alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

Tampilkan isi Thread
Halaman 190 dari 224
sampai terbawa suasana pingin ngamuk ngamukemoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)
profile-picture
indahmami memberi reputasi
Jas Merah
Menunggu paman... emoticon-I Love Indonesia (S)
Diubah oleh dikalasenang
Apresiasi banget untuk mpu curahtangis, nulis cerita kek gini ga cuman khayalan, harus riset juga untuk tau sejarahnya..menghafal lakon di ceritanya emoticon-Blue Guy Cendol (L)
Ki curah ... aku kangen emoticon-Angkat Beer
Kangen cari..... emoticon-Sorry
KEPUTUSAN RAJA


Kabar kejatuhan Pamotan cepat tersebar. Pasukan Laksamana Cheng Ho yang berada di perairan Pamotan murka. Mereka langsung mengepung Pamotan dari laut utara. Meriam meriam besar mereka siap meluluh lantakkan istana Pamotan yang kini telah diduduki Pasukan Wilwatikta.
Semua bersiap menunggu komando. Beberapa pertikaian kecil terjadi. Pasukan Wilwatikta yang bertugas menguasai pelabuhan menjadi sasaran amukan para prajurit Cina yang marah mengetahui rekannya dibantai di dalam istana.
Senopati memerintahkan Pasukan yang ditugaskan di Pelabuhan untuk mundur menghindari bentrokan yang lebih besar. Ia menyadari, tak mungkin dapat menandingi kekuatan pasukan Laksamana Cheng Ho. Kemenangan yang diraihnya dengan susah payah, akan segera sirna dalam sekejap.
Senopati Waja segera mengirim pesan ke Wredamentri Ranggapane. Menyampaikan situasi sulit yang dihadapi. Karena, pembantaian kepada tamu dari Cina, atas perintah Wredamentri Ranggapane.

Ranggapane bertindak cepat. Seluruh mayat utusan Cina dirapikan agar tidak terlihat mengerikan, didandani dan dimasukkan kedalam peti mayat. Kemudian dibawa ke Pelabuhan menggunakan puluhan kereta untuk diserahkan kepada pasukannya, mayat mayat itu dimuliakan untuk meredam amarah Prajurit Cina.


Ranggapane berjalan terdepan, mengaku sebagai utusan Senopati Waja, memohon menghadap pimpinan tertinggi armada Cina yang berada di Pamotan.
Ranggapane yang menyamar sebagai perwira lapangan, seorang diri dibawa ke kapal terbesar, tempat wakil komandan pasukan laut Laksamana Cheng Ho berada.
Dengan menggunakan bahasa Cina, Ranggapane menyampaikan permohonan maaf yang sebesar besarnya dari Senopati Waja atas nama Pasukan Majapahit.
"Apakah dengan itu saja nyawa pasukanku bisa hidup lagi?
Apakah dengan itu kehormatan kami bisa kembali?" Tanya Wakil Komandan itu dengan nada membentak.
"Kami mengaku salah dan memohon maaf beribu maaf, memang yang kami lakukan ini tidak dapat mengembalikan segala sesuatu yang kami rusak. Tapi setidaknya sedikit memperbaiki keadaan agar menjadi baik."
"Katakan, apa yang akan kalian lakukan?"
"Kami akan menginfestigasi secara menyeluruh, agar kami bisa menindak pihak pihak yang bersalah."
"Sampai level apa? Prajurit? Lurah? Bekel? Senopati? Atau sampai siapa?"
"Siapapun itu akan kami hukum sesuai kadar masing masing."
"Apa ucapanmu bisa di pegang?"
"Saya berjanji," kata Ranggapane tegas. Ia lantas mengangsurkan sebuah plakat, tanda kalau Ia utusan Raja.
Wakil Komandan pasukan Cina sejenak memeriksa plakat itu bersama ajudannya.
"Itu kewajiban kalian sebagai negara berdaulat, dituntut kami atau tidak, itu yang musti kalian lakukan."
"Lalu apa yang kalian lakukan untuk menahan kami menuntut balas? Pasukanku sudah tidak sabar menghancurkan pasukan kalian di Pamotan," ancam Wakil Komandan itu keras.
"Tentunya kami akan membayar semua kerugian pasukan Tuan, Kami segera mengirim laporan kepada Raja kami, agar bisa diselesaikan Raja kami dengan Laksamana Cheng Ho yang saat ini berada di Wilwatikta."
Ucapan Ranggapane sedikit mengingatkan Wakil komandan pasukan laut Cina kalau saat ini Laksamana mereka sedang berada di Wilwatikta, menemui Prabu Wikramawardhana.
Wakil Komandan itu berpikir sejenak, saat ini dirinya tidak bisa berbuat banyak selain mengepung Pamotan dan mengevakuasi pasukannya yang terjebak ditengah pertempuran. Kecuali bila diserang, maka Ia bisa menggempur dengan dalih mempertahankan diri. Kalau untuk menyerang, menaklukkan pasukan Majapahit yang sekarang menduduki Pamotan, Ia harus mendapat ijin dari Laksamana Cheng Ho, yang saat ini berada di Wilwatikta. Bila Ia berbuat nekat, bisa bisa Laksamana Cheng Ho ditawan. Untuk mengevakuasi Laksamana tidak mudah. Butuh dua hari perjalanan dari Kahuripan menuju Wilwatikta.

