alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ac7f8b614088df7218b4567/data-pengguna-facebook-di-ri-turut-bocor-disalahgunakan-untuk-apa

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

06 Apr 2018, 00:09 WIB
Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?
Facebook (AP Photo/Richard Drew)


Liputan6.com, Jakarta - Facebook mengungkapkan data terbaru yang mengejutkan. Penyalahgunaan data pengguna yang mulanya diperkirakan sekitar 50 juta, saat ini--informasi yang disebutkan Facebook--ada sekitar 87 juta data pengguna menjadi korban.


Yang menghebohkan, Indonesia juga kena imbasnya dan masuk tiga besar negara yang berdampak pada penyalahgunaan data pengguna Facebook.


Dari 87 juta pengguna yang bocor, 70,6 juta akun yang disalahgunakan berasal dari Amerika Serikat (AS), Filipina berada di posisi kedua dengan 1,2 juta akun, dan Indonesia ada di posisi ketiga dengan sekitar 1 juta akun.


Tepatnya, dari total jumlah akun yang disalahgunakan, 1,3 persen di antaranya adalah milik pengguna Indonesia. Pertanyaannya, data pengguna Facebook di Indonesia disalahgunakan untuk apa?


Pengamat Media Sosial Abang Edwin Syarif Agustin mengatakan, data pengguna yang bocor bisa dimanfaatkan untuk apapun, tergantung pihak mana yang menggunakannya.

"Data pengguna yang bocor itu mungkin dianalisis segmentasi psikografisnya orang Indonesia. Jadi tergantung pihak yang mengambil, mau menggunakannya untuk apa," ujar pria yang karib disapa Edwin kepada Tekno Liputan6.com, Kamis (5/4/2018) sore di Jakarta.

Sebagai contoh, Edwin melanjutkan, bila perusahaan konsultan politik dan analisis data Cambrige analytica yang menggunakannya, data-data tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengubah mindsetorang agar mereka bisa memilih (calon presiden, misalnya) sesuai keinginan si penganalisis data.


"Kalau kasusnya terjadi saat pemilihan umum (pemilu) berlangsung, saya lihat demokrasinya yang dipermainkan. Itu sama saja dengan demokrasi AS yang dipermainkan," ucapnya.


Pria berkacamata ini berujar, selain Facebook, kemungkinan perusahaan digital lain melakukan pola serupa. Misalnya saat seseorang memutuskan untuk membuka akun media sosial, mereka diminta untuk memasukkan data dan kemudian saat menggunakan layanan muncul iklan-iklan yang sesuai dengan ketertarikan pengguna.
"Kenapa iklannya bisa sesuai? Itu artinya mereka (penyedia layanan) mempelajari kebiasaan pengguna dan kita tidak sadar dengan itu," imbuh Erwin memaparkan.


Artinya, Erwin menegaskan, bukan hanya Facebook yang memiliki data dan bisa menganalisis data pengguna untuk berbagai tujuan. "Ini praktik yang umum di industri digital advertising," tandasnya.
Haruskah Pengguna Indonesia Hapus Facebook?


Lantas dengan adanya kejadian ini, haruskah pengguna Indonesia berhenti memakai Facebook? Edwin mengatakan pengguna tidak perlu menutup atau menghapus akun Facebook mereka.


"Tidak perlu menutup akun, yang penting kita tahu celahnya di mana. Facebook saat ini juga berada di bawah tekanan, sehingga tidak mungkin dalam waktu dekat Facebook akan kembali melakukan kesalahan yang sama," tukasnya.


Lebih lanjut, Edwin juga menyebut pengguna sebaiknya tidak hanya mengandalkan satu platform media sosial.


"Ada baiknya kita tidak mengandalkan satu platform, misalnya hanya pakai Facebook. Seandainya Facebook bangkrut kita tidak akan bisa berbuat apapun dan sudah lost contact," tuturnya.

Dia juga menjelaskan pentingnya membaca dan mengetahui syarat dan ketentuan penggunaan layanan media sosial sebelum memutuskan untuk menggunakannya.


"Sebenarnya kalau kita berhati-hati, kita bisa terhindar dari penyebaran data di media sosial, tetapi kebanyakan pengguna tidak membaca term and condition," imbuhnya.


Selain itu, kata Edwin, di platform media sosial--khususnya Facebook--terdapat pengaturan privasi.
"Facebook punya pengaturan privasi, mereka memberikan menu pengaturan privasi yang bisa diatur," kata Edwin.


Untuk itu dia mengajak pengguna platform media sosial mempelajari lebih jauh tentang pengaturan privasi yang disajikan media sosial.


"Masalahnya, Facebook, Google dan lain-lain itu gratis. Jadi kita secara enggak langsung dengan sukarela 'membayar' dengan data pribadi kita. Karena itu semua gratis, kita juga tidak memiliki kekuatan hukum untuk menuntut penyedia platform media sosial," pungkasnya.
 

Pemerintah Harus Tegas

Edwin pun mendesak pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas, sama seperti sikap pemerintah Amerika Serikat terhadap Facebook.

"Seharusnya pemerintah bersikap sama seperti pemerintah Amerika Serikat, menegur kemudian dipanggil ke parlemen suruh menjelaskan semua yang terjadi, mengapa ini tidak diangkat ke permukaan," kata Edwin.
Menurutnya, pemerintah juga harus mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan data pengguna media sosial lainnya.


"Ini baru Facebook, kita tidak tahu apakah perusahaan teknologi lain melakukan hal ini. Saya pikir mungkin saja. Hampir semua perusahaan digital memiliki pola serupa," tuturnya.

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

Pola sama yang dimaksud oleh Edwin adalah penyedia layanan mengumpulkan data pengguna sebagai pertukaran atas layanan media sosial gratis yang akan dinikmatinya.


"Misalnya saat seseorang memutuskan untuk membuka akun media sosial, mereka diminta untuk memasukkan data kemudian saat menggunakan layanan, muncul iklan-iklan yang sesuai (dengan ketertarikan pengguna). Kenapa iklannya bisa sesuai, itu artinya mereka (penyedia layanan) mempelajari kita dan pengguna tidak sadar dengan itu," kata Edwin menjelaskan.


Artinya, kata Edwin, bukan hanya Facebook yang memiliki data dan bisa menganalisis data penggunanya untuk berbagai tujuan.


"Ini praktik yang umum di digital advertising," ujarnya.


Untuk itu, Edwin menyarankan Kemkominfo memanggil semua penyedia media sosial, termasuk Facebook dan memastikan bahwa data pengguna Indonesia aman serta tidak disalahgunakan.


Facebook Terancam Diblokir dan Hukuman 12 Tahun
Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?
Kantor Facebook Indonesia. (Liputan6.com/Agustin Setyo Wardani)


Kejadian ini pun membuat Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara turut angkat bicara. 
Ia mengatakan Facebook harus mengikuti peraturan di Indonesia, dalam hal ini Peraturan Menteri (PM) Kominfo Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).


Rudiantara menegaskan Facebook sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) harus tunduk pada peraturan tersebut.


Berdasarkan peraturan yang berlaku, kata Rudiantara, penggunaan data yang tidak pantas oleh PSE berarti telah melanggar kedua regulasi tersebut dan ada hukuman yang menanti. Kemkominfo akan berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait hukuman tersebut.


"Sanksinya bisa mulai dari administrasi, hukuman badan sampai 12 tahun dan denda hingga Rp 12 miliar," jelas Rudiantara via pesan singkat kepada tim Tekno Liputan6.com.


Diungkapkan pria yang akrab disapa Chief RA tersebut, sebelumnya memang ada indikasi data pengguna Facebook Indonesia menjadi bagian dari kasus Cambridge Analytica.


Dijelaskan Rudiantara, ia juga telah menelepon Facebook secara pribadi 10 hari yang lalu terkait masalah ini. Saat itu, Kemkominfo dan Rudiantara meminta dua penjelasan, yaitu:

  1. Memberikan informasi apakah dari 50 juta pengguna Facebook yang datanya digunakan Cambridge Analytica, adakah yang berasal dari Indonesia? Jika ada berapa besar?
  2. Meminta jaminan Facebook sebagai PSE untuk mematuhi Permen Kominfo Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) juga sudah berkoordinasi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk mengantisipasi diperlukannya penegakan hukum, terkait skandal penyalahgunaan data pengguna Facebook.

"Kami sudah mulai berkoordinasi dengan teman-teman Polri untuk mengantisipasi diperlukannya penegakan hukum secepatnya. Kami koordinasi dengan penegak hukum untuk mengantisipasi kemungkinannya (penyalahgunaan data pengguna Facebook Indonesia), karena Kemkominfo menegakkan hukum fokus di dunia maya," pungkasnya.


