alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU
4.4 stars - based on 5 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a7c3edfe05227ed0e8b4567/anaku-titisan-siluman-harimau

ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU

ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU

Di adaptasi dari kisah nyata.

Sore itu disaat aku sedang menyapu halaman, tiba-tiba aku dikagetkan oleh seseorang yang memberi salam kepadaku.

"Assalamualaikum."

"Waalaikum salam." balasku.

Ternyata beliau adalah Pak Kades (Kepala Desa).

"Neng, ibu sama bapak ada di rumah?" tanya Pak Kades.

"Ada pak, silahkan bapak masuk saja." ucapku kepadanya.

"Kenapa Pak kades datang kesini? Mungkinkah ibu sama bapakku punya hutang lagi kepada beliau?" gumamku dalam hati.

Aku pun seolah-olah penasaran dengan maksud Pak kades datang ke rumahku saat itu, lalu aku pun mengendap-endap mendekati bilik rumah untuk menguping pembicaraan bapak, ibu dan juga Pak kades.

"Astagfirullah, ternyata maksud Pak kades kesini untuk melamarku." ucapku dalam hati.

Terdengar pembicaraan Pak kades dan bapak.

"Pokonya jika bapak menyetujui lamaran saya, saya akan memberikan bapak sawah, kebun dan ladang usaha buat bapak, bahkan hutang-hutang bapak kepada saya pun saya anggap lunas!" terangPak kades kepada bapak.

"Saya pasti akan segera mengabari bapak jika saya sudah membicarakannya terhadap anak saya."ucap bapakku."

"Oke saya mengerti, saya harap saya akan segera mendengar kabar baik dari bapak." ucap Pak kades yang sepertinya akan segera pulang.

Kemudian aku pun kembali berlari ke halaman untuk kembali menyapu dan beraktivitas seolah-olah tak terjadi apa-apa. Kulihat Pak kades keluar dari rumahku dan berpamitan.

"Mangga neng." ucap Pak Kades

"Muhun mangga" sahutku dengan nada ketus.

Malam hari pun tiba, aku hanya berdiam dikamar memikirkan ucapan Pak kades dan bapak tadi.

"Neng, kesini sebentar ada yang mau bapak omongin."ucap bapak sedikit berteriak membuyarkan lamunanku.

"Iya pak sebentar." balasku ringan.

Akupun menuju ruang tengah dan melihat bapak serta ibuku sedang menantikan kehadiranku.

"Neng, ada hal penting yang ingin bapak sampaikan kepadamu." ucap bapak dengan nada serius.

Aku pun sudah paham dengan keadaan ini, aku sudah mengetahui jika bapak akan membicarakan tentang lamaran Pak kades tadi, namun aku pura-pura belum mengetahui itu semua.

"Tadi Pak kades datang kesini. Dan ternyata beliau menyukaimu dan beliau menginginkanmu untuk menjadi istrinya" ucap bapak.

"Apaa? Apa bapak rela jika aku dikimpoii tua bangka itu? Ingat pak, Pak kades itu sudah mempunyai istri 2, masa iya aku mau dijadikan yang ke 3. Aku ini pantasnya jadi anaknya pak, bukan istrinya". ucapku tak kuasa menahan air mata.

"Neng, Pak kades itu orang yang sangat terpandang di kampung kita, tak ada satu orang pun yang berani melawan keinginannya, justru kita harus bersyukur nak, Pak kades akan mengangkat derajat kita. Lihat bapak nak, Bapakmu sudah tua, sampai kapan bapakmu akan meladang di sawah orang? Lihat hutang-hutang kita juga nak, bahkan lihat adik-adikmu. Tak ada salahnya kamu berkorban demi keluarga kita nak" ucap ibu ikut bicara.

"Pak kades akan memberikan tanah, sawah, dan kebun yang akan diolah oleh bapak, bahkan Pak kades pun akan membebaskan hutang-hutang kita yang segunung itu." ucap bapak.

"Kamu harus mau ya neng, jika kamu tidak melihat ibu dan bapak sebagai alasannya, lihatlah keempat adik-adikmu yang harus meneruskan sekolahnya. Kamu tidak inginkan adik-adikmu itu putus sekolah?" ucap ibu.

Mendengar perkataan ibu yang seperti itu dadaku merasa sesak aku pun seolah-olah membenarkan kata kata ibu. Aku ingin adik-adikku sukses, aku ingin adik-adikku meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, jangan seperti aku yang hanya sekolah sampai di bangku SMP. Lantas terbuka lah pintu hatiku untuk bersedia aku korbankan.

"Baiklah pak, bu, aku bersedia menikah dengan Pak kades." ucapku tanpa pertimbangan lagi.

"Terima kasih nak, kamu mau berkorban demi keluarga kita." ucap bapakku.

Akupun segera berlalu meninggalkan mereka dan menuju ke kamarku, di dalam kamar aku menangis. Membayangkan sebentar lagi hal yang tak aku inginkan akan segera menimpaku.

Ya, Aku akan segera menikah dengan orang yang tak aku cintai dan usianya pun jauh diatasku, bahkan aku pun tak menyangka jika pernikahanku akan segera digelar sedangkan dari SMP pun aku belum menerima surat kelulusan. Ya seharusnya aku ini melanjutkan sekolah ke SMA namun orang tua ku tak mempunyai biaya. Aku sungguh masih tak percaya jika di usiaku yang masih 15 tahun aku akan menjadi istri ketiga dari Pak kades.

Ssaat itu pernikahan pun di gelar dengan sangat meriah, acara resepsi 7 hari 7 malam pun terlaksanakan, dan tibalah saatnya malam ini adalah malam pertamaku dengan Pak kades. Mau tak mau aku harus melaksanakan kewajibanku sebagai istri untuk melayani suamiku. Dengan hati penuh ketakutan aku pun berdiam dikamar menunggu suamiku.

Kreeetttt !!!

Suara pintu terbuka, semakin berdegup kencang jantungku. Karena suamiku telah memasuki kamar. Jantungku semakin berdegup kencang kala suamiku duduk di kasur disampingku.

"Eneng, jangan takut ya Akang tidak akan menyakiti neneng kok" ucap suamiku yang membelai tubuhku dan kemudian membuka bajuku. Aku pun hanya pasrah saat itu karena aku sadar ini merupakan kewajibanku.Berulang kali Pak kades mencumbu dan menjamah seluruh tubuhku. Namun disaat Pak kades akan merenggut mahkota suciku.

Kejantanannya mendadak tidak bisa ereksi, bahkan sampai Pak kades mencoba berulang kali pun, tetap saja dia tidak bisa ereksi untuk memenuhi kewajibannya. Lantas Pak kades pun segera memakai pakaiannya kembali dan bergegas keluar dari kamar ku.

Saat itu aku pun bertanya-tanya apa yang terjadi dan tiba-tiba aku pun merasa kasihan kepada suamiku itu karena tidak bisa melaksanakan kewajibannya. Esoknya aku ditanya oleh istri pertama suamiku.

"Neng, gimana semalam? josss kan Pak kades?" aku pun hanya tersenyum sipu mendengar pertanyaan istri pertama suamiku itu.
Diubah oleh salim357
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 3
Horror baru semoga ga ada kentang nya..Buat TS semangatt
sampe tamat ga neh ntar..?
ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU
Lantas aku pun segera mengalihkan pembicaraan

"Teteh aku nyuci dulu kebelakang ya" ucapku, segera meninggalkan istri pertama suamiku. Aku kira kedua maduku itu akan membenciku karena aku telah menjadi istri Pak kades yang ketiga, namun ternyata kedua maduku itu sangatlah baik mereka menganggapku sebagai adik mereka, dan kedua maduku pun menjelaskan alasan mengapa Pak kades menikahiku.

"Neneng,... sini sebentar teteh mau bicara." ucap istri pertama suamiku.

"Iya teteh." ucapku membalas.

"Hari ini kita belanja yuk? Teteh pengen baju baru." ucap istri pertama suamiku.

"Iya teh aku mah gimana teteh aja." ucapku.

"Tapi sebelum kita pergi ada yang mau teteh bicarakan sama kamu, Apa kamu tahu alasan kang kades menikahimu? ucap maduku lirih.

"Enggak teh aku sama sekali tidak tau? " ucapku polos.

"Kang kades menikahimu karena dia menginginkan anak darimu neneng. Karena kami berdua tidak bisa memberikan keturunan kepada kang kades. "ucap istri kedua suamiku dengan air mata di pipinya.

"lantas mengapa kang kades memilihku teh? Memilih anak yang umurnya sangat jauh dengan beliau?" tanyaku.

"Karena kang kades yakin, jika kamu adalah wanita baik-baik neneng, dan kang kades juga melihat faktor ekonomi dari keluarga kamu yang sangat kekurangan dari itu kang kades memilih kamu. Kang kades ingin mengangkat derajat kamu dan keluarga kamu." terang maduku yang pertama.

Seketika itu pikiranku kepada kang kades suamiku berubah total. Aku yang dulu menganggap kang kades seorang bajingan tukang kimpoi sekarang berubah menjadi simpati karena ternyata anggapanku selama ini salah. Ternyata kang kades jelas-jelas ingin mengangkat derajatku.

Malam ini adalah malam kedua aku sebagai istri kang kades. Seperti biasa malam ini kang kades kembali mencumbuku dengan mesra namun seperti malam kemarin, kang kades untuk yang kesekian kalinya selalu gakal membobol gawang pertahanan mahkota suciku .

Kemudian kang kades pun meninggalkanku seorang diri di kamar.

Esoknya seperti biasa aku kembali ditanyai oleh maduku.

"Neng gimana semalam? Kang kades tambah-tambah jos kan?" tanya istri kedua suamiku di iringi tawa kecilnya.

"Aanuu teh?" belum sempat aku meneruskan kata kata ku, istri kedua suamiku langsung memotong pembicaraanku.

"Eeh iya saking josnya kang kades kan semalam tidur di kamarmu kan, neneng? Tapi tengah malam beliau mengetuk pintu kamar teteh dan minta jatah sama teteh lho. Duh kang kades kayanya belum puas hajar kamu neng. Tapi kayanya kang kades gak tega karena kamunya udah capek barangkali" ucapmaduku itu.

Aku pun seperti biasa hanya tersenyum, Ingin rasanya aku memberitahu semua yang aku alami ini. Tetapi mulutku seolah olah terkunci.

Malam pun kembali tiba, seperti biasa malam ini aku lalui seperti malam-malam selanjutnya. Kang kades lagi lagi tidak bisa melaksanakan kewajibannya untuk merenggut kesucianku. Dan kejadian ini telah berlangsung selama 7 malam.

"Besok kamu harus ikut sama kakang " ucap kang kades sambil mengenakan pakaiannya.

"Kemana kang?" tanyaku.

"Pokonya kamu jangan banyak tanya turuti saja perintah kakang!" ucap kang kades dengan sedikit membentakku.

Kemudian kang kades pun segera keluar dari kamarku menuju ke kamar maduku. Perih hatiku saat itu. Perih ketika kang kades membentakku dan perih juga saat kulihat kang kades menuju kamar maduku. Aku sadar mungkin karena kebutuhan biologis kang kades tak tersalurkan beliau menjadi sedikit membentakku. Tetapi kenapa aku merasa perih disaat kang kades menuju kamar maduku? Mungkinkah aku cemburu? Dan apakah mungkin saat ini aku juga telah mencintai kang kades suamiku?

Esoknya, pagi hari disaat kami berempat berkumpul di meja makan. Aku, kang kades, istri pertama, dan istri kedua menikmati sarapan dengan canda tawa. Aku pun ikut senyum-senyum saat itu walaupun sebenarnya hatiku teriris karena masalah yang membuat aku terus bertanya tanya.

"Akang pamit ke kantor dulu, kalian yang akur di rumah, soal uang kalian tinggal minta ke kakang" ucap kang kades yang kemudian kami menyalami tangan beliau secara bergilir.

"Iya kang, Hati-hati dijalan" ucap istri kedua suamiku.

lalu kang kades pun meninggalkan kami dan segera pergi dengan mobilnya. Setelah kang kades pergi, aku pun kembali menyantap makananku. Namun tiba-tiba istri pertama suamiku berkata.

"Pake susuk apa kamu neng? Hingga kang kades tidak bisa merawanin kamu?" ucap maduku itu dan ternyata sangat sakit sekali aku dengar."

"Apa...? Jadi sebenarnya kang kades belum menyentu kamu? Pantesan tiap keluar dari kamar kamu, kami berdua harus melayani kebutuhan batin kang kades juga. Bener neneng pake susuk?" ucap istri kedua suamiku.

"Astagfirullah teh, Kenapa teteh bicara seperti itu. Aku gak paham maksud teteh, aku gak pake susuk apa-apa teh" ucapku dengan air mata di pipi.

"Lantas jika kamu gak pake susuk, kamu pake apa? Kenapa jika sedang bersama kamu kang kades tidak bisa ereksi? Inget satu hal neneng, kang kades nikahin kamu karena kang kades menginginkan keturunan. Teteh harap kamu bisa ngerti." ucap maduku itu.

"Teteh apa pun yang teteh katakan itu semua tidak benar. Aku tidak memakai susuk apapun, meskipun aku tidak mencintai kang kades. Tetapi aku tidak sejahat itu teh" ucapku sambil terisak dan aku pun segera belari menuju kamarku.

Hari itu aku tidak keluar kamar sama sekali, karena aku merasa sakit hati dituduh seperti itu oleh maduku. Sorenya ketika aku sedang terlelap tidurku dengar pintu kamarku diketuk.

Tok... tok... tok... !!!


"Neneng sayang ini akang, buka pintunya neng?" ternyata yang mengetuk pintu adalah kang kades suamiku.

"Sebentar kang." aku pun lantas membukakan pintu kamarku.

"Cepat sekarang bersiap-siap, kamu harus ikut akang malam ini" ucap kang kades kepadaku.

"Iya kang neng mandi dulu." ucapku.

Setelah aku mempersiapkan diri. Tepatnya setelah makan malam pukul 19.00 aku dan kang kades bersiap untuk segera pergi.

"Akang mau pergi dulu sama neneng, kalian jaga diri baik-baik!" ucap kang kades kepada istri-istrinya yang lain.

"Akang sama neneng mau kemana?" tanya istri pertama suamiku.

"Kamu jangan banyak tanya, yang penting kamu jaga rumah baik-baik ya Sari" ucap suamiku kepada istri pertamanya.

Aku pun segera berangkat dengan kang kades menggunakan motornya, di jalan tak hentinya hatiku bertanya-tanya, sebenarnya aku ini hendak di bawa kemana oleh kang kades. Kurang lebih satu jam perjalanan kami. Akhirnya aku dan kang kades menuju jalan yang sudah agak rusak, sekelilingnyaku lihat hutan dan perjalananku sepertinya ini akan menuju ke gunung yang ada disekitar daerah ini, dan benar saja setelah kami melewati jalanan terjal akhirnya aku dan kang kades pun sampai ditujuan. Kang kades menyuruhku turun dari motor.

Aku sangat takut sekali saat itu karena di sekelilingku hutan belantara, cahaya yang kami dapat pun hanya cahaya dari lampu senter yang dibawa oleh kang kades.

"Kang aku takut, kita mau kemana ini?" tanyaku pada kang kades.

"Ikuti akang dan jangan berbicara satu patah kata pun, kamu mengerti kan neng?" balas, kang kades.

Aku pun hanya mengiyakan perkataan suamiku itu, karena aku takut sekali. Sungguh aku benar benar takut, di saat kami sedang berjalan kaki tak hentinya kulihat sosok mahluk-mahluk aneh selalu membayangiku dan bahkan ada yang kurasa mengikutiku.

Kulihat ada sosok makhluk yang menyerupai manusia namun kepalanya berbentuk harimau, seolah-olah makhluk itu mengawasiku. Aku takut sekali, namun aku tidak berucap apa-apa karena larangan kang kades tadi. Aku takut jika aku berbicara dan mengadukan apa yang kulihat di sepanjang perjalanan akan membuat kang kades marah dan lantas meninggalkanku di gunung ini sendirian.

Setelah kurang lebih setengah jam kami berjalan kaki, kami berhenti di depan gua yang cukup besar.

"Kita sudah sampai neng, sekarang akang akan jelasin semua. Akang ajak neng kesini untuk mengobati neneng ke guru kakang. Guru kakang tinggal di gua ini. Sekarang kamu ikut kakang ke dalam." ucap kang kades.

Aku pun segera mengikuti kang kades ke dalam gua itu. Setelah beberapa menit sampai lah kami di satu ruangan di gua itu, gua yang besar, lembab, dan aku sangat ketakutan sekali. aku melihat samar dari cahaya lampu senter kang kades jika di depanku ada batu besar yang datar, kurang lebih besarnya seperti 2 bangku anak sekolah yang disatukan.

"Buka semua pakaianmu neng" perintah kang kades.

"Tapi kang...? Kenapa neng harus membuka pakaian segala?" ucapku.

"Kamu harus nurut sama kakang, ini semua kakang lakukan untuk kebaikanmu, kebaikan kita". balas, kang kades.

"Tapi neneng gak mau kang. Neneng takut." ucapku sambil menangis..

"Jika kamu takut dan kamu ingin segera kakang ajak pulang, maka kamu harus segera menuruti perintah kakang. Jika tidak jangan salahkan kakang kalau penghuni gua ini akan memakan kamu hidup-hidup neng!" bentak kang kades kepadaku.
Diubah oleh salim357
ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU

Mendengar ucapan kang kades seperti itu aku pun semakin ketakutan, lantas aku pun segera melepas seluruh pakaian ku. Sekarang aku sudah telanjang bulat.Tak ada satu helai benang pun menempel di tubuhku.

"Sekarang kamu tidur di batu itu, tidur dengan telentang dan tutup mata kamu, jangan sekali-kali kamu membuka ikatan di mata kamu, kecuali kakang yang akan membukanya kembali." ucap kang kades menyuruhku tidur di batu besar dan datar yang aku lihat tadi.

Akupun segera merebahkan badanku di batu itu dengan mata tertutup yang telah di ikatkan oleh kang kades.

"Camkan semua perintah kakang ya neng, jika neneng ingin selamat." ucap kang kades.

Aku pun tak menjawab ucapan kang kades karena aku sangat ketakutan sekali. Aku sedang membayangkan apa yang akan terjadi kepadaku malam ini. tak lama ku dengar langkah kaki perlahan menjauh dariku, dan ku rasa mungkinkah itu suara langkah kaki kang kades yang meninggalkanku?

Aku hanya bisa menangis kala itu. Namun sekarang ku dengar lagi langkah kaki yang mulai mendekati ku. Aku mulai merasa agak tenang karena aku yakin jika itu adalah kang kades suamiku. Tiba tiba badanku sekarang ada yang menindih, kurasa dengan perasaanku sosok ini bukanlah seperti sosok kang kades suamiku. Ya meskipun kang kades perawakannya tinggi dan besar, tetapi kali ini aku rasa sosok ini lebih besar dan tinggi dari postur tubuh suamiku dan aku rasa juga jika sekujur tubuh sosok ini dipenuhi dengan bulu.

