alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Aku Harus Kuat ( Romance )
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a354f1fdc06bd166d8b4569/aku-harus-kuat--romance

Aku Harus Kuat ( Romance ) [ TAMAT ]

Aku Harus Kuat ( Romance )

Makasih banyak buat agan na.hope yang udah buatin gambar ini
Dan untuk temen-temen yang udah membantu aku, terima kasih


Halo agan dan sista, jujur ini adalah cerita pertama saya. Mohon maaf kalo penulisan dan kata - katanya gak rapi mohon bimbingannya ya gan sis

Well, sebetulnya ini cerita adalah kisah saya sendiri tapi gak semua kisah saya, saya tulia di sini. Soalnya gak lucu juga kan gan. Kalo perbandingan 40% kisah nyata sisanya bumbu pelengkap aja ya gan.

Untuk nama jujur saya samarin soalnya untuk menjaga privasi mereka.

Well langsung aja ya gan

Prolog

Alhamdulillah, di saat aku sudah berhasil melupakan semua, perlahan tapi pasti kebenaran mulai muncul. Rahasia demi rahasia yang selama ini yang selalu kau tutupik perlahan telah terungkap seiring waktu.

Aku tahu sudah terlalu lama aku berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa ada yang tidak benar dengan semua ini. Dan sekarang setelah semua telah terungkap aku hanya ingin ucapkan TERIMA KASIH untuk semua...

Tolong cukup aku saya yang terluka, jangan ada lagi Anna lain yang tersakiti.

Tolong jaga keluargamu, jadilah kepala keluarga yang baik untuk keluarga dan anak-anakmu

Index
prolog
part 1
part 2
part 3
part 4
part 5
part 6
part 7
part 8
part 9
part 10
part 11
part 12
part 13
part 14
part 15
part 16
part 17
part 18
part 19
part 20
Part 21
Part 22
Part 23 ( Tamat )
Diubah oleh: monaria181
Halaman 1 dari 24
Part 1

Perlahan dan pasti, aku melangkah dari tempat tidurku. Mencoba untuk merenung dan berfikir. Mencoba ntuk menjauh dari memori masa lalu yang membawaku ke dalam gelapnya kehidupan.

Aku tahu, mungkin banyak dari kalian yang pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang ku alami saat ini.
Tapi aku sadar ini adalah hidup, yang terus berputar. Semua yang telah terjadi gak akan pernah bisa kita ulang kembali.

Kenalin aku " Anna ", aku adalah seorang single mother. Kehidupan ku hancur setelah melewati pahit manisnya hidup berumah tangga selama 5 tahun belakangan ini.

Pagi ini adalah babak awal dari perjalanan ku untuk memulai semuanya dari awal. Memulai kehidupan yang baru dengan status yang pasti kalian sudah tahu sendir

Dengan langkah gontai, perlahan ku buka jendela kamar dan menatap sekeliling dengan seksama

Ternyata selama ini banyak sekali waktu yang telah aku buang percuma. Ku hirup udara pagi dalam-dalam

" Ya Tuhan, ternyata selama ini aku hanya hidup dalam bayang-bayang seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah milik orang lain." Kataku dalam hati


Bersambung.....
Wah real story ne.
Panjangin lagi sis cerita'y
Quote:



Siap gan.... 👍🏽
Part 2

Tak terasa air mata jatuh di pipiku, rasa sakit yang teramat sangat sudah tak bisa ku bendung lagi. Semua kebohongan, kepalsuan, dan penghianatan yang dia buat tak sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan saat ini.

Sesaat aku tersadar dari lamunanku, mataku melihat sosok pria mungil yang tertidur pulas di atas tempat tidur.
Yaa dia adalah malaikat kecilku. Malaikat kecil pelipur laraku. Malaikat kecil yang tidak pernah tau apa yang sedang terjadi dengan kedua orang tuanya.

" Yaa Tuhan, mengapa ini harus terjadi kepada ku??" Kataku lagi dalam hati.

Ku berjalan mendekati malaikatku, dengan seksama kuliah wajah polosnya. Wajah polos seorang anak yang ditakdirkan harus menjalani masa sulit di usianya yang belia.

" Sayang, mama sayang banget sama Eki. Jangan pernah tinggalin mama ya sayang." Kataku sembari kucium keningnya.

Perlahan malaikatku membuka mata dan melihat ke arahku.

" Mama nangis?" Tanyanya polos
" Ehh, anak mama udah bangun." Jawabku sambil berusaha tersenyum dan mengusap air mataku
" Mama nangis yaa??" Tanyanya lagi
" Gak kok sayang. Tadi mata mama kelilipan debu. Jadi keluar air mata deh." Kataku berusaha menutupi
" Yaudah yuk bangun, udah jam 6 lho. Kamu harus sekolah kan sayang??" Kataku mengalihkan pembicaraan
" Nanti kalo telat sekolah mau?? Kan ini hari pertama kamu masuk tahun ajaran baru. Nanti kalo telat gak dapet bangku gimana??" Kataku lagi sembari membelai rambutnya
" Mama udah masakin aku air panas??" Katanya lagi
Akupun mengangguk sambil tersenyum.
" Mama masak apa??" Tanyanya lagi sambil beranjak dari tempat tidur
" Mama buat nasi goreng telur mata sapi kesukaan kamu. Udah yuk bangun, nanti mama siapin baju seragam kamu." Kataku lagi.