Pembicaraan kemudian berlanjut ke permintaan meminta lahan yang cukup luas untuk pemakaman prajurit Cina dan pangkalan darat. Biaya dan tenaga pemakaman ditanggung pihak Senopati Waja. Wilayah pelabuhan Pamotan dikuasai Armada Laksamana Cheng Ho sampai ada putusan dari pimpinan.
Ranggapane berjanji menyampaikan, Ia tidak bisa menolak persyaratan sementara itu. Daripada harus menghadapi gempuran armada terbesar dunia itu.
Sampai di darat, Ranggapane menulis surat perintah untuk diberikan kepada Senopati Waja, perintah memenuhi syarat syarat yang diminta wakil komandan Laksamana Cheng Ho. Sambil bersiap menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi.

Bersama sepasukan telik sandi. Ranggapane berangkat menuju Wilwatikta lewat jalur darat. Ia harus memacu agar tidak kedauluhan caraka prajurit Cina.

*****

Kabar dari Pamotan membuat pusing Raja dan Mahapatih. Awalnya mereka gembira Pamotan jatuh ketangan Pasukan Wilwatikta setelah melewati peperangan yang amat melelahkan selama empat tahun. Lalu datang utusan kemarin membawa kotak berisi kepala Bhree Wirabhumi dan Ratna beserta ketiga adik adiknya sebagai tawanan. Kontan istana gempar. Sebagian keluarga istana Wilwatikta tidak suka sikap berlebihan yang dilakukan oleh pasukan yang menyerbu Pamotan. Bagaimanapun Bhree Wirabhumi itu adalah junjungan mereka sendiri, putra mendiang Prabu Hayam Wuruk. Sepeninggal Kusumawardhani, Dialah keturunan termurni darahnya sebagai pewaris tahta Majapahit.
Selain itu menjadikan anak anak Bhree Wirabhumi sebagai tawanan. Sama dengan menghinakan keturunan terbaik Majapahit.

Untuk menenangkan perpecahan didalam istana. Prabu Wikramawardhana memanggil para tetua untuk diminta pertimbangannya. Berdasarkan pertimbangan dan usulan para tetua itu, Prabu Wikramawardhana memutuskan membuatkan pemakaman terbaik untuk Bhree Wirabhumi. Di makamnya akan dibangun candi untuk pemujaan. Lalu mengangkat Ratna menjadi istri bergelar Bhree Pakembangan Parameswara. Sedang ketiga adiknya dinikahkan dengan kerabat Raja dan diberi kedudukan menjadi Ratu Mataram III Dyah Aniswari, Ratu Lasem V Duhitawardhani dan Ratu Matahun Dewi Seruni. Hal ini untuk menyelamatkan Majapahit dari perpecahan. Dan darah Girindra keturunan Prabu Sri Kertarajasa Jayawardhana dan Gayatri tetap terpelihara.

