alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Cerita Yang Belum Berakhir
3.86 stars - based on 7 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a202f93a09a3937608b457c/cerita-yang-belum-berakhir

Cerita Yang Belum Berakhir

Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....

tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?



*****

02.30 am

Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.

Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,

dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?


Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...

Bole, ini PIN ku %^&$#@


Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian

*****

prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
Diubah oleh drupadi5
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 16
Ada Trit Baru
Ane nitip sendal gan
jejak dlu sist,semoga dilanjut sampe tamat ya sist ini cerita nya

Prologue

Denpasar, in around of 2000

My ordinary life...

Namaku Dyanandra, teman-temanku suka memanggilku dgn sapaan Dy, simple aja. Dan aku pun hanya seorang cewek biasa, ga cantik, ga jelek juga (tp kata temen2ku senyumku manis cm sayang ketutupan sama tipe mukaku yg terkesan jutek dan sombong), ga pinter, ga bodoh juga, ga trendi, ga culun juga,yah...biasaaaa gitu.
Kalau kata orang..person on average level...

Dan aku pun punya hidup yang biasa aja... ga kaya dan ga miskin juga, meski sempat di masa-masa kecilku, hidup keluargaku terpuruk habis-habisan secara ekonomi, bisnis ibuku bangkrut karena tertipu oleh rekan bisnisnya sendiri. Aku ingat betul setiap sore aku harus nunggu ibu ku pulang bawa beras sekilo buat makan malam kami berlima, buat aku, 2 orang kakakku, ibu, dan bokap. Hanya makan nasi dan sayuran yg dipetik di kebun orang yang ditanami sayur sayuran sama bokapku. Bokap seorang pengajar di sebuah universitas negeri di kota ini, tapi penghasilan beliau sudah habis untuk membayar hutang2 ibu.

Dan aku pun ingat betul, bagaimana aku kehilangan peringkat di kelas sewaktu smp gara2 aku sibuk bantuin ibuku jualan di kantin sekolah yang ada tepat di samping rumahku. Tapi aku tidak pernah menyalahkan siapa pun dengan semua keadaanku waktu itu, malah sekarang aku bersyukur karena dengan pengalaman seperti itu aku jadi bisa belajar hidup sederhana dan apa adanya.

Memasuki masa SMU, aku bener2 tumbuh menjadi cewek yang sangat biasa. Yah biasa saja, sempat aku pun pernah minder dengan teman2ku yang lain, meski mereka tidak tahu kehidupanku seperti apa, karena waktu itu ekonomi keluarga masih belum stabil, aku ngerasa minder karena aku ngerasa ga mampu dalam hal ekonomi. Tapi aku masih tetap bersyukur, karena meski dalam hati aku ngerasa minder banget, aku tidak sampai menunjukkan sikapku itu ke teman2ku. Justru mereka beranggapan (ini baru aku ketahui setelah aku lulus dari SMU dari seorang teman SMU yg kebetulan satu kampus denganku) kalau aku ini misterius..hahahah apaan coba.
Mungkin karena aku jarang bicara, kalau pun bicara hanya seperlunya saja dan jarang senyum hehehe... ya memang seperti itulah aku, boleh dibilang aku introvert. Aku ga suka banyak omong dan ga punya banyak teman. Tapi kalau sudah cocok dengan satu orang langsung bisa jadi sahabat.

Mungkin rasa minderku ini muncul gara2 aku ikutan ekskul basket juga. Ya jelas aja minder, anak2 basket pada tajir2 semua, waktu aku pertama daftar ekskul basket yg ikutan banyakan cowo2, dan aku akui sebagai cewek normal, mereka ganteng2. Cewek yg ikutan basket cuma 4 orang termasuk aku. Jadi yg team cewek2 gabung langsung sama senior2, tapi meski mereka anak2nya horang kayah, tapi mereka baik2 bgt. Yup, masa2 SMU ku bukan diisi dengan kenangan manis nguber2 gebetan atau pacaran, tapi kenangan manis menjadi atlet basket. Boleh di bilang waktu itu my life is basket

I enjoyed my life, saking menikmatinya sampai kelas 3 pun aku masih tetap aktif dan males2an belajar padahal harus ngadepin tes kelulusan. Dan kalian tahulah gimana hasilnya, yup...nilaiku hancur2an. Tapi sekali lagi, nasibku masih baik, aku masih bisa lanjut kuliah di universitas negeri satu2nya di kotaku tanpa harus ikutan ujian masuk, karena aku lolos masuk lewat nilai2 raporku, zaman itu istilahnya PMDK. Untunglah aku ga bego2 amat. Dan aku pun sama sekali ngga bawa2 nama bokap karena fakultas yg aku lamar sama dengan fakultas di tempat bokap ngajar hanya saja beda jurusan, aku murni lolos karena nilai2ku

My friends around me...

Di SMU teman2 yang deket aku pun temen2 yg dulunya satu SMP, yah mungkin karena mereka sudah kenal baik aku kaya gimana, tapi itu pun lama2 kami jadi ngga terlalu akrab lagi karena sudah beda kelas dan sibuk dengan urusan masing2.

Salah satu temanku, namanya Ananta, ternyata menyimpan rasa suka padaku. Suprising bgt... ga nyangka, ternyata ada juga yg suka sama aku. Lalu perasaanku sendiri gimana, suka ngga sama dia? Jawabannya, aku sendiri ngga tau juga.

Acara nembaknya pun kacau menurutku. Jadi, buat para cowok yang mau nembak cewek idamannya, ternyata tempat dan waktu yang tepat itu sangat penting. Kalau orang sekarang bilangnya, find the right moment is important! Absolutely agree saya!!! Dan sebelum nembak, PDKT juga penting bgt lho. Untuk memastikan apakah orang yang kalian sukai memiliki perasaan yg sama atau tidak, so kalau kalian masih tetap nekad buat nembak, setidaknya kalian bisa persiapkan mental kalian untuk jawaban yg terburuknya.
Jadi waktu Ananta nembak, dia ngajak aku ngobrol berdua di kantin sekolah yg udah tutup karena waktu itu sekolah udah pada bubar. Kantin ini tempatnya di seberang aula, yg waktu itu lagi ada latihan anak2 kesenian yg latihan gamelan, tau sendiri gimana energiknya gamelan Bali. Sudah bisa ditebak, suaranya Cumiakkan telinga. Bukannya pindah tp kita berdua malah bertahan di sana. Alhasil, waktu Ananta bilang suka dan nanya apa aku mau jadi pacarnya, aku jawabnya kaya coret pilihan ganda.

Awalnya aku bilang mau, (pas kita ngobrolin ini suara gamelan masih mengalun dengan kencangnya) eh dianya ngga denger, jd dia nanya lg yg aku tebak dr gerak bibirnya dia, jd aku ulang tp dengan jawabn yg beda, aku bilang, bisa ngga kasi aku waktu buat mikir, eh dia ngga denger juga, dan aku jawab lagi tp lagi2 dengan jawaban yg beda, aku bilang, bisa ngga kita temenan aja sorry blom bisa jd pacar kamu....dan bingo!!! Berbarengan dengan kalimat itu suara gamelannya berhenti, dan Ananta denger dengan jelas apa pilihanku yg terakhir itu. So sorry, memang kalau ngga jodoh ya ngga akan jadian.

Satu yang aku sesali, setelah kejadian tembak menembak itu sikapku ke Ananta jd berubah, maksudku sebenernya, biar dia ga menaruh harapan ke aku. Cuma mungkin caraku yg salah, terlalu kasar dan frontal. Aku dan dia yg dulunya akrab bgt,jadi seperti orang asing yang ngga saling kenal. Aku jadi ngehindarin dia abis2an, bahkan aku ga bertegur sapa lg sama dia. Jujur aja aku takut klo dia bakalan naruh harapan kalau aku masih baik2in karena dia pernah bilang bakalan nunggu sampai aku bisa suka sama dia. Sampai2 aku nebar isu lewat sahabatnya yg sekelas denganku kalau aku udah jadian sama cowok lain. Akhirnya usahaku berhasil, kudengar kabar kalau dia jadian sama cewek adik kelas.

Aku sudah membuat seseorang patah hatinya, dan juga kehilangan seorang teman. Aku sama sekali tidak menggubris perasaannya saat itu, yg ada di pikiranku hanya tentang diriku sendiri.

Sampai suatu saat nanti aku diberikan kesempatan untuk merasakan sendiri sensasinya patah hati.

Part 1 Jadi Mahasiswa

Setelah kelulusan SMU, aku bener bener galau karena 2 hal. Pertama karena aku blom tahu kepastian apakah aku lulus lewat jalur PMDK atau tidak, kedua apa aku harus lanjut kuliah apa mau kerja dulu, yah kerja apa adanya ajalah sedapatnya pake ijazah SMU. Dan aku memutuskan klo aku lulus berarti aku lanjut kuliah, kalau ngga aku mau kerja aja.

Kebetulan waktu itu, aku tahu ada lowongan pramugari di salah satu maskapai berplat merah. Semua kriterianya cocok buatku. Baiklah...tinggal nunggu kabar lulus atau tidak.

Hampir seminggu lebih menunggu, akhirnya kabar itu datang juga. Aku lulus... akhirnya kuputuskan untuk lanjut kuliah saja, meski sebenernya pengen kerja sih, disamping itu, ketika kusampaikan keinginanku untuk melamar pekerjaan sebagai pramugari dan menunda kuliah, bokapku menolak mentah2. Ga ada kerja2 dulu sebelum kuliah, kata beliau. Ga mungkin juga aku ngebantah karena salah satu persyaratan melamar adalah surat ijin dari orang tua, yah... peluang sudah tertutup sementara ini.

Maka disinilah aku sekarang sebagai mahasiswa baru. Masa orientasi atau lebih dikenal dengan istilah MOS difakultasku beda banget sama fakultas2 yang lain. Ini pun fakultasku dengan berani menolak ikutan kegiatan MOS di rektorat pusat yang bergabung dengan fakultas2 lain dikampusku dengan alasan menolak yang namanya kekerasan / hukuman fisik selama MOS. Wuih...dah demen bgt tuh rasanya...udah kebayang ga bakalan ada yang namanya jalan bebek, squat jam, push up, lari2, atau apalah itu yg sejenisnya yg bikin capek meski sebenernya buat aku yg pernah jadi atlet dah jadi makanan sehari2.

Tapi ternyata (ini pelajaran lagi)... gemblengan fisik itu jauh lebih ringan daripada gemblengan mental dan nyali. Yah sie disiplin nya bener2 disiplin dan sumpah, intimidasinya abis2an. Setiap harinya ada 2 kali sie disiplin masuk ruangan, dan ngebentak2 habis2an. Bukan tanpa alasan sih mereka bentak2nya, ada aja kekurangan2 yg di liat dr para maba, yah dicari2 gitulah... untungnya aku dah biasa dengan acara2 beginian, jd dah bebal telinga dengar org bentak2. Karena waktu SMP n SMU aku ikutan Paskibra, bahkan wkt smu nyaris lolos tingkat nasional (nyaris sih... berarti ga lolos bo!) dan hampir tiap minggu ada acara latihan mental seperti ini.

Kalau aku bilang ini mah kecil... hehe bukan sombong ya, tapi beneran, aku bisa pasang wajah datar tanpa ekspresi meski ada senior yg marah2 tepat di depan mukaku. Masa MOS fakultas ini kulewati dengan gampang, tapi aku blom dpt begitu banyak teman... kenal beberapa sih teman baru tapi ngga akrab2 bgt. Kenal wajah tp ga tau nama, say hello aja

Fungsi MOS sebenernya adalah nyari temen dan mengenal lebih jauh lingkungan sekolah yang baru. Dan sasaran MOS fakultasku ini menurutku pas ngena bgt. Karena setelah ngikutin MOS aku baru tahu kalau kampusku ini seperti Indonesia kecil, ada mahasiswa dari hampir seluruh Indonesia di sini. Entah kenapa mereka tertarik kuliah di sini. Apa karena daya tarik Bali yg begitu kuat? Atau karena passing grade di universitasku dulu yg ngga tinggi2 amat jd gampang masuknya? Entahlah.

Lalu ada lagi salah satu hal baru buatku, dikampusku banyak mahasiswa yg udah kuliah bertahun2 tp ngga lulus2 (aku nyebutnya sesepuh)....hahahaha dah biasa kali yak...nah pas MOS ini yg jadi panitia selain para senior di atasku ya para sesepuh2 itu, dan sie disiplinnya salah dua dari para sesepuh itu... tampang mereka udah ngga kaya mahasiswa lagi tp dah mirip kaya preman, asli serem dan sangar bgt.

Masa MOS terlewati dengan aman, nyaman, dan damai. Trus lanjut lagi MOS tingkat jurusan, adeeehhh....banyak bgt MOS! Meski capek ya harus dijalani. Klo MOS fakultas lokasinya seputaran kampus aja. Nah kalo MOS jurusan ini ambil tempat di tepi salah satu danau yang masih di seputran objek wisata terkenal di Bali, cuma danau yang ini letaknya agak masuk ke dalam dekat dengan hutan2 lindung. Pemandangannya asli apik bgt. Cuma yang ngga bikin asik itu cuacanya, siangnya panas menyengat dan malamnya duinginnya minta ampun, pake jaket dobel aja masih ttp kedinginan, mana tidurnya di tenda dan cuma beralaskan tiker doang. Ga heran banyak yg tumbang, entah karena sakit beneran atau pura2 sakit biar bisa istirahat di tenda kesehatan hehehe. Tapi aku mah stay strong dong, jalani dengan senang.

Ada satu kejadian yang bikin aku bete, ini pas acara mencari jejak lah istilahnya, jadi setiap kelompok mesti mendatangi pos2 yg tersebar di sekitaran tenda, dan sudah jelaslah di tiap2 pos kita dikerjain abis2an.
Setiap kelompok itu, sebelum mulai mos di suruh cari biography tentang penulis terkenal di seluruh dunia, boleh siapa saja, aku lupa waktu itu milih biographynya siapa, dan kebetulan akulah yang buat itu tugas, meski tugas kelompok tp aku buat sendiri, karena klo nunggu yg lainnya malah ngga kelar2 mana blom terlalu kenal juga.

Ternyata tugas dari kelompokku yang paling bagus, lengkap, dan terinci. Ya iya lah wong waktu itu aku carinya di internet... ( zaman itu mbah google ga setenar sekarang lho ya!!) kenapa aku bisa kepikiran nyari di internet, karena kakakku, dia adalah masternya komputer,, dia yg ngasi ilham dan ngasi petunjuk ngerjain tugas dengan cepat dan gampang, tanya mbah google!!!

Di salah satu pos yg isinya para senior killer. Di tanyainlah itu soal tugas yang aku buat.

“jadi ini ya kelompok yg buat tugasnya sebagus dan selengkap itu. Dapat darimana kalian? Buat sendiri atau nyontek?!?! Ujar salah satu seniorku yg bertampang paling jutek dengan nada suaranya yg merendahkan bgt.

Rese ni orang, rungutku dalam hati, takut juga sih ketahuan nyontek di google hehehe

“sekarang aku tanya nih coba kalian rangkum isi dari tugas kalian itu?” tantang si senior itu lagi

.......hening.................. ngga ada satupun dr temen2 kelompokku yg jawab. Ya iya lah...mana mungkin mereka tahu, nyentuh aja kagak....

“kenapa diam?!?!” bentakkannya mengagetkanku, “Dasar moron kalian!!!”

Istilah moron (tolol/bego) ini emang ngetrend dan sering banget dipakai sama senior2 waktu itu

Kurang ajar enak aja maki2 org, ga tau susah payah aku buatnya
Saking sebalnya aku pun buka suara,” nama penulisnya adalah ^%*(&%##%, lahir di ........ masa kecilnya dihabiskan di .......karya2nya yang terkenal adalah..........,” aku ceritakan seingatku karena biografi aslinya berbahasa inggris, jadi aku karang2 aja biar nyambung isinya toh dia juga ga bakalan baca semua karena aku ingat bgt tugasku lumayan tebel

Selesai aku menjawab, si senior killer mendekat ke barisan di mana aku berdiri, dia berdiri tepat di depanku, sehingga mataku bertemu dengan matanya. Sumpah wajahnya nyebelin bgt!

“berani ya kamu liat mata saya!!!” tiba2 dia membentak tepat di depan hidungku, untung aja ngga muncrat tuh.

