alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Pedang 7 Naga II ~Tewasnya Iblis Merah~
5 stars - based on 3 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a771406d675d4eb778b4567/pedang-7-naga-ii-tewasnya-iblis-merah

PEDANG 7 NAGA II | Tewasnya Iblis Merah

Pedang 7 Naga II ~Tewasnya Iblis Merah~

**Tapak Air Menggulung Samudera**

"Hiyaaaaaattt."

Tak beberapa lama bebatuan di air terjun itu pun runtuh berjatuhan, lalu pedang air terjun tujuh naga terbang melesat keatas udara, dengan sigap Ling melompat tinggi lalu menangkap pedang tujuh naga di atas udara.

"Akhirnya ku dapatkan juga pedang ini ayah, ibu apa kau mendengarku?" ucap Ling dengan mata berkaca-kaca.

Setelah Ling mendapatkan pedang tujuh naga di air terjun lalu Ling mengikatnya di punggung. Ling terlihat seperti orang yang linglung, akan kemanakah arah kakinya melangkah setelah kehilangan kedua orangtuanya yang amat ia sayangi, Ling tak punya alur jalan kehidupannya sendiri, dunia ini begitu luas dan bermacam ragam manusia yang penuh dengan nafsu dan juga keangkara murkaan.

Dengan langkah tak menentu Ling segera pergi meninggalkan air terjun tujuh naga, lalu menembus hutan belantara saat hari mulai senja, Ling berharap ia dapat menemui seseorang didalam hutan, walau hanya harapan kosong pikirnya.

Hari pun mulai gelap suara binatang malam pun mulai mengeluarkan suara-suaranya, Ling segera mencari ranting-ranting kayu disudut-sudut hutan, untuk ia jadikan api unggun guna menghangatkan tubuhnya dan juga sebagai cahaya penerang saat tidurnya malam nanti.

Saat Ling mulai merebahkan tubuhnya, tiba-tiba Ling dikejutkan sesosok bayangan hitam yang keluar dari balik semak-semak, dan bayangan itu pun menghampiri Ling yang sedang berbaring.

"Ling bangunlah."

Dengan sigap Ling beridiri dan menyempurnakan kuda-kudanya.

"Siapakah kau?" ucap Ling.

"Ini aku, pendekar manis." ucap Kakek Harimau.

"Hah? ia Kakek, maaf aku tidak mengenalimu, kakek harimau memakai jubah hitam." ucap Ling. merasa senang karena ada teman yang dapat ia ajak bicara saat malam di dalam hutan.

"Kau memang gadis tangguh Ling! Aku bangga kepadamu." ucap Kakek Harimau memuji Ling.
.
"Aaah,... Kakek jangan puji aku seperti itu, aku jadi malu hahaha." sahut Ling sambil tertawa.

"Kek, siapa nama kakek sebenarnya?" tanya Ling.

"Panggil saja aku KAKEK HARIMAU."

"Kakek Harimau? Baiklah kek!" ucap Ling.

"Ling kau harus pergi dari hutan ini! sudah saatnya kau mengembara dan menolong orang yang lemah, gunakanlah pedang tujuh naga di jalan yang benar, pedang tujuh naga hanya bisa di kendalikan oleh orang yang berhati bersih, ilmu yang aku turunkan padamu tempo hari akan meresap dengan sendirinya, kau hanya mengucapkan lewat lidahmu, jurus tersebut akan tercipta." ucap Kakek Harimau kepada Ling.

"Baik kek! Ooh iya kakek tinggal dimana?" tanya Ling.

Belum habis perkataan Ling terhadap Kakek Harimau, tiba-tiba Kakek Harimau sudah menghilang seperti sebelumnya.

"Lagi-lagi kakek harimau menghilang begitu saja, lebih baik malam ini aku istirahat saja." ucap Ling.
Diubah oleh salim357
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2

Pedang 7 Naga II

Malam itu Ling tertidur pulas di rimbunan hutan yang gelap di temani cahaya api kayu bakar, dan begitu cepat malam berlalu, dan saat pagi pun tiba suara kicauan burung-burung dan hewan-hewan hutan mulai bersahutan terdengar sibuk sekali di pagi itu, Ling pun terbangun dari tidur malamnya yang amat nyenyak sekali, tiba-tiba Ling mendengar suara seseorang yang sedang meminta pertolongan dari arah timur, dengan sigap Ling mematikan sisa api unggun yang masih terbakar semalam dengan cara menginjak-injaknya. Ling segera mengambil pedangnya yang masih tergeletak lalu kembali mengingkatkannya dipunggung, dan dengan segera mencari sumber suara wanita yang meminta pertolongannya itu.

"Tolong,.. tolong,.. Tolong,.. !!"

"Ayolah,... gadis manis mari kita bersenang-senang di hutan ini, tidak ada orang yang tahu hanya kita bertiga saja". ucap laki-laki berewok.

"Tubuhmu mulus sekali gadis cantik." ucap salah satu laki-laki berewok.

"Lepaskan aku... Lepaskan, dasar laki-laki biadab!"

"Dimana suara wanita yang meminta pertolongan itu? apa telingaku tidak salah mendengar?" ucap Ling bertanya-tanya.

Ling pun berlari melesat diatas dedaunan yang tumbuh di hutan, dengan cepatnya Ling sudah berada di sumber suara orang yang meminta pertolongan. Ling mengamati di sekelilingnya, ternyata ada seorang wanita yang hendak di perkosa oleh kedua laki-laki berewok berbaju hitam-hitam.

"Hei, binatang! Lepaskan wanita itu." ucap Ling.

"Siapa kau gadis manis, lancang sekali mulutmu! Ooh kau cemburu rupanya pada kakang hahahaha, baiklah kalau begitu kita bersenang-senang secara berpasangan saja gadis manis." ucap laki-laki yang hendak memperkosa wanita desa.

"Tolonglah aku pendekar, aku hendak diperkosa manusia-manusia keparat ini pendekar." ucap wanita desa.

"Silahkan kau sentuh tubuhku, jika kalian mampu, binatang-binatang terkutuk." ucap Ling.

"Hahaha,... Sombong sekali kau, kau akan menyesal nanti! cepat tangkap dia kakang dan nikmatilah tubuhnya." ucap lelaki satunya.

Dan dengan satu kali lompatan lelaki itu sudah berada di belakang Ling, Ling hanya diam mematung tanpa pergerakan.

"Huaaaa,... Aku di belakangmu gadis manis." ucap lelaki itu coba mengejutkan Ling.

Saat lelaki itu ingin memeluk dan hendak mencium Ling, tiba-tiba Ling sudah raib menghilang. Lelaki itu pun menjadi kebingungan, dirinya hanya merasa memeluk angin yang kosong saja.

"Keparaaatt! Aku di kelabuhi." ucap lelaki berewok.

"Rupanya gadis itu tidak bisa kita anggap remeh, mari kita serang bersama kakang." ucap kawannya.

Dengan serempak kedua lelaki berewok tersebut menyerang Ling dengan ilmu pamungkasnya.

**Pukulan Iblis Merah**

"Hiyaaaaaattt."

Jedeeerrrrrrr !!

Ling lompat melesat dan sudah berada di samping wanita yang ingin diperkosa tadi. Serangan kedua lelaki berewok tersebut tidak mengenai tubuh Ling sama sekali, hanya merobohkan lima pohon pinus di belakangnya.

"Bangunlah kau tak perlu takut, kau aman bersamaku." ucap Ling menenangkan sambil membantu wanita desa itu untuk berdiri.

"Aku sangat takut sekali pendekar, terlebih mereka sangat sakti-sakti, apa kau yakin dapat mengalahkan mereka berdua." ucap wanita desa itu merasa ketakutan.

"Kau lihat saja nanti, akan kuberi mereka pelajaran untuk dikenang seumur hidupnya!" ucap Ling berubah bengis.

"Bedebaaah!! masih saja kita di permainkan kakang, kulihat pedangnya sangat bagus dan kekuatannya cukup kuat, pasti dia bukan orang sembarangan kakang!! mari kita serang kembali gadis manis itu kakang, dengan pukulan maut iblis merah, pasti dia akan segera mampuuuus, cuiiiih." ucap kawannya, jengkel.

"Baiklah mari!" ucap lelaki berewok.

**Pukulan Maut Iblis Merah**

"Hiyaaaaaatt"

Ling pun segera membaca ajiannya dan memecah raganya menjadi sembilan orang, lawannya pun saat itu menjadi sangat kebingungan, lalu Ling bersiap-siap menghempaskan pukulannya kepada kedua laki-laki berewok tersebut.

**Pukulan Harimau Terbang Pecah Sembilan**

Buuuk,... bukkk,... bukkk !!!

BrrruuuuUukk !!

Dengan pukulan bertubi-tubi kedua lelaki berewok itu pun jatuh tersungkur secara bersamaan.

"Aaaaaaa,... tulangku hancur semua, ampuuun pendekar." ucap lelaki berewok meringis menahan sakit merasa tulang-tulangnya semua patah.

"Tulang-tulangku juga patah semua kakang." ucap kawan berewok satunya.

"Bukan tulang-tulangmu saja yang patah! Kalian pun tidak akan bisa mempunyai seorang keturunan." tegas Ling kepada kedua berewok itu.

"Aaaaaaaaa,.."teriak kawan berewok menyesal.

"Mari kita pergi dari tempat ini." ucap Ling kepada wanita desa tersebut.

"Terima kasih pendekar, bagaimana caranya aku membalas budi baik pendekar, kalau kau tadi tidak menolongku, pasti aku sudah diperkosa kedua bajingan itu." ucap wanita desa itu.

"Tak perlu kau membalasnya, siapa namamu?." tanya Ling.

"Namaku Ayu Lestari, aku tinggal di desa Mayit seberang hutan ini pendekar, nama pendekar siapa? Sepertinya pendekar bukan penduduk disini??" tanya wanita desa.

"Panggil saja aku Ling, benar apa yang sudah kau katakan, aku bukan penduduk disini, aku hanya orang asing dari negeri seberang sana." jawab Ling.

"Baiklah pendekar Ling, kau hendak pergi kemana sekarang??" tanya wanita desa tersebut.

"Aku tak tahu, kemana kakiku akan melangkah." jawab Ling singkat.

"Hmm, apa kau tidak tinggal bersama kedua orangtuamu pendekar Ling?" tanya wanita desa.

"Kedua orangtuaku sudah lama telah tiada Ayu." jawab Ling datar.

"Ooh begitu, maafkan aku pendekar Ling, bagaimana kalau kau tinggal bersamaku." ucap wanita desa.

"Kalau kau tidak keberatan malam ini aku bermalam di tempat tinggalmu." balas Ling.

"Ooh tentu saja, aku tidak keberatan! kau pasti sangat lapar pendekar Ling, nanti akan aku masakan ikan yang besar-besar di pondokku." ucap wanita desa itu merasa senang menjamu Ling.

"Untuk apa kau berada didalam hutan seorang diri?" tanya Ling kepada Ayu wanita desa.

"Setiap pagi hari memang tugasku mencari kayu bakar pendekar Ling, romo dan biyungku mengurus ladang, mungkin hari ini, hari naasku bertemu bajingan-bajingan itu." ucap wanita desa merasa geram.

"Ooh begitu rupanya." jawab Ling.

"Mari cepat pendekar Ling, kita ke pondokku perutku sudah terasa lapar sekali, hehehe." ucap wanita desa.
Diubah oleh salim357

Pedang 7 Naga II

Ling pun berjalan meninggalkan hutan bersama Ayu Lestari wanita desa, menyusuri sungai dan juga semak-semak belukar. Desa Mayit serasa begitu sepi dan para penduduknya amat jarang sekali terlihat, padahal desa Mayit desa yang sangat subur dan makmur berbagai macam tumbuhan hidup di desa tersebut.

Sesampainya di kediaman Ayu Lestari wanita desa, kedua mata Ling terlihat sibuk memperhatikan sekelilingnya. Ling memang sedari kecil belum pernah keluar dari dalam gua, saat berada di desa mayit Ling merasa keheranan dengan dunia luar.

"Silahkan masuk pendekar Ling". ucap Ayu Lestari sembari membuka pintu kayunya yang tidak dipalang.