Dalam kesempatan terpisah, Rudiantara sempat mengancam akan memblokir Facebook jika data pribadi pengguna Indonesia disalahgunakan.


Pemblokiran juga akan berlaku jika jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg itu gagal menghentikan penyebaran berita palsu jelang Pemilihan Umum mendatang.

https://www.liputan6.com/tekno/read/3429000/headline-data-pengguna-facebook-di-ri-turut-bocor-disalahgunakan-untuk-apa

---------------------------

Beginilah kira-kira gambarannya, bijimana Nastak & Nasbung di KASKUS  "dimanipulasi" oleh analyst MEDSOS yang gunakan BIG DATA Facebook seperti yang dilakukan Lembaga Konsultan politik "Cambridge Analytica" itu.

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

Segmentasi siapa saja yang menjadi pengguna face book (facebooker atau netter user) atas aplikasi ini, memang sangat canggih sekali. Mereka bisa memetakan keberadaan pengguna fb itu sampai perkelurahan (bahkan per RT/RW kalau mereka mau). Dan tentunya lengkap dengan semua informasi yang pernah di up-load si pengguna fb saat mendaftar dulu atau selama dia menggunakan software ini.. 

Pihak fb juga secara rutin "memetakan" kebiasaan penggunanya tentang postingan apa yang dia sukai, baik yang berbentuk gambar (picture/image) atau video serta tulisan (termasuk suara danvideo call). Jadi kalau anda suka memberi tanda "like"atau "jempol"atau "hati" atau bahkan membagikannya pula (ikut mendistribusikan konten-konten itu), itu saja sudah cukup berarti bagi para peneliti di facebook. Dari sini, maka mereka bisa memetakan kebiasaan penduduk pengguna fb di suatu kelurahan atau desa,  misalnya kesukaan mereka itu konten jenis apa saja? 

Misalnya ternyata para facebooker di kelurahan itu sukanya mendiskusikan dan memposting tentang makanan jenis rnasi goreng.  Maka peneliti di fb bisa menyimpulkan bahwa penduduk di kelurahan itu sukanya makan nasi goreng sehingga yang cocok bagi pengiklan atau bila mau mendirikan bisnis di keluarahan itu, yaa tentunya bisnis warung nasi goreng

Misalnya lagi mereka sukanya konten politik, lalu yang disukai itu apa? konten politik yang tertuju pada figur tertentu atau parpol misalnya: siapa figur politik yang mereka paling sukai (atau bahkan yang paling benci?). Dan demikian  pula dengan parpol.  Selanjutnya kalau mau merubah "pandangan" terhadap figur politik atau parpol politik yang disukai atau dibenci di kelurahan tadi, si pemesan iklan  tinggal banjiri saja facebook mereka dengan informasi-informasi (entah 'hoax'atau 'betul') melalui iklan politik, postingan video, film, foto, berita heboh, atau sejenisnya ... yang intinya semua luberan informasi tadi dimaksudkan untuk menggiring opini pengguna facebook di kelurahan tadi, agar dia suka parpol A dan figur X atau sebaliknya, membecinya!. 

Semua penerima postingan tersebut bisa terseleksi atau di filter berdasarkan lokasi dimana pengguna fb (facebooker) itu berada. Untuk kelurahan lain, tentu materi atau kontennya berbeda lagi, disesuaikan dengan trend kecenderungan dan kebiasaan penduduk di wilayah itu. Jadi memang effisien sekali. Sebagai informasi saja, biaya pasang iklan di fb itu yang skopenya sebatas di kelurahan tertentu yang kita kehendaki, hanya sekitar Rp50.000 perminggunya.

Mereka (pihak fb) juga punya tim analys di setiap negara untuk menganalisa setiap konten yang kita sukai atau yang kita kirimkan dan bagikan, atau konten-konten yang viewer-nya besar sekali. Tim analalys mereka di tiap negara (yang umumnya di rekrut dari warga lokal sehingga mereka paham betul cara berfikir dan suasana kebathinan daripada penduduk se tempat). Mereka inilah yang memberikan analisa dan kesimpulannya ke peneliti di facebook, tentang kenapa sebuah konten kok bisa menarik pengguna fb itu. Selanjutnya data ini tinggal dimanfaatkan untuk memanipilasi pikiran dan kebiasan daripa user facebook atau facebooker itu. Paham?

