alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a062830dac13e9f048b4567/roman-sejarah-sinar-jingga-ditanah-blambangan

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

"Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.
Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.
"





Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ebesh.greenline dan 92 lainnya memberi reputasi
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 224
I N D E X


PUPUH PERTAMA

01. KOTA RAJA MAJAPAHIT
02. KADEWAGURUAN
03. SANG BAYANGAN
04. MELAWAN BEGAL
05. BERLAGA
06. ILMU DEMIT
07. TERUSIR
08. PULANG
09. MERANTAU LAGI
10. LENCARI DATANG
11. LENCARI BINGUNG
12 PENGAWAL
13 SENOPATI KIDANG ANOM
14. BERSAMA LENCARI
15. SEMAKIN DALAM
16. EKSEKUSI
17. ANTARA SULASTRI DAN LENCARI
18. DUKA LENCARI
19. LENCARI SAKIT
20. OPERASI SENYAP
21. PRAJURIT BAWANGAN
22. PASKA PENCULIKAN
23. BENCI DAN IBA
24. LATIHAN DASAR KEPRAJURITAN
25. MANTRA PENYEMBUH
26. LULUS PENDIDIKAN
27. PESAN PERTAