alexa-tracking

Pusaran Politik Ulama Zaman Now

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a0661dd32e2e6cf2c8b4567/pusaran-politik-ulama-zaman-now
Pusaran Politik Ulama Zaman Now
Pusaran Politik Ulama Zaman Now

Ulama atau juga biasa disebut kyai saat ini turun gunung. Tak lagi sendirian. Beberapa diantaranya bersatu dalam kelompok dan aliansi tertentu. Hiruk pikuk politik, tampaknya disikapi serius. Kondisi ini sangat menentukan nasib umat Islam ke depan.

Sayangnya, umat Islam yang menjadi mayoritas rakyat Indonesia, masih sebatas dimanfaatkan dalam sistem demokrasi. Pasalnya demokrasi tak mengenal etnis dan agama. Sebaliknya umat Islam yang memiliki sistem politik yang khas, pemahamannya tak lagi utuh. Kondisinya cenderung kabur dan berkamuflase.

Selang beberapa waktu ada dua peristiwa politik yang dialami ulama’ di Jawa Timur. Ada ulama’ yang menyerukan bahwa memilih Khofifah dalam Pilgub Jawa Timur Fardhu ‘Ain. Kemudian ada yang meresepon untuk menarik pernyataan tersebut.

Serta memberikan komentar bahwa politik itu urusan duniawi, jangan disamakan dengan urusan ibadah. Kedua, beberapa ulama’ mendatangi Polda Jawa Timur untuk melaporkan Megawati Soekarno Putri. Sebabnya pidato pada Januari 2017 yang ada potensi penghinaan pada agama.

Beberapa waktu yang lalu pun, ulama’ meresepon Perppu Ormas No.2 Tahun 2017. Mereka mendatangi Anggota DPRD hingga DPR RI. Ada pula yang melakukan aksi, demonstrasi, kajian, dan acara yang serupa. Sungguh tiga peristiwa di atas menunjukan bahwa ulama’ masih peduli dan hidup.

Lantas, bagaimanakah posisi ulama zaman now dalam pusaran politik? Akankah mereka mengikuti arus demokratisasi? Ataukah membuat arus sendiri? Inilah yang menarik untuk dikaji lebih dalam.

Islam Dipisahkan dari Politik?

Kemunculan pemisahan Islam dari politik begitu sistematis. Pasca kemunduran pemikiran umat Islam, akhirnya demokrasi dijadikan panutan. Padahal asal usul demokrasi tidak dari Islam. Landasannya sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Berbicara demokrasi tak sekadar urusan musyawarah dan pencoblosan. Harus mulai dari akar dan sejarah kelahirannya.

Ada dua hal yang menyebabkan ide pemisahan politik dari Islam. Pertama, propaganda sekularisasi oleh Barat di dunia Islam, baik langsung maupun tidak langsung. Wujudnya melalui ghazwul fikri yang diikuti ghazwul ‘askari dan ghazwu siyasi. Propaganda ini diopinikan dengan menjauhkan umat Islam dari sumber aslinya, qur’an dan as sunnah. Pun ada yang mengupayakan perpaduan antara Islam dan peradaban Barat.

Misalnya, syura dalam Islam itu identik dengan demokrasi, dan pandangan lainnya. Upaya itu pun disambut oleh sebagian umat Islam yang lantas menjadi perpanjangan tangan propaganda. Latar belakangnya bisa menjadi agen dan silau dengan kemajuan Barat. Pada saat yang sama terjangkit pandemic inveriority complex.

Kedua, ketiadaan gambaran yang jelas tentang Islam, khususnya sistem pemerintahan dan ekonomi. Bisa dikatakan kedua hal tersebut telah lama lenyap dari benak sebagaian besar umat Islam. Kondisi itu diperparah dengan keterlibatan langsung Barat dalam menyusun kurikulum pendidikan agama yang berlaku di sekolah maupun Perguruan Tinggi. Sering yang terjadi kajian agama Islam lebih ditekankan dalam memadukan Islam dengan ide selain Islam, serta memperlakukan Islam sebatas ritual dan moral.

Ditambah lagi dengan pemahaman politik demokrasi saat ini sebagai upaya urusan keduniawiaan. Perwujudan demokrasi sering ditampilkan dengan cara kotor, sadis, money politic, biaya mahal, dan perebutan kekuasaan.

Akibatnya para penguasa menjadi musuh rakyat. Negara hadir seolah menjadi penindas utama. Padahal jika dikaji lebih dalam Islam, politik yang diinginkan yakni berupa pengurusan urusan umat dengan aturan Allah Swt. Sungguh bertolak belakang politik Islam dengan demokrasi.

Arus Baru Ulama’

Ulama’ zaman now dalam berpolitik harus cerdas. Harus ada arus baru untuk mengikis propaganda negatif pada politik Islam. Selain cerdas secara politik juga dibarengi dengan kecerdasan pemahaman hukum. Kemampuan politik ulama’ perlu ditingkatkan dengan hanya berpegang teguh pada sumber Islam. Jangan sampai, ulama’ dimanfaatkan demi kepentingan sesaat partai atau aktor politik yang sengaja mempolitisasi ulama.