" Maa..." Panggilnya
" Iya sayang." Jawabku
" kok ayah gak pernah pulang?? Ayah marah ya sama Eki?? Ayah marah ya soalnya Eki selalu minta ayah buat beliin mainan baru buat Eki??" Tanyanya yang membuat aku kaget
" Emm, ayah lagi banyak kerjaan sayang. Nanti kalo kerjaan ayah udah selesai pasti ayah pulang." Jawabku
" Mama bohong, masa kerjaan ayah sibuk terus?? Udah lama ayah gak pulang. Ayah udah gak sayang mama, ayah juga gak sayang Eki juga." Katanya sambil cemberut
" Ehh sayang kok bilang gitu?? Dari mana sayang bisa bilang kalo ayah gak sayang sana kita??" Tanyaku sembari menyuapi sarapan


Bersambung...
Izin nyimak ceritanya sista
Quote:


Iya mari sis

Part 3 ( flashback 1 )

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru, mau gak mau aku harus stay di sekolah sembari nunggu malaikat kecilku
Huffftt tak terasa sudah lebih dari setahun aku menjalani kehidupanku seperti ini.


Masih teringat jelas dalam memoriku, dia sosok pria yang sangat aku cintai. Yaa dia adalah ayah dari malaikat kecilku.
Dia yang selalu buat aku marah, buat aku nangis dan dia yang telah menorehkan luka yang sangat sakit dihatiku


Fashback

February 2003

Dia, sebut aja Rizal, yaa nama itu masih terukir jelas dalam ingatan. Pertemuanku dengannya yang tanpa sengaja merubah jalan hidupku. Rizal yang tak lain dan tak bukan adalah sosok pria yang tanpa sengaja akan menjadi orang yang akan mengisi hari-hariku. Jujur waktu kuliah aku gak begitu mengenalnya.
Pertemuan yang tak diduga ini pula menjadi bencana dalam kehidupanku.

" Kamu Anna kan???" Tanyanya sambil memandangku
" Maaf kamu siapa ya??" Kataku yang berbalik bertanya kepadanya
" Kamu lupa sama aku??" Katanya lagi
( lupa?? Kenal aja gak ) kataku dalam hati
" Maaf kamu siapa sih?? Jujur aku gak kenal sama kamu." Kataku ketus
" Kamu temannya wiwied kan?? Anak MI universitas X di jogja??" Katanya yang berusaha membuatku mengingat-ingat
" Emmm, iya aku kenal wiwied. Kamu siapa yaa???" Tanyaku
" Aku tuh temannya wiwied, aku anak teknik. Masa kamu lupa??" Katanya lagi
" Ahhh iya aku inget. Kamu yang dulu pernah ngelempar aku pake bola basket itu kan??" Kataku
Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum
" Maaf ya itu gak sengaja." Katanya sambil memasang muka memelas
" Santai aja lagi. Ehh nama kamu Rizal kan??"
Tanyaku
" Iya. Sekarang udah inget kan??" Katanya sembari duduk di bangku sebelahku
Aku pun mengangguk.

Jujur gak sengaja aku ketemu lagi dengan Rizal di bis waktu aku mau pulang dari Surabaya.
Selama di perjalanan kita berdua ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon. Intinya kita kaya reuni tapi cuma berdua doang.

" Na kamu udah married belum??" Tanya dia tiba-tiba
" Married?? Sama siapa?? Kalo aku udah married gak mungkin lah aku sekarang cuma sendirian." Kataku
" Ooo, aku kira kamu udah married." Katanya lagi
" Kalo kamu Zal?? Udah married kah??" Tanyaku yang spontan membuatnya melihat ke arahku tajam
" Belum, nungguin kamu. Tapi kamunya cuek dari dulu." Jawabnya yang sontak buat aku kaget.
" Maksudnya??" Tanyaku yang merasa heran.

Jadi gini dulu setelah Rizal ngelempar bola basket ke aku, tanpa aku ketahui dia selalu memperhatikan aku. Bahkan yang gilanya lagi dia berusaha mencari informasi tentang aku dari wiwied. Yaa wiwied adalah sahabatku dari SMA. Mungkin karena aku yang terlalu cuek. Jadi aku gak terlalu perduli sama Rizal, secara fokus utama cuma pengen kelar kuliah trus kerja.

Pernah sih beberapa kali wiwied cerita kalo Rizal Pengen banget kenal deket sama aku. Tapi selalu aku tolak dan alasanku ingin fokus di satu tujuan yaitu lulus dan kerja

Gak terasa 30 menit kita terdiam. Mungkin dia juga ngerasa gak enak gara-gara ngomong kya gitu ke aku.
" Na..." Panggilnya
" Iya." Jawabku singkat
" Aku tuh suka sama kamu dari dulu. Aku tuh gak tau kenapa aku bisa suka sama kamu. Jujur aku pengen banget ngomong sama kamu, tapi kamunya terlalu cuek." Katanya yang berusaha memecah keheningan
" Iya, aku tau kok. Wiwied pernah cerita ke aku." Kataku tanpa melihatnya
" Aku Pengen kenal kamu lebih dekat. Aku pengen ngerti kamu Na." Katanya lagi
Sesaat kupandangi dia. Jujur aku baru sekali ini memandang dia dari dekat. Perlahan ku tatap kedua matanya. Jujur aku ngerasa rasa sayangnya Rizal ke aku tulua.
" Boleh...???" Katanya yang membuatku tersadar.
Dan entah dapat ilham dari mana akupun mengangguk pelan.

Dan tak terasa sudah setengah perjalanan kita lalu dengan cerita tentang kehidupan masing-masing setelah kita lulus.
Perlu di ketahui, dalam perjalanan kita satu arah, yang mana Rizal tinggal di salah satu kota di jawa Tengah. Kebetulan kota tempat tinggal Rizal gak jauh dari tempat ku tinggal. Bisa dibilang masih satu provinsi lah.

Kitapun saling tukar nomer hp untuk mempermudah komunikasi. Jujur saat itu ada rasa seneng dihati. Aku sendiripun gak ngerti kenapa bisa ngerasa kaya gini.