"Terima kasih, mengapa desa ini terlihat sepi sekali." tanya Ling kepada Ayu.

"Mereka sangat jarang ke ladang untuk bercocok tanam pendekar Ling, sebagian para penduduk disini mengabdi dengan iblis merah di kaki gunung merah sana pendekar Ling, kegiatan mereka lebih senang di kaki gunung merah itu untuk memperoleh harta secara cepat." terang Ayu Lestari.

"Astaga! Begitu rupanya." ucap Ling.

"Bicaranya nanti saja silahkan pendekar Ling di minum airnya, aku mau bakar ikan untuk kita makan bersama." ucap Ayu.

Menunggu Ayu menyiapkan hidangan, lalu Ling keluar dan duduk di bale-bale bambu. Saat terik matahari kedua orangtua Ayu pulang dari ladang dengan keringat yang mengucur membasahi tubuhnya.

"Siapa orang asing di pondok kita itu romo?"ucap Biyung Tari istri Romo Suryo.

"Mungkin orang lewat sekedar meneduh biyung!" jawab Romo Suryo kepada istrinya.

"Ndhuk, apa kau sudah pulang?" ucap Biyung Tari kepada anak gadisnya.

"Iya biyung sebentar." jawab Ayu dari dalam.

"Siapa kau cah Ayu?" tanya Romo Suryo kepada Ling.

"Aku hanya seorang pengembara yang menumpang berteduh paman." balas Ling.

"Eeh, Romo sama biyung sudah pulang." ucap Ayu.

"Apa wanita ini sahabatmu ndhuk." tanya Biyung Tari.

"Iya benar biyung, itu pendekar Ling, pendekar Ling yang menolong aku saat mau mencari kayu di hutan, aku mau diperkosa bajingan-bajingan keparat di dalam hutan Biyung, aku tidak tahu andai pendekar Ling tidak menolongku saat itu!" jelas Ayu kepada Biyungnya.

"Astaga! Kau tidak apa-apa ndhuk?" ucap Biyung Tari.

"Tidak apa-apa Biyung." balas Ayu.

"Kami ucapkan terima kasih pendekar Ling, telah menolong putriku, cepat ndhuk hidangkan makanan untuk pendekar Ling ." ucap Romo Suryo kepada Ayu.

"Iya, romo, Biyung ini hidangannya aku sudah siapkan." ucap Ayu.

Siang itu Ling dan Keluarga Ayu makan bersama-sama, setelah beristirahat sebentar, Ling pun pamit kepada Ayu dan kedua orangtuanya.

"Paman, bibi aku mohon pamit untuk meneruskan perjalananku." ucap Ling.

"Hendak kemana kau pendekar Ling, lebih baik kau tinggal di sini bersama kami." balas Romo Suryo.

"Benar pendekar Ling, kau tinggal saja bersama kami." sahut biyung Tari.

"Iya bibi terima kasih, aku sebentar di sini merasakan kalau aku seperti ditengah-tengah keluargaku sendiri, aku tidak ingin lebih lama lagi disini, aku takut kalian akan mendapati masalah." ucap Ling.

"Baiklah pendekar Ling, aku junjung tinggi budi baikmu karena telah menolong aku di hutan, sekiranya kau menginap malam ini dan esok paginya kau boleh melanjutkan perjalananmu pendekar Ling." pinta Ayu kepada pendekar Ling.

"Hmm,... baiklah kalau begitu mau kalian." balas Ling.

Saat malam hari Ling dan Ayu saling bercerita, yang ditemani penerangan lampu sumbu lalu Ling pun menanyakan kepada Ayu siapakah Iblis Merah.

"Iblis Merah itu gerombolan perampok di desa-desa, siapa yang melawan saat di mintai upeti maka istri dan anak gadisnya akan diperkosa pendekar Ling." terang Ayu.

"Biadab sekali mereka bertindak semena-mena, benar-benar binatang terkutuk!" ucapan Ling menggetarkan Pedang Tujuh Naga yang tergeletak.

Saat Ayu Lestari belum selesai bercerita, tiba-tiba leher Ayu terkena sumpit beracun dari arah luar pondok.

"Aaaaaa... pendekar Ling rupanya ada yang mendengar pembicaraan kita dari luar, mungkin kedua lelaki di hutan itu pengikut Iblis Merah dan para kawannya kesini untuk membalas dendam." ucap Ayu kesakitan di lehernya yang terkena sumpit beracun.

"Jangan bergerak biar ku sedot bisa racunnya." ucap Ling.

"Ada apa ndhuk, kau kenapa?" ucap Romo Suryo.

"Kenapa kau ndhuk." ucap Biyung Tari menghampiri putrinya.

"Tenang paman, bibi aku sudah menghentikan racunnya, jaga Ayu dan kalian jangan keluar dari pondok! Aku ingin tahu siapa penyusup yang melukai Ayu." ucapLing.

Ling pun membuka pintu dan loncat keluar mencari penyusup yang melukai Ayu.

"Keluar kau binatang-binatang terkutuk!! aku tahu kalian bersembunyi, jangan sampai aku seret paksa kalian keluar semua." ucap Ling.

Gertakan Ling terdengar pelan, namun sangat berpengaruh bagi mereka. Tak berapa lama keluarlah lima belas orang penyusup dari persembunyian mereka.

"Serahkan pedang yang kau miliki itu gadis cantik." ucap salah satu pemimpin gerombolan Iblis Merah.

"Ambillah jika kalian mampu." balas Ling.
Diubah oleh salim357
Keknya ente suka nulis ya gan
Seneng banget gan. Masih merangkak niih cara penulisan. Soalnya tamatan Smp. Gak ngerti bahasa sastra.
Ling ini gadis cantik ya
Quote:


Gabungin gan cerita'y ke thread sebelum'y
Gak ngerti caranya.
Diubah oleh salim357
gan baybay salfok
Quote:


kalo suka masak ya jadi koki lah... bukan begitu agan agung kusuma emoticon-Leh Uga
Diubah oleh ndemun75
hahahhaaha,...jadi kocak.