Perlahan sosok ini mencumbuku, dari atas kepala hingga ujung kaki tak ada yang terlewatkan dia sentuh dan dia jilati. Aku pun merasa terbuai olehnya dan akhirnya aku merasa sakit di alat organ vitalku, karena sekarang aku sadar bahwa sosok inilah yang telah merenggut mahkota suciku, hingga tak kusadari akhirnya aku klimak dan sangat menikmati cumbuan ini. Ya kenikmatan yang tak pernah aku dapatkan dari kang kades suamiku.

Berkali-kali sosok ini telah mengobrak-abrik gawang pertahananku dan akhirnya dia pun mencapai klimaksnya berbarengan dengan ku, Aku mendengar auman seekor harimau, yang membuatku merinding ketakutan. Setelah itu ku rasa sosok ini telah pergi meninggalkanku. Kemudian aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku dan memeluk ku serta langsung membuka pengikat di mataku.

Aku lihat itu kang kades suamiku lantas aku segera memeluknya.

"Kakang neneng takut kang?"ucapku sambil menangis dan aku lihat di batu tadi ada banyak sekali bercak darah, mungkin itu adalah darah perawanku yang telah menandakan jika sekarang aku sudah tak suci lagi.

Kang kades pun segera mencium bibirku lembut.

"Iya kita pulang sekarang ya neng." balas kang kades.


Kang kades pun segera memakaikan pakaianku karena saat itu badanku terasa remuk jangankan untuk berdiri dan berjalan, untuk bangun dari batu itu pun aku dibantu oleh suamiku.

Selesai aku berpakaian, kang kades kemudian menggendongku membawaku keluar dari gua itu. Setelah kami berhasil keluar dari gua lembab itu, Kang kades masih menggendongku dan berjalan beberapa menit menuju ke motornya. Di jalan aku kembali melihat mahluk-mahluk yang sangat aneh sekali. Semua mahluk itu seolah-olah seperti manusia, namun berkepala hewan dan tak terasa kami telah sampai di depan motor. Aku dan kang kades pun segera pergi meninggalkan gunung ini.

Sesampailah kami di rumah pada pukul 03.00 dini hari. Aku yang lelah langsung tertidur lelap di kamarku, begitu pun kang kades, kang kades tertidur di kamarku.

Paginya sekitar pukul 07.00 aku di bangunkan kang kades yang telah rapih dan bersiap mau ke kantor lurah memenuhi kewajibannya sebagai kepala desa.

"Neng bangun, Ini sarapannya, Akang pergi kerja dulu, neneng istirahat aja ya, pasti masih lelah karena perjalanan semalam kan?" ucap kang kades lembut.

Aku pun segera bangun, namun badanku masih terasa sakit semua.

"Kamu tak perlu bangun neng, kamu istirahat saja. Akang pergi dulu ya." ucap kang kades. Aku pun segera menyalami tangan kang kades walaupun masih diposisi tidurku.

Siangnya, kamarku diketuk oleh kedua maduku.

"Neng teh Lilis, sama teh Sari boleh masuk ke kamarmu tidak? ini teteh bikinin neneng kue sama es asem gula jawa biar neneng cepet seger badannya." ku dengar teh Lilis istri suamiku yang pertama yang berbicara.

"Masuk saja teh, kamarnya gak neneng kunci kok." balasku.

Kemudian kedua maduku memasuki kamarku.

"Ini es asemnya di minum dulu neng biar seger dan badan neneng cepet pulih." ucap teh Lilis.

"Iya teteh makasih." ucapku dan langsung meminum es asem pemberian teh Lilis itu.

"Neng teteh berdua, mau minta maaf atas kejadian kemarin ya neng, kami berdua sudah menuduh neneng yang bukan-bukan." ucap teh Sari dengan nada menyesal.

"Gak apa-apa teh, neneng sudah memaafkan kalian kok." ucapku kemudian kami pun berpelukan.

Siang itu pun badanku sudah mulai enakan. Sorenya aku dan kedua maduku jalan-jalan ke pasar untuk membeli baju-baju dan perhiasan serta kebutuhan-kebutuhan kami yang lainnya. Tak terasa waktu pun sudah mulai petang kami segera bergegas pulang dari pasar karena kami tak mau kang kades khawatir.

Sesampainya kami di rumah, selang beberapa saat kemudian kang kades pun sampai di rumah.

"Senangnya punya istri-istri cantik dan kalian pun akur semua" ucap kang kades begitu melihat kami bertiga sedang berkumpul di ruang tengah sambil membereskan barang belanjaan yang tadi.

"Eh kakang sudah pulang? Iya ini tadi kami habis dari pasar kang membeli baju-baju dan perhiasan." balas teh Lilis.

"Iya ini juga kita belikan baju untuk kakang." tambah teh Sari.

Aku pun hanya tersenyum tak menambahkan kata-kata. Lantas aku segera ke dapur membuatkan kopi untuk kang kades.

"Kang ini kopinya diminum dulu." ucapku.

"Terimama kasih neng." balas kang kades.
Diubah oleh salim357
ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU

Malam pun tiba, malam ini aku merasa kesepian dan aku pun tak mengerti, mengapa malam ini aku begitu merindukan sosok kang kades. Aku membayangkan malam ini kang kades ada di sampingku dan mencumbuku sampai aku benar benar terlena.

Tok...tok... tok... !!


Ketukan di pintu kamarku membuat aku sadar dari lamunanku tentang kang kades, dan aku pun segera bergegas membuka pintu kamarku.

"Kakang...? Ada perlu apa kakang ke kamar neneng?" tanyaku pada suamiku.

"Malam ini kakang ingin tidur dengan neneng." balas kang kades dan dia pun langsung mencium bibirku dengan ganas, ciuman kang kades membuat birahiku serasa naik ke ubun-ubun kepalaku.

"Tapi kan kang, malam ini jadwal kakang tidur dengan teh Lilis. Nanti kalau teh Lilis marah sama neneng gimana? " tanyaku pada kang kades.

Kang kades segera masuk ke kamarku dan mengunci kamarku.

"Kakang sudah minta ijin sama Lilis kok, jika malam ini kakang akan tidur dengan kamu." ucap kang kades yang kemudian mencumbuku dan membuka seluruh pakaianku.

