alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
5 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5aad4c105c7798e0518b456d/pendekar-sinting-pendeta-sinting

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Cerita Silat Pendekar Sinting
Episode Pendeta Sinting | Part 1


PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Pagi lamat-lamat datang, menyibak kegelapan malam dengan sinarnya yang terang, menyambut tersembulnya mentari dari kaki langit. Burung-burung berkicau dengan riang, bagai bernyanyi bersama sambil bercanda. Semilir angin pagi bertiup, perlahan mengusir kabut yang menggelantung di pucuk-pucuk pepohonan. Di dalam sebuah gua yang tertutup oleh batu cadas.

"Pergilah dari pantai pesisir utara ini. Banyak orang yang membutuhkan pertolongan dan uluran tanganmu. Berjalanlah di jalan yang lurus, jangan sesekali berpaling ke jalan yang sesat." tutur Dewi Arum seraya membelai rambut putranya.

"Terima kasih, Biyung..., Sungguh besar jasamu padaku. Entah dengan cara apa putramu yang bodoh dan tiada guna ini dapat membalasnya." ujar Sima pada ibunya Dewi Arum.

"Jangan berkata seperti itu anakku, Biyung sudah sangat senang kau membela kebenaran dan menolong orang-orang yang lemah. Walaupun saat ini Biyung masih sangat rindu padamu." tutur Dewi Arum pada Sima putranya.

"Benar apa yang di katakan Biyungmu Cah Bagus. Jagalah dirimu baik-baik. Sebenarnya Biyung juga masih sangat rindu padamu. Namun kau telah di takdirkan Tuhan Pencipta Alam untuk mengembara serta menegakan panji-panji kebenaran." timpal Ningrum Sari pada putra susuhannya Sima.

"Akan ku ingat selalu petuah Biyung." tutur Sima pada Dewi Arum dan Ningrum Sari.

"Kakang aku ikut bersamamu, aku tak mau berpisah kembali denganmu." seru Dewi Melati yang meneteskan air mata di pipinya.

"He he he... Adikku Melati kalau kau ikut bersama kakang. Siapa yang akan menjaga Biyung." ujar Sima sembari mendekati adiknya dan menyeka air mata dipipinya.

"Tapi kakang..." belum juga Dewi Melati menyelesaikan perkataannya Sima menahan bibir adiknya dengan telunjuk.

"Sebagai seorang pendekar kau harus mengerti Melati adikku. Suatu saat nanti kau boleh ikut dengan kakang." tutur Sima pada adiknya.

"Hhh,.. Baiklah kakang jagalah dirimu baik-baik, dan jangan lupakan kami disini." ujar Dewi Melati dan memeluk erat Sima kakaknya.

"Relakan kakangmu untuk pergi Cah Ayu. Suatu saat nanti kakangmu akan kembali." seru Dewi Arum.

"Jaga dirimu baik-baik kakang...," ujar Dewi Melati kembali.

"Baik, Biyung Arum, Biyung Ningrum, Melati adikku. Aku mohon pamit, jagalah diri kalian baik-baik, aku pasti akan kembali..." Sima menjura hormat dengan membungkukkan tubuhnya. Kemudian dengan masih membungkuk, pemuda itu bangkit dari duduknya, melangkah mundur meninggalkan Dewi Arum, Ningrum Sari dan Dewi Melati yang masih duduk di atas batu datar.

Di bibir Dewi Arum dan Ningrum Sari tersungging senyum kepuasan. Hatinya merasa tenang, sebab kini telah ada penggantinya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran di muka bumi.

"Semoga Tuhan Pencipta Alam melindungimu, anakku," desis Dewi Arum lirih. Matanya pun segera dipejamkan,

Angin Laut Pesisir Utara bertiup ramah, mengantar kesejukan. Gelombang laut masih bergulung, berusaha menggempur batu karang.

Pemuda tampan dengan rambut masai terurai itu masih mematung. Dia masih bingung ke mana harus melangkah. Dunia bebas ini masih sangat asing baginya.

"Ah, bodohnya aku" Sima menepuk keningnya perlahan, seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Bukankah aku punya kaki? Kenapa mesti bingung? Ha ha ha..."

Usai berkata begitu, kakinya melangkah mantap meninggalkan Pantai Pesisir Utara. Sima hanya mengikuti kata hati, melangkah tanpa tujuan yang pasti. Saat ingin melanjutkan langkahnya, tiba-tiba pendengarannya menangkap suara petuah dari gurunya yaitu Eyang Amritambu, pesannya agar ia segera menemui laki-laki tua di Lembah Dedemit yang berjuluk Pendeta Sinting dan menimba ilmulah kepadanya.

"Baik Eyang, akan ku patuhi petuahmu, Eyang." gumam Sima.

Sima mengerahkan segenap ilmu peringan tubuhnya agar bisa berkelebat lebih kencang. Dia menuju arah timur. Begitu sampai perbatasan hutan, tiba-tiba dia hentikan larinya. Karena sudah nampak sebuah desa.

***

Matahari baru saja unjuk diri dari balik julangan Gunung Tampurhyang. Langit tampak cerah tanpa secuil pun awan mengambang. Angin siang berhembus semilir.

Di lereng gunung, Desa Kembang tampak mulai terlihat tanda-tanda kehidupan. Beberapa orang keluar rumah masing-masing. Sebagian ada yang pergi ke sawah, sebagian lagi ada yang bergerombol menuju hutan untuk mencari kayu bakar. Anak-anak berusia belasan tahun pun tampak keluar rumah masing-masing. Ada yang sekadar main-main dan ada pula yang membantu kedua orangtua mereka.

”Maaf berhenti, sebentar Kisanak..." seru Sima dengan ramah, yang menjadikan kedua petani itu menghentikan langkahnya. Keduanya membalikkan tubuh memandang ke arah pemuda tampan yang rambutnya masai terurai dan sesekali tersenyum cenge-ngesan membuat kedua petani itu mengerutkan dahinya.

“Ada apa Nak?” tanya lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun dengan wajah tampak sabar. Kumis yang memutih menghias di atas bibirnya. Matanya menatap tajam pemuda yang bertingkah seperti orang tidak waras.

“Maaf Ki, namaku Sima. Aku ingin bertanya, ke arah mana aku harus melangkah agar sampai ke Lembah Dedemit?” ujar Sima sembari tersenyum.

Kedua petani itu seketika mengerutkan kening kembali, mendengar pertanyaan yang dilontarkan pemuda berwajah tampan itu. Kedua petani itu seperti tak percaya, kalau pemuda itu bertujuan ke tempat yang sangat dikeramatkan penduduk desa-desa sekitar Lembah Dedemit. Tak seorang pun yang berani pergi ke Lembah Dedemit. Tapi kini tiba-tiba ada seorang anak muda berwajah tampan berambut masai terurai yang bermaksud pergi ke Lembah Dedemit.
Seperti apa tempat itu? Siapa pun yang akan datang ke tempat itu niscaya bagaikan hendak menuju ke akherat saja.

“Ke Lembah Dedemit?” tanya petani yang berusia di bawah petani yang satunya. Petani ini berambut hitam. Wajahnya bersih dari kumis. Hidungnya pesek matanya lebar. Mulutnya agak lebar dengan bibir tebal.

“Benar. Ada apakah hingga Kisanak nampak kaget?” tanya Sima dengan kening berkerut, menyaksikan tanggapan kedua petani itu ketika menceritakan tentang tujuannya.

“Aduh, kami harap jangan ke sana lebih baik kau pulang saja” saran petani yang lebih tua. Hal itu membuat Sima semakin mengerutkan keningnya.

“Hi hi hi... Ha ha ha. Memangnya kenapa, Ki?” tanya Sima ingin tahu.

“Kami mengharap, urungkan saja niat kau ke Lembah Dedemit anak muda” tegas lelaki berkumis putih itu.

Sima kembali mengerutkan keningnya. Semakin tidak memahami apa maksud kedua petani itu melarangnya. Belum juga Sima sempat bertanya, petani yang lebih muda malah menambahkan.

“Kasihan kalau kau yang tampan harus menerima kemalangan”

“Kemalangan? Maksudmu, Ki?” tanya Sima masih belum memahami kata-kata petani itu. Matanya menatap tajam petani muda itu.

“Ya, Sangat berbahaya jika kau ke tempat itu. Selama ini, tak seorang pun yang berani pergi ke Lembah Dedemit.” balik tanya petani tua yang bernama Ki Wirahasa.

“Benarkah, Ki. Apakah lembah itu angker sekali?” sahut Sima.

“Ah, urungkanlah niatmu anak muda akan sia-sia saja kau ke tempat itu.” ujar Ki Damiri, petani yang lebih muda.

“Terima kasih atas nasihat kalian. Tapi aku tetap hendak ke tempat itu. Kalau kalian tahu jalannya, sudilah kiranya kalian memberitahukan padaku?” pinta Sima.

Kedua petani itu kembali saling berpandangan
dengan kening berkerut. Mereka tidak menyangka, kalau pemuda ini akan nekat ke tempat itu.

“Apakah telah kau pikirkan semuanya?” tanya Ki Wirahasa.

“Sudah, Ki,” jawab Sima singkat. Ki Wirahasa dan Ki Damiri menghela napas berat.

Sepertinya kedua orang petani itu merasa sayang jika pemuda itu harus menemui ajal sia-sia di tempat itu. Namun apa hendak dikata, rupanya pemuda tampan yang bertingkah tidak waras itu telah membulatkan tekad untuk datang ke tempat yang sangat keramat dan paling ditakuti penduduk di sana. Bahkan mungkin para dewa pun akan segan ke tempat itu. Meski mereka tidak pernah tahu siapa sebenarnya penghuni Lembah Dedemit yang ada disana, selama turun-temurun mereka tak pernah berani menjarah tempat tersebut.

“Baiklah, kalau memang itu yang kau kehendaki. Berjalanlah ke selatan. Di sana, sekitar setengah hari perjalanan, kalian akan mendapatkan lembah yang dikelilingi hutan bakau. Itulah Lembah Dedemit. Berhati-hatilah” kata Ki Wirahasa mengingatkan.

“Terima kasih atas petunjukmu, Ki.” ujar Sima.

Kemudian setelah menjura kepada kedua petani yang telah memberi petunjuk dan peringatan, Sima segera melesat cepat menuju ke Lembah Dedemit itu berada.

“Hah?” Ki Wirahasa terkejut dan menggeleng-gelengkan kepala melihat gerakan pemuda yang bertingkah tidak waras itu.

“Dilihat dari gerakan, pakaian, tampaknya pemuda itu seorang pendekar, Ki.” gumam Ki Damiri seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Ya” desah Ki Wirahasa. Tapi aku belum yakin, apakah pemuda itu akan selamat di Lembah Dedemit itu.” Sesaat keduanya terdiam. Mata keduanya mata memperhatikan pemuda tampan itu yang berlari begitu cepat menuju ke arah Lembah Dedemit yang bagi mereka sangat mengerikan. Nampaknya pendekar muda itu menggunakan ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi, sehingga dalam sekejap saja pemuda itu telah berada jauh sekali. Bahkan sesaat kemudian telah sampai di Lembah Dedemit.

Sima kini melangkah perlahan. Setapak demi setapak kakinya melangkah, meyusuri Lembah Dedemit yang sepi dan mencekam. Pemuda berambut masai terurai itu bersiul-siul, seakan tak ada rasa takut sama sekali. Malah tak jarang dia bernyanyi-nyanyi dengan suara keras.

Sima di dalam Lembah Dedemit nampak kebingungan. Dari empat penjuru angin, muncul kabut hitam yang pekat. Kemunculan kabut-kabut hitam itu diikuti hembusan angin kencang dan dingin serta suara-suara yang sangat aneh. Hal itu membuat pemuda itu bulu kuduknya bergidik. Matanya terbelalak menatap ke sekelilingnya yang kini semakin menyeramkan.

“Hm, apa yang akan terjadi di sini? Semuanya gelap. Jalan yang tadi kulalui, kini tertutup kabut.” keluh Sima kebingungan. Matanya semakin membeliak tegang, menatap kabut hitam yang seperti mengepung tubuhnya.

“Hua ha ha...” dari dalam kabut-kabut hitam itu, keluar suara tawa keras menggelegar. Suara tawa yang membuat bulu kuduk Sima kembali meremang berdiri. Tengkuknya terasa dingin, kaku karena takut.

Mata Sima terus mengawasi dengan rasa takut ke sekitarnya tampak sunyi mencekam. Hanya kabut hitam saja yang terus mendekat dan mengepung dirinya. Seakan kabut-kabut hitam yang tadi mengeluarkan suara itu, hendak mencengkeram tubuhnya.

“Makhluk yang ada di dalam kabut, kalau kau mau memangsaku. Mangsalah aku...” tantang Sima. Dirinya nekat memberanikan diri karena merasa telah terjepit. Matanya yang semula nampak redup dan tegang, kini menatap beringas. “

“Hua ha ha...” kembali suara tawa menyeramkan itu terdengar bergema. Seolah-olah berasal dari semua arah. Namun Sima seperti tak merasa takut sedikit pun. Pemuda Sinting itu menatap tajam ke sekelilingnya. Kabut hitam itu terus mengepung dirinya.