Keputusan ini bisa meredam gejolak dalam istana. Semua pihak menerima kebijakan itu. Kehormatan Bhree Wirabhumi dipulihkan, anak keturunannya dimuliakan ke tempat yang selayaknya.

Disaat seperti itu, kedatangan Wredamentri Ranggapane melaporkan kemarahan Pasukan Laksamana Cheng Ho di Pamotan karena 170 orangnya dibunuh saat penyerangan Pamotan. Membuat Prabu Wikramawardhana marah.
"Bagaimana kalian bisa ceroboh seperti itu?!" Tegur Prabu Wikramawardhana keras.
"Ampun Paduka, situasi saat itu Pasukan mereka berada ditengah tengah pertempuran. Entah siapa yang memerintah, mereka lalu berada di pihak Pamotan. Maka dengan berat hati para prajurit lapangan memeranginya. Karena terbukti membela Pamotan. Maka Prajurit Majapahit yang bertempur di garis terdepan tanpa sungkan sungkan menggempur mereka."
"Bisa kamu buktikan keberpihakan mereka kepada Pamotan? Kalau mereka memihak, kenapa hanya 170 orang yang bertempur? Padahal disana ada sepuluh ribu pasukan mereka? Kalau mereka memihak, sudah pasti Senopati Waja tidak akan memenangkan peperangan itu."
"Secepatnya hamba selidiki, apakah ada unsur kesengajaan, kelalaian, atau reaksi atas sikap mereka."
Wredamentri Ranggapane memang menjabat sebagai pimpinan teliksandi. Yang kali ini ditugaskan mensuplai data dan strategi peperangan dengan Pamotan dan Blambangan.
"Panggil Senopati Waja kesini, aku ingin dengar penjelasannya!"
"Maaf Paduka, Senopati Waja sedang berjaga besiap menghadapi serangan Pasukan Laksamana Cheng Ho, bila mereka tidak terima dengan sikap kita dalam kasus ini," jawab Ranggapane menjelaskan tidak mungkinnya Senopati Waja dipanggil ke Istana Wilwatikta. Padahal Ranggapane sendiri yang mengatur agar Senopati Waja tetap berada di Pamotan.

"Lalu apa yang akan aku jelaskan kepada Laksamana Cheng Ho yang akan datang nanti?"

Bisa saja mereka balik menuduh Laksamana Cheng Ho membela Pamotan yang memberontak. Dengan menempatkan pasukannya di istana Pamotan. Maka jangan menyalahkan bila mereka terbunuh dalam peperangan. Namun ini bisa memicu peperangan dengan Laksamana Cheng Ho. Dilihat dari kekuatan armadanya, Pasukan Majapahit akan dibuat hancur lebur.

Sebelum berperang, bisa saja rombongan Laksamana Cheng Ho disergap disini, saat jauh dari pasukannya yang sangat besar itu. Namun menyergapnya tidak mudah. Butuh pasukan besar untuk meminimalisir kejadian seperti Bubat berulang. Dan bagaimana reaksi dari Pasukannya bila tahu pimpinan mereka ditangkap di Wilwatikta. Mungkin akan terjadi perang terbesar dan terakhir bagi Wilwatikta.

Semua pertimbangan itu akibatnya sangat buruk bagi Wilwatikta.
"Sebaiknya mengaku salah dan meminta maaf. Menyanggupi syarat yang mereka minta. Setidaknya tidak memantik peperangan baru," bisik Mahapatih setelah diminta pendapat Wikramawardhana.
"Hamba yakin akan kebijaksanaan Laksamana Cheng Ho."
Wikramawardhana tercenung meresapi saran Mahapatih. Memang Ia mengenal Laksamana Cheng Ho sebagai sosok pimpinan Prajurit yang cerdas, tegas dan penuh kebijaksanaan.
Wredamentri Ranggapane lalu dipersilahkan keluar. Raja terus berdiskusi dengan Mahapatih mempersiapkan diri menghadapi kedatangan rombongan Laksamana Cheng Ho.

Malam harinya, sesuai jadwal, datanglah rombongan Laksamana Cheng Ho. Suasana sangat tegang. Mahapatih yang menyambut berusaha mencairkan suasana. Namun ketegangan di wajah tamu tamunya tidak bisa hilang begitu saja. Hidangan dan jamuan yang serba nikmat nan mewah tidak menarik sama sekali. Hanya wajah Laksamana Cheng Ho yang tetap tenang dan teduh. Sebuah pengendalian diri yang mumpuni.

Rombongan lalu disambut Maharaja. Setelah basa basi penghormatan sebentar. Laksamana Cheng Ho langsung menanyakan alasan membunuh orang orangnya di Pamotan.
"Membunuh mereka, sama dengan membunuh saya, menghina Kaisar Yung Lo!, mereka itu utusan. Bukan orang biasa." Ucapan ucapan Laksamana Cheng Ho tenang namun tajam. Wajahnya yang terlihat selalu tersenyum menyimpan ketegasan.
"Saya sebagai Raja Majapahit meminta maaf atas kejadian ini. Yang bersalah akan saya tindak sesuai hukum kami. Kami siap menanggung konsekwensi yang Anda minta."
Melihat reaksi Raja Wikramawardhana yang pasrah. Kemarahan Laksamana Cheng Ho mereda. Tapi Ia belajar banyak dari kisah kisah pendahulunya di tanah jawa. Jangan terlalu percaya dengan sikap manis. Kisah dikhianatinya pasukan Mongol oleh pendiri kerajaan ini masih melekat dalam benaknya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
"Kami tidak bisa berlama lama disini. Sediakan uang 60.000 tail emas sebagai ganti rugi. Baru kami anggap selesai," kata Laksamana Cheng Ho.
Prabu Wikramawardhana terhenyak. Juga Mahapatih. Setelah peperangan panjang dengan Pamotan. Emas kas negara banyak terkuras. Sementara pemasukan semakin hari semakin menyusut. Kali ini kondisi keuangan Wilwatikta sedang krisis. Kalau harus membayar sebanyak itu. Dapat dari mana? Untuk belanja pegawai dan istana saja sudah menipis. Apalagi biaya peperangan di Blambangan dan Pamotan belum sepenuhnya usai.

Tak ada jalan lain selain mengakui kondisi keuangan negara pas pasan. Meski harus menanggung malu dihadapan delegasi Laksamana Cheng Ho. Daripada membuat salah paham dan menimbulkan peperangan baru.

Dengan wajah merah menanggung malu, Mahapatih menjelaskan kondisi keuangan Majapahit sedang krisis. Semua pejabat Majapahit yang hadir tertunduk.
Laksamana Cheng Ho memandangi wajah wajah itu, termasuk wajah Raja Wikramawardhana yang pucat. Ia menggeleng gelengkan kepala. Tidak menyangka negeri kaya raya ini karena salah kelola kini terancam bangkrut.
"Baiklah, siapkan nanti setelah kami kembali kesini dari timur."
Rombongan Laksamana Cheng Ho segera pergi meninggalkan istana Wilwatikta tanpa menyentuh sedikitpun hidangan yang disediakan.

Benar benar situasi yang sangat menyakitkan.

Dua tahun kemudian, Majapahit baru bisa menyicil 10.000 tail emas dengan susah payah. Akhirnya dibebaskan membayar sisanya karena kasihan. Peristiwa ini Ma Huan, Sekretaris Laksamana Cheng Ho dalam bukunya, Ying-ya-sheng-lan


***



profile-picture
profile-picture
profile-picture
idner69 dan 24 lainnya memberi reputasi
Swun ki curah..ditunggu update secepatnya 🙏🙏
uwooo pertama
BERTEMU KEMBALI


Jingga gemetar ketika sampai di depan gerbang luar. Untari menarik Kakaknya dan menasehati agar bersikap santai.
Untari mengetukkan bandulan besi di gerbang. Seorang penjaga datang menemui. Saat memandang siapa yang datang, penjaga langsung memberi hormat mempersilahkan masuk. Penjaga itu sudah mengenal Untari.

