alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a347f9fdcd770a9698b4570/dewi-kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Apakah artinya agama resmi? Indonesia hanya mengenal lima agama yang diakui sebagai agama resmi oleh pemerintah: Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Di luar itu semua bukan agama resmi. Dalam istilah lain, agama "ilegal". Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang tidak mencantumkan agama resmi patut dicurigai, setidaknya oleh para birokrat. Akibatnya, mereka yang menganut agama kejawen, kepercayaan atau konghuchu harus gigit jari, sebab terbuang dari komunitas yang diakui oleh pemerintah. Bukan hanya itu, langkah ini sering berlanjut pada tindakan diskriminiasi, sebab para penganut agama "tidak resmi" itu tidak memperoleh dokumen kewarganegaraan yang semestinya seperti surat nikah, kartu keluarga (KK) sampai surat lain yang dibutuhkan.

Dewi Kanti adalah salah satu contohnya. Sebagai penganut agama kepercayaan Sunda Wiwitan, dia harus berjibaku dengan petugas catatan sipil Kabupaten Kuningan (Jawa Barat), gara-gara dia ingin menikah dengan cara leluhur menikahkan mereka. Padahal sang suami, Okky Satrio yang Katolik tidak keberatan dengan permintaan Dewi. Beberapa tokoh agama lain pun seperti Islam, tidak mempersoalkannya.

Beruntung kini Dewi sudah menikah. Aku bertemu dengannya dalam salah satu acara dialog keagamaan di gedung Jakarta Media Centre (JMC) awal tahun 2006. Dia bukan sebagai pembicara, tapi tampil sebagai juru kawih bersama kelompok kecapi Cianjuran yang dia pimpin. Setelah ngobrol di akhir acara, dia memberi alamat rumahnya. Rupanya, dia tetangga sebelah. Hanya beda RW, tapi masih dalam satu kawasan di Kemanggisan bahkan jaraknya dengan rumahku tidak begitu jauh.

Dewi tinggal di kawasan padat penduduk, tak jauh dari warung Encum yang terkenal dengan nasi uduk dan soto Betawinya. Bersama suami, keduanya menjalani hidup sebagai wiraswasta. Dewi memang belum berani menampakkan identitasnya sebagai penganut kepercayaan. Tapi, bila dibutuhkan, dia akan mengakuinya.

Lingkungan tempat aku dan Dewi tinggal adalah kawasan yang didominasi oleh warga muslim. Mushola dan mesjid mendominasi di sana. Meski tetanggaku sebenarnya lebih banyak warga keturunan Cina yang beragama Katolik dan beberapa konghuchu. Tapi Dewi tetap saja minoritas.

Tapi aku sangat percaya, Kemanggisan adalah kawasan di Jakarta yang paling aman dan paling toleran dari sisi kepercayaan yang dianut penduduknya. Saat kerusuhan berbau etnis berlangsung pada 1998, hiruk pikuk itu tidak sampai ke perumahan di sana.

Aku tidak pernah bertanya pada Dewi, apakah dia merasa nyaman di Kemanggisan. Tapi setahuku dia masih betah di sana.

Dewi adalah buyut dari Madrais. Lelaki asal Desa Cigugur, Kuningan ini adalah salah satu tokoh pendiri sekaligus penyebar agama sunda lama, alias Sunda Wiwitan. Selama hidupnya, Madrais pernah dibuang ke Digul (ada yang bilang ke Ternate, di Maluku) oleh pemerintah Belanda karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. Dia baru pulang ke kampung halamannya pada 1920. Dalam majalah berbahasa Sunda "Mangle" terbitan tahun 1980-an, pernah diulas soal keberadaan Madrais. Aku masih ingat, "Mangle" kala itu menyebut Madrais sebagai tokoh nasionalis yang anti Belanda. Dalam artikel tersebut juga dituliskan aktivitas ritual Madrais dan para pengikutnya, seperti "seba" (memberikan sejumlah hasil bumi) kepada sang hyang wisesa alam.

Menurut Dewi, beberapa ritual para pengikut Madrais hingga kini masih berlangsung di Desa Cigugur. Salah satunya adalah "Upacara Seren Taun", yang dilakukan setahun sekali. Masyarakat Cigugur, secara bergotong royong membawa hasil bumi. Mereka juga mengadakan pagelaran wayang dan kecapi suling pada malam hari.

Penduduk Cigugur sendiri, terbagi dalam dua agama besar: Islam dan Katolik. Banyak orang menduga, itu karena selama rezim Orde Baru, mereka dipaksa harus meninggalkan kepercayaan lamanya dan memilih salah satu agama resmi. Kala itu, dakwah dari kelompok Islam berebut dengan para misionaris Katolik.

Ayah Dewi, Pangeran Jatikusuma, adalah ketua paguyuban penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan di Jawa Barat sekaligus pimpinan yang meneruskan ajaran Madrais. Aku pernah bertemu dengan Jatikusuma di Hotel Preanger, Bandung, dalam acara pentas kecapi suling, ketika aku duduk di bangku SMA. Orangnya tak banyak bicara.

Salah seorang anak Jatikusuma, yang tak lain adalah kakak Dewi, sempat berperkara di pengadilan Jakarta Timur pada 1997. Pasalnya, persis kasus Dewi, mereka ingin menikah dengan cara penganut aliran kepercayaan. Kala itu, kantor catatan sipil tidak mengizinkan hingga berlanjut ke meja hijau.

Buat warga Kemanggisan, sebenarnya ini adalah berkah sebab mereka tidak hanya berdampingan dengan para penganut agama resmi, tapi juga penganut aliran kepercayaan. Aku pernah ditanya oleh Kak Mimi, iparku, penganut kepercayaan itu ada ritualnya nggak? Setahuku ada, tapi tidak rumit. Tapi, mereka lebih menitikberatkan pada ajaran budi dan ahlak yang baik. Bila inti dari agama (agama apa saja) adalah berbuat baik dan mengasihi pada sesama, tak ada alasan untuk menolak kehadiran mereka.

Aku berharap Dewi bebas memeluk dan menjalankan aktivitas kepercayaannya di Kemanggisan. Tanpa cemooh, tanpa diskriminasi.

http://kemanggisan.blogspot.co.id/20...kanti.html?m=1
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 2
Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti
Diubah oleh dewaagni
Dewi Kanti
tetiba digembok
emoticon-Takut
lagi rame ni ya? bknya udah dapet kputusan MK boleh mncmtumkan kolom kepercayaan emoticon-Ngacir
Bukannya udah diatur dlm UUD 45 ya bre? emoticon-Cool
Mending hapus aja tuh kolom agama, ganti kolom nastak/nasbung emoticon-Cool
Diubah oleh Joe.One.Choke
sebenernya ini itu apaan sihh bre?
emoticon-Bingung
Quote:


6 keknya gan.
Quote:


ane jg ga tau gan.
emoticon-Takut
sepertinya ane dah baca ni bre emoticon-Entahlah
ohh begitu yaa :keeppsoting
Pembahasan berat nihemoticon-Takut (S)
Ane gak mau ikut ikutan ya gane emoticon-Big Grin
ga ikutan ah
Quote:


oke deh bro
Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti

Dewi Kanti
Jawa Barat Tangkal Radikalisme lewat Narasi Damai dan Pemberdayaan Ekonomi

By Thowik SEJUK

Posted on 15/12/2017


Dewi Kanti

Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD mengajak masyarakat untuk ikut menjaga kebersatuan Indonesia agar jangan sampai dirusak oleh gerakan radikalisme seperti yang terjadi di Suriah dan Irak. Hal tersebut disampaikannya dalam dialog “Membumikan Wacana Kebinekaan Kita” sebagai rangkaian December Light Fest 2k17: Celebrate Our Diversity di Graha Pos Kota Bandung, Jawa Barat (15/12/2017).

Di tengah-tengah para peserta dialog Mahfud MD mengingatkan supaya masyarakat tidak tinggal diam membiarkan sekelompok kecil gerakan radikal mengganti dasar dan tata cara bernegara bangsa ini menjadi negara agama.

Kendati begitu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini masih cukup optimis karena banyak umat Islam Indonesia yang menentang gerakan-gerakan radikal di Indonesia.

“Gerakan intoleran dan radikal dari sekelompok kecil umat Islam ketika melakukan aksi kekerasan terhadap warga lainnya, yang melawan juga umat Islam, dari kelompok yang lebih banyak,” ucap Mahfud MD.

Menanggapi Mahfud MD dalam mengantisipasi gerakan radikalisme agama di Indonesia, sosiolog Muhammadiyah Dr. Zuly Qodir ikut memberi perhatian fenomena yang sama di dunia maya.