Malam ini aku sangat terlena oleh cumbuan kang kades daan kang kades akan segera memulai permainannya. Aku pun sempat deg-degan, mungkinkah malam ini akan aku lalui seperti malam-malam sebelumnya? Jika kang kades tidak bisa menyentuhku? namun malam ini diluar dugaanku.

Ya malam ini kang kades bisa melaksanakan kewajibannya untuk menggauliku. Malam ini aku merasa sangat puas karena kebutuhan batinku dan kebutuhan batin kang kades dapat tersalurkan. Setelah kami merasa sudah sama-sama cukup. Kami pun mengakhiri permainan ini, aku terbaring lemah di tempat tidur dan begitu pun kang kades yang terlihat lelah kemudian tidur disampingku.

Sebulan sudah pernikahanku dengan kang kades, aku sudah terbiasa berbagi harta dan suami dengan para maduku, aku pun sadar jika sekarang aku mencintai kang kades suamiku. Namun hari ini aku merasa pandanganku kabur, tubuhku lelah dan aku pun sangat mual, aku beranjak dari tempat tidurku dan kulihat di kalender bahwa aku sudah telat 2 minggu. Mungkinkah aku ini hamil? Lantas aku pun segera mandi dan bersolek , aku bersiap-siap akan pergi ke bidan untuk memeriksakan kondisiku.

Sesampainya di bidan aku segera menceritakan kondisiku daan bidan itu pun mulai memeriksaku.

"Selamat ya bu kades, sekarang bu kades tengah mengandung, selamat menjadi calon ibu ya bu kades." ucap bidan itu.

"Saya hamil bu bidan?" ucapku tak percaya.

"Iya bu kades sekarang tengah mengandung usia kandungan jalan 3 minggu, bu kades harus benar-benar menjaga kehamilannya ya bu. Soalnya bu kades mengandung dalam usia muda, usia bu kades saat ini rentan mengalami resiko kehamilan." ucap bidan itu padaku.

"Iya terimakasih ya bu bidan, aku pun segera meninggalkan ruangan bu bidan dan menuju ke apotek untuk menebus obat, setelah mengambil obat aku pun segera bergegas menuju ke kantor lurah untuk menemui suamiku dan menyampaikan berita gembira ini kepadanya. Sesampainya di kantor lurah aku pun disambut oleh pegawai-pegawai lurah yang sangat ramah kepadaku.

"Selamat siang bu kades ada yang bisa kami bantu? Tumben sekali bu kades berkunjung ke kantor lurah. Suatu kehormatan bagi kami selaku pegawai lurah menerima kunjungan ibu kades disini." ucap pegawai desa itu.

"Terima kasih pak, ooh iya pak kadesnya ada?" tanyaku.

"Mari ikut saya bu kades, saya akan antar bu kades ke ruangan bapak." ucap lelaki pegawai itu.

Akupun mengikuti pegawai desa itu karena ini baru kali pertamanya aku ke kantor lurah, dan aku tak tahu dimana aku harus menemui kang kades suamiku.

Tok... tok... tokk... !!

Pegawai desa ini mengetuk pintu satu ruangan.

"Bu kades ini ruangan bapak." jelas pegawai itu.

"Iya terima kasih ya, sekarang bapak boleh melanjutkan pekerjaan bapak, biar saya langsung memasuki ruangan bapak kades saja, ucapku kepada pegawai itu.

"Iya bu kades." balas pegawai itu yang kemudian langsung pergi meninggalkan ku.

Akupun kembali mengetuk pintu ruangan suamiku hingga beberapa kali, namun suamiku tak juga membukakan pintu. Lantas aku pun memberanikan diri membuka pintu ruangan suamiku. Astaga! ternyata kang kades sedang tidur di kursinya. Aku pun lantas mendekati suamiku dan aku membelai rambutnya, nampak sekali wajah lelahnya dan nampak pula kerutan-kerutan di wajahnya.

"Kakang, bangun kang, Ini neneng." ucapku. membangunkan kang kades.

"Eh ada neneng, maaf kakang lelah jadi ketiduran." balas kang kades.

"Iya tadi neneng ketuk-ketuk pintu kakang tapi kakang tak ada membuka pintu, ya sudah neneng masuk saja, maaf ya kang jika neneng lancang." ucapku.

"Tidak apa-apa neng, Ini kantor neneng juga, neneng berhak berkunjung kapan pun kesini jika neneng mau. Ooh ya ada apa neneng kesini? Tumben."

"hmm,... Neneng mau ngasih tahu akang sesuatu." ucapku.

"Apa itu neng?" balas kang kades.

"Neneng hamil kang." ucapku.

"apa,..?? Serius kamu neng?,.. Kamu hamil? dan akang akan jadi seorang bapak?" tanya, suamiku antusias.

Aku hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman, seketika itu kang kades lalu memelukku dan menciumi ku pertanda dia sangat bahagia mendengar kabar kehamilanku.

"Pokoknya neneng harus jaga anak kita baik-baik ya, kalau neneng perlu apa-apa neneng tinggal bilang ke kakang, terima kasih ya sayang. Kamu telah memberikan keturunan untuk kakang, Sudah sekian lama kakang menantikan kehadiran seorang anak" ucap suamiku dengan penuh kebahagiaan.

Lalu setelah itu kang kades mengantarkanku pulang dan tak lama kemudian kabar kehamilanku telah menyebar keseluruh kampung. Banyak orang yang berdatangan ke rumah untuk sekedar memberikan selamat dan mengantarkan makanan untuk ku. Aku benar benar merasa seperti ratu saat itu, karena aku mempunyai harta kehormatan dan kekuasaan.

Tak terasa 9 bulan pun telah berlalu. Hari ini aku merasakan mulas yang amat sangat .

"Teteh... teh Lilis... teh Sari... Tolong aku teh, teteh perut neneng sakit sekali." teriak ku sambil menahan sakit.

Kemudian teh Lilis dan teh Sari, di ikuti bi kokom pembantuku datang dengan panik.

"Neneng kenapa? Neneng mules?" ucap teh Sari sambil memegang perutku.

"Iya teteh rasanya perut neneng sakit sekali." balasku.

"Bu kades Sari, bu kades Lilis, mungkin bu kades neneng mau melahirkah." ucap bi Kokom.

"Ya sudah... sekarang bibi tolong jemput bu bidan Asri, suruh dia cepat datang kesini dan bilang kalau neneng mau lahiran." ucap teh Lilis.

