alexa-tracking

Dalih 'Menghindari Zina': Perkimpoian Anak Malah Bikin Melarat

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a34af1bdc06bd8f0b8b456b/dalih-menghindari-zina-perkawinan-anak-malah-bikin-melarat
Ngakak 
Dalih 'Menghindari Zina': Perkimpoian Anak Malah Bikin Melarat
Bukan meringankan ekonomi keluarga, anak perempuan yang (dipaksa) menikah sebelum usia dewasa rentan mengalami KDRT dan terpaksa bekerja tanpa keterampilan.

tirto.id - Nina memandang horizon Pantai Karangsong. Tak ada apa-apa. Saat siklon tropis begini, mustahil ada kapal yang berani merapat. Suaminya, Wasdi, yang merupakan ABK Andora, sebuah kapal nelayan ikan tangkap, dipastikan pulang beberapa bulan ke depan.

Ingatan perempuan 38 tahun ini terlempar pada peristiwa dua puluh tiga tahun lampau.

“Nok,” ujar Amunah dengan sapaan sayang kepada anak perempuan, “ada pria yang mau melamar. Dia dari kampung sebelah. Orang kaya.”

Saat itu Nina masih SMP dan bersiap menghadapi ujian.

Amunah rungsing lantaran pihak sekolah terus merongrongnya untuk segera membayar iuran pendidikan. Kalau tidak, Nina, anak keduanya, tak bisa ikut ujian. Di sisi lain, sang anak pertama yang bekerja sebagai buruh migran tak pernah berkabar selama sepuluh tahun. Tawaran pria kampung sebelah kemudian menjadi angin segar bagi masalah rumah tangganya saat itu.

Sebulan setelah tawaran itu datang, Nina menikah. Pernikahan sederhana. Hanya dihadiri keluarga Nina, saksi, dan seorang lebe—istilah setempat untuk penghulu—yang bertugas menikahkan kedua mempelai.

Nina, yang baru mengalami menstruasi pertama, gentar menghadapi rumah tangga yang akan dijalaninya. Suaminya, Safrudin, berumur hampir tiga kali lipat dari usia Nina dan sudah memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya.

Lantaran pernikahan itu, Nina harus menanggalkan seragam sekolah dan menjadi ibu rumah tangga. Hari-hari pernikahannya diisi dengan mengasuh sang anak tiri yang sudah memasuki usia TK.

“Padahal saya masih ingin sekolah waktu itu. Tapi mau gimana? Ekonomi keluarga sedang sulit sekali. Dan suami saya ini menjanjikan banyak hal secara materi,” ujar Nina, akhir November lalu, kepada saya.

Janji tinggallah janji. Selama menikah, ia hanya dinafkahi Rp25 ribu per bulan. Belum termasuk bonus kemarahan dari sang suami jika tak becus mengurus pekerjaan rumah tangga.

“Saya merasa lebih seperti pembantu ketimbang jadi istri,” kata Nina.

Tak kuasa menghadapi perlakuan sang suami, Nina kabur ke rumah orangtuanya. Badannya demam tinggi. Setelah diperiksa dokter, diketahui bahwa vaginanya mengalami infeksi. Diagnosis dokter, tubuh Nina belum siap melakukan hubungan seksual. Kendati menurut pengakuan Nina, ia tak mendapat kekerasan seksual dari suaminya.

“Saya menyesal sekali menikahkan Nina waktu itu,” ujar Amunah.

Enam bulan setelah pernikahan, Nina bercerai.

Meski sebenarnya masih bisa kembali ke bangku sekolah, Nina sungkan. Ia malu bertemu teman-temannya karena menyandang status janda. Ia pun memilih bekerja sebagai buruh migran. Lantaran sudah pernah menikah, ia dianggap memenuhi syarat kendati masih di bawah umur 18 tahun.

Tetapi pengalamannya bekerja sebagai buruh migran tanpa keterampilan yang memadai membuatnya pindah-pindah negara. Nina bilang, “karena pintar-pintarnya jasa penyalur TKI,” ia bisa bekerja ke luar negeri. Saat bekerja pun ia merasa cemas karena ilegal.

“Menclok-menclok kerjanya. Habis dari Abu Dhabi, enggak tahu ke mana, bahkan nama negaranya saja enggak tahu, lalu pindah lagi, terakhir ke Oman. Saya enggak bisa baca tulisan Arab. Di Oman pun saya akhirnya dipulangin,” kata Nina.

Dipaksa Menikah buat "Menghindari Malu"


Ardham dan Ive—keduanya 16 tahun—hanya saling menatap sambil tersipu malu saat saya menanyakan perihal pernikahan mereka.

“Kami bertemu di Facebook,” ujar Ive, masih dengan senyum malu-malu.

Tak lama setelah berkenalan pada 2015, mereka memutuskan untuk berpacaran. Satu waktu, Ive pulang larut. Ia takut jika pulang ke rumahnya akan dimarahi. Akhirnya, ia memilih menginap di tempat Ardham.

Mengetahui hal itu, orangtua Ive memaksa Ardham untuk segera menikahi anak gadisnya.

“Daripada bikin malu,” ujar Ive mengulang ucapan ayahnya.

“Padahal kami enggak ngapa-ngapain,” timpal Ardham.

Sehari setelah desakan itu, esoknya pernikahan langsung digelar di kediaman Ive di Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang—sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan ke arah Cirebon, masih di kawasan Indramayu. Pernikahan dilangsungkan malam hari, dan di bawah tangan karena keduanya masih di bawah umur.

Kehidupan selanjutnya bisa ditebak: Keduanya meninggalkan bangku sekolah.

Sehari-hari Ardham hanya membantu ibunya menjaga warung, sementara Ive membantu sang nenek berjualan penganan sarapan. Kebutuhan sehari-hari mereka pun masih sepenuhnya ditanggung orangtua mereka.