=====

Well, gak terasa sudah setahun kita komunikasi dan itu secara otomatis membuat hubunganku dan Rizal semakin dekat. Kadang dia mampir ke rumah untuk sekedar main. Atau untuk sekedar ngajak makan di luar

" Na.." Panggilnya
" Hmm.." Kataku yang saat itu masih asyik baca buku
" Kamu mau nikah sama aku??" Tanyanya dengan wajah serius
Sontak aku dibuat kaget oleh pertanyaan yang dia ajukan barusan
" Zal, kalo becanda gak kaya gini juga kali." Jawabku enteng sembari melanjutkan membaca buku
" Naa... Aku gak becanda. Aku serius... Aku Pengen nikah sama kamu Na." Katanya sembari mengambil buku yang sedang aku baca.
" Aku serius sama kamu Na. Aku sayang sama kamu. Aku serius pengen nikah sama kamu." Katanya lagi sambil menggenggam erat tanganku

Untuk info jujur kedekatan ku dan Rizal gak sepenuhnya diketahui orangnya Rizal. Dukungan pun hanya datang dari ibunya Rizal. Menurut cerita ibunya, ayah Rizal sudah menjodohkan Rizal dengan anak dari sahabatnya.

" Zal, kamu sadar gak?? Kamu udah jadi milik orang lain. Yaa walaupun kamu belum sepenuhnya jadi milik orang lain, tapi kamu sudah terikat dengan wanita itu." Jelasku
Jujur saat aku ngomong ke Rizal,sakit banget. Kaya ada sesuatu yang menyumbat di dalam hati.
" Aku tau, tapi aku hanya suka sama kamu Naa." Katanya meyakinkan ku
" Ok kamu sayang aku, trus kamu bisa apa?? Gak kan?? Mau gak mau kamu harus ninggalin aku Zal." Jawabku dengan suara bergetar.
" Aku bisa ngelakuin apapun untuk kamu Na. Aku mau nikah sama kamu. Aku gak peduli ayahku akan menentang ku atau mendukungku." Katanya lagi

Dan Saat itu juga Rizal mengandeng tanganku untuk masuk kerumah ku. Dan tanpa aku sangka dia langsung mengutarakan niatnya ke orang tuaku untuk menikahiku. Jujur aku seneng banget. Tapi ada rasa khawatir. Khawatir jika suatu saat Rizal akan ninggalin aku demi orang tuanya.


Bersambung....
Tenang sist kalo rizal ninggalin kamu ada aa disiniemoticon-Ngakak (S)
Quote:


Makasih Aa'
Maaf hari ini saya blm update, kerjaan numpuk

Mungkin besok baru update

Lam kenal Aa'
😂
Quote:



siap mbak ana...RL lebih penting.

Update sesempatnya aja, tapi jangan lama2 jugaemoticon-Ngakak (S)
Quote:



Siap Aa'...

Makasih masukannya ya Aa'
Part 4 ( flashback 2 )

Setelah pertemuan Rizal dan keluargaku kemarin, hubungan kami pun seolah-olah semakin mantap. Dukungan dari seluruh keluargaku pun memintaku untuk segera melangsungkan pernikahan.


5 Juli 2005, telah di tetapkan sebagai hari yang berbahagia untuk ku dan mungkin juga untuk Rizal.
Ya tepat tanggal 5 Juli 2005 kami akan melangsungkan pernikahan. Tepat tanggal 5 Juli 2005 pula awal bencana itu di mulai.

Seluruh keluargaku telah berdatangan sejak beberapa hari yang lalu. Sanak family pun telah berkumpul di rumah untuk mempersiapkan momen bahagia itu.
Tak terkecuali aku. Aku pun harus melakukan berbagai ritual mulai dari pinggiran, puasa dan siraman telah aku laksanakan. Dan tepat hari ini kami semua sudah disibukkan dengan berbagai persiapan.

Yaa tak terasa hari ini adalah hari terakhirku di rumah ini. Ku pandangi tiap sudut kamarku, kamar yang penuh dengan berjuta kenangan bersama keluargaku.
Tak terasa air mata mengalir dan membasahi pipiku

Tok.. Tok.. Tok
Terdengar pintu diketuk seseorang dari luar. Perlahan aku berjalan dan membuka pintu kamarku

“ Kakak udah siap??” tanya Lani
( Lani adalah adik kandungku, dia berpostur tubuh tinggi agak sedikit gemuk. Tapi putih. Dia adalah adikku yang paling dekat denganku. Mungkin karena usia kita yang terpaut hanya 2 tahun. Jadi kita bisa saling merasakan satu sama lain. Yaa Lano adalah tempatku berkeluh kesah dan berbagi cerita. Dia lebih dari sekedar adik untuk ku )
“ Sudah dek. Kakak sudah siap.” Jawabku
Lani pun menggandeng tanganku menuju ke ruang utama.
“ Kak, aku bakal sendirian dirumah.” Katanya berbisik
“ Kamu gak sendiri kok dek, kan ada mawar, ibu dan ayah.” Kataku berbisik pula
“ Iya tapi, Cuma kakak yang paling deket sama Lani kak.” Ucapnya lagi
“ Kakak akan selalu ada kok buat kamu dek.” Kataku sambil tersenyum

Akhirnya aku sampai di ruang utama, ku lihat semua keluarga sudah berkumpul di sana untuk menyaksikan momen sakral tersebut.
Ku lihat ada beberapa orang penghulu telah hadir dan duduk di sebuah meja. Dan di sana juga tampak Rizal dan ayahku telah duduk dalam satu meja tersebut.

Kulirik sekelilingku, yaa tampak meluruh mata melihatku yang saat itu duduk di samping Rizal.
Sesaat seorang penghulu sedang berbicara dengan ayahku entah apa yang merek bicarakan. Jujur saat itu aku tidak dapat berfikir, karena yang aku rasakan saat ini campur aduk antara bahagia dan sedih.

