alexa-tracking

Perjuangan Hidup Seorang Ibu Pincang dalam Menafkahi Keluarga

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a34c0d932e2e6b60c8b4568/perjuangan-hidup-seorang-ibu-pincang-dalam-menafkahi-keluarga
Perjuangan Hidup Seorang Ibu Pincang dalam Menafkahi Keluarga
Ada seorang ibu yang bernama Ponem. Ibu itu berusia 59 tahun. Ponem tinggal di Dusun Sermo Sumberarum Moyudan Sleman. Dia seorang ibu bagi ketiga anaknya. Di usianya yang menginjak usia 59 tahun, dia masih bekerja keras untuk menafkahi keluargannya. Dalam mencakupi kehidupan sehari-harinya dia bekerja sebagai tukang pijat keliling dan pembantu rumah tangga.
Perjuangan seorang ibu yang bernama Ponem dalam menafkahi anaknya, penuh dengan lika-liku yang panjang dan sulit. Dia adalah sesosok ibu yang memiliki kegigihan dan kata pantang menyerah dalam menjalankan kehidupannya. Walaupun dengan keterbatasan fisik, dia masih memiliki semangat untuk tetap menjalani kehidupannya. Dia seorang janda sejak ditinggal suaminya pada tahun 1995. Pada saat itu anaknya masih kecil. Sehingga dia menjadi tulang punggung untuk keluarganya.
Semenjak Ponem ditinggal oleh suaminya, kehidupannya semakin susah karena dia harus mencari nafkah sendiri dengan kondisi fisik yang cacat. Dia bekerja ke sana kemari sebagai tukang pijat keliling dan pembantu rumah tangga.
Sebagai tukan pijet keliling, Ponem tergantung pada orang-orang yang memanggilnya. Biasanya dalam sehari dia memijat 3-4 orang. Dengan membayar Rp 50.000,00 sekali pijat. Rata-rata waktu dalam memijit kisaran 1,5-2/jamnya. Penghasilan Ponem dalam sebulan bisa mencapai Rp 2.000.000,00 bahkan bisa kurang. Tergantung banyaknya pesanan orang untuk dipijat.
Ponem juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Biasanya dia disuruh menyetrika baju-baju di tempat tetangga. Tidak semua tetangganya menyuruh dia untuk menyetrika. Karena di dusunnya sudah ada banyak tempat laundry yang berdiri. Sehingga dia menyetrika di tempat tetangga yang memang memintanya untuk menyetrika di tempatnya.
Sekarang dia tinggal bersama anak bungsunya, karena anak pertama dan kedua telah menikah dan mempunyai keluarga masing-masing. Anak-anaknya yang sudah menikah hanya bekerja sebagai buruh. Dan anak yang bungsu sebagai pengangguran saja.
Kehidupan Ponem dalam menjalani kehidupannya sangat berat. Karena anak-anaknya tidak memahami kondisi ibunya yang cacat. Anak-anaknya tidak pernah membantu meringankan beban ibunya. Tetapi, malah menyusahkan ibunya, baik secara psikis, fisik, dan ekonomi. Anak-anaknya selalu berpikiran bahwa ibunya mampu untuk menghidupi kehidupan mereka tanpa bantuan. Sehingga anak-anaknya sering memanfaatkan ibunya.
“Anak-anak saya sudah besar semua, seharusnya mereka yang memberi uang ke saya, tetapi malah sebaliknya,” ujar Ponem. Anak-anak di sini tidak hanya si bungsu tetapi anak pertama dan anak kedua yang telah menikah pun masih menyusahkan ibunya. Terkadang mereka (anak pertama dan kedua) masih meminta uang kepadanya ibunya. Jika tidak meminta uang, mereka meminta beras atau sembako yang ada di rumah ibunya untuk di bawa pulang ke rumahnya masing-masing. Seharusnya Ponem sudah lepas tanggung jawab kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Akan tetapi, anak-anaknya (anak pertama dan kedua) masih bergantung kepada ibunya. Mereka cuek-cuek saja dan pura-pura tidak tahu mengenai kondisi ibunya. Dan mereka sama sekali tidak pernah memperdulikan ibunya yang bekerja keras dengan kondisi yang serba kekurangan tersebut.
Sedangkan anaknya yang bungsu lebih memprihatinkan lagi karena suka bermain judi. Padahal anaknya yang bungsu sudah di sekolahkan lebih tinggi dari saudara-saudaranya yang lain. Tetapi, si bungsu malah menyepelekan sekolahnya bahkan keluar dari sekolah. Sehingga anaknya yang bungsu tidak lulus dari Sekolah Menengah ke Atas (SMA). “Saya menyekolahkan anak saya, supaya anak saya menjadi orang sukses,” ujar Ponem. Sebenarnya Ponem mengharapkan anak bungsunya menjadi orang yang berada dan sukses. Untuk itu dia berusaha mati-matian mencari uang untuk menyekolahkan anaknya tersebut. Akan tetapi, anaknya malah menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Seharusnya uang yang digunakan untuk membayar SPP atau biaya sekolah malah diambil untuk bermain judi bersama teman-temannya.
Anak bungsu dari Ponem sangat keterlaluan. Karena dia tidak mempunyai rasa bersalah kepadanya ibunya karena telah menyalahgunakan uang tersebut. Seharusnya dia meminta maaf kepada ibunya dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Akan tetapi, anaknya malah menjadi dan semakin gencar untuk meminta uang kepada ibunya dengan alasan untuk membeli kebutuhan sekolah, nyatanya uang tersebut malah digunakan untuk berjudi.
“Jika saya tidak mau memberikan uang kepada anak saya, maka anak saya langsung marah dan membanting barang-barang,” ujar Ponem. Jadi penghasilan uang yang didapat dari memijat dan sebagai pembantu rumah tangga langsung diminta oleh anaknya untuk berjudi. Bahkan anaknya pun sampai mencuri atau menjual barang-barang yang sekiranya dapat dijual, agar bisa mendapatkan uang untuk berjudi.
Sampai saat ini pun dia masih berkeliling untuk mencari pekerjaan supaya bisa mendaptakan uang tambahan. Uang tersebut untuk membayari hutang anaknya. Sebenarnya uang yang dicarinya itu cukup untuk mencukupi kehidupannya, akan tetapi dia harus membayar hutang yang berada di bank, di toko, tetangga, dan saudaranya. Sehingga uangnya tidak cukup untuk membiayai kehidupannya. Bahkan dia sering meminjam uang ke tempat tetangga dan saudara-saudaranya supaya bisa menutupi hutang anaknya.

...yah ikut prihatin, begitulah hidup...!

emoticon-Turut Berduka
×