Pedang 7 Naga II

"Suryooo, keluar kau! Berikan upetimu, sebelum ku perkosa istri dan juga anak gadismu huaaaaaaa." ucap salah seorang pemimpin gerombolan Iblis Merah.

Setelah salah satu pemimpin gerombolan Iblis Merah selesai berbicara, Ling melompat di udara dan sudah tepat berada di belakang tubuh salah seorang pemimpin gerombolan Iblis Merah itu. Lalu dengan bengisnya Ling memutar kepalanya hingga kebelakang.

KreeeekK !!!

"Mati kau binatang terkutuk!" ucap Ling.

Melihat pemimpinnya tewas dengan cara konyol, anak buah Iblis Merah merasa ciut nyalinya menghadapi Ling, pemimpin mereka saja dengan mudah di taklukan oleh Ling, apalagi dengan kekuatan yang mereka punya, pikir empat belas gerombolan Iblis Merah.

"Majulah kalian semua! akan ku kirim nyawa kalian ke neraka secepatnya." ucap Ling dengan gejolak api yang masih membara.

"Sombong sekali kau wanita asing! Kau rasakan ajianku ini!"

**Ajian Penghancur Raga**

"Hiyaaaaaattt."

Dengan sigap Ling mencabut Pedang Tujuh Naga dari sarungnya. Di tangkisnya Serangan ajian penghancur raga dengan pedangnya. Lalu ajian tersebut berbalik terkena pemiliknya sendiri, dengan luka hangus di dada, salah satu lelaki gerombolan Iblis Merah itupun tewas seketika.

"Keparat kau memang benar-benar wanita Iblis!" ucap lelaki lainnya gerombolan Iblis Merah.

"Yang iblis aku atau kau? Dan pemimpinmu di gunung merah itu." balas Ling.

"Mari kita serang bersama-sama wanita Iblis itu dan kita rebut pedang sakti yang ia miliki."

Dengan licik para gerombolan Iblis Merah, melemparkan jaring jala yang telah mereka persiapkan, untuk meringkus Ling lalu mengikat tubuh, tangan serta kakinya hingga Ling tidak dapat bergerak sama sekali.

"Kali ini kau mampus wanita iblis haaaa, cepat kau ambil pedangnya!" ucap salah satu gerombolan Iblis Merah.

"Ha ha ha, cukup pengecut juga nyali kalian, menyerangku dengan cara seperti ini." ucap Ling.

"Cepat Marda! Kau bunuh wanita iblis ini dengan pedangnya sendiri." ucap salah satu gerombolan Iblis Merah.

"Baiklah mampusss kau sekaramg wanita setaaaan!" ucap Marda salah seorang gerombolan Iblis Merah.

Marda pun menusuk Ling dengan Pedang Tujuh Naga tepat mengenai dadanya lalu tembus kepunggung. Ayu Lestari berlari keluar dari biliknya menghampiri Ling yang berbaring terikat dan luka yang hangus di dadanya.

"Pendekar Liiiig!" teriak Ayu Lestari.

"Cantik sekali kau kelinci kecil, mari kita kedalam bersenang-senang menikmati malam ini berdua saja manis huaaaaa." ucap salah seorang gerombolan Iblis Merah memeluk Ayu.

"Lepaskan aku iblis keparaaatt." teriak Ayu Lestari.

"Lebih baik aku mati daripada melayani nafsu bejatmu!" ucap Ayu Lestari lagi.

"Cepat kau seret tua bangka Suryo keluar, dan kau gantung lehernya di pohon jni! malam ini kita akan nikmati tubuh istri dan juga anak gadisnya huaaaaa." ucap salah seorang gerombolan Iblis Merah.

"Uhuk, uhuk,..uhuuk, biadab kalian semua, akan ku jatuhkan kepala kalian di tanah ini satu persatu." ucap Ling yang menahan sakit luka tusukan di dadanya.

"Cepat kau habisi nyawa perempuan gila itu Marda!" ucap kawan gerombolan Iblis Merah.

"Mati kau wanita iblis!" ucap Marda sambil menusuk-nusukan kembali pedang tujuh naga ke dada Ling yang sudah tergeletak ditanah.

Sleb... sleb... sleeb...!!!

Darah segar pun mengucur deras dari tubuh Ling, baju yang ia kenakkan kini berubah berwarna merah darah, lalu Ling pun berhenti bernafas.

"Bangun pendekar Ling! Banguuuun, kau tak boleh mati pendekar" teriak Ayu Lestari histeris.

Beberapa orang gerombolan Iblis Merah masuk kedalam pondok lalu menyeret keluar Romo Suryo secara paksa.

"Cepat kau ikat tua bangka ini, dan kau gantung lehernya di pohon itu!" ucap salah seorang gerombolan Iblis Merah.

"Manusia-manusia iblis kalian! Tidak punya hati menyiksa orang yang sudah tua, Romooo?" tangis Ayu Lestari.

"Ndhuk selamat tinggal, jagalah dirimu baik-baik cah Ayu." ucap Romo Suryo kepada putrinya.
Diubah oleh salim357

Pedang 7 Naga II

Saat gerombolan Iblis Merah hendak menggantung kepala Romo Suryo di dahan pohon dan hendak memperkosa putrinya Ayu Lestari, tiba-tiba Pedang Tujuh Naga yang di genggaman Marda bergetar hebat lalu mengeluarkan tujuh cahaya pelangi dan masuk ke tubuh Ling.

"Salam Ling, aku Putri Air Terjun Tujuh Naga, bangkitlah Ling luka-lukamu sudah rapat tak berbekas." ucap Putri Air Terjun Tujuh Naga kepada raga Ling yang tergeletak bersimbah darah di tanah.

Secara sekejap tubuh Ling bangkit dan kedua bola matanya berubah berwarna hijau. Para gerombolan Iblis Merah pun sangat terkejut melihat Ling berdiri tegap bak malaikat maut yang hendak mencabut nyawa mereka satu persatu.

"Aaaaaaa, hei anjing-anjing kudis! ku tepati janjiku, akan ku jatuhkan kepala kalian semua di tanah desa Mayit ini!" ucap Ling seperti orang yang kesetanan.

"Hah? Pendekar Ling! pendekar Ling?." ucap Ayu dan Romo Suryo keheranan Ling hidup kembali.