Entah kenapa aku malah senyum dengar dia ngomong gitu, dan makin marahlah dia..

“eh... malah senyum kamu!!! Ngejek kmu ya! Berani ya!!! Hardiknya lebih keras dari tadi

“kakak berdiri tepat di depan mata saya, ya mau ga mau saya liat kakak, klo saya liat ke arah lain, nanti di marah lagi, kan klo baris pandangan mata harus lurus ke depan. Kakak nanyanya aneh makanya saya senyum,” jawabku tenang

“ngelawan ya kamu!” dia tidak lagi membentak tapi nada bicaranya megintimidasi, matanya tajam menusuk ke mataku. Aku ngga gentar, tetap memandang lurus ke depan tepat ke dalam matanya. Tatap2an nih ceritanya.

“ngga kak, saya hanya membela diri, karena kakak beranggapan salah tentang saya,” balasku

Dia diem. Yes!! Kena lu!

“kamu yg buat tugas kelompok itu?” tanyanya lagi ngerubah topic pembicaraan

“saya dan temen2 yg lain juga,” sahutku berbohong, terpaksa biar temen2 yg lain ngga kena masalah

“trus..kenapa cuma kamu yg bisa jawab pertanyaan saya?” desaknya lagi

“kebetulan saya sempat baca semuanya, karena saya yang dapet tugas ngetik,” sahutku spontan. Yang ini asli bohong karena ngga ada ketik2an, wong itu cuma asal comot and copy paste aja

“trus yg lain...kalian ngga baca?!?! Main serah2in aja gitu?!?” kali ini dia menghardik sambil jalan memutari kami yg berbaris dalam diam

Dan abislah kelompokku di jadikan bulan2an di pos si senior killer itu. Saat acara udah selesai, temen2 kelompokku pada protes semua karena aku main jawab2 aja, disuruh lain kali didiemin aja, yaelah klo ditanya didiemin ntar malah salah lagi

Seusai acara MOS jurusan, para maba udah terbebas dan fokus sama kuliah saja. Ternyata MOS jurusan ini berguna buat aku, akhirnya aku kenal lumyan deket sama seorang cewek namanya Dwi anaknya putih dan berkacamata. Dan masih polos bgt, ga neko2, dan super baik, dia satu kelompok denganku waktu MOS. Senang banget akhirnya ada temen juga.

Fakultasku ini punya 2 kampus, kampus utama ada di kota Denpasar, dan kampus yg satunya ada di Bukit Jimbaran (yg pernah ke Bali pasti tahu daerah ini). Untuk masa kuliah setahun pertama, kuliah diadakan di Bukit Jimbaran,jaraknya sekitar 1 jam dari kota denpasar kalau naik motor dan ngga macet, kalau naik mobil lebih lama lagi. Dan waktu itu akses ke bukit jimbaran itu cuma ada satu yaitu jalan by pass yg super duper ramai karena satu jalur menuju ke Nusa Dua. Jadi kebayang kalo pagi yg lewat jalan itu mulai dari anak kuliahan, para pekerja, plus bus2 pariwisata, tumplek blek. Spot macet favorite adalah di Simpang Siur (sebelum ada underpass) kendaraan dari berbagai arah berhimpit2 ria. Pusing2 dah kalo dah lewat sana.

Dipertengahan tahun masa kuliahku, ujian hidupku di mulai, Dwi teman baikku, meninggal karena kecelakaan motor di by pass ketika akan berangkat kuliah. Aku kaget sekali. Kehilangan pertamaku adalah teman baikku. Aku lumayan syok, waktu melayat ke rumahnya aku ngga berani melihatnya untuk terakhir kalinya, aku takut ngga bisa mengontrol rasa sedihku.
Rest in peace Dwi.

Part 2 Baksos

Sudah hampir setahun aku berstatus sebagai mahasiswa. Dan di tahun kedua ini kuliahku mulai pindah ke kampus di Denpasar. Asyik nih ga usah jauh2 lagi kuliahnya.

Tahun pertama terlewati berarti tahun ajaran baru di mulai, bentar lagi bakalan jd kakak tingkat nih, punya junior deh. Beberapa teman sejurusanku (dijurusanku cuma ada 1 kelas dengan jumlah mahasiswa sekitar 30 orang saja, jd ga terlalu banyak juga) ada yang ikutan jadi panitia mos di fakultas. Aku? Ogah banget ikutan gituan. Enaknya jadi penonton aja.

Jadi setelah MOS fakultas ada yg namanya Bakti sosial (baksos) aku pun ngalami juga dulu. Jadi para Maba diajak buat terjun langsung ke masyarakat buat bantu2 ngebangun insfrasturktur yang sedang dibutuhkan di suatu desa. Dana yg dipakai ya tentu saja dari para maba, seperti sumbangan wajib lah istilahnya, tujuannya adalah membuka mata para maba kalau ada masyarakat di sekitar mereka yang masih membutuhkan banyak bantuan untuk bisa maju dan agar mereka menyadari telah memasuki tingkat pendidikan yg lebih tinggi dan terangsang berpikir ke depan gimana caranya biar ilmu yang mereka dapatkan nanti bisa berguna untuk masyarakat, begitu dulu yg di katakan para dosen pembina baksosku.

Menurutku ini bagus banget, para maba bisa melihat langsung masyarakat di daerah desa pedalaman yg masih tertinggal dari daerah perkotaan, karena baksos ini lebih menyasar ke daerah2 pedesaan yg minim fasilitas. Dulu zaman baksosku, fakultasku membantu membuka jalan desa yang menghubungkan desa dengan daerah perkebunan dan bisa langsung sampai ke desa2 tetangga, jadi para petani ga usah berjalan kaki jauh kalau mau ke kebun, supaya hemat waktu dan bisa memaksimalkan waktu dengan bekerja di kebun. Walau jalan yang dibuat bukanlah jalan permanen yang beraspal, tapi cukup membantu untuk memudahkan aktivitas warga desa. Desa yang dibantu saat baksos angkatanku adalah salah satu desa penghasil salak Bali terbesar waktu itu.

Dan baksos tahun ini mengambil lokasi di kabupaten yg sama hanya saja beda kecamatan dan desa, saran dan prasarana yang akan kita bangun adalah MCK umum dan saluran air. Pemandian umum tradisioinal memang sudah ada hanya saja air yang dimanfaatkan masih dari mata air yg tidak terlalu besar debit airnya, tidak akan cukup dimanfaatkan oleh warga satu desa. Jadi para senior dan sesepuh (kalau kerjaan kaya beginian para sesepuh itu doyan bgt, jiwa sosialnya tinggi bgt) sudah mensurvei desa target. Ada mata air yang lebih besar yg letaknya agak di atas desa. Rencananya panitia akan mengajak maba untuk buat saluran air bersih dari mata air itu turun ke desa, selain untuk pemandian umum, juga akan dibuatkan spot2 pengambilan air bersih untuk umum. Memang sudah ada air bersih yg masuk ke rumah2 penduduk, hanya saja debit airnya sangat kecil dan hanya mengalir di jam2 tertentu saja. So guys, Bali terkenal banget di Indonesia bahkan dunia, tapi masih ada dan banyak pula daerah2 tertinggal dan kemiskinan di Bali. Miris bgt yah...

Dan gimana ceritanya aku bisa ikutan jadi panitia baksos, padahal aku paling males ikut2an organisasi? Mungkin ini sudah jalannya kali ya...awal dari menghilangnya hidupku yg penuh dengan ke’biasaan’ itu, awal dari campur tangan Sang Sutradara, karena mendengar doa dan keluh kesahku akan kehidupan yg lebih berwarna...

Pagi itu iseng2 aku ke kampus padahal aku tahu masi suasana libur semester, yah main2 aja siapa tahu ada pengumuman atau dah ada jadwal kuliah baru (padahal aku bisa aja minjem jadwal bokap yg emang berisi jadwal semua jurusan) yah namanya juga iseng2.

Ternyata kampus kosong melompong...Cuma ada beberapa anak yg ngga aku kenal di ruang senat dan bbrp senior dari jurusan lain yg aku kenal wajahnya karena dulu jd panitia MOS.

Ruang Senat emang jadi base camp nya para senior, kuliah ga kuliah pokoknya ngumpul di sana lah mereka. Bahkan udah kaya tempat kost aja tuh ruangan, sering bgt mereka tidur di sana berhari2 dan malamnya mereka sering kumpul dan ngobrol2 (mereka nyebutnya ‘diskusi’ karena senior2 ini ga cuma dari satu jurusan tp masih tetap satu fakultas ) sambil minum2, tentu favorite nya adalh arak bali yg manis tapi memabukkan .

Dan ini udah jadi tradisi turun temurun buat mahasiswa senior di atas semester 6. Kenapa aku bisa tahu? Ya dari bokaplah. Sebenernya kampus ini ngga asing buatku, dari semenjak aku SD aku udah sering main ke kampus ini. Tapi yang namanya anak kecil ya belum ngerti apa2, tapi aku melihat banyak perubahan yg terjadi di fisik kampus ini dibandingkan zaman aku kecil dulu.

Mengenai bokap yg jadi tenaga pengajar di kampusku, hanya segelintir teman2ku yg tahu, sebisanya aku ngga mau mereka tahu. Seorang temanku tahu karena waktu masih kuliah di bukit, aku sempat berangkat bareng bokap dan kebetulan temanku itu ikutan nebeng, dan beberapa teman2ku yg nantinya bareng2 jd panitia baksos karena mereka minta main ke rumah urusan kepanitian dan mau ngga mau ketemu bokap deh.

skip

Karena ngerasa ngga kenal, aku ngga ikutan nimbrung dan balik ke parkiran, pulang aja dah, pikirku. Nah di parkiran aku ketemu sama Nana. Nana ini temen satu SMUku dulu. Anaknya manis tp agak ndut, aku ngga terlalu akrab sih sama dia. Dulu semasa SMU pernah beberapa kali main kerumahnya gara2 temen deketnya dia sering curhat2 sama aku karena aku sekelas sm temennya itu. Beberapa kali juga aku sempet bantu2 dia memperbaiki PC nya (jd teknisi dadakan ceritanya)

“hey...Dy, ngapain?” sapanya menghampiriku sewaktu kami ketemu di parkiran.

“Heh kamu Na, main aja iseng2, bosen di rumah,” jawabku asal

“eumm...Dy...?” panggilnya tampak ragu2 buat ngelanjutin kalimatnya

Aku yang emang punya rasa penasaran tinggi ini paling ngga suka kalo orang ngomong sepotong2 gini, ngga jelas bgt!
“apaan sih Na? Ngomong aja..,” desakku

“kamu mau bantu aku ngga?” ujarnya masih dengan ragu2

“bantu apaan? Kalo aku bisa kenapa ngga,” sahutku

“bantu aku jadi panitia ya, aku lg cari temen buat bantu2 di sekretariatan, sekalian bantu buat surat2 juga buat keperluan baksos ntar sebelum mulai,”jelasnya kemudian

“lho kamu panitia ya???” kali ini aku yg rada2 kaget

“iya Dy, aku sekretarisnya. Tapi aku masih rada2 gaptek nih kalau soal ketik2 and print2 surat2, ga enak aku nyusahin senior2 terus, lagian mereka kan punya tugas masing2. Kalau ada kamu kan enak aku minta tolongnya. Mau ya Dy...please...,” sahutnya memberikan alasan dan sedikit merajuk.

Meski kata orang aku ini jutek, judes, dingin, jarang bgt senyum, tapi hatiku baik kok hehehe (mereka menilainya mah dari tampang doang sih)

Ya, kelemahanku...susah buat bilang ‘tidak ‘ kalau ada yg minta tolong, meski aku sibuk pasti aku iyain... kadang2 malah kerjaanku yg jadi ngga kelar2.

“iya deh aku bantuin, tp cuma buat surat2 aja ya...,” ujarku akhirnya dengan memberi syarat.

Tapi pada akhirnya, aku ga cuma bantu soal surat meyurat saja, tapi lebih dr itu, bener2 jadi panitia..
Aku terjebak!!!

Part 3 Mas Kayon

Hilanglah sudah hari2 santaiku selama liburan. Aku sibuk bantuin si Nana buat surat, ngga nyangka, banyak juga urusan surat menyuratnya. Buat ini lah itulah...ijin ini itu, permakluman ke sana ke sini.. biasanya Nana telpon aku ke rumah (zaman dulu blom ada hape bo, jd pakenya telpon rumah aja) minta dibikinin surat macem2, aku yg udah dikasi draftnya tinggal ubah2 dikit, ganti sana sini, trus print deh. Emang sih aku berkorban PC, listrik, sedangkan buat tinta dan kertas dibayarinlah, tp gpp lah, resiko ini kalo ambil kerjaan panitia.

Hari ini aku ketemu Nana dan temen2 yg lain di kampus. Kemarin dia telpon katanya janjian sm Kak Uno mau di kasiin draft surat2 yg lain dan katanya kop surat ada revisi, hadeeehhh...jangan ngebayangin kop surat yg kaya di instansi2 gitu ya, kop surat baksos itu isinya gambar2 kartun yg ceritanya lagi gotong royong, itu mau di perbaiki lagi biar kece katanya.

Sesuai janji, pagi jam 8 aku udah sampe kampus. Langsung ke ruang senat, karena janjiannya di sana. Senat sepi, ngga ada orang sebiji pun. Wah kepagian ini. Aku memilih duduk di loby kampus aja. Kira2 nunggu 30 menit akhirnya si Nana dan Yana dateng. Yana ini juga temen smu ku dulu dan sama2 panitia baksos.

“dah lama Dy?” asli ini pertanyaan basa basi busuk

“hu um..., gumamku sambil anggukin kepala. Males bgt kalo dah ngaret2 gini, aku orangnya suka in time bo, ga on time lagi tp in time (datang lebih awal dr wkt yg di tentukan)

“kenapa ngga nunggu di senat aja Dy?” tanya Yana sambil kami bertiga jalan ke ruang senat

“ngga ada orangnya,” sahutku

“ada kok, palingan tidur tuh di dalem,” balas Yana.

Trus...masa iya aku disuruh nemenin org tidur...ih bete bgt!

kami bertiga pun lanjut ke senat, yg kondisinya masi sama kaya pertama aku datengin. Begitu pintu senat di buka, emang bener yg dibilang Yana. Ada seseorang tertidur di sana. Cowo, bertelanjang dada, tidur tengkurep, beralaskan kasur tipis lusuh. Aku ngga liat wajahnya karena menghadap ke arah yg berlawanan dengan tempat aku berdiri. Aku duduk di lantai bersandar di ambang pintu, males masuk, udaranya pengap. Nana dengan sigap membuka korden dan jendela.

“selamat pagi Indonesiaaaaaa!!!!” Buset dah si Yana berteriak kenceng.

“Yan...jgn gitu ah, kasian tuh Mas nya masih tidur, ntar kebangun lho!” protes Nana

“biarin aja bangun, udah siang lagian,” sahut Yana cuek

Tampak si cowok yg tertidur td sedikit menggeliat,membalikkan badannya, dan kemudian duduk.

“pagi Mas Kayon....bangun2, mandi sana!” ujar Yana sambil duduk selonjoran

Oh jadi nama cowo itu Kayon, org Jawa kali ya dipanggil ‘mas’ sama Yana. Aku ngelirik cowok itu yg tampak bergegas memakai kaosnya begitu menyadari ada aku di sana, orang yg ngga dia kenal, selain Yana dan Nana.

“mandi dulu yah...,” ujarnya ke Yana setelah mengambil handuk dan perlengkapan mandi yg ada dibelakang lemari dan kemudian bergegas keluar.

“emang mandi di mana di sini Yan?” tanyaku setelah cowok itu hilang dari pandangan

“di toilet lah, yg di ujung sana bisa buat mandi kok,” sahut Yana

Aku angguk2 aja, ga pernah tahu sih akunya.
Ga berapa lama si cowok itu balik lagi, kali ini wajahnya yg legam tampak lebih fresh dan rambutnya yg agak gondrong terlihat agak basah, sewaktu dia melewatiku aroma sabun menyeruak hidung, beneran abis mandi kayaknya, pikirku. Perawakan Mas Kayon ini ga terlalu tinggi untuk ukuran cowok, hampir sma tingginya denganku sekitaran 165 cm, badannya agak gempal, dan wajahnya sebenernya ngga jelek2 amat tp ga cakep juga, hidung nya mancung, dengan bibir tipis khas perokok (tau kan giman bibir org yg ngerokok) yg menarik perhatianku matanya itu, cekung, dan sekitar matanya agak menghitam tipe2 mata kalong (begadang).