Beberapa menit kemudian pak penghulu memberi penjelasan kepada Rizal, dan momen sakral pun tiba

“ Saudara Rizal xxx bin xxx, saya nikahkan dan kimpoikan engkau dengan Anna xxx binti xxx dengan mas kimpoi seperangkat alat Shalat dan uang sebesar 10 juta rupiah di bayar tunai.” Ucap pak penghulu melalui mikrofon
“ Saya Rizal xxx bin xxx terima nikah dan kimpoinya Anna xxx binti xxx dengan mas kimpoi tersebut dibayar tunai.” Ucap Rizal yang tak kalah tegasnya melalui mikropon
“ Bagaimana saudara sah???” tanya pak penghulu
“ Sah......” ucap seluruh keluarga yang hadir saat itu bersamaan.
Setelah selesai ijab kabul pak penghulu pun berdoa dan saling berjabat tangan dengan kami dan seluruh keluarga


Yaa itu adalah kata-kata yang masih terdengar jelas di telingaku hingga saat ini.


Tak terasa sudah lebih dari setahun aku hidup bersama Rizal. Yaa Rizal ya g sekarang menjadi suami sekaligus kepala keluarga ku.

“ Mas....” panggil ku
“ Iya sayang.” Jawab Rizal
“ Ayah masih marah ya??” tanyaku
“ Siapa yang bilang, sayang?” tanya Rizal kembali
“ Yaa, gak ada sih mas, Cuma perasanku aja yang bilang kaya gitu. Soalnya selama setahun belakangan ini ayah gak pernah ngobrol sama aku. Jangankan ngobrol, senyum pun gak mas.” Jawabku menjelaskan
“ Yaa mungkin masih ada yang difikirkan, sayang. Udah deh gak usah mikir aneh-aneh.” Kata Rizal lagi. Aku pun hanya mengangguk.
Dan aku pun langsung berjalan menuju dapur.
Tapi tiba-tiba

Prankkkkk......

Aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

“ Sayang....” panggil rizal lembut di telingaku dan menyadarkanku. Perlahan aku membuka mataku dan melihat sekelilingku.
“ Mas, aku kenapa??” tanya ku heran
“ Sayang, kamu jangan terlalu capek yaa. Pokoknya jangan pernah mikir yang gak-gak. Kamu harus makan yang banyak, dan harus istirahat yang cukup.” Katanya lagi menjelaskan.
“ Mas, kol aku malah tambah bingung yaa??” tanyaku yang saat itu jujur masih bingung
“ Masa kamu tetep gak ngerti??” tanya dia seperti meledekku
Akupun mengangguk
“ Kamu kenapa gak bilang kalo kamu udah telat datang bulan sebulan ini??” tanya rizal lagi sedikit cemberut.
“ Sebetulnya aku Pengen banget cerita tapi, aku belum dapet hasil tes nya mas.” Kataku lagi
“ Sayang sebentar lagi kamu akan jadi ibu.” Katanya di telingaku lembut. Sontak aku pun langsung memeluk Rizal dan berdoa.
“ Kamu serius mas?” tanyaku yang masih gak percaya dengan berita kehamilanku
“ Iya seriuslah. Kan hasil tesnya udah ada.” Kata Rizal sembari memberikan hasil tes kehamilan kepadaku.

Jujur saat itu aku bahagia banget. Aku berharap berita kehamilanku bisa membuat ayah dan mama mertuaku bahagian.

Tiba-tiba mama dan ayah mertuaku datang dari balik pintu. ( kok bisa pas yaa, padahal aku baru aja mikirin mereka ) kataku dalam hati

“ Gimana Zal?? Istri kamu sehat kan??” tanya mama yang saat itu terlihat kawatir
“ Baik kok maa, maa bentar lagi mama dan ayah akan jadi nenek dan kakek.” Kata Rizal bahagia
Kulihat kebahagian terpancar dari wajah mama mertuaku. Tapi itu berbanding terbalik dengan ayah mertuaku.

Dan tiba-tiba ayah pergi dan di ikuti oelh mas Rizal.
Lumayan lama akhirnya mereka kembali.
Tapi yang membuatku aneh, raut wajah mas Rizal berbeda dari sebelumnya. Dia terlihat sedih. Aku gak tau apa yang sebetulnya terjadi antara ayah mertuaku dan mas Rizal.

Bersambung...
Diubah oleh monaria181
Di edit lagi sist, itu tulisannya double !!

lajutkaaann
Quote:



Siap gan

Part 5 ( flashback 3 )


Maaf lama gak update, soalnya banyak kegiatan di sekolah menjelang pergantian tahun dan semesteran. Jadi harap maklum ya readers

Ok lanjut ke cerita


Oktober 2006, tepat bulan oktober 2006 usia kehamilanku memasuki bulan ke 3. Bahagia, selalu terpancar dari wajah mas Rizal. Dia tak pernah lupa untuk mengusap perut ku dan menciumnya. Mungkin para reader terutama pria akan merasakan kebahagian seperti yang mas Rizal rasakan saat itu.