Melewati taman yang rindang penuh pohon dan aneka bunga diiringi nyanyian burung burung liar, langsung mengingatkan Jingga akan Puri tempat ibundanya terakhir tinggal. Tempat yang tenang dan menyenangkan.
Ketenangan batin Jingga tak bertahan lama, sejenak kemudian berdegub keras ketika melihat dua orang muncul menyambut. Merekalah Raden Sastro dan RA Sulastri. Jingga tak tahu harus bersikap bagaimana dihadapan mereka berdua.
Untung ada Untari yang mencairkan suasana. Ia langsung berlari menghambur, memeluk RA Sulastri seperti pada ibunya sendiri. RA Sulastri juga terlihat gembira. Matanya berlinang haru. Raden Sastro juga terlihat tersenyum lebar. Bahagia melihat RA. Sulastri dan Untari melepaskan rindu.
Namun suasana menjadi beku dan tegang kala Jingga muncul dihadapan mereka. Terutama RA. Sulastri, Ia sampai gemetar lantas melepaskan pelukan Untari. Tangannya menggapai gapai Raden Sastro disampingnya. Lalu bersembunyi dibelakang Suaminya. Raden Sastro tak kalah gugup dengan kehadiran Jingga didepannya. Ia mengingat begitu banyaknya kesalahan yang dilakukan keluarganya kepada Jingga. Namun sebagai orang yang berpengalaman berhubungan dengan berbagai macam orang. Raden Sastro melihat, meski wajahnya terlihat tegang, Jingga tidak sedang marah. Tak ada pancaran kejahatan dari dirinya. Hal itu membuat dirinya sedikit tenang dan bisa mengendalikan diri.
"Apa kabar Pangeran Jingga, maaf kami dahulu tidak mengenal baik Pangeran," sapa Raden Sastro ramah.
"Baik Raden Sastro, kalau berkenan, ijinkan kami bertamu," jawab Jingga sembari meminta ijin bertamu.
Suasana begitu kaku. RA. Sulastri terlihat gelisah. Tiba tiba RA. Sulastri maju melewati Raden Sastro di depannya. Ia langsung duduk bersujud dikaki Jingga. Kejadian begitu cepat dan tak terduga. RA. Sulastri yang dulunya begitu anggun dan angkuh. Kini bersujud di kakinya.
"Maafkan aku Pangeran, maafkan aku...."
Jingga kebingungan, meminta tolong Untari untuk membangunkan RA. Sulastri agar bangkit.
"Ibu, Saya sudah memaafkan dari dulu, jadi bangkitlah bu," ucap Jingga. Memang dari dulu Ia tidak membenci RA. Sulastri. Apapun yang dilakukannya, Ia selalu memaafkan.
"Tidaaak, aku terlalu banyak salah kepadamu...., ampuni aku Pangeran,"
"Saya sudah maafkan Bu, percayalah. Tanyakan ke Untari," Jingga berusaha meyakinkan.
Untari memeluk RA. Sulastri untuk bangkit. Namun RA. Sulastri bersikukuh tetap bersujud di tanah, Ia menceritakan semua kejahatannya. Sepertinya Ia ingin melepaskan beban berat yang ditanggungnya selama ini. Raden Sastro mengusap usap istrinya, "Sudahlah istriku, Pangeran sudah memaafkanmu."
Tiba tiba tubuh RA. Sulastri lemas. Untari yang memeluk hampir terjatuh. Raden Sastro langsung membantu menahan tubuh RA Sulastri agar tidak terjatuh.
Mereka langsung memapah tubuh RA Sulastri menuju kamar.
Untari sigap menyiapkan segala sesuatunya, seolah ini rumahnya sendiri. Hanya Jingga yang kikuk bingung harus berbuat apa. Ia berdiri di teras kamar. Beberapa emban datang sambil berjalan rendah, mereka langsung merawat RA. Sulastri.
Raden Sastro keluar dari kamar, dahinya basah oleh keringat.
"Maaf Pangeran,mari silahkan duduk,"
"Ibu tidak apa apa?" Tanya Jingga khawatir.
"Tidak apa apa," jawab Raden Sastro. Mengambil nafas panjang.
"Hal ini sering terjadi sejak kejahatannya kepadamu diakuinya kepadaku. Sejak itu Ia selalu dihantui rasa bersalah. Bila berpikir terlalu berat, Ia langsung pingsan." Raden Sastro menjelaskan keadaan RA Sulastri yang terguncang jiwanya.
"Makanya aku memilih tempat ini, jauh dari hiruk pikuk dunia. Menemaninya agar dirinya tenang."
"Untari juga sudah bercerita banyak kepadaku. Kedatanganku ini juga untuk menyelesaikannya," kata Jingga menimpali.
Mereka lantas terlibat pembicaraan basa basi. Terasa Raden Sastro seperti mengulur ulur waktu. Sesekali Ia menengok kedalam. Untari masih di dalam kamar menemani RA. Sulastri. Jingga meladeni pembicaraan Raden Sastro, beberapa kali Raden Sastro mengulang pertanyaan yang sama. Sepertinya pikirannya sedang ditempat lain, sehingga tidak fokus dengan yang dibicarakan dan didengar.