"Bagaimana ini kakang Marda? rasanya lututku mau copot mendengar suara wanita iblis itu, bagaimana ia dapat hidup kembali?" ucap salah seorang gerombolan Iblis Merah merasa ketakutan dan saling berpandangan.

"Bagus kalau kau masih hidup wanita iblis! aku bisa menikmati tubuhmu terlebih dahulu sebelum ku tebas kepalamu dengan pedang ini." ucap Marda.

"Majulah kau binatang terkutuk!" balas Ling dengan senyum menyeringai.

"Mantra menyusun daya
Daya mantraku
Mengunci semua daya
Daya mantraku
Pengendali pedang
Tujuh naga air terjun."


Dengan seketika pedang tujuh naga yang di genggam erat oleh Marda, keluar dari sarungnya secara tiba-tiba dan terbang melesat menghampiri Ling.

"Kau rasakan ini binatang terkutuk!" ucap Ling.

Pedang Tujuh Naga di putar balik melayang di udara dan terbang melesat mengenai leher Marda yang masih berdiri tegap.

Sreeeeeeettt !!!

Leher Marda pun putus dan kepalanya gelinding di tanah, dengan sigap Ling salto ke udara menangkap Pedang Tujuh Naga yang masih berputar-putar.

"Jumlah kalian sekarang makin berkurang, bagaimana kalau ku cabut saja sekaligus nyawa kalian yang tinggal dua belas orang saja." ucap Ling menyiutkan nyali gerombolan Iblis Merah.

"Dasar wanita iblis! Mari kita serang bersama-sama wanita iblis itu sebelum ia menyerang kita terlebih dahulu." ucap seorang gerombolan Iblis Merah yang mulai ketakutan.

**Ajian Iblis Merah Pencabut Nyawa**

"Hiyaaaaaattt"

Jlegeeeerrrr !!!

Dada Ling bolong terkena ajian iblis pencabut nyawa lalu jatuh tersungkur di tanah.

"Kau pikir aku dapat mati ditangan binatang-binatang terkutuk macam kalian hahaha." ucap Ling mengejek gerombolan Iblis Merah.

"Dasar wanita iblis kau! Sulit juga mencabut nyawamu wanita keparat!" ucap seorang gerombolan Iblis Merah merasa geram.

"Matilah sekarang kalian semua, hehehe" ucap Ling dengan senyum menyeringai.

**Jurus Pedang Tujuh Naga Pecah Sembilan**

Sreeeet, sreeeett, Sreeeettt !!!

Bruuuuuk...Bruuuuuk...Bruuuuk !!

Sheeeer !!!

Ling terbang melesat menyabetkan pedangnya ke kepala gerombolan Iblis Merah satu persatu dan mengucur deras darah dua belas tubuh tanpa kepala yang mulai bergelindingan ketanah. Ayu Lestari dan Romo Suryo menutup matanya rapat-rapat dengan telapak tangan mereka.

Ayu Lestari dan Romo Suryo pun segera berlari menghampiri Ling yang masih berdiri menopang tubuhnya dengan Pedang Tujuh Naga.

"Kau tidak apa-apa pendekar Ling?" tanya Ayu Lestari.

"Aku tidak apa-apa, hanya terkena ajian iblis Merah, sebentar lagi luka bolong di dadaku akan rapat kembali dengan sendirinya." balas Ling ringan.

"Mari cepat masuk pendekar! kau butuh istirahat, Ayu Lestari cepat kau siapkan air panas dan obat untuk pendekar Ling." ucap Romo Suryo kepada Ayu.

"Baik Romo." jawab Ayu Lestari.

"Biar ku bantu pendekar, kau jangan banyak bergerak tubuhmu masih lemah sekali, nanti akan ku buatkan obat untukmu." ucap Biyung Tari
Diubah oleh salim357

Pedang 7 Naga II

Setelah Ling di rawat oleh Ayu Lestari dan kedua orangtuanya, esok paginya Ling berpamitan untuk mencari Raja Iblis Merah.

"Paman, bibi, Ayu. Aku pamit meneruskan perjalananku di gunung Merah." ucap Ling.

"Apa kau hendak mencari Iblis Merah, pendekar Ling?" tanya Ayu Lestari.

"Benar! Jaga kedua orangtuamu, dan kau tak perlu cemas lagi akan gangguan gerombolan Iblis Merah, karena sebagian ragaku akan ku tinggal disini." ucap Ling kepada Ayu Lestari.

"Hati-hati pendekar cantik." ucap biyung Tari.

"Budi baikmu selalu kami junjung tinggi pendekar yang baik hati." ucap Romo Suryo kepada Ling.

"Tak perlu sungkan paman Suryo, sesama manusia sudah sepatutnya saling tolong menolong." balas Ling.

**Ajian Pecah Raga**

Ling pun membelah tubuhnya menjadi kembar tiga, untuk menjaga Ayu dan kedua orangtuanya di desa Mayit.

"Ayu Lestari aku pergi, Jaga dirimu baik-baik." ucap Ling singkat.

"Hati-hati pendekar Ling, jangan lupa kepada kamiiii." teriak Ayu Lestari.

Setelah memecah raganya Ling pun pergi meninggalkan desa Mayit dan terus berjalan menyusuri hutan, bukit, danau, sungai serta lembah. Di dalam benaknya, Ling berpikir, apakah dahulu ayah dan ibunya mengembara seperti dirinya seperti sekarang, meninggalkan jejak langkah, dan mengikuti hembusan angin kencang yang di penuhi darah.

Sesampainya di sebuah lembah, Ling di hadang oleh segerombolan orang memakai jubah Merah.

"Sedang apa kau berkeliaran di lembah Darah ini gadis manis?" tanya salah seorang ketuanya.

"Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan lewat saja!" balas Ling.

"Tangkap dan ikat gadis itu! Kita bawa ke kekerajaan untuk menghadap paduka Raja." perintah ketuanya.

"Baiknya aku menyerah saja, aku yakin mereka ini para prajurit-prajurit Iblis Merah yang menjaga lembah ini! agar aku lebih cepat sampai di tempat persembunyian kerajaan Iblis Merah, sebaiknya aku diam saja tanpa perlawanan." ucap Ling dalam hati.