“Hoi... Makhluk yang ada di dalam kabut, keluarlah Makanlah aku, kalau kau ingin memangsaku. Ayo...” tantang Sima dengan lantang. Matanya terus menatap tajam ke sekeliling. Kabut hitam itu tampak semakin tebal dan berarak-arak bergerak mengepung tubuhnya.

“Hua ha ha... Kau berani menginjakkan kaki di lembah ini bocah, maka kau memang akan menjadi mangsaku ” suara bergema yang berasal dari balik kabut-kabut hitam kembali terdengar.

“Mangsalah aku tak takut...dasar kerbau Lembah hi hi hi...Ha ha ha.” tantang Sima dengan tertawa terkekeh-kekeh. Matanya kini mengawasi kabut hitam yang datangnya dari arah selatan. Hatinya yakin, suara itu berasal dari selatan.

“Bocah keparat. kau benar-benar minta mampus...” dengus suara berat bergema menyeramkan itu.

“Ya, andai kau memang mau memangsaku,
mangsalah. Rewel sekali kau kerbau sawah. Hi hi hi...Ha ha ha.” seru Sima dengan lantang.

“Hoaaam...” kabut-kabut itu bergerak semakin mendekat. Dari dalam kabut hitam yang kini mengapung mendadak muncul sebuah tangan hitam legam dan besar. Tangan itu menjulur keluar hendak menangkap tubuh pemuda sinting itu. Namun Sima tampak tetap tenang. Tak ada rasa gentar menghadapi ancaman maut itu.

Baru beberapa langkah kaki pemuda sinting itu maju, tiba-tiba angin bertiup dengan kencang laksana membadai. Angin itu menuju ke arahnya, berusaha menerbangkan tubuhnya. Dengan menyilangkan kedua tangannya dengan tenaga dalam, Sima berusaha menahan serangan dahsyat berupa angin yang tiba-tiba berhembus kencang. Dari kedua telapaknya yang menyilang, keluar sinar pelangi bergulung-gulung dan membesar. Sinar pelangi itu seketika mendesak angin yang membadai dahsyat itu.

“Heaaa...”

Wuusssssss !!!!

Angin yang membadai seketika lenyap dengan sendirinya. Sedangkan sinar pelangi itu tampak masih bergulung-gulung di udara tak tentu arah.

Baru saja Sima hendak menarik mundur serangannya, tiba-tiba serangkum sinar melesat cepat ke arahnya. Secepat itu pula, mereka merasa hembusan hawa panas membakar tubuhnya Sima berusaha sekuat tenaga mempertahankan diri, tapi tiba-tiba serangkum sinar itu bergerak menyambar ke dadanya dengan cepat.

Slaaaaats !!!

Craaaas....Craaaas !!!!

“Aaaaaaaaaa...” Tubuh Sima terjungkal kebelakang lalu terjatuh dan tak sadarkan diri.

Di sebuah tempat yang suasananya sangat lembab dan remang-remang, karena kiri kanannya hanyalah jajaran pohon berusia ratusan tahun serta semak belukar dan lumut-lumut tebal berwarna hijau, seorang laki-laki berusia amat lanjut terlihat duduk bersila dengan mata terpejam setengah membuka. Mulutnya terkancing rapat. Mungkin karena usia dan juga karena tak pemah terkena cahaya matahari, paras muka kakek ini amat pucat dan berkeriput. Namun keriputan kulit wajahnya hanya merupakan garis-garis yang samar-samar sebab kulit wajah itu demikian tipisnya. Rambutnya telah putih dan dibiarkan menjulai hingga sebagian menutupi wajah dan lehernya. Kumis dan jenggotnya juga putih dan lebat. Kakek ini mengenakan jubah panjang yang ketika dibuat duduk demikian rupa, sebagian kain jubahnya berserakan disamping kanan kirinya. Jubah itu telah kusam dan bertambal-tambal dari beberapa kain dan warna.


Part 1 Pendeta Sinting

Part 2 Pendeta Sinting

Part 3 Pendeta Sinting

Part 4 Pendeta Sinting

Part 5 Pendeta Sinting

Part 6 Pendeta Sinting

Part 7 Pendeta Sinting

Part 8 Pendeta Sinting

Part 9 Pendeta Sinting

Part 10 Pendeta Sinting

Part 11 Pendeta Sinting

Part 12 Pendeta Sinting

Part 13 Pendeta Sinting

Part 14 Pendeta Sinting

Part 15 Pendeta Sinting

Part 16 Pendeta Sinting

Part 17 Pendeta Sinting

Part 18 Pendeta Sinting

Part 19 Pendeta Sinting

Part 20 Pendeta Sinting

Part 21 Pendeta Sinting

Part 22 Pendeta Sinting

Part 23 Pendeta Sinting

Part 24 Pendeta Sinting

Part 25 Pendeta Sinting

Part 26 Pendeta Sinting

Part 27 Pendeta Sinting

Part 28 Pendeta Sinting

Part 29 Pendeta Sinting

Part 30 Pendeta Sinting

Part 31 Pendeta Sinting

Part 32 Pendeta Sinting

Part 33 Pendeta Sinting

Part 34 Pendeta Sinting

Part 35 Pendeta Sinting

Part 36 Pendeta Sinting

Part 37 Pendeta Sinting

Part 38 Pendeta Sinting

Part 39 Pendeta Sinting

Part 40 Pendeta Sinting

Part 41 Pendeta Sinting

Part 42 Pendeta Sinting

Part 43 Pendeta Sinting

Part 44 Pendeta Sinting

Part 45 Pendeta Sinting

Part 46 Pendeta Sinting

Part 47 Pendeta Sinting

Part 48 Pendeta Sinting

Part 49 Pendeta Sinting

Part 50 Pendeta Sinting

Part 51 Pendeta Sinting

Part 52 Pendeta Sinting

Part 53 Pendeta Sinting

Part 54 Pendeta Sinting

Part 55 Pendeta Sinting

Part 56 Pendeta Sinting
Diubah oleh salim357
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 9

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 2

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Pada beberapa tahun yang silam, jagat rimba persilatan pernah diguncang dan disentak oleh munculnya seorang tokoh berilmu tinggi yang malang melintang tanpa tanding. Beberapa tokoh golongan hitam yang coba-coba menjajal kesaktiannya, harus rela roboh dan yang memaksanya harus rela menyerahkan selembar nyawanya. Hingga ketika tokoh ini malang melintang, dunia persilatan menjadi tenteram damai. Dan satu persatu tokoh golongan hitam pergi menyingkir.

Tapi beberapa tahun kemudian Pendeta Sinting hilang lenyap tiada berita. Beberapa orang coba menyelidiki ke mana lenyapnya Pendeta Sinting. Namun hingga beberapa lama, tak seorang pun yang dapat membuka tabir lenyapnya Pendeta Sinting. Bersamaan dengan itu, tokoh-tokoh golongan hitam pun mulai lagi merajalela. Dan kekejian serta kemelut pun mulai muncul di mana-mana. Kemelut itu makin keruh dengan
tersebarnya berita tentang pusaka pedang mustika yang dikabarkan berada di tangan seseorang.

Sebenarnya Pendeta Sinting saat itu masih ingin terjun dalam rimba persilatan. Namun karena merasa usia telah menggerogoti dirinya, dia mulai berkeinginan untuk hidup tanpa bising segala macam ilmu silat. Dan secara diam-diam dia pergi ke sebuah lembah yang dikenal orang dengan nama Lembah Dedemit. Sebuah lembah yang sangat angker dan tidak pernah didiami seorang manusia.

Beberapa puluh tahun telah berlalu, Pendeta Sinting tetap berdiam diri di dalam Lembah Dedemit. Selain menyendiri untuk menenangkan diri, tokoh ini juga memperdalam ilmu silat.

Saat itu Pendeta Sinting sedang bersemadi dengan duduk bersila. Wajahnya telah mengeriput dimakan usia. Rambutnya pun telah memutih. Jubahnya yang bertambal-tambal berserakan di samping kanan kirinya. Namun semadinya saat itu tidak begitu khusuk. Karena sayup-sayup sepasang telinganya yang tajam menangkap hentakan kaki raksasa. Hal ini tidak biasa. Karena selama berpuluh-puluh tahun berdiam diri di dalam lembah, baru kali ini ada kegaduhan didalam lembah. Dan semadinya jadi kacau tatkala dengan jelas sepasang telinganya menangkap jeritan. Jeritan itu menggema dan memantul ke dinding lembah. Dari suara pantulan jeritan, dengan cepat Pendeta Sinting segera dapat menduga jika orang yang keluarkan jeritan pasti masuk ke dalam lembah.

Sementara tangan hitam legam berkuku panjang dan runcing itu, semakin dekat dengan tubuh Sima. Hampir saja, tangan-tangan hitam besar berkuku tajam menyeramkan itu mencengkeram dan mungkin akan mencabik-cabik tubuh Sima. Namun tiba-tiba Pendeta Sinting berkelebat menerobos kabut hitam sambil melontarkan pukulan beruntun ke arah kedua tangan hitam legam yang keluar dari kabut itu.

Glaarr....Glaaaaarrr !!!

Suara ledakan menggelegar terdengar, ketika sosok bayangan putih itu berkelebat sambil menghantamkan serangan cepat. Seketika itu pula Pendeta Sinting menyambar tubuh Sima. Secepat kilat lelaki itu melesat ke barat meninggalkan Lembah Dedemit.

Pendeta Sinting lantas bergeser tubuhnya kearah Sima. Kedua tangannya pun segera meneliti tubuh Sima. Karena pemuda ini tak mengalami cidera dalam, Pendeta Sinting hanya memijit-mijit jidat dan dada Sima. Dan orang tua ini tak menunggu lama. Tubuh Sima mulai bergerak-gerak. Lalu sepasang matanya terbuka. Bola mata tajam dan bening itu sesaat mengerjap, lalu memandang lurus ke atas. Setelah agak terbiasa, sepasang mata itu melirik ke samping. Sepasang alis matanya naik ke atas. Keningnya berkerut dengan mulut bergumam tak jelas. Namun wajahnya jelas mengisyaratkan rasa terkejut bukannya takut

"Hmm.... Nyalinya besar juga pemuda ini. Orang lain mungkin sudah terkencing-kencing melihat tampangku. Ha.... Ha.... Ha..." Pendeta Sinting membatin dalam hati dan tertawa sendiri.

"Kek..., Siapakah kau?" tiba-tiba Sima ajukan pertanyaan seraya bangkit duduk. Sepasang matanya tak berkedip memperhatikan raut wajah Pendeta Sinting. Lalu berpaling ke samping.

"Bocah. Siapa namamu?" Pendeta Sinting balik ajukan tanya.

"Namaku Sima. Tapi orang biasa memanggilku Pemuda Sinting." jawab Sima sambil berpaling lagi pada Pendeta Sinting. Mendengar ucapan Sima, Pendeta Sinting tertawa ngakak.

"Sinting bertemu Sinting. Ha....Ha.... Ha... Mana yang lebih geger dari hal ini? Bagaimana menurutmu?" seloroh Pendeta Sinting pada Sima.

"Bukankah tadi aku, hendak di mangsa mahluk raksasa di Lembah Dedemit, Kek?" Pendeta Sinting menganggukkan kepalanya. Memandang lama pada Sima, lalu berkata pelan.

"Benar, Nak Tapi kau sudah selamat. Kau harus berterima kasih pada Tuhan Pencipta Alam." tutur Pendeta Sinting.

"Apakah benar nama kakek 'Pendeta Sinting'?" tanya Sima pada lelaki tua yang jubahnya sudah bertambal-tambal berserakan di samping kanan kirinya.

"He he he... Kau cerdik sekali bocah, darimana kau tahu namaku?" tanya balik Pendeta Sinting.

Mungkin karena terkesima dengan ucapan pendeta Sinting untuk beberapa, lama Sima berdiam kaku. Hanya sepasang matanya yang memandang tajam memperhatikan pada Pendeta Sinting.

"Pendeta Sinting...? Jadi.... Apa yang pernah di ceritakan Eyang padaku itu benar adanya, saat aku masih kecil..." gumam Sima lirih.

"Siapakah eyangmu anak muda?" sahut pendeta Sinting.

"Eyang Amritambu sering cerita, bahwa pada puluhan tahun yang silam, hidup seorang tokoh sakti yang berbudi luhur namun juga seperti...," Sima tak meneruskan ucapannya. Matanya meneliti pakaian juga wajah Pendeta Sinting. Pendeta Sinting tertawa mengekeh.

"Hai.... Kenapa kau putuskan ucapanmu Teruskan Ayo katakan apa lanjutan ucapanmu"

Sima tersedak. Dia rupanya sadar bahwa dia keceplosan omong. Hingga meski Pendeta Sinting memerintah untuk melanjutkan ucapannya, Sima masih diam.

"Bocah Kau dengar kata-kataku.Teruskan ucapanmu"

"Eyang bilang kadang-kadang seperti orang tak waras...," ujar Sima dengan suara dipelankan.

"Ha ha ha... Aku tahu Eyangmu dari bangsa jin dan aku sangat menghormatinya. Karena Eyangmu punya sifat welas asih terhadap sesama mahluk ciptaan Tuhan Pencipta Alam." tutur Pendeta Sinting pada Sima.

"Apakah benar yang dikatakan Eyang. Kalau kakek tidak waras?" tanya Sima begitu polos.

Pendeta Sinting menghela napas panjang. Namun dia maklum, pemuda dihadapannya masih belum bisa mengerti perasaan orang lain. Namun sebaliknya Pendeta Sinting bukannya marah mendengar ucapan Sima. Orang tua ini malah tertawa terbahak-bahak. Membuat Pendeta Sinting menggeleng tak habis pikir. Sima pun yang tadinya agak takut-takut meneruskan ucapannya jadi tersenyum dan garuk-garuk kepala. Tiba-tiba sepasang mata kelabu Pendeta Sinting membeliak besar. Tawanya putus mendadak seakan direnggut setan.

Sementara Sima hentikan tangannya yang menggaruk. Tangan itu tetap di kepalanya. Diam tak bergerak-gerak. Sima menunggu dengan dada berdebar, khawatir jika Pendeta Sinting marah dibilang seperti orang tak waras oleh Sima.

"Celaka. Jangan-jangan orang tua ini tersinggung. Menghadapi orang tua begini memang susah-susah gampang..." gumam Sima.

Pendenta Sinting membelalak matanya melihat Sima. Saat itulah mata orang tua itu menatap bukan pada wajah Sima, melainkan pada telapak tangan kirinya yang diam di atas kepalanya.

Malah mungkin merasa kurang yakin, dia condongkan tubuhnya ke depan, membuka lebar-lebar sepasang matanya. Dan lukisan itu memang benar-benar terlihat meski samar-samar. Melihat dirinya dipandangi oleh orang tua di hadapannya demikian rupa, membuat pemuda sinting itu salah tingkah. Buru-buru Sima turunkan tangannya, lalu menunduk.

Pendeta Sinting seraya menatap sekujur tubuh Sima. Sebenarnya orang tua sinting itu secara tak sengaja telah dapat melihat sebuah lukisan bergambar seorang tua bersorban pada telapak tangan kanan Sima sewaktu anak itu menggaruk kepalanya.

"Sima. Kalau kau ingin di sini bersamaku. Aku tidak keberatan dan amat senang sekali." kata Pendeta Sinting.

"Apakah.... Apakah kalau aku di sini kakek mau menempaku dengan ilmu yang kakek miliki?" tanya Sima sambil arahkan pandangannya pada tempat sekitarnya. Pendeta Sinting tertawa mengekeh. Laki-laki berpakaian selempang resi ini anggukkan kepalanya dan berkata.

"Masalah ini belum bisa kuputuskan. Kita lihat saja nanti, kalau kau kuat dan berbakat, hal ini tak akan sulit."

"Aku kuat, kek" sahut Sima cepat, membuat Pendeta Sinting kembali tertawa terkekeh-kekeh.

"Dan aku mau tinggal di sini asalkan Kakek mau mengajariku ilmu."

"Baiklah. Itu urusan nanti. Yang penting kau mau tinggal di sini menemaniku" ujar Pendeta Sinting.

Pendeta Sinting menghela napas panjang. Lalu melirik sekilas pada pemuda sinting yang kini asyik mengorek-ngorek lumut tebal hijau di sampingnya. Tiba-tiba kening Pendeta Sinting mengernyit. Dia teringat sesuatu.

"Astaga Bukankah hal yang kutemui saat ini hampir sama dengan mimpiku? Aku bermimpi didatangi seorang pemuda sinting. Pemuda itu datang sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas dengan telapak tangan terbuka, sementara ditangannya membawa sebuah pedang.... Dan masih kuingat sebuah suara yang tiba-tiba menyeruak bersama kedatangan pemuda sinting itu.

'Pemuda ini yang kelak ditentukan untuk memiliki pedang itu. Rawat dan jagalah'

"Hm.... Sepertinya sebuah perintah. Ah.... Mimpiku benar-benar jadi kenyataan. Jadi aku harus merawat dan menjaga pemuda ini. Dan menuntunnya untuk mendapatkan pedang itu jika sampai saatnya. Hmm...." Pendeta Sinting tidak segera berkata. Memandang sejenak pada Sima lalu tengadah.

"Dengar. Aku telah menemukan petunjuk tentang pedang mustika itu pada dirimu ." Sima menjadi tercengang.

"Tapi Kek, Eyang Amritambu memang benar-benar tak pernah memberikan petunjuk itu padaku. Dan aku pun tak tahu Kalau tak keberatan, boleh aku tahu di mana dan bagaimana petunjuknya?" Keningnya berkerut seakan mengingat. Lalu kepalanya menggeleng perlahan.

"Apakah kau berniat memiliki senjata itu?" Pendeta Sinting lantas melirik ke samping. Dilihatnya Sima telah tertidur di atas lumut hijau Orang tua ini menggelengkan kepalanya.

Sejak hari itulah Sima hidup di dalam Lembah Dedemit bersama Pendeta Sinting. Adalah suatu hal yang aneh jika dalam sebuah tempat yang orang tak menyangka bakal dihuni manusia terjadi suatu pemandangan yang menakjubkan. Betapa tidak? Seorang pemuda berparas tampan, berambut panjang berurai dan acak-acakan sedang berdiri tegak di atas sebuah tonjolan batu pipih yang menonjol pada lamping jurang. Sejenak pemuda ini memandang liar ke bawah, di mana terlihat seorang kakek sedang duduk bersila seraya memejamkan mata. Namun mulutnya tak henti-hentinya komat-kamit, dan tak lama kemudian tertawa ngakak. Namun tiba-tiba saja kedua tangannya yang merangkap di depan dada bergerak dan memukul ke atas.

Wuuuttt...Wuuuttt !!!

Dua gelombang angin dahsyat segera melesat dengan diiringi suara menggemuruh. Di atas sana, sang pemuda ikut-ikutan tertawa, namun sebentar kemudian telah melesat bersamaan dengan sampainya pukulan si kakek.

Suara berderak segera menyeruak. Lamping jurang itu hancur berantakan dan meninggalkan lubang yang cukup dalam. Sang kakek melirik ke samping kanan, di mana si pemuda kini berada. Kedua tangannya lantas diangkat ke atas kepala. Serta-merta kedua tangannya dikembangkan dan disentakkan ke arah si pemuda.

Dua berkas sinar melesat lalu mengembang dan serta-merta berhamburan membentuk beberapa pijaran. Pijaran itu lantas melesat dari segala arah menuju ke arah si pemuda. Sang pemuda tak tinggal diam. Kedua tangannya segera pula mengembang, lalu disentakkan. Dari kedua tangan si pemuda segera pula melesat dua sinar kuning keperakan. Bersamaan dengan itu, suasana berubah menjadi semburat warna kuning. Tak lama kemudian terdengar beberapa kali letupan keras tatkala bersitan sinar kuning tadi menghantam beberapa pijaran. Setiap kali letupan, tanah di tempat itu bergetar keras. Hingga di tempat itu laksana dilanda gempa beberapa kali. Tanah pun berhamburan, semak belukar tercerabut sampai akar-akarnya. Begitu tanah surut, si pemuda terlihat terhuyung-huyung, namun segera dapat kuasai diri.

Sedangkan sang kakek tubuhnya bergoyang-goyang sebentar. Namun cuma sesaat. Sekejap kemudian tubuhnya telah diam seperti sediakala. Malah bersamaan dengan itu dari mulutnya terdengar suara tawa mengekeh panjang. Tiba-tiba si kakek putuskan tawanya. Kaki bergerak ke depan lalu ditekuk, hingga kakek ini duduk bersimpuh. Sepasang matanya yang kelabu sedikit memejam. Mulut berkemik.

Tiba-tiba saja kedua tangan orang ini berubah menjadi biru bercahaya. Sang pemuda terperangah. Sepasang matanya yang tajam memandang tak berkedip.

"Astaga Eyang Guru hendak lepaskan pukulan 'Melebur Nyawa'..." sungut si pemuda dengan dada berdebar. Dan tanpa menunggu si orang tua menggerakkan kedua tangannya, pemuda ini cepat pula mengambil sikap seperti si orang tua.

Kedua tangan merangkap sejajar dada, sepasang mata sedikit terpejam dengan mulut komat-kamit. Seperti yang terjadi pada si orang tua, kedua tangan pemuda ini sekejap kemudian telah berubah menjadi biru bercahaya

Wuuuttt ...Wuuuttt !!!!

Di depan sana, sekonyong-konyong si orang tua buka rangkapan kedua tangannya. Dan serta-merta kedua tangannya dikembangkan dan disentakkan ke arah si pemuda. Tangan bergetar keras. Dua sinar kuning keperakan melesat keluar. Pada saat bersamaan, suasana ditempat itu berubah menjadi semburat warna kuning.

Inilah pukulan sakti yang beberapa puluh tahun silam pernah menggemparkan rimba persilatan, yakni pukulan 'Lembur Kuning' Di seberang sana, mendapati si orang tua telah lepaskan pukulan, sang pemuda tak tinggal diam. Kedua tangannya pun dikembangkan dan segera dihantamkan memapak pukulan si orang tua.

Wuuuttt...Wuuuttt !!!

Dua sinar kuning melesat dari kedua telapak tangan si pemuda lalu mengembang dan menggebrak memapak pukulan yang datang. Dua pukulan sakti 'Lembur Kuning' bentrok di udara. Hingga sekejap itu juga terdengar ledakan dahsyat, membuat semak belukar di sekitar tempat itu porak-poranda, tanah di sana-sini membentuk kubangan. Ranting dan dahan-dahan pohon berpatahan, rimbun dedaunan di atas sana langsung mengering hangus sebelum akhirnya gugur berhamburan.

Ketika suasana terang kembali, si orang tua terlihat mengurut dada seraya batuk-batuk kecil, tubuhnya bergeser hingga beberapa langkah ke belakang. Dahi dan lehernya tampak dilelehi keringat. Di seberang, si pemuda terjajar hingga dua tombak dan terduduk di atas tanah. Wajahnya pucat pasi, kedua tangannya bergetar dengan sekujur tubuh telah basah kuyup oleh keringat.

"Sontoloyo sini kau..." tiba-tiba Pendeta Sinting memanggil dengan anggukkan kepalanya pada sang pemuda.

Sima memasukkan jari kelingkingnya pada lubang telinganya hingga wajahnya meringis. Lalu bangkit dan melangkah ke arah Pendeta Sinting.

"Duduk...," perintah Pendeta Sinting. Sang pemuda menuruti perintah. Dia duduk namun tak henti-hentinya wajahnya meringis, karena jari kelingkingnya masih masuk ke dalam lubang telinganya, malah seolah disengaja, jari kelingking dimasukkan semakin dalam, hingga tubuhnya terangkat dengan cengengesan Anehnya, sang kakek tidak marah, sebaliknya malah ikut-ikutan tertawa. Setelah puas tertawa, kakek ini memandang tajam pada sang pemuda. Lalu berkata.

"Sima. Aku ingin bicara denganmu"

"Hi hi hi.... Ha ha ha. Ingin bicara kenapa berkata dulu, Eyang...?"

"Sontoloyo, Ini soal sungguhan. Tidak bercanda." tukas si kakek dengan suara agak keras. Namun wajahnya tak menunjukkan perasaan marah.

"Hmm.... Soal apa Eyang?" tanya sang pemuda begitu melihat kesungguhaan pada wajah orang tua di hadapannya.

"Sima. Tuhan menciptakan sesuatu berpasang-pasangan. Ada laki-laki ada perempuan. Ada siang ada malam. Ada luar ada dalam. Ada pertemuan ada perpisahan...," sejenak si kakek menghentikan ucapannya.

Sementara sang pemuda terpekur, seakan masih tak mengerti dengan arah pembicaraan orang tua di hadapannya.

"Hari ini, kita harus menjalani pasangan dari pertemuan." tutur Pendeta Sinting pada Sima.

"Maksud Eyang...," seru Sima yang masih tidak mengerti ucapan gurunya.

"Kurasa apa yang kuberikan padamu selama kau disini, sudah cukup. Pukulan'Lebur Kuning' telah kau kuasai dengan baik, demikian pula jurus-jurus yang telah kuajarkan padamu. Tapi ingat. Apa yang sekarang telah kau miliki, tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang dimiliki Tuhan Pencipta Alam. Ilmu yang kau miliki, hanya sebagian kecil dari ilmunya Tuhan. Maka dari itu jangan kau bersifat sombong. Meremehkan orang lain." tutur Pendeta Sinting kembali.

"Aku mengerti, Eyang..." sahut Sima.

"Kembali pada ucapanku tadi, hari ini sudah saatnya kita harus berpisah. Sudah waktunya kau mengamalkan apa yang telah kau miiikl untuk ketenangan dan kedamaian umat manusia." tutur Pendeta Sinting.

"Tapi, Eyang..."

"Tak ada tapi. Harus kau dengar? Harus" sahut sang kakek tandas.

Sang pemuda yang bukan lain adalah Sima, memandang lekat-lekat pada orang tua di hadapannya yang bukan lain adalah Pendeta Sinting. Memang, tanpa terasa, lima tahun sudah Sima berdiam diri bersama Pendeta Sinting di dalam Lembah Dedemit. Selama itu pula, siang malam Sima mendapat gembelengan ilmu silat dari orang tua yang pada beberapa puluh tahun silam pernah menggegerkan rimba persilatan itu. Tubuh Sima pun kini telah berubah. Sosoknya kini tegap. Kedua tangannya lebih berotot dengan kaki kokoh.

"Sima. Ada satu hal yang harus kau kerjakan begitu kau menginjak tanah di luar sana. Ingat. Hal ini harus kau kerjakan. Tanpa berpaling pada masalah lain." tutur Pendeta Sinting pada Sima yang berjuluk Pendekar Sinting.

"Apa hal itu, Eyang...?" sahut Sima dengan suara agak parau, karena pemuda ini sebenarnya tidak menyangka jika hari ini adalah hari terakhir baginya berada di dalam Lembah Dedemit. Dia seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh gurunya itu.

"Seperti yang sering kukatakan padamu, saat ini rimba persilatan sedang diguncang dengan berita tentang 'Pedang Perak Sakti' yang dari dahulu hingga kini belum juga terbuka misterinya Kau kutugaskan untuk melacak pedang mustika itu." Sima manggut-manggut.

Pendeta Sinting tengadahkan kepalanya. Lalu melanjutkan.

"Kau cari orang tua yang bernama Ki Raksa di Desa Kembang." Sima mengangguk. Sementara Pendeta Sinting terus tengadah.

"Orang itu membawa petunjuk tentang di mana beradanya pedang mustika itu." terang Pendeta Sinting kembali. Pemuda murid Pendeta Sinting ini lantas bertanya.

"Katakanlah, Eyang. Di mana beradanya pedang mustika itu?"

"Kau dengar baik-baik petunjuk yang pernah kubaca Itu. 'Pedang Perak Sakti'. Puncak Bukit Jamurdipa. Bulan Sepenggal. Nah, kau jabarkan sendiri petunjuk itu." Pemuda Sinting itu mengulangi petunjuk yang diucapkan Pendeta Sinting. Dahinya berkerut seakan mencari arti dari petunjuk itu.

"Pedang Perak Sakti. Hm.... Ini pasti nama pedang mustika itu. . Hmm...Adalah tempat dimakamkannya seseorang yang dianggap sakti. Puncak Bukit Jamurdipa. Ini pasti tempat makam orang sakti itu. Bulan Sepenggal... Apa artinya ini?" Belum sempat Sima menemukan arti kata-kata pada petunjuk terakhir itu Pendeta Sinting telah buka suara lagi.

"Sima. Kau sudah siap berangkat?" Sima anggukkan kepala meski hatinya mesih ada beberapa pertanyaan. Dia sebenarnya hendak menanyakan hal itu pada gurunya namun dia batalkan. Karena dia tak mau dianggap manusia yang tak mau berpikir.

Setelah memandang sejenak pada gurunya, Sima menjura dalam-dalam. Lalu bergerak bangkit.
Diubah oleh salim357
emoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakakemoticon-Ngakak ditunggu kelanjutanya!!!
Quote:


Baiklah, Tuan Pendekar Slamet...,"
emoticon-Imlek
Diubah oleh salim357
Quote:


Njirr tau aja nama julukan ane emoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grinemoticon-Big Grin
Quote:


Hi hi hi... Ha ha ha.
"Heyaaaaaa"
Quote:


Jangan sampe macet ya gan!!! emoticon-Keep Posting Ganemoticon-Keep Posting Gan

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 3

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~


"Sima.... Hari-hari di depanmu sangat berat dan sudah pasti sarat dengan berbagai cobaan dan tantangan karena rimba persilatan selalu dan selalu dihiasai dengan segala macam fitnah, kelicikan, dendam juga hasutan. Pergunakan otak bersih dan kepala dingin dalam menghadapi segala masalah. Segala masalah tujukan hanya demi untuk kedamaian dan ketenteraman umat
manusia." tutur pituah yang keluar dari Pendeta Sinting pada Sima.

"Segala ucapan Eyang sedapat mungkin akan murid lakukan Aku mohon pamit, Eyang..." Pendeta Sinting anggukkan kepalanya, lalu memandang tajam pada pemuda sinting itu. Sima menjura sekali lagi, lalu putar tubuhnya dan melangkah melewati jalan setapak.
Kira-kira dapat lima belas langkah, kepalanya tengadah. Lalu berpaling sebentar pada Pendeta Sinting, namun ternyata orang tua itu sudah tidak ada lagi di tempatnya semula Sima menggumam tak jelas, lalu tengadah lagi. Sekejap kemudian tubuhnya melesat ke atas, menjejak tonjolan batu di lamping jurang lalu mental lagi ke atas, menjejak lagi tonjolan pada lamping jurang sampai akhirnya menginjaktanah di bibir jurang. Masa lima tahun di dalam Lembah Dedemit telah membuat pemuda itu hapal tonjolan-tonjolan tebing yang dapat dipijaknya. Sehingga Sima mampu mendaki tebing jurang yang dalam itu.

Sejenak sepasang matanya memandang berkeliling. Lalu berpaling ke bawah. Hanya kegelapan yang terlihat.

"Hm...Lima tahun aku berada di lembah ini, sepertinya baru kemarin saja aku tinggal. Aku akan menemui Ki Raksa terlebih dahulu, siapa tahu Ki Raksa tahu tempat yang hendak kutuju...." Setelah menghela napas panjang dan dalam pemuda ini berkelebat meninggalkan Lembah Dedemit.

Saat itu, Sima tengah memasuki wilayah Desa Kembang, yang sepertiga bagian wilayahnya merupakan petak-petak sawah. Penduduk Desa Kembang memang sebagian besar bercocok tanam, karena letak desa mereka tidak memenuhi syarat untuk niaga atau nelayan. Karena tak ada aliran sungai, maupun tempat berjualan yang ramai. Hanya ada pasar kecil di Desa Kembang yang ramainya hanya pada waktu-waktu tertentu.

Sima menghela napas panjang. Matanya memandang ke sekelilingnya yang masih merupakan hamparan persawahan. Dia berusaha mencari salah seorang petani yang dapat memberi petunjuk dimana pondok Ki Raksa berada.

“Nah Itu ada seorang petani. Sebaiknya ku tanyakan padanya?” gumam Sima. Langkahnya segera dipercepat untuk dapat mengejar seorang petani yang berjalan di depan. Sesaat kemudian, Sima sudah berada di dekat petani itu.

"Maaf Ki, apakah kau mengenal Ki Raksa tinggal didesa ini?” sapa Sima dengan ramah, yang menjadikan seorang petani itu menghentikan langkahnya. Seraya membalikkan tubuh memandang ke arah pemuda tampan yang bertingkah seperti orang yang tak waras.

“Silahkan Aden, pergi ke sudut desa ini. Di situlah kediaman Ki Raksa." ujat lelaki berusia sekitar lima puluh tujuh tahun dengan wajah tampak sabar. Kumis yang memutih menghias di atas bibirnya. Matanya menatap tajam dan mengernyitkan dahinya ketika pemuda itu tersenyum cenge-ngesan sendirian.

"Terima kasih, Ki." Seru Sima. Yang segera meninggalkan seorang petani itu.

"Hmm.... Kulihat telah banyak perubahan dengan desa ini. Lima tahun ternyata telah mampu membuatku hampir lupa karena begitu banyaknya perubahan.." gumam Sima bicara sendiri dalam hati seraya terus melangkah menyusuri Desa Kembang dengan sepasang mata tak hentinya memperhatikan tempat-tempat yang dilewati.

Sampai pada sudut desa, tepatnya di depan sebuah pondok bambu yang letaknya berbatasan dengan jalan menuju hutan, Sima hentikan langkahnya sejenak. Sepasang matanya memandang tajam pada pondok bambu terpencil itu.

"Sepertinya itu pondok Ki Raksa...," gumam Sima lalu meneruskan langkah menuju pondok yang terbuat bambu yang pintunya tampak tertutup.

"Ki...?" seru Sima begitu telah berada di depan pintu. Tak ada sahutan dari dalam pondok, namun sepasang telinga sima yang telah terlatih dapat menangkap langkah-langkah kaki menuju ke pintu.

Dada pemuda ini berdebar. Mungkin tak sabar, kedua tangannya segera bergerak ke depan mendorong pintu. Bersamaan dengan itu, dari dalam rumah, pintu itu ditarik membuka. Debaran dada Sima makin keras, sepasang matanya tak berkedip dengan mulut komat-kamit ketika di balik pintu yang telah terbuka, tampak berdiri seorang laki-laki berusia ianjut. Rambutnya telah putih dengan mata sayu.

Di balik pintu, si orang tua sejurus memandangi pemuda di hadapannya dengan mata menyipit dan membesar. Dahinya yang telah mengeriput makin berkerut. Sebelum orang tua ini keluarkan suara untuk menanyakan siapa adanya sang tamu, Sima telah melangkah masuk dan serta-merta menubruk orang tua itu.

"Namaku Sima, aku murid 'Pendeta Sinting dari Lembah Dedemit'...," ujar Sima dengan suara parau dan tersendat.

"Pendeta Sinting...," gumam si orang tua mengulangi ucapan Sima. Serta-merta orang tua ini merangkul Sima sengan mulut komat-kamit tapi tak jelas apa yang diucapkan. Namun dari wajahnya jelas jika orang tua ini sangat gembira dan terharu.

"Pendeta Sinting adalah sahabatku, sudah puluhan tahun aku tidak melihatnya. Sekarang yang bertengger di pondokku ternyata seorang muridnya. Tetapi hatiku cukup gembira, atas kedatanganmu bocah. He he he..." ujar Ki Raksa sembari tertawa.

"Ki.... Bagaimana keadaanmu selama ini?" tanya Sima pada Ki Raksa.

"Aku baik-baik saja dan aku senang melihat kau berkunjung di gubuk reot ku ini." seru Ki Raksa sembari melepaskan rangkulannya. Lalu menarik sedikit tubuhnya kebelakang. Sepasang matanya yang sayu memandangi Sima dari atas hingga bawah.

Sima tersenyum. Lalu menebarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Ki Raksa menarik napas panjang seraya gelengkan kepala.

"Jangan kau bersifat jumawa walau kau murid seorang tokoh silat yang kesohor." tutur Ki Raksa pada Sima

"Segala nasihatmu akan terus kuingat, Ki...,"

"Bagus... Aku sangat gembira mendengarnya."

"Ki, sebenarnya aku masih punya tugas yang harus kuselesaikan..." keluh Sima menarik napasnya.

"Sima. Aku tahu. Kuharap kau malam ini mau menginap di sini. Sekarang kau mungkin masih lelah. Beristirahatlah dulu. Nanti malam kita teruskan obrolan kita. Setelah itu kau boleh meneruskan perjalananmu mencari Pedang Sakti itu." ujar Ki Raksa yang sudah mengetahui maksud Sima menemuinya.

"He he he... Ternyata kau sudah tahu kedatangan ku kesini, Baiklah Ki aku akan beristirahat disini." ujar Sima. Sembari tersenyum cenge-ngesan.

****

Pagi nampak cerah, dengan langit biru tanpa
awan. Udara semilir menimbulkan hawa sejuk dan basah. Burung-burung pun berkicau riang menambah indahnya pagi itu.

Di sudut Desa Kembang, tepatnya pada sebuah pondok dari bambu yang terletak berbatasan dengan jalan menuju hutan, tampak dua orang sedang duduk berhadap-hadapan di ruangan yang tidak terlihat satu pun perabot rumah tangga. Ruangan itu hanya dihiasi sebuah tikar lusuh yang alasnya dari jerami kering.

Duduk di sebelah kanan menghadap ke kiri adalah seorang laki-laki berusia agak lanjut. Mengenakan pakaian warna putih kusam dan lusuh. Rambutnya panjang dan putih. Sepasang matanya telah sayu karena digerogoti usia. Kulit sekujur tubuhnya pun telah mengeriput dialah Ki Raksa sahabat dari 'Pendeta Sinting'.

Beberapa kali orang tua ini menghela napas panjang seraya memandang seorang pemuda berusia kira-kira dua puluh enam tahun yang duduk di hadapannya. Pemuda ini berparas tampan, kulitnya kuning dengan rambut masai terurai. Kedua alis matanya membentuk bagus. Sepasang matanya tajam dialah Sima alias 'Pendekar Sinting'.

Setelah berdiam diri agak lama, orang tua itu batuk-batuk beberapa kali, lalu membuka mulut. Suaranya pelan namun tegas.

"Sima.... Sebenarnya aku tidak perlu mengulang-ulang lagi apa yang semalam ku katakan padamu. Pergilah sekarang." Sejenak orang tua hentikan ucapannya. Pandangan matanya yang sayu tak lepas memandang lekat-lekat pada pemuda yang mirip dengan sahabat lamanya. Tentunya sama-sama sinting.

"Baiklah, aku akan meneruskan perjalananku Ki, terima kasih atas petunjukmu." tutur Sima pada Ki Raksa. Setelah menjura hormat Sima berkelebat meninggalkan pondok Ki Raksa sahabat dari Gurunya si 'Pendeta Sinting'.

"Benar-benar tidak disangka....Hm.... Semoga pemuda sinting itu bisa membawa diri dan menjadi seorang pendekar muda yang berbudi...," ujar Ki Raksa dengan memandangi langkah-langkah Sima sampai pemuda ini menghilang di tikungan jalan setapak menuju kedai makan.

Mungkin karena satu-satunya yang ada, kedai di sudut desa yang tidak terlalu besar dan sedikit kotor itu banyak didatangi para pengunjung. Beberapa ekor kuda tampak ditambatkan di sebelah samping kedai, memberi petunjuk jika pengunjung kedai itu bukan hanya datang dari desa sekitar daerah itu saja, melainkan juga datang dari desa lain.

Dari arah barat kedai, seorang pemuda terlihat melangkah pelan seraya memperhatikan keadaan sekitar yang dilewatinya. Beberapa kali kepalanya berpaling kekanan kiri dengan mata sedikit dilebarkan, sementara mulutnya tak henti-hentinya bergumam tak jelas, seakan menunjukkan bahwa sang pemuda adalah bukan penduduk asli desa itu.

Pemuda ini rnengenakan pakaian biru kehitaman dengan ikat kepala terbuat dari akar pohon. Rambutnya panjang sedikit acak-acakan, sepasang matanya tajam dengan alis mata tebal dan hitam. Dagunya kokoh dengan hidung sedikit mancung.

Begitu sampai di halaman kedai, Sima menghentikan langkahnya. Sepasang matanya jelalatan ke sana kemari, lalu memandang lurus ke dalam kedai. Sejurus pemuda sinting itu menghela napas panjang.

Wajahnya jelas menampakkan keragu-raguan di hatinya, antara meneruskan langkah dan masuk kedai, karena beberapa kali pemuda ini melangkah mondar-mandir dengan mata memandang ke sebelah timur lalu berpaling ke arah kedai. Setelah berpikir agak lama, akhirnya pemuda ini melangkah ke arah kedai. Di pintu masuk, dia hentikan langkah. Sepasang matanya menyapu ke ruangan di mana banyak para pengunjung sedang menikmati hidangannya. Bibir pemuda sinting itu mengulas senyum, namun sesaat kemudian berubah menjadi ringisan. Puas memandang ke seluruh ruangan, dia meneruskan langkah masuk ke dalam kedai.

Anehnya, dia tak segera mencari tempat duduk yang kosong, melainkan terus melangkah ke arah dalam, di mana banyak pelayan kedai sedang menyiapkan makanan pesanan pengunjung. Merasa ada orang tak dikenal melangkah hendak masuk kedalam, pemilik kedai buru-buru menyongsong dengan senyum tipis. Dahinya berkerut dan memperhatikan pada sang pemuda dengan mata penuh selidik. Karena selain celingak-celinguk seakan mencari sesuatu, pemuda ini cenge-ngesan sendiri.

Pemilik kedai segera maklum, namun mau tak mau kepalanya menggeleng dengan mulut komat-kamit memperdengarkan ucapan tak jelas. Ternyata jari kelingking sang pemuda masuk ke dalam lubang telinganya Hingga meski sendirian tak ada yang mengajak bicara, pemuda ini meringis dengan tubuh sedikit berjingkat.

"Mau pesan apa, Den...?" sapa sang pemiiik kedai masih dengan mata tak berkedip memperhatikan pemuda di hadapannya dari bawah hingga atas.

Sima menggelinjang sebentar, lalu tarik jari kelingkingnya dari lubang telinganya. Setelah memandang sepintas lalu, dia angkat bicara.

"Kisanak pemilik kedai ini?" tanya Sima.

"Hmm.... Pemuda ini tuli apa kurang waras? Ditanya mau pesan apa jawabnya malah tanya balik." gumam pemilik kedai. Namun karena ingin segera menyambut beberapa pengunjung, pemilik kedai anggukkan kepalanya.

"Melihat banyaknya pengunjung, pasti pemilik ini sudah beberapa puluh tahun berjualan, dan bukan mustahil dia dilahirkan di sini, yang berarti hapal betul dengan daerah di sekitar tempat ini" Sima berkata dalam hati, lalu dihadapkan wajahnya pada pemilik kedai dan berkata.

"Kisanak tak keberatan menjawab jika aku tanya sesuatu?" Mendengar ucapan Sima, pemilik kedai kembali kernyitkan kening, namun wajahnya menunjukkan rasa tak senang.

Tapi entah karena tak ingin membuat keributan atau agar pemuda Sinting itu segera enyah dari hadapannya, pemilik kedai ini segera berujar.

"Sebenarnya ini kedai bukan tempat untuk bertanya, tapi untukmu, aku masih dapat mengerti, karena kulihat kau bukan penduduk daerah sini. Lekas katakan apa yang ingin kau tanyakan" Meski kata-kata pemilik kedai sedikit tak enak di telinga, Sima tak menampakkan raut wajah berubah.

Sebaliknya makin tersenyum lebar dan balik menatap pemilik kedai yang saat itu tak lepas memandanginya.

"Di mana letak Bukit Jamurdipa?" tanya Sima pada pemilik kedai itu.

Mendengar pertanyaan pemuda sinting itu, paras muka sang pemilik kedai berubah seketika. Kedua matanya membelalak, mulutnya terkancing rapat. Tubuhnya sedikit berguncang. Rasa takut tak dapat disembunyikan dari wajahnya meski sesaat kemudian, pemilik kedai itu sunggingkan senyum dan membuka mulut.

"Kau berniat menuju ke sana?"

Sima, tidak segera menjawab. Dia masih menduga-duga dalam hati apa yang membuat perubahan pada paras orang di hadapannya. Namun tak dapat menemukan dugaan yang pasti, akhirnya pemuda ini anggukkan kepala, membuat sang pemilik makin dibuat heran bercampur takut.

Tiba-tiba si pemilik kedai melangkah maju. Serta-merta tangan kanan Sima digaetnya dan diajaknya ke dalam. Di pojok ruangan dalam, sang pemilik berhenti dan langsung ajukan pertanyaan.

"Anak muda. Apa maksudmu hendak ke Bukit Jamurdipa?"

"Hmm.... Aku tak boleh berterus terang pada siapa pun juga tentang apa tujuanku ke Bukit Jamurdipa." gumam Sima dalam hati.

"Ayahku sedang sakit. Aku disuruh mencari daun-daunan di bukit itu. Di mana letaknya bukit itu, Ki?" Sejurus pemilik kedai memperhatikan seakan ragu-ragu dengan ucapan pemuda di hadapannya.

"Kau tak berkata bohong?"

"Heran. Ada apa sebenarnya di bukit itu? Bukan hanya rasa takut yang tampak pada air muka orang ini, tapi juga banyak pertanyaan yang seharusnya tak ditanyakan...," Sima kembali menyimpulkan apa yang dilihatnya, lalu menjawab pertanyaan orang dengan gelengan kepala. Si pemilik kedai manggut-manggut.

"Anak muda. Kalau mau kuingatkan, sebaiknya urungkan saja niatmu menuju bukit itu. Lebih baik kau cari di tempat lain saja apa yang kau butuhkan"

"Wah, hal itu tak dapat dilakukan. Karena aku telah mencobanya ke tempat lain, namun yang kucari tak kutemukan. Hanya di Bukit Jamurdipa adanya daun-daunan yang kubutuhkan itu, Ki...,"

Pemuda Sinting menghentikan ucapannya sejenak. Ketika ditunggu tak ada sambutan dari orang di hadapannya, Sima menyambung kata-katanya.

"Wajah pemilik kedai berubah seolah takut.
Ada apa sebenarnya di bukit itu?" pemilik kedai terdiam. Setelah menghela napas panjang dia berujar.

"Kau adalah salah satu dari beberapa orang yang menanyakan letak bukti itu padaku. Namun kau tahu, apa yang terjadi setelah mereka menuju ke bukit itu?" Sekarang pemuda sinting itu yang balik jadi terdiam. Bukan karena ingin menduga apa yang terjadi dengan beberapa orang sebelumnya, namun karena khawatir jika ada orang yang telah mendahului.

Melihat si pemuda tidak menjawab, pemilik kedai menjawab pertanyaannya sendiri dengan suara sedikit bergetar.

"Mereka tak ada yang pulang kembali. Padahal mereka bukan orang sembarangan, karena beberapa di antaranya pernah terlibat bentrok di sini. Mereka semua rata-rata memiliki ilmu silat hebat."

"Bagaimana kau tahu mereka tidak pernah kembali?"

"Di sebelah timur itu adalah satu-satunya jalan menuju ke Bukit Jamurdipa...," ujar pemilik kedai seraya angkat tangannya dan menunjuk ke sebelah timur.

"Kalau mereka pulang kembali, pasti aku mengetahuinya, setidak-tidaknya salah seorang pelayanku tahu, karena kedai ini buka sehari semalam. Sementara jalan satu-satunya adalah jalan itu."

Mendengar keterangan demikian, mau tak mau merinding juga buluk kuduk pemuda sinting itu, malah mukanya berubah. Namun karena tekadnya telah bulat, keterangan si pemilik kedai hanya sebentar saja membuatnya dihantui rasa takut. Sesaat kemudian yang terlihat adalah semangatnya yang besar. Apalagi mendengar beberapa orang yang menuju ke sana belum ada yang pernah kembali, yang berarti mereka gagal mendapatkan apa yang dicari

"Kisanak tahu, apa yang mereka cari di bukit itu?" pemilik kedai gelengkan kepalanya.

"Mereka tak mau mengatakan. Tapi dari sikap mereka, aku dapat menduga mereka mempunyai keperluan yang sangat penting sekali. Aku sendiri heran, apa yang mereka cari di sana? Padahal yang ada di sana hanyalah sebuah makam tua. Yang oleh orang-orang di sekitar sini dinamakan Makam Keramat. Aku tak tahu, kenapa makam itu dinamakan demikian. Hanya menurut orang-orang tua, makam itu adalah makam seorang sakti yang telah disemayamkan pada beberapa ratus tahun yang silam...,"

"Terima kasih atas keteranganmu. Aku harus segera pergi" ujar Sima, lalu putar tubuh dan hendak melangkah meninggalkan ruangan itu. Namun langkahnya tertahan karena si pemilik kedai berseru.

"Tunggu Apakah kau akan melanjutkan niatmu?"

Sima memalingkan wajahnya kebelakang. Bibirnya mengulas senyum. Kepalanya bergerak menggeleng.

"Sebenarnya aku ingin sekali ke sana, namun mendengar keteranganmu, aku jadi berpikir dua kali untuk meneruskan niatku. Apalagi aku hanya seorang yang tidak memiliki ilmu silat. Aku belum merasakan enaknya hidup, juga belum menikmati bagaimana rasanya berdampingan dengan seorang gadis cantik. Terlalu sayang jika harus mati sebelum menikmati semua itu. Bukankan begitu?" Kali ini si pemiiik kedai tersenyum lebar, senang karena keterangannya dituruti orang. Dia lantas melangkah menghampiri si pemuda dan berbisik.

"Apakah kau juga tak ingin menikmati makanan kedaiku?" Sima menyeringai. Tangan kanannya bergerak merogoh bagian dalam pakaiannya seakan hendak mengambil sesuatu. Namun diam-diam dalam hatinya berkata.

"Sialan. Sebenarnya aku juga sudah lapar, tapi apa yang akan kubuat untuk membayar makananmu?" Mungkin menduga pemuda itu sedang menghitung uang di balik pakaiannya, si pemilik kedai segera menyambung ucapannya.

"Ayolah duduk di sana. Kau akan menyesal pergi ke daerah sini jika tidak mencicipi makanan kedaiku. Harganya juga tidak mahal...,"Tiba-tiba pemuda sinting itu bungkukkan tubuhnya dengan tangan kiri merangkap di depan perut. Wajahnya meringis kesakitan.

"Apa yang terjadi dengan dirimu?" tanya pemilik kedai dengan terkejut.

"Di mana tempatnya membuang hajat? Perutku mulas sekali Biasa penyakit lamaku kumat lagi Murus-murus...,"Dengan memaki panjang pendek dalam hati si pemilik kedai angkat tangannya ke sebelah timur, jalan setapak yang menuju Bukit Jamurdipa.

"Di situ kau akan menemukan sebuah parit kecil. Tumpahkan semuanya di situ." habis berkata demikian, pemilik kedai putar tubuh dan melangkah ke ruangan dalam seraya mengomel.

"Dasar pemuda geblek Aku tahu, dia pura-pura. Padahal sebenarnya dia tak punya uang...," Sima hendak mengucapkan terima kasih, namun begitu berpaling dan dilihatnya si pemilik kedai telah ngeloyor ke belakang, pemuda ini meneruskan langkah dengan. terbungkuk-bungkuk dan sebelah tangannya mendekap perutnya dengan wajah meringis.

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~
Diubah oleh salim357
Pendekar sinting vs imam titisan jagat tirta siap yg menang?

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 4

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

Beberapa orang pengunjung kedai memandang ke arah pemuda sinting itu dengan pandangan heran bercampur geli. Karena meringisnya wajah si pemuda sinting bukan karena perutnya yang sakit, namun karena jari kelingkingnya ditusuk-tusukkan pada lubang telinganya.

Si pemuda sinting yang meringis terbungkuk-bungkuk terus melangkah terseret-seret ke arah timur. Begitu sepasang matanya melirik dan dilihatnya kedai itu tak kelihatan lagi, pemuda ini luruskan kembali tubuhnya dengan menghela napas panjang.

"Sialan benar, punggungku serasa hendak putus saja. Tapi apa hendak dikata. Daripada harus malu di depan orang banyak. Makan tapi tak punya uang.... Ha.... Ha.... Ha..." gumam Sima seraya tertawa cengengesan. Tangannya bergerak merentang ke samping kanan kiri dengan tubuh dipuntir. Terdengar keretekan tulang beberapa kali.

"Hmm.... Untung pemilik kedai itu menunjuk arah sini, jadi aku tak usah mencari jalan berputar untuk mengelabuinya...," desis Sima seraya arahkan pandangannya ke sebelah timur. Samar-samar di sela kerapatan pohon sepasang matanya dapat menangkap julangan sebuah bukit.

"Semoga keterangan pemilik kedai itu benar adanya. Belum ada orang yang pulang kembali dari bukit itu, yang berarti pusaka yang kucari belum tersentuh orang lain...," ujar pemuda sinting yang bukan lain adalah Sima Kelantara alias Pendekar Sinting, murid Pendeta Sinting dari Lembah Dedemit.

"Aku harus segera mencapai puncak bukit itu mumpung hari belum gelap." desisnya seraya mulai berlari menuju arah timur di mana tampak menjulang puncak Bukit Jamurdipa.

Karena Sima berlari dengan mengerahkan ilmu peringan tubuh, bersamaan dengan tenggelamnya sang matahari di ujung langit sebelah barat, pemuda sinting itu telah menginjakkan sepasang kakinya di puncak Bukit Jamurdipa. Sima hanya memerlukan melangkah mengikuti jalan setapak satu kali putaran. Begitu menghentikan langkah, dia sampai pada sebuah tanah datar yang luasnya kira-kira dua puluh lima tombak berkeliling tanpa penghalang apa pun sebagai latar depan yang berhadapan dengan tebing bukit di bawahnya. Sebagai latar belakang, terlihat bentangan langit yang jauh di ufuk sana.

Sejenak Sima tertegun seakan menikmati keindahan alam yang ada di hadapannya. Lalu sepasang matanya menangkap gundukan tanah memanjang yang di sebelah ujung-ujungnya terpancang sebuah batu pipih yang tingginya satu depa dengan lebar satu setengah jengkal. Tiba-tiba sepasang matanya membelalak dengan langkah surut satu tindak kebelakang. Dari mulutnya hampir saja terlontar seruan tertahan. Bukan karena melihat makam dengan batu nisan hitam yang ada di puncak bukit itu, tapi karena matanya melihat beberapa orang yang tergeletak di sekitar makam itu.

Melihat keadaan serta sikapnya orang mudah ditebak,  jika beberapa orang itu telah tewas dan Sima baru saja menyadari ketika saat itu juga hidungnya mencium bau yang membuat perutnya mual dan ingin muntah. Dengan menggerendeng panjang pendek, Sima buru-buru tekap hidungnya. Lalu seraya bergidik. Sepasang kakinya bergerak melangkah ke arah makam yang di sekitarnya bergeletakan beberapa orang yang telah jadi mayat dan menebarkan bau busuk yang amat menyengat. Dibantu pantulan cahaya sinar matahari yang berwarna kuning kemerahan di langit sebelah barat, Sima dengan jelas dapat melihat, bahwa beberapa orang yang tewas itu mengalami luka-luka yang cukup parah. Beberapa senjata pedang, keris dan tombak terlihat berserakan. Tanahnya pun terbongkar di sana sini.

"Rupanya mereka terlibat dalam bentrok...," duga Sima seraya memperhatikan satu persatu mayat yang tergeletak itu. Pemuda sinting itu lantas mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengatasi hawa busuk yang makin menyengat. Sepasang matanya nyalang jelalatan mengawasi sekitar puncak bukit.

"Melihat petunjuk yang diberikan Eyang Pendeta Sinting, aku berada pada tempat yang tidak salah. Ini adalah Makam Keramat yang terletak di puncak Bukit Jamurdipa. Tapi di mana pedang itu berada? Jangan-jangan seseorang telah mendahuluiku. Karena aku yakin, beberapa orang ini tujuannya pasti ingin mendapatkan pedang pusaka itu, Hmm...,"

Sima melangkah berkeliling dengan mata nyalang mengawasi setiap sudut. Karena malam telah menjelang, Sima terpaksa harus membeliakkan matanya. Namun hingga matanya basah dan pedih, dia tak menemukan apa yang dicari. Mungkin karena lelah, Sima lantas duduk menggelosoh dengan mengambil tempat agak jauh dari tergeletaknya beberapa mayat.

"Apa petunjuk itu bukan petunjuk yang menyesatkan? Dan orang-orang ini, dari mana mereka mendapatkan petunjuk? Apa juga dari Ki Raksa? Atau...," Sima tak meneruskan kata hatinya, karena saat itu suasana yang gelap samar-samar agak terang.

Sima segera tengadahkan kepalanya. Di atas langit sana, sang rembulan tampak melintas dari kurungan awan hitam. Hingga untuk beberapa saat lamanya keadaan dl buml sedikit terang.Tiba-tiba Sima teringat akan petunjuk yang diberikan Pendeta Sinting.

"Pedang Perak Sakti. Makam Keramat. Puncak Bukit Jamurdipa. Bulan Sepenggal. Hmm.... Bulan Sepenggal...," gumam Sima mengulangi. Kepalanya terus mendongak memperhatikan bulan. Mendadak kepala pemuda sinting itu bergerak manggut-manggut.

"Bulan sepenggal berarti bulan separo Hmm... Padahal bulan itu masih belum mencapai separo. Mungkin masih sehari atau dua hari lagi. Terpaksa aku harus menunggu. Sambil menunggu lebih baik aku tiduran saja. Besok pagi mencari kelinci untuk mengisi perut. Waktu aku melintas tadi, banyak kelinci di bawah sana...,"

Berpikir sampai di situ, Sima lantas bergerak bangkit. Mencari tempat yang agak rata dan jauh dari mayat, lalu merebahkan diri. Mungkin karena lelah, sebentar kemudian terdengar dengkurnya seakan memecah kesunyian Bukit Jamurdipa.

* * *

Malam telah mulai menjelang. Dua hari sudah Sima berada di puncak Bukit Jamurdipa. Dia telah menyelidik di puncak bukit itu tanpa sejengkal pun tanah yang lolos dari matanya. Namun sejauh ini dia belum menemukan tanda-tanda akan mendapatkan pedang pusaka yang dicari. Hingga mungkin khawatir jika pedang itu telah ditemuikan oleh beberapa mayat yang berada di situ, dengan menekan perasaan bergidik, Sima membalik dan meraba-raba beberapa mayat itu, lalu mengumpulkannya di suatu tempat, hingga tempat di sekitar makam itu telah bersih dari mayat yang berserakan.

"Hm.... Jika malam ini belum juga kutemukan pedang itu, berarti petunjuk itu tidak benar, atau mungkin sudah ada orang lain yang mendahuluiku...," gumam Sima seraya. memandang ke bawah. Yang tampak hanyalah rindang pohon-pohon yang saling merapat di lereng bukit dan samar-samar berubah warna menjadi hijau kehitaman, karena malam telah turun melingkupi bumi.

Sambil menarik napas dalam dan panjang, Sima balikkan tubuh, lalu melangkah kearah makam. Tiga langkah dari gundukan tanah yang ujung-ujungnya terpancang batu nisan hitam itu, pemuda sinting murid Pendeta Sinting ini menghentikan langkahnya. Memandang lekat-lekat pada nisan makam yang tak bertuliskan. Lalu tengadahkan kepala. Sepasang matanya tiba-tiba sedikit membelalak.

Di atas sana, langit tampak cerah. Awan tak secuil pun mengambang. Hingga bulan sepenggal yang mulai memanjat ke atas segera dapat memancarkan cahayanya. Namun bukan hal itu yang membuat mata Sima membelalak dan tubuh berguncang.

Ternyata bulan itu tidak berwarna seperti biasanya, melainkan berwarna merah darah Dan ada seberkas cahaya yang keluar dan langsung menyorot ke makam bernisan batu hitam

Bersamaan dengan itu angin berhembus kencang, makin lama makin keras, dan mengejuarkan suara menderu-deru dahsyat. Sima segera kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi tubuhnya agar tak terhempas. Dan perlahan-lahan pula ia duduk di depan makam dengan kedua tangan merangkap di depan dada. Angin berhernbus makin kencang, beberapa sosok mayat yang dikumpulkan Sima satu persatu terhempas dan melayang turun ke bawah bukit. Tanah di puncak bukit itu pun mulai berhamburan ke udara. Sima menambah tenaga dalamnya karena tubuhnya mulai bergoyang-goyang tersapu hembusan angin.

"Sialan..., Angin apa ini?" bisik Sima dalam hati seraya pejamkan sepasang matanya. Pemuda itu lipat gandakan tenaga dalamnya, karena hembusan angin makin kencang, namun hembusan angin itu ternyata sukar untuk ditaklukkan meski murid Pendeta Sinting telah kerahkan segenap tenaga dalamnya, hingga tak lama kemudian tubuhnya mulai bergeser, sesaat kemudian terseret ke samping makam dan jatuh bergulingan.

"Sialan,  Angin keparat....," maki Sima seraya bergerak bangkit. Namun lagi-lagi tubuhnya terseret dan kali ini bahkan hampir saja terhempas melayang ke bawah bukit. Untung murid Pendeta Sinting segera hujamkan kedua tangannya ke atas tanah hingga tanah Itu terbongkar dan kedua tangannya menancap amblas ke depan, membuat tubuhnya terhenti.

Dengan kerahkan segenap tenaganya, baru murid Pendeta Sinting dari Lembah Dedemit ini bisa bergerak bangkit. Dan mungkin takut tubuhnya akan kembali terseret, dia mendekat kembali ke arah makam dengan jalan menyeret tubuhnya dengan perut sejajar tanah.

Saat itulah tiba-tiba tanah berhamburan ke udara dengan derasnya. Sima cepat-cepat menutup kedua matanya, namun sebelum kedua kelopak matanya menutup, sepasang matanya masih bisa menangkap berkelebatnya dua benda hitam. Sima tak tahu benda apa itu, namun melihat desingannya yang lewat di sampingnya, murid Pendeta Sinting ini bisa menduga jika benda itu adalah benda keras.

Beberapa saat berlalu. Angin terus berhembus namun makin lama makin berkurang. Dan begitu angin tak lagi berhernbus, Sima segera buka kelopak matanya. Tanah yang berhamburan telah surut. Sementara cahaya bulan terus memancarkan sinar kemerah merahan. Sepasang mata Sima mendadak terpentang lebar. Memperhatikan ke arah makam yang lima tombak di hadapannya. Ternyata gundukan tanah makam itu telah rata. Dua nisan batu hitam telah pula lenyap Dan samar-samar murid Pendeta Sinting ini melihat lubang di bawah bekas gundukan tanah makam

"Benda hitam tadi pasti batu nisan yang ikut terhempas angin...," duga Sima seraya bergerak bangkit dan langsung meloncat ke arah makam yang kini telah terbongkar.


Dengan bantuan cahaya rembulan yang memancarkan sinar kemerah-merahan, murid Pendeta Sinting dengan jelas dapat melihat lubang menganga di hadapannya. Sepasang mata pemuda sinting itu mendelik besar dengan mulut menganga. Ternyata lubang bekas gundukan makam itu terbuat dari batu yang membentuk persegi panjang. Tapi yang membuat sepasang mata Sima terpentang tak berkedip, adalah memancarnya sinar kuning berkilau dari sisi samping batu persegi panjang itu. Dan mungkin masih tak percaya dengan pandangan matanya, murid Pendeta Sinting mengusap-usap kedua matanya, lalu dilebarkan dan memandang sekali lagi ke arah cahaya kuning berkilau.

"Tidak bermimpikah aku...?" gumamnya seakan tak percaya. Perlahan-lahan dia melangkah maju dan membungkuk.

“Ternyata petunjuk itu benar adanya. Pedang pusaka itu ada Dan kini ada di hadapanku.. ," desis Sima seraya memperhatikan lebih seksama.

Di salah satu sisi batu persegi panjang itu terlihat cahaya kuning berkilau memancar dari sebuah sarung pedang bergagang warna hijau masuk ke dalam batu.

Dengan tubuh agak gemetar, Sima segera melangkah satu tindak, dan perlahan-lahan pula masuk ke dalam batu persegi panjang. Matanya tak berkedip memperhatikan, sementara kedua tangannya bergetar dan dada berdebar keras. Untuk beberapa saat lamanya murid Pendeta Sinting ini diam tak bergerak seakan masih menindih perasaan tak percaya dan terkesima. Setelah dapat menguasai perasaan yang menggelayut dadanya, pemuda ini gerakkan tangannya hendak mengambil pedang yang memancarkan sinar kuning berkilau itu.

"Semoga Tuhan memberiku kekuatan...," bisiknya dalam hati. Kedua tangannya terus bergerak.

Namun sejengkal lagi kedua tangannya menyentuh pedang, tiba-tiba terdengar desiran angin dahsyat yang menusuk gendang telinga. Bersamaan dengan itu, batu persegi di mana Sima berada berguncang keras. Dan belum sempat murid Pendeta Sinting mengetahui apa yang terjadi, tubuhnya telah terhumbalang dan jatuh bergedebukan di dalam batu persegi panjang Dengan kuduk merinding dan tubuh terguncang, Sima segera takupkan kedua tangannya untuk kerahkan tenaga dalam.

Bersamaan dengan itu, guncangan di batu persegi panjang perlahan-lahan mereda. Murid Pendeta Sinting segera bergerak bangkit duduk. Kepalanya lantas tengadah. Bulan sepenggal tepat berada di atasnya. Dan sorotan cahayanya memancar ke lubang batu persegi panjang. Sima kembali luruskan kepalanya dan memperhatikan pedang yang kini ada di hadapannya. Dengan tangan masih gemetar dan dada berdebar, Sima segera geser duduknya perlahan-lahan ke depan, mendekat ke arah pedang. Kedua tangannya kembali bergerak hendak mengambil pedang berwarna kekuningan itu. Mungkin takut akan terjadi sesuatu yang tidak diduganya, pemuda ini kerahkan segenap tenaganya. Ternyata apa yang diduga tidak terjadi. Tidak ada desiran angin menggemuruh yang menusuk gendang telinga, juga tidak ada guncangan.

Hingga meski dengan tubuh dan tangan gemetar, Sima teruskan niatnya untuk mengambil pedang. Kedua tangannya telah menyentuh pedang. Sejenak murid Pendeta Sinting ini menghela napas dalam-dalam. Sepasang matanya mengerjap, lantas dibuka kembali. Kedua tangannya pun menarik pedang yang terletak menjorok ke dalam batu. Namun pemuda ini melengak terkesiap. Kedua tangannya tak mampu menarik keluar pedang dari tempatnya. Sima lipat gandakan tenaga dalam dan disalurkan pada kedua tangannya, hingga tangannya berwarna kuning. Namun kedua tangannya masih juga tidak mampu membuat pedang itu lepas dari tempatnya.

Murid Pendeta Sinting ini tak putus asa, dia terus berupaya kerahkan tenaga dalam dan mencoba menarik pedang dari tempatnya. Tubuh pemuda itu telah basah kuyup oleh keringat, namun usahanya belum juga menampakkan hasil. Malah goyang pun tidak. Padahal Sima telah kerahkan segala kemampuannya yang telah diwariskan Pendeta Sinting.

"Hmm...,Kalau pedang ini tak dapat ditarik, terpaksa aku akan menghantam tempat sekitar pedang ini Hanya itu satu-satunya jalan." pikir Sima seraya tarik kedua tangannya. Kedua tangannya lantas memukul-mukul tempat di sekitar pedang. Kepala pemuda ini mengangguk-angguk. Kedua tangannya lantas diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Serta-merta kedua tangannya dihantamkan ke batu yang ada di sekitar pedang.

Buukkk !!!

Dukkk !!!

"Heyaaaaa"

Murid Pendeta Sinting ini berteriak keras. Kedua tangannya yang menghantam batu mental ke belakang. Pemuda ini segera memeriksa dengan paras meringis kesakitan. Kedua tangannya berubah merah dan sedikit menggembung

"Edan...," maki Sima dalam hati seraya memperhatikan batu yang baru saja dihantam. Jangankan retak, membekas pun tidak Padahal hantaman Sima tadi biasanya mampu menghancurkan batu sebesar satu rangkulan tangan manusia.

Merasa masih penasaran, Sima geser duduknya kebelakang. Kedua tangannya diangkat di depan dada. Lalu dikembangkan dan perlahan-lahan
didorong ke arah batu di sekitar pedang.

Wuuuttt !!!

Wuuuttt !!!

Dari kedua tangan Sima melesat sinar kuning keperakan.

Duuukkk !!!

Duuukkk !!!

Pukulan 'Lembur Kuning' yang dilepaskan Sima menghantam batu di sekitar pedang dan keluarkan suara keras dua kali berturut-turut. Namun murid Pendeta Sinting tersirap darahnya. Mulutnya keluarkan seruan tertahan. Karena pukulannya membalik kearahnya. Hingga dengan menahan rasa tak percaya, pemuda ini segera membuat gerakan melesatkan tubuhnya ke udara. Namun angin yang membalik lebih cepat datangnya, hingga tanpa ampun lagi tubuhnya terjengkang ke belakang dan menghantam batu di belakangnya. Untuk beberapa lama dia tersandar di batu dengan mata berkunang-kunang. Tubuhnya bagian belakang serasa remuk. Dadanya pun berdenyut sakit. Perlahan-lahan dia geser tubuhnya agar bisa sedikit tegak bersandar. Saat itulah terdengar angin berdesir dari atas.

Sima cepat mendongak. Bulu kuduk pemuda itu makin merinding dan keringat makin membasahi sekujur tubuhnya, karena di atas sana Sima melihat asap putih mengurung lubang di mana dia berada. Dan sepasang mata Sima terpentang besar tatkala samar-samar dari sisi bagian depan di atas sana, asap putih itu menipis, lalu muncul sesosok tubuh. Mungkin karena terkejut, Sima serentak menggeser tubuhnya ke belakang. Namun karena di belakangnya adalah sisi batu yang persegi panjang, maka membuat pemuda ini terantuk sisi batu di belakangnya. Belum hilang rasa terkejut murid Pendeta Sinting, sosok di atas Sima telah mengeluarkan suara, membuat Sima tersentak.

"Siapa namamu, anak muda??" Karena masih kaget, Sima tidak segera menjawab pertanyaan orang. Sebaliknya sepasang matanya menatap lurus pada sosok yang duduk di atas sana.

Dia adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Jenggotnya panjang menjulai sampai dada. Meski paras wajahnya samar-samar, namun Sima masih bisa menangkap jika wajah itu cerah berseri. Kakek ini mengenakan pakaian jubah putih dengan kepala memakai sorban juga berwarna putih. Anehnya, meski tampak duduk bersila. Namun kakinya tidak menyentuh tanah kakek itu duduk mengambang di udara dengan kedua tangan merangkap sejajar dada Sima memperhatikan lebih seksama.

Mulutnya bergerak komat-kamit namun tak ada suara yang terdengar. Sementara sepasang matanya tak berkedip. Keterkejutannya perlahan-lahan berubah menjadi rasa heran, karena Sima
sepertinya tidak asing lagi dengan wajah orang tua diatasnya itu. Namun Sima tidak mengetahui di mana dia bertemu. Sima coba mengingat-ingat. Tiba-tiba matanya beralih pada telapak tangan kanannya.

"Hm..., Wajah orang tua di atas itu mirip dengan lukisan yang ada di telapak tangan kananku. Hampir tak kupercaya...," gumam Sima tak mengerti.

"Anak muda kau belum jawab pertanyaanku?" orang tua bersorban kembali keluarkan suara.
Dengan mulut bergetar dan suara tersendat, Sima menjawab.

"Namaku Sima Kelantara, Eyang." Sebenarnya Sima ingin menanyakan siapa sebenarnya orang tua yang paras wajahnya mirip dengan lukisan yang ada di telapak tangan kanannyaa. Namun sebelum ucapannya terdengar, kakek tua itu telah kembali keluarkan suara.
Diubah oleh salim357
Quote:


Hi hi hi... Ha ha ha...,"
Post ini telah dihapus oleh Kaskus Support 15

Pendekar Sinting | Pendeta Sinting | Part 5

PENDEKAR SINTING ~Pendeta Sinting~

"Sima, apa yang kau lihat di telapak tangan kananmu?" Sejenak Sima tak memberi jawaban. Dia memandang silih berganti pada telapak tangan kanannya lalu pada kakek tua yang duduk bersila di atas lubang.

"Lukisan di telapak tanganku mirip sekali dengan wajahmu...," gumam Sima pada akhirnya. Kemudian kakek tua itu tersenyum. Lalu mengangguk-angguk.

"Dengar baik-baik Sima. Beratus-ratus tahun aku menunggu seseorang yang memiliki tanda seperti yang kau punyai. Dan dengan kedatanganmu, berarti masa penantianku malam ini akan segera berakhir. Kaulah manusia yang telah ditentukan untuk memiliki pedang itu." Kakek tua itu menghentikan ucapannya sejenak. Lalu melanjutkan perkataannya.

"Peganglah gagang pedang itu dengan telapak tangan kananmu. Jangan bernapas tatkala menyentuhnya...," Mungkin karena masih tertegun, Sima masih diam. Meski kakek tua itu telah memberi perintah.

"Sima. Waktu ku tidak banyak. Lekas lakukan apa yang ku katakan...," ujar kakek tua itu dengan nada tegas.

Seakan baru tersadar, Sima buru-buru menggeser tubuhnya ke dekat pedang. Tangan kirinya bergerak dan langsung menempel pada gagang pedang, sementara napasnya ditahan.

Sima tersedak. Begitu tangan kirinya menyentuh gagang pedang, terasa ada hawa dingin yang masuk melalui telapak tangannya. Anehnya bersamaan dengan itu rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat benturan dengan batu persegi itu seketika lenyap. Pandangannya makin tajam. Sementara tenaga dalamnya seakan berlipat ganda Keterkejutan Sima tidak hanya sampai di situ. Begitu telapak tangan kanannya menyentuh pedang, pedang itu bergerak-gerak Masih dengan menahan napas, Sima segera mencabut pedang dari tempatnya. Kali ini dengan mudah pedang itu dapat ditarik dari tempatnya.

Dengan tubuh bergetar dan dada berdebar, Sima tarik tangan kirinya yang telah menggenggam gagang pedang. Begitu pedang lepas dari tempatnya, seberkas sinar kuning berkilau memancar ke udara, hingga saat itu juga suasana di tempat itu berubah menjadi merah kekuningan. Pedang di tangannya didekatkan. Perlahan-lahan pedang Itu ditarik dari sarungnya. Sepasang matanya memperhatikan dengan seksama. Ternyata pedang itu berwarna kuning keperakkan.

"Sima. Yang berada di tanganmu itu adalah senjata mustika yang sulit dicari lawan tandingnya. Sebuah pedang bernama 'Pedang Perak Sakti'. Senjata itu tidak dapat digunakan oleh sembarang orang, karena untuk mempergunakannya diperlukan tenaga dalam yang kuat. Tanpa disertai tenaga dalam, senjata itu hanya akan seperti pedang biasa...," Kakek tua itu menghentikan sejenak penuturannya. Sepasang matanya memandang lekat-lekat pada murid Pendeta Sinting yang mendengarkan penuturannya dengan seksama.

"Sima, Sebagai salah seorang pewaris yang ditentukan memiliki 'Pedang Perak Sakti', kau harus mengerti satu hal. Yakni pedang itu diciptakan dengan satu tujuan, yaitu untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kejahatan 'Pedang Perak Sakti' harus kau jaga dan kau rawat baik-baik layaknya kau menjaga dan merawat dirimu. Dan jangan coba-coba mempergunakannya di jalan yang tidak semestinya, karena kau akan menerima akibat yang mengenaskan...,"

"Eyang...," Sima tidak meneruskan ucapannya, karena saat itu dilihatnya orang tua itu melintangkan telunjuk tangannya pada mulutnya, memberi Isyarat agar tak meneruskan kata-katanya.

"Sima. Seperti kata-kataku tadi, waktu ku tidak banyak. Sebelum aku pergi aku akan menjelaskan padamu dahulu apa yang ada di tubuh 'Pedang Perak Sakti' itu. 'Pedang Perak Sakti' dibuat lurus dengan pangkal dan ujung sama besar memberi isyarat bahwa kebenaran harus kau tegakkan semenjak kau lahir sampai kau menutup mata tanpa sedikit pun mengendor atau mengecil. Guratan pedang mustika itu pun menunjukkan bahwa menegakkan kebenaran itu sebenarnya tugas yang amat mulia yang datang dari Tuhan Yang Maha Esa. Itulah yang diisyaratkan dengan guratan-guratan dibilahnya . Namun ketahuilah, segala sesuatu pasti ada rintangannya. Apalagi jika sesuatu itu bernama kebenaran. Ketahuilah olehmu, ada tiga hal yang jika kau tidak berhati-hati hal tersebut akan mendatangkan bencana besar dalam hidupmu. Yang pertama adalah harta. Kedua tahta dan ketiga wanita. Tiga hal tersebut adalah pangkal bencana yang bisa membenamkan kebenaran jika dipergunakan secara salah Itulah yang diisyaratkan dengan bentuk 'Pedang Perak Sakti' itu. Sementara yang terakhir memberi isyarat pada diri manusia. Maksudnya, manusia akan terpisah dengan Tuhannya jika manusia itu membenamkan dirinya dalam-dalam pada tiga hal tersebut di atas. Jika kau Ingin angka satu bersanding dengan angka satu lainnya, yang berarti kau ingin selalu dekat dengan Tuhan, hindarilah tiga hal itu. Sedangkan inti dari semuanya itu adalah setiap kebenaran pasti akan mendapat tantangan. Dan tantangan itu bisa diredam jika manusia itu selalu mendekatkan diri pada Tuhannya. Jadi pedang itu hanyalah alat, sementara akar dari semuanya adalah tergantung manusia yang menggunakan pedang itu. Harapanku, sebagai manusia yang ditentukan memegang alat, kau harus dapat menggunakannya sebagaimana mestinya...," Sima mendengarkan penuturan orang tua dengan seksama. Memasukkannya dalam otak dan mengingatnya baik-baik.

"Sima. Kuharap kau melakukan apa yang telah kukatakan. Sekarang aku harus pergi...,"

"Eyang...," ujar Sima dengan suara bergetar parau. Namun kata-katanya terputus, karena sosok orang tua itu samar-samar telah lenyap dari pandangannya. Asap yang melingkupi bagian atas lubang di mana Sima berada pun perlahan-lahan menipis sebelum akhirnya sirna.

"Eyang.... Segala petunjukmu akan kulaksanakan...," desis Sima seraya menjura dalam-dalam. Selagi murid Pendeta Sinting ini menjura, tiba-tiba telinganya mendengar deru angin, disusul kemudian dengan bergetarnya lubang di mana ia berada. Deru dan getaran tempat itu makin lama makin keras. Merasa ada gelagat tidak baik, pemuda sinting murid dari Lembah Dedemit cepat memasukkan 'Pedang Perak Sakti' sarungnya lalu disimpan ke dalam balik pakaiannya. Baru saja pedang Itu tersimpan, Sima terkesiap lalu memandang lekat-lekat pada telapak tangan kanannya.

Di telapak tangan itu kini selain samar-samar terlihat gambar orang tua bersorban. Namun keterkejutan Joko tidak berlangsung lama, karena pada saat bersamaan, batu persegi panjang di mana dia berada makin bergetar, dan dari atas tanah bukit berhamburan masuk ke dalam lubang. Sebelum tubuhnya terbenam dalam lubang yang perlahan-lahan ditimbuni tanah, Sima alias 'Pendekar Sinting' segera lesatkan dirinya ke atas. Murid Pendeta Sinting ini tersentak. Angin berhembus demikian kencang, hingga tubuhnya hampir saja terseret jika dia tak segera kerahkan tenaga dalam untuk mengatasi tubuhnya.

Angin terus berhembus menghamburkan tanah dipuncak bukit. Dan perlahan-lahan lubang bekas makam tadi tertimbun tanah. Begitu angin berhenti berhembus, tanah berlubang bekas makam di mana tadi tersimpan 'Pedang Perak Sakti' telah rata dengan tanah layaknya seperti tidak pernah ada makam.

"Luar biasa...," desis Sima seraya tak berkedip memandang bekas makam. Selagi murid Pendeta Sinting mengagumi apa yang baru saja terjadi, terdengar suara.

"Pendekar Sinting. Sejak malam Ini, kau mempunyai tugas. Menegakkan kebenaran dan menghancurkan keangkaramurkaan Tujuan hidupmu adalah mendamaikan umat manusia dan menumpas manusia yang membuat malapetaka di bumi." Dengan menindih rasa terkejut, murid dari Lembah Dedemit ini arahkan pandangannya berkeliling. Tapi matanya tak dapat menangkap adanya seseorang

"Hmm, Pasti Eyang tadi. Suaranya masih kuingat betul...," gumam Sima dengan tengadahkan kepala memandang bulan.

"Eyang..., Segala ucapanmu akan kuingat dan kulakukan" teriak Sima memecah kesunyian Makam Keramat di puncak Bukit Jamurdipa.

Namun kesunyian tidak lagi melingkupi, karena bersamaan dengan lenyapnya teriakan Sima, dari arah bawah terdengar derap langkah kaki-kaki kuda menuju keatas bukit.

Puncak Bukit Jamurdipa yang sunyi, membuat suara derap langkah kuda makin jelas hingga Pendekar Sinting terkesiap. Sepasang matanya cepat berputar liar memperhatikan kebawah. Kepalanya bergerak kesamping kanan dan kiri.

Pendengarannya ditajamkan. Namun Pendekar Sinting jadi makin tersekat. Karena mendadak saja suara derap langkah-langkah kaki kuda lenyap seolah direnggut setan.

"Aneh. Baru saja langkah-langkah kuda itu terdengar. Tapi....,Apakah hanya telingaku yang tertipu?" pemuda murid Pendeta Sinting itu tak teruskan kata hatinya.

Bulu kuduknya meremang. Dan belum Sima rasa gelisahnya, tiba-tiba dua bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu dua orang telah tegak dihadapannya. Sima surutkan langkah satu tindak. Bola matanya membesar memperhatikan dua sosok dihadapannya. Di sebelah kanan adalah seorang laki-laki berusia lanjut. Mukanya cekung hitam dengan sepasang mata sipit. Rambutnya panjang menjulai sampai punggung dan sebagian menutupi wajahnya. Mulutnya lebar. Mengenakan pakaian panjang berupa jubah warna hitam. Sedangkan orang disebelah kiri adalah laki-laki setengah baya. Parasnya kasar dengan mata melotot besar.

Rambutnya dipotong pendek dan tampak kaku seperti ijuk. Laki-laki Ini mengenakan baju warna gelap. Sejenak kedua laki-laki ini saling pandang satu sama lain. Lalu serentak arahkan pandangannya pada Sima. Namun keduanya masih tak buka mulut. Sebaliknya laki-laki yang mengenakan jubah hitam sorongkan tubuhnya ke kiri. Lalu berbisik.

"Ki Upala. Kau kenal pemuda itu?" Laki-laki yang mengenakan baju biru gelap dan di panggil dengan Ki Upala menyeringai. Lalu dengan mengawasi Sima dari atas hingga bawah, kepalanya menggeleng.

"Ki Subrata. Kita tak perlu tahu siapa adanya pemuda itu. Jikalau dia ditempat ini, pasti tujuannya sama dengan kita. Dia harus segera disingkirkan...," Laki-laki berusia lanjut yang dipanggil dengan Ki Subrata tertawa pendek.

Tiba-tiba sepasang matanya yang sipit membuka lebar. Mulutnya makin cepat berkomat-kamit. Tubuhnya sedikit bergetar. Wajahnya berubah seketika. Tanpa sadar dari mulutnya keluar gumaman pelan.

"Tak dapat kupercaya...." Ki Upala berpaling. Melihat perubahan pada wajah Ki Subrata, dia kerutkan dahi.

"Ada apa? Apa yang tak kau percaya?" Entah karena masih tak percaya dengan apa yang dilihat atau karena tak mendengar pertanyaan, Ki Subrata tak segera menjawab. Sebaliknya sepasang matanya memandang lurus ke depan, lalu menebar ke sekeliling.

"Puncak Bukit Jamurdipa Ini masih sama seperti satu tahun silam. Dan aku tidak buta. Aku melihat makam itu. Tapi kemana sekarang makam itu?"

"Ki Upala, ada yang tak beres di sini...," bisik Ki Subrata dengan suara serak.

"Sialan Lekas katakan apa sebenarnya yang terjadi." hardik Ki Upala sedikit geram.
Karena Ki Subrata tidak segera memberitahukan apa yang ada dalam benaknya.

"Makam Itu tidak ada Padahal kita ada ditempat yang tidak salah" kata Ki Subrata pada akhirnya meski dengan mendengus keras karena dirinya dlhardik demikian rupa.

Mendengar ucapan Ki Subrata, sepasang mata Ki Upala mendelik angker. Lalu menebar menyapu ke sekitar puncak bukit. Meski dia belum pernah ke puncak Bukit Jamurdipa, namun mendengar cerita yang berhasil diserapnya, dipuncak Bukit Jamurdipa memang terdapat sebuah makam yang disebut orang Makam Keramat.

"Jangan-jangan kita terlambat" desis Ki Upala begitu matanya tidak melihat sebuah
makam sepertl yang pernah didengarnya.

"Bukan hanya terlambat, tapi seseorang telah mendahului kita dan mendapatkan pedang pusaka itu. Lalu meratakan makam untuk mengelabui orang...," sahut Ki Subrata seraya memperhatikan lagi pada murid Pendeta Sinting.

Untuk kali kedua, dahi laki-laki berwajah cekung hitam Ini berkerut. Dalam hati diam-diam dia berkata.

"Hmm...,Tak ada angin, tak ada hujan. Tapi pakaian pemuda Ini tampak bercak-bercak tanah. Kulitnya pun kotor. Mungkin saja...,"

Niat pertama yang tak ingin mengetahui siapa adanya si pemuda sirna, berubah menjadi curiga. Seraya menyeringai dia membentak garang.

"Hei..., Anak muda siapa kau?" tanya Ki Subrata.

"Sebutkan juga gelarmu." sambung Ki Upala yang ikut curiga.

Di depan sana, Sima alias 'Pendekar Sinting' murid dari 'Pendeta Sinting' sunggingkan senyum meski dalam hati sedikit kecut. Karena baru pertama kali ini berhadapan dengan orang yang lagaknya sangat tidak bersahabat. Dan diam-diam pula Sima dapat menduga apa tujuan dari dua orang dihadapannya.

"Mereka pasti menginginkan 'Pedang Perak Sakti'...," Berpikir sampai di situ, Sima meraba pakaiannya di mana tersimpan 'Pedang Perak Sakti'.

"Namaku Sima Kelantara. Siapakah kalian Tuan Pendekar?" Ki Subrata keluarkan gerengan keras.

Sementara Ki Upala mendengus. Kedua orang itu saling pandang. Tiba-tiba Ki Subrata sentakkan kepalanya tengadah memandangi bulan yang makin tersuruk ke barat. Seraya usap-usap dadanya dia berseru.

"Ki Subrata, aku curiga dengan pemuda itu. Kita telah berjanji akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi. Sebelum kita korek mulutnya ada baiknya kau katakan siapa adanya kita." Ki Upala lalu berteriak keras.

"Buka telingamu lebar-lebar anak muda. Aku dikenal dengan julukan 'Tapak Setan'. Sobatku ini bergelar 'Tapak Iblis'" sejenak Ki Upala alias 'Tapak Setan' hentikan ucapannya, lalu menyambung.

"Malam sudah hampir habis. Aku tak punya
waktu banyak. Jawab pertanyaanku atau kau pulang tanpa kepala...," Meski mulai agak geram, Sima tersenyum lebar.

Dia memang belum pernah dengar tentang siapa manusia yang bergelar 'Tapak Setan' dan 'Tapak Iblis'. Namun dari tampang dan cara mereka bicara, murid Pendeta Sinting itu telah dapat mengira-ngira siapa adanya dua orang itu.

"Kita rasanya belum pernah kenal. Tapi tak apalah. Lekas katakan apa yang ingin kalian
tanyakan. Tapi jangan memaksaku mengatakan apa yang tidak kuketahui...," Pelipis kanan kiri Ki Upala bergerak-gerak. Rahangnya terangkat dengan mata makin melotot.

“Apa yang kau kerjakan di tempat inl?"

"Hem.... Aku tersesat. Apa kalian juga tersesat seperti diriku?" Sima balik ajukan tanya. Sementara sepasang matanya melirik pada Ki Subrata yang melangkah mengitari bukit. Dari mulut laki-laki bergelar 'Tapak Iblis' Ini tak henti-hentinya terdengar umpatan dan seruan tak percaya seraya geleng-gelengkan kepala. Ki Upala tidak segera menjawab pertanyaan Sima. Sebaliknya laki-laki setengah baya ini mengawasi gerak-gerik Ki Subrata dengan kening mengernyit.

"Bagaimana?" tanya Ki Upala begitu Ki Subrata telah berada di sampingnya. Ki Subrata gelengkan kepalanya. Mulutnya yang komat-kamit terhenti."

"Hampir tak dapat kupercaya.Makam itu benar-benar musnah. Bekasnya pun tak terlihat. Orang yang memusnahkan makam itu betul-betul berpengalaman. Tapi tak ada salahnya kita geledah pemuda itu. Siapa tahu dia yang melakukan semua ini. Lihat pakaian dan tubuhnya kotor oleh tanah...," Mendengar ucapan Ki Subrata, Ki Upala manggut-manggut. Di depan sana, Sima berpaling sembunyikan perubahan air mukanya.
Diubah oleh salim357
udah pindah kesini rupanyaemoticon-Hammer2
Diubah oleh kuyza.os
Campuran antara Wiro Sableng dan Bocah Tua nakal ya kakak emoticon-Peace emoticon-Peace Lucu juga kakakemoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Ngakak emoticon-Ngakak
Quote:


Begitulah Tuan Pendekar Kuyza. Pindah Bukit.
emoticon-Hammer2
Quote:


Hi hi hi... ha ha ha... Tuan Pendekar Okarin.
emoticon-Imlek
Quote:


Update lgi puh emoticon-Big Grin
Ane bantu emoticon-Rate 5 Star + emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Quote:


Tunggu yah, Tuan Pendekar Kuyza masih busy. Insyaallah cepat udpate...,
emoticon-I Love Kaskus
Diubah oleh salim357
Lanjut kan kisanak
Halaman 1 dari 9


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di