Ada perasaan yang mengganjal dalam hati Jingga,
kemanakah Lencari?
Apakah Lencari pergi lagi?
Atau...
Untuk berbicara ke arah sana, Jingga agak kesulitan.

Wajah Raden Sastro berubah cerah ketika ada suara dari dalam. RA. Sulastri sudah siuman, Ia langsung menanyakan keberadaan Jingga. Ketika diberitahu, Jingga ada di teras depan kamar. RA. Sulastri langsung bangkit, minta dibimbing ke depan untuk menemui Jingga.
Jingga dan RA Sastro bangkit ketika RA. Sulastri muncul. Raden Sastro membimbing duduk disampingnya. Untari lantas duduk di sebelah Jingga.

Agak lama mereka diam menunggu RA Sulastri mengumpulkan kesadaran dan kekuatan. Raden Sastro terus memandang istrinya khawatir. Benar benar suami yang sangat sayang kepada istrinya.
"Pangeran, terimakasih sebesar besarnya telah memaafkan segala kesalahanku, terimakasih atas segala kebaikannya kepada kami," kata RA Sulastri. Sejenak Ia diam lagi, menarik nafas panjang mengumpulkan kekuatan.
"Kami telah membuat Pangeran menderita, yang akhirnya kami juga mengalami banyak penderitaan karena kebodohanku."
Raden Sastro mendukung RA Sulastri dengan menggenggam tangannya erat erat.
"Andai aku bisa memperbaiki, akan aku lakukan apapun untuk memperbaikinya. Tapi sepertinya sudah tidak mungkin. Daun sirih sudah dikunyah bercampur pinang menjadi dubang. Tak mungkin dikembalikan lagi."
Jingga tertunduk meresapi setiap kalimat yang diucapkan RA Sulastri dengan susah payah.
Untari diam, tidak berani ikut campur.
"Kami sebetulnya hendak pergi ke Blambangan mencari Pangeran, kami hendak meminta maaf sebelum semuanya terlambat," airmata RA Sulastri kembali menetes membasahi pipi.
"Ternyata Pangeran telah datang lebih dahulu, terimakasih telah bersusah payah datang menemui kami,"
"Kami juga datang kesini mengikuti kata hati kami, keadaanlah yang menuntun kami kesini," Jingga menyela, sungkan mendapat ucapan seperti itu.
Suasana kembali hening. Mereka seperti kehilangan kata kata untuk memulai ke hal yang diinginkan Jingga. Dimana Lencari.
"Ngomong ngomong, Kak Lencari dimana?" Untari memecah keheningan dengan menanyakan Lencari.
Jingga langsung lega, kalimat itu yang sedari tadi mau dikatakan, namun tersangkut di jakunnya.
Raden Sastro dan istrinya saling pandang.
"Kakakmu Lencari, sepulang mengantarkanmu menemui Pangeran, Ia menjadi pemurung. Kami tanyakan ada apa, Ia tidak bilang apa apa. Semakin hari semakin pendiam, tubuhnya semakin hari semakin kurus. Sampai akhirnya jatuh sakit. Berbagai tabib dan balian sudah berusaha mengobati. Namun mereka menyerah, kata mereka api jiwanya meredup." Raden Sastro menceritakan keadaan Lencari sepulang dari mengantarkan Untari bertemu Jingga. Sementara RA. Sulastri menangis di pelukannya.

