alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Kejanggalan Terapi 'Brainwash' Dokter Terawan
2.36 stars - based on 22 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5acac77b1ee5df6a1e8b456e/kejanggalan-terapi-brainwash-dokter-terawan

Kejanggalan Terapi 'Brainwash' Dokter Terawan

tirto.id - Kepala Anung Anindito tiba-tiba puyeng saat berolahraga. Ia terjatuh dan nyaris tak sadarkan diri. Rupanya ia terserang vertigo. Ia langsung diberi pertolongan pertama dan obat. 

Peristiwa itu terjadi pada 2010. Saat itu, ia menemani Susilo Bambang Yudhoyono yang berkunjung ke Bali. Anung adalah fotografer keluarga SBY. 

Sepulang dari Bali, Anung melakukan tes kesehatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. Hasilnya cukup aneh. Tidak ada masalah apa pun pada tubuh Anung. Saat hendak pulang, ia bertemu dengan dokter Terawan Agus Putranto. Ia sudah kenal lama dengan si dokter. (Terawan menjabat kepala RSPAD sejak 2015 hingga sekarang.)

“Kamu sakit apa?” tanya Terawan, dengan bahasa Jawa.

Anung menjelaskan kondisinya. Ia merasa kepalanya berat dan sering pusing. Tanpa basa-basi, Terawan menawarkan tes pencitraan resonansi magnetik alias MRI kepada Anung. Tes MRI dapat membantu dokter mengidentifikasi penyakit pasien dengan cara menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh si pasien.

“Gratis,” ujar Terawan, meyakinkan.

Tawaran itu langsung disambut oleh Anung. Hari itu juga ia melakukan MRI. Hasilnya, demikian Anung, menunjukkan ada kekurangan suplai darah ke otak. 

Terawan lantas menawarkan pengobatan lebih lanjut lewat apa yang dia sebut metode 'brainwash' alias 'cuci otak' dengan Digital Subtraction Angiography (DSA). Karena sudah kenal baik, Anung menurut dan percaya. Pada hari yang sama, Anung menjalani operasi tersebut. 

Sebuah selang dimasukkan ke pembuluh darahnya sampai ke belakang leher. Lalu disemprotkan heparin. Nama terakhir adalah obat antikoagulan alias pengencer darah, yang berfungsi mencegah pembentukan gumpalan darah di pembuluh, arteri, atau paru-paru. Heparin juga dipakai sebelum operasi untuk mengurangi risiko penggumpalan darah.

Sekitar setengah jam, brainwash selesai dilakukan. 

Anung ingat, saat itu Terawan menjelaskan bahwa pengobatan ini adalah pengobatan baru. 

“Dokter Terawan tidak pernah bilang bisa menyembuhkan stroke. Beliau cuma bilang kalau ini baru,” katanya. 

Setelah itu, Anung merasa ada perubahan yang baik pada tubuhnya, yang ia bilang "lebih segar dan sehat." 

Ada banyak testimoni serupa yang merasakan keberhasilan pengobatan itu. Meski demikian, praktik terapi atau pengobatan yang diterapkan dokter Terawan belum memiliki dasar kuat. Idealnya, sebuah penemuan baru dalam bidang medis harus melalui uji klinis sebelum dipraktikkan pada manusia. 

Alat Diagnosis Menjadi Alat Pengobatan
Kritik pedas disampaikan oleh Moh. Hasan Machfoed, profesor neurologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya. Ia mengatakan bahwa metode yang dikenalkan Terawan itu tak masuk akal. Salah satu alasannya, DSA bukanlah alat terapi penyembuhan, tetapi hanya alat untuk diagnosis penyakit. 

Dalam dunia kedokteran, DSA sudah lazim digunakan. Di bidang neurologi, DSA disebut cerebral angiography, digunakan untuk memeriksa gejala gangguan pembuluh darah otak (stroke iskemik). 

“Kalau misalnya Anda sakit batuk dua bulan, Anda pasti sakit paru-paru. Oleh spesialis paru-paru, Anda dirontgen. Anda divonis menderita TBC (tuberkulosis). Terbukti rontgen itu alat diagnosis, kan? Tapi rontgen itu diklaim bisa menyembuhkan Anda,” kata Machfoed kepada Tirto, 6 April lalu, mengilustrasikan bagaimana rontgen sbagai metode diagnosis tapi kemudian diklaim sebagai alat penyembuh.