Dalam tubuh yang terikat dan juga dikawal tujuh belas prajurit Iblis Merah, Ling mengumpulkan seluruh kekuatan dalam tubuhnya, untuk menaklukan Raja Iblis Merah di gunung Merah. Saat sampai di kerajaan gunung Merah Ling di hadapkan oleh Raja Iblis Merah.

"Ampun paduka, kami menangkap orang asing yang berkeliaran di Lembah Darah, gerak-geriknya sangat mencurigakan paduka." ucap ketua prajurit Iblis Merah.

"Hmm, cantik sekali gadis itu, lepaskan dia! akan ku jadikan dia Ratu Iblis Merah di gunung ini huaaaaa." ucap Raja Iblis Merah merasa senang.

"Ciih, melihat rupamu saja aku mau muntah binatang terkutuk!" balas Ling terhadap Raja Iblis Merah.

"Kau ikat kembali gadis itu, dan siksa dia, jangam di beri ampun! agar ia patuh menjadi istriku, huaaaaa." perintah Raja Iblis Merah kepada prajuritnya.

"Ampun paduka, bukankah wanita itu yang membawa pedang, yang telah membunuh Marda dan kawan-kawannya. Aku melihat dengan jelas wanita itu dibalik pepohonan di desa Mayit." terang Siluman Ular wanita.

"Bedebah! Rupanya cukup tangguh juga kau dapat membunuh prajurit-prajurit ku di desa Mayit! Cepat kau serang dia Kayana, aku mau lihat kesaktian gadis itu." ucap perintah Raja Iblis Merah kepada Kayana Siluman Ular.

"Dengan senang hati paduka." balas Kayana Siluman Ular.

Dengan seketika Kayana pun menjelma kedalam bentuk aslinya menjadi seekor ular raksasa yang sangat besar, dan meliuk-liukan tubuhnya di hadapan Ling.

"Ha ha ha, Maju kau ular siluman binal! kau pikir dengan merubah wujudmu menjadi sekor ular yang sangat besar akan menciutkan nyaliku." ledek Ling kepada Kayana Siluman Ular.

"Huaaaa, sombong sekali kau keparat! Jika kau mampu melepaskan tubuhmu dari lilitanku, ku akui kesaktianmu." ucap Kayana merasa geram.

"Sssshhh, sssshh, ssshh"

Kayana mulai mendesis dan dengan perlahan-lahan Kayana Siluman Ular membentangkan ekornya yang besar dan panjang lalu melilitkannya ke tubuh Ling hingga sebatas leher.

"Huaaaa, akan kuremukkan semua tulang-tulangmu hingga hancur pendekar congkak!" ucap Kayana Siluman Ular.

Di dalam lilitan ekor Kayana Siluman Ular, Ling terasa makin sulit untuk bernafas. Dengan samar-samar Ling mendengar suara seorang wanita membisikan petunjuk kepadanya.

"Salam tuan pengendali pedang, gunakanlah kekuatan Tujuh Naga Air Terjun, satukan dalam ragamu, niscaya tubuhmu akan mengeluarkan energi suci." seru Putri Air Terjun Tujuh Naga kepada Ling.

Ling pun mulai bersikap hening dan mulai memejamkan matanya.

**Jurus Naga Terbang Menghantam Guntur**

Jlegaarrrrrr !!!

Dengan seketika tubuh Ling mengeluarkan sinar berwarna-warni yang sangat panas, hingga Kayana Siluman Ular melepaskan lilitan dari ekornya, dan tubuhnya menjadi terpental tak tahan akan panasnya sinar tujuh naga. Di saat itu juga Gunung Merah menjadi terguncang hebat dan mulai mengeluarkan laharnya, Ling pun segera berlari sangat cepat melesat menjauhi gunung Merah.

"Cepat kau habisi nyawa gadis itu Kayana! rupanya ia ingin menghancurkan kerajaanku ini." ucap perintah Raja Iblis Merah merasa geram.

"Baik paduka!" ucap Kayana Siluman Ular segera terbang melesat.

"Tujuh belas Iblis Merah, kau rebut pedang dari gadis itu, dan serahkan kepadaku." perintah Raja Iblis Merah.

"Hamba paduka!" sahut prajurit Tujuh Belas Iblis Merah serentak.
Diubah oleh salim357

Pedang 7 Naga II

Ling pun terus berlari dan memasuki rimbunnya pedalaman hutan belantara. Kayana dan tujuh belas prajurit Iblis Merah pun terus mengejar Ling dan ikut memasuki hutan. Didalam hutan Ling melihat sebuah aliran sungai kecil yang begitu jernih airnya, dengan rasa haus dan dahaga Ling berlari mendekati sungai itu dan meminum airnya dengan cara menserok dengan kedua telapak tangannya.

"Aah, segar sekali airnya." ucap Ling.

Selang berapa lama Tujuh Belas Prajurit Iblis Merah sudah berdiri mengelilingi Ling yang sedang berjongkok di aliran sungai kecil.

"Kali ini tamat riwayatmu pendekar manis!" ucap Ketua prajurit Iblis Merah.

Dengan sigap Ling lompat ke udara dan sambil mengeluarkan Pedang Tujuh Naga dari sarungnya.

"Huup"

Sriiiiing...!!!

Sreeeeeeett !!

"Mampuuuus kau!" teriak Ling.

Ling mengangkat tinggi pedang tujuh naga dan menyabetkan pedangnya, tepat di tengah kepala prajurit Iblis Merah hingga kepalanya terbelah menjadi dua bagian.

"Aaaaaaa." teriakan prajurit Iblis Merah yang tewas seketika.

"Keparaaatt."

"Mari kita serang wanita setan itu bersama-sama." ucap ketua Iblis Merah.

"Hiyaaaaaattt"

Ling pun dikeroyok Enam Belas Prajurit Iblis Merah di tengah-tengah hutan tersebut, dan terjadilah pertarungan sengit. Dalam pertarungan itu Ling lebih banyak menghindar dari pada menyerang, serangan-serangan prajurit Iblis Merah dengan mudah dapat itangkisnya, merasa di remehkan para prajurit Iblis Merah pun mengeluarkan pedang-pedang yang mereka miliki dan menyabetkannya ke setiap tubuh Ling secara membabi buta.

Sreeeet... sreeeet... sretttttt !!!

"Wanita ini benar-benar tinggi ilmu tenaga dalamnya, dan jurus-jurusnya pun cukup mematikan. Mari kita gunakan formasi Iblis Merah, dan kita serang secara bersama-sama wanita itu dengan ajian Iblis Merah pelebur nyawa." ucap ketua prajurit Iblis Merah.

**Ajian Iblis Merah Pelebur Nyawa**

"Hiyaaaaaattt.'"

Dan keluarlah sinar merah yang sangat panas dari masing-masing telapak Enam Belas Prajurit Iblis Merah, ajian ini bila di lihat seseorang dapat membutakan mata bagi orang yang belum cukup tenaga dalamnya. Ling pun menghindar dari ajian Iblis Merah ini dengan salto secara terbalik di atas udara.

"Huup."

Dan Ling sudah hinggap di dahan pohon.

"Sekarang giliranku, bersiap-siaplah untuk pergi ke neraka binatang-binatang terkutuk!" ucap Ling dengan nada bengis.

**Jurus Pedang Samber Nyawa**

"Heaaaaaa"

Dilemparkannya kan Pedang Tujuh Naga dari atas pohon, dan dengan sendirinya Pedang Tujuh Naga itu terbang di atas udara, lalu berputar-putar melesat dan menebas kepala-kepala prajurit Iblis Merah dengan sekejap.

Bruuk... Bruuuk... Bruuk !!!

Enam belas kepala prajurit Iblis Merah itu pun jatuh bergelindingan di tanah. Ling pun segera lompat mendarat kebawah dan memperhatikan kepala-kepala yang terpisah dari tubuhnya. Seketika itu juga dari arah belakang tiba-tiba Ling di kejutkan oleh serangan kibasan ekor Kayana Siluman Ular.

Deeeessshh !!!

"Huaaaaa, aku lawan tandingmu pendekar pedang sakti" ucap Kayana Siluman Ular.

Tubuh Ling terlempar jauh masuk ke dalam semak-semak. Lalu Kayana merubah dirinya kedalam bentuk manusia dan berlari melesat di atas dedaunan menyusul Ling yang terjatuh. Setelah melihat Ling yang tergeletak di semak-semak Kayana menyabetkan pedangnya ke tubuh Ling. Ling menghindar dan di sambutnya Kayana dengan tendangan harimau terbang racun kobra.

**Tendangan Harimau Terbang Racun Kobra**

"Hiyaaaaaattt."

Buuuuuuuk !!

Kayana jatuh tersungkur dan segera bangkit kembali.

"Dari mana kau dapatkan jurus racun kobra. Sepertinya kau memadukannya dengan jurus harimau." tanya Kayana Siluman Ular.

"Ha ha ha, apa pedulimu ular binal!" balas Ling memancing amarahnya.

"Keparaaatt, kau rasakan ini!" ucap Kayana sambil menyabetkan pedangnya.

"Hiyaaaaaattt."

Ling pun mencabut Pedang Tujuh Naga dari sarungnya, dan terjadilah pertarungan sengit diantara keduanya.

Traang... Traaang... Traang !!!

Ling menangkis setiap serangan pedang dari Kayana. Pedang tujuh naga dan pedang Kayana Siluman Ular beraduan dan menghasilkan suara yang Cumiikkan telinga. Lalu Kayana salto di udara dan memutar tehnik serangan pedangnya kearah Ling.

Sreeeeeeett...!!!

Sabetan pedang Kayana Siluman Ular mengenai kaki sebelah kanan Ling. Lalu mengeluarkan darah yang segar dari luka sayatannya.

"Ough"

"Ha ha ha... Hanya segitu saja kemampuanmu pendekar sombong, mati kauuuuu kali ini" teriak Kayana kembali menyabetkan pedangnya ke arah Ling.

"Heaaaaa"

Dengan luka sayatan di kaki kanannya membuat gerakan Ling menjadi sangat lamban. Ling pun menghindar serangan dengan berjalan terseok-seok.

"Hilang semangatku bertarung denganmu! kau terlihat seperti anjing pincang. Hahaha lebih baik ku kurangi rasa penderitaanmu hari ini pendekar." ucap Kayana kepada Ling.

"Heaaaaa"

"Mampusss kauuu!" teriak Kayana.

Ling segera mengatur nafas dan mengeluarkan jurus tendangannya.

**Tendangan Angin Puyuh Memutar**

Dessssss, desssss, dessssss!!!

Kayana pun terpental dan jatuh berguling-guling setelah dadanya terkena tendangan Angin Puyuh.

"Ough, keparaaatt kau! Terima ini ajianku." ucap Kayana Siluman Ular.

**Ajian Maut Iblis Merah**

Jedeeerrrrr !!!

Bruuuuuukk !!

Ling terpental dan hampir terperosok kedalam jurang yang curam. Dengan cekatan kedua tangannya meraih seikat akar yang tumbuh di pinggiran jurang.

"Huaaaa,... Tamatlah riwayatmu pendekar lemah." ucap Kayana dengan nada tawa penuh kemenangan.

Ling mengatur nafasnya dan mengayunkan jurus tendangannya dengan cara memutar.

**Tendangan Harimau Terbang Racun Kobra**

Dessssss !!

"Aaaaaa"

Dengan tendangan harimau terbang racun kobra dada Kayana melepuh dan dan gosong, kembali Ling memberikan serangannya dengan ajian mustika tujuh naga.

**Ajian Mustika Tujuh Naga**

"Heaaaaa"

Jedeeerrrrrrr !!!!

Tubuh Kayana pun ambruk ke tanah, dan tergeletak tak berdaya. Seperti orang yang kesetanan Ling kembali menyerangnya dan menebas kepala Kayana.

Sreeeeeeett...!!!

Sherrrrr !!!

Dari leher Kayana menyembur darah yang sangat segar, lalu berrpisahlah kepala Kayana dengan tubuhnya, dan secara tiba-tiba Kayana kembali kedalam wujud aslinya seekor ular raksasa.