" Sayang, kamu udah sarapan???" Tanyanya pagi itu
" Emm, udah mas. Tadi mama yang membawakan sarapan pagi untuk ku." Jawabku
" Oohh, yaudah kalo kamu udah sarapan. Inget kata dokter ya sayang, jangan terlalu capek." kata mas Rizal lagi sambil mengusap perutku
" Iya mas sayang. Mas, kamu hari ini ada acara gak??" Tanyaku lagi
" Kayaknya gak ada, kenapa sayang? Kamu mau aku beliin sesuatu gitu??" Tanya mas Rizal lagi
" Gak mas.... Mas lupa ya hari ini kan jadwal pemeriksaan kandunganku. Anterin yaa mas." Ucapku manja
" Ohhh, iya aku sampe lupa. Iyaa sayang, nanti mas anterin. Sayang mas berangkat kerja dulu ya. Jaga diri kamu ya, jangan terlalu cape, jangan mikir yang gak2." Ucap mas sambil memeluk dan mencium keningku dan berlalu

Aku pun bergegas menuju dapur dan membereskan piring yang ada di meja makan. Dan tiba-tiba entah mengapa aku merasakan sakit perut yang hebat. Akupun duduk di kursi makan sambil memegangi perutku. Dan saat itu juga mama mertuaku datang

" Anna, kamu kenapa sayang???" Tanya mama yang saat itu melihatku menahan sakit sembari memegangi perutku
" Gak tau mah, perut anna sakit banget." Jawabku masih menahan sakit
" Udah kamu balik ke kamar aja, istirahat. Nanti biar mbak rum yang beresin semuanya." Jawab mamah lagi
Terlihat rasa cemas di wajah ayu mama mertuaku. Dan saat itu juga mamah menggandengku menuju kamar

" Mbak Rum....... Tolong beresin meja makan ya......" Ucap mamah
" Nggih bu." Jawab mbak rum uang datang dengan berlalu kecil.

Mamah pun memintaku untuk berbaring dan istirahat. Jujur saat itu rasa sakit yang aku rasa, sakitnya melebihi sakit teriris pisau.
Dan tiba-tiba aku merasa ada cairan yang keluar dari vaginaku. Yaah cairan yang berwarna merah pekat....

" Maah, ini apa??" Tanyaku sambil menujuk kakiku yang berlumuran darah
" Astagfirullah, Anna kenapa bisa begini??" Mamah malah bertanya kepadaku
Akupun hanya menggelengkan kepala...
" Maah, sakit banget perut Anna." Jawabku sambil menangis dan menahan sakit

Saat itu aku gak tahu lagi apa yang terjadi, kesadaranku hilang. Gelap, saat itu aku hanya berdoa dalam hati " Tuhan tolong jaga bayiku."


======


Samar-samar aku mendengar suara mamah yang sedang berbicara dengan seseorang.

" Yang sabar yo le, belum rejekine. Mungkin tahun depan akan dapat momongan lagi."

Deg... Maksud mama apa??? Fikirku

Perlahan ku buka kedua mataku, kulihat mas Rizal duduk didekat ku sambil menahan tangis. Ku lihat mamah juga ada di samping mas Rizal

" Mas aku dimana??" Tanyaku
" Sayang, kita di rumah sakit. kamu harus istirahat dulu ya sayang. Jangan terlali banyak fikiran." Jawab mas Rizal sambil membelai keningku
Tampak rasa sedih yang sangat mendalam di wajah mas Rizal.
" Mas aku kenapa??" Tanyaku lagi
Sesaat suasana hening dan perlahan air mata pun tumpah dan mengalir di kedua pipi mas Rizal
" Sayang, maaf mas gak bisa jaga kamu. Mas juga gak bisa jaga anak kita." Jawab mas Rizal yang masih menangis
" Maksud mas apa??" Tanyaku yang masih belum paham
" Sayang, kita kehilangan bayi kita. Kamu keguguran sayang...." Ucap mas Rizal sambil memelukku
Saat itu juga aku menangis sejadi-jadinya
" Gak mungkin mas, gak mungkin." Ucapku yang masih belum percaya dengan kabar yang aku dengar
" Sayang, kamu harus kuat. Kalian masih ada kesempatan untuk mempunyai anak lagi." Kata mamah yang mencoba untuk menenangkanku
" Sayang ini cobaan untuk kita. Mungkin belum rejeki kita untuk mendapatkan amanah ini sayang." Kata mas Rizal yang masih tetap memelukku
" Kamu yang tegar ya sayang. Mas yakin kita pasti akan punya anak." Ucap mas Rizal lagi

Saat itu aku tak bisa menahan tangis dan sedihku. Keinginanku untuk mempunyai momongan harus kandas, karena pada saat itu kondisi rahim ku yang lemah

Mas Rizal pun tak pernah berhenti untuk menghiburku dan membuatku tersenyum
aku yakin mas Rizal pun sama terpukulnya dengan ku. Tapi.... Mas setegar apakah hatimu? Hingga kau pun dapat menahan rasa sedih seperti ini??? Kataku dalam hati


======

Akhirnya dokter pun memperbolehkan ku pulang. Tak terasa 4 hari aku di rawat di rumah sakit. Aku rindu dengan kamarku.

" Sayang istirahat yaa." Kata mas Rizal sambil mencium keningku
Aku pun mengangguk

Tok... Tok... Tok
Terdengar pintu kamarku di ketuk dari luar. Mas Rizal pun langsung berjalan dan membukakan pintu.

Tampak ibu dan ayahku serta kedua adikku berdiri disana. Mas Rizal pun mempersilahkan mereka masuk. Tak lupa mas Rizal mencium tangan kedua orang tuaku. Sesaat tangisku pun pecah. Ibu ku memelukku erat.

" Sabar sayang. Mungkin belum rejekinya. Insyaallah tahun depan kamu bisa hamil dan punya anak lagi." Ucap ibuku sambil membelai rambutku
" Iya nok, betul kata ibu mu itu, udah gak usah khawatir, insyallah tahun depan kamu akan hamil dan punya anak lagi." Ucap ayahku lagi

Jujur perkataan ayah dan ibuku bagai air di padang pasir. Begitu menyejukkan hati.