Pikirku pasti peminum juga nih. Kuperhatikan dia sewaktu ngobrol2 ringan sama Yana dan Nana, sepertinya orangnya humoris karena sedari tadi senyumnya ga lepas2 dari wajahnya sambil sesekali ngegodain dua temanku itu.

“wueh...kualat kalian ngatai2ain aku lho!!” kudengar suara cowok itu ketika Nana dan Yana ngeledekin dia.

“ya iyalah kualat kan ngata2in orang tua,” timpal Yana

“Asem!!! Dikatain tua, wong e cakep gini to,” sahut cowok itu dengan logat Jawanya. Berarti bener dia orang Jawa.

“ya deh yg cakep, diliat pake sedotan dr ujung Monas hahahahaha,” balas Yana dan serempak Nana dan Yana ketawa membahana di ruang senat yg sumpek itu.

“Na, udah belom nih? Nunggu apa lagi?” cetusku tiba2, kok ga betah ya aku di sini...ngga jelas bgt tujuanku berlama2 di sini.

“belomlah Dy, masih nunggu Uno nih, orgnya mana lagi ga dateng2. Mas, Uno biasanya ke kampus ngga sih?” Kali ini Nana nanyain ke Mas Kayon perihal si senior yg namanya Uno, aku sih tahu orangnya dulu dia sie disiplin masa MOSku

“mbuh aku, emang gw emaknya!” jawab cowok itu sekenanya

“ih...gitu amat sih ditanyain.”

“yah ngga tau lah Na...coba deh tlp aja dia,” sarannya begitu ngeliat si Nana pasang muka cemberut

“Na, aku balik aja ya, besok aja itu filenya. Aku ada urusan lain nih,” kataku sambil berdiri, bersiap2 hendak pergi

“ya udah deh, besok aku kasiin ya, tp kamu ke kampus ya Dy?” pinta Nana

“ok!” sahutku

Akhirnya aku pulang aja, males bgt di sana, ga ada yg aku kenal otomatis aku cuma bengong aja kayak kambing congek liatin mereka ngobrol2 dan becanda2 ngga jelas

************

Aku ingat waktu itu... melihatmu disana...siapa nih anak, tumben ke sini. Malu sih benernya sama kamu, mahasiswa kok tidur dikampus, diliat masih ileran, ngga pake kaos lagi Hehehe makanya cepet2 ngabur aja dah....

Setelah kamu pergi baru deh aku nanya ke Nana kamu siapa, kok tumben ke senat. Nana bilang kamu itu temennya, dulu kalian juga satu smu, dan sekarang kmu mau bantu Nana di baksos, dan kata Nana nama kamu Dyanandra.

Part 4 Karena Matras

Sebelum MOS dan Baksos mulai, ada satu lagi acara yg diadain kampus di tahun ini (lupa nama acaranya apaan). Jadi pagi itu waktu aku ke kampus, beberapa tampilan halaman depan kampus sedikit agak berubah, ada wall climbing di sisi baratnya, dan aula yg biasa dipake MOS udah kosong melompong dengan sebuah panggung di ujung timurnya. Aku ketemu Nana di halaman depan kampus, dia lagi sama Damar, di ketua Baksos

“hey Dy..,” sapa Nana begitu melihatku mendekat

“ini Na suratnya, coba kmu cek dulu, dah bener blom,” aku menyerahkan map yg isinya surat2 yg dia minta kemarin.

“udah bener ini semua Dy, thanks ya...Mar, nih tanda tangani,” Kali ini kertas2 itu beralih ke Damar yg dengan cengengesan menerima kertas2 itu.

“di dalam aja yuk, ntar jelek nih tanda tanganku klo di sini,” ujar Damar lalu tiba2 berdiri

“iiisshhh.. gayamu Mar,” sunggut Nana melihat tingkah Damar yg bak dah jadi org penting aja.

Aku dan Nana mau ga mau ngekor si Damar ke ruang senat. Ada beberapa orang di sana yg tentu saja ngga aku kenal. Cuma kenal wajah doang. Aku ambil posisi duduk di salah satu bangku yg berhadapan dengan pintu masuk senat, sedangkan Nana duduk agak masuk ke dalam. Di dalam ternyata sudah ada Yana dan Asih yg juga teman sejurusanku yg juga panitia. Ada Uno juga dan bbrp org sesepuh dan senior. Nana tampak akrab dengan mereka. Ah, andai aja aku bisa seluwes itu bergaulnya pasti asik banyak temen. Cuma aku ngga bisa, bukannya ngga pernah coba, sering bgt malah, cuma aku jadi ngerasa aneh aja, kaya ngga jadi diri sendiri, dan ngerasa ngga nyaman, so aku putuskan berhenti dan sejelek apa pun lebih baik jadi diri sendiri aja, kaya lagunya The Police, English Man in New York, ‘just be yourself no matter what they say’


Tiba2 cowok yg kemarin dulu aku temui di senat, yg namanya Mas Kayon, yg awalnya ngobrol2 heboh di pojokan di luar ruang senat, datang dan langsung duduk selonjoran di ambang pintu senat, tepat banget di depan aku duduk. Aku dengan segera beringsut agak memundurkan tempat dudukku. Asli ini gerak reflek, jaga jarak!!!

“wuih...abang satu ini tambah subur aja, gimana progress acaranya nih? Ujar salah seorang sesepuh yg ada di sana. Sebut aja sesepuh A aku ngga tau namanya, kenal wajah doang.

“pusing gw, Dim...masih perlu banyak matras nih buat lomba besok sore. Lo tau ga kira2 bisa pinjem di mana yak?” ujarnya menanggapi pertanyaan sesepuh A

“minjem di sekolah2 aja Mas,” samber Yana seperti biasa selalu suka nimbrung obrolan orang lain

“emang bisa ya?” sahut Mas Kayon sepertinya ragu

“bisa deh kayanya, asal ntar inget di balikin aja abis make,” bales Yana

“ya pasti dibalikin lah, masa dbaikep barang orang, cuma gimana ya caranya?” ujar Mas Kayon cengar cengir sambil menggarauk2 kepalanya yg kutebak pastinya ngga gatal.

“pake surat kaya gini nih...” Kali ini Damar yg nyeletuk mentang2 dia lg tanda tangan surat2 seabrek

“Iya mas coba aja, minta ijin pake surat biar resmi,” sahut Nana menyetujui usul Damar

“bagusnya lagi klo ada koneksi di dalam atau alumni dr sini kan lebih dipercaya lagi tuh,” tambah si sesepuh A memberi masukan

“wah bener tuh ide lo... Yan, Na, minjem sekolahmu aja yak? Bantuinlah...,” ujar Mas Kayon tiba2 bersemangat. Dan langsung ngelobby Nana dan Yana buat bantuin.

“Duh...aku ga kenal deket mas sama guru olahraganya...gimana ya...,” sahut Nana

“eeeuummm, Dy........kira2 bisa bantuin ngga??” Tiba2 Yana memanggilku, aku yg sedari td sebenernya udah denger obrolan mereka, pura2 ngga terlalu ngeh, karena sedari td aku lg pura2 baca majalah fakultas yg aku pungut di atas kursi tempatku duduk.

“eh iya.....kenapa?bantu apa?” sahutku mem- bego-kan diri.

“ini Mas Kayon lagi perlu matras buat lomba wall climbing besok sore, sekolah kita kan ada tuh matras yg biasa buat koprol2an itu, meski dah butek tp kan lumayan masih empuk2 tuh,” jelas Yana dah kayak jubirnya si Mas Kayon aja

Aku ngga lgs ngejawab, berpikir.... klo aku iyain, ribet nih mesti balik ke smu ku ketemu guru olahragaku tercintah, sebenernya ga susah sih klo sama guru olahragaku, kan aku dah dikenal gara2 jd atlet basket, hanya saja ngerepotin diri sendiri, tp klo aku tolak, mesti gimana cara nolaknya?alesannya apa? yg dibilang Yana bener semua sih...

“hmm...mesti ijin dulu deh kayanya,” kataku akhirnya. (Tadi juga udah diomongin Dy...ahh...jadi keliatan bego bgt gw! Gimana nolaknya nih...ayo berpikir berpikir!!!)

“iyalah, ijin sama Pak Made (nama guru
olahragaku) kan kamu dah dikenal baik tuh sm bapaknya, jd pasti diijinin lah... rayu2 dikit gitu,” sahut Yana memainkan matanya ala2 puppy eyes

“tolong ya bantu ya... udah buntu nih mesti nyari di mana, bisa kan....,” kali ini Mas Kayon untuk kali pertamanya ngomong lgs ke aku.

“ya udah, kapan mau ke sana?” akhirnya nyerahlah aku....Ah, gini nih..susah klo ngga bisa bilang ‘ngga’

“besok pagi ya, ntar aku buatin suratnya,” jawab Mas Kayon cepat. Semangat sekali dia
“ok, tapi mas juga ikut, kan yg minjem mas, aku cuma anterin aja,” ujarku.

Aneh bgt rasanya nyebut kata ‘mas’ ke dia, maunya td manggil ‘kak’ aja, cm Nana dan Yana aja manggilnya ‘mas’ jd ya ikut2an aja lah. Lagian dianya juga kayaknya emang jauh lebih tua dr aku.

“beres,” sahut Mas Kayon diiringi senyumnya yg sumringah. Dia tersenyum lebar, tampak lega bgt masalahnya akhirnya teratasi.

***

Jam 9 pagi aku sampe dikampus, dah rame ternyata. Aku segera ke ruang senat, dan menemukan Nana, Yana, Asih, dan Mas Kayon udah ada di sana.

“jalan sekarang?” tanyaku begitu sampai di sana

“boleh, minjem motormu ya...,” sahut Mas Kayon sambil nyengir, ya iyalah kan dia ngga punya motor

“hm...??” aku agak ragu nih sekarang, berarti ntar aku boncengan dia dong, sumpah aku ngga pernah boncengan sama cowo selain sama kakakku dan bokapku. Mana aku ngga kenal sama cowok ini, coba kalian baca dari atas mana ada aku kenalan sama cowo ini. Langsung sok akrab aja dah ni orang.

“kenapa?” tanya Mas Kayon karena ngeliat aku cuma diem aja

“kamu ngga bw motor Dy?” tanya Nana kali ini

“bukan, ngga apa2 kok,, yaudah yuk jalan,” sahutku cepat.

Aku deg2an bgt nih, tumben2an boncengan sama cowok, ga kenal pula.

Akhirnya dengan selamat dan tanpa kekurangan sesuatu apapun, sampailah kami di smu ku, untung bgt Pak Made lagi santai abis ngajar, aku utarakan maksud kedatanganku untuk meminjam matras dan aku kenalkan juga Mas Kayon sebagai panitia yg nanti bertanggung jawab. Bersyukur bgt Pak Made ngijinin asalkan matrasnya dikembalikan dalam kurun waktu 3 hari karena akan dipakai.

“Dy, ada ekskul pecinta alam ga di sini?” tanya Mas Kayon begitu urusan pinjam meminjam kelar

“Ada, kenapa?”

“ kira2 bisa ketemu sama ketuanya ga ya, mau ngasi undangan siapa tau mau ikutan lomba atau sekedar meramaikan acara juga boleh,” ujarnya sambil senyum2

Adeeehhh.... ni orang banyak maunya deh. Mau ga mau aku antar dia ke belakang sekolah tempat sekretaritan sispala. Untung nya aku ketemu dengan Debi, juniorku di basket yg juga anak sispala.

“Deb, ketuamu mana?” tanyaku

“ada mbak, kenapa emangnya?”

“suruh ke ruang sispala ya, aku tunggu di sana,” suruhku tanpa ngejawab pertanyaannya

“eh iya Mba, aku panggilin sekarang.” Debi langsung ngacir nyariin ketuanya

“takut gitu dia sama kamu,” ujar Mas Kayon sambil mensejajari langkahku yg kubalas dengan senyum sekilas

Ga perlu nunggu lama, si ketua dah nonggol aja, lgs kupersilakan Mas Kayon yg ngomong.

Kelar semua urusan balik lagi ke kampus.

Di kampus, personil yg sama, malah udah nambah bbrp org udah ada di ruang senat. Aku ikutan nimbrung dengan Yana, Nana, Asih, dan Damar, Mas Kayon juga.

“gimana mas?Beres?” tanya Yana

“ beres lah.... “ sahutnya sambil menyulut sebatang rokok

“kalau soal begituan mah gampang klo sama Dyan, ya ga Dy?!” balas Yana ke aku

“iya tuh td juga ketemu adik kelas kalian, liat Dyan takut gitu dianya...”

“emang siapa Dy?”

“anak kelas 2, juniorku di basket, bukan takut sih, kan dibantuin biar cepet,” elakku, sambil beres2in alat2ku, mending cabut aja klo urusannya dah kelar.

“yah panteslah, ktemu senior mah, mana Dyan kan jago bgt tuh...galak juga hehe”

“eh, jago basket ya, kapan2 sparing yuk?” ajak Mas Kayon

“... eh aku balik duluan ya... Na, klo ada perlu tlp ke rumah aja ya?” bergegas aku berdiri tanpa menghiraukan ajakan Mas Kayon

“beres Dy,” sahut Nana

Aku lgs pergi stelah itu. Entah kenapa kok moodku tiba2 turun gini.

******

Jujur aku berterima kasih banget sama kamu waktu itu, kmu itu udah kaya dewa penolong buatku. Kalo ngga ada kamu, tau dah gimana nasibku.

Aku juga deg2 an tau ngga sih ngebonceng kmu, ngajak anak orang ini, harus hati2, ntar kalo kenapa2 bisa berabe urusan.

Dan aku suka liat adik kelas kmu yg terbirit2 begitu denger perintah kamu itu, sumpah, kayaknya takut bgt sma kamu. Emang pernah diapaain sih tu anak sampai keder gitu hahahaha makanya jangan galak2 lah itu wajah, senyum dikit kenapa....

Tapi rada sebel juga sih, diajakin ngomong ngga pernah di tanggepin, pikirku kmu itu rada2 sombong ya...

Part 4 . 2 Obrolan Pertama

Entah bagaimana awalnya, statusku jadi panitia beneran gara2 Nana. Setelah pendaftaran Baksos resmi di buka, selain buat surat tugasku jadi nambah, jd penunggu ruang senat. Hah....stress aku awal2nya, gimana ngga stres, aku paling ngga tahan di tempat itu, sekarang mesti seharian harus nongkrong di sana, jagain meja pendaftaran. Apalagi sekarang makin rame karena MOS udah di mulai. Nana, Yana, Asih, Nova, dan bberapa teman sejurusanku juga ikutan jadi panitia MOS.

Seperti siang ini, suasana agak sepi, karena para Maba lagi di ruangan, panitia sebagian ada di ruangan juga mendampingi, hanya ada panitia inti dan sesepuh yg lagi2 berpartisipasi jadi panitia. Sie disiplinnya gila2 MOS kali ini. Ga main fisik tp gebrak2 meja dan mental pressure nya ga main2.
Aku lagi duduk dikantin asyik ngerapiin file2ku sampai2 ngga sadar ada seseorg yg duduk di sebelahku.

“hey...sendiri aja...,” Mas Kayon sudah duduk aja disebelahku dengan senyuman khasnya.

“heh....bikin kaget aja...”

“ngapain sih serius amat?” tanyanya sambil liat kertas2 yg aku bereskan

“ngga ngapa2in, ngerapiin ini aja,” aku kembali sibuk dengan kertas2ku. Dia mah dicuekin aja.

“udah berapa yg daftar?” tanyanya lagi

“belom banyak sih, mungkin lg pada konsen ke MOS dulu anak2nya.”

“oh...kan masa pendaftarannya masi lama juga...oh ya, aku mau laporan nih,” sahutnya kemudian

Aku menoleh ke arahnya,

“laporan? Maksudnya?” tanyaku ngga ngerti dengan maksudnya

“itu..soal matras, udah aku balikin ke sekolahmu dan sudah diterima pula sama bapak yg kmarin itu, surat ucapan terima kasih juga udah disampaikan,” jelasnya lagi2 dengan senyum khasnya. Entah kenapa aku suka ngeliatin mata cekungnya itu.