"Iya bu." ucap bi Kokom yang sangat kelihatan panik saat itu.

"Lilis cepat kamu suruh mang Tasman untuk menyusul kang kades ke kantor lurah." perintah teh Sari.

"Iya teteh!" ucap Teh Sari.

Tak lama bu bidan Asri dan kang kades pun datang dan aku sudah sangat merasakan sakit yang tak terhingga di perutku, kurang lebih 3 jam aku bertarung antara hidup dan mati untuk melahirkan buah cintaku,... Dan???

"Eeaaa... eeaa..." akhirnya, aku pun mendengar tangisan anakku.

Dan setelah itu aku pun merasa sangat lelah, lalu aku tak sadarkan diri. Dalam ketidaksadaranku seolah-olah aku ini sedang berada di satu tempat yang aku rasa sebelumnya aku pernah kesana, ya... seolah-olah aku ini sedang berada di gunung batu itu, tempat dimana aku kehilangan mahkota suciku dan sampai saat ini pun aku masih belum tau, sebenarnya siapakah yang telah merenggut keperawananku? Suamiku kah? Atau siapa yang jelas tiba+tiba pertanyaan ini datang di kepalaku.

Sesaat aku mendengar suara auman harimau yang sangat memenuhi seluruh isi telingaku. tiba-tiba dari belakang ku munculah harimau Lodaya yang sangat besar. Kemudian harimau itu bicara kepadaku.

"Tolong jaga keturunanku." lantas harimau besar itu segera loncat dan menghilang dari hadapanku.

"Neneng sadar sayang... neneng sudah pingsan selama 3 jam, ini kakang Kusuma suamimu." ucap kanh kades suamiku.

Ku buka mataku perlahan dan kulihat suamiku kang kades sedang memandangku dengan tatapan khawatir. Syukurlah pertemuanku dengan harimau barusan ternyata hanya mimpi gumamku dalam hati.

"Anakku mana kang?" tanyaku.

"Ini anak kita neng, anak kita laki-laki akan kakang kasih nama Jaya Pangresa Kusuma." ucap suamiku dengan bahagia.

"Iya kakang... Neneng setuju saja... sini kang neneng mau gendong anak neneng." pintaku.

"Neneng istirahat saja dulu, neneng pasti masih sakit bekas melahirkan barusan." kata teh Lilis.

"Tidak teteh,. Neneng tidak merasa sakit sedikit pun sekarang, malahan tubuh neneng terasa segar teh." ucapku.

"yang benar neng?" tanya teh Sari.

"Iya teteh jika teteh gak percaya liat neneng ya?" neneng udah mampu berdiri dan berjalan kok, (ucapku yang beranjak dari tempat tidur dan berjalan kaki).

"Syukurlah kalau begitu neng!" ucap teh Sari.

Tak terasa usia anakku Jaya sekarang telah 7 bulan, dan Jaya tumbuh dengan sehat.

"Neneng sayang,... akang kangen." ucap kang kades memelukku dari belakang, yang saat itu aku sedang menyusui Jaya.

"ikh... kakang genit deh! neneng lagi menyusui Jaya." jawabku dengan senyuman genit.
Diubah oleh salim357
ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU

Jaya terus yang disusuin, akangnya kapan?"

"ikh akang ini,..." lantas kang Kades pun segera menarikku ke kamar, dan menidurkan Jaya di kasur.

Perlahan kang kades mulai mencumbuku dan aku pun merasa melayang dibuatnya, kami bercinta kala itu. Ya, kami bercinta di kasur disamping Jaya anakku, anakku saat itu hanya diam saja anteng dan tak menangis walau anakku saat itu tidak tidur.

Setelah kami mengakhiri permainan, Kang kades pun berkata :

"Neneng mulai saat ini akang akan buatkan rumah untuk neneng, jadi neneng tidak perlu tinggal disini bersama madu-madu neneng, Dan neneng pun dapat mengajak keluarga neneng tinggal di rumah itu supaya neneng tidak kesepian." ucap kang kades.

"Yang benar kang?? Tetapi bagaimana dengan madu-madu neneng? Apa mereka akang kasih rumah juga? Neneng gak mau jika hanya neneng yang akang kasih." ucapku.

"Iya neng, semua istri-istri kakang, akan kakang buatkan juga, kan kakang ini orangnya adil." ucap kang Kusuma suamiku.

Singkat cerita aku pun telah menempati rumah baruku yang sangat megah, aku ajak orang tua dan keempat adikku untuk tinggal di rumahku.

Sekarang usia anak ku telah tujuh tahun, namun dia sangat keras kepala dan sangat bandel sekali, aku bahkan pernah melihat anakku yang berumur 7 tahun itu telah memperkosa temannya yang sebaya dengannya. Aku ingin marah saat itu namun kang kades melarangku, untungnya anak kecil yang telah diperkosa anakku tidak mengadukan hal ini pada siapa pun.

Selang beberapa tahun kemudian anakku telah tumbuh menjadi seorang lelaki yang tampan. Kini usia anakku 17 tahun, namun sifat keras kepalanya ini tetap tidak berubah. Mungkin karena kang kades Kusuma terlalu memanjakan dia sejak dia kecil hingga akhirnya dia menjadi anak yang sangat keras kepala dan semua keinginannya harus terpenuhi.

Sore itu aku mendengar suara teriakan dari kamar adikku yang kedua, yang usianya masih 20 tahun. Aku tak menghiraukan teriakan adikku itu, karena aku berfikir adik ku berteriak karena dia melihat kecoa, aku pun tak menghiraukannya sama sekali. Sampai adikku pun mengetuk pintu kamarku.

Tok... tok... tok... !!

"Teteh buka teh." ucap adikku sambil mengetuk pintu.

Kudengar adikku itu berkata sambil menangis, lantas aku pun segera membuka pintu kamar ku. Aku melihat adikku hanya memakai kain samping. (kain batik yang suka di pakai menggendong anak).

"Teteh, Jaya telah memperkosaku teh" ucap adikku.

"Astaga, Benarkah itu???" tanyaku tak percaya.

Aku pun lantas mencari Jaya anakku. Namun Jaya berhasil kabur meloncati jendela rumah seperti seekor harimau, begitu cepat sekali.

"Awas kamu Jaya!!" batinku kesal dan sakit, karena adikku telah dinodai oleh anakku sendiri.

Malamnya semua keluargaku telah mengetahui kejadian itu. Dan kami pun berusaha untuk menyelesaikan masalah ini, aku lihat adikku Rara hanya menangis dan menangis. Aku sungguh merasa bersalah pada adikku itu.