Urutan Terlama
Jelang Pilpres 2019 Menkominfo Ancam Tutup Facebook,
Jika Data Pribadi Pengguna Indonesia ikut Disalah-gunakan jelang Pilpres 2019.

Kamis, 05 April 2018 – 04:00 WIB

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengancam akan memblokir Facebook jika data pribadi pengguna Indonesia ikut disalahgunakan jelang Pilpres 2019 (Pemilihan Presiden).

Rudiantara juga dikatakan telah mensinyalir ada individu dan kelompok terorganisir yang siap mengeksploitasi salah satu media sosial guna memengaruhi hasil pemilu mendatang, lansir Bloomberg.

Jika media sosial besutan Mark Zuckerberg gagal menghentikan penyebaran berita palsu jelang Pilpres 2019 nanti, maka Rudiantara mengatakan, pihaknya tidak segan-segan akan memblokir Facebook.

"Jika saya harus memblokirnya, saya akan melakukan itu," tegas Rudiantara.

Kekhawtiran tersebut tentu beralasan setelah kejadian penyalahgunaan 50 juta data pengguna Facebook oleh pihak ketiga untuk kepentingan pemilihan politik.

Memperbaiki kepercayaan penggunanya, Facebook dikabarkan telah berkomitmen untuk melindungi informasi penggunanya, mencegah penyalahgunaan dan memberikan lebih banyak akses ke pengguna untuk mengontrol data mereka.
https://www.jpnn.com/news/jelang-pil...-facebook-jika
Ini Cara Cambridge Gunakan Data Facebook untuk Menangkan Trump
27/03/2018, 19:11 WIB

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di acara Generation Next, sebuah Forum Gedung Putih yang menghadirkan kaum milenial dan pejabat pemerintah pada Kamis (22/3/2018), di Washington DC. (AFP/Mandel Ngan)

KOMPAS.com — Tak kurang dari 50 juta pengguna Facebook ada di tangan firma analisis data, Cambridge Analytica. Data ini ternyata digunakan untuk kampanye pemenangan Trump pada Pilpres AS 2016 lalu.

Bagaimana caranya data ini digunakan?

Media kenamaan Inggris, The Guardian, belum lama ini mendapat bocoran dokumen cetak biru soal bagaimana data ini dimanfaatkan tim kampanye Donald Trump. Cetak biru ini didapatkan dari mantan pegawai Cambridge Analytica yang baru saja mengakhiri kontraknya dengan perusahaan firma analis data ini. Ia mengklaim dalam dokumen tercatat jelas bagaimana seluruh data pengguna Facebook itu digunakan.

Dalam cetak biru tersebut tercantum setidaknya ada 27 halaman presentasi yang dibuat oleh Cambridge Analytica. Presentasi ini sejatinya dibuat sebagai bahan untuk ditunjukkan kepada klien potensial demi mendapat keuntungan. "Ini adalah kumpulan kampanye digital berbasis data yang digunakan Trump," ujar Brittany Kaiser, mantan Direktur Pengembangan Bisnis Cambridge Analytica yang membawa cetak biru ini sebagaimana dikutip KompasTekno dari The Guardian, Selasa (27/3/2018).

Dalam cetak biru ini terungkap bahwa firma Cambridge Analytica melakukan beberapa metode, yakni penelitian, survei intensif, pemodelan data, serta mengoptimalkan penggunaan alogaritma untuk menargetkan sebanyak 10.000 iklan berbeda pada audiens. Praktik ini kemudian dilakukan pada audiens yang berbeda-beda sesuai data diri mereka dan dilakukan dalam bulan-bulan menjelang pemilihan 2016 silam.

Dalam dokumentasi yang dipresentasikan beberapa minggu setelah Trump dinyatakan terpilih ini, tercatat bahwa iklan kampanye yang disebar tersebut telah dilihat sebanyak miliaran kali oleh para calon pemilih. Contoh pengoptimalan algoritma, berita negatif ditampilkan ke pemilih potensial Hillary Clinton, pesaing Trump di Pilpres AS 2016 lalu.

