000 personel Sabhara untuk pengamanan aksi unjuk rasa, pembangunan dan rehabilitasi 3.500 unit perumahan dinas, dan penyelesaian 75 persen tindak pidana narkoba.
[idr]

https://www.merdeka.com/uang/anggara...alutsista.html


--------

jaman si beye:

10 Tahun Masa Presiden SBY, Alutsista TNI Meningkat Tajam

Di tengah suasana hiruk pikuk menjelang Pilpres 2014 hampir menenggalamkan jasa Presiden yang masih menjabat sekarang ini dalam membangun pertahanan NKRI. Setelah era reformasi 1998-2009 sektor keamanan negara kita tercinta diabaikan, hasilnya wilayah teritorial Indonesia diusik oleh negara tetangga yang usil. Kemampuan deteren TNI menurun pada titik nadir.


Tahun ini adalah tahun akhir pemerintahan SBY setelah selama 10 tahun memberikan warna bangkitnya perekonomian negeri ini. Hasilnya saat ini adalah kekuatan ekonomi Indonesia berada di 15 besar dunia, nomor 1 di ASEAN, pendapatan per kapita mencapai US $ 4.000,- pertumbuhan ekonomi rata-rata di kisaran 5-6 % per tahun. Bandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Ini fakta tak terbantahkan dan yang merilis laporan ini adalah berbagai lembaga keuangan internasional.

Salah satu kado persembahan SBY di masa akhir jabatanya adalah datangnya alutsista yang telah dipesan 1-3 tahun sebelumnya. Diantara pesanan yang telah tiba terdiri dari 38 unit meriam artileri 105mm bermerk KH178 untuk 2 batalyon dan 18 unit kaliber 155m untuk 1 batalyon dikenal dengan sebutan KH179 semuanya made in Korsel.

Di bidang pertahanan selama 5 tahun terakhir telah diupayakan memperkuat militer negeri kepulauan ini dengan berbagai asupan gizi alutsista. Karena ternyata selama ini dibanding negara sekitar ternyata kita kurang gizi alutsista alias ketinggalan jauh. Maka sebuah perencanaan dan strategi besar diungkap oleh Pangti SBY di awal masa jabatan keduanya tahun 2009. Dengan memprediksi kondisi kawasan yang dinamis dan tak terduga di hadapan petinggi Kemhan, TNI dan DPR dicanangkan belanja alutsista secara besar-besaran dengan anggaran 150 trilyun untuk masa lima tahun (2010-2014).

Program belanja alutsista ini kemudian dikenal dengan sebutan MEF (Minimum Essential Force) yaitu program pemenuhan alutsista untuk standar minimal yang dipersyaratkan. Meski semua belanja alutsista yang direncanakan itu di rekapitulasi selama lima tahun ini sesungguhnya kekuatan alutsista kita belumlah memenuhi standar berkecukupan apalagi ideal. Artinya meski belanja alutsista bernuansa revolusioner selama lima tahun ini ternyata belum mencapai standar kecukupan karena memang selama 15 tahun terakhir atau sejak reformasi 1998 belanja alutsista TNI dinomorsekiankan.

Meski saat ini kita sudah diperkuat 16 Sukhoi dengan persenjataan rudal lengkap tapi dibanding Singapura dan Australia kita masih kalah kelas jumlah dan kalah kelas. Atau kepemilikan jumlah kapal selam kita yang hanya dua itu, bandingkan dengan Singapura yang punya 5 unit dan Australia 6 unit. Kondisi idealnya mestinya karena kita negara kepulauan harus punya minimal 12 kapal selam. Tapi jangan pesimis dulu, ini kan kondisi MEF I yang tentu akan berlanjut di MEF II (2015-2019).

Kita nikmati saja dulu hari-hari dimulai berdatangannya sejumlah alutsista yang sudah dipesan beberapa waktu lalu. Setelah 18 unit KH179 itu akan tiba pada tahun ini 12 Pesawat coin Super Tucano, 8 Jet tempur F16 blok 52, 4 UAV Heron, 2 Pesawat angkut berat Hercules, 5 Pesawat angkut sedang CN295, 6 Helikopter serbu Cougar, 20 Helikopter serbu 412EP, 4 Radar, 11 Heli Anti Kapal Selam, 3 Kapal Korvet Bung Tomo Class, 3 Kapal Cepat Rudal 60m PAL, 3 LST, 2 BCM, 40 Tank Leopard, 40 Tank Marder, 50 Panser Anoa, 36 MLRS Astross II, 37 Artileri Caesar, sejumlah peluru kendali SAM, sejumlah peluru kendali anti kapal, Simulator Sukhoi dan lain-lain.