“oh soal itu....ya udah, yg penting udah dikembalikan aja.”

Aku kembali memalingkan wajahku darinya, seolah2 takut ketahuan sedang mengagumi pesona matanya itu. Tiba2 aku mncium aroma asap rokok, rupanya dia sedang menyulut rokok

“sorry, aku pindah duduk ya,” kataku sambil berdiri

“eh...kenapa?” tanyanya kaget, seketika senyumnya menghilang, ada ekspresi terkejut di wajahnya, dia pun ikutan berdiri

“eemm... itu ,” aku menunjuk dengan mata ke arah rokoknya, “sorry, sebisa mungkin aku ga boleh hirup asap rokok,” lanjutku mencoba menjelaskan agar dia tidak tersinggung.

“oh sorry sorry, biar aku matiin aja ,” katanya hendak mematikan api di rokoknya

“eh...ga usah, aku pindah aja gpp kok, klo mas mau ngerokok silakan aja, cuma jgn deket2 aku... aku punya asma, jd...,”

“oh...ok ok, aku ngerti, aku duduk di sana aja,” potongnya cepat, menunjuk bangku di depanku sambil berdiri, “jadi asapnya ga terbang ke arah kamu...kamu duduk aja di sini.”

Akhirnya aku duduk lg di tempatku semula, dia lah yg pindah dan kini duduk berhadapan denganku, setiap menyulut rokok dia memalingkan wajahnya ke belakang dan kebetulan arah angin juga bertiup dari belakangku sehingga aku terhindar dari kepulan asap rokoknya

“udah lama punya asma?” tanyanya lagi begitu kami sudah settle di posisi masing2

“dari kecil,” sahutku singkat, sambil memasukkan file2 ku ke dalam tas

“ponakanku juga punya asma, sm kakakku dibekeli obat sedot mulu tuh,”

“oh pake inhaler itu..aku dulu juga pake itu,” kataku, kini aku ngga bisa lagi menghindari untuk tidak bertatap wajah dengannya.

“ tp katanya kmu main basket, ngga kambuh tuh tiba2 pas lg main?” selidiknya dengan muka serius

“sakitku parah pas aku kecil aja, dulu jalan 3 langkah aja aku ga sanggup lgs dada sesak kalo pas lagi parah2nya, karena aku ngga tahan gitu terus, jadi dibawa berobat ke dokter, terapi setahun minum obat terus non stop. Sampai lulus smp akhirnya bisa membaik, saran dokter sih berenang yg rutin tapi berhubung aku ngga suka berenang ya terpaksa cari olah raga yg lain, iseng aja sih ikutan basket,, ternyata jadi suka...asma juga ga pernah kambuh lagi, “ jelasku. Kenapa aku harus ceritain semua ke dia riwayat sakitku, gumamku dalam hati sedikit bingung.

“wah manjur ya obat dokternya, hebat tuh.”

“ya iya lah gimana ngga manjur, setahunan minum obat terus, tapi ini ngga ilang kok, kadang2 kambuh kalo lagi sakit terutama kalo batuk, atau kalo makan2an yg terlalu asem, atau kalau kebanyakan ketawa bisa kambuh juga,”

“hah...ketawa bisa bikin asma ya?? Pantes ya kmu jarang ketawa, jgnkan ketawa senyum aja jarang bgt...hehehe,” dia tersenyum usil, dari sorot matanya jelas sekali kalau dia sedang mencandaiku

Aku cuma melengos aja di bilangin gitu.
Entah dia orang ke berapa yang bilang hal yg sama.

“hehehe tapi klo kmu senyum manis lho...makanya sering2 senyumnya...!” sahutnya lagi

Aku menatapnya tajam. Mau ngegombalin aku nih ceritanya! Dia hanya cengar cengir ngeliat reaksiku

“sorry sorry becanda Dy...” ujarnya lagi dengan senyum tertahan.

“ya udah...,” sahutku mulai dongkol liat sikapnya. Aku berdiri dan bergegas hendak pergi

“eh..mau ke mana?” dia pun ikutan berdiri

“pulang!” sahutku cepat tanpa menoleh lagi.

*****


Hahahhahha di gituin aja langsung ngambek....cewek dimana2 kalau dipuji itu seneng, berbunga bunga, wajahnya bersemu merah gitu...eh..ini malah makin jutek, pake ngambek2 segala, main tinggal aja lagi....
Tapi aku seneng bisa liat kmu ngomong lebih dari 1 kalimat. Biasanya kan cuma sepotong2 doang ngomongnya, singkat2 bgt lg.

Kamu tau ngga, aku selalu inget sampai kapan pun permintaan kamu yg pertama ini, jangan deket2 kamu klo lagi ngerokok...sampai kapan pun Dy...
Diubah oleh drupadi5

Part 5 Karena Pertanyaan Dan Jawaban Konyol

Hari ini aku ke kampus agak siangan. Lagi males bgt, pengennya sih ngga datang dan sekalian ngundurin diri jadi panitia. Tapi kok aku ngerasa cemen bgt cuma urusan kaya gini aja males2an, ini mah gampang. Jadi yah di kuat2in biar tahan.

Sebenernya aku ada kerjaan sampingan sebagai guru privat buat anak2 sekolahan, jadi aku harus atur waktu sebaik mungkin. Kalau ngga bisa ke kampus biasanya Nana, atau temen sie sekretariatan yg lain yg gantiin aku. Tapi klo ada aku, pasti harus aku yg handle, ini mah idenya Nana, pokoknya harus aku yg handle klo bisa. Ketergantungan tuh dia dgnku.

Begitu sampe kampus, udah pada rame aja, lagi sibuk milah2 sesuatu, entah apa. Aku samperin si Nana.

“ngapain Na?” tanyaku duduk di depannya yg lagi duduk lesehan seperti anak2 yg lain

“eh Dy, ini lho, notebook, paper bag, sama alat tulis buat anak2 yg ikutan baksos udah jadi. Kita lagi milah2 dan dipaketin jadi satu trus di masukin ke paper bagnya. Nanti klo ada yg daftar dan udah lgs bayar kamu kasiin ini, ntar koordinasi aja sama Irma (sie bendahara yg juga seniorku).” Jelas Nana sambil memberi contoh ke aku.

Aku langsung ikutan bantu2 yg lain buat beresin kerjaan itu. Saat itulah si Mas Kayon datang, sapa sana sapa sini. Aku yg lagi duduk lesehan di lantai yg ngga begitu jauh dr pintu masuk, mendongakkan kepala ke atas, karena merasa sosok seseorg sedang berdiri di depanku. Ternyata Mas Kayon

“hey,,,,,” dia tersenyum sumringah begitu aku melihat ke arahnya

Mungkin karena efek males ngapa2in, aku pun ngga ngeresponnya, aku hanya memandangnya tanpa ekspresi
“kok ngga senyum...?” tanyannya.

Hah???? Benernya aku bingung dengan pertanyaannnya itu. Harus jawab apa? Kenapa aku harus senyum? Dan itu lah yg keluar dari mulutku ini tanpa berpikir apa2 lagi

“kenapa harus senyum??” jawabku malah balik nanya ke dia. Apa yg ada dipikiranku lgs terlontar begitu saja.

Aku pikir aku membalasnya dengan pertanyaan yg wajar, kenapa harus senyum, ngga ada yg perlu disenyumin kok, pikirku...setelah ngomong gitu aku kembali sibuk dengan kerjaanku. Dia pun berlalu masuk lewat di sampingku

Beberapa menit kemudian, aku tangkap dr ekor mataku, Mas Kayon memanggil Nana dan mengajaknya keluar.

******

Dari sekian banyak sikap kamu yg super cuek dan jutek, yg ini nih yg paling buat aku kesel...masa sih aku dah ramah, ngasi senyum terbaikku,malah ngga direspon, ditanya malah balik nanya pertanyaan yg konyol,....kenapa harus senyum??

Aku pikir kamu tuh bener2 sombong dan ngga tau sopan santun ya, aku ngerasa sebagai orang yg udah lama dikampus ini, boleh di bilang sebagai tuan rumah, ngerasa kaya terhina gitu, seharusnya kmu yg anak baru ya semestinya bersikap kaya aku, ramah dan sopan sama yg lebih senior...

Cuma entah kenapa aku ngga langsung ngomong ke kamu, malah numpahin semua uneg2 ku ke Nana. Tapi untungnya aku ngga ngelabrak kmu waktu itu, masih untung bisa nahan emosi. Karenanya aku jadi punya kesempatan buat cari tahu lebih banyak tentang kamu...

kamu mau tau apa yg aku bilang ke Nana. Aku judge kmu cewek sombong, ga punya sopan santun, belagu...marah bgt aku... aku tanya sama Nana kmu itu kaya gimana sih sebenernya? Apa emang dari dulu kelakuan kamu kaya gitu?
Dan jawaban Nana buat aku kaget. Nana malah bilang dia ngga tau sebenernya sifat kamu kayak gimana... hadeehh. Nana bilang dia ngga terlalu deket sama kamu. Dan kamu tau, sebenernya Nana juga rada2 takut sama kamu...pasti kamu ngga nyadar ya. Aku inget banget bagaimana dia mendeskrisikan kamu menurut pendapatnya,

‘Dyan itu misterius mas, jarang ngomong klo ngga perlu2 bgt, cool anaknya. kalo aku biasanya ngomong sama temen2 yg lain bisalah aku nebak orgnya karakternya gimana, maunyanya gimana, tapi klo sama Dyan susah...gelap! pokoknya gelap! kadang2 dia bisa banyak omong tapi dibelain waktu senyap bgt tanpa ekspresi sama sekali. Tapi satu yg aku tahu pasti, dia baik, soalnya dari dulu kalo dimintai tolong pasti mau bantu,hanya saja perlu keberanian lebih buat minta tolong sama dia...tapi klo dah ngomong pasti dibantuin’.

Marahku dan kesalku mulai hilang berganti jadi rasa penasaran, kayak apa sih sebenernya kamu itu. Aku ngeliat kamu ngga seperti cewek2 yg aku kenal, entah kenapa aku ngerasa ada sesuatu yang kmu ngga ingin orang lain tahu tentang dirimu.

Sejak hari itu aku berkeinginan lebih dekat lagi ke kamu... ngga apa2 deh mesti harus dijutekin dulu.

Part 6 Kesurupan???

Suatu sore sekitar jam 3 an, masih suasana MOS, session nya sie dispilin di ruangan. Aku ngga tahu pasti kejadiannya gimana, tiba2 dah pada heboh aja para panitia berhamburan masuk ke ruangan disertai dengan jeritan dan teriakan2 ngga jelas, yg sepertinya dari para maba cewek.

Aku yg sedari tadi sibuk ngerekap jumlah anak2 yg sudah daftar, masih planga plongo aja, ngga ngerti apa yg sebenernya terjadi.

Panitia MOS masih di dalam, yg kudengar dan klo ngga salah, suara teriakan para panitia juga ngga kalah histerisnya dengan teriakan para maba. Sejurus kemudian, sie disiplin yg berjumlah 4 orang keluar dengan tergesa dan wajahnya tampak memerah.

“A**... akal2an mereka aja itu! Ngga ada yg namanya kesurupan, tolol mereka itu!!!” teriak salah satu dr sie disiplin, “lo mau dikadalin sama mereka, as*!!”

“Kle**... mereka ngga bohong kamp***!!!” hardik yg lain, “lo tahan emosi lo!!”

Dan mereka berempat berdebat, saling teriak. Aduh kalau begini mah mending ngungsi aja deh. Mereka tadi nyebut2 kesurupan, apa iya para maba kesurupan? Bergegas aku menuju ke gedung depan, gedung yg dipakai buat MOS.

Aku melongok di pintu ruang MOS, Cuma ada maba yg cowok2 di sana dengan wajah seperti syok, ada beberapa panitia juga di sana. Sayup2 aku denger suara tangisan, bukan cuma satu tapi beberapa suara org nangis, wah ada apa ini. Aku mendatangi arah sumber suara yg ternyata dari ruangan sebelahnya. Di sana barulah suasana agak sedikit dramatis.

Para Maba yg kebanyakan cewek2 pada bergelimpangan, ada yang nangis2, ada yg duduk selonjoran bersandaran dengan raut wajah kelelahan. Para panitia sibuk membagikan minuman dan beberapa ada juga yg mencoba menenangkan sebagian maba yg masih terisak2. Suasana makin sore makin ngga kondusif, karena para orang tua yg hendak menjemput anak2 mereka, mulai menyadari ada sesuatu yg lain dari biasanya. Tapi untunglah, ada beberapa dosen pendamping yg menangani para orang tua dan memberi penjelasan perihal situasi yg terjadi.

Dari Yana, yg jadi salah satu pedampig kelompok di MOS, aku mengetahui bahwa akar permasalahannya adalah, pada saat istirahat, ada salah satu maba yg td pagi kena hukum secara terang2an menantang sie disiplin buat berantem. Tp karena masih dalam lingkungan kampus dan acara mos, sie disiplin ngga mau ngeladenin, dan td pas sesinya sie disiplin masuk ruangan di sanalah, mereka pada numpahin marah mereka ke maba. Atau lebih tepatnya rasa kecewa mereka ke para maba, bukan secara personal tp keseluruhan maba yg sudah ngga bisa di atur. Mungkin karena emosi dan banyak aura negative nya, jadi deh ada beberapa maba yg cewek yg ngga tahan, dan seperti agak kesurupan. Ini baru kemungkinan, penyebab jelasnya aku juga ngga terlalu ngerti. Kalau menurutku sih lebih ke kondisi fisik dan psikis mereka yg sudah lelah mungkin.

Aku dan Yana lagi duduk2, sewaktu Nana dan Damar datang, dan dengan serunya mereka cerita

“eh, Yan, Yan.. masih sih tadi Damar nenangin anak cewek, udah kaya nenangin ibu2 yg lagi mau melahirkan aja gayanya, pake nyuruh2... nafas yg bagus, atur nafas.....emang mau lahiran apa!” cerita Nana ketawa ketiwi, “ atau lo Cuma cari2 kesempatan aja tuh biar bisa deketin cewek2, perasaan dr tadi yg kamu bantuin yg bening2 mulu deh...,” semprot Nana ke Damar yg cengar cengir aja dr tadi.

“ah..beneran nih kesempatan lo ya!!” Yana juga jd ikut2an ngeledekin Damar.

“Dy...Dyaaan!!!” aku menoleh ke arah suara yg teriak memanggilku. Mas Kayon yg memanggilku dari balik jendela ruangan. Dia memberi tanda agar aku ke sana. Apa lagi sih, pikirku.

“kenapa mas?” tanyaku ke Mas Kayon yg tampak duduk di samping seorang cewek maba yg lagi terisak2 dengan nafas agak tersengal2. Wah, asma nih anak, pikirku begitu melihat cara dia bernafas yg rada2 ngga normal.

“bawa obat asma?” tanya mas kayon

“ngga mas, di sie kesehatan ngga ada?” tanyaku lalu duduk bersimpuh di ujung kaki si cewek maba.

“ngga punya mereka” sahut Mas Kayon. Tampak jelas bgt dr raut wajahnya kalau dia sangat kuatir.

Biasanya kalau aku dulu pas masa2nya asmaku kambuh ke mana2 pasti bawa obat, ini cewek bawa ngga ya? Aku beringsut pindah duduk ke samping cewek itu yg lagi berbaring.

“Dek..” panggilku ke cewek itu, tapi dia ngga jawab, “Dek!” aku panggil lagi sambil menyentuh lengannya, dia menoleh ke arahku.

“kamu punya asma? Bawa obatnya ngga?”tanyanku pelan. Dia hanya menggeleng. Parah ini dia sampe ngga sanggup ngomong.

Aku ambil selembar kertas dan menuliskan satu nama obat inhaler yg biasa aku pake beserta spesifikasinya, dan tak lupa beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya ke Mas Kayon

“tolong beliin obat ini, cepetan Mas!”

“tapi Dy...”

“udah cepetan!” potongku cepat.

Kebetulan kampusku ini ngga jauh dari rumah sakit terbesar di pulau ini, jd ngga akan susah nyari apotik di sekitaran kampus. Sambil nunggu Mas Kayon, aku berusaha membuat cewek ini nyaman meski ngga bisa nafas dengan normal

“dek...adek bisa duduk, senderan aja, “ kataku.

Tidak ada sahutan.