“Tugas besar para kyai, pastur, pendeta dan pemimpin agama lainnya sekarang ini adalah melakukan counter di media sosial yang dipenuhi kebencian dan memecah-belah,”ujar akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Karena jika tidak, sambung Zuly, masyarakat kita menjadi resah dan membuat hubungan di tingkat bawah menjadi semakin tidak baik.

Dewi Kanti

Kiri ke kanan: Dewi Kanti (Sunda Wiwitan), Mahfud MD, dan Ketua Panitia December Light Fest 2k17 August Leonardo saat pemotongan tumpeng membuka festival (15/12/2017)

Dalam acara yang diselingi dengan hiburan-hiburan tradisional sampai musik yang dekat generasi milenial penghayat Sunda Wiwitan Dewi Kanti selaku narasumber lainnya mengaitkan konteks Jawa Barat (Jabar) yang selalu dikenal sebagai wilayah intoleran sebagai hal yang wajar. Sebab, masyarakat Jabar menurutnya cenderung permisif, adaptif dan terbuka terhadap apa pun yang datang dari luar.

“(Kendati itu bagus) tetapi sekaligus menjadi kelemahan karena masyarakat Jawa Barat kemudian melupakan nilai-nilai kultural asalinya,” sesal Dewi Kanti, yang dalam kesempatan ini membawa serta anak-anak remaja Sunda Wiwitan dari Kuningan untuk menampilkan kebolehan membawakan jenis-jenis kesenian yang kental berbau tardisi Sunda dan Nusantara.

Kondisi masyarakat Jabar yang seperti itu bagi perempuan yang mahir memainkan alat musik kecapi ini menyebabkan propinsi tatar Sunda mudah dikuasai budaya yang jauh dari nilai-nilai leluhur Sunda itu sendiri yang sejatinya sangat toleran dan mencintai keberagaman.

Untuk itu Dewi Kanti menegaskan, meskipun Sunda Wiwitan terus mengalami intoleransi dan diskriminasi, tetapi para penghayat agama lokallah yang selama ini menjadi penguat karakter bangsa dan kearifan leluhur. Dari kearifan agama lokal itulah, tidak saja Sunda Wiwitan tetapi juga agama-agama asli leluhur lainnya di Nusantara, nilai-nilai Pancasila dibumikan.

Menatap Masa Depan Jawa Barat yang lebih Toleran

Jabar sebagai propinsi dengan populasi terbanyak mempunyai tantangan kebinekaan yang tidak sederhana dalam mengkonsolidasikan demokrasi Indonesia. Terlebih, kerusakan akibat pilkada DKI Jakarta yang sangat brutal menggunakan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) mulai terasa menjelang pilkada 2018 di Jabar.

Karena itu, mendesak sekali membuat ruang bersama di kalangan masyarakat sipil untuk menggali, memetakan dan merumuskan masa depan Jabar yang lebih ramah terhadap keberagaman dan menuntut tanggung jawab negara menghormati, melindungi dan memenuhi segenap hak-hak dasar warganya.

August Leonardo selaku Ketua Panitia December Light Fest 2k17: Celebrate Our Diversity di sela-sela festival menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar dalam mengembangkan dan menguatkan perjumpaan lintas komunitas agama atau kepercayaan, etnis, gender, akademisi dan generasi muda di Jabar.

“Festival ini digelar demi melahirkan narasi-narasi alternatif kebinekaan melalui berbagai gagasan dan ekspresi dari level nasional dan lokal untuk mendorong Jawa Barat berani berkomitmen dalam merawat kebinekaan dan menerjemahkannya melalui kerjasama nyata antar individu dan lembaga di berbagai bidang kehidupan, termasuk pemberdayaan ekonomi dan sosial budaya,” ujar Leo mewakili panitia December Light Fest 2k17 yang merupakan kerjasama lebih dari 20 organisasi masyarakat sipil yang juga menghadirkan kelompok disabilitas yang salah satu penyandang down syndrome menampilkan tarian topeng.

Lelaki yang juga dipercaya sebagai Koordinator Aliansi Kebhinnekaan Jawa Barat ini menambahkan alasan, “December Light Fest 2k17: Celebrate Our Diversity” digelar, selain bertujuan meningkatkan kesadaran di kalangan masyarakat luas, khususnya generasi muda, terhadap topik-topik kebinekaan, juga akan dilanjutkan dalam proses berkesinambungan yang berdampak jangka panjang, yakni membangun berbagai bentuk pendidikan publik, baik online maupun offline, dan mengembangkan praktik-praktik pemberdayaan masyarakat.

