alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ebesh.greenline dan 92 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
OPERASI DI MALUKU


Pasukan Gembong berlayar menuju gugusan kepulauan Maluku. Disanalah tempat rempah rempah bersumber. Banyak saudagar besar Majapahit datang kesana membeli komoditas itu untuk dijual kembali di Jawa kepada saudagar saudagar Mancanegara. Kapal Raden Sastro salah satunya.
Majapahit dengan kekuatan armada lautnya memberi keamanan kawasan nusantara. Para saudagar menggantungkan keamanan mereka kepada armada Majapahit yang tersebar dari barat sampai ke timur. Majapahit tidak melakukan penaklukan kepada kerajaan kerajan kecil di Maluku selama mereka mau bekerjasama menjaga keamanan kawasan dan mendukung perdagangan yang diatur Majapahit. Jadi wajar bila kelak di Maluku tidak banyak ditemukan candi candi peninggalan Majapahit sebagai bukti adanya Raja Vasal dari keturunan Majapahit, Tidak seperti kerajaan Vasal Majapahit. Yang harus dipimpin oleh keluarga raja, atau bangsawan utusan Raja Majapahit. Masyarakat Maluku tetap dengan Raja dan tradisinya sendiri.

Di sebagian gugusan pulau pulau itu ada jejak Dutamandala. Sebagian prajurit yang korup bekerjasama dengan Dutamandala diam diam menguasai pulau pulau itu.

Awalnya pulau pulau itu diserang sekelompok begal dan bajak laut. Hasil bumi mereka dirampas, dibunuh dan ditenggelamkan ke laut. Tidak sampai disitu, para begal itu sampai menjarah ke rumah rumah. Pasukan kerajaan mereka tidak mampu mengatasi.

Dalam situasi mencekam itu. Datanglah pasukan Majapahit kroni Dutamandala. Mereka menawarkan pengamanan kawasan tersebut dengan sejumlah imbalan hak monopoli penjualan komoditas andalan mereka. Karena merasa terjepit, para Raja Raja kecil itu menyetujui. Dalam sekejap Kawanan begal dan perompak bisa diusir dan tak kembali lagi.
Sejak itu cakar cakar kekuasaan Dutamandala mencengkeram. Perlahan harga komoditas diturunkan dengan alasan ini itu dan biaya tinggi paska panen, harga pasaran anjlok dan segala macam yang tujuannya jelas, memperbanyak ceruk keuntungan.

Pihak armada laut Majapahit didaerah itu menutup mata. Selama setoran untuk pusat lancar, tak ada gejolak dan protes dari para raja kecil. Maka kejadian kejadian di lapangan dianggap wajar bahkan sudah dianggap seharusnya seperti itu untuk melanggengkan sistem yang udah ada.
Rakyat sendiri sampai lupa sakitnya. Karena semua merasakan kesakitan yang sama dalam jangka waktu yang amat lama. Mereka sampai pada tahap mewajarkan penderitaan yang menimpa mereka, mewajarkan harga rendah keringat mereka. Asal cukup untuk membiayai hidup.

Pasukan Ki Gembong mulai mendarat di berbagai tempa. Mereka menyamar sebagai pedagang keliling. Sedangkan Ki Gembong sebagai Nakhoda kapal menyamar menjadi pimpinan kapal dagang. Mereka semua bergerak memetakan kekuatan Dutamandala. Peta konflik yang bisa dikobarkan di masing masing daerah tersebut.

Secara umum, Pasukan Majapahit yang menjadi antek Dutamandala, kondisinya merosot. Secara fisik mereka sudah tidak layak menjadi prajurit. Perut buncit kebanyakan lemak dan arak. Gerak lamban nafas ngos ngosan. Mereka hanya memelihara tampang garang saja.

Mentalnya juga sama saja. Di kepala mereka hanya mencari harta dan kesenangan saja. Tidak tercermin sedikitpun sumpah prajurit dalam diri mereka. Entah menguap kemana cita cita leluhur Majapahit jaya. Mereka tak lebih adalah begal berseragam.

Sepekan sudah cukup informasi yang didapatkan dari lapangan. Pasukan Ki Gembong mulai menyusun rencana. Target pertama mereka mengincar kapal pengangkut hasil bumi dari perkebunan warga yang dikuasai Dutamandala. Saat kapal itu melewati celah antara dua pulau kecil tak berpenghuni. Pasukan Ki Gembong menyergap dari kedua pulau menggunakan perahu perahu kecil.

Penyergapan berlangsung singkat tanpa adanya perlawanan berarti. Para ABK ditangkap dan diikat di lambung kapal. Wajah mereka ditutup kantong kain. Kapal dipindahkan ke sebuah teluk pulau itu. Disana barang barang dipindahkan ke kapal sendiri.

Setelah semua muatan berpindah kapal. Awak kapal Dutamandala diturunkan ke pulau yang tak berpenghuni itu. Mereka digiring masuk kedalam lebatnya hutan. Didalam hutan mereka kembali diikat dengan simpul yang mudah lepas. Hal ini agar nanti bisa melepaskan diri setelah ditinggal.

Dipantai, kapal Dutamandala dilubangi lambungnya. Dalam sekejap kapal itu tenggelam sampau ujung tiang layarnya. Sementara pasukan Ki Gembong sudah bergerak jauh dengan barang memenuhi kapalnya.

Barang barang itu kemudian dijual di pasar gelap. Pasar tempat penduduk yang menyadari dan memiliki keberanian menentang monopoli. Meski harus mempertaruhkan harta dan nyawa. Meski tidak bisa dipungkiri, di pasar gelap juga berkumpul para penjahat, penipu dan pencuri.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Ki Gembong menggunakan tenaga lokal yang biasa berjualan di pasar gelap. Jumlah yang dijual disesuaikan dengan biasanya mereka menjual. Agar telik sandi Dutamandala tidak melacak keberadaan barangnya yang hilang.

Dari operasi itu, Pasukan Ki Gembong memiliki cukup dana melanjutkan aksi. Mereka sekarang mulai menyadarkan masyarakat pedalaman agar menentang monopoli hasil bumi. Menyiapkan jalur jalur yang aman untuk penyelundupan, serta memulai menampung dan menjual barang barang komoditas mereka dengan harga diatas yang ditetapkan kelompok Dutamandala. Jadi selain melemahkan kekuasaan Dutamandala, perlahan dan pasti Pasukan Ki Gembong membentuk jaringan perdagangan gelap sendiri.

Sekali waktu, ada penduduk ditangkap karena tidak lagi menjual hasil buminya kepada Kongsi Dutamandala. Ia dibawa ke kantor perwakilan pulau itu untuk di interograsi sambil disiksa. Kabar itu akhirnya sampai ke telinga Pasukan Ki Gembong. Tanpa menunggu lama. Kantor perwakilan Dutamandala, tempat menahan penduduk itu langsung diserang. Penduduk yang ditangkap dibebaskan. Sedang para prajurit yang berada di kantor itu mudah dilumpuhkan. Mereka lantas ditelanjangi dan diikat. Diarak dari kantor menuju pantai lantas diusir pergi. Sementara kantornya langsung dibakar.

Hal itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa para antek Dutamandala tidak hebat. Mereka bisa dikalahkan. Dan masyarakat bisa menang dan mempertahankan hak hidupnya dari para antek Dutamandala apabila berani dan bersatu menghadapinya. Setelah itu, Pasukan KI Gembong melatih para pemuda dan laki laki yang masih kuat mengangkat senjata. Mereka diajarkan beladiri dan organisasi pertempuran masal.

Dalam sekejap, gerakan penentangan para penduduk meluas ke pulau pulau sekitar yang dikuasai Kongsi dagang Dutamandala. Penduduk menolak menjual hasil buminya kepada Kongsi. Mereka memilih menjual ke jaringan Pasukan Ki Gembong. Saat ditindak oleh petugas. Mereka menolak dan melawan. Dengan dibantu pasukan Ki Gembong yang disusupkan. Para prajurit Majapahit bisa mereka usir dari pulau. Kantor kongsi dagang dibakar sebagai simbol kebebasan pulau itu dari penindasan Kongsi Dutamandala.

Di berbagai tempat, pasukan Majapahit kroni Dutamandala dibuat kocar kacir. Seringkali mereka hanya bisa menembaki dari atas kapal menghancurkan rumah rumah penduduk di pesisir. Sebagai pelampiasan kegeraman mereka setelah kalah dalam berbagai front tempur didarat.

Untuk memenuhi target pengadaan sesuai kontrak, terpaksa Kongsi dagang Dutamandala membeli barang di pasaran. Harganya jauh diatas harga yang biasa mereka dapat. Akibatnya keuntungan semakin tipis bahkan merugi karena tidak biasa bekerja efisien. Sementara biaya operasional Kongsi dan pasukan semakin meningkat. Untuk mengatasinya jalan termudah adalah berhutang ke Saudagar kaya, menutup kas yang kosong.

Sementara kondisi pasukan semakin buruk. Dengan kualitas prajurit yang tidak layak. Ditambah semakin seretnya dana operasional. Membuat pasukan mereka enggan melakukan pengejaran di lokasi lokasi sulit dan berbahaya di pulau pulau itu. Pimpinan Kongsi mencoba menggunakan cara lama. Mengirimkan para perompak, begal dan sejenisnya ke pulau yang menentang Kongsi Dutamandala. Namun hasilnya berbalikan dengan jaman dahulu. Penduduk pulau itu sudah waspada dan bersatu. Para perompak itu saat mendarat sudah langsung disergap penduduk. Pertempuran tak dapat dielakkan. Begitu terkejutnya para perompak itu mendapati kenyataan penduduk pulau begitu berani menghadapi mereka. Dan semakin terkejut menyadari mereka bukan lawan sepadan dari penduduk pulau. Dalam sekejap, mereka bertumbangan terkena senjata senjata penduduk pulau. Mayat mereka memerahkan pasir pantai.

Mendapat laporan para perompak yang dikirim mengacau pulau pulau mengalami nasib malang. Para pimpinan Kongsi mulai menyadari kondisi yang semakin mundur. Mereka diam diam mengantisipasi kebangkrutan dengan menyelipkan sebagian kas usaha dekalam kantong pribadi. Sikap egois ini membuat Kongsi dagang Dutamandala semakin cepat menuju kehancuran.

Disaat seperti itu. Pasukan Ki Gembong melakukan serangan terakhir. Catatan keuangan kongsi dicuri telik sandi Ki Gembong. Data itu kemudian diperbanyak menjadi beberapa catatan. Satu catatan diserahka kepada Laksamana Armada laut wilayah Maluku. Sedang salinannya dikirim ke Mahapatih Majapahit di Wilwatikta. Hal ini membuat Laksamana laut itu mau tak mau harus menindak kongsi jahat Dutamandala di daerah pengawasannya. Bila dirinya tidak ingin ikut terseret dan dituduh membiarkan kejahatan bahkan bisa dituduh terlibat jaringan jahat itu.

Dengan tindakan Laksamana armada laut. Berakhirlah kongsi dagang Dutamandala di wilayah kepulauan Maluku.

Sementara jaringan yang dibentuk pasukan Ki Gembong semakin lama semakin berkembang. Dalam enam bulan, jaringan itu menjadi kekuatan baru perdagangan rempah di Maluku. Pasukan Ki Gembong sudah memiliki armada sendiri sebanyak sepuluh kapal pelintas samudra. Kini mereka sudak tidak menjual hasil bumi itu di Maluku. Mereka menjual komoditasnya di pasar internasional di Gresik. Bersaing dengan armada kapal besar lain seperti milik Raden Sastro.


NB:
Maaf hanya sedikit updatan kali ini'
dan sekalian mengumumkan selama bulan Ramadhan. Update libur dulu. Insya Allah setelah puasa disambung lagi.

Saya pribadi mohon maaf atas khilaf dan salah kata dalam pembuatan cerita ini
Untuk rekan rekan, tulisan ini jangan dipercaya, apalagi dijadikan rujukan. karena seratuspersen cerita ini hanya hayalan penulis. tidak ada kebenarannya.
Sedang tokoh tokoh yang disebutkan bukanlah karakter asli. hanya comot sana comot sini tanpa kajian yang mendalam. Agar cerita seolah olah nyata. Agar tidak menjadi beban dosa bagi saya.
Terus terang, hal inilah yang kadang membuat saya malas melanjutkan menulis.

mohon kritik dan sarannya demi kebaikan bersama.
Semua pesan dan komen untuk trit ini saya baca dan saya jadikan pertimbangan di bab selanjutnya, meski tidak saya balas, Bukan karena apa, tetapi karena keterbatasan waktu saja. Takut tidak adil bila harus loncat loncat balasannya.

Demikian, selamat menyambut puasa bagi umat muslim
Semoga menjadikan kita manusia yang sebenar benarnya taqwa.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nuraispitriani dan 44 lainnya memberi reputasi
profile picture
Aanaja
nyantai aja kali namanya juga cerita fiksi ki....menghibur para pembaca membuat pahala mengalir ki...lanjutkan, ceritanya menarik sekali.sayang kl mesti di stop
OPERASI TULANGBAWANG SEKAMPUNG


Pasukan Jingga yang dipimpin Ki Genter sudah menyusup ke beberapa tambang. Mereka perlahan mempengaruhi pemikiran para pekerja tambang tentang kebebasan, penindasan penguasa yang korup. Prajurit yang memperkaya diri. Mereka menceritakan kondisi di tempat lain yang lebih ideal. Harga emas di pasaran yang jauh dari harga disini.
"Emas yang kalian tambang itu dimakan para pembesar prajurit yang korup. Emas itu hanya sedikit yang diserahkan ke Majapahit."
"Wah biadab sekali, kamu tahu darimana?"
"Karena sebelum kesini, saya pernah di Wilwatikta. Cerita tentang ini sudah menjadi rahasia umum disana."
"Bagaimana caranya?"
"Lihat emas yang kalian tambang, mereka beli dengan harga murah. Emas itu kemudian dicetak. Disanalah kebocorannya, sebagian besar emas itu digelapkan. Hanya sebagian kecil di kapalkan ke Wilwatikta.
Pengiriman emas dari sini sebulan sekali. Dari peti peti kayu yang diusung menuju kapal pengangkut hanya sekitar Limaratus tail emas. Bandingkan dengan hasil kalian menambang setiap bulannya. Seribu tail. Itu satu tempat, di Sekampung ini ada berapa tempat penambangan seperti ini? Selaksa ! Kali kan berapa jumlahnya.
Lalu kemana emas emas murah dari kalian pergi?
Emas emas kalian dibawa diam diam oleh kapal dagang. Menggunakan kurir prajurit yang membawa emas sedikit demi sedikit dikumpulkan di kapal itu. Berapa jumlahnya? Ada sepuluh kali lipatnya dari yang dikirim ke Raja Majapahit.
Jadi intinya, kalian ini diperas, dijadikan budak. Majapahit tidak tahu menahu akan hal ini."
Perlahan ketidakpuasan mengalir dalam darah para penambang. Mereka mulai tidak nyaman dengan keadaannya saat ini. Namun belum sampai pada taraf memberontak. Mereka kini seperti perempuan yang hidup menderita bersuami laki laki brengsek. Merasa tidak bahagia dengan rumah tangganya namun belum sampai tahap harus bercerai karena masih banyak pertimbangan. Dan perilaku suaminya belum sampai merusak pegangan hidup istrinya.

Di tempat lain, sekelompok telik sandi Ki Genter memetakan jalur emas curian dari peleburan menuju kapal pengangkut. Sebuah kapal dagang milik Dutamandala. Untuk menyamarkan kegiatannya, kapal itu datang membawa berbagai macam kebutuhan hidup para prajurit yang bertugas di Tulangbawang dan Sekampung. Kembalinya membawa emas yang sudah dicetak ditutup berbagai hasil bumi seperti lada dan kapas.
Setelah penuh, kapal itu bergerak ke Jawa menuju kantor dagang Dutamandala.
Para telik sandi menghitung kekuatan kapal itu. Mengenakan senjata apa dan berapa personil yang mengamankannya.

Kapal itu dipersenjatai cetbang sebanyak empat buah diletakkan di kedua sisinya. Diawaki sekitar duapuluh orang ABK. Kemudian dijaga sebuah kapal patroli laut Majapahit yang berkekuatan limapuluh orang. Namun karena sudah lama tidak terjadi penghadangan kapal angkut emas itu. Maka kapal patroli mulai jarang mengawal sampai pelabuhan tujuan di Jawa.
Ki Genter menyusuri jalur pelayaran menuju Jawa dari pelabuhan Tulangbawang. Ia menemukan titik terbaik untuk menyergap kapal angkut emas Dutamandala. Tempatnya cukup jauh dari pelabuhan, yaitu di sepasang pulau kecil lepas pantai. Pulau itu titik terluar sebelum berlayar di lautan luas menuju Kerajaan Sunda dan Jawa.

Sebelum hari keberangkatan kapal angkut emas, Pasukan Ki Genter sudah bersiap di kedua pulau itu. Mereka menggunakan lima perahu kecil yang bisa melaju cepat mengejar kapal besar dan satu perahu lebar untuk mengangkut. Arah angin dan kecepatannya sudah diketahui, arus air sudah diketahui. Mereka membuat peta penyergapan dengan segala perhitungan titik pertemuan sesuai arus dan kecepatan angin saat ini.

"Kapalnya sudah berangkat!"
Semua bersiaga. Perahu cepat itu menggunakan kekuatan dayung.
"Berangkat ke titik masing masing!"
Perahu perahu itu bergerak tenang menuju titik masing masing. Demi menyamarkan diri, hanya dua orang yang terlihat di tiap tiap perahu seperti nelayan mancing. Sisanya tiduran ditutup kain.
Ketika kapal sudah pada posisi kejar. Kelima perahu bergerak cepat memotong jalur. Awalnya kapal itu tidak bereaksi, menganggap perahu perahu itu hanyalah perahu nelayan. Ketika salah satu perahu perahu dihalau untuk minggir agar tidak tertabrak. Mereka terkejut ketika perahu itu malah menempel di lambung kiri dan kanan kapal. Dengan tali berpengaruh mereka memanjat dan memantulkan diri keatas geladak. Tak ada ancaman atau peringatan. Mereka langsung menyerang.
Terjadilah pertempuran jarak dekat dengan awak kapal. Awalnya awak kapal terlihat mengepung pasukan awal Ki Genter. Namun setelah tiga perahu lagi sudah menempel dan menaikkan pasukan. Kini yang terkepung terbalik. Jumlah awak kapal yang hanya dua puluh orang kini dikepung empat puluh orang.
"Dalam hitungan kedua, lepaskan senjata kalian! Kalau tidak ingin kami cincang buat pakan cumi cumi!"
"Siapa kalian?!"
"Satu dua!"
Serentak mereka melemparkan senjata masing masing ke dek kapal.
Ke duapuluh awak itu lalu diikat dan ditutup matanya. Dan dibawa masuk kedalam lambung kapal. Disekap disana.

Perahu angkut diperintahkan merapat. Separuh pasukan membongkar peti peti yang disembunyikan dibawah karung lada dan kapas. Emas emas itu dimasukkan karung lalu diturunkan cepat ke perahu angkut.
Proses pemindahan sangat cepat. Setelah berpindah semua, perahu itu melaju cepat menuju pulau.
Ki Genter memerintahkan pasukan perahu kecil segera turun kembali ke perahu. Para tawanan itu sekali lagi diperiksa memastikan mereka tidak melihat keluar kapal. Salah satu abk ikatannya sengaja diikat tidak begitu ketat agar nanti bisa lepas setelah berlayar cukup jauh.
Diatas, dua pasukan Ki Genter mengikat haluan agar bisa berlayar tanpa diarahkan.
Setelah semua selesai, Ki Genter turun ke perahu lalu melaju deras ke balik dua buah pulau kecil.
Dari sana perjalanan diteruskan menuju kapal mereka di pulau pulau kecil tempat membuang kapal rusak. Di kejauhan terlihat kapal Dutamandala terus berlayar ke arah jawa.

Para pasus yang bekerja di tambang, kembali kesana. Mereka mengamati dari dalam bagaimana reaksi para Prajurit yang kehilangan emasnya.
Sepekan kemudian, para prajurit di Sekampung dan Tulangbawang ribut oleh kasus perampasan itu. Tapi mereka tidak bisa secara terbuka membeberkan kasus itu, karena barang yang hilang tidak tercatat dalam administrasi perbendaharaan negara. Jadi secara diam diam mereka melacak keberadaan emas yang dirampok.
Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan, terutama kepada pihak intern pasukan Majapahit. Mereka terbiasa licik sehingga sesama prajurit saling jebak dan curiga.
Dari saling memeriksa antar komandan pasukan, terungkap bahwa barang yang dikirim ke Dutamandala, juga dicuri oleh masing masing komandan. Terjadilah saling tuduh berujung saling serang dan bantai.
Ki Genter sampai geleng geleng kepala melihat mental prajurit Majapahit sekarang. Harta menjadikan mereka bodoh. Kalau hal ini diketahui lawan, pasti Majapahit akan jadi bulan bulanan mereka.
Perilaku mereka semakin membuat muak masyarakat Lampung. Sudah hilang citra prajurit Majapahit yang terkenal gagah berani dibawah Mpu Nyala dan Gajahmada. Tubuh mereka tambun tambun seperti gentong penuh arak karena kebanyakan makan dan mabuk.

Kondisi semakin kacau, setelah berperang sendiri sehingga banyak memakan korban sesama prajurit. Mereka kemudian memaksa para penambang mengganti emas yang hilang.
Terjadilah penolakan yang berujung penyiksaan kepada pekerja tambang. Kejadian ini memicu kemarahan para penambang. Mereka melawan dan terjadilah perkelahian brutal. Para Prajurit yang sudah lamban karena kegemukan menjadi sasaran kemarahan para pekerja tambang. Para Prajurit itu dibantai. Bahkan tubuhnya dicincang sebagai pelampiasan kebencian selama bertahun tahun ditindas.
Kerusuhan itu terdengar di penambangan lain. Bagai minyak tersulut api, baranya cepat menyebar. Dalam sekejap saja seluruh daerah penambangan emas di Sekampung dan Tulangbawang memberontak melawan. Para Prajurit Majapahit dibantai, yang lolos melarikan diri menuju kota tambang di pesisir Tulangbawang.
Ternyata di Tulangbawang, masyarakat ikut menyerang. Pembunuhan, pembantaian penjarahan terjadi dimana mana. Asap hitam membumbung tinggi dari bangunan bangunan milik Prajurit Majapahit. Bahkan kapal dan perahu juga dijarah dan dibakar.
Hari itu asap menutup seluruh kota pesisir Tulangbawang. Mayat prajurit yang sudah tidak berbentuk berserakan di jalan jalan.

Ki Genter beserta pasukannya segera bertindak untuk mengendalikan situasi. Mereka mencegah tindakan anarkis yang mengarah ke kerusuhan sosial. Beberapa penjahat berusaha menjarah harta benda penduduk. Pasukan Ki Genter langsung menghadang dan menghantam mundur.
Ki Genter sengaja menunjukkan kemampuan agar massa yang hendak menjarah menjadi ketakutan. Tanpa sungkan setiap penjarah dibuat tumbang.
"Yang kalian memusuhi adalah Prajurit yang memeras kalian! Bukan saudara sebangsa kalian! Bubar!"
Yang membandel langsung terkena pentungan.
Tindakan Ki Genter cukup efektif meredam kerusuhan meluas dan semakin liar. Orang orang pribumi yang masih waras mulai ikut bergabung mengendalikan situasi.
"Panggil Raja kalian untuk menenangkan situasi," perintah Ki Genter kepada orang orang yang ikut bergabung menenangkan situasi.
"Raja kami sudah kabur!"
"Siapa saja yang dituakan masyarakat Tulangbawang,"
"Baik!" Mereka lalu menjemput sesepuh Tulangbawang. Seorang yang sudah berumur tapi masih gagah. Ia menunggangi kuda. Ki Genter menemui dan meminta Ki Jura, nama sesepuh itu, memimpin pengendalian situasi Tulangbawang. Sementara Ki Genter dan pasukannya menjadi penyokongnya.

Strategi tersebut cukup efektif. Para perusuh memilih mundur setelah melihat Ki Jura berada di garis depan meredakan kerusuhan.
Dalam sehari, situasi baru bisa diatasi. Kota Tulangbawang nyaris hancur lebur. Ki Genter bersama pasukannya membersihkan jalanan. Mayat mayat dikumpulkan untuk dikubur masal. Salah seorang pasukannya berhasil mengambil buku catatan pengiriman dan penerimaan emas dari Tulangbawang.
Ki Genter menyerahkan buku catatan itu ke Ki Jura. Ki Genter menjelaskan bahwa prajurit Majapahit yang berada disini selama ini adalah Prajurit yang korup. Mereka tidak mengirimkan emas hasil tambang kecuali sedikit saja kepada Majapahit. Dan itu bukan kebijakan Raja Majapahit.
Dan biasanya pasukan seperti itu sangat liar dan buas. Tidak mau berpikir, hanya menyalahkan yang lain yang lebih lemah. Jadi Ki Genter mengingatkan penduduk Tulangbawang dan Sekampung untuk siaga menghadapi serangan pasukan Majapahit yang tidak menerima bagian emas yang dikirim dari sini.
"Kalian ini siapa?"
"Saya dan rekan rekan ini dulunya prajurit. Tapi terbuang karena menentang pimpinan kami yang korup seperti prajurit Majapahit disini. Akhirnya terdampar disini mencoba merubah nasib dengan menjadi penambang."
"Bagaimana kami mempersiapkan diri menghadapi pasukan Majapahit?"
"Kami sekuat tenaga akan membantu melawan mereka. Dan kami bersedia melatih para pemuda menjadi prajurit yang handal kalau tetua berkenan."
Ki Jura sejenak berdiskusi dengan orang orang dekatnya. Mereka terlihat mengangguk mendengar ucapan Ki Jura.
"Baik, kalian dipersilahkan membantu kami dan melatih para pemuda kami. Asal kalian tunduk pada aturan adat istiadat kami,"
"Kami akan patuh pada Tetua," jawab Ki Genter.

Tanpa menunggu lama, Ki Genter bersama Ki Jura berkeliling seluruh kawasan kota Tulangbawang. Mengkonsolidasikan semua kekuatan masyarakat pribumi serta pendatang. Membagi wilayah pengamanan. Membentuk jalur komando dari Ki Jura sampai kelompok kelompok terkecil.
Ki Genter didepan mereka menyampaikan kembali kemungkinan kedatangan pasukan Majapahit yang kalap. Mereka bisa saja datang untuk membumihanguskan seluruh Tulangbawang dan Sekampung sebagai pelampiasan kekesalan mereka.

