alexa-tracking

Kembalikan Napas Adinda

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a3b1c9a529a453b318b4567/kembalikan-napas-adinda
Kembalikan Napas Adinda
Kembalikan Napas Adinda
Dua bulan sudah berlalu dengan cepat. Adinda menunjukkan perkembangan yang pesat. Berat badannya bertambah. Lastri selalu menjaga bayi mungil itu dengan baik. Tangan mungil itu bergerak-gerak. Mata kecilnya menatap Lastri. Kemudian, Adinda menguap. Bayi memang sering sekali tidur. Ia hanya terbangun jika ingin makan, atau mengompol. Lastri menggendong dan menyusuinya. Tiba-tiba saja, Ia teringat pada ibu di Jakarta. Sejak menikah dengan Randy, ia langsung diajak pindah ke kota ini, Jambi. Lagi pula Randy bekerja di sini. Tak mungkin membiarkan Sang Suami pulang ke Jambi sendirian. Ia memutuskan untuk ikut bersamanya. Melaksanakan kewajibanya sebagai istri.
Sudah satu tahun lebih tinggal di Jambi. Rasa rindu pada sang ibu terasa begitu berdesak-desakan. Randy baru saja pulang dari kantor. Meletakkan tas dan langsung memberikan ciuman pada bayi mungil yang ada digendongan sang Istri.
“Abi, pasti lelah. Mau makan sekarang? Atau...”
“Sttt....sudahlah. Abi, bisa mengambil sendiri. Ummi Istirahat saja,” Randy mengelus kepala sang istri.
“Baiklah,” Lastri terdiam. Awan mendung menyelimuti wajahnya. Randy menangkap perubahan raut wajah sang istri.
“Ummi...ada apa?” Randy merasa ada yang tak beres dengan istrinya,”Bicaralah!”
“Ummi....cuman rindu pada ibu di Jakarta, Bi,”
“Oh...itu toh. Kalo begitu bulan depan kita nengok ibu. Gimana?”
Mendengar kata-kata yang terucap dari sang suami. Wajah Lastri berubah menjadi cerah. Awan mendung itu kini telah hilang. Berganti matahari yang bersinar terang. Ia bahagia sekali. Suaminya selalu memahami kemauan Lastri.
“Beneran. Bi?”
“Iya, makanya senyum dong. Abi kan baru pulang. Masa dikasih wajah muram,”
Lastri pun menghiasi bibirnya dengan senyum terindahnya.
“Maaf, seharusnya ummi tidak bersikap seperti itu!”
“Abi, ganti dulu baju, shalat dan makan dulu.”
“Kalo begitu, ummi siapin!”
Randy menggelengkan kepalanya. Ia menyuruh Lastri untuk duduk. Istrinya sudah bekerja seharian di rumah, ditambah mengurusi putri kecil mereka. Kebahagiaan bagi seorang istri adalah ketika mendapatkan suami seperti Randy. Dia benar-benar mengerti keadaan Lastri.
***
Terdengar suara pintu kamar ditutup, Randy keluar dari kamar. Kakinya melangkah ke arah ruang tengah. mengambil remote dan menyalakan televisi. Berita malam ini dipenuhi tentang asap yang menyelimuti Riau. Sudah beberapa minggu ini, kabut asap itu menyelimuti kota itu. Kebakaran hutan terjadi di mana-mana. Sudah banyak korban terkena ISPA. Beberapa relawan membuka posko untuk merawat penduduk terjangkit ISPA. Malah asap itu sudah mulai menyebar ke Jambi. Lastri mendekati sang suami
“Apa kerjanya pemerintah? Sampai tak bisa mengatasi kabut asap ini? Sudah banyak korban berjatuhan,”
“Menurut berita, kabut asap itu terjadi karena ulah manusia?”
“Bumi sudah semakin tua. Mungkin ini salah satu tanda kiamat,”
“Ummi tau dari mana?” goda Randy.
“Ummi kan pernah ngaji. Menurut keterangan mengatakan’bersegeralah kalian beramal sebelum enam perkara: terbitnya matahari dari arah barat, datangnya asap, munculnya dajjal, keluarnya ad-Dabbah(binatang yang dapat berbicara), kematian yang merata,’(HR. Muslim). Selain itu dalam firman Allah Swt, surat Ad-Dukhan ayat 10-11 menyatakan bahwa’Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih,” jelas Lastri.