(The Guardian) "Ada permintaan dari orang-orang di lingkaran perusahaan untuk tahu bagaimana kami melakukannya. Semua orang ingin tahu, baik itu klien lama maupun klien potensial. Tentu kami bisa saja menunjukkannya pada orang yang telah menandatangani persetujuan," ungkap Kaiser. Kaiser menambahkan, ia sendiri tidak terlibat secara langsung dalam kampanye pemenangan Trump.

Namun, beberapa kali ia pernah mengatur pertemuan di antara para petinggi untuk membicarakan hal ini. Reputasi firma analisis data Cambridge Analytica ini memang cukup baik di antara para politikus. Firma ini dianggap mampu mendongkrak popularitas positif saat masa-masa kampanye berjalan.

Dalam kerjanya, pihak Cambridge Analytica juga bertugas memantau efektivitas pesan serta iklan pada berbagai jenis pemilih. Kemudian si klien pun diberikan masukan dari kampanye yang tengah berjalan baik itu di Facebook maupun platform lain. Hasil umpan balik atau feedback ini kemudian digunakan lagi untuk mengoptimasi alogaritma penyebaran data agar kampanye yang dilakukan lebih optimal.

Feedback ini digunakan untuk mengirim ribuan iklan lain pada calon pemilih bergantung profilnya. Baca juga: Pencurian Data Facebook, DPR Minta Kominfo Segera Setor Draf UU PDP Selain Facebook, Kaiser juga mengungkapkan bahwa Trump juga menggunakan platform lain untuk berkampanye, seperti Snapchat dan Twitter.

Meski demikian, ia tidak menyebutkan dengan lebih detail bagaimana tim pemenangan Trump memanfaatkan semua platform ini. Beberapa hari lalu, Cambridge Analytica dikabarkan memegang lebih dari 50 juta data akun pengguna Facebook.

Cambridge Analytica diduga memperoleh data pengguna Facebook dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Ia bekerja di Global Scicence Research dan kerap menghadirkan survei terkait kepribadian yang tersebar masif di Facebook. Data ini diduga digunakan oleh tim kampanye Trump sebagai langkah pemenangan saat Pilpres 2016 lalu.
https://tekno.kompas.com/read/2018/0...enangkan-trump
Bagaimana Tombol ‘Like’ Facebook Digunakan untuk Memanipulasi Pemilu
Posted on March 20, 2018

Oleh: Barbara Ortutay dan Anick Jesdanun (Associated Press)

Data Pengguna Facebook di RI Turut Bocor, Disalahgunakan untuk Apa?

Facebook memudahkan para pengiklan untuk menargetkan pengguna berdasarkan informasi yang mereka sukai. Pemetaan Facebook tentang “grafik sosial,” yang pada dasarnya merupakan jaringan koneksi kehidupan nyata para pengguna, juga sangat berharga bagi para pemasar.

Tombol suka (‘like’) di Facebook bisa bercerita banyak tentang seseorang. Mungkin bahkan cukup untuk menjadi bahan bakar dalam upaya untuk memanipulasi pemilih, seperti yang dituduhkan dilakukan oleh perusahaan pengumpulan data Trump—dan yang mungkin dapat dilakukan oleh Facebook.

Jejaring sosial itu kini mendapat kecaman, setelah surat kabar The New York Times dan The Guardian melaporkan bahwa mantan konsultan kampanye Trump, Cambridge Analytica, menggunakan data–termasuk unggahan yang disuka oleh para pengguna—yang diperoleh secara tidak benar, dari sekitar 50 juta pengguna Facebook, untuk mencoba mempengaruhi pemilihan umum.

Senin (19/3) adalah hari yang bergejolak bagi Facebook, yang sahamnya anjlok 7 persen, yang menjadi penurunan dalam satu hari terburuk sejak tahun 2014. Pejabat di Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) mencari jawaban, sementara komisaris informasi Inggris mengatakan bahwa dia akan mencari surat perintah untuk mengakses server Cambridge Analytica, karena perusahaan Inggris tersebut telah “tidak kooperatif” dalam penyelidikannya.

Korban pertama dari penyelidikan itu adalah audit Cambridge yang diumumkan Facebook pada hari sebelumnya; perusahaan itu mengatakan bahwa pihaknya “menghentikan” upaya itu atas permintaan para pejabat Inggris.