"Untuk itu sebaiknya mulai sekarang membuat tempat persembunyian didalam hutan. Ungsikan orang orang yang tidak bisa mengangkat senjata. Timbunan makanan disana. Yang disini hanya para laki laki saja.
Kita lihat pasukan yang nanti akan datang hendak apa, bila datang baik baik, kita terima. Bila ingin perusuh. Kita lawan sebagai laki laki."

Sebagai kota tambang, mayoritas penduduknya adalah laki laki di usia produktif. Secara fisik mereka mudah dilatih untuk berperang. Otot otot yang kuat terbiasa ditempa pekerjaan menambang emas. Tinggal di olah sedikit untuk mengayunkan pedang.

Tak ada kesulitan berarti melatih mereka. Apalagi Ki Genter sebelum melatih, menunjukkan kemampuan olah kandungan dihadapan mereka, agar tidak meremehkan saat dilatih.

Para pasukan Ki Genter terus mengawasi kemungkinan datangnya telik sandi pasukan yang akan menyerang Tulangbawang. Seluruh penduduk dikerahkan untuk hati hati dengan kedatangan orang baru.
"Kalau ada yang mencurigakan, jangan diapa apakan. Segera laporkan keberadaan mereka. Nanti kami yang akan mengatasinya."
Untuk pembiayaan, diam diam Ki Genter menggunakan emas hasil rampasan. Emas itu digunakan untuk membeli bahan pokok dan senjata.
Tambang kembali dibuka dengan sistem yang lebih adil. Hal ini agar bisa menjalankan roda ekonomi masyarakat. Menerapkan sistem baru agar tidak terjadi krisis paska kerusuhan. Juga membuka mata masyarakat bahwa mereka bisa hidup mandiri tanpa harus diatur kekuatan diluar mereka sendiri.

Dalam beberapa hari saja, situasi sudah berjalan normal. Bahkan orang yang baru datang akan tidak percaya bila Tulangbawang dan Sekampung baru mengalami kerusuhan besar besaran. Yang berbeda hanyalah tidak terlihatnya prajurit Majapahit yang biasanya lalu lalang di tempat tempat strategis.

Untuk mencegah penyerangan, Ki Genter mengirim surat menjelaskan kejadian yang terjadi beserta buku catatan emas milik prajurit Majapahit ke Markas Jalayudha di Palembang. Dengan catatan itu agar panglima laut di Palembang menyadari kalau selama ini ada penggelapan besar besaran di Tulangbawang.

Masyarakat melaporkan kedatangan beberapa orang yang dicurigai sebagai telik sandi Prajurit Majapahit.
"Tetap awasi kegiatan mereka, beri informasi yang mengalihkan perhatian," perintah Ki Genter kepada yang melapor.

Ki Genter cemas karena utusan yang berangkat ke Palembang sampai sekarang belum ada kabarnya. Seharusnya mereka sudah kembali ke Tulangbawang.

Yang ditakutkan akhirnya datang juga. Kapal perang pengangkut Pasukan Majapahit dari kesatuan Jalapati terlihat bermunculan di lepas pantai. Kapal kapal itu datangnya dari timur. Berarti dari pulau Jawa.
Secara senyap perintah diberikan untuk bersiaga menuju pos masing masing. Hal ini untuk menghindari deteksi telik sandi yang sudah dikirim mereka ke Tulangbawang.

Kapal Kapal perang itu terus mendekat. Telik sandi yang mereka tanam memberi kode aman untuk mendarat. Semua gerak gerik mereka diam diam dipantau pasukan Ki Genter.
"Biarkan mereka mendarat, orang orang di sekitar pendaratan mereka perintahkan mundur perlahan," perintah Ki Genter yang diteruskan sampai ke komandan masing masing kelompok terkecil.

Kapal kapal itupun berlabuh. Para Prajurit berbaris turun. Jumlahnya lumayan banyak. Ada sekitar seribu Prajurit. Jumlah yang cukup untuk menghancurkan Tulangbawang, yang hanya kota tambang tanpa prajurit sendiri.
Dari jauh Ki Jura dan Ki Genter mengamati gerak gerik pasukan yang baru menginjakkan kaki di tanah Tulangbawang. Apakah mereka bergerak rapi meresap masuk tanpa merusak sekitar atau sebaliknya, menyerang membabi buta, merusak apapun yang ada di hadapannya.

Dari lapangan mendapat laporan bahwa pimpinan prajurit Majapahit ingin bertemu dengan sesepuh masyarakat Tulangbawang. Ki Jura langsung bergerak turun dari bukit menemui mereka. Dikawal oleh beberapa pasus Ki Genter.
"Apakah Ki Sanak sesepuh Tulangbawang?"
"Benar Ndoro, hamba Ki Jura adalah yang dituakan masyarakat sini," jawab Ki Jura tenang.
"Jelaskan apa yang terjadi di sini terhadap pasukan Majapahit yang bertugas disini?"
"Kejadian berawal dari adanya kabar dirampoknya kapal pengangkut emas ke Jawa. Lalu para Prajurit saling curiga dan tuduh. Mereka akhirnya berperang sendiri. Baik yang di Tulangbawang maupun di Sekampung.
Peperangan mereka akhirnya berhenti dengan meninggalkan banyak korban termasuk pimpinan Prajurit di Sekampung. Sebagai pemenang, Kesatuan prajurit di Tulangbawang mulai mengumpulkan emas sebagai ganti yang dirampok. Mereka memaksa para penambang menggantinya. Yang menolak disiksa. Akibatnya menimbulkan pemberontakan para pekerja tambang. Timbullah kerusuhan tambang.
Kerusuhan cepat menyebar dari tambang satu ke tambang yang lain. Dan terus menyebar ke Sekampung dan kesini, Tulangbawang. Para pekerja tambang yang depresi selama ini melampiaskan ke apa saja. Termasuk rumah rumah kami menjadi sasaran mereka.
Untunglah kami sigap menjaga kampung kampung kami. Kami melawan para perusuh dan memukul mundur mereka. Mereka lalu melarikan diri kedalam hutan hutan dan gunung sekitar sini."
"Lalu dimana Prajurit Majapahit yang tersisa?"
"Kami tidak tahu, mungkin mereka melarikan diri di tengah kerusuhan saat itu."
"Kamu ikut aku berkeliling," perintah Senopati Tegalarang kepada Ki Jura.
Rombongan Senopati Tegalarang bergerak berkeliling Tulangbawang, memeriksa seluruh tempat. Terutama bekas tempat tempat pasukan Majapahit yang luluh lantak.
Senopati dan para pengawalnya terlihat marah melihat kehancuran itu. Tapi mereka bingung harus dilampiaskan ke siapa.
"Kumpulkan penduduk kalian disini! Aku ingin bertemu langsung dengan mereka!" Senopati Tegalarang memerintahkan kepada Ki Jura untuk mengumpulkan penduduk Tulangbawang.
Ki Jura memerintahkan pengawal dari pasus untuk menyampaikan ke Ki Genter. Ia sepenuhnya percaya kepada Ki Genter.
Ki Genter menerima pesan itu. Ia menarik nafas panjang. Sebuah situasi yang berbahaya. Bila ada kesalahan sedikit, akan terjadi pembantaian.
Kalau menolak, akan dianggap melawan. Bila menerima, lalu berkumpul di tanah lapang tanpa senjata dan perlindungan. Akan sangat rentan bila pasukan Majapahit itu tiba tiba kalap.
"Perintahkan keluar berkumpul ke lapangan orang orang yang masih ada di rumah rumah tanpa kecuali. Jangan sampai prajurit Majapahit menemukan di rumah rumah mereka. Bila ada apa apa, kami siap menjaga."
"Baik Ki,"
Perintah diturunkan. Orang orang mulai keluar dari rumah rumah mereka. Ada sekitar seratus orang.
"Cuma segini?!" Tanya Senopati setengah membentak. Tak percaya penduduk Tulangbawang hanya sedikit.
"Benar Ndoro, selain banyak yang jadi korban kerusuhan, sebagian lagi sudah kabur ke hutan saat pasukan Senopati datang. Masih trauma melihat peperangan," jawab Ki Jura setenang mungkin.
Senopati memerintahkan prajurit investigator menanyai mereka yang hadir di lapangan. Apakah cerita mereka sama dengan cerita Ki Jura. Bahwa kematian prajurit Majapahit dikarenakan perang antar sesama prajurit dan kerusuhan dengan orang tambang.
Setelah sekian lama pemeriksaan, para pemeriksa melaporkan kalau yang diceritakan Ki Jura kurang lebih sama. Orang orang ini banyak tidak tahunya. Mereka hanya tahu terjadi perang sesama prajurit tanpa tahu sebabnya. Terjadi pembakaran dimana mana. Selebihnya mereka kurang begitu faham.
Karena tidak mendapatkan informasi yang berarti. Orang orang yang dikumpulkan di lapangan diperbolehkan kembali ke rumah masing masing. Ki Jura dan Ki Genter meski berjauhan, sama sama menarik nafas lega. Karena bisa lolos ujian pertama.

Keesokan harinya ujian kedua datang. Para laki laki yang kemarin datang ke lapangan. Pagi ini harus berangkat ke pertambangan emas untuk menggantikan penambang yang kabur. Kontan saja para penduduk menolak. Ini sama saja kembali ke massa dulu. Bekerja sebagai budak.
Ki Jura berusaha menenangkan situasi. Mereka diminta mengikuti kemauan Senopati untuk sementara sampai jalan keluarnya disiapkan.

Dengan berat hati para penduduk Tulangbawang berangkat menuju pertambangan. Mereka masih percaya Ki Jura dan Ki Genter. Sementara Ki Jura dan Ki Genter memutar otak bila harus berperang dengan Seribuan Pasukan Majapahit di Tulangbawang.
"Sepertinya, utusan kita ke Palembang gagal. KIta harus menyiapkan strategi lain."
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andir004 dan 40 lainnya memberi reputasi
RENCANA BATANGA


Mahapatih terus memantau perkembangan. Ia sudah mendapat laporan kemunculan Jingga di depan kalangan istana di lapangan depan istana. Sudah dipastikan Senopati Bhayangkari terlibat. Kini yang belum jelas, dimana keberadaan Raja. Apakah dibunuh atau ditawan. Dimana juga keberadaan Bhree Matahun dan adik adiknya. Apakah mereka ikut dibunuh, ditawan atau terlibat kudeta ini. Karena kedekatan Jingga dengan Bhree Matahun begitu nyata. Bahkan Raja sampai cemburu melihatnya.
Dan siapa yang terlibat dengan kudeta ini selain mereka. Mahapatih terus menganalisa para pimpinan prajurit ketiga jala itu. Mereka semua abu abu. Tidak jelas kemana arahnya. Sepertinya mereka terbiasa hidup mencari aman saja. Didepannya mereka sepenuhnya mendukung Raja dan bertekad menumpas Jingga dan pengikutnya. Tapi nanti akan lain cerita bila terbukti Ranggapane ikut terlibat dalam kudeta saat ini. Karena selama ini pengaruh Ranggapane di ketiga Jala itu sangat kuat.

Mahapatih terlihat sangat lelah. Para prajurit yang berjaga mengitari istana juga terlihat tegang, mereka hampir seharian berada disana. Semua menunggu perintah selanjutnya.

Tiba tiba datang caraka menghadap Mahapatih. Caraka dari kesatuan Jalapati. Menyampaikan kabar mengejutkan.
"Lapor Mahapatih, hamba dari kesatuan Jalapatih. Hendak menyampaikan kabar terbaru."
"Silahkan,"
"Saat kami berpatroli di sisi timur istana. Kami menemukan seseorang pingsan dengan luka dipinggangnya didalam kanal."
"Siapa? Baginda Rajakah?" Tanya Mahapatih berharap yang ditemukan adalah Baginda Raja.
"Bukan Mahapatih, melainkan Wredamenteri Ranggapane."
Mahapatih terkejut, Ia tidak menyangka Ranggapane ditemukan dalam keadaan begitu. Awalnya Ia mengira Ranggapane yang berada di balik kudeta itu. Karena Senopati Bhayangkari adalah perwira didikannya sebelum bergabung ke Jalapati dan diangkat menjadi prajurit Bhayangkari. Dan dari semua pejabat Wilwatikta, hanya dia yang mampu mengendalikan seluruh lapisan pejabat. Meski secara jabatan Ia lebih rendah dari para Rakyan Tumenggung ketiga jala itu.
Mahapatih Gajah Lembana tiba tiba malu sendiri ketika mengingat selama ini Ranggapane menjadi anjing kampung Raja. Yang melakukan pekerjaaan pekerjaan diluar sistem yang ada untuk melanggengkan kekuasaannya.
"Lalu dimana Ranggapane sekarang?"
"Sudah dibawa pulang ke kediamannya,"
Mahapatih segera berangkat ke kediaman Ranggapane bersama dengan beberapa pengawalnya. Sampai disana sudah ada para pimpinan kesatuan Jala. Wajah mereka terlihat terkejut. Mereka berdiri memberi hormat menyambut kedatangan Mahapatih.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih tidak sadarkan diri. Beliau terlalu banyak mengeluarkan darah. Juga terlalu lama berendam di air."
"Kira kira siapa pelakunya? Kapan terjadinya?"
"Pelakunya belum jelas siapa, kejadiannya kemungkinan semalam," jawab Pimpinan Jalapati yang sempat memeriksa keadaan Ranggapane di kanal air.
"Parahkah?"
"Luka tusuk di pinggang belakang cukup dalam. Tapi tidak melukai usus maupun organ dalam. Kondisinya cukup berbahaya karena kedinginan dan kehabisan darah saat berenang di kanal."
"Berarti Beliau diserang orang dekatnya, dan berhasil kabur dari usaha pembunuhan."
"Untuk sementara kemungkinannya seperti itu."
Mahapatih lalu beranjak meninggalkan para petinggi Prajurit, Ia berjalan menuju keluarga Ranggapane. Memberi penghiburan agar mereka tetap bersabar serta mendoakan agar Ranggapane segera pulih kesehatannya.
Raden Arya, putra Ranggapane, mendampingi Mahapatih menjenguk kedalam, melihat keadaan Ranggapane yang masih pingsan di tempat tidur. Para tabib memberi hormat, memberi ruang kepada Mahapatih untuk mendekati Ranggapane. Wajah dan kulitnya terlihat pucat. Di pinggang kirinya sudah dibebat kain putih berisi bobor obat luka dan anti racun.
Kepala Tabib mendampingi menjelaskan kondisi Ranggapane.
"Puji kepada Tuhan, Ndoro Ranggapane cepat tertolong. Sekarang darahnya sudah mampat, Untuk organ dalam kondisinya baik, tidak ada luka luka lain. Pingsannya dikarenakan kehabisan darah dan hawa panas karena berendam terlalu lama di dalam air dalam keadaan terluka."
"Syukurlah, kalian lakukan sebaik baiknya untuk kesembuhan Wredamentri Ranggapane,"
"Siap Mahapatih." Jawab para Tabib serempak.
Mahapatih lantas berjalan keluar diiringi Raden Arya.
Beberapa saat Mahapatih kembali beramah tamah dengan orang orang yang semakin banyak datang. Setelah dianggap cukup, Mahapatih berpamitan kembali ke Kasatriyan. Memanggil seluruh pimpinan Prajurit membahas langkah langkah selanjutnya.
"Aku sudah melihat kesiapan pasukan kalian di seluruh gerbang Istana. Sekarang siapkan untuk penyerbuan ke dalam dengan kekuatan penuh. Ini agar menjadi pelajaran untuk siapa saja yang akan bikin rusuh Majapahit."
"Apa tidak kita kirim negosiator untuk meminimalisir korban? Terutama korban dari keluarga Raja yang saat ini berada dibawah kekuasaan Pasukan Bhayangkari."
"Ya, kita utus negosiator, untuk menyampaikan kesiapan kita menghancurkan mereka bila gagal berunding. Sampaikan bahwa seluruh kekuatan Majapahit bersatu untuk melawan mereka. Sampaikan usaha mereka membunuh Wredamenteri Ranggapane telah gagal. Bila mereka menyerah, akan diperlakukan baik sampai pengadilan memutuskan."
"Baik Mahapatih."
Setelah berunding, diputuskan pimpinan Pasus Jalapati yang menjadi negoisator. Ia dipilih karena cukup dekat dengan pimpinan Pasukan Bhayangkari. Banyak dari pasukan Bhayangkari adalah bekas pasukannya.

***

Jingga menemui Senopati Bedali yang terlihat gelisah. Terkejut saat mengetahui Jingga berada di dekatnya. Sejenak Ia memberi hormat.
"Ada perkembangan?"
"Belum ada Paduka,"
"Dari Ranggapane?"
"Juga belum ada,"
"Lalu sampai kapan kita seperti ini?"
"Entahlah, hamba hanya menjalankan perintah."
"Apakah saya boleh urun pendapat?" Tanya Jingga, karena selama ini Ia hanya ikut skenario Senopati Bedali.
"Silahkan Paduka,"
"Apakah kamu punya beberapa rencana bila rencana awal gagal?"
"Kami selama ini hanya menjalankan perintah, tidak ada rencana kedua ketiga dan seterusnya."
Jingga menarik nafas. Mereka benar benar prajurit yang lurus hanya mengikuti perintah. Jingga semakin yakin mereka dimanfaatkan.
"Kalian harus mulai berpikir banyak kemungkinan yang akan terjadi. Salah satunya seperti saat ini. Terputusnya komunikasi perintah dari Ranggapane. Kalau sudah begini kalian akan melakukan apa?"
Senopati Bedali terdiam, berpikir keras.
"Tidak mungkin," gumam Senopati berbicara dengan pikirannya sendiri.
"Kita tunggu sampai ada kabar dari luar."
"Mumpung masih ada waktu berpikir. Rencanakanlah beberapa rencana kedepan bersama pasukanmu. Cobalah menjadi pasukan Mandiri yang lepas dari bayang bayang Ranggapane. Kalian harus memikirkan banyak rencana, tidak hanya hana, kalau perlu sampai BATANGA,"
"Karena sampai saat ini belum ada kabar positif dari luar, misalnya kabar dukungan dari ketiga jala. Bahkan yang aku lihat, ketiga kesatuan itu memperkuat pengepungan terhadap istana. Aku takut keadaan tidak seperti yang sudah kalian rencanakan.
Sekarang tentukan batas waktu, agar kalian bergerak lebih cepat dari lawan."
Beberapa bekel Bhayangkari yang berada dalam ruangan mengangguk angguk setuju. Bagaimana kalau Ranggapane gagal mengendalikan pasukan diluar? Bukankah itu berarti situasi menjadi berbalik?
"Mau tidak mau, malam ini semua harus tuntas,"
"Tuntas bagaimana bila kita tidak mendapat dukungan dari ketiga jala dan para pembesar yang berada di luar istana?"
"Kita bertahan, sampai titik darah penghabisan,"
"Jangan dulu, masih banyak jalan. Itu putusan terakhir. Jangan ada lagi korban."
"Kita coba bernegoisasi, minta bahan makanan untuk keluarga istana. Juga mencari kabar sebenarnya dari mereka. Baru kita pilih strategi yang akan kita ambil selanjutnya."
Senopati Bedali setuju dilakukan negoisasi. Ia sendiri yang akan menjadi negoisator.

***
Belum memberi kode untuk berunding, dari luar terlihat sandi permintaan berunding. Permintaan berunding diajukan langsung oleh Rakryan Tumenggung Jalapati. Pejabat tertinggi keprajuritan Jalapati.

Senopati Bedali langsung mengiyakan, memerintahkan prajurit yang berjaga di gerbang memberi Ijin Rakryan Tumenggung Jalapati masuk. Senopati Bedali memberi hormat dan mempersilahkan Rakryan Tumenggung duduk di tempat pertemuan.
Rakryan Tumenggung terus memandangi gerak gerik Senopati Bedali. Sejenak Ia mengambil nafas panjang.
"Apa tujuanmu memimpin pemberontakan ini?"
"Kami ingin mengembalikan kejayaan Majapahit."
"Apakah begini caranya? Dengan membunuh Raja dan mengangkat Raja tidak jelas asal usulnya? Ini bukan mengembalikan kejayaan Majapahit, tapi menghabus trah Majapahit dari muka bumi."
"Bukankah saat ini bukan turunan terbaik Shang Rama Wijaya yang memimpin? Untuk mendapat legitimasi, maka menikahi Bhree Matahun, yang darahnya lebih murni. Tapi apa yang terjadi pada Majapahit? Semakin lama semakin terpuruk oleh perang saudara dan ketidak adilan dimana mana. Bahkan dihadapan Manca Negara, kita ini hina dina, tak mampu bayar denda kepada China. Hutang dimana mana. Sementara untuk membayarnya hanya mengandalkan pajak kepada rakyat jelata. Kami prajurit yang dari rakyat jelata sangat merasakannya. Kami berjuang bertaruh nyawa untuk memuaskan intrik politik. Sedang keluarga kami diperas untuk membiayainya.
Kalian pejabat tinggi tidak merasakannya, karena setiap saat uang pajak dan uang apa saja datang tanpa diundang.
Maka saat sidang Pangeran Jingga. Pembelaannya membuka mata kami, bahwa kami senasib dengan Beliau. Saat pengadilan memutuskan hukuman mati kepadanya, tanpa sedikitpun catatan kepada Pemerintah untuk memperbaiki sistem yang ada. Saat itu kami merasa langit semakin gelap. Dan kami harus bertindak sebelum semakin gelap."
"Saya akui jiwa kalian sangat bergolak ingin cepat mewujudkan cita cita kalian, tapi semua ada aturan dan prosesnya. Negeri ini bagaikan bangunan candi, terdiri dari tumpukan bata merah yang saling mengikat dan menyanggah satu sama lain untuk menguatkan. Nah kini kalian tiba tiba melepas satu ikatan bata itu, menjadikan candi tidak kokoh lagi dan rawan runtuh. Apa itu tujuan kalian?"
"Kami sudah bosan mendengar nasehat nasehat untuk selalu ikut proses sistem yang ada. Karena sudah berkali kali proses itu hancur atau dihancurkan oleh orang orang tua yang setiap saat berteriak aturan dan moral."
"Lalu setelah ini siapa yang akan jadi Raja? Apakah keluarga kerajaan mau menerima?"
"Sementara Pangeran Jingga menjadi Raja, Ia akan menikah dengan Bhree Matahun. Nanti Bhree Matahun yang darahnya paling tinggi yang akan memerintah Majapahit, dan Pangeran Jingga yang melaksanakannya. Sama seperti Raja Wikramawardhana dengan Prameswari Kusumawardhani."
"Bukankah Jingga sudah divonis mati karena memberontak? Apa kata dunia, bila Majapahit dipimpin pemberontak?"
"Bukankah Ken Arok juga pemberontak? Bukankah Sang Rhama Wijaya juga pemberontak? Mereka semua sama. Memberontak demi kejayaan menumpas ketidak adilan."
"Siapa yang akan mendukung kalian? Sampai saat ini seluruh unsur prajurit dan pemerintahan menentang pemberontakan kalian,"
"Kami hanya mengikuti keyakinan yang selama ini Rakryan Tumenggung ajarkan kepada kami," jawab Senopati Bedali seperti mengingatkan saat Ia dibina Rakryan Tumenggung dan Ranggapane. Diberi cerita cerita kejayaan Majapahit dimasa dulu dan dibandingkan dengan kondisi saat ini yang serba terpuruk. Hal itu secara tak langsung mengajarkan kebencian kepada Raja yang sekarang berkuasa karena tidak segera membuat Majapahit bangkit, malah membuat semakin terpuruk.
"Sebaiknya kalian menyerah, nanti kita bisa atur agar kalian tidak dihukum. Hanya Jingga yang akan dihukum. Bukankah hukuman mati satu kali atau beberapa kali tetap sama saja?"
Senopati Bedali tercenung berpikir. Haruskah cita cita mereka kandas saat ini?
"Orang yang mengenal baik kalian hanya aku saja. Tak ada yang bisa membela dan meringankan dosa kalian selain aku. Kalian sudah aku anggap anak anak kesayangan semua, Sedangkan Paman Ranggapane masih pingsan karena terluka, jadi tidak bisa berbuat apa apa. Apakah itu ulah kalian?"

Senopati Bedali terkejut mendapat kabar Ranggapane terluka, oleh siapa? Apakah rencananya ini ada yang menunggangi lagi? Pantas saja tak ada kabar sampai saat ini.
"Bukan kami pelakunya," jawab Senopati setenang mungkin.
"Apakah Jingga pelakunya? Karena hanya dia yang punya kemampuan diatas Ranggapane," Rakryan Tumenggung mencoba menimbulkan perpecahan dengan menuduh Jingga sebagai pelakunya.
"Akan kami selidiki,"
"Kalau benar Jingga yang melakukan, apakah pasukanmu akan berbalik melawan Jingga? Karena atas jasa Ranggapane kalian menjadi prajurit pilihan seperti ini."
Ranryan Tumenggung terus mencecar untuk meruntuhkan keyakinan Senopati Bedali.
"Baik, apa yang kalian butuhkan, Makanan? Minuman? Segera aku sediakan."
"Ya, kami butuh logistik untuk keluarga istana."
"Semua sudah siap, aku rasa pembicaraan telah selesai. Bicarakan dengan rekan rekanmu tawaranku, aku tunggu sore nanti. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk membantu kalian lepas dari beban besar ini. Aku takut Mahapatih memerintahkan penyerangan sewaktu waktu. Jadi jangan buang buang waktu."

Perundingan selesai, Rakryan Tumenggung Jalapati berjalan tegak keluar gerbang istana. Sementara Senopati Bedali seperti gamang mengetahui perkembangan yang terjadi. Ia tidak menyangka Wredamenteri Ranggapane terluka. Pantas saja dukungan dari luar tidak muncul. Lalu siapa yang menyerang Ranggapane? Ia masih termakan tuduhan Rakryan Tumenggung Jalapati kepada Jingga. Karena secara keilmuan, Jinggalah yang dianggap mampu melukai Ranggapane.

Keringat dingin sebesar kacang hijau mengalir deras dari dahi dan tangannya. Ia harus bertindak cepat mengatasi situasi yang diluar perkiraannya.