Penjelasan Lastri memang benar, dunia ini sudah tua. Dan mungkin terlalu berat menanggung dosa-dosa manusia di atas bumi. Semakin bertambah usia bumi ini, bukannya semakin berkurang dosa. Malah sebaliknya.
***
Jambi siang ini, seperti senja saja. Kabut asap sudah menyelimuti kota tempat Randy dan Lastri tinggal. Hanya lima puluh meter, jarak pandang yang bisa ditempuh. Masker menjadi sahabat mereka yang paling setia. Udara segar sulit mereka dapatkan. Pada akhirnya beberapa orang sudah mulai terjangkit ISPA. Entah apa yang dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan Asap ini? Jika memang semua ini karena ulah manusia. Kenapa tidak diusut tuntas? Biar tidak bertambah lagi korban-korban lain.
Di depan pintu ICU, Lastri mondar-mandir. Putri semata wayangnya menjadi salah satu dari korban yang terkena gangguan pernapasan. Apa lagi Adinda baru berusia dua bulan. Asap kiriman dari Riau, tak seharusnya ia hirup. Terlalu banyak zat-zat berbahaya bagi kesehatannya.
“Lastri....” Randy berlari mendekati Lastri sambil berteriak,”Bagaimana keadaan putri kita?”
Tanpa menjawab pertanyaan Randy, Lastri langsung memeluknya dan menangis. Ia mendekap istrinya erat. Membelai kepala berbalut kain hijab. Memberikan kekuatan pada Lastri untuk bersabar. Walau pun sebenarnya, hatinya pun khawatir.
“Kenapa ini bisa terjadi Ummi?” Randy melepas pelukan sang istri.
“Ummi tak tau, Bi. Asap itu sudah membuat anak kita menderita. Napasnya terlihat sesak. Dia seperti akan kehabisan napas. Langsung saja Ummi bawa ke sini. Dan dokter membawanya ke ruang ICU,” Lastri kembali menangis di pundak Randy.
Randy terus menatap pintu ICU itu, berharap Adinda akan selamat dan sehat kembali. Tangan kokoh itu memegang tangan sang istri erat.
Tidaaak!!!
Terdengar jeritan seorang wanita dari ruangan sebelah. Semua orang bertanya-tanya, apa yang telah terjadi? Lastri dan Randy menghampiri asal teriakan itu. Seorang pria keluar dari ruangan itu. Raut wajahnya terlihat sedih. Randy menyuruh istrinya untuk menunggu di depan ruang ICU. Kemudian ia mendekati pria itu.
“Maaf, kenapa wajah Mas terlihat sedih?”Randy bertanya dengan hati-hati. Takut menyinggung perasaan pria itu.
Pria itu malah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ada beban berton-ton dihatinya. Randy memegang pundaknya. Menyalurkan kekuatan untuk bersabar. Di dalam ruangan masih terdengar tangisan. Pria itu masih saja enggan bercerita. Di sudut matanya terdapat genangan air. Semakin lama semakin banyak. Dan akhirnya tumpah ruah bagai hujan deras. Ia menangis.
“Tuhan benar-benar tak adil!” ujar pria itu menahan segala gejolak di hati.
“Kenapa Mas bicara seperti itu?
“Baru saja aku mendapatkan kebahagiaan. Tapi, kenapa Ia merampasnya lagi dariku? Kenapa Ia seakan mempermainkan hidupku? Kabut asap itu telah merenggut nyawa anakku,”tangis pria itu meledak.
Randy diam sejenak. Bingung apa yang akan dia katakan pada pria itu untuk menyemangatinya. Sedangkan ia pun mengalami hal yang sama dengan pria itu. Rasa takut mulai merasuk ke dalam hati.
“Kenapa, Mas?Kenapa......” tanya pria itu berteriak. Orang di sekitar ruangan itu merasa kasihan. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka tak bisa memberikan semangat. Semua pasien yang ada di rumah sakit ini, bisa sewaktu-waktu meninggal dunia. Akibat menghirup asap berbahaya itu. Melihat rakyat menderita, tak bisa menghirup udara segar. Pemerintah bungkam, tak melakukan apa-apa. Malah mereka mengurusi hal-hal yang tak penting. Sampai-sampai beberapa sekolah diliburkan. Kabut asap sudah semakin meluas dan tebal. Udara segar sulit untuk didapatkan. Sesak nafas, batuk, sudah menjangkit penduduk Jambi. Posko-posko dibangun. Masyarakat berbondong-bondong ke sana agar mendapatkan oksigen. Anak-anak lebih rentan terjangkit ISPA dan menjadi pasien terbanyak di rumah sakit.