"Dimanakan Lencari sekarang?" Akhirnya Jingga tak kuat untuk menanyakan Lencari.
"Ia ada di belakang, di kamarnya."
Raden Sastro dan istrinya bangkit, mereka mengajak Untari dan Jingga ke kamar Lencari di taman belakang.
Mereka berjalan melewati taman bunga dan pohon rindang yang sangat indah. Ada sebuah kolam ikan dengan air mengalir. Ada ketukan teratur dari mainan bambu yang dialiri air. Sangat serasi dengan gemericik air yang menerpa batu batu kecil.
Jantung Jingga berdebar saat sampai di sebuah bilik tunggal yang asri. Beberapa emban yang berjaga memberi hormat setelah diminta pergi oleh Raden Sastro.
"Nak Untari, Pangeran, silahkan masuk," Raden Sastro mempersilahkan Jingga dan Untari masuk. Sementar Ia dan Istrinya menunggu diluar.

Jingga melangkah menaiki undak undak kayu yang digosok halus. Didepan pintu yang sengaja dibuka agar udara bebas keluar masuk. Jingga berdiri mematung. Badannya terasa kaku dengan darah yang menggelegak. Telah sekian lama Jingga menahan rindu, setiap saat kala merenung sendiri, Ia mengais ngais aroma yang dihirupnya kala bersama Lencari. Entah aroma apa, yang jelas membuatnya tenang sekaligus melayang bahagia. Namun kali ini, Ia menghirup aroma yang dirindukannya selama ini, hal ini membuat jiwanya mabuk.

Tertatih Jingga berjalan. Airmatanya mengalir begitu saja tanpa disadarinya. Tatapannya tertuju ke seseorang yang terbaring di atas dipan yang tertutup tabir kelambu sutra putih. lapis demi lapis Ia sibak.
"Cari... Cari... Ini Kakang," panggil Jingga seperti tertelan. Matanya berlinang airmata. Ia tidak tega melihat Lencari sangat kurus. Tubuhnya tinggal tulang belulang. Matanya cekung dan pipinya cekung. Lebih mirip tengkorak.
Jingga meraih tangan Lencari hati hati. Airmatanya menetes diatas jari jari itu.
"Cari.... ini Kakang datang, Cari....," Jingga terus memanggil Lencari dengan sepenuh hati. Untari yang duduk dilantai disamping Jingga turut menangis sesenggukan. Ia tidak percaya Lencari yang begitu kuat saat bersamanya, sekarang menjadi seperti ini.
Di luar, RA. Sulastri tak kuat mendengarnya, Ia menangis dalam pelukan Raden Sastro yang berusaha terus menenangkannya.
"Tenangkan dirimu istriku, sebaiknya terus berdoa, semoga Tuhan memberi ampunan dan jalan terbaik bagi putri kita,"
"Aku yang salah Kakang, Aku yang salah," kata RA. Sulastri hampir tak bersuara.
Raden Sastro menggoyang goyangkan badannya kekiri dan kekanan seperti menggendong anak kecil yang sedang menangis.