Senopati Bedali mengumpulkan para bekel pasukannya, merundingkan hasil perundingan. Mereka semua terkejut mendapat kabar Ranggapane terluka, yang kabarnya sampai saat ini masih pingsan.
Ada pro dan kontra atas dugaan Jingga sebagai pelaku, seperti yang dicetuskan Rakryan Tumenggung Jalapati.
"Daripada saling menduga, lebih baik kita tanya langsung. Biar cepat selesai."
Semua setuju. Mereka lalu bersama sama menuju bilik yang ditempati Jingga. Bukan bilik bekas Raja yang luas dan megah. Jingga menempati bilik penjaga.

"Paduka, apakah semalam bertemu dengan Wredamenteri Ranggapane?"
"Tidak, aku hanya menyembunyikan Raja dan istrinya. Lalu kembali kesini. Bukankah kalian melaporkan kepada Ranggapane perihal kedatanganku semalam?"
"Ya, tapi kami tidak bertemu langsung,"
"Bagaimana aku melukai Ranggapane yang membebaskanku dan mengajakku melakukan semua ini. Hanya Dia yang menjadi kunci semua ini. Jadi bagaimana mungkin aku mematahkan kunci itu. Sedang aku sendiri terkunci di dalam?"
"Maaf Paduka, ini karena muncul desas desus yang menuduh Paduka pelakunya."
"Jangan percaya, bukan aku pelakunya. Itu strategi lawan untuk menghancurkan mental kalian sebelum dihabisi."
"Siap Paduka, ampuni kami,"
Setelah suasana mulai cair, Senopati menjelaskan hasil perundingan dengan Rakryan Tumenggung. Bahkan ajakan untuk meninggalkan Jingga juga disampaikan. Meski Senopati harus berkali kali meminta maaf kepada Jingga. Untunglah Jingga tidak terpengaruh, malah Ia tersenyum mendengarnya.
"Aku rasa, ide itu bisa kalian pakai,"
"Maksud Paduka?"
"Kalian masih muda muda, penuh semangat namun minim pengalaman. Dunia politik kerajaan terlalu rumit untuk kalian mengerti. Tak ada hitam tak ada putih, semua saling menodai dan mengikat, menjadikan dunia ini serba abu abu.
Aku berhitung, malam nanti kalian akan diserang habis habisan. Tidak ada guna menjadikan keluarga kerajaan sebagai tawanan, karena bisa saja yang menyerang tidak peduli akan hal itu. Pemberontak sebenarnya adalah yang akan menyerang nanti malam. Mereka akan mengambil alih Majapahit. Mereka mendapat momentum untuk menumpas pemberontak yang disematkan kepada kalian. Mereka mendapatkan dukungan pejabat Wilwatikta. Mereka memiliki seluruh kekuatan Prajurit Majapahit. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk mendapatkan Raja baru?"

Semua terhenyak mendengar analisa Jingga. Mereka tidak berpikir sejauh itu. Wajah wajah cemas dan tegang tergambar jelas. Semangat mereka tiba tiba jatuh pada titik nadir.
"Jangan cemas, aku hanya memberi analisa. Jalan keluarnya bisa kalian gunakan usulan Rakryan Tumenggung Jalapati tadi, Ini bukan menghentikan cita cita luhur kalian, namu situasi saat ini kalian pada posisi dimanfaatkan. Kalian rentan di korbankan. Dengan mengikuti rencana itu, setidaknya mencegah Tahta Majapahit jatuh kepada orang licik yang tidak berani unjuk dada didepan."
Susasana seperti sarang tawon yang dilempar anak kecil. Semua berbicara menurut pikiran dan perasaan masing masing. Menebak nebak siapa yang nanti mengambil untung dengan kejadian ini.

NB:
Terimakasih untuk agan @Titikhitam198 atas ide idenya
emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
fauzi015 dan 38 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
profile picture
lukakelana
Maga batanga pada jayana
Trims updatenya Ki
🙏🏾
PENCARIAN JINGGA


Sekembalinya dari menemui para pengungsi Blambangan, Jingga mengajak Ratna ke Pelabuhan Pamotan.
"Aku mendapat informasi kalau Untari selamat. Pernah terlihat di sini sebelum meneruskan perjalanan ke Barat dengan menumpang salah satu kapal dagang di sini."
Ratna tersenyum gembira mendengar kabar baik itu. Iapun bersemangat menemani Jingga ke Pelabuhan Pamotan.
"Sudah tahu kapal yang pernah ditumpangi Untari?"
"Sudah diberi tahu ciri cirinya,"
Selanjutnya Ratna yang banyak bercerita tentang kenangannya saat masih kecil di pelabuhan ini. Waktu itu tidak seramai sekarang. Berkali kali Ia menunjuk sebuah tempat dan menceritakan sejarahnya.

Di Pelabuhan, Jingga mengamati satu persatu kapal yang bersandar. Ia menghadap ke petugas pelabuhan kapan kapal dagang milik Raden Sastro biasanya bersandar.
"Baru tadi pagi kapalnya berangkat ke timur," jawab petugas pelabuhan itu.
"Kapan datang lagi?"
"Bisa sepekan lagi, tergantung cuaca,"
"Terimakasih,"
Jingga menemui Ratna yang sedang berteduh dibawah pohon waru.
"Kapalnya sudah berangkat pagi tadi,"
"Lalu kapan datang kesini lagi?"
"Sekitar sepekan, tergantung cuaca,"
"Kita tunggu?"
"Iya,"
Ratna terlihat gembira, bagaimanapun Ia lebih suka tinggal di lingkungan yang amat dikenalnya. Apalagi bersama Jingga.
"Ayo kita ke kapal itu," Jingga mengajak Ratna ke kapal yang sedang menaikkan muatan dan penumpang.
"Maaf, ini hendak berlayar kemana?" Tanya Jingga kepada salah seorang yang tidak terlihat sibuk.
"Mau ke Blambangan," jawab orang itu.
"Apakah Blambangan sudah aman? Bukankah pasukan Majapahit baru datang kesana?"
"Benar, tapi tidak terjadi peperangan. Situasinya aman terkendali. Ada beberapa kapal dagang yang baru dari sana mengabarkan perkembangan terakhir."
Jingga bersyukur Senopati Kijang Anom menepati janjinya. Ia tidak bisa membayangkan bila harus berperang dengan pasukan Senopati Kijang Anom. Bagaimana hancurnya rakyat Blambangan. Dan itu tidak boleh terjadi lagi.
Ada keinginan diam diam menyusup ke Blambangan untuk memastikan semua berjalan baik. Namun Ia takut bersimpangan dengan kapal Raden Sastro. Yang akan membuat pencariannya semakin berlarut larut.
Biarlah Paman Andaka yang mengatasi semua permasalahan disana. Jingga yakin akan kemampuannya.

Saat ini Ia harus fokus dengan pencarian Untari.

Berhari hari Jingga berada di pelabuhan Pamotan menunggu kedatangan kapal milik Raden Sastro, juga memantau perkembangan Blambangan dari kabar kabar yang dibawa awak kapal yang baru dari Blambangan.
Mereka menyampaikan kondisi ekonomi Blambangan berangsur pulih. Senopati Kijang Anom sangat bijaksana mengendalikan Blambangan.
Ratna dengan senang hati menemani penantian Jingga.

Akhirnya penantian Jingga membuahkan hasil. Dari arah timur datang kapal dagang milik Raden Sastro. Jingga tiba tiba merasakan dirinya sangat tegang. Keringat dingin membasahi dahi dan tangannya. Lebih tegang daripada saat menghadapi peperangan.

Ratna yang menemani merasakan ketegangan pada diri Jingga. Ia berusaha menenangkan dengan bercerita hal hal ringan sambil menunggu kapal Raden Sastro bersandar.

Tali tambang penambat dilemparkan dari atas kapal, lalu dililitkan ke patok patok kayu besi di bibir dermaga. Perlahan kapal berjalan menyamping mendekat ke dermaga. Disisi lain tali jangkar ditarik kencang untuk mengerem lajunya. Semua berjalan seperti hal mudah. Para awak kapal dan dermaga melakukannya sambil bercakap cakap biasa. Padahal salah hitung sedikit, kapal akan rusak menghantam dermaga.

Jingga bersama Ratna menunggu kesibukan para ABK selesai. Jingga melihat seseorang yang terlihat memerintah yang lain, berjalan turun melalui titian kayu ke dermaga.
Jingga langsung maju menemui orang itu.
"Selamat siang Ki, maaf mengganggu. Apa bisa saya bertanya sedikit?"
"Siapa ya?"
"Saya Minok, ini Ratna, kami utusan keluarga Blambangan, hendak mencari sanak saudara kami yang hilang sejak peperangan yang lalu,"
"Bisa lihat pengenal kalian?"
Jingga memberikan plakat pengawal raja Blambangan miliknya, yang biasa dipakai menyamar menjadi orang biasa yang dekat kerajaan.
"Ini Ki,"
Sejenak plakat itu diperiksa, "Kita bicara di kedai itu saja,"
Orang itu lalu berjalan menuju tempat yang ditunjuk tanpa mempedulikan Jingga apakah mengikuti atau tidak. Jingga dan Ratna langsung mengikuti langkah orang itu sampai masuk kedai makan.
Pemilik kedai menyapa kepada orang itu sebagai kawan dekat.
"Ki Tanda, kebetulan, madu milikmu ketinggalan tempo hari. Hampir saja aku minum,"
"Minum saja Ki Toro, biar Isterimu tidak marah marah terus ha ha ha," ijin laki laki itu sambil berseloroh.
"Mau pesan apa?"
"Pesan seperti biasa, entah dua orang ini mau pesan apa tidak?" Kata Ki Tanda sambil menengok ke Jingga dan Ratna yang mendengarkan obrolan mereka. Jingga dan Ratna saling pandang yang akhirnya sepakat pesan minum dan jajanan.
Wajah laki laki itu datar melihat Jingga dan Ratna yang duduk berhadapan satu meja dengannya.
"Ceritakan siapa diri kalian yang sebenarnya, setelah itu baru aku pertimbangkan membantu kalian atau tidak."
"Tadi sudah saya sampaikan Ki," jawab Jingga, kukuh dengan sikapnya mengaku sebagai utusan Blambangan.
"Hmmm begitu," gumam laki laki itu. Seulas senyum sinis tergambar di wajahnya. Jingga langsung merasa ditelanjangi.
"Kalau begitu, kalian bisa pergi. Biar makanan dan minuman kalian aku yang bayar," kata laki laki itu datar.
Jingga langsung tercekat menerima sikap penolakan orang didepannya.
"Kenapa Ki? Apakah kami salah?"
"Kalian tidak jujur, jadi buat apa saya menjawab pertanyaan kalian?"

Dalam hati Jingga ingin berkata jujur kalau dirinya adalah Jingga, kakak Untari, kekasih Lencari, anak tuanmu. Namun keinginan itu harus Ia telan kembali. Karena tindakannya akan memancing datangnya musuh musuh dirinya dan musuh Blambangan. Orang orang pemburu hadiah dan telik sandi karbitan. Akan semakin sulit lagi geraknya. Akan membahayakan Ratna yang kini keselamatannya berada dalam tanggungjawabnya.

"Kami jujur Ki, kami utusan Blambangan yang sedang menyamar." Jingga sudah kepalang basah, berusaha menyakinkan kebohongannya.
"Lalu gadis ini Isterimu?" Tanya laki laki itu masih dengan senyum sinisnya.
Jingga kebingungan, Ratna yang langsung menjawab, "Iya, aku istrinya."
Mendengar jawaban Ratna, laki laki itu sedikit tersedak.
"Baiklah, sekarang apa mau kalian?" Laki laki itu meneruskan makannya.
"Saya mencari seorang gadis dari keraton Blambangan yang bernama Untari. Ciri cirinya....." Jingga memaparkan ciri ciri fisik luar Untari.
"Dari kabar kerabatnya, pernah melihat Ndoro Untari menaiki kapal Aki beberapa waktu lalu,"
"Kalau kapalku tidak pernah mendapatkan penumpang seperti yang kamu sebutkan itu, mungkin kapal yang lain."
Jingga tidak bisa memaksa orang ini menjawab benar, tahu atau mengenal Untari sampai tahu dimana Untari berada.
Jingga langsung lesu tak tahu harus mencari kemana.
"Apakah Aki bisa memberi kami tumpangan untuk menghadap Ndoro Sastro?" Pinta Jingga akhirnya.
"Tahu dimana kamu dengan Ndoro Sastro?"
"Saya dulu pernah bekerja di kedainya."
Laki laki itu memandang Jingga tajam, lalu memandang Ratna yang mengatupkan bibirnya menahan diri dari rasa tidak senang.
"Sudah tidak usah repot repot, kalian disini saja. Kalian tinggal dimana? Biar nanti kalau ada informasi tentang Ndoro Untari akan saya hubungi."
Wajah Jingga langsung berubah gembira, "terimakasih Ki, kira kira sampai kapan saya harus menunggu disini?"
"Bukankah kalian tinggal disini? Berumahtangga disini? Atau kalian membohongi saya?"
Jingga kaget mendapat rentetan pertanyaan balik. Ia takut orang itu membatalkan bantuannya.
"Maaf Ki, kami biasa berkelana menjalankan tugas, tidak menetap di satu tempat."
"Ya terserah kalian, saya tidak bisa berjanji kapan bisa memberi kabar pada kalian. Sering sering saja ke kedai ini. Kalau ada kabar aku titipkan disini."
"Baik Ki, kami saat ini tinggal di penginapan dekat gerbang masuk Pelabuhan." Jingga lalu menggambarkan tempat penginapannya.

Setelah pembicaraan, laki laki itu menyelesaikan makan dan bangkit membayar, berbicara sebentar dengan pemilik kedai sambil memandang tempat Jingga dan Ratna duduk, terus pergi. Mengacuhkan keberadaan Jingga dan Ratna yang terus memandangnya.

"Lalu?" Tanya Ratna setelah kepergian laki laki itu. Wajahnya terlihat tidak enak dengan situasi kali ini. Entah karena sikap orang itu, entah karena hal lain yang Ia sendiri tidak sadari tapi cukup membuat dirinya gelisah tidak nyaman.

Jingga bangkit ke pemilik kedai, menyapa.
"Paman, berapa makanan dan minuman kami?"
"Sudah dibayar Ki Tanda."
"Apakah ada pesan dari Ki Tanda?"
"Ya, kalian disuruh menemuiku kalau Ki Tanda ada kabar untuk kalian."
"Terimakasih Paman,"
Jingga kembali menemui Ratna, mengajaknya keluar kedai.

Diluar Jingga berhenti, memandang ke kapal Raden Sastro yang sandar di kejauhan. Baru kali ini Ia kehilangan akal.

Ia yakin kalau adiknya, Untari bersama Lencari. Tapi sekarang dimana? Di Kahuripan sudah luluh lantak jadi debu.
Tadinya Ia ingin menghadap Raden Sastro. Tapi dari sikap Ki Tanda, keberadaannya pasti dirahasiakan.
Dirinya sendiri punya banyak kejadian buruk dengan keluarga Raden Sastro, terutama RA Sulastri, istrinya. Dan tidak yakin dirinya diterima mereka. Apalagi dengan statusnya sekarang ini, sebagai buronan dan dicap pemberontak.

"Ayo balik ke penginapan, aku kurang enak badan," ajak Ratna membuyarkan lamunan Jingga.
"Iya," jawab Jingga pendek, menjajari langkah Ratna menyusuri jalan menuju gerbang keluar pelabuhan.


***

Cahaya matahari meredup pelan, melukis warna tembaga di langit. Perlahan lahan turun membesar menyentuh air laut. Kapal kapal yang berjajar menjadi siluet. Membentuk lukisan indah yang menggetarkan rasa.
Namun keindahannya tidak dirasakan oleh seseorang yang berdiri termangu diatas dek kapal. Airmatanya mengalir deras. Ia tidak melihat keindahan itu. Ia hanya melihat sepasang kekasih berjalan beriringan meninggalkan pelabuhan.

Orang yang menangis itu adalah Lencari.

Sejak awal kedatangan kapal Raden Sastro, Lencari sudah melihat Jingga dan Ratna dari tengah laut. Ia buru buru menyembunyikan diri agar tidak terlihat dari dermaga.
Lencari langsung memerintah Ki Tanda untuk merahasiakan keberadaannya di kapal ini, juga keberadaan Untari, yang kebetulan saat ini sedang sakit sejak meninggalkan Pelabuhan Blambangan. Melihat perkembangan situasi Blambangan setelah kedatangan pasukan Senopati Kijang Anom.
Dan ternyata Jingga tidak ada di Blambangan.

Perintahnya itu sebetulnya bertentangan dengan misi perjalanannya yang hendak mencari Jingga. Seharusnya saat melihat Jingga setelah perjalanan panjang ini, Ia langsung menghampiri agar tidak berpisah lagi. Namun urusan hati siapa yang tahu kehendaknya.

Ki Tanda menurut saja dan mengerti mengapa Tuannya bersikap seperti itu. Selama perjalanan mencari Jingga, Ki Tanda sedikit demi sedikit mulai memahami meski tidak secara utuh. Ia bersimpati atas penderitaan dan pengorbanan Lencari mengejar cintanya. Dan berjanji dengan jiwa raganya untuk mewujudkannya.

Ki Tanda segera turun sambil mengatur segala sesuatu. Melihat kedua orang itu, timbul tidak sukanya kepada Jingga dan Ratna.
Orang seperti ini yang dikejar, sampai mengorbankan segalanya. Setelah ditemukan ternyata bersama gadis lain. Dan mengaku sebagai istrinya.

Ki Tanda masih menahan mengkal saat pergi meninggalkan kedai kembali ke Kapal. Dan semakin sesak dadanya ketika naik ke kapal melihat Ndoro Lencari mengintip keluar kapal sambil berurai airmata. Kasihan gadis itu.

Lencari buru buru mengusap matanya begitu tahu kedatangan Ki Tanda.
"Bagaimana Ki?" Tanya Lencari menyambut Ki Tanda.
Hati hati Ki Tanda menjelaskan apa yang dilihat dan didengarnya.
"Berarti Ia sudah menikah," gumam Lencari dalam hati. Ia tidak menyalahkan Jingga, karena itu haknya. Ia hanya menyesali mengapa dirinya tidak dari dulu berani bersikap tegas kepada keluarganya. Dan ini adalah buah dari semua kesalahannya.
Lencari lalu masuk ke dalam kabin. Ia duduk disamping Untari yang sedang tidur. Demamnya sudah turun, setelah berhari hari demam tinggi. Ki Tanda yang bekas prajurit ternyata bisa mengobati. Menggunakan beberapa rempah dan daun daun obat, membuat kondisi Untari semakin membaik.
Mungkin kalau Untari tidak sakit, ceritanya bisa lain. Jadi Untari sampai saat ini tidak tahu kalau tadi Jingga datang mencari dirinya.
Lencari menunggu Untari sembuh untuk mempertemukan dengan kakaknya, Jingga.

Sambil menunggu saat itu, Lencari berpikir keras, apa yang harus dilakukan. Tapi kini Ia tidak bisa berpikir. Semua terasa buntu. Satu sisi ingin bertemu melepas rindu, satu sisi tidak ingin merusak kebahagiaan Jingga.
Kembali dosa dosa lama mengikat kaki dan tangannya. Kepada orang lain, Ia bisa tidak peduli akan semua itu. Tapi dihadapan Jingga. Dosa dosanya seolah olah melumuri sekujur tubuhnya dengan kotoran. Menempatkannya jauh dibawah kaki Jingga.
Ia tidak siap mendengar kalimat penolakan dari Jingga.

Untari terbangun dari tidurnya, badannya masih lemah.
"Tari, bagaimana? Sudah enakan?"
Untari tersenyum, "sudah."
Ia berusaha duduk. Lencari membantu sambil menata bantal agar Untari bisa bersandar di tempat tidur.
"Minum?" Tawar Lencari.
Untari mengangguk, menyambut uluran cangkir keramik cina berisi air. Untari meneguk habis lalu diletakkan sendiri di meja samping.
"Tari, ada kabar gembira. Kakang Jingga sudah ketemu," kata Lencari dengan suara bergetar.
Untari terperanjat, Ia begitu gembira mendengar kabar tentang kakaknya.
"Dimana Kakang sekarang?" Tanya Untari antusias.
"Masih ada urusan, nanti kalau kamu sudah pulih akan kami antarkan."
"Aku sudah sehat kok,"
"Kalau sudah sehat, makan dulu yang banyak," kata Lencari memberi syarat kesehatan pada Untari.
"Iya aku makan sekarang,"
"Nah gitu, biar bisa jalan jauh,"

Entah memang sudah sembuh total atau terdorong rasa rindu bertemu keluarga satu satunya, Untari langsung menyantap makanan di meja samping dengan lahap. Lencari tersenyum geli melihat tingkah Untari. Berbeda sekali dengan hari hari perjalanan dari Blambangan ke Pamotan.

Setelah makan, Untari bersiap, badannya masih belum sepenuhnya pulih.

"Kak Cari tidak bersiap?" Untari bertanya mengapa Lencari tidak ikut bersiap seperti dirinya.
"Tidak, kamu saja," jawab Lencari tersenyum tipis.
"Kenapa?" Ada banyak pertanyaan dalam satu kata tanya itu.
"Tidak apa apa,"
"Apakah?...." pertanyaan Untari menggantung, tidak berani meneruskan.
Lencari menarik nafas, tersenyum sebisanya.
"Tari, kakak tidak mungkin bertemu Kakak Jingga. Ia kini sudah punya istri. Tadi kesini dengan istrinya."
Kegembiraan Untari langsung pudar tatkala mengetahui Lencari tidak ikut menemui Jingga.
"Jangan pikirkan, kamu harus ketemu Kakakmu, kasihan Ia mencarimu kemana mana,"
"Lalu kakak sendiri?"
"Kakak akan pulang ke Sunda. Yang kakak pinta kepadamu, jangan ceritakan bahwa aku bersamamu selama ini. Katakan saja seseorang yang baru kamu kenal. Aku tidak ingin menjadi bencana bagi Jingga lagi."
"Lalu, kalau aku mau bertemu Kak Cari bagaimana?"
"Kan bisa ikut kapal ayahanda, nanti pasti diantarkan ke Kakak,"
Untari langsung memeluk Lencari erat erat. Mereka menangis berdua tanpa banyak berkata kata. Sebagai wanita, naluri dan bahasa batin mereka lebih dari cukup menjelaskan keinginan masing masing.

Mereka buru buru melepas pelukan ketika pintu kabin dikeruk dari luar.
Lencari membuka pintu, didepan berdiri Ki Tanda menanyakan apakah sudah siap berangkat.
Lencari meminta dirinya tidak disebut dalam cerita tentang keberadaan Untari di kapal ini. Terserah Ki Tanda dan Untari yang mengaturnya.
Ki Tanda menyanggupi. Ia menoleh Untari.
"Sudah siap?"
"Siap Ki," ucap Untari. Kembali Untari memeluk erat Lencari.
"Aku pamit dulu ya kak, terimakasih atas segalanya, maaf atas segala kesalahanku dan kakak Jingga."
"Sama sama Tari, jaga diri ya. Kalau kangen, tinggal ke Pelabuhan, cari kapal ayahanda."
"Iya Kak,"

Ki Tanda langsung memerintah dua abk untuk mengambil peti berisi perlengkapan Untari.
Lencari mengantarkan sampai dek. Ia tidak ingin terlihat dari luar.

Berempat mereka beriringan turun ke Dermaga. Hari sudah gelap. Lampu lampu obor menerangi malam di dermaga. Ki Tanda, diikuti Untari dan dua ABK yang memanggul peti.
"Ingat pesan Ndoro Lencari," kata Ki Tanda mengingatkan.
"Iya Ki, selalu ku ingat. Terimakasih atas semua kebaikan Ki Tanda, Kak Cari, keluarga Raden Sastro dan seluruh ABK, titip ucapan hormat dan kasih untuk semua,"
"Iya, Aki sampaikan, jaga diri ya. Kalau ada apa apa jangan sungkan cari kapal kami."
"Terimakasih Ki,"
"Itu penginapannya," Ki Tanda menunjukkan penginapan Jingga.

Tanpa banyak berbicara, mereka langsung menuju kamar Jingga. Saat itu Jingga sedang makan malam dengan Ratna di depan kamar Ratna. Keduanya terkejut melihat kedatangan Ki Tanda bersama Untari. Mereka tidak menduga secepat ini.

Ki Tanda mengucap salam lalu memerintahkan kedua ABK meletakkan barang Untari di depan kamar Ratna. Pamit kepada Untari lantas kembali ke dermaga. Sikap Ki Tanda tidak memberikan kesempatan Jingga berbicara sedikitpun. Sikapnya benar benar dingin.
Jingga kebingungan melihat kejutan kedatangan adiknya yang Ia sayangi. Sehingga Ia kurang tanggap akan sikap Ki Tanda yang dingin. Bahkan Ia belum sempat berterimakasih atas segala bantuannya. Saat Ia menyadari, Ki Tanda sudah pergi jauh.
Jingga menyadari kesalahannya, Ia langsung berlari mengejar Ki Tanda. Lantas mengucapkan banyak terimakasih.
"Iya," hanya itu jawaban Ki Tanda. Lalu kembali berjalan meninggalkan Jingga.

Setelah diam sejenak, berusaha mengerti sikap Ki Tanda yang berlalu begitu saja. Jingga berlari kembali ke penginapan.
Menghampiri adiknya. Memeriksa dirinya, meyakinkan bahwa kondisinya baik baik saja.
"Tari, kamu sakit?" Tanya Jingga cemas melihat Untari yang masih lemah dan pucat.
"Iya, baru sembuh. Kakang dari mana?"
"Mengejar yang mengantarmu, tapi orangnya aneh, tidak banyak bicara,"
"Memang begitu orangnya," jawab Untari tidak ingin membahas lebih panjang lagi.
Ratna membimbing Untari masuk kamarnya. Jingga mengangkat peti barang Untari ke kamar Ratna.
"Sebaiknya Tari tiduran, biar cepat pulih," kata Ratna membimbing Untari ke tempat tidur.
"Terimakasih,"
Jingga hati hati menanyakan bagaimana adiknya itu bisa lolos sampai akhirnya bertemu disini.
Untari hati hati bercerita bahwa Ia disuruh pergi saat terjadi peperangan. Kabur lewat goa, menyusuri sungai dan ditolong orang ikut kapal nya ke Pamotan. Lalu ditolong Ki Tanda. Sempat kembali ke Blambangan, tapi Jingga tidak ada disana. Dan ternyata malah ketemu disini.
Untari sengaja mengurangi peran Lencari. Bila harus ada dalam cerita. Ia ganti dengan orang yang berbeda beda agar tidak terlacak peran Lencari selama ini. Padahal hatinya ingin sekali menceritakan kebaikan dan penderitaan Lencari pada Kakaknya.
Mendengar cerita Untari, Jingga merasa ada hal hal yang sengaja disembunyikan adiknya. Tapi tidak mau Ia tanyakan, demi menjaga perasaan adiknya.