Menambah gejolak tersebut, The New York Times melaporkan bahwa kepala keamanan Facebook, Alex Stamos, akan mengundurkan diri pada bulan Agustus, menyusul perselisihan mengenai seberapa agresif Facebook harus memainkan perannya dalam penyebaran disinformasi. Dalam sebuah tweet, Stamos mengatakan bahwa dia masih terlibat penuh di Facebook, namun perannya telah berubah.

Akan menjadi lebih tenang jika tombol suka di Facebook tidak menjadi begitu terbuka. Para peneliti dalam sebuah studi tahun 2013, menemukan bahwa tombol suka pada konten hobi, minat, dan ciri lainnya, dapat memprediksi sifat pribadi seperti orientasi seksual dan afiliasi politik. Komputer menganalisis data tersebut untuk mencari pola yang mungkin tidak nyata, seperti hubungan antara kesukaan terhadap kentang goreng keriting dengan kecerdasan tinggi.

Chris Wylie—seorang pendiri Cambridge yang keluar pada tahun 2014—mengatakan bahwa perusahaan tersebut menggunakan teknik semacam itu untuk mempelajari tentang individu, dan menciptakan informasi untuk mengubah persepsi mereka. Dengan demikian, katanya, perusahaan tersebut “mengolah berita palsu pada tingkat yang lebih tinggi.”

“Ini didasarkan pada gagasan yang disebut ‘dominasi informasi’, yang merupakan gagasan bahwa jika Anda dapat menangkap setiap saluran informasi di sekitar seseorang dan kemudian menyuntikkan konten di sekitar mereka, Anda dapat mengubah persepsi mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi,” kata Wylie, pada Senin (19/3), di acara “Today” di NBC. Masih belum jelas tepatnya bagaimana perusahaan tersebut mungkin telah mencoba untuk melakukan itu.

Pada Jumat (16/3) malam, Facebook mengatakan bahwa Cambridge tidak memperoleh informasi dari 270 ribu orang yang mengunduh aplikasi, yang digambarkan sebagai tes kepribadian. Orang-orang itu setuju untuk berbagi data dengan aplikasi tersebut untuk tujuan penelitian—bukan untuk penargetan politik. Dan data tersebut termasuk siapa teman Facebook mereka dan apa yang mereka sukai—meskipun teman-teman mereka tidak mengunduh aplikasi tersebut atau memberikan persetujuan tegas.

Cambridge mendapat informasi terbatas terkait teman-teman tersebut, tetapi mesin dapat menggunakan jawaban rinci dari kelompok-kelompok yang lebih kecil, untuk membuat kesimpulan tentang yang lainnya, kata Kenneth Sanford dari perusahaan data sains Dataiku.

Cambridge didukung oleh miliarder konservatif Richard Mercer, dan pada satu titik mempekerjakan Stephen Bannon—yang nantinya menjadi ketua kampanye Presiden Donald Trump dan penasihat Gedung Putih—sebagai wakil presiden perusahaan. Kampanye Trump membayar Cambridge sekitar $6 juta menurut catatan pemilu federal, meskipun para pejabat baru-baru ini mengecilkan jumlah itu.

Jenis penambangan data yang dilaporkan digunakan oleh Cambridge Analytica cukup umum, tetapi biasanya digunakan untuk menjual popok dan produk lainnya. Netflix, misalnya, memberikan rekomendasi individual berdasarkan apakah yang dilihat oleh seseorang sesuai dengan apa yang ditonton pelanggan lain.

Namun teknik umum itu dapat mengambil peran yang tidak menyenangkan, jika itu terkait dengan kemungkinan ikut campur pemilu, kata Robert Ricci, direktur pemasaran di Blue Fountain Media.

Wylie mengatakan bahwa Cambridge Analytica bertujuan untuk “menyelidiki kerentanan mental seseorang.” Dia mengatakan bahwa perusahaan tersebut “bekerja untuk menciptakan web informasi online, sehingga orang-orang mulai menjelajah, mengklik blog, situs web, dll, yang membuat mereka berpikir bahwa hal-hal tersebut sedang terjadi, padahal mungkin tidak.”

Wylie mengatakan kepada “Today” bahwa walau iklan politik juga ditargetkan pada pemilih tertentu, namun upaya Cambridge bertujuan untuk memastikan bahwa orang-orang tidak akan tahu bahwa mereka menerima pesan yang bertujuan untuk mempengaruhi pandangan mereka.