“Sabar, Mas,” hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Randy,”Saya permisi, dulu. Lebih baik Mas masuk ke dalam. Kasihan istrinya,”
Terlihat ia menghelang nafas. Sejenak memejamkan matanya. menguatkan hatinya yang rapuh. Untuk pertama kalinya pria itu tersenyum padanya. ‘terima kasih’ kata itu keluar dari mulutnya. Randy membalas senyum itu dan menganggukkan kepala.
Ckerk...
Pria itu membuka pintu dan masuk ke dalam. Sambil menahan kesedihan, Randy menghampiri Lastri. Wajah Lastri pucat pasi. Seharian ini ia tidak tidur sama sekali. Makan enggan. Dipaksa untuk makan. Ia malah marah. Randy tak tega melihat istrinya seperti ini terus.
“Ummi, istirahat dulu! Ntar kalau Ummi sakit gimana?”
Lastri memandang kosong ke arah lantai.
“Ummi...” Randy memegang sang istri.
“Apa Adinda akan meninggalkan kita, seperti mereka, Bi” Mata senja itu mulai mengembun. Menyiratkan rasa takut kehilangan putri semata wayang mereka. baru dua bulan bayi kecil itu terlahir ke dunia fana ini. Udara segar yang seharusnya ia peroleh malah berubah menjadi udara kotor.
“Tidak, Ummi. Adinda akan baik-baik saja. Percayalah!” hibur Randy pada sang istri. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia merasakan hal yang sama dengan Lastri. Tak mungkin ia menunjukkan kelemahan hatinya sebagai seorang laki-laki. Ia harus menjadi sosok yang bisa menguatkan istrinya.
Pintu itu berbunyi. Dokter keluar dari ruang unit ICU. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang tak diharapkan. Pernyataan menyerbunya. Terutama Lastri, tak sabar menanti kabar Adinda.
“Dok, bagaimana keadaan putri kami?”
Bingung apa yang harus Dokter itu katakan. Ia hanya diam.
“Dok,...apa yang terjadi?” tanya Lastri emosi. Kenapa dokter seneng sekali bikin pasiennya jantungan. Apa sulitnya bicara yang sebenarnya? umpat hatinya.
“Kami sudah berusaha, Bu. Tapi ternyata putri ibu belum sadar juga,”
“Apa?!Abi....” Lastri tak mampu lagi menahan air matanya. Badan terasa lemas. Pertahanan tubuh sudah mulai melemah. Jika saja Randy tak ada di sampingnya. Mungkin dia sudah jatuh ke lantai.
***
Lastri termangu sendiri di kamarnya. Rasa kehilangan terus menghantuinya. Adinda putri yang selama tujuh tahun ini dinantikannya, kini telah tiada. Bayi mungil itu telah di panggil oleh-Nya. Asap itu telah merenggut kebahagiaannya. Lastri akan membuat sebuah surat. Tinta hitam itu merangkai sebuah kata yang keluar dari hatinya pada secarik kertas.
Surat Untuk Presiden
Pak presiden, sudah beberapa minggu ini kabut tebal menyelimuti kota Jambi. Sudah banyak korban berjatuhan, termasuk salah satunya adalah Adinda. Putri semata wayang kami. Jangan biarkan para generasi penerus bangsa menjadi korban. Sekolah-sekolah bahkan terpaksa diliburkan. Kebebasan kami seolah terbelenggu karena asap ini. Sampai kapan kami harus merasa sesak ketika menghirup udara kotor? Kami butuh oksigen. Jangan sampai Adinda-adinda diluar sana kehilangan nafas mereka. Kembalikan nafas kami...

Oleh Azizah Noor Qolam
Tambahin enter antar paragraf sis
Ini kyk curahan hati keluarga korban yaa...
Semoga Keluarga yang Ditinggalkan Diberi Kesabaran dan Keikhlasan...
Aminn.. emoticon-Turut Berduka
ahhh... bencana kabut asap, turut berduka untuk para korban..semoga tidak terulang lagi
Quote:


ok. itu di wordnya udah bener. tp pas di copas jadi gitu
Quote:


Aamiin