Malam itu mereka bercerita sampai larut. Saat Untari sudah mengantuk. Jingga pamit kembali ke kamarnya. Namun jingga tidak langsung masuk. Ia berjalan keluar menuju dermaga tempat kapal Ki Tanda bersandar.
Sampai disana, yang Ia temui adalah kapal lain. Ternyata kapal Ki Tanda sudah berangkat setelah mengantarkan Untari.

Entah kenapa hati Jingga serasa diiris iris setelah mengetahui kapal Ki Tanda telah pergi. Dalam bawah sadarnya, Ia berharap adiknya bersama Lencari, sesuai tanda tanda yang ditinggalkan. Saat berjumpa Untari, Ia juga berharap berjumpa Lencari, menanyakan kabar, saling bercerita melepaskan duka dan beban hati yang terpendam.
Apakah Lencari enggan bertemu dengannya?
Apakah karena dirinya sekarang jadi buronan Majapahit, membuat Lencari menghindar, agar keluarganya tidak diseret kasusnya?
Ya mungkin itu, Ia sangat menyayangi kedua orangtuanya, sampai mengorbankan diri dinikahkan dengan orang lain demi menyelamatkan orangtuanya dari fitnah sebagai antek istana timur.
Jingga terduduk di dermaga. Memandang lautan luas.
Lencari, aku ingin menemuimu, meski hanya di dalam mimpi.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
andir004 dan 37 lainnya memberi reputasi
PERSEKONGKOLAN


Merasa pancingannya berhasil, Ranggapane terus menguji keseriusan Jingga.
"Setelah rencana kita sukses, apa yang Pangeran rencanakan?"
"Aku tidak punya rencana. Aku hanya ingin semuanya hidup damai."
"Hamba yakin bisa dilakukan bila kekuasaan berada di tangan Pangeran."
Jingga diam saja mendengar rayuan Ranggapane. Seumur hidup baru kali ini bulu kuduknya merinding mendengar rayuan maut Ranggapane. Benar benar berbahaya.
"Bagaimana kalau Mahapatih menentang rencana kita?" Ranggapane kembali bertanya. Menguji pengetahuan Jingga juga ingin mengukur seberapa besar minat Jingga mengikuti rencananya
"Aku tidak banyak mengenal kalangan istana, termasuk Mahapatih. Meski aku pernah bekerja padanya. Anda yang lebih banyak tahu dan punya kekuatan untuk mengatasinya. Terserah Anda yang menyelesaikan diluar urusan Prabu. Aku tidak bisa apa apa tanpa bantuan Anda. Dari rencana anda, aku yakin anda sudah menyiapkan segala sesuatunya "
Ranggapane mengangguk angguk membenarkan.
"Pangeran pantas mengambil jalan para Raja,"
Jingga tersenyum tipis. Ia sudah menebak apa yang akan dikatakan oleh Ranggapane.
"Jalan Ken Arok, Jalan Raden Wijaya, jalan Raja raja lainnya."
"Maksudmu jalan darah?"
"Ya, semua demi menumpas ketidak adilan, ketidak becusan dalam mengelola negara. Tak punya ambisi besar selain hawa nafsu semata. Prajurit butuh kebanggaan. Sikap itu yang dilakukan Ken Arok saat menumbangkan Tunggulametung dan menyelamatkan Ken Dedes dari angkara murka. Sementara Raden Wijaya bersikap cerdas seperti Pangeran dalam memenangkan peperangan selama ini di Blambangan. Pangeran sebetulnya punya kemampuan melebihi Raden Wijaya. Sayangnya Pangeran lemah di pengendalian perasaan."
"Apa tidak ada jalan lain selain jalan darah itu?"
"Keadilan dan kasih sayang saat menyembelih kerbau adalah bila yang menyembelih menggunakan pisau yang tajam dan tepat di pembuluh darah mematikan kerbau. Sehingga tidak menyiksanya dengan kesakitan terlalu lama."
Ranggapane menggunakan kalimat khiasan. Ia menggambarkan kekuasaan Majapahit adalah seekor kerbau. Bila ingin mengambil kekuasaan terhadap Majapahit. Harus memotong titik terpenting dari Kerajaan itu. Agar tidak menimbulkan kerusakan terlalu besar dan berlarut larut. Ia menyindir Jingga yang sibuk memerangi prajurit di bawah. Berapa banyak nyawa yang dibunuh Jingga, namun usahanya itu tidak merubah keadaan semakin baik. Lain bila membunuh satu orang saja, yaitu Raja. Maka kendali perubahan akan berada di tangannya.
Ranggapane mengamati raut wajah Jingga, yang terlihat berpikir mengurai pergulatan di batinnya.
"Masuk akal," kata Jingga akhirnya.
"Pangeran butuh senjata apa?"
"Apa saja,"

Ranggapane pamit keluar, berjanji segera kembali untuk melaksanakan rencananya. Jingga jawab dengan anggukan kecil.

Jingga kembali merenung memikirkan seluruh kejadian yang terjadi. Rasa perih oleh sepi dan bersalah kepada Lencari kembali menyergap dadanya. Jingga menepuk nepuk kepalanya dengan keras. Ia membodohkan dirinya yang teledor menjaga keselamatan Lencari.

Jingga pikir setelah puas menumpahkan isi hati saat persidangan tadi. Ia sudah siap untuk dihukum mati saat itu juga. Kerinduan untuk menyusul Lencari dan tetap berkorban demi kedamaian Blambangan menjadikannya kematian seperti langkah yang harus Ia ambil. Tak ada ketakutan sedikitpun di matanya.

Jingga tidak mengira untuk matipun butuh proses berlarut larut. Saat menunggu proses itu, Ia terkejut mendengar ajakan Ranggapane untuk memberontak. Awalnya Dia pikir Ranggapane memancingnya saja. Namun setelah sekian lama mendengar penjelasan Ranggapane, Jingga mulai yakin kalau Ranggapane serius untuk menumbangkan kekuasaan Raja Wikramawardhana setelah beberapa kali berani bicara tidak hormat sedikitpun kepada Raja.

***

RANGGAPANE

Raden Ranggapane awal masuk keprajuritan saat terjadi perang bubat. Perang dimana menjadi titik balik dari seorang Mahapatih yang sangat Ia kagumi. Mahapatih Gajahmada. Saat melihat proses kejatuhan Mahapatih Gajahmada sampai meninggalkan istana untuk menyepi di sebuah daerah sekitar Pamotan. Saat para pasukan Bhayangkari bentukan Mahapatih tidak mendapat tempat di Wilwatikta. Raden Ranggapane tiba tiba merasa kehilangan panutan, kehilangan pegangan dalam mengabdi ke negara.

Kehilangan Mahapatih Gajahmada, disusul mundurnya Laksamana Mpu Nala yang menguasai lautan Nusantara. Membuat prajurit Majapahit kehilangan sosok panutan, juga nilai nilai yang ditanam mereka kedalam pasukan, semuanya seolah runtuh. Para Prajurit kini melihat nilai lain yang lebih berkuasa. Nilai politik dan kekuasaan. Orang sekaliber Mahapatih yang sangat berjasa kepada Majapahit, harus hancur oleh satu kesalahan saja. Tidak hanya diberhentikan. Bahkan Mahapatih harus tinggal menyepi di hutan pemberian Raja. Ini kalimat halus sebagai tahanan rumah dan tidak boleh berhubungan dengan dunia luar. Ia harus terasing dari dunia yang dibangunnya. Dari pasukan yang dibina dan dibentuknya.

Sejak pengasingan itu. Gajahmada seperti hilang ditelan bumi. Bahkan sampai kematiannya tidak diketahui, kapan dan dimana. Gajahmada benar benar dibunuh sebelum mati. Kesalahan bagai setitik racun yang jatuh kedalam kuali jasa. Merusak kemurnian kebaikan selama ini. Gajahmada tidak hanya diasingkan. Semua ajarannya selama membentuk mental pasukan perlahan dihilangkan. Kitab kitab yang berhubungan dengan pemikiran Gajahmada disimpan, diganti dengan kitab kitab karya tokoh lain yang dianggap setara. Ajaran tentang 18 kepemimpinan Gajahmada juga perlahan dihilangkan dari prasasti prasasti di kasatriyan. Hal ini bertujuan untuk memutus rantai keterikatan prajurit Majapahit sepeninggal Gajahmada.

Jiwa besar Gajahmada saat diasingkan, membuat para pengikutnya hanya bisa menangis dan prihatin. Kalau berkehendak, Gajahmada bisa saja mengerahkan pasukannya mengambil alih kekuasaan Majapahit. Bagi pengikutnya, Gajahmada di korbankan oleh persaingan politik di dalam kalangan istana. Gajahmada disalahkan karena berusaha menyatukan seluruh tanah jawa dalam satu panji Majapahit. Sedangkan Raja menyalahkan Gajahmada karena kematian kekasih hatinya. Padahal kalau diukur sebesar apa pengorbanan yang dilakukan oleh Gajahmada dan para prajurit dibawah komandonya. Penderitaan Raja tidak ada apa apanya.

Memang tidak terjadi pemberontakan oleh pengikut Gajahmada. Namun mereka mengikuti jejak Gajahmada, mengasingkan diri dari keikutsertaan urusan negara lagi. Banyak dari mereka kembali ke desa desa, ke gunung dan pulau pulau kecil menjadi orang desa, pertapa atau apa saja yang bisa menjauhkannya dari urusan negara.

Seketika prajurit Majapahit banyak kehilangan tokoh tokoh ksatriya. Banyak jabatan penting dan strategis kosong ditinggalkan para pengikut Gajahmada. Dan langsung diganti oleh orang orang yang kualitasnya jauh dari klasifikasi yang dibuat Gajahmada dalam struktur keprajuritan. Baik kemampuan maupun mentalnya. Kini Prajurit Majapahit mirip prajurit Jompo. Mereka berdiri tegak dengan prestasi pendahulunya. Kisah kisah lama. Sedang didalamnya terjadi pembusukan.

Kejadian demi kejadian itu membentuk Ranggapane yang awalnya idealis menjadi praktis. Cita cita prajuritnya tetap demi kejayaan Majapahit. Namun caranya Ia ubah sendiri. Ia harus bertahan di dunia yang tidak menentu itu.

Sebagai prajurit yang cerdas dan digjaya. Peperangan demi peperangan sukses Ia menangkan bersama pasukannya. Karirnya cepat melesat. Tapi baginya itu tidak cukup. Ia harus membentuk pasukan dan jaringan yang tunduk kepadanya diluar struktur perintah yang sudah ada.
Diam diam Ia mengikuti beberapa kelompok dalam tubuh keprajuritan. Sudah bukan hal aneh, sepeninggal Mahapatih Gajahmada. Kelompok kelompok dalam keprajuritan mulai tampil tanpa rasa takut. Antar kelompok itu berebut posisi penting dalam struktur keprajuritan. Bela negara bergeser menjadi bela kelompok. Aturan dan norma digunakan sebagai kedok pemanis nafsu serakah mereka. Tapa,laku, puasa yang umum dilakukan prajurit semasa Mahapatih Gajahmada, kini mulai kehilangan makna. Para petinggi melakukan itu hanya pencitraan didepan publik. Sementara mata dan perutnya yang penuh nafsu tidak bisa berdusta.

Dalam mencari pengikut dari rekan sejawatnya, Ia sepenuh hati menjaga kekompakan pasukan. Setiap ada kesalahan rekan rekannya, Ia yang maju kedepan memberikan alasan atau apapun agar rekannya tidak mendapat sangsi atasan. Pasukannya jadi sangat setia kepadanya karena merasa dilindungi.

Ranggapane juga selalu bersikap sebagai penyelamat rekan rekannya yang sedang mengalami masalah. Mereka yang terkena kasus sampai pemecatan, ditampung Ranggapane menjadi kaki tangannya. Mereka kemudian diberi tugas tugas khusus yang tidak bisa dilakukan di kesatuan.
Kapada atasan, Ranggapane bersikap seperti cantrik yang setia. Apapun Ia lakukan tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan Ia mendapat julukan sebagai anjing kampung. Anjing yang terkenal setia meski tuannya sangat tidak layak diperlakukan seperti itu.

Dengan sikap seperti anjing kampung, Ia membantu atasannya dalam segala hal, termasuk dalam pekerjaan pekerjaan buruk. Hasil dari sikapnya itu, membuat dirinya menjadi rebutan para senopati. Dengan keahliannya menempatkan diri, Ranggapane bisa menjalin hubungan dengan seluruh Senopati itu. Disamping itu Ia mendapat bayaran yang lebih dari cukup atas bantuannya melakukan pekerjaan pekerjaan kotor itu.
Uang itu Ia simpan dan digunakan untuk membiayai pasukannya, baik pasukan gelapnya maupun pasukan di kesatuannya. Sementara untuk dirinya sendiri tidak Ia pentingkan.