Harapan dari gerakan bersama yang disenergikan antara komunitas agama, kepercayaan ataupun etnis dengan organisasi masyarakat sipil dan kalangan akademis ini adalah bagaimana menurunkan tingkat intoleransi dan diskriminasi di Jawa Barat sebagaimana dilansir dalam laporan tahunan hasil penelitian dan pemantauan kebebasan beragama seperti yang dilakukan Setara Institute ataupun Wahid Foundation.

“Bermula dari festival ini akan dibangun kerjasama yang kokoh antar-jejaring komunitas sehingga melahirkan sinergi dan gerakan bersama yang melibatkan kalangan milenial  dalam mengembangkan perdamaian dan pemberdayaan ekonomi warga berbasis social entrepreneurship,” pungkas Leo.

http://sejuk.org/2017/12/15/jawa-bar...ayaan-ekonomi/
lonje berasa bp
5 Faktor Penyebab Parmalim (Pengikut Ugamo Malim) Berkurang Drastis

Dewi Kanti

Apa itu Ugamo Malim (Parmalim)?

Ugamo Malim adalah agama asli yang dianut Bangso Batak sebelum agama Kristen dan Khatolik dianut sebagian besar Batak.

Penganut Ugamo Malim disebut Parmalim.

Pimpinan tertinggi Ugamo Malim adalah Raja Sisingamangaraja I-XII.

Saat ini Parmalim tersisa di Tano Batak hanya sekitar 10.000 orang. Ugama Malim terpusat di Huta Tinggi, Laguboti Kabupaten Tobasa.

Pimpinan Parmalim bernama Raja Marnangkok Naipospos, meneruskan kepemimpinan Raja Sisingamangaraja Sinambela XII. Lambat laun pengikut Ugama Malim semakin berkurang, bahkan sangat drastis akhir-akhir ini. Jika dulu kita sering berjalan sekitar Kabupaten kita masih menjumpai warga yang mengakui Parmalim.

Bahkan teman kita di sekolah ataupun kampus sering bercerita tentang kepercayaan Ugamo Malim yang dia anut.

Namus saat ini, sangat susah kita menemukan warga pengikut Ugamo Malim (Parmalim).

Dewi Kanti

Banyak faktor yang mendasari hal tersebut terjadi. Berikut 5 faktor beserta ulasannya yang dapat kami jabarkan untuk anda yang ingin mengetahuinya:

1. Adanya sistem birokrasi negara yang mengharuskan setiap warga negara Indonesia harus memiliki KTP.

Mendapat dokumen kependudukan seperti KTP bukan hal yang mudah untuk mereka beraliran Parmalim seperti warga lainnya yang memiliki agama yang diakui negara saat ini (Islam, Kristen Protestan, Khatolik, Hindu, Budha, dan Konghucu). Sistem birokrasi inilah yang memaksa mereka untuk meninggalkan kepercayaan mereka. Suatu penindasan kebebasan beragama yang jahat tapi terselubung oleh birokrasi.

Mereka yang memiliki kepercayaan Parmalim dapat saja mengakali dengan cara pura-pura pindah agama agar dapat memiliki KTP. Tapi sampai kapan? Penyesalan di dalam hati mereka (kepercayaan Parmalim) sering menghantui atas tindakan kebohongan mereka. Dan bisa saja hal tersebut bagian dari kepenghianatan kepercayaan mereka.

Jadi, jika kita mencoba memahami sistem birokrasi tersebut, pada akhirnya sistem tersebut membuat orang jadi munafik ini dipertahankan.

2. Adanya sistem pernikahan/ perkimpoian yang resmi diterbitkan Pemerintah.

Apabila perkimpoian hendak dilakukan masyarakat, maka hukum di Indonesia menentukan bahwa setiap warga negara yang ingin menikah dapat dikatakan sah jika: (Pasal 2 UU no 1 tahun 1974 tentang perkimpoian):

“Apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Tidak ada perkimpoian di luar hukum agamanya.”

Sistem birokrasi ini sebenarnya lanjutan dari keharusan memiliki KTP. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pemerintah hanya mengakui 6 agama yang sah dan mendapat legalitas berdiri di Indonesia. Pada akhirnya perkimpoian ataupun pernikahan untuk mereka penganut kepercayaan Parmalim tidak dapat dilakukan karena dibatasi oleh peraturan perundangan tersebut.