“dek, adek duduk ya, klo baringan terlentang gini justru tambah susah nafasnya. Atau kalau mau tiduran, posisinya nyamping aja ya...” kataku.
Maba cewek itu sepertinya mau ngikutin saranku, dia yang tadinya tiduran terlentang, perlahan-lahan memiringkan posisi badannya ke samping.

“nafasnya di atur, Dek...susah memang, tp klo bisa malah lebih enakan ntar rasanya,” saranku lagi.

Cewek itu ngga ada respon, hanya saja sekarang dia sudah agak tenang, ngga nangis2 lagi kayak tadi.

Sejurus kemudian, “ini Dy!!” tiba2 Mas Kayon udah ada di belakangku dan menyerahkan kontong plastik berisi obat pesenanku, dadanya naik turun dan nafasnya tampak ngos2an, kayaknya dia lari2an deh, cepet bgt baliknya.

“dek, saya bantu duduk ya...pakai obatnya dulu,” kataku sambil memapahnya agar bisa duduk.

“ini obat asma inhaler, ini kmu masukkan ke mulut, nanti kalo terasa ada gas yg menyemprot di mulut kamu hirup ya, seperti ini....huurruup...” aku memberikan contoh cara menghirup obatnya. Dia menggangguk.

Aku membantunya memakai obat inhaler itu, begitu ujung atasnya aku tekan, akan ada sejumlah gas berisi kandungan obat yg akan menyemprot dari dalam lubang yg sudah ada di dalam mulutnya, nah si cewek tinggal menghirupnya saja.

“uhuuk..huuuk...,” sedotan pertama dia terbatuk2 keras, reaksi yg wajar, karena nafasnya masih pendek2 pasti sulit buat menghirup dengan menarik nafas.
Nunggu sekitar 2 menit, kembali aku berikan obat itu

“sekali lagi ya... yg tadi kayaknya ngga kehirup sempurna,” kataku.
Nah, yg kedua ini dia sudah ngga batuk2 lagi. Setelah memakaikan obat, aku minta dia tetap duduk senderan ke tembok dan bernafas dengan teratur.

Aku tahu banget gimana rasanya dalam posisi maba cewek ini. Rasanya udah kaya pengen mati aja, lemes, dan susah nafas. Hampir sejam, aku nemenin maba cewek itu, akhirnya keadaannya mulai membaik, meski nafasnya belum begitu normal.

“kamu sampai rumah harus tetap periksa ke dokter ya,” saranku yg di iyakan dengan anggukkan kepala dari maba cewek itu.

“Makasi ya Kak...”sahutnya lirih, sebulir air mata lagi2 jatuh di pipinya.

“sama2. Udah jangan nangis lagi, kamu kenapa nangis sih?eh, nama kamu siapa?”

“saya Uttari, kak...saya takut kak....”

“takut kenapa?” tanyaku lagi penuh dengan rasa penasaran

“Tadi waktu kakak2 sie disiplin marah2 di ruangan, sy ngeliat ada...entahlah...gimana harus bilangnya, seperti asap atau kaya bayangan gitu kak, keabu2an dilangit2 ruangan, makin lama makin banyak, setelah itu saya ngerasa kepala saya sakit dan susah nafas...setelah itu...saya ngga inget apa2 lagi tau2 sudah di sini dan...saya susaaahh bgt buat bernafas...saya kira saya udah mati ka...”

“udah2...ngga usah dibahas. Mungkin itu halusinasi kamu aja, karena tegang dan kecapean. Ngga ada apa2 dan semua baik2 aja. Kamu emang ada sakit asma, atau baru kali ini aja ngalamin kayak gini?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.

“saya emang punya asma dari kecil kak,” sahutnya

“sering kambuh?”

“hm...ngga sering2 bgt sih..”

“kamu memang ngga pernah bawa obat klo ke mana2?” selidikku. Biasanya bagi orang2 yg punya asma dan potensial kambuhnya intens, selalu bawa obat kemana pun mereka pergi. Aku pun dulu seperti itu, obat selalu ada di dalam tasku.

“tadi kelupaan bawanya,” katanya lirih.

“astaga... Jangan sampai lupa lah, itu penting bgt tau!”

“iya kak...”sahutnya dengan wajah menyesal.
“Dy...” panggil Mas Kayon yg tiba2 udah ada di sampingku. Perasaan tadi ngasi obat masih di sini, eh sekarang malah muncul lg dr arah pintu.

“udah baikan?” tanyanya ke Uttari

“Udah kak, berkat kakak ini....”sahut Uttari, sambil menoleh ke aku

“kamu salah dek, mas ini yg nolong kamu tadi, aku hanya bantu aja, oya, kamu biasanya pake obat apa? Inhaler atau obat minum?” tanyaku

“obat minum kak, dokter sih nyaranin pake inhaler, tapi Bapak beliin aku obat minum karena lebih murah,” sahutnya.

“ini buat kamu aja,” kataku kemudian meletakkan obat inhaler yg di beli Mas Kayon ke tangan Uttari

“tapi kak...”

“udah simpen aja!!” potongku cepat, “kamu dijemput apa bawa motor sendiri?” tanyaku lagi, begitu menyadari hari hampir gelap dan di ruangan pun tinggal beberapa orang maba saja yg sepertinya masih beristirahat sambil menunggu jemputan.

“emm...saya naik sepeda kak,” sahut Uttari lirih dan sambil nunduk

“rumah kmu di mana?” tanya Mas Kayon

“di Si******* kak,” reflek aku memandang Mas Kayon begitu pula sebaliknya. Kami saling berpandangan, sepertinya memiliki pemikiran yg sama...lumayan jauh rumahnya, naik sepeda pula.

“eee...hm....”aku hendak bicara tapi aga ragu.

“tunggu...” kata Mas Kayon yg tiba2 berdiri dan keluar ruangan. Aku penasaran mau ngapain dia.

“bentar ya Dek...” lalu aku keluar nyusul Mas Kayon
Aku menuju ruang senat, kulihat Mas Kayon lagi ngobrol dengan anak2 dari sie kesehatan.

“gimana?” kataku menghampirinya begitu dia selesai bicara. Feelingku sih dia lagi bahas Uttari tadi.

“eum...harus nunggu, mobilnya lagi dipake buat anter anak yg lain, nganternya jauh pula,” kata Mas Kayon.

Tiba2 terdengar suara berteriak2 dari arah ruangan, secepat kilat, aku dan mas kayon berlari balik ke arah ruangan. Syukurlah Uttari masih ada disana dengan kondisi yg sama seperti saat aku pergi. Rupa2nya yg berteriak tadi salah seorang cewek yg memang sedari tadi aku lihat paling dijagain sama panitia, bahkan ada Pak Mangku, pegawai kampus yg juga ‘juru kunci’ di kampus ini. Udah bukan rahasia kalo Pak Mangku ini punya sedikit kelebihan, boleh dibilang Bapak ini pawangnya kalo di kampusku.

“kak...” Uttari dengan susah payah berdiri dan merapat ke aku, wajahnya disembunyikan di balik lenganku.

“udah udah.. gpp,” ujarku berusaha menenangkan padahal aku sendiri ngga tahu dia kenapa.

“ada itu d....”

“ssstttt!!!”diem!!” potongku cepat sebelum Uttari menyelesaikan kalimatnya. “Ambil tasmu, biar aku anter kamu pulang,” sahutku kemudian, biar cepet pergi dari sini. Takutnya ntar malah Uttari ikutan ketularan, malah panjang ntar urusan apalagi dia ada sakit asma.

Aku memapahnya pelan2 menuju parkiran mobil, kebetulan hari ini aku bawa mobilnya bokap gara2 td pagi ngga kebagian motor.
(Fyi, aku ini ngga punya motor, aku bawa motor hanya kalau ada motor yg ngga dipake sama kakak2ku atau ibuku, sedangkan bokap biasanya bawa motor h**** bebek keluaran tahun 76 yg hanya beliau dan Tuhan yg tahu gimana caranya menghidupkan mesinnya, so kalau ngga ada motor nganggur mau ngga mau aku harus bawa mobil, mobil ini hasil jerih payah ortuku yg akhirnya bisa bangkit dr keterpurukan ekonomi 2 tahun belakangan ini, apalagi sejak Dwi, teman baikku yg meninggal karena kecelakaan itu, bokap udah ngga ngebolehin aku bw motor kalau kuliah ke kampus di Bukit. Harus bawa mobil, karena beliau tahu aku suka ngebut dan serampangan kalau naik motor, dan yg terutama karena aku anak kesayangan bokap hehe)

“Dy...!!” suara Mas Kayon memanggilku. Dia berlari2 kecil ke parkiran, padahal aku dah siap2 jalan

“kamu sendiri?” tanyanya

“berdua, sama Uttari..” jawabku sekenanya. Dia hanya melengos mendengar jawabanku

“maksudku, kmu sendirian aja nganternya?kamu bukan panitia lho, klo ntar ditanya2 sama ortunya kamu mau jawab apa?kalo dimintai pertanggung jawaban soal keadaan Uttari gimana?” Mas Kayon bicara agak pelan supaya tidak terdengar Uttari.

Bener juga Mas Kayon, baru aku sadar aku ini panitia baksos, bukan panitia MOS.
Aku memandang Mas Kayon lalu tersenyum kecil, “hehe iya juga ya..ngga kepikiran ke sana.”

“kamu itu ya...bentar aku panggil panitianya dulu, biar ikutan nganter,” ujarnya sambil menjitak pelan keningku lalu kemudian berlari kedalam kampus.

Hey....sejak kapan dia berani nyentuh2 wajahku????

Akhirnya, ada aku sebagai sopir, kemudian Yuni sie kesehatan, sama Mas Kayon yg ikutan nganter Uttari ke rumahnya. Untunglah bokap nya Uttari baik banget. Awalnya beliau menolak obat yg aku kasikan ke Uttari. Tapi aku memaksa agar beliau mau menerimanya dengan alasan Uttari akan sangat memerlukan inhaler selama masa2 MOS, apalagi bakalan ada serentetan acara lainnya seusai MOS tingkat fakultas ini, yg akan sangat menguras tenaga. Penderita asma akan sangat terbantu karena reaksi inhaler lebih cepat dibandingkan dengan obat minum.

“Yun, ganti nih duitnya Dyan, td dia lho yg beliin obatnya Uttari,” ujar Mas Kayon sewaktu di mobil setelah dari rumahnya Uttari

“Ngga usah Mbak, biarin aja,” kataku sambil fokus nyetir.

“ngga bisa gitu dong Dy,” sahut Mas Kayon

“Ada receipt nya ngga Mas?” tanya Mbak Yuni ke Mas Kayon

“Ada lah masih gw simpen.” Kata Mas Kayon sambil ngerogoh saku celana jeans belelnya

“Mbak, aku serius lho...ngga perlu diganti itu, lagian obatnya juga udah dikasiin ke Uttari, biarin aja,” ujarku lagi memastikan kalo aku ngga ngerubah keputusanku.

“ya udah kalau gitu, makasi ya Dy.” Sahut Mbak Yuni

“sama2 mbak.”

“beneran Dy?”tanya Mas Kayon lagi, “itu uang yg kamu kasiin ngga ada kembaliannya lho?” ujarnya lagi, aku ngerti maksudnya dia, obatnya lumayan mahal.

“beneran mas, emang harganya segitu makanya aku kasiin uangnya ya segitu.”

Sore telah benar2 berganti malam, ketika kami sampai di kampus. Setelah Mbak Yuni turun dan Mas Kayon yg begitu nyampe kampus langsung di tarik sama si ketua MOS entah ada urusan apa, aku muter mobil lewat parkiran berniat langsung pulang aja. Jadi ikutan capek. Tapi sebelum mobilku sampai gerbang, aku dicegat Mas Kayon. Dia menghampiriku yg masih ada di dalam mobil

“Dy, sorry... hmm...kita bisa minta bantuan kamu lg ngga?” katanya dengan mimik wajah serius banget

“bantu apa?” tanyaku jadi penasaran

“anter anak maba lagi ke rumahnya, dia bawa motor, tp kondisinya sekarang ngga memungkinkan buat naik motor, apalagi dia sendirian, trus mobil yg anter maba yg satunya blom balik2, kasihan anaknya kalau terlalu lama nunggu” jelasnya

“ya udah...ok.” ngga mungkin juga kan nolak kalau situasinya udah gini.

Aku memarkirkan mobilku di lobby kampus, ternyata yg mau di antar itu anak yg teriak2 td sore sewaktu aku ngurusin Uttari. Kali ini yg ikut lumayan banyak, ada Pak Mangku, ketua MOS nya, beberapa senior, dan yg ngga mau ketinggalan Mas Kayon. Untunglah rumahnya ngga terlalu jauh juga.

Sampai di rumahnya, semuanya ikut masuk kecuali Aku dan Mas Kayon, kami sih ngga ada urusan, aku cuma sopir dan mas kayon...assisten sopir hehehe anggep aja gitu. Lumayan lama mereka di dalam.

“makasi ya Dy udah mau bantuin, kamu ngga apa2 kan pulangnya malem?” tanyanya sewaktu kami menunggu yg lainnya di dalam mobil

“emang ngga ada yg bisa nyetir ya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya

“Roy (ketua MOS) bisa kok nyetir, masalahnya yg di setir kagak ada hehehe...” jawabnya tersenyum

“eh ditanya jawab dong, kebiasaan nih kalo ditanya pasti balik nanya!” gerutunya lagi

“jawab apaan?” jawabku bingung

“ngga apa2 kalau kamu pulang malam2?” ulangnya lagi.

Aku melihat jam dipergelangan tanganku, menunjukkan jam 8 malam

“baru juga jam 8...ngga terlalu malam juga,” sahutku

“ya kan kmunya dari pagi di kampus, blom sempat pulang, ngga dicariin ntar?”

“pulang jam 12 pun aku ngga ada yg nyariin kok.” Sahutku

“oya? Masa sih, ngga kuatir gitu bapak ibu mu?”

“kuatir lah namanya juga orang tua.... Bapakku tau kok kalau aku ada kegiatan di kampus, jadi ya percaya kalau aku emang dikampus bukan kelayapan, sudahlah ngga usah dibahas,” jelasku.

Sebelum dia mulai ngoceh lagi, untunglah aku diselamatkan dengan kedatangan anak2 yg lain dr dalam rumah si anak maba.

Sampai di kampus...

“Makasi ya udah mau bantuin,” kali ini si ketua MOS yang namanya Roy yg ngucapin terima kasih kepadaku

“sama2 kak.”jawabku singkat

“balik dulu ya Kak,” pamitku kemudian.

Sebelum balik ke parkiran, lagi2 aku dicegat sama Mas Kayon, mau apa lagi nih cowok.

“makasi ya Dy.”

“makasi buat apa lagi mas?”

“makasi aja buat semua...aku jadi bisa ngeliat sisi kamu yg lain..” katanya cepat

“hah...apaan?” ujarku memastikan
pendengaranku ngga salah, sisi yg lain apa maksudnya

“hehehe ngga apa2 kok, ya udah sana pulang, hati2 ya di jalan.”
baru lagi nih ceritanya
Mantap sis update'y emoticon-Jempol

Part 7 Sopir Dan Assisten Sopir

Rupanya, keesokan harinya, lagi2 aku harus jadi sopir. Kalau gini terus mending aku masuk panitia mos aja jd sie transportasi.

Kali ini ngga tanggung2 aku dimintai tolong nganter anak maba yg pingsan sampe masuk ugd karena ngga sadar2 dan rumahnya itu ada diluar kota Denpasar, kira2 sejaman kalo naik mobil. Sebenernya anak itu ngekost bareng temennya, tp temennya takut ntar ada apa2 sama temennya yg sakit itu, dia ngga tau harus gimana, jadi mereka minta di anter ke rumah orang tua mereka saja.

Sampai kampus sudah sekitar jam setengah 12 malam. Di kampus aku nurunin Mbak Irma dan 2 orang panitia yg lain yg ikutan nganter, trus jalan lagi nganterin salah satu sesepuh yg ternyata dia udah ditinggal balik duluan sama temennya, dia minta tolong aku buat anterin meski arahnya sama sekali berlawanan, aku iya2in aja,kasihan juga dia udah banyak bantuin panitia. Aku nganter bareng Mas Kayon, emang dia ngga pernah absen seharian ini nemenin aku,....eh apa aku yg besar kepala ya, atau jangan2 dia hanya ikutan bantu tanpa bermaksud nemenin aku.
“capek?” tanya Mas Kayon di perjalanan balik dari nganter si sesepuh.