Ardham, yang sekarang menjadi kepala rumah tangga, sempat mencoba peruntungan dengan merantau ke Jakarta sebagai kuli panggul galon air kemasan. Namun itu hanya beberapa minggu. Ia kembali ke kampung.

“Enggak kuat. Fisik saya, kan, masih kecil. Mana disuruh-suruh terus. Mentang-mentang saya masih kecil,” keluh Ardham.

Kini keduanya bersiap menyambut anak pertama mereka, yang rencananya lahir pada Februari tahun depan. Mereka juga masih menunggu waktu mencatatkan pernikahan di Kantor Urusan Agama begitu memasuki usia 17 tahun.

https://tirto.id/dalih-039menghindar...n-melarat-cBJM

Terlahir miskin dan bodoh salah siapa? Agama???
gw juga gk stuju nih nikah cepet" emoticon-Big Grin

kocak aja, nikah cepet" kerjaan belum jelas emoticon-Big Grin
Hak Anak Dikebiri akibat Perkimpoian

Praktik perkimpoian anak seperti Nina sebenarnya lazim dilakukan di Desa Pabean Udik, Kecamatan Pasekan, Indramayu.

Amunah bercerita, hampir semua tetangganya menikahkan anak mereka pada usia belasan. Alasannya didominasi kehamilan di luar nikah.

Namun, tak sedikit juga yang menikah karena faktor ekonomi. Para orangtua biasanya berharap dengan menikahkan anaknya dapat membantu keuangan keluarga.

Dalih 'Menghindari Zina': Perkawinan Anak Malah Bikin Melarat
KASKUS Ads
bener harusnya masyarakat juga sadar udah ada perubahan jaman. Dulu anak usia 15 udah termasuk dewasa, mangkanya banyak orang tua, kakek nenek dulu yang udah pada nikah di usia begitu. apalagi dijaman dulu banget mungkin bisa lebih muda udah pada nikah.
kalo sekarang usia 15 udah pengen bikin anak tp otak masih kek anak2 emoticon-Leh Uga
image-url-apps
numpang ketawa aja lah emoticon-Ngakak (S)
mamam tuh kimpoi muda
Quote:


bukan hanya otak, belum ada penghasilan yg besar kok sudah mau nikah?
LAHIR itu bukan pilihan dari bayi tsb
MISKIN dan BODOH itu pilihan dari orang tsb

Jadi yang salah ya orangnya bukan agamanya
Tapi pilihan orang jg terpengaruh oleh bbrp hal termasuk AGAMA
Ini mungkin lebih tepat jawabannya buat TS
Quote:


Klo lahir di keluarga miskin kekurangan gizi gak bisa sekolah, gimana gak jadi miskin dan bodoh?
image-url-apps
Ahoker sejak si tai dibui jadi stress mainan SARA mulu. Apa ahok jd bebas dan menang pilgub?? Kan ngga 😂😂😂
Quote:


emang dengan kekurangan gizi dan ga sekolah nanti ke depannya ketika dia kerja ga bisa baca, belajar dari paket A,B,C,Universitas Terbuka, dll.
Dijamin bodoh dan miskin seumur hidup?
Ketika sudah belajar ya otomatis bisa cari kerjaan yg salary nya lebih besar.
Jangan bilang ga mungkin dengan hal seperti ini, kemungkinan selalu ada walaupun tidak banyak.

Lagian dsni standar miskin dan bodoh nya seperti apa?
Di atas langit masih ada langit.
Standar kekayaan dan intelektualitas itu berbeda2 (relatif)
image-url-apps
Quote:


Karma gan kalau dalam agama budha.
Ajaran yg terbaik adalah memberi pemahaman kalau belum mampu jangan punya anak dulu
Nikah usia 6 tahun sudah boleh.. Sesuai..
emoticon-2 Jempol
image-url-apps
Emang ni ajaran bikin org goblok jd makin goblok.
Gak mengedukasi ke hal yg lebih penting.
Quote:


kekurangan gizi bikin otaknya tidak berkembang, bikin kesulitan belajar.

gak benar yg bilang selalu ada pilihan.
pilihan itu ada, tapi terbatas.





image-url-apps
Pendidikan sex usia dini merupakan hal yang tabu di indonesia. Anak2 ga boleh ngomongin sex.
image-url-apps
gpp lah kimpoi muda daripd jadi maho laknat emoticon-Najis
image-url-apps
jangan jadi binatang seperti teroris
Quote:


nah itu salah bgt anggapan seperti itu.
Gizi itu nutrisi yang dibutuhkan tubuh kita biar berfungsi normal dari sistem tubuh, pertumbuhan, pemeliharaan kesehatan.
Bukan berarti tidak berkembang, jadi lebih lambat pertembuhannya, kesehatan agak terganggu, dll bisa.
Ya kan dah bilang pilihannya ada dan tidak banyak.

Dah tar kemana2 ngebahas nya
Ttg nikah muda ane ga bisa komentar, pilihan masing2.
Tapi baiknya nikah ketika siap rohani, jasmani, ekonomi nya aka dewasa,mandiri dan mapan
image-url-apps
begitulah pola pikir miskiner2

emoticon-Ngakak
image-url-apps
#IndonesiaMenuju150JutaPenduduk

gantung koruptor!! kasih makan buaya!!

kumpulkan para penebar kebodohan dan kebencian dan kegoblogan!! taruh di pulau!! suruh main hunger games!!

mengutip suatu ayat (nanda 69:88) "ngurus anak sampe gede bisa mandiri minimal 400 juta, harga kondom 100 ribu udah bisa buat sebulan ANJINK!!"

emoticon-Cool
×