Sebagaimana gambaran itu, Terawan mengklaim bahwa alat DSA—seyogyanya sebagai diagnosis—yang diterapkannya "sudah dimodifikasi", dan digunakan untuk memasukkan heparin—biasanya dipakai untuk obat campuran saat pasien melakukan tes darah di rumah sakit. 

Tapi, Machfoed berkata bahwa Digital Subtraction Angiography tetaplah alat untuk mengetahui kelainan pembuluh darah. "Hanya diagnosis. Nah, supaya kelihatan arteri di otak, dikasih juga heparin. Heparin itu maksudnya supaya nanti mencegah gumpalan darah." 

"Jadi heparin itu untuk mencegah, mencegah, dan mencegah pembekuan darah," tegas Machfoed.

Irawan Yusuf, guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, yang menjadi promotor disertasi Terawan, bahkan mengatakan fungsi brainwash bukan untuk penyembuhan, melainkan hanya meningkatkan aliran darah dalam otak pada stroke kronis, memperbaiki suplai darah ke jaringan tersumbat ke otot jantung. 

Uji Penelitian dr. Terawan: Lemah dan Cacat
Dalam kesaksiannya di persidangan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI, Prof. Dr. dr. Sudigdo Sastroasmoro, Sp.A(K) telah menganalisis dua penelitian brainwash. Analisis itu dilakukan dari tiga aspek: praktik kedokteran, bukti ilmiah, dan penilaian teknologi kesehatan. 

Dari analisis itu, Sastroasmoro mempertanyakan praktik kedokteran Terawan: Apakah sudah ada Pedoman Nasional Praktik Kedokteran dan Pedoman Praktik Klinik untuk rumah sakit bagi pengobatan stroke. Sementara lewat bukti ilmiah, penelitian Terawan yang diterbitkan Bali Medical Journal dan Indonesian Biomedical Journal tak disunting dengan baik serta ditulis dalam jurnal terakreditasi B, menurut klasifikasi riset teknologi dan pendidikan tinggi. 

Temuan lain terkait kualitas laporan merujuk kriteria Consolidated Standard of Reporting Trials (CONSORT) tahun 2015. Riset Terawan dinilai "lemah" dan "cacat" dari validitas studi secara metodologi. Penelitiannya mengabaikan aspek desain penelitian, besaran sampel, cara pengambilan sampel, dan penulisan, terutama Terawan tidak memahami prinsip uji acak terkendali—lemah dalam uji coba obat atau prosedur medis. 

Selain itu, Sastroasmoro menilai penelitian Terawan bukanlah berbasis studi eksperimen nyata, tetapi pra-eksperimen yang berpotensi bias karena bersandar pada asumsi. 


Kritik lain disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Teguh AS Ranakusuma Sp.S(K) dalam keterangannya pada sidang Majelis. Menurutnya, penelitian Terawan terkait clinical biomarker tidak dapat digunakan sebagai terapi atau pengobatan kepada pasien stroke. 

Karena itu, Ranakusuma meminta Terawan untuk mengubah judul disertasinya, yang semula memakai istilah brainwash menjadi intra arterial heparin flushing (IAHF). 

Kejanggalan Terapi 'Brainwash' Dokter Terawan

Klaim sang Dokter yang Meragukan
Meski belum melawati uji klinis dan penelitian ilmiah yang memadai, pasien yang ditangani oleh Terawan sudah membeludak. Pada 2016, Terawan pernah mengklaim ada 30 ribuan pasien yang sudah ditanganinya. Jumlah ini terus meningkat. Terakhir, ia bahkan mengklaim lebih dari 40 ribu pasien yang ditanganinya lewat metode 'cuci otak' tersebut. 

Angka ini fantastis. Sampai-sampai pada Agustus 2016, Terawan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pengerjaan DSA terbanyak. Terawan mengaku metodenya itu dikenalkan sejak 2004. 

Dengan klaim 40 ribu pasien selama 13 tahun, artinya dalam sehari ia melakukan DSA kepada 8 sampai 9 pasien. Ini jika dikerjakan tanpa libur. Seandainya seorang pasien menjalani DSA membutuhkan waktu satu jam, setiap hari Terawan bekerja selama 8 sampai 9 jam khusus untuk DSA. 