“ngga juga,” jawabku sedikit berbohong, sebenernya aku dah mulai ngantuk, udah jam 12 lewat ini.

Dan tanpa kusadari aku menguap.

“ngantuk?” tanyanya lagi, “mau aku gantiin?” tawarnya

“emang bisa nyetir?” tanyaku balik

“ngga hehehehe...” jawabnya cengengesan

“Trus gimana caranya gantiin?”

“ya..berhenti aja dulu, tidur dulu...”

“hadeeeh.....asal aja,”

“hehehehe...becanda...biar kamu ngga ngantuk,”sahutnya, “ortu kamu pasti nyariin ini, kamu dah kasi kabar ke rumah?”

“belum,”sahutku

“lha trus?”

“ya terus aja....ngga ada belokan, ya terus saja,” jawabku asal sambil fokus nyetir

“kamu itu...” sambil berujar dia mengangkat tangannya hendak menyentuh kepalaku.

“eh...mau ngapain?!” sentakku terkejut, membuat mobil jadi agak oleng karena tidak sengaja tanganku sedikit memutar stir mobil, sedang tangan yg satunya hendak menangkis tangannya yg hendak menyentuh kepalaku.

“maaf...reflek,” sahutnya agak kaget dengan reaksiku. Aku memacu mobilku lebih cepat agar segera sampai di kampus.

Kampus udah sepi sekali, ngga ada satu orang pun, Mas Kayon pun turun begitu aku memasuki halaman kampus.

“yakin Mas mau aku anter sampai sini, sepi ini lho?” tanyaku sambil liat sana liat sini, ngeliat apa ada orang lain selain kami berdua.

“yakin.. ada kok anak2 di ruang senat pasti,”sahutnya, ”kamu balik ya, hati-hati...berani kan sendiri?”

“kalau aku bilang ngga berani, emang mas mau nganterin?” aku balik nanya

“ya aku anterin lah, beneran,”

“trus ntar mas balik nya gimana?”

“ya kamu anterin lagi ke sini hehehe,”

“aish... sama aja bohong itu...”

“heheheheheh....”

Part 8 Around Me

Semenjak hari itu aku merasa (entah hanya perasaanku saja atau memang bener) Mas Kayon selalu ada di mana pun aku berada, meski itu hanya diseputaran kampus saja. Dan beberapa kali aku mendapati dia sedang memperhatikanku. Kepergok sedang memandangiku, dia langsung nyengir kuda, khas andalannya. Pernah kan kalian merasa seperti ada yg memperhatikan dan secara reflek mata akan menuju tempat yg menurut feeling kalian dari sana lah ada yg memperhatikan, nah seperti itulah, entah beberapa kali, sering malah.

Pernah aku sedang meladeni anak maba yg mau daftar, entah kenapa reflek aku menoleh ke arah pintu ruangan mos yg ada disebelah kiri tempatku buka stand. Dan di sana si Mas Kayon sudah siap dengan kamera, yg entah punyanya siapa, membidikkan lensanya ke arahku. Segera aku menutup wajahku dengan kertas supaya terhindar dari bidikannya. Tapi begitu stand sepi, tiba2 dia udah nonggol aja tepat di depan meja tempatku duduk.

“apaan sih!!sana..sana....”usirku gusar, aku paling ngga suka difoto.

“yaelah Dy, satu jepretan aja,” rayunya

“Ngga!!!sana..jauh jauh,” aku mengibas-ngibaskan kertas di depan mukanya.

“ya deh..sombong!huh..” dia lalu melengos pergi.

* * *

Hari ini adalah hari terakhir mos. Sore nanti hingga malam akan ada acara kesenian dan keakraban. Masing2 kelompok akan unjuk gigi dengan menampilkan kreasi mereka. Aku sudah males bgt, capek, dan pegal2, dari pagi cuma duduk aja. Semua peralatan kubereskan, mau pulang aja atau jalan2 bentar sebelum pulang, palingan ngga ada yg daftar lagi karena para maba lagi sibuk siap2 buat acara malam keakraban

“eh, mau ke mana kok udah rapi2 aja?” tiba2 Mas Kayon datang dan langsung duduk di kursi sebelahku.

“udahan hari ini, lagian anak2 pada sibuk nyiapin buat acara ntar malem.” Sahutku tanpa menolehnya

“trus kamu mau ke mana?” tanyanya

“ya pergilah, cape tau!” aku bergegas pergi tanpa menghiraukannya lagi.

Sebenernya aku ngga langsung pulang, aku lagi pengen nongkrong di gramedia, baca2 novel. Hampir 2 jam aku di gramedia, setelahnya bukannya pulang, tp aku malah balik ke kampus lagi. Penasaran juga sama pentas seninya para maba.

Sampai di kampus, acaranya sudah dimulai, tampak ramai sekali di sekitaran panggung. Aku hanya melihat dari kejauhan, duduk selonjoran di pembatas taman, beberapa teman dan senior yg kukenal juga ada disana. Di panggung sedang beraksi anak2 maba yg ngeband, jadi ingat waktu smu dulu, lumayan sering ada pentas band, tapi sayang aku sama sekali ngga tertarik buat nonton

“eehheem.....katanya pulang, kok balik lagi?” sebuah suara mengagetkanku, Mas Kayon tiba2 aja sudah duduk di sebelahku.

“emang ngga boleh ya ke sini, ya udah aku balik aja...” baru aku hendak berdiri, tangan Mas Kayon dengan cepat udah menahan tanganku

“eit..gitu aja marah, becanda Dy...duduk aja lah santai..” ujarnya sambil senyum2

“kamu suka lagu apa sih?” tanyanya tiba2.

“ngapain nanya2?” tanyaku balik

“yaelah...nanya doang Dy, masa ngga boleh sih?”

“aku suka Bryan Adams,”sahutku akhirnya

“yg lokal?”

“hmm.. suka Pelukis Malam-nya Nugie.”

“hm...suka Nugie, ya...kok bisa suka lagu itu?”

“ya suka aja..”

“masa sih? pasti ada sebabnya nih kayaknya sampe bisa suka”

“hm...mungkin itu karena dulu waktu masuk smu, pas acara mos, kan ditutup sama acara pendakian tuh, nah pas malamnya panitia mos itu nyanyiin lagu itu, mungkin karena suasannya yg pas dengan lagunya, jadi kesannya membekas gitu.”

“hm...atau terkesan dengan kakak senior yg nyanyiin itu lagu?” godanya tersenyum sambil menaikturunkan alisnya.

“ngawur!orang nyanyinya bareng2 gitu, mana ada terkesan...yg ada terkesan dengan suasana waktu itu, nungguin temen2 yg lain mendaki, aku stay di bawah, campnya itu di balai desa, malam2 dingin bgt ngga bisa tidur gara2 ngga bawa sleeping bag, selimut juga ngga bawa, mana kebelet pipis, toiletnya jauh dan pas dianterin ke toilet dijalan mana gelap bgt, lewat semak2 belukar, eh ternyata toiletnya di alam terbuka di tepian danau...” ceritaku yg disambut dengan derai tawanya.

“ngapain ngga ikutan mendaki, kok malah diem di bawah?”

“lagi ngga boleh waktu itu,”jawabku

“oh...ngga boleh itu maksudnya lagi kedatangan bulan gitu ya?”

“iya mas....udah tau malah dipertegas lagi,” sungutku.

“hehehehehe...trus2 kamu sering mendaki yah?”

“hm.. ngga juga, itupun karena acara sekolah, sispala sekolahku itu aktif sekali, sekolahku kalau tujuh belasan ngga pernah upacara bendera disekolah, upacaranya di atas gunung.”

“wah..keren tuh,”pujinya.

“heh!!!malah disini berduaan, pacaran aja nih kalian!!ngga boleh deket2an, minggir2...” tiba2 sesosok senior sama2 dari jurusan Mas Kayon datang dan langsung duduk ditengah2 kita berdua.

“kampret lo Fel.....duduk tempat lain napa?” ujar Mas Kayon protes.

“enakan disini gangguin orang pacaran hehehe,” balasnya sambil nyengir kuda

“kita ngga pacarn lho Mas Felix!” sahutku meluruskan anggapannya yg salah.

“pacaran juga gpp kok hehehehe,” godanya.

Jadilah mereka berdua saling ejek satu sama lain, aku ngga terlalu memperhatikan
keduanya dan memilih focus nonton opera tengil karya anak2 maba, meski pun amatiran tapi mereka lucu2 juga.

Jam 10 malam acara malam keakraban hampir selesai. Sebelum pulang aku iseng2 mampir ruang senat. Yg seperti kuduga sangat ramai. Ga hanya para panitia MOS dan baksos, anak2 maba pun ada di sana bercengkrama dengan para senior. Modus panitia ini pasti!

Aku hanya melihat sekilas saja ke dalam ruangan sebelum akhirnya melangkahkan kakiku ke parkiran, tapi sebelum aku benar2 pergi dari areal ruang senat, lagi2 sosok Mas Kayon mencegat langkahku.

“Mau pulang Dy?” tanyannya.

“iya, kenapa?”

“boleh ngga aku minta tolong?”

“tolong apa?”

“kamu searah ngga sama rumahnya Nana?”
tanyanya

“ngga.”

“jauhan mana rumah kamu sama rumah dia?”

Aku mulai ngerasa aneh klo udah ditanya muter2 gini

“kenapa nanya gituan?Mas kalau mau tahu tanya aja sama orangnya langsung, bukannya td Nana ada di dalam ya,” jawabku dengan menunjuk ke ruang senat dengan ujung mataku, sambil menatapnya penasaran.

“Ngga, bukan gitu...benernya aku mau minta tolong kmu anterin Nana pulang, tadi dia kan bareng sama Yana, ternyata Yana ngga bisa anter Nana balik, sekarang dia bingung mau pulang sama siapa,” akhirnya dia menjelaskan maksud sebenarnya.
Ternyata dia perhatian bgt sama Nana.

“astaga Mas.. mas..., jadi cuma minta tolong anterin Nana pulang?ngomongnya kok muter2 gitu, ngapain juga nanya2 rumahku segala..”

“takutnya ngerepotin kamu kalau mesti nganter Nana pulang dulu,”sahutnya

“kalau dari kampus ke rumahnya Nana emang ngga terlalu jauh, cm ya ngga searah bgt sama ke rumahku. Lagian juga kok Mas Kayon sih yg ngomong ke aku, bukannya Nana sendiri?”

“hehehe... takut katanya Nana kalau lgs ngomong ke kamu...” jawab Mas Kayon sambil menahan senyumnya

“astaga.....takut kenapa?! Emang aku bakalan gigit dia apa?!”

“mungkin dia ngga enak aja sama kamu, sebenernya dia ngga tahu lho aku ngomong ini ke kamu, td dia masih mikir2, aku suruh ngomong ke kamu dianya malah ngga jalan2, ya udah aku inisiatif aja ngomong lgs ke kamu.
"

Bener2 nih si Nana, ngapain juga sih pake acara ngga enak rasa sama aku, ngga habis pikir deh! Aku langsung balik ke ruang senat, manggil Nana dan mengajaknya pulang. Itu anak cuma cengar cengir ngga jelas sambil bilang makasi dan mengekorku ke parkiran. Aku yakin banget Nana dan Mas Kayon saling kode2an di belakangku.

Part 9 Mabuk

Hari pertama tanpa ada acara mos membuat suasana kampus di pagi ini sedikit sunyi.
Mungkin aku nya yang kepagian? Dari parkiran aku langsung ke ruang senat, mungkin sudah ada teman sesama panitia di sana mengingat hari sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh. Harusnya udah ada karena panitia baksos mengumumkan ke anak2 mana kalau stand pendaftaran buka jam 9 pagi.

Aku agak kaget melihat kondisi sekitaran area senat. Ini habis pada ngapain sih kenapa jadi berantakan begini. Sampah2 bergelimpangan di sekitaran selasar di depan ruang senat. Botol2 beer dan entah botol apa lagi berserakan ngga karuan. Agak ragu aku mengintip ke balik pintu ruang senat yang sedikit terbuka.
Aroma alkohol menyeruak penciumanku. Aku perhatikan siapa saja bergelimpangan di dalam sana, kebanyakan senior dan ada satu sosok yg sangat kukenal, meski tubuhnya memunggungiku, ya dia Mas Kayon. Sepertinya dia juga ikutan minum2 semalam. Perlahan kututup lagi pintu senat dan bergegas pergi.

Kampusku ada di daerah yang padat dan sibuk. Kalau lewat dari jam 8 pagi dan mesti bawa mobil jangan harap kebagian parkir. Parkir di kampus sendiri tidaklah terlalu luas, dan tidak memungkinkan juga parkir di tepi jalan karena jalanan yg tidak terlalu lebar dan dipakai untuk 2 arah pastinya akan menimbulkan kemacetan. Kepadatan ini rupanya dimanfaatkan warga sekitar untuk membuka kedai2 di depan rumah mereka tentu saja yang di sasar adalah para mahasiswa.

Aku pun memilih untuk menghabiskan waktu pagi ini dengan duduk di salah satu kedai dekat pintu masuk samping kampus. Kedai ini terbilang komplit, ada wartel (masih inget wartel kan?!), warnet, dan cafetaria kecil. Kuambil beberapa cemilan, dan beralih ke salah satu cubicle untuk berinternet ria. Kubuka situs google, tapi aku ngga tau mau browse apa, pikiranku ngga focus. Entah kenapa aku ngerasa kesal dan ngga tahu kenapa harus kesal. Kembali terulang di pikiranku apa yg kulihat tadi. Mas Kayon ada di sana pastinya dia juga ikutan minum2. Apa dia sampai mabuk?
Arrghh... apa peduliku kalau dia minum? Kalau dia mabuk? Itu urusannya kenapa aku yg pusing dan kesal karena tingkahnya. Ngga bener nih pikiranku. Salah salah, umpatku dalam hati.

Berbarengan dengan kalutnya pikiranku, kudengar dari dalam cubicle wartel, suara yg ngga asing ditelingaku.

“na, gimana nih kok ngga ada yg standby di stand, udah pada datang nih mau daftar.”
Ya, itu suara Damar, ketua baksos.

Hm... rupanya udah ada yg mau daftar. Kutunggu sampai Damar pergi, baru kemudian aku beranjak dari tempatku.

Sudah ada sekitar 5 anak maba menunggu di luar ruang senat. Aku tata bangku dan beberapa kursi di selasar, sengaja aku buka stand di luar supaya tidak masuk ke dalam ruang senat. Meski aku liat sekilas tadi di dalam sudah tidak ada orang, dan botol2 yg tadi berserakan pun sudah tidak ada lagi hanya tersisa sampah2 kecil di sana sini.
Aku melayani para maba yg mau daftar, mencatat nama mereka dan memberikan kelengkapan lainnya. Sayangnya mereka masih harus menunggu lagi karena sie bendahara belum datang. Aku persilakan mereka menunggu di seputaran kampus. Ngga aku lihat batang hidungnya Damar, kemana perginya anak itu selepas dari wartel td.

Setelah anak2 maba pergi dan berjanji akan datang lagi sekitar sejaman, kembali aku sendirian di sini. Aku teringat kalau aku membawa satu buku yg belum selesai kubaca, daripada bengong kukeluarkan bukunya dan mulai terbenam dalam tarian kata2, sampai2 kemudian tanpa aku sadari sesosok lelaki itu sudah ada di sampingku dengan senyum khasnya.

“ehem....serius amat bacanya,” sapanya yang membuatku reflek menoleh kearahnya.

Mas Kayon berdiri di ujung bangku tempatku duduk, dengan kedua tangannya bertumpu pada bangku, tampak dia sudah mandi yg tercium dari aroma segar sabun dan wajahnya yg keliatan fresh. Berbeda sekali dengan kondisinya yang kulihat td pagi meski aku ngga ngeliat langsung wajahnya bisa kubayangkan gimana wajah2 orang kalau lagi mabuk. Mengingat itu alhasil membuat rasa kesalku kembali menyeruak dan memilih ngga menanggapi sapaan basa basinya. Kembali kualihkan pandanganku ke barisan kata2 di depanku meski pikiranku sama sekali hilang fokus.

“kenapa Dy?” sekali lagi dia bertanya.

“kenapa apa?” tanyaku balik dan memandang langsung ke matanya.