" Ibu tahu berita ini dari siapa??" Tanyaku
" Dari Nak Rizal, dia telp ibu beberapa hari lalu. Sebetulnya ibu mau menjenguk kamu di rumah sakit, tapi sama ayahmu gak boleh. Katanya biar kamu tenang dulu." Ucap ibu menjelaskan
" Sekarang kamu gak usah berkecil hati, berdoa terus sama yang diatas. Mudah- mudahan tahun depan kamu bisa hamil dan punya anak lagi." kata ibu lagi
Akupun mengangguk

Mas Rizal dan adek-adekku asik mengobrol membicarakan masalah lain. Yaaa mas Rizal sudah seperti kakak mereka sendiri, begitu akrab dengan semua keluargaku.

" Nduk, kamu istirahat aja, ibu sama ayah keluar dulu. Kamu ndak usah takut, ibu sama ayah menginap beberapa hari di sini. Jadi kamu gak udak khawatir yaa." Kata ayah sambil melirik ibu.
" Iya kak, aku masih kangen kakak." Jawab kedua adikku bersamaaan.
Aku pu tersenyum mendengar mereka
Diubah oleh monaria181
Part 6 ( flashback 4 )


Tak terasa sudah lebih dari setahun aku kehilangan bayi ku. Dan kabar baik pun datang tepat setelah satu tahun masa berduka kami. Yaaa tepat satu tahun akhirnya berita baik pun datang. Aku kembali hamil dan mengandung anak kedua kami. Bahagia???? Jelas kami berdua sangat bahagia
Khawatir??? Tentu kami berdua pun merasa sangat khawatir, terutama mas Rizal yang begitu khawatir akan kondisi ku saat itu.

Bagaimana dengan keluarga kami???? Yaa mereka sangat senang dan bahagia. Tapi tidak dengan ayah mertuaku. Sejak pertama aku menginjakkan kaki di rumah mas Rizal, saat itu juga rasa acuh dan tak peduli ayah mertuaku kepadaku tumbuh.

Jujur aku ada rasa khawatir dan takut dalam hatiku, takut jika suatu saat ayah mertuaku memintaku untuk bercerai dari mas Rizal. Tapi rasa khawatir dan takut ku perlahan memudar seiring berjalannya waktu. Tapi tidak untuk saat ini.


" Sayang......" Kata mas Rizal lembut di telingaku yang membuyarkan lamunanku
" Ehhhh, iya mas." Jawabku singkat
" Kamu lagi mikir apa sih??? inget jangan mikir yang berat-berat. Jaga kehamilan kamu yang sekarang. Mas gak mau kita......." Langsung ku tutup mulut mas Rizal dengan jari telunjukku
" Iya mas, Anna ngerti. Anna akan jaga anak kita." Kataku sambil tersenyum.

======

April 2008, kehamilanku memasuki bulan ke tujuh, mungkin bagi readers yang berasal dari daerah jawa pasti sudah pernah mendengar istilah " mitoni ". Yaa tepat bulan ini seluruh keluarga ku berkumpul untuk mengadakan acara mitoni.

Seluruh doa dari keluarga besar ku dan juga mas Rizal berkumpul untuk mendoakan kesehatan serta keselamatan untuku dan bayiku.

Readers, Tuhan maha adil, beberapa waktu yang lalu aku sempat kehilangan bayiku, tapi saat ini tuhan memberiku tak hanya 1 tapi 2 bayi sekaligus. Yaa aku mengandung ayi kembar saat itu. Seluruh keluarga bersyukur dengan berita ini terlebih lagi nas Rizal.

" Sayang, dulu kita pernah kehilangan. Tapi sekarang Allah memberikan kita kebahagian yang berlipat ganda. Mama doakan semoga kamu dan bayimu selalu sehat." Kata mama yng memulai memberikan doanya kepadaku
" Iya Nok, ibu seneng sekali. Akhirnya ibu akan mendapat cucu. Itupun gak hanya 1 tapi 2." Ucap ibu k
" Ayah akan jadi eyang kakung......" Jawab ayahku dan kami pun ter tawa bersamaan
" Nak Rizal, jaga istrimu baik-baik." Kata ayahku lagi
" Siiiiiaaaaap yaaahhh." Kata mas Rizal pasti

Hari itu kita semua bersuka cita. Seluruh acara dan doa berjalan hikmad. Tapi kebahagian itu tak ku lihat di wajah ayah mertuaku. Dia seolah-olah sibuk dengan urusannya sendiri.

" Rizal bisa ikut ayah sebentar." Kata ayah mertuaku
" Iya yaa." Jawab mas Rizal sembari berlalu mengikuti ayahnya

Sejenak ku lirik ayah dan mas Rizal yang sedang berbicara. Tampak ayah mertuaku memarahi mas Rizal, kulihat jelas wajah marah ayah mertuaku. Kulihat pula mas Rizal beradu argumen dengan ayahnya dan beberapa saat mas Rizal tertunduk. Sadar aku memperhatikan mereka, mas Rizal menatapku dan tersenyum. Tapi senyum yang ku lihat berbeda dari senyum yang biasanya. Tampak ada sesuatu yang berusaha dia sembunyikan dariku.


=====


" Mas...... Sakit......." Kataku sambil menahan sakit
" Iya sayang, sabar yaa. Bentar lagi kita sampai kok." Kata mas Rizal yang masih fokus pada kemudinya.
" Mas, aku gak kuat." Kataku lagi yang saat itu sedikit menangis menahan rasa sakit di perutku.
" Iya, ini mas juga udah berusaha ngebut sayang." Kata mas Rizal lagi

Saat itu pukul 2.40 pagi adalah hari persalinan ku. Sulit memang mengambarkan rasa sakit yang ku rasa saat itu. Tapi mungkin para readers yang sudah menikah dan menpunyai anak pasti sudah merasakannya.