Klaim lain yang meragukan adalah pengakuan paten yang dia sebut "Terawan Theory" dari Jerman. DSA dengan metode Terawan disebut-sebut sudah dipraktikkan di sejumlah rumah sakit di Jerman. Salah satu rumah sakit yang disebut menggunakan metode "Terawan Theory" adalah Augusta Krankenhaus di Düsseldorfer, Jerman. 

Namun, dalam laman layanan medis di situsweb rumah sakit tersebut, kita tak menemukan informasi apa pun terkait "Terawan Theory". Di sana hanya ada layanan angiografi normal, seperti tes diagnosis untuk kaki, lengan tangan, leher, perut, dan pasien yang ingin cuci darah. Tak ada satu pun rujukan yang menyebut apa yang disebut layanan 'cuci otak', brainwash, atau heparin flushing. Rumah sakit ini pun tak punya departemen neurologi.


Itu berbeda dengan situsweb milik RSPAD Gatot Soebroto, yang mencantumkan DSA sebagai salah satu layanan unggulannya. Dengan menampilkan foto doker Terawan yang memegang alat medis dan muka menghadap kamera, laman ini menulis bahwa layanan medis tersebut "menangani gangguan sirkulasi darah otak pada kasus Cerebro Vaskular Disease (CVD), memberikan pelayanan komprehensif dan holistik dengan menggabungkan multi disiplin ilmu kedokteran (neurologist, radiologist, cardiologist dan bidang lainnya) melalui konsultasi dan evaluasi para ahli di bidang terkait." 

Nadanya meyakinkan; bahwa jika ada kelainan sirkulasi otak, dokter di layanan tersebut "[...] menggunakan alat Digital Substraction Angiography (DSA) yang dimodifikasi dengan lntra Arterial Cerebral Flushing." 

Menurut Moh. Hasan Machfoed, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, yang juga hadir dalam pemeriksaan etik terhadap dokter Terawan, apa yang disebut "modifikasi" pada DSA itu "tidak ada manfaatnya"—alias hanya akal-akalan.

"DSA itu sebagai alat diagnosis, namun oleh Dokter Terawan dijual sebagai pengobatan stroke. Bahkan, yang lebih celakanya lagi, orang menganggap bisa terhindar dari stroke. Rupanya orang dibohongi," ujar Machfoed.  

(tirto.id - krs/fhr)


https://tirto.id/kejanggalan-terapi-039brainwash039-dokter-terawan-cHrz


Kalo pakai modal testimoni, jgn ngambek kalo disamakan Ponari atau klinik Tong tongemoticon-Big Grin
Diubah oleh: banyakmikir
Halaman 1 dari 12
yup gw googling dengan bahasa inggris/jerman plus di advance search regional germany.
ga ketemu

mungkin kaskuser regional german ada yg tahu?
sebaiknya dokter trsbt pindah kewarganegaraan saja krna mmg sudah seharusnya orang pintar tak hidup diindonesiaemoticon-Smilie
Quote:


Yg model gini,basic testimoni, masuk keranjang sampah diluarnegeriemoticon-Big Grin
doctor strange dulu ga nyoba terapi di terawan ya?
Quote:


beliau diundang diberbagai acara diluar negeri serta dihak patenken dijerman emoticon-Smilie
Jadi gini..

Kemarin ane ngobrol sama temen ane yang dokter.
Temen ane bilang metode dr. Terawan sebenernya fungsi utamanya untuk diagnosis. Secara basic beliau S2 radiologi. Yang berhak untuk mengobati pasion stroke ya sebenarnya dr. Spesialis.

Terus kenapa kasus ini diblow up?
Ada indikasi dari organisasi dokter untuk membentuk opini publik bahwa dokter militer di Indonesia itu "untouchable".

Udah gitu aja.


Tapi ada temen ane yang bilang, metode ini bisa mematikan bisnis stroke centre dan teman-temannya.