“kok diem aja? Kamu ngga apa2 kan?” dia mendekat dan duduk di sampingku.

“ngga apa2, emang kenapa?”

“ngga apa2 sih, nanya aja,”
Kututup buku di depanku, dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

“semalem pada ngapain aja sampe hancur begini?” aku sudah ngga bisa menahan diri untuk tidak bertanya.

“ya biasalah anak2, pada diskusi sampe malem, eh ngga ding, sampe subuh malah baru pada bubaran,” sahutnya.

“Diskusi mesti isi acara minum2 juga ya?” aku menatapnya2 dengan ujung mataku. Jelas kulihat ekspresi wajahnya yg tampak kaget

“ya ngopi2 kan minum juga,” ujarnya cengar cengir

“oh...ngopinya pake botol ya sekarang, atau ada yg jual kopi pake botol beer ya , atau ada kopi rasa beer atau rasa tuak ya?”

Dia tertawa kecil

“Ya emang ada minum2 sih,” ngaku juga akhirnya, “tau dari mana?”

“berserakan di sini, sekalian sama orang2nya juga.”

Kupandang sekilas dia, ingin tahu reaksinya. Masih dengan wajah tersenyum dia malah balik ngeliatin aku.

“Apa sih enaknya minum, mabuk?” tanyaku tanpa melepas pandangan dari matanya. Senyumnya hilang digantikan dengan ekspresinya yang seperti...entahlah sulit diungkapkan.

“menenangkan Dy,” sahutnya, “ kamu tau Wisnu kan, nah dia kalau mabuk tiba2 jadi jago main gitar lho, lagu apa aja dia bisa, tp kalau udah sadar dia ngga ngerti soal gitar, aneh kan?!”

“kan bisa cari cara lain buat menenangkan diri?”

Dia terdiam, senyumnya pun hilang dari wajahnya, berganti dengan ekspresi yg sulit kuterka, tatapannya lurus ke depan.

“dapet apa sih kalau minum2 kayak gitu, sampe mabuk? Emang abis mabuk bisa hilang semua masalah?”

Entah kenapa aku jadi bener2 kesel. Bukan hanya karena tahu kalau Mas Kayon juga ikutan mabuk di kampus, tapi aku juga sebal karena mahasiswa fakultas tempatku menuntut ilmu doyan mabuk. Apa kata masyarakat kalau tahu jadi mahasiswa kerjaannya mabuk aja tiap malam. Bisa tercoreng nama baik kampus terutama fakultas ini. Memang buat sebagian orang hal ini adalah biasa. Tapi tidak buatku. Apa aku terlalu naif. Yang jelas gaya hidup seperti ini bukanlah yang aku sukai.

“maaf...”

Aku mendengarnya berucap satu kata sakti itu. Tapi aku ngerasa itu bukan kata yg tepat buatku.

“maaf untuk apa?” aku berusaha mempertegas maksud dr kata maafnya itu.

“ya... maaf untuk yg kulakukan semalam, ngga sehar ...”

“nggak2. Mas punya hak kok buat ngelakuin semua yg mas mau,” potongku cepat, “Aku emang ngga suka, cuma ya, ngga berhak juga aku ngelarang2 kan.”

Dia diam tidak menanggapi omonganku.

“sebisa mungkin ngga akan kuulangi,”
sahutnya memandangku dengan tatapan yg aneh, ya entah beberapa kali aku mendapatinya memandangku seperti ini.

Buru2 kualihkan pandanganku dan menyahutinya, “terserah mas...sekali lagi bukan hakku buat ngelarang. Aku hanya...ngga suka...” kalimatku mungkin terdengar menggantung, ya karena aku sendiri ngga tahu harus melanjutkan dengan kata2 apa lagi.

Untunglah setelahnya beberapa orang teman sejurusan dengan Mas Kayon datang dan menyelamatkan kami dari situasi awkward yg kuciptakan. Entah apa yg mereka bahas karena aku ngga terlalu ngerti bahasa Jawa, bahasa yg sering mereka pakai dengan sesama orang jawa.

Sejurus kemudian Damar dan Nana datang. Aku titip stand ke Nana dengan alasan aku ada jadwal ngajar siang ini.

*****


Aku tahu kamu ngga suka dengan apa yg aku lakukan. Tapi hanya dengan minum2 aku bisa mengusir segala beban pikiranku. Emang bener apa yg kamu bilang Dy, masalah ngga akan hilang hanya dengan mabuk2an. Tapi terkadang kepalaku terlaLu berat untuk menanggung semua sendiri.
Aku janji sebisaku ngga akan mabuk lagi. Aku ngerasa kamu berhak melarangku dan aku suka itu.
Aku suka perhatian itu Dy.

Part 10 Pasar Loak

Mendekati hari H kegiatan kerjaanku udah ngga terlalu banyak lagi. Anak2 yg mendaftar sudah sesuai target bahkan melebihi target. Sekarang giliran sie2 lain yg bergerak untuk persiapan selanjutnya. Dengan dana yg terkumpul pembelian alat2 dan kelengkapan pun di mulai, rapat2 makin sering digelar untuk sharing kendala dan ide2 dari setiap seksi demi kelancaran kegiatan ini.

Di suatu siang yang terik, ketika aku baru saja menghempaskan pantat di lantai ruang senat sambil kipas2 mengusir panas, dari arah kantin kulihat Mas Kayon berjalan menuju ke arahku.

“Hai Dy!” sapanya kemudian duduk di dekatku, “sibuk ngga hari ini?”

“ngga”

“ikut aku yuk!”

“kemana?”

“ada aja...ayo!” dia berdiri

Mau ngga mau aku pun ikut berdiri untuk kemudian mensejajari langkah nya menuju ke parkiran.

“bawa motor atau mobil?” tanyanya lagi

“motor,” sahutku mendahuluinya menuju ke tempat parkir motorku.

“Dy tungguin di gerbang ya, aku minjem helm dulu.”

“iya,” sahutku.

Tak berapa lama aku menunggu Mas Kayon datang dan mengambil alih kemudi.

“biar aku aja yg bawa,” ujarku meminta tas punggungnya ketika dia hendak menyampirkan tas itu di dadanya.

“hehehe makasi ya...” ujarnya tersenyum. Aku sampirkan tasnya di dibahuku dan kemudian duduk di belakangnya.

“emang mau ke mana sih? “ tanyaku ketika kami sudah melaju di jalanan. Kukencangkan sedikit volume suaraku supaya bisa terdengar olehnya dari depan

“ada aja,” sahutnya tanpa mau memberitahuku ke mana tujuan kami sebenernya.

“Dy?” panggilnya ketika kami berhenti di traffic light

“iya?”

“pengen deh liat kamu pake pakaian adat kaya gitu,” ujarnya. Aku tahu yg di maksud adalah seorang cewe yg memakai pakaian adat bali yg berhenti di depan kami.

“ribet,” sahutku asal.

“penasaran pengen liat, kalau pake pakaian gitu masih tomboy kayak gini ngga,” ujarnya lagi sambil melirikku dengan ekor matanya sambil tersenyum jahil.

Aku memukul kerasa bahunya dari belakang yg membuat dia beraduh2 kesakitan.

“udah hijau, jalan2...” kembali aku tepuk2 keras bahu belakangnya menyuruhnya segera jalan karena lampu traffic light sudah menyala hijau.

“sakit Dy...” rutuknya di sela2 dia mengemudi

“biarin!”

***

Dia berhenti dan memintaku turun, setelah memarkirkan sepeda motorku, dia menghampiriku yg berdiri kebingungan sedari tadi.

“ini ngapain ke sini sih mas?”

“hehehe...” hanya itu sahutan darinya.

Mau ngga mau aku pun mengekornya di sepanjang trotoar yg makin sempit karena beberapa pedagang menjajakan dagangannya di atas trotoar.

Disinilah aku, di sebuah pasar loak, pasar barang2 bekas untuk onderdil mobil, sepeda motor,bahkan sepeda gayung pun ada di sini. Selain itu macam2 perlengkapan untuk berkendara juga ada di sini.

Para pedagang, yg kuperhatikan sedari tadi kebanyakan cowok2, terus saja menawarkan barang2 yg mereka jajakan ketika kami melewati lapak2 mereka. Rupanya Mas Kayon sudah punya target lapak yg mau dituju. Di sebuah lapak dia berhenti, menyapa beberapa lelaki yg ada di sana dengan bahasa yg tidak kumengerti.

Aku yg masih berdiri di luar lapak itu dipersilakan masuk agak ke dalam oleh mas2 pedagangnya, ketika hendak masuk, tidak kuperhatikan gelantungan barang2 diatasku, alhasil sebuah benturan keras menohok keningku.

“aduh!!!”

“eh hati2 mbak...” tegur si mas pedagangnya

Telat negurnya, kepalaku udah kepentok sakit banget, penasaran dengan apa yg membentur kepalaku, aku mendongak ke atas, ealah knalpot motor ternyata.

“sakit ya?” tanya Mas Kayon begitu aku berdiri di sampingnya.

“ iya lah..” sahutku dengan memasang wajah cemberut.

“kasian kasian...” ujarnya dengan tersenyum jahil.

Setelah urusan dengan mas2 pedagangnya selesai, kami balik ke parkiran. Kembali kami melewati koridor2 sempit diantara puluhan lapak2 pedagang. Tak ada satu pun wanita diantara pedagang2 itu tak heran kalau aku ngerasain jadi pusat perhatian di sana.

Akhirnya kami sampai diujung koridor, aku mengikuti Mas Kayon yg belok kiri di ujung koridor, aku mengikutinya dan....PLETAK!!!
Satu kali lagi benturan menghantam kepalaku, kini yg membentur kepalaku adalah sebuah helm yg di gantung rendah.
Otomatis aku berhenti sejenak dan memegangi kepalaku yg terbentur tadi.

“Ngga apa2 kan Dy,? Benjol ngga??”
Aku memandang sebal ke Mas Kayon yg tampak dari wajahnya berusaha menahan tawa.

“sakit tau!!” semprotku sebal.

Bukannya bersimpati, dia malah menyemburkan tawanya yg sedari tadi di tahan2.

“Apes banget ya kamu sampai ke jedot 2 kali gitu kepalanya, kasian2...” ujarnya yg tanpa kusadari tangannya mengacak2 lembut rambutku.

“ayo...” tanpa meminta persetujuanku dia langsung meraih tanganku dan digandengnya menuju ke tempat parkiran.

Aku ngga menolak, selain karena kondisi lagi rame2nya, aku pun merasa nyaman dengan perlakuannya ini.

“tadi beli apaan sih mas?” tanyaku ketika kami sampai ditempat parkir, aku menerima helm yg di sodorkannya dan memakainya.

“aku pesen roda, buat gerobak sampah. Nanti rencananya kita bakalan menyumbang gerobak sampah juga,” jelasnya sambil memakai helm

“trus belom jadi barangnya?”

“belum, masih kurang satu nanti klo sudah jadi mereka yg anter ke kampus,” jelasnya,
“ayo naik!”

Aku naik di belakangnya. Kamipun melaju kembali ke kampus.

***

“mau langsung balik?” tanya Mas Kayon ketika kami sampai di kampus.

“iya, udah ngga ada kerjaan lagi aku di sini.”

“ntar malem ada rapat panitia, kamu ngga ikut?”

“oya? Aku ngga tahu,” sahutku lalu duduk di motorku

“ini aku kasi tahu, dateng ngga?”

“ngga kayaknya.”

“kok ngga?”

Aku memandangnya heran, “ya ngga aja, emang kenapa? Lagian aku ngga terlalu diperlukan lagi kan.”

“ya ngga gitu juga Dy..”

“lagian ntar abis rapat pasti ada acara minum2 juga kan?” tebakku sambil melemparkan senyum menyindirnya.

“kan aku dah bilang ngga minum lagi.”

Aku hanya tersenyum kecil menanggapi kata2nya tadi, “iya...mudah2an beneran,“ sahutku kemudian. Kembali aku melihat pandangan mata mas Kayon yg terlihat berbeda ketika menatapku.

“ya udah, aku balik dulu ya.”

“hati2.”

Part 11 Pelukis Malam

Aku baru saja nyampe depan senat, ketika Nana mencegatku

“Dy boleh pinjam motor ngga, bentar aJa?”

“boleh tapi jangan lama2 lho ya.”

“beres!”

Aku berikan kunci dan surat motorku ke Nana.

Dan ternyata ukuran waktu lama Nana dan aku beda jauh. Hampir 3 jam aku nungguin dia balik. Menjelang malam dia baru balik ke kampus, kebetulan aku sedang duduk di halaman depan kampus. Dia datang berboncengan dengan Mas Kayon. Oh ternyata keluarnya sama Mas Kayon.

“Dy aku ntar nebeng pulang ya? Bisa ngga?” tanya Nana sewaktu mengembalikan kunci dan surat motorku.

“bisa kok, tenang aja.”

Jadilah kemudian aku nganter Nana pulang dulu.

“Dy, ntar kamu cek bagasi dalem ya, ada sesuatu buat kamu,” kata Nana sebelum dia masuk ke dalam rumah.

“Apaan Na?”

“ya dilihat aja ntar sampe rumah. Makasi banyak ya Dy, daah...” dan dia pun menghilang di balik pintu pagar rumahnya sebelum aku sempat nanya2 lagi.

Begitu sampai di rumah segera ku periksa bagasi dalam motorku seperti yg di bilang Nana. Aku menemukan tas plastik putih di sana dan kulihat di dalamnya ada sebuah kaset dari albumnya Nugie. Salah satu lagunya adalah Pelukis Malam.

Pikiranku langsung mengarah ke Mas Kayon. Beberapa hari yg lalu dialah orang satu2nya yg menanyakan tentang lagu kesukaanku. Ah, besoklah aku tanya Nana.

“Na ini yg Kmu maksud semalem?” tanyaku begitu ketemu Nana di kampus keesokan harinya sambil memperlihatkan kasetnya.

“he eh,”sahutnya singkat

“dari..?”

Dia menatapku, “Kmu ngga tau? Ngga di kasi tau?”

Aku menggeleng.

“astaga...orang itu....” gumamnya membuatku ngga ngerti

“siapa Na? Kenapa ngga lgs dikasiin ke aku?”

“itu dari Mas Kayon, aku pikir dia udah ngomong ke kamu.”

Benar ternyata dugaanku.

“ya udah..” sahutku kemudian beranjak ke kantin, siapa tahu aku ketemu Mas Kayon di sana.

Sekali lagi feelingku benar. Ada Mas Kayon di sana, hanya saja dia sedang bersama teman2 sejurusannya di sana yg notabene adalah seniorku dan para sesepuh.

Ya Mas Kayon itu angkatan jauh di atasku. Aku dan dia saja terpaut usia 6 tahunan. Seharusnya dia sudah menyelesaikan kuliahnya dari dulu tapi entah kenapa sampai sekarang ngga selesai2, bukannya serius garap skripsi malah asyik ikutan kegiatan. Aku ngga pernah menanyakan perihal skripsi atau lulus kuliah takut malah buat dia down.

Kuurungkan niatku untuk menyapanya, aku terus berjalan mengitari kantin dan gedung perkuliahan dan sampai di areal tengah kampus, aku duduk di sebuah gazebo ( kalau di bali namanya bale bengong) tempat anak2 biasanya nongkrong2 nunggu perkuliahan di mulai atau nunggu kuliah selanjutnya di mulai. Tapi karena saat ini masih masa liburan, suasana kampus masih sepi.

Gimana nih caranya nanyain soal kasetnya. Pokoknya harus tanya sekarang, pikirku.
Hari ini aku bener2 beruntung karena tak lama kemudian Mas Kayon muncul dr balik gedung perkulihan, tapi sayangnya dia ngga sendiri, ada beberapa orang temannya mengekor di belakang. Eh, ternyata mereka malah duduk berhamburan di bale bengong tempatku duduk.

“hai Dy...” sapa salah seorang temannya yg rupanya mengenaliku yang kubalas dengan senyum.

“mas aku mau balik in sesuatu,” kataku ke Mas Kayon yang kemudian menghampiriku.

“ini,” kusodorkan kaset itu kepadanya. Aku penasaran gimana reaksinya.

“hehe itu buat kamu kok,” sahutnya

“buatku?yakin??”

“iya, aku beliin buat kamu kok.”

“kenapa kemarin ngga ada ngasi tau aku?”