Autsista paket MEF I tentu tidak berakhir di tahun 2014. Tahun-tahun berikutnya masih akan terus berdatangan sesuai kuantitas pesanan. Misalnya pesanan Tank Leopard, Jet tempur F16 sampai Eurofighter Typhoon. Bahkan ada pesanan MEF I yang belum datang yaitu 3 kapal selam Changbogo Korsel yang diprediksi datang mulai tahun 2016. Yang jelas kedatangan alutsista sepanjang tahun 2014 akan dipergelarkan dalam upacara militer besar-besaran tepat pada HUT TNI 5 Oktober 2014 di Naval Base Surabaya.

Nah di MEF II (2015-2019) nanti diprediksi pemenuhan kebutuhan alutsista sudah bisa memenuhi standar berkecukupan. Tetapi syarat utamanya tentu ada anggaran belanja yang mampu memenuhi standar berkecukupan itu. Kita berharap pagu anggaran belanja senjata dan rawat senjata untuk MEF II nanti bisa mencapai 200 trilyun. Angka ini bukan angka impian karena prediksi kekuatan PDB dan kekuatan daya beli Indonesia terus meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Sekedar catatan prediksi beberapa lembaga keuangan internasional pada tahun 2020, kekuatan ekonomi Indonesia mampu menembus 12 besar dunia dengan pendapatan per kapita US $ 8.000,-

Kunci utama dalam kelanjutan MEF II adalah political will dari pemerintahan yang baru. Siapa pun yang menjadi RI 1 nantinya diharapkan dapat melanjutkan program MEF ini agar kebutuhan alutsista kita memenuhi standar kecukupan. Lebih penting dari itu dengan kekuatan militer yang kuat, maka posisi diplomatik Indonesia akan semakin kinclong dan diperhitungkan. Lebih utama dari semua itu jika ada yang mau mengusik teritori NKRI akan berpikir ulang atau mengukur diri. Maknanya memiliki kekuatan militer yang gahar diniscayakan mampu meminimalisir terjadinya pelecehan teritori, konflik bersenjata atau perang terbuka antar negara. Dan alangkah baiknya pula pada hari-hari ke depan ini kita menikmati sajian kedatangan beragam alutsista sembari berucap Alhamdulillah. (sumber : Analisis)


https://tniad.mil.id/2014/06/10-tahu...ningkat-tajam/




втw panglιмa тnι yang ѕeĸarang adeм вangeт ya....emoticon-Big Kiss








тalĸ leѕѕ do мoreemoticon-Keep Posting Gan
image-url-apps
anggaran militer kepangkas belanja rutin negara emoticon-Frown ...
KASKUS Ads
gmn kabar Su35?
image-url-apps
dirgahayu TNI AU,jgn mau kalah serem sm AD emoticon-Big Grin
image-url-apps
tambahin pesawatnya...

emoticon-Big Grin
konon kabarnya dari 2016 ada yang koar2 mau nambah anggaran jadi 250 T... nyatanya omong kosong emoticon-Wkwkwk
image-url-apps
Kita udah beli apa yah, perasaan hampir mau ganti presiden belum ada alutsista AU yang dateng, SU 35 , kayaknya gak mungkin datang tahun depan kecuali pinjam dulu sama AU Rusia, cuma zaman Pak SBY dan Pak Karno beli pesawat sampai puluhan.
image-url-apps
Uang sudah habis masuk ke infrastruktur, lagian beli system pertahanan gak bisa meningkatkan elektabilitas, janji beli drone aja belum dipenuhi emoticon-Traveller
Quote:


mirisnya 10 tahun di katain sia2 sama pendukungnya jokowi, padahal di 10 tahun itu TNI berkembang pesat... anggaran naik sampe 400% di era sibeye... hahhaha

image-url-apps
Quote:


Drone kan udah ada,.......dibeliin Pak SBY dari Philippines
image-url-apps
Quote:


beliau beruntung lah, dapat jatah resmiin, tapi salut sih sama Pak SBY turun jabatan Pager di bikin kuat, gak kebayang kalau pagernya kayak zaman insiden KRI Tedong Naga, gak bakal ada kisah infrastruktur.
image-url-apps
Quote:


Drone made in amerika brey bukan buatan philipin

HUT Ke-72, TNI AU Harus Mengembangkan Sistem Pertahanan Udara
image-url-apps
Quote:


Buatan "Philippines" bray, tuh merek dronenya disebut di berita, yang terbaru sih katanya beli Drone China "wing Loong"
Quote:


iyalahh
kalo yang kemaren kebanyakan cari panggung bray

emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
Quote:


CH4 siapa yg beli gan.... emoticon-Ngakak
Quote:

emoticon-Ultah
Quote:


Emang agan mau beli motor tetapi buku hitamnya di pegang si penjual .... emoticon-Leh Uga
Masa beli drone dari pilipin... tetapi remot-nya dipegang yg jual... emoticon-Leh Uga
image-url-apps
Quote:


Hehehehe, main Formil gan biar paham maksudnya "Philippines"
image-url-apps
Quote:


Check post #14 gan....salim dulu
×