Akhirnya sampai juga di rumah sakit khusus ibu dan anak. Mas Rizal pun mengendongku. Kebetulan saat itu ada dokter jaga. Jadi saat mereka minat mas Rizal mengendongku dengan sigap mereka berlari keluar dengan kursi roda dan mendorong ku menuju ruang persalinan. Jujur saat itu sakitnya bukan main, mau tidur susah, berdiri sakit, duduk pun sakit. ( mungkin ini kali yaa kenapa kita gak boleh durhaka sama orang tua terutama ibu ).

" Mas sakit." Kataku sambil menangis.
Mas Riz
" Iya sayang, sabar yaa." Kata mas Rizal sambil menggenggam tanganku. Saat itu tampak jelas rasa cemas yang terlihat dari wajahnya mas Rizal.
" Mas aku gak kuat, mas. Sakit." Kataku sambil memegang perutku
" Mas aku gak kuat." Kataku

Saat itu mas Rizal memanggil dokter jaga untuk mengecek kondisiku.
Dokter pun melakukan pengecekan pembukaan yang terjadi padaku.

" Sabar ibu, masih pembukaan 4. Masih lama untuk proses melahirkan. Kalo bisa ibu istirahat aja." Kata dokter tersebut
" Dok, gimana mau istirahat. Saya cuma ngerasain sakit dok." Jawabku yang agak emosi saat itu
" Iya ibu saya tau, tapi kalo ibu tidak istirahat agaimana ibu akan kuat saat proses melahirkan nanti??" Tanya dokter itu lagi
" Dokter ada gak obat untuk mengurangi sakitnya??" Tanya mas Rizal
" Pak semua orang yang ingin melahirkan akan merasakan sakit, tapi untuk kuat tidaknya tergantung dari individunya." Jelas dokter itu
" Tapi saya gak tega dok." Ucap mas Rizal
" Kita tunggu 1 jam ya pak, kalo kondisi istri bapak masih seperti ini dan kondisi bayi menurun, maka mau tidak mau harus kita lakukan operas Caesar." kata dokter menjelaskan

" Piye le???" Tiba-Tiba mama mertuaku datang
" Maa, kata dokter kita harus nunggu dulu." Kata mas Rizal
" Yawes di tunggu aja dulu. Lak bayi dan ibu sehat too?" Tanya mamah
" Ya itu maah, kita harus nunggu dulu. Rizal takut mah." Kata mas Rizal lagi
" Lah nek kowe takut, sing menyemangati istrimu sopo??" " Kowe kudu kuat le, kancani istrimu sampai anakmu lahir. Dulu mama ya kaya gitu pas melahirkan kamu." Jelas mama
Mas Rizal pun mengangguk. Akupun masih tetap sama merasakan sakit.


=====

Tepat pukul 7.00 anakku lahir, agak sulit memang karena aku bersikeras meminta persalinan normal. Awalnya mas Rizal menolak permintaanku, tapi aku tetep minta untuk persalinan normal.

" Mas, aku gak mau operasi. Mau mau normal mas." Kataku sambil menangis
" Sayang apa kamu kuat untuk persalinan normal?? Mas gak mau terjadi apa-apa sama kamu dan bayi kita." Ucap mas Rizal
" Pokoknya aju mau normal, mas." Kataku yang sedikit mengeden.

Akhirnya mas Rizal pun menuruti ku dengan satu catatan jika aku tidak kuat, mau tidak mau, operasi caesar adalah jalan akhir.

Dan telat jam 7.00 pagi, kedua bayi kembarku lahir
Kedua jagoanku lahir dengan proses normal, namun berat keduanya terpaut jauh.
Eki lahir dengan berat 2,05 kg dan panjang 44 cm sedangkan saudara kembarnya Erdi hanya 1,85 kg dengan panjang 40cm. Kondisi keduanya pun berbeda. Salah satu bayi ku harus hidup dalam tabung inkubator karena berat badan yang kurang. Saat ku dengar tangisan dari kedua anak kembarku, jujur saat itu sudah sempurna kehidupanku.
Saat itu pikiran ku hanya ingin anak kembarku yang laun selamat dan sehat. Aku ingin kedua anakku sehat......

Tapi, keinginanku tidak sepenuhnya terwujud. Belum genap usia mereka 2 bulan, saudara kembar Eki harus pergi selamanya. Dokter bilang pembentukan saluran pernafasannya belum sempurna,dan ada beberapa gangguan pencernaan yang dialami oleh Erdi. Prediksi dokter saat itu menyebutkan Erdi tidak akan bertahan lebih dari 2 bulan. Dan ternyata semua itu benar. Aku kehilangan Erdi kecilku.

=======

Bulan pun berlalu tak terasa Eki pun sudah menginjak usia 3 tahun. Yaa saat itu adalah hari yang tidak akan pernah aku harapkan dalam hidupku.

Tepat saat ulang tahun anak kami, saat itu pula bencana datang. Saat pesta ulang tahun anak ku, ayah mertuaku datang dengan seorang gadis, yaa seorang gadis. Dan gadis itu tak lain dan tak bukan adalah anak dari teman kerja ayah mertuaku yang telah dijodohkan ayah mertuaku untuk menjadi istri mas Rizal

" Anna, kenalin ini dita anak teman ayah." Kata ayah mertuaku. Saat itu aku hanya memandangi ayah mertuaku. Ku lihat mas Rizal pun kaget saat melihat ayah mertuau mperkenalkan dita denganku.
" Siapa ini ayah?? Kenapa ayah mengenalkan dita ke aku??" Tanyaku
" Seharusnya kamu ngerti maksud ayah. Seharusnya yang jadi menantu ayah saat ini dita bukan kamu."jawab ayah mertuaku, yang saat itu juga membuatku kaget.
" Mak...maksud ayah apa???" Tanyaku lagi
" Iya, dia adalah istri baru dari Rizal." Terang ayah mertuaku

Bagai di sanbar petir di suang bolong. Perkataan ayah mertuaku bagaikan pedang yang menusuk langsung ke jantungku.