Tim kampanye Trump telah membantah menggunakan data Cambridge. Perusahaan itu sendiri menyangkal melakukan kesalahan, dan mengatakan bahwa pihaknya tidak menahan data apa pun yang ditarik dari Facebook, dan tidak menggunakannya dalam kampanye tahun 2016.

Namun Cambridge membanggakan pekerjaannya setelah klien lain, Senator Partai Republik dari Texas Ted Cruz, memenangkan Iowa pada tahun 2016.

Cambridge membantu membedakan Cruz dari lawan Republik yang berpikiran sama, dengan mengidentifikasi kamera lampu merah otomatis sebagai masalah yang penting bagi penduduk yang marah dengan campur tangan pemerintah. Pemilih potensial yang tinggal di dekat kamera lampu merah tersebut, dikirim pesan langsung yang mengatakan bahwa Cruz menentang penggunaan kamera lampu merah tersebut.

Bahkan pada isu-isu andalan seperti hak senjata, CEO Cambridge Alexander Nix mengatakan pada saat itu, bahwa perusahaan tersebut menggunakan tipe kepribadian untuk menyesuaikan pesan-pesannya. Bagi pemilih yang peduli dengan tradisi, perusahaan tersebut bisa mendorong pentingnya memastikan para kakek untuk memberikan pelajaran menembak kepada keluarga. Untuk seseorang yang diidentifikasi memiliki sifat tertutup, sebuah konten mungkin menggambarkan bahwa penggunaan senjata bertujuan untuk perlindungan dari kejahatan.

Terdapat kemungkinan bahwa Cambridge memanfaatkan sumber data lain, termasuk apa yang dikumpulkan oleh aplikasi kampanye Cruz. Nix mengatakan bahwa selama kampanye Cruz, mereka memiliki lima atau enam sumber data pada setiap pemilih.

Facebook menolak untuk menghadirkan para pejabat untuk diwawancara, dan tidak segera menanggapi permintaan informasi di luar pernyataannya pada Jumat (16/3) dan Senin (19/3). Cambridge juga tidak segera menanggapi pertanyaan melalui email.

Facebook memudahkan para pengiklan untuk menargetkan pengguna berdasarkan informasi yang mereka sukai. Pemetaan Facebook tentang “grafik sosial”—yang pada dasarnya merupakan jaringan koneksi kehidupan nyata para pengguna—juga sangat berharga bagi para pemasar.

Misalnya, para peneliti dapat melihat kumpulan teman-teman dari para pengguna dan mendapatkan informasi tentang siapa yang penting dan berpengaruh, kata Jonathan Albright, direktur penelitian di Pusat Tow untuk Jurnalisme Digital di Universitas Columbia. Orang-orang yang memiliki jaringan pertemanan yang berbeda, misalnya, dapat memiliki pengaruh lebih besar saat mereka mengunggah sesuatu, yang menjadikan mereka diutamakan untuk penargetan.

Dua pertiga orang Amerika membaca setidaknya beberapa berita yang mereka minati di media sosial, menurut Pew Research Center. Meskipun orang-orang tidak ada di Facebook saja, namun mungkin pengguna informasi palsu di situs ini nantinya dapat “menjelajah” dengan klik dan situs konspirasi di internet yang lebih luas, seperti dijelaskan Wylie.

Reporter teknologi AP Ryan Nakashima memberikan kontribusi untuk laporan ini dari Menlo Park, California.
https://www.matamatapolitik.com/baga...pulasi-pemilu/
Masalah third party program yak. Emang menjamur si. Tapi kalau mau tutup coba pemerintah sediakan alternatif buat pengganti facebook. Siapa tau punyanya pemerintah bisa lebih aman emoticon-Malu
data kaskus aman
Quote:


entar servernya sering down emoticon-Wakaka situs resmi pemerintah aja kaya gitu
keren ya analisanya... bisa teat sasaran gt,.. diluar gak perlu pake dukun buat prediksi
oh fb...
Quote:


Alternatif buat hoax? hahaha. lagian emang baru era data. Itu juga gak perlu ngambil data tertutup kayak chat dll. Bisa di analisis kan kegiatan sehari2. Kok bisa ada ungkapan bocor ya? XD
Tergantung siapa yang mau beli gan.
90 persen pengguna pesbuk di indonesia hanya alayers
emoticon-Traveller
facebook songong kena batunya
untung gw bukan pengguna pesbuk


emoticon-Hansip


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di