Perlu direnungkan pula pesan dari Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin yang mengklasifikasi ulama menjadi dua, yakni ulama dunia (su’) dan ulama akhirat. Ciri ulama’ dunia menjadikan ilmu untuk mendapatkan kenikmatan duniawi serta sebagai sarana memperoleh kemasyhuran dan popularitas. Sebaliknya, ulama akhirat menjadikan ilmu untuk semakin dekat dengan Allah dan meraih ridha-Nya. Serta mampu menuntun umat ke jalan haq dan kebenaran.

Jangan sampai dalam kepentingan politisasi Pilkada atau pemilu dalam pesta demokrasi, ulama kembali tersandera. Ulama’ sekadar dimanfaatkan pada masa kampanye dan pendulangan suara. Seolah ulama dan Islam sekadar bemper. Sebaliknya, tatkala menjadi pejabat, nasehat ulama’ dan koreksi rakyat diabaikan. Bukankah ini sudah jamak dalam sistem demokrasi?

Aktualisasi ulama’ telah digambarkan oleh Syaikh Ali bin Haj dalam Fashlul Kalam fil Muwajahaati Dzulmil Hukkam. Pertama, ulama yang memadukan ilmu dan amal. Dibuktikan dengan padunya ilmu yang dia kuasai dan aktifitas yang dilakukan. Kedua, selalu membela dan memperjuangkan hak-hak umat.

Oleh karena itu, harus ada arus baru ulama’ dalam percaturan politik. Begitu pun, ulama harus berdiri di garda terdepan dalam pembelaan umat akibat tidak diterapkannya syariah Islam. Upaya penyadaran dan pendidikan politik terus disemarakan, agar rakyat tahu mana air dan mana minyak. Arus ini harus pula ditopang dengan kemampuan berfikir dan bersikap politik. Serta mengetahui strategi lawan agar ulama tidak senantiasa dimanfaatkan dan dininabobokan. (*)

*Hanif Kristianto, penulis adalah Analis Politik dan Media.

Sumber Berita https://nusantaranews.co/pusaran-pol...ama-zaman-now/

Berita Terkait
Polisi Didesak Tegakkan Supremasi Hukum https://nusantaranews.co/polisi-dide...premasi-hukum/

Setya Novanto Lebih Sakti Dari Pangeran Alwaleed bin Talal dan Paul Manafort https://nusantaranews.co/setya-novan...paul-manafort/

Gelar Pra-Munas di Manado, PBNU: Kebhinekaan Jangan Dirusak https://nusantaranews.co/gelar-pra-m...angan-dirusak/
baca dulu yak
Tiap kali agama islam dipolitisasi ujung ujung gak jauh bikin Orang islam terpuruk , miskin , goblog , hina dan saling bunuh !!

Manusia goblog seperti mereka harusnya belajar dari nasib afghanistan, pakistan dan libya

Giliran ada orang islam yang melawan politisasi agama di cap kafir, osang asing , liberal , sekuler dll !!

Tipikal otak picik !!

Stupidity is doing the same thing over and over again but expecting different results
Keliatan dari bacotan si analisis politik dan media ( hanif kristianto )

ini dedengkot ekstrim kanan ( mmi, hti , pkshit) !! Yang horny dan bernafsu bikin indonesia jadi negara khusus agama tertentu !!!

Asli sampah !!
Milih jokowi 2019 fardu kifayah. emoticon-Leh Uga
dari jaman perjuangan juga penggerak perlawanan melawan penjajah itu ulama .
semoga tetap tegak membela panji2 Islam dan NKRI..
hati2 dgn godaan jabatan..
Quote:


Quote:


Mereka memperjuangkan kaum nasbung, yaitu kaum yang tidak bisa bersaing secara nyata di kehidupan nyata kemudian aktif membabi buta di dunia maya kemudian ketika datang nya hari saat terdesak malah membabi buta demo massal atau merampok dengan menyalahkan kaum lainnya emoticon-Kaskus Radio
Quote:


Gak cuma ulama
indonesia merdeka berkat kontribusi dari berbagai golongan yang terdiri dari berbagai , suku, ras dan agama

Di saat ulama mengobarkan resolusi jihad melawan laskar inggris dan gurkha di kota surabaya , di pulau sebrang (bali )

i gusti ngurah rai seorang penganut hindhu melakukan perang penghabisan ( puputan) melawan penjajah belanda !!, jauh lagi di pulau sulwesi daan mogot dan sam ratulangi yang menganut kristen berjuang melawan penjajah mereka pun rela kehilangan nyawa demi bangsa indonesia !!



Quote:



Muak saya dengan kaum yang hobi playing victim !!
Terus terusan bikin masalah
Ulama yang bener bener ulama masih duduk adem pemikiran tenang perkataan ayem,menasihati dan memberi pengertian dengan elegan dan penuh kharisma.
Ulama yg dimusuhi orang muslim sendiri bahkan di cap liberal.
Namun beliau beliau nyatany lebih berpengaruh dan bernilai daripada yg teriak teriak di jalan bawa bawa bela agama dan umat serta takbir
Ulama jaman now sibuk ngurusin politik, tetep ujung2 nya duit.

Hepeng Do Na Mangatur Negara on emoticon-Ngakak
Quote:


dan jangan lupa Faktor X....ketika Amerika kirim bom atom ke Jepang...

emoticon-Leh Uga
Quote:


yang gak boleh tergoda jabatan itu ente!
sementara kalo kelak bos ente yang nanti menjabat, itu namanya amanah emoticon-Big Grin
bibib brizieq sibuk selangkangan bre