Secara tiba-tiba terdengar suara yang belum nampak wujudnya.

"Huaaaa, cukup sakti kemampuan ternyata pendekar pedang." ucap Raja Iblis Merah.

"Keluar kau! aku tahu kau Raja Iblis Merah." balas Ling.

Dengan segera Ling mencabut pedang dari punggungnya.

"Kau rasakan ini pendekar kecil." ucap Iblis Merah.

Raja Iblis Merah melempar pedangnya kearah tubuh Ling. Dengan gerakan yang lincah Ling menangkis serangan pedang dari Raja Iblis Merah.

Traaaaaaaang !!!

Pedang Raja Iblis Merah pun kembali kepada tuannya, dan secara tiba-tiba Raja Iblis Merah sudah berada dihadapan Ling dengan menghunuskan pedangnya kearah Ling.

"Hiyaaaaaattt."

Ling bertarung dengan Raja Iblis Merah sama-sama menggunakan pedang.

Traaang, traang, traaaang !!

*Pukulan Iblis Merah*

Jlegaaaaarrrr !!!

Ling terdorong mundur kebelakang, dan dari mulutnya mengeluarkan darah segar akibat terkena pukulan Raja Iblis Merah di dada kirinya.

"Ough"
.
Lalu Ling duduk bersila dan memusatkan tenaga dalamnya. Pedang Tujuh Naga mengeluarkan tujuh warna sinar yang indah dan mulai bergetar hebat.

**Ajian pecah raga**

Ling membelah dirinya menjadi lima orang kembar dan langsung melesat menyerang Raja Iblis Merah.

"Heaaaaa"

**Jurus Pedang Tujuh Naga**

Taaaaang !!!

Pedang Raja Iblis Merah beradu dengan pedang tujuh naga. Dan akhirnya pedang Raja Iblis Merah patah menjadi dua bagian.

Keparaaaat !!!

**Pukulan Iblis Merah**

"Hiyaaaaaattt"

Jedeeerrrrrrr !!!

Ling loncat tinggi ke udara dan memutar tubuhnya. Lalu menyabetkan pedangnya ke leher Raja Iblis Merah.

Sreeeeeeett !!

Bruuuukk !!!

Tubuh Raja Iblis pun roboh ketanah dan kepalanya putus dari badannya.Terkena sabetan pedang tujuh naga. Tak lama kemudian kepala Raja Iblis Merah kembali menyatu pada badannya.

"Huaaaa, kau terkejut pendekar cantik." ucap Raja Iblis Merah.

Seketika Raja Iblis Merah langsung menghilang dan sudah berada di belakang tubuh Ling.

**Cakar Maut Iblis Merah**

"Hiyaaaaaattt."

Raja Iblis Merah membenamkan cakarnya di punggung Ling. Ling pun roboh Pedang Tujuh Naga terlepas dari genggamannya. Dengan sigap Raja Iblis Merah merebut Pedang Tujuh Tujuh Naga.

"Huaaaa, Pedang Tujuh Naga akhirnya dalam genggamanku." seru Raja Iblis Merah dengan nada tawa penuh kemenangan.

"Ling bangkitlah, cepat kau basmi Iblis Merah itu, kau penggal kepalanya jangan sampai menyentuh tanah." bisik batin Nenek Racun Kobra di kejauhan.

"Ough"

"Menebas kepalanya jangan sampai menyentuh tanah? sepertinya aku mengenal suara itu? Ooh iya, Nenek Racun Kobra, aku ingat" ucap Ling dalam keadaan tengkurap ditanah.

"Mantra menyusun daya
Daya mantraku
Mengunci semua daya
Daya mantraku
Pengendali Pedang
Tujuh Naga air terjun"


Ketika Raja Iblis Merah sedang mengamati Pedang Tujuh Naga di tangannya.Tiba-tiba Pedang Tujuh Naga bergetar dengan keras dan terlepas dari tangan Raja Iblis Merah, lalu terbang melesat pindah kedalam genggaman tangan Ling. Ling pun bangkit tubuhnya memancarkan sinar tujuh warna yang sangat terang.

**Jurus Pedang Naga Tujuh**

Ling terbang melesat dan menyerang Raja Iblis Merah lalu Pedang Tujuh Naga mengeluarkan sinar cahaya yang sangat menyilaukan. Raja Iblis Merah sudah siap menunggu serangan yang akan diberikan oleh Ling.Tetapi Raja Iblis Merah dibuat kebingungan oleh Ling , saat sudah saling berdekatan Ling memecah tubuhnya menjadi lima orang. Dengan cepatnya Ling menebas kepala Iblis Merah untuk kedua kalinya.

Sreeeeeeett !!!

Lalu kepala Iblis Merah di tancakap diatas dahan pohon yang runcing oleh Ling, dan bersiap untuk menghancurkannya.

"Aku tak'kan mati pendekar bodoh, huaaaaaa." seru Raja Iblis Merah dengan kesombongannya.

"Hanya tinggal kepala saja kau masih sombong, kau rasakan ini!" ucap Ling tanpa belas kasih.

**Jurus Naga Terbang Menghantam Guntur**

Jlegaarrrrrr...!!!

Kepala Raja Iblis hangus dan menjadi abu. Tinggallah potongan tubuh saja yang tergeletak di tanah. Lalu Ling menendang tubuh Raja Iblis Merah.

**Tendangan Naga Terbang Menghantam Guntur**

Jedeeerrrrrrr !!

Tubuh Raja Iblis pun hangus terbakar dan tak tersisa lagi. Setelah itu Ling segera menyarungkan kembali Pedang Tujuh Naga di balik punggungnya. Dan bergegas meninggalkan hutan mencari pemukiman desa.

By. Salim.
Diubah oleh salim357
mantap tulisan agan nih..
Wuhhh..keren gan...salut.lnjut gann
Quote:


Terima kasih, agan Lamak.
Semoga terhibur

emoticon-Imlek
Quote:


Terima kasih agan nyaah. Serem namanya... Semoga terhibur....!!
emoticon-Imlek
Quote:


sangat terhibur, btw cek kulkas gan ya, dan sukses selalu
Thnks agan lamak...
emoticon-Wakaka
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di