Dimana setiap warga yang telah menikah harus memiliki akta pernikahan yang sah, maka sistem birokrasi inilah yang mau tidak mau memaksa mereka penganut kepercayaan Parmalim untuk meninggalkan kepercayaan mereka. Sehingga lambat laun, penganut Kepercayaan Parmalim semakin berkurang bahkan tidak tersisa.

3. Adanya pemberian cap (label) “penganut aliran sesat”.

Masyarakat memiliki pandangan atau doktrin teologis atau keagamaan yang dianggap berlawanan atan bertentangan dengan keyakinan atau sistem keagamaan mayoritas manapun yang dianggap ajaran yang benar dapat dikatakan suatu hal yang menyimpang.

Terlebih kepercayaan ini tidak mendapat legalitas dari pemerintah, sehingga masyarakat memberikan cap atau pelabelan “penganut aliran sesat. Sehingga jelas, siapapun penganut kepercayaan yang dianggap menyimpang tersebut akan merasa tertekan dan tidak merasa dikucilkan.

Persepsi negatif inilah yang memaksa mereka (penganut kepercayaan Parmalim) untuk meninggalkan kepercayaan tersebut. Untuk merasakan kenyamanan hidup dilingkungan dan bersosial, mereka terpaksa pindah kepercayaan.

4. Takut mendapat ancaman kekerasan dan diskriminasi.

Suatu hari di tahun 1980-an. Warga Jawa Barat tengah menyiapkan perayaan Seren Taun. Dewi Kanti ikut sibuk menyiapkan tradisi pergantian tahun sekaligus ungkapan rasa syukur penganut kepercayaan Sunda Wiwitan tersebut. Singkatnya, ketika upacara Seren Taun itu sudah disiapkan, sejumlah aparat keamanan datang dan merusak ruangan tersebut.

Belajar dari salah satu kasus tersebut, mereka pengikut kepercayaan Parmalim juga merasa takut mendapat ancaman kekerasan dan diskriminasi. Setiap manusia akan memiliki naluri menghindari bahaya dan menempatkan dirinya untuk tetap aman dan tidak bermasalah. Sama halnya dengan mereka pengikut kepercayaan Parmalim, untuk menghindari ancaman kekerasan tersebut, mereka terpaksa sembunyi-sembunyi melakukan upacara kepercayaan Parmalim, bahkan tidak sedikit pengikut kepercayaan Parmalim melepas kepercayaan dan terpaksa beralih agama.

5. Sistem pendidikan (sekolah) terkesan diskriminasi.

Hak untuk mendapatkan pendidikan adalah salah satu hak asasi manusia yang tercantum dalam BAB XA tentang Hak Asasi Manusia (HAM). Dan juga merupakan salah satu hak dasar warga negara pada BAB XIII tentang pendidikan dan kebudayaan dalam UUD 1945 setelah amandemen.

Jika kita mengingat-ingat kembali untuk masuk atau mendaftar ke institusi pendidikan, sejak TK hingga Universitas, prosedur penerimaan selalu mempertanyakan agama yang dianut.

Suatu kewajaran hal tersebut dipertanyakan, karena pada dasar negara kita adalah pancasila dan sila pertama dikatakan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Artinya, setiap warga harus bertakwa kepada Tuhan YME dan memiliki Agama. Kebebasan beragama juga dijelaskan pada undang-undang.

Nah, yang menjadi masalah pada mereka pengikut kepercayaan Parmalim adalah bahwa agama yang Parmalim tidak mendapat legalitas dari pemerintah. Pemerintah hanya melegalkan 6 agama di Indonesia. Prosedur inilah yang menghambat pendaftaran untuk mendapatkan pendidikan. Mau tidak mau, untuk lolos pendaftaran tersebut, pengikut kepercayaan Parmalim harus menuliskan agama diantara 6 agama tersebut.

Tidak hanya sebatas prosedur masuk, mereka pengikut kepercayaan Parmalim yang telah lolos prosedur tersebut dan siap mengikuti pendidikan sekolah atau perkuliahan, harus mengikut mata pelajaran Agama yang berkaitan dengan agama yang mereka isi sebelumnya.

Pada akhirnya, ibarat sosialisai yang berkelanjutan, doktrin agama akan mempengaruhi mereka dan ibarat batu yang semakin rapuh akibat tetesan hujan, begitu jugalah kepercayaan mereka, semakin rapuh.

Dewi Kanti

http://www.portalsumut.com/2016/06/5...gikut.html?m=1

#penghayatkepercayaan #parmalim #sundawiwitan #dewikanti #serentaun #kolomagama #ktp #sesat
Halaman 1 dari 2


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di