" Rizal gak mau menceraikan kamu, tapi Rizal juga gak mau menolak kemauan ayahnya sendiri. Apa Rizal tidak cerita kepadamu???" Tanya ayahku
Akupun hanya menggeleng. Tak terasa air mata pun jatuh di pipiku. Bencana yang awalnya sirna dari fikiran ku akhirnya terjadi juga

" Kamu sudah tau sekarang, sekarang terserah kamu. Ingin hidup seperti sekarang atau bercerai dari suami mu??" Tanya ayah mertuaku lagi
Aku hanya bisa terdiam dan membisu
Kulihat wajah polos anak lelakiku. Dia begitu bahagia dengan pesta ulang tahunnya. Ku lihat wajah suami ku, dia adalah orang yang selama ini hidup bersamaku, tapi mengapa dia yang sangat aku cinta melakukan ini semua???
Ku lihat wajah ibu dan ayahku. Mereka begitu bahagia dengan acara ini
Kupandangi seluruh isi ruangan ini dan entah mengapa tiba-tiba gelap.

" Mama...mama...." Kata-kata ini yang kudengar perlahan di telingaku
Ku coba membuka mata, ku lihat suami dan keluargaku berkumpul.

" Sayang kamu kenapa??" Tanya mas Rizal lembut
" Sayang kamu kenapa??" Tanya mamah mertuaku
" Nok, kamu sehat too??" Tanya ibu ku
" Jawab Anna...." Kata ayahku
Saat itu aju hanya diam dan menangis
" maah, ibu ayah... Tolong tinggalin Anna sama mas Rizal berdua. Anna mau bicara berdua dengan mas." Kataku sambil terisak
Merekapun bingung dengan ku saat itu
" Tapi kenapa sayang??" Tanya ibu ku
" Bu, Anna mohon tolong tinggalin Anna dengan mas Rizal. Anna mohon." Jawabku lagi sambil menangis

Akhirnya dengan berat hati mereka meninggalkan ku berdua dengan mas Rizal

" Mas, jawab aku jujur. Sudah berapa lama mas berbohong sama aku?? Sudah berapa lama mas menutupi pernikahan mas dengan dita?? Sudah berapa la lma mas???" Tanyaku yang masih menangis
Saat itu mas Rizal sangat kaget mendengar pertanyaanku. Beberapa saat dia pun terdiam
" Jawab aku mas. Jawab aku." Tanyaku lagi yang sedikit berteriak
Mas Rizal mendekat dan hendak membelaiku, tapi ku tepis tangannya sebelum tangannya berhasil menyentuh rambutku.
" Jawab aku mas, jawab aku. Kamu janji gak akan nyakitin aku. Tapi hari ini kamu jahat mas, kamu jahat." Kataku lagi masih sambil menangis
" sayang......."
" Jangan panggil aku sayang, mas. Jawab pertanyaanku." Kataku membentak
" Ok baik, kalo itu mau kamu. Aku terpaksa Na, ayah menyuruhku menceraikanmu saat itu. Tapi aku menolak nya. Aku sudah berkali-kali meminta ayah untuk membatalkan perjodohan antara aku dan dita, tapi ayah tetap pada pendiriannya. Aku gak mau kehilangan kamu Na dan aku juga gak mau membuat ayah bangkrut. Perjodohan ini tak lain dan tak bukan adalah untuk menutup hutang ayahku.jujur aku sayang sama kamu Na. Aku cinta sama kamu." Terang mas Rizal
Saat itu aku tak bisa menahan tangisku
Aku terus menangis sejadi-jadinya
" Ini yang aju takutkan mas, sekarang apa yang aku takutkan dari dulu terjadi. Jika aku tau akan kayak gini, aku gak akan setuju untuk nikah sama kamu mas." Kataku masih sambil menangis
" Kamu harus milih mas, aku atau ayahmu."
Kataku
" Na, tolong jangan memintaku untuk memilih, karena aku gak akan bisa untu memilih keduanya." Jawab mas Rizal
" Tapi kamu harus memilih mas." Kataku lagi
Mas Rizal pun hanya diam
" Aku gak bisa hidup kaya gini mas, dari awal ayahmu udah gak pernah suka sama aku. Dari awal ayahmu gak pernah setuju dengan pernikahan kita." Ucapku lagi
" Jadi lebih baik, aku yang mengalah mas. Aku mohon tolong ceraikan aku." Kataku
" Kamu gila Na bilang kaya gitu?? Kamu sadar dengan ucapanmu barusan???" Tanya mas Rizal yang langsung memelukku
" Aku gak akan pernah menceraikanmu, Na. Gak akan pernah." Ucap mas Rizal lagi
" Kalau mas gak mau menceraikanku, berarti mas lebih suka melihat aku mati sperti ini." Jawabku lirih
" Kamu jangan nekat Na." Kata mas Rizal
" Jika mas sayang sama aku, tolong ceraikan aku, ijinkan aku untuk bebas mas. Aku gak kuat untuk hidup seperti ini."kataku memohon
" Baik, kalo itu mau kamu. Tapi aku gak akan pernah mau menceraikan kamu." jawab mas Rizal dan langsung berlalu meninggalkan aku sendiri


Bersambung....
Berat juga yaa punya mertua seperti itu...sabar ya sist
Bapak" jaman now diatas sudah menebar jaran goyangemoticon-Blue Guy Bata (L)


tante sabar ya,tante kuat kokemoticon-2 Jempol sedih saya bacanya tantemoticon-Mewek yang kuat ya tante,semoga selalu diberi kelancaran untuk kedepannya yaemoticon-Leh Uga
kok suami mbak anna tega ya?
jadi inget quote seseorang "lawan aja ortumu kalo emang dzalim (menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya), durhaka itu urusanku sama Tuhan"
Halaman 1 dari 24


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di