Sudah larut malam, anakku Jaya belum pulang juga. Aku mulai mengkhawatirkannya, meskipun hati ini masih marah dan kesal.

"Sayang sudah, Yuuk tidur dulu biarkan saja anak keras kepala itu, kamu jangan mengkhawatirkannya, nanti kakang akan menghukum dia dengan hukuman yang sangat berat!!" ucap kang kades.

"Kakang mulai saat ini neneng mohon sama kakang, tolong kakang jangan terlalu memanjakan anak kita." ucapku sambil terisak menangis.

"Iya neng sayang, Akang tidak akan memanjakan anak itu." ucap kang kades menenangkanku.

Satu minggu sudah anakku tak pulang kerumah, aku begitu merindukannya, dan aku khawatir tentang keadaannya.

Tok... tok... tok... !!

Suara pintu rumahku di ketuk, mungkinkah itu Jaya anakku?? Aku segera berlari menuju pintu, namun ketika aku buka pintu aku segera mendapat cacian dari orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya.

"Pokonya anak bu kades harus tanggung jawab, kemarin Jaya anak bu kades telah memperkosa anak saya Desi." ucap ibu itu sambil membawa anaknya yang sedang menangis.

"Apaaa...?? benarkah itu nak? benarkah Jaya telah menodaimu?" tanyaku pada anak itu.

"i,... iya,... aa Jaya,... Bu,... Aa Jaya telah merenggut kesucianku kemarin ketika aku lagi mandi di sungai bu." ucap, anak wanita itu dengan tangisnya.

Astaga hatiku terasa disambar petir hari ini, belum juga reda masalah kemarin sekarang kembali lagi anak ku telah bermasalah.

"Pokonya jika bu kades tidak bertanggung jawab, saya akan sebarkan berita ini keseluruh kampung, supaya Pak kades dicopot jabatannya yang sudah berpuluh tahun jadi kades dan segera digantikan dengan kades baru." ucap ibu itu mengancamku.

"Baiklah,... saya akan bertanggung jawab bu, saya pasti akan menikahkan Jaya dengan anak ibu, namun saat ini Jaya pun tak kunjung pulang bu." terangku pada ibu itu.

"Saya tidak ingin menikahkan anak saya dengan Jaya, saya hanya ingin ibu memberikan uang untuk saya, untuk anak saya juga." ucap ibu itu.

"Baiklah,... Ibu minta berapa?" tanyaku kepada itu.

Setelah ibu itu mengucapkan nominal yang sangat besar, mau tak mau aku pun menyetujuinya.

Aku pun menjual beberapa perhiasan, sawah, dan kebun untuk mempertanggung jawabkan kelakuan anakku. Kang kades yang mengetahui semua ini nampak sangat geram.

"Kurang ajar...!!! kali ini kakang sudah habis kesabaran. Akan ku bunuh anak sialan itu!" ucap kang kades sambil mengepalkan tangannya.

Aku pun hanya menangis kala itu, berbulan-bulan Jaya tak pulang ke rumah. Aku sangat merindukan anak ku itu, namun aku sudah pasrah dengan semua ini.

Malam itu semilir angin malam membuat birahiku muncul. Aku merasa membutuhkan sentuhan yang bisa menyalurkan kebutuhan biologisku. Sementara kang kades di umurnya yang sudah mencapai 62 tahun. Kang kades sudah jarang menyentuhku, malam ini aku pun berusaha untuk tidur meski dalam keadaan yang sangat membutuhkan sentuhan.

Namun antara sadar dan tidak aku mulai merasa ada yang menyentuh dadaku. Dan perlahan membuka bajuku, aku pun masih tetap memejamkan mata. Tetapi sekarang badanku sudah tak memakai benang sehelai pun. Namun aku menikmati sentuhan dan cumbuan cumbuan itu.

"Aahh suamiku, aku sebenarnya merindukan ini sudah sejak lama " gumamku dalam hati.

Dan setelah selesai permainan itu aku pun membuka mataku, dan .

"Astaga Jaya?? anak laknat kamu!!! Apa yang telah kamu lakukan pada ibumu sendiri? Aku ini ibumu nak, aku ini ibumu.Ibu yang telah melahirkan kamu!" ucapku, sambil menangis, menyesali kenapa aku sangat menikmati permainan tadi dan bodohnya aku mengapa dengan mudahnya aku menyangka yang telah menggauliku itu kang kades suamiku, aku sangat menyesal.

Kemudian Jaya kembali melewati jendela dengan lompatannya. Siangnya aku tak mengadukan kejadian ini pada kang kades karena pasti kang kades akan membunuh anakku. Namun disaat kang kades pergi ke rumah teh Lilis, kembali malam itu aku mendengar auman Harimau dari arah jendela kamarku. Dengan penuh penasaran aku pun segera membuka jendela dan Bruuukkk, dengan cepat kilatnya Jaya menerkamku, dia menindihku dan memegang kedua tanganku.

Kali ini Jaya benar-benar telah berubah, Tidak seperti Jaya anakku dan untuk yang kedua kalinya aku di perkosa anakku sendiri, namun saat Jaya telah menikmati tubuhku, tiba tiba???

Braaaakkkk...!!!


Pintu kamarku terbuka, Dan itu adalah suamiku.

"Bedebah, Kurang ajar kamu Jaya!! dasar anak siluman terkutuk kauu!!" ucap suamiku.

Kemudian suamiku pun mengambil senapannya dan lari mengejar Jaya. Namun aku berhasil menghalangi suamiku itu.

"Eling kang eling. Walau bagaimana pun Jaya anak kita. Maafkan dia kang."ucapku dengan berurai air mata.

"Anak kita??? Asal kamu tahu satu hal neng!! Jaya itu bukan anak kakang, Jaya itu anak siluman harimau, kamu masih ingatkan saat kakang ajak kamu ke gunung batu? Dan kamu pun pasti masih mengingat kejadian itukan? Kejadian dimana mahluk itu merenggut keperawananmu?" bentak, kang kades.
Diubah oleh salim357
"Apaaa?? maksud kakang? Apa maksud ini semua kang? Jadi yang telah merenggut kesucianku itu bukan kakang? Kakang jahat sekali sama neneng, neneng itu istri kakang, kenapa kakang malah menyuruh neneng tidur dengan mahluk itu? Kenapa kang? Jawab aku kang?" ucapku sambil berteriak meluapkan emosiku.