Ranggapane mulai diajak hadir dalam acara acara khusus pejabat elit keprajuritan bersama Senopati yang Ia kawal. Di lingkungan itu, Ia bisa berkenalan dengan pejabat pejabat berpengaruh di Majapahit. Ranggapane sejatinya muak melihat perilaku mereka yang suka berpesta dan berfoya foya. Tak ada suri tauladan sama sekali. Sekuat tenaga Ia bersikap manis menanggapi ucapan ucapan kotor dari mulut mulut mereka yang mabuk. Ucapan kebencian, nafsu berahi, amarah, makian. Semua Ia dengar dengan sabar. Ranggapane hanya fokus mengumpulkan cacat dari mereka mereka yang hadir dalam pesta. Informasi yang bisa Ia gunakan untuk menjadikan mereka berhutang budi kepadanya. Dengan informasi itu, Ia bisa mengadu domba antar pejabat yang diam diam berseteru. Setelah mereka bertengkar, baru Ranggapane mendekati mereka masing masing, menawarkan perlindungan sampai membunuh rivalnya. Semua itu Ia lakukan dengan sangat rapi. Sehingga banyak yang berhutang jasa kotor kepadanya dan tidak merasa bahwa sejak itu pejabat pejabat itu sudah dalam genggamannya.

Kabar tentang Ranggapane sampai juga ke dalam kalangan istana. Bahkan Raja sendiri menginginkan Ranggapane menjadi pimpinan Bhayangkari atas saran banyak pihak. Saat bertugas menjadi pimpinan Bhayangkari inti penjaga Raja. Ranggapane menunjukkan kesetiaannya melebihi siapapun. Julukan Anjing penjaga Raja tersemat kepadanya. Tanpa mengenal lelah dan takut, Ia memeriksa semua potensi ancaman dari orang orang disekitar Raja. Dengan ini Ia mempunyai banyak informasi tentang siapa siapa yang berada di istana. Bila menemukan potensi ancaman, atas ijin Raja, Ranggapane tanpa ba bi bu langsung menindak. Bila tidak bisa diselesaikan dengan cara hukum yang berlaku. Ranggapane menggunakan pasukan bawah tanahnya untuk menyelesaikan kasus itu. Otomatis Raja dan keluargannya bisa hidup tenang tanpa gangguan dari kalangan istana sendiri.

Dengan semakin bertambahnya usia. Ranggapane selanjutnya diangkat menjadi Wredamenteri keamanan kerajaan, sebagai penasehat Raja dan telik sandi. Jabatan yang membuat Ia bisa menyusupkan pengaruh dan matanya dimana saja.

Ia kemudian membentuk unit unit usaha dalam keprajuritan. Para prajurit yang dianggapnya loyal diberi kekuasaan mengelola lahan lahan potensial untuk kas kesatuan. Seperti tambang emas, kapur barus. perkebunan dan pertanian. Unit usaha ini juga membuat jasa pengawalan untuk barang dan pejabat yang membutuhkan. Ini dilakukan untuk kesejahteraan Prajurit yang banyak tersebar diseluruh Nusantara.

Lama lama prajurit yang dibentuknya menjadi pengusaha itu semakin tercebur dalam dunia bisnis, mereka meninggalkan dunia Keprajuritan dan fokus mengelola lahan lahan konsesinya. Banyak dari mereka menjadi pengusaha ternama di Majapahit. Keuangan yang mereka kelola bahkan bisa mengatur daerah daerah target mereka untuk patuh pada aturan yang mereka inginkan. Yang paling berhasil adalah Dutamandala.

Meski menjabat posisi yang strategis, Ranggapane tidak mengubah sikapnya kepada siapa saja, Ia bersikap sebagai anjing kampung kepada pejabat lain. Meski diluar, namanya bergaung keras sebagai orang kuat dan disegani di Majapahit. Namun tidak banyak yang tahu bagaimana kiprahnya sehingga Ia bisa seperti itu. Dalam setiap urusan, setiap terdengar namanya diucapkan salah satunya, mereka tidak berani bermain main dengan urusan itu.

Sebetulnya, dengan kekuatan dan pengaruhnya yang ada, Ranggapane bisa dengan cepat mengambil kekuasaan. Ia punya segalanya. Kesetiaan para senopati dan prajurit yang telah dibantu karir dan keselamatan mereka dari kasus kasus pribadi. Para pejabat yang dibantu mendapatkan jabatan. Para pengusaha yang banyak dibantunya dalam menjaga keamanan mereka. Yang tidak Ia punya adalah legitimasi. Dirinya tidak memiliki darah keturunan Sang Rama Wijaya. Pendiri Majapahit. Gelar Radennya itu berasal dari Keluarga Daha. Bila Ia mengambil alih kekuasaan, Ia harus membuat dinasti baru dan mengakhiri dinasti Rama Wijaya.

Dalam peperangan Paregreg, Ranggapane dari belakang layar amat berperan dalam menentukan model peperangan antara kedua kubu sama sama keturunan pendiri Majapahit itu. Dengan jaringan telik sandi yang Ia susupkan ke Pamotan dan pembentukan opini di kedua kubu bahwa ini peperangan keluarga, tidak perlu ada Pasukan diluar pasukan keluarga yang ikut peperangan.

Opini itu banyak diterima kalangan yang tidak suka peperangan itu terjadi. Para panglima perang yang tidak ada hubungan keluarga dengan pihak Raja di ketiga kesatuan besar memilih melepaskan diri dari keterlibatan peperangan Paregreg itu. Menurut pandangan yang berkembang, peperangan itu menjadi peperangan yang adil, tidak melibatkan kekuatan lain sehingga menahan peperangan itu tidak berkembang dan meluas kemana mana.

Padahal yang ada di pikiran Ranggapane, dengan peperangan kalangan keluarga Raja sendiri. Ini sama dengan menghabiskan anak keturunan Raja Majapahit tanpa harus bersusah payah turun tangan sendiri. Selama ini mereka kerjanya hanya enak enakan rebutan jabatan dan menikmati uang pajak rakyat saja tanpa diimbangi kemampuan dan sumbangsih yang jelas. Ranggapane sering menahan rasa muak bila harus berhadapan dengan petinggi petinggi kerajaan yang tidak becus memimpin. Mereka menjadi petinggi oleh garis keturunan, bukan oleh kemampuan. Sok tahu, ngeyel dan mudah tersinggung. Bila kena masalah, main lempar tanggung jawab. Jadi dengan peperangan ini, Ia gembira bisa mengurangi orang orang yang menurutnya tidak berguna itu.

***

Saat tengah malam, datang sepasukan prajurit menemui Jingga. Dari pakaiannya, mereka sama dengan pasukan yang bersama Ranggapane. Jingga mengamati dalam gelap, Ranggapane tidak bersama pasukan itu.
"Pangeran, mari," ajak salah seorang prajurit. Sepertinya Ia pemimpin kelompoknya. Prajurit itu memberikan Jingga setelan pakaian yang sama dengan yang dikenakan prajurit itu. Jingga menerima dan cepat mengenakannya. Sejenak kemudian, Jingga sudah berubah menjadai salah seorang prajurit Majapahit.

Dengan tenang mereka bergerak keluar gedung tahanan. Jingga berada ditengah barisan. Beberapa kali pasukan itu berpapasan dengan pasukan lain yang berjaga. Mereka berhenti dan saling memberi hormat ala prajurit. Tak ada yang peduli dengan keberadaan Jingga ditengah tengah barisan itu. Setelah berjalan sekian lama, pasukan itu sampai di dekat kediaman Bhree Matahun yang saat ini sudah resmi menjadi permaisuri Raja.
"Kita masuk," kata pimpinan prajurit. Jingga mengangguk, mengikuti langkah pimpinan Prajurit itu memasuki kawasan kaputren. Mereka berjalan tanpa ada hadangan penjaga. Para penjaga terlihat tertidur pulas. Jingga menduga mereka diracun dengan obat tidur. Berarti sudah ada pasukan pembuka jalan.

Dengan mengendap endap pasukan kecil itu memasuki kediaman Bhree Matahun. Dari tempat aman, mereka mengamati kedalam.
"Disana Prabu sedang mengumbar nafsu," bisik kepala Prajurit itu ke telinga Jingga. Jingga berdebar mendengarkannya, membayangkan perasaan Ratna malam ini. Juga membayangkan kemungkinan kemungkinan buruk yang bisa menimpanya malam ini.
"Kapan aku maju?" Tanya Jingga.
"Sekarang pun bisa,"
"Baik,"
"Kami tunggu di luar,"
Jingga mengangguk beringsut maju meninggalkan pasukan yang mengawalnya tadi.
Dengan gerakan cepat, Jingga sudah masuk kedalam kediaman Bhree Matahun. Aroma harum dan hangat khas perempuan memenuhi ruangan. Aroma yang biasa dibakar untuk ratus para putri putri kaputren.
Lalu dimana para dayang dan penjaga Raja. Mengapa begitu lenggang? Apakah sudah dikondisikan oleh Ranggapane. Sebab untuk sebuah ritual malam pertama Raja. Di depan bilik pelaminan, biasanya berkumpul para dayang dan pengawal khusus serta pimpinan keagamaan yang akan mengambil kain percikan darah pertama pengantin perempuan. Kain itu kemudian dibawa untuk upacara kesuburan.

Tanpa banyak kesulitan, Jingga sudah berada didalam. Secara langsung melihat Raja yang terlelap tidur di sisi Ratna, sepertinya kelelahan oleh acara yang padat hari ini. Ratna sendiri sepertinya tidak tidur. Wajahnya terlihat sembab. Jingga menitikkan airmata merasakan pengorbanan batin Ratna.

Tak ingin terganggu oleh perasaan. Jingga bergerak cepat kearah tempat tidur. Ia harus menyelesaikan rencananya secepatnya. Jingga langsung menggunakan kemampuan tertingginya. Gerakan Jingga amat cepat. Ia menotok titik pingsan pada tubuh Raja dan Ratna. Tak ada perlawanan sama sekali. Raja yang biasanya memiliki aji aji dan senjata pusaka. tidak dibawa serta di malam pertamanya. Mungkin Ia ingin menunjukkan sikap damai dengan Ratna dengan tidak membawa senjata senjata yang berbahaya agar Ratna tidak merasa terancam. Raja dan Ratna pingsan tanpa tahu apa yang terjadi. Jingga lantas membungkus tubuh mereka dengan kain selimut. Jingga lalu melukai tangannya. Darah mengucur deras. Dengan darah itu, Jingga mengotori selimut Ratna dan Raja yang pingsan didalamnya.
Raja dan Ratna Jingga panggul di kanan dan kiri pundaknya.
Dengan gerakan ringan dan cepat. Jingga bergerak keluar. Diluar candi bentar Kaputren, Jingga sudah ditunggu pasukan yang mengawalnya tadi.
"Sudah selesai!" Kata Jingga.
Mereka langsung memberi penghormatan kepada Jingga.
"Aku sembunyikan dulu mayat Raja dan Bhree Matahun ditempat aman." Kata Jingga langsung meloncat pergi tanpa bisa dicegah para prajurit yang mengawalnya tadi. Mereka lantas bergerak melanjutkan sesuai rencana yang dibuat.

Malam itu terjadi kehebohan. Banyak prajurit berkeliaran di Istana. Tidak jelas siapa lawan siapa kawan. Semua kediaman pejabat dikepung dan dilarang keluar oleh pasukan elit istana. Sementara pasukan yang berada diluar istana bersiaga penuh di sekeliling istana. Mereka hanya berjaga tanpa tahu apa yang terjadi di dalam istana.

"Ada apa ini?" Teriak Mahapatih marah ketika kediamannya juga dikepung.
"Maaf Mahapatih, kami hanya menjalankan prosedur. Meminimalisir bahaya yang ada."
"Maksudnya apa?"
"Terjadi kudeta. Raja dibunuh oleh Jingga."
"Kabar dari mana? Bukankah Jingga sedang ditahan?"
"Iya, ada bantuan orang dalam istana."
"Lalu mengapa saya dihalang halangi mengatasi situasi ini?"
"Maaf Mahapatih, kami hanya menjalankan perintah."
"Perintah siapa?"
"Senopati Bhayangkari."
Mahapatih hanya bisa menahan amarah, mengetahui dirinya dilarang keluar rumah oleh pasukan pengawal Raja. Ia memilih menurut karena dalam kondisi seperti ini, memang Senopati Bhayangkari punya wewenang mengendalikan situasi istana disaat chaos. Bila melawan, Ia bisa dituduh bersekongkol dengan Jingga.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
marsupilami50 dan 35 lainnya memberi reputasi
profile picture
lukakelana
Terima kasih update-nya Ki
Wish you all the best
🙏🏾
profile picture
marsupilami50
3 hari 4 malam marathon bacanya,... Betul-betul mengaduk-aduk emosi... Diangkat ke langit dihempaskan ke dasar bumi... Nggak heran kondisi negara kaya gini,dari jaman dulu aja sudah penuh intrik.... Ditunggu update nya Paman...
profile picture
sentinelprime07
matiin aja sekalian tuh raja paman
bikin susah orang blambangan aja


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di