alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / ... / Gatra.com /
Hingga Oktober 2017, Nilai Ekspor Batik Lampaui US$51 Juta
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a3b6410c1cb17ec6f8b457b/hingga-oktober-2017-nilai-ekspor-batik-lampaui-us51-juta

Hingga Oktober 2017, Nilai Ekspor Batik Lampaui US$51 Juta

Hingga Oktober 2017, Nilai Ekspor Batik Lampaui US$51 Juta

Jakarta, Gatra.com - Industri batik berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor yang didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) ini mampu menyumbang devisa negara yang cukup signifikan dari ekspor.Kemenperin mencatat, nilai ekspor batik dan produk batik sampai Oktober 2017 mencapai US$51,15 juta (Rp 693 miliar) atau naik dari pencapaian semester I tahun 2017 sebesar US$39,4 juta (Rp 534 miliar). 

 
 
“Industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di pasar internasional. Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia,” kata Dirjen IKM Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih dalam keterangan tertulisnya, Kamis (21/12). Pasar ekspor utamanya ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.
 
Ia mengatakan hal tersebut pada Pembukaan Pameran dan Deklarasi Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) di Museum Tekstil Jakarta. 
 
Menurut Gati, perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai US$442 milyar menjadi peluang besar bagi industri batik untuk meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi.
 
“Batik telah bertransformasi menjadi berbagai bentuk fesyen, kerajinan dan home decoration yang telah mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai kelompok usia dan mata pencaharian di dalam dan luar negeri,” paparnya.
 
Hingga saat ini, industri kecil menengah (IKM) batik tersebar di 101 sentra seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan D.I Yogyakarta. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang.
 
Dalam upaya mendongkrak produktivitas dan daya saing IKM batik, Kemenperin telah melakukan berbagai program strategis, antara lain peningkatan kompetensi sumber daya manusia,  pengembangan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan, serta kegiatan promosi dan pameran batik di dalam dan luar negeri.
 
Guna meningkatkan akses pasar, Gati menambahkan, pihaknya memiliki program e-Smart IKM yang bekerja sama dengan beberapa marketplace. “Melalui program e-Smart ini produk batik didorong untuk memasuki pasar online, sehingga memiliki jangkauan pasar yang lebih luas karena dapat diakses oleh konsumen dari berbagai daerah,” jelasnya.
 
Kemenperin juga mendorong agar para perajin batik memperoleh berbagai fasilitas pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonsia (LPEI) dan insentif lainnya untuk memperkuat struktur modalnya. “Dengan demikian, diharapkan industri batik nasional dapat tumbuh signifikan dan daya saingnya meningkat,” imbuhnya.
 
Gati berharap, pengembangan industri batik nasional dapat dijalankan secara kolaborasi antara pemerintah dengan akademisi, pelaku usaha, dan komunitas. “Hal ini sangat penting karena setiap stakeholder tersebut memiliki peran yang berbeda, sehingga dengan sinergi ini pengembangan industri batik nasional akan terintergrasi dan sustainable dari hulu sampai hilir,” tegasnya.
 
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, industri batik telah berkembang menjadi sektor usaha yang ramah lingkungan seiring semakin meningkatnya penggunaan zat warna alam pada kain wastra tersebut. Hal ini juga menjadikan batik sebagai produk yang bernilai ekonomi tinggi, bahkan dengan pengembangan zat warna alam tersebut turut mengurangi importasi zat warna sintetik.
 
“Oleh karena itu, kami terus mendorong para perajin dan peneliti agar terus berinovasi mendapatkan berbagai varian warna alam untuk bisa mengeksplorasi potensinya, sehingga memperkaya ragam batik warna alam Indonesia,” tuturnya.
 
Menurut Menperin, di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis, preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat. “Kehadiran batik warna alam mampu menjawab tantangan tersebut dan diyakini dapat meningkatkan peluang pasar saat ini,” ujarnya.

 
 
Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Rosyid

Sumber : http://www.gatra.com/ekonomi/perdaga...aui-us-51-juta

---


- Hingga Oktober 2017, Nilai Ekspor Batik Lampaui US$51 Juta Potensi Surakarta Promosikan IKM Mebel untuk Perluas Ekspor
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
terbang tinggi menembus awan


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di