Monggo mau ikut yang mana. emoticon-Angkat Beer
ada yang bayar 122 juta dengan hasil kerusakan otak gara2 si babi trawan ini emoticon-Big Grin.

gini aj, pembuluh otak lo dulu dimasukin heparin tong
Di sebelah ada berita yg pas berobat malah tambah sakit emoticon-Hammer (S)

Dokter itu terikat dgn sumpah, yg klo di Indonesia kemudian diatur dalam KODEKI.. Utk penemuan baru, diatur dalam pasal 6 KODEKI, nah apakah sebagai anggota ikatan dokter indonesia, penemuan dr T sudah mematuhi KODEKI ini?
Ajegile testimoni nya aja orang2 jabatan tinggi masih di ragukan coy,apa karena pada iri dengan metode terawan yg blm banyak dokter Indonesia tau??? Sehingga bisnis nya bakalan terganggu,itu masuk muri juga coy,bijimane dah,gue malah tertarik kalo liat metode begini.

Tinggal nunggu pasien yg gagal dengan terapi nya,eh tapi emang ngga semua yg berobat di rumah sakit itu sukses sembuh sih,ya entah semua kembali dengan asumsi masing-masing
Klau ada yang belum terstandadisasi ya mari sama-sama dicari kelebihan dan kekurangnnya. BUkan dengan mematikan yang sudah terbukti bagus hanya karena masih lemah di pembuktiannya. Mau maju tapi gak ada yang mau ribet, ya ngikut aja sampai indonesia jadi negara terkaya di dunia
Quote:


orang pintar terus ditekan dindonesia, itu sudah lumrah emoticon-Smilie
Kalo sakit cukup minta di doakan Bibib dari Saudi saja dan minum Pipis Onta. niscaya sembuh nanti.

emoticon-Cool
Quote:


Klaim lain yang meragukan adalah pengakuan paten yang dia sebut "Terawan Theory" dari Jerman. DSA dengan metode Terawan disebut-sebut sudah dipraktikkan di sejumlah rumah sakit di Jerman. Salah satu rumah sakit yang disebut menggunakan metode "Terawan Theory" adalah Augusta Krankenhaus di Düsseldorfer, Jerman. 

Namun, dalam laman layanan medis di situsweb rumah sakit tersebut, kita tak menemukan informasi apa pun terkait "Terawan Theory". Kami juga sudah menghubungi rumah sakit tersebut. Kami juga minta seorang warga Indonesia, yang tinggal di Jerman, untuk mengeceknya. Kami tidak mendapatkan informasi apa pun bahwa rumah sakit ini menyediakan layanan medis 'cuci otak', brainwash, atau heparin flushing. Bahkan rumah sakit tersebut tak punya departemen neurologi.

https://tirto.id/kejanggalan-terapi-039brainwash039-dokter-terawan-cHrz

Biar pinteran dikit, modal klaim emang dia jagonyaemoticon-Big Grin
Yah, jika hal yang bisa dirasakan manfaatnya buat orang banyak kenapa di larang, Itulah orang kita
Quote:


Se7 bre
Ga dihargai dan "dikucilkan"
Semua kembali ke sugesti. Yang makan kecebong hidup kan banyak testimoni nya yang berhasil..

Tapi menurut medis itu salah.

Tinggal kita milih aja yang mana yang mau di percaya
Quote:


Kalo yg spt itu level ponari atau klinik tong tong gpp, lha kalo dokter jenderal, tim dokter kepresidenan, kepala RS militer..aahhh sudahlah, mau dibawa kmana kedokteran Indoemoticon-Big Grin
klo di medis yg namanya alat diagnosis bisa jd alat terapi juga
tp memang klo suatu pengobatan tidak gitu aja bisa diterapin ke manusia
harus lewat banyak pengujian juga.
yg jadi alasan dr komite etik itu yg sampai sekarang saiya gag tau.
jd belom bisa komen banyak soal kasus ini
Quote:


Ya harus di benahi. Dan harus jelas mana sugesti dan mana medis emoticon-Recommended Sellerl
Quote:


begitu banyak prestasi beliau salah satunya staf medis kepresidenan lagi terua diundang menjadi pembicara diluar negeri, perlu kita ketahui beliau diacam sanksi kode etik bukan keilmuannya maka orang pintar seperti beliau yg sudah sangat berjasa bagi beribu ribu pasien mmg tak sangat layak hidup diindonesia emoticon-Smilie
Halaman 1 dari 12


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di