“iya, sorry kelupaan hehehe,” sahutnya

“kenapa dibeliin ginian, kan aku ngga ada minta?”selidikku

“yah pengen aja beliin buat kamu kan katanya suka Pelukis Malam nya.”

“ya tapi kan ngga usah dibeliin kasetnya segala Mas,”

“gpp Dy, anggap aja kenang2an dari aku, sebenernya albumnya Nugie yg ini Trilogi. Aku dah pernah punya yg album pertama dan aku kasih ke sahabatku di makasar, album kedua aku beliin buat adikku, dan yg ketiga ini buat kamu,” jelasnya.

“oh gitu, anyway, thanks ya,” sahutku tersenyum tipis.

Entah kenapa ada rasa kecewa menyergapku.
Jejak dulu sekalian nandain, kalau dah banyak baru baca emoticon-Ngakak (S)
Sekalian aku GEMBOK pejwan-nya emoticon-Stick Out Tongue

Mahos dan kawan-kawannya pindah sebelah emoticon-Ngakak (S)

Part 12 Baksos In Action

Lokasi baksos kali ini, desa yang tidak begitu terpencil tapi perkembangannya tidak juga significant. Warga desanya sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang. Petani di sini bekerja di ladang ya bukan di sawah. Dan desa ini termasuk salah satu penghasil tuak (minuman keras khas Bali) terbaik di Bali. Tuak salah satu barang dagangan utama bagi para warga, selain dikonsumsi sendiri. Warga desa, terutama para lelakinya punya kebiasaan minum tuak di pagi dan sore hari untuk menghangatkan badan, karena cuaca di desa ini lumayan dingin. Sempat aku curiga, jangan2 desa ini dipilih supaya para senior itu bisa minum tuak gratisan.

Karena sepengetahuanku, hampir tiap malam selama baksos sebagian panitia dijamu tuak oleh tetua desa. Di sini jamuan tuak juga berarti sebagai bentuk rasa keakraban. Sebenernya bisa saja ditolak secara halus, tapi siapa sih yg bisa menolak diajak minum tuak, apalagi senior2 itu yg emang doyan minum.

Rencana awal, aku ngga ikutan datang ke lokasi baksos. Tapi kenyataannya tiba2 harus berubah sehari sebelum keberangkatan gegara Nana. Ya lagi2 gara2 Nana. Dia membujukku habis2an supaya ikut ke lokasi. Bisa ditebak aku pun kemakan bujukan mautnya.

Ternyata ngga ada yg bisa kulakukan di sana. ARRGHHH...sebel bgt, gara2 Nana nih!
Akhirnya aku merangkap jadi sie serabutan. Iya, serabutan.. apa saja yg bisa kulakukan untuk bantu sie2 yg lain pasti kulakukan.

Pagi2 bantu sie konsumsi ambil sarapan anak2, berhubung sie konsumsi semuanya cewek dan ngga ada yg bisa nyetir, jadilah aku jadi sopir mereka.

Sebelum siang, mampir ke sekolah di desa itu, ijin kepsek buat ngasi pelajaran tambahan bahasa inggris yg saat itu belum masuk kurikulum sekolah dasar.

Siangnya jadi sopir lagi, ambil makan siang. Menjelang sore, bantu di dapur umum buat snack untuk anak2 (salut bgt buat ketua sie konsumsi yg kreatif dan perhatian bgt, asupan gizinya terjamin bgt selama baksos).
Malam biasanya aku nongkrong di ruang kesehatan kebetulan ketua sie nya se genk sama Nana yg juga teman sejurusanku. Pernah juga suatu malam aku disuruh bantu sie disiplin, buat periksa bawaan anak2 maba putri. Salah satu aturan baksos dilarang bawa alat2 kosmetik, nah ada nih bbrp anak yg ketahuan bawa, jadilah semua disidak dan disita, akan dikembalikan setelah baksos selesai.

Yang paling ngga kusuka selama baksos adalah waktu acara MCK. Mandinya nebeng di rumah2 warga dan harus antri pula. Buat aku ini ngga nyaman banget. Apalagi pas malem2 kebelet mesti gangguan orang lain tidur jadinya.

Lalu waktu istirahat malam alias tidur. Panitia ngga punya tempat khusus buat tidur, jadilah cari tempat masing2 buat tidur.

Malam pertama aku tidur di balai desa. Sebagian besar panitia tidurnya di sini. Tempatnya terbuka dan tentu saja dingin banget.

Aku memakai jaket dan menutupi kepalaku dengan hodienya. Tasku kupakai buat bantal. Kuambil posisi deket tembok agak ke pinggir. Ada Nana dan Yana juga di sana hanya saja tidak terlalu dekat denganku, masih menyisakan ruang lebar sebelum tempatku. Kulihat ada Mas Kayon yg sedang baca buku duduk bersandar tak jauh dari tempatku. Ah, di sini aja deh, pikirku. Aku pun merebahkan tubuhku yg langsung disambut dinginnya lantai (tidurnya ngga pake alas emoticon-Frown )

Aku tidur menyamping memunggungi tembok, jadi aku bisa liat jelas teman2 panitia yg sudah bergelimpangan tertidur, kadang terdengar dengkuran2 halus. Kecapekan pasti mereka.

Hampir saja aku terlelap kalau saja tidak ada suara berisik di depanku. Setengah hati kubuka mataku, ada Rini, temen sejurusanku, dan Rizki, cowoknya yg juga senior dari jurusan yg sama dengan Mas Kayon, yg sudah berbaring tepat di sampingku. Hanya saja aku pikir posisinya salah. Harusnya Rini yg di sampingku, biar sama2 cewe tapi ini malah Rizki yg ambil tempat di sampingku. Kuputar badanku, memunggungi Rizki menghadap ke tembok. Sekali lagi berusaha untuk terlelap.

Dalam kondisi setenga terlelap, aku merasa ada sesuatu yg bergerak di pinggangku, perlahan2 bergerak turun meraba ke pahaku. Sontak aku bangun dan terduduk dengan jantung berdebar kencang. Dadaku terasa panas. Marah. Apaan2 cowok ini. Pacarnya tidur di sampingnya malah ngeraba2 cewek lain. Baru saja aku mau labrak itu cowok.

Tiba2 dia bergerak memutar badannya memunggungiku masih dalam keadaan terlelap. Eh...dia tidur? Atau pura2 tidur? Atau jangan2 tadi itu dia ngelindur? Ah...sialan. Kepalaku tiba2 terasa pening. Kutekan kuat kedua pelipisku dengan kedua tangan berharap sakitnya menghilang. Tapi sakitnya tak kunjung menghilang begitu juga dengan bayang2 kelam suatu peristiwa masa lalu yg tiba2 melintas silih berganti di pikiranku. Tangan tangan itu...tubuhku...

“Dy..!?” sekali lagi aku tersentak dan menepis keras tangan yg menyentuh bahuku.

“hei hei... ini aku, kamu kenapa? Sakit?” Mas Kayon ada di sampingku tidak bisa disembunyikan rasa khawatir di wajahnya.

Aku menatapnya sejenak kemudian beralih memandangi punggung Rizki yg sepertinya masih terlelap. Tak ada pikiran apa pun kini di kepalaku. Aku nge-blank.

“dyan..?” panggil Mas Kayon sekali lagi.

“tadi waktu aku udah setengah tidur, aku ngerasain ada yg ngeraba....ngeraba pinggang sama kakiku...,” sahutku lirih tanpa melepaskan pandangan dari punggung Rizki.
Kudengar helaan berat nafas Mas Kayon.
“ Ayo...” dia menarik pelan lenganku, memintaku berdiri. Diambilnya tasku dan menuntunku ketempatnya tadi duduk.

“udah tidur di sini aja,” katanya meletakkan tasku dan menatanya agar nyaman dijadikan bantal.

Sedangkan aku masih berdiri saja, sesekali masih kulirik Rizki. Entah kenapa aku berharap dia bangun dan kemudian ngelabraknya. Apa ini hanya harapan dari pelampiasan masa laluku dimana aku pun tidak bisa berbuat apa2 dengan ketidakadilan yg aku alami.

“Dy..duduk,” tanpa kusadari Mas Kayon menarik lembut tanganku dan memintaku duduk di sampingnya

“Aku tahu Rizki. Dia ngga akan berbuat seperti itu. Mungkin dia ngelindur dan ngga sengaja tangannya megang kamu.”

Sebuah pembelaan sebagai sesama lelakikah ini?

Aku tidak menyahut.

Hanya tertunduk dengan kepala yg berdenyut sakit. Aku berbaring, mencoba tidur.Tapi mataku tidak menuruti perintah otakku. Atau memang otakku sedang tidak memintaku untuk tidur?

Kurasakan tangan Mas Kayon menyentuh pelan kepalaku dari balik hodie yg kupakai, seperti membelai.

“Mas, diem...” kutepis pelan tangannya dari kepalaku.

“biar bisa tidur,” elaknya tidak menggubris penolakanku.

Bukannya bikin terlelap, tapi justru apa yg dilakukannya membuatku semakin merasa kesal dan ingin sekali berteriak marah.

Sebelum aku berbuat konyol yg justru membuatku malu sendiri dan merusak hubungan dengan Mas Kayon, yg sama sekali tidak punya salah, aku bergegas bangun segera pergi dari tempat itu.

Maaf Mas, aku lagi kacau... batinku emoticon-Sorry

Subuh 05.00, aku duduk dengan memeluk kedua lutut tak jauh dari balai desa yg kini telah dipenuhi oleh para maba. Jam 5 pagi jadwal mereka dibangunkan, lalu berlanjut ke acara senam pagi, MCK, sarapan, sekitar jam 9pagi baru berangkat ke tempat proyek.

“tidur di mana semalam?” mas Kayon duduk disebelahku

“dimana aja...” sahutku ngasal tanpa mengalihkan pandanganku dari riuhnya anak2 maba yg mulai senam paginya

“yeee....ditanyain beneran kok gitu.”

“eh mas ntar aku ikut nebeng ke proyek ya?” aku beralih menatapnya penuh harap.

“Ngga!” sahutnya cepat

“kok?” protesku

“jauh tempatnya."

“ya makanya aku ikutan nebeng, naik motor,” bukannya td aku juga udah bilang mau nebeng, bukan jalan kaki.

“ngga! Banyak debu di sana,” tukasnya

“ yaelah disini juga berdebu, ngga ada bedanya,” kilahku.

“ngga usah ikut!”

“ya udah klo ngga mau ditebengi, aku sama yg lain aja ntar ke sana.”

“ngga usah kamu di sini aja! Udah banyak yg bantu di sana, lagian di sana berdebu sekali klo asma kamu kambuh gimana?”

“udah bawa obat kok.”

“susah bgt ya dibilangin, pokoknya ngga usah ke sana. Jangan ngebantah!” dia berlalu pergi tanpa menunggu responku lagi

Huh, siapa elo... sungutku dalam hati, sebal.

Siangnya aku benar2 datang ke proyek penggalian pipa, sekalian bantu) teman2 menjadi pendamping kelompok membawakan ransum makan siang.

Benar kata Mas Kayon, tempatnya berdebu sekali karena sepanjang jalanan yg digali belum diaspal, jadi debu nya semerbak seperti bedak powder kalau kena wajah.

******

Di malam ketiga, malam terakhir baksos, aku ngerasain badanku meriang, gejalanya sudah mulai kurasakan sedari siang tadi. Tapi aku cuekin dan kubawa gerak terus biar keluar keringat. Sayangnya usahaku ngga berhasil, dan di sinilah aku, di ruang kesehatan, terbaring lemas, kepala pusing, tiba2 batuk2, dan nafas sedikit sesak. Komplit!!!

Kubuka mataku ketika kurasa seseorang mencolek lenganku.

“kenapa?”rupanya Kak Agus, teman sejurusannya Mas Kayon, setingkat dibawahnya kalau ngga salah. Dia adalah ketua proyek, orang paling sibuk saat ini.

Aku hanya membalas pertanyaannya dengan senyum. Dia meletakkan punggung tangannya di dahiku..
“ih panas...udah minum obat?” tanyanya begitu tahu aku demam

“udah..kakak sendiri ngapain di sini?”

“tuh...,” dia mengisyaratkan dengan mata menunjuk ke seseorang yg terbaring di sampingku. Mungkin tadi aku terlelap sampai ngga sadar ada seseorang disampingku. Dia adalah Kak Gina, pacarnya Kak Agus yg juga ketua sie konsumsi.

“eh Kak Gina kenapa, Kak? Perasaan td masih fine2 aja,” ujarku sambil ngeliatin Kak Gina yg sepertinya sedang tertidur

“pingsan td, kecapekan kayaknya,” sahut kak Agus.

“wah kasihan k....” belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba2 beberapa panitia datang tergopoh2 membopong seseorang, yg ternyata adalah Ami, ketua sie kesehatan. Yaelah , malah ketua nya yg tumbang.

Beberapa panitia dr sie kesehatan dan juga Kak Agus berusaha untuk menyadarkan Ami dr pingsannya.

“ini nih akibatnya kalau ngga nurut, sakit kan?” tiba2 saja Mas Kayon nyeletuk di sampingku

“ngga ada hubungannya! Eh, Ami kenapa tuh kok sampe pingsan gitu,” tanyaku mengalihkan pembicaraan

“ngga tau, td waktu acara hiburan sm anak2 tiba2 lgs jatuh aja, pingsan...” sahut Mas Kayon.

“masih panas?” tanyanya langsung meletakkan punggung tangannya di dahiku.

Omong2, kok dia tau aku sakit ya, perasaan aku ngga ada ngomong ke siapa2 klo sakit.

“panas bgt, udah minum obat?” tanyanya lagi

Aku mengangguk, kemudian kembali berbaring. Mataku terasa panas dan kepala sakit. Panitia2 yg lain juga sudah pada keluar memberi ruang pada yg sakit untuk beristirahat.

“istirahat...” kudengar samar suara Mas Kayon sampai akhirnya aku tertidur.

*****

Aku terbangun dengan terkaget2. Gimana ngga kaget, begitu buka mata tepat di depanku terpampang wajah Kak Agus yg lagi molor. Buset ini kenapa bisa tidur sebelahan sama Kak Agus, kalau di lihat Kak Gina mati aku.

Aku duduk sambil celingak celinguk liat di sekelilingku. Syukurlah Kak Gina masih tertidur berseberangan tempat denganku, berderet2 disebelahnya ada Ami, Yana, Nana, Riri, kok sebelah sana enak cewek semua, apa aku salah tempat ini ya.

Kutengok disebelah kiriku ada Kak Agus, Mas Kayon, sebelah kananku ada Asih, Atika, Ageng, Dimas...fix ini nyampur , asal aja cari tempat tidur, mana selalu kebagian yg ngga enaknya.

Bersungut2 aku berdiri keluar dari ruang kesehatan. Gelap. Sepi. Dingin. Serem...akhirnya aku masuk ke dalam lagi. Takut.
emoticon-Takut

******

Hari ini, hari terakhir baksos. Yang kerja di proyek hanya beberapa kelompok dan kebanyakan maba yg cowok2 saja. Yang cewek2 bantu2 membersihkan sekitaran tempat yg dipakai buat menginap.

Menjelang siang semua sudah bersiap2 berangkat balik ke kampus. Tapi, makin lama makin lama ngga berangkat2 juga. Aku baru sadar, beberapa teman2 panitia ngga keliatan batang hidungnya sedari tadi, termasuk Nana dan Yana.

Tiba2 Yana muncul sambil ketawa2 dan ngomong ngga jelas. Wajahnya memerah. Begitu juga Rini muncul dengan kondisi yg sama. Keduanya ketawa2 ngga jelas padahal ngga ada yg lucu, seperti sedang ngobrol heboh tapi pembicaraannya ngga nyambung sama sekali. Fix, ini mabuk.

Terdengar ribut2 di luar. Aku berlari melihat apa yg terjadi. Tampak ada satu panitia, cowok,aku ngga tau namanya, berteriak2 ngga jelas dalam bahasa jawa, sambil meronta2 karena badannya di seret paksa oleh beberapa senior , termasuk Mas Kayon juga ada disana, menuju ke pemandian umum. Aku melongok dr balik tembok pemandian, penasaran mau diapain tu cowok. Oleh yg lainnya, kepalanya di guyur di pancuran, lalu seluruh badannya sampai basah kuyup. Fix, ini mabuk!!!
Halaman 1 dari 16


×
GDP Network
© 2018 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di