"Kakang memang benar-benar seperti binatang. Aku menyesal telah menikah dengan kakang, kakang telah merebut semua kebahagiaan di hidup neneng. Kakang merebut masa remaja neneng dan kakang pun yang telah menghancurkan hidup neneng. Kenapa kakang tega? Kenapa kakang sejahat ini ?" ucapku lagi sambil menangis.

"Neneng maafin kakang, Kakang melakukan semua ini karena kakang ingin punya keturunan yang bisa meneruskan generasi kakang. Namun kakang terkena kutukan dari siluman harimau itu. Lantas kakang pun melakukan permintaannya agar kakang bisa terlepas dari kutukan itu neng." balas kang kades menyesal telah memberitahuku yang sebenarnya.

"Kutukan kakang bilang? Lantas apa hubungannya aku dengan kutukan itu? Apa harus aku yang di korbankan kang? " tanyaku.

"Iya kutukan...!!! saat dulu kakang pernah membunuh harimau betina yang sedang hamil dan kakang tidak tahu jika itu adalah harimau siluman, dari itu si jantan yang ternyata harimau siluman juga menuntut balas pada kakang dan mengutuk kakang, dia bilang jika dia akan terus mengambil keturunan kakang dan memang benar hingga kakang mempunyai istri dua sekalipun kakang tetap tidak punya keturunan bahkan istri-istri kakang pun berulang-ulang mengalami keguguran, asal neneng tahu teh Sari dan teh Lilis itu mereka sebenarnya tidak mandul. Tetapi gara-gara kutukan dari siluman itun, teh Sari dan teh Lilis selalu keguguran. Sampai akhirnya kakang menikah dengan neneng. Neneng tahu kan mengapa saat pertama kakang nikahin neneng ,neneng tidak bisa kakang sentuh? Itu semua gara-gara siluman itu neng. Hingga pada suatu hari siluman itu datang pada kakang dan bilang kutukan ini akan hilang jika kakang menyerahkan keperawanan istri kakang untuk dia nikmati." ucap kang kades Kusuma menjelaskan semua ini.

"Kakang memang jahat!!" seketika itu aku menangis sejadinya kang kades segera memelukku namun aku segera menangkisnya.

Lalu kang kades pun meninggalkan aku yang masih terisak dalam tangisku.

Brraaakkk...!!!

Pintu jendela kembali terbuka di ikuti oleh loncatan Jaya anakku yang langsung menerkamku dan lantas akan memperkosaku lagi, ciuman-ciumannya kembali mendarat di leher dan tubuhku. Namun seketika itu dari luar jendela penduduk kampung berhasil menjaring Jaya dengan jaring ikan besar yang biasa mereka pakai untuk melaut. Lalu kang kades pun membuka pintu kamarku.

"Kena kau sekarang anak siluman. Aku tak segan-segan akan menembakmu sekarang juga dasar keparaaattt!!!" bentak suamiku.

Namun disaat kang kades akan menarik pelatuk senapannya. Dengan secepat kilat datanglah harimau Lodaya besar menerkam kang kades. Dengan satu cakarannya saja sudah membuat kang kades tumbang dan harimau itu menyerang warga kampung yang berada di kamarku. Sontak saja warga kampungku lari terbirit-birit dan kini di kamar hanya tersisa aku, Kang kades, Jaya dan harimau itu . Sementara seluruh keluargaku sedang tak ada di rumah saat itu.

Lantas kulihat harimau itu mendekati kang kades, aku berteriak sekencang mungkin.

"Toloong... toloong... tolong!!" namun tak ada satu warga pun yang datang untuk menolongku.

"Aku mohon... Jangan kau sakiti suamiku... jangan kau sakiti keluarga kami... Jika memang suamiku pernah membunuh istri dan anakmu, aku minta maaf... maafkan keluarga kami." ucapku pada harimau itu dengan sangat memelas.

Namun harimau itu mengaum dengan sangat kencangnya dan langsung mencabik-cabik tubuh suamiku hingga benar-benar hancur, aku yang melihat ini hanya bisa menangis dan berteriak. Setelah suamiku menjadi mayat, Jaya menghampiriku dan mengangkat daguku seraya berkata :

"Aku mencintai ibu dan setiap bulan purnama aku akan menemui ibu untuk menikmati tubuhmu bu!" ucap Jaya yang langsung pergi meloncat kejendela diikuti oleh harimau Lodaya tadi.

Aku menjerit saat itu... hidupku sudah hancur,... suamiku telah tiada dan anakku pun sekarang tak menganggap aku sebagai ibunya dia mengancam akan selalu datang disaat bulan purnama untuk menikmati tubuhku.

Aku sudah tak ada harapan untuk hidup, seketika itu aku menghampiri mayat suamiku dan memeluknya. Aku ambil senapan yang ada di tangannya, Dan???

DDDUUUAARRRR....!!!!!!!!

Senapan itu berhasil menembus kepala dan otakku. Seketika itu darah mengalir ke tubuhku dan aku pun meregang nyawa menghembuskan nafas terakhirku. Inilah kisahku yang memilih untuk bunuh diri daripada aku harus melayani nafsu bejat anakku darah dagingku titisan siluman harimau itu.

T A M A T.

(Cerita ini merupakan kisah nyata di suatu daerah X. Yang saya ceritakan dengan gaya bahasa saya sendiri).
ANAKU TITISAN SILUMAN HARIMAU
by. salim with M89
Diubah oleh salim357
Semoga lancar update gan emoticon-Shakehand2

Ucet.. udh tamat ternyata emoticon-Ngakak
Diubah oleh arya1923
Cerita ente emang keren2 gan emoticon-thumbsup
Quote:


Hehehehe thnks gan...
emoticon-Jempol
Quote:


Terima kasih master...

emoticon-Imlek
Lanjutkan
Quote:


Siipp gan eotara...
emoticon-Jempol
Quote:


Biasa aja gan ane bukan master emoticon-Big Grin
Quote:


Siap-siap gan...
emoticon-Jempol
Diubah oleh salim357
wih langsung tamat
Mantap...... Nambah lg donk bre
Quote:


Iyaah newbie gan...
emoticon-Imlek
Diubah oleh salim357
Quote:


Cukup! gan newbie gan....
emoticon-Imlek
Kenapa siluman harimau kok nggak siluman tapir atau babi got biar lebih greget. emoticon-Ngakak
Halaman 1 dari 3


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di