Didalam bilik, Jingga masih bersimpuh di samping dipan Lencari sambil terus memegangi tangannya. Ia lupa sekitar.
Untari yang menemani tidak digubrisnya saat hendak pamit ke belakang.

Saat diluar bilik, Untari langsung dicegat oleh Raden Sastro,
"Bagaimana Cari? Apa dia sudah sadar?"
"Belum, itu Kakang masih berusaha menyadarkannya, aku pamit dulu mau kebelakang." Untari lantas bergegas ke pemandian keluarga.

Waktu terus berlalu, dari siang berubah malam. Lencari masih belum sadar. Jingga disampingnya berbisik pelan ditelinganya. Bercerita masa masa indah saat masih di Kahuripan. Meski ceritanya menyenangkan, Namun airmata Jingga terus menetes.

Untari membawakan makanan untuk Jingga, Namun Jingga tidak tidak menyentuhnya sedikitpun. Beberapa emban yang biasa berjaga saat malam, memilih menunggu di luar bersama Untari.
Dari cerita emban yang berjaga, Lencari semakin lemas dan akhirnya pingsan sejak kemarin malam. Padahal rencananya kemarin mau dibawa pergi ke Blambangan oleh Raden Sastro dan Istrinya. Namun karena semakin memburuk kondisinya, keberangkatannya ditunda.

Setelah batinnya agak tenang, Jingga teringat pelajaran pengobatan yang diajarkan Ki Genter. Ia kemudian memanggil Untari dan emban yang berjaga untuk membantunya. Dengan tenaga dalam, Ia melancarkan titik titik darah yang beku. Sementara bagian bagian pribadi, Ia minta tolong Untari membantunya mengurut.
Usahanya cukup membuahkan hasil. Tubuh Lencari tidak begitu dingin seperti tadi, pertanda darahnya mulai mengalir lancar. Jingga kemudian memijat titik titik darah yang mengarah ke otak dan kepala. Telinganya dipijit pijit sampai terasa hangat.

Tiba tiba dari sudut mata Lencari mengalir air mata, menetes ke telinganya.
"Cariii, ini Kakang," Kembali Jingga memanggil Lencari agar sadar.
Jingga gembira saat jari jari Lencari yang digenggamnya bergerak memegang. Lalu matanya terbuka pelan.
"Kakang...."
"Iya Cari, Aku ini Kakangmu Jingga."
"Kakang...,"
"Iya, aku sudah disampingmu,"
"Ak ku... ga gal," kata Lencari lirih, Jingga sampai menempelkan telinga di bibir Lencari.
"Kamu tidak gagal Cari,"
"Ak ku ga gal me lu pa kan Ka kang," susah payah Lencari mengucapkan kalimat itu.
Jingga menggeleng gelengkan kepalanya. Airmatanya mengalir deras lagi. Yang hadir disana ikut menangis melihat kedua kekasih itu.


profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 33 lainnya memberi reputasi
Horeeee...akhir nya
Eh buset sedih amat ki emoticon-Mewek
Hohoho.. jackpot.. pas banget nih ada update jam segini.. makasih Ki, saya simak dan resapi dulu...
bakalan berasa lama banget dah nunggu updatenya x ini..pertemuan kakang jingga dgn lencari....
kicurah emang top dah ngaduk2 perasaan readersnya
kurang ki... 😭
Eee buset kok sedih banget gini ki 😭. Duh i had a bad day abis baca last update nya ki curah
Diubah oleh ZEr0S
wadow.... tersiksa hati ini..... suwun ki curah
Diubah oleh dozenazedo
aaah ki curaah bikin baper ajaaaaa.......sesak dada ini ki curaaaahhhh.....
terbaik buat kisah ini dan ki curah yang sukses membuat pembaca jadi melow
emoticon-Mewekemoticon-Mewekemoticon-Mewek
Ya ampon kii, kenapa bikin baper sih emoticon-Mewek
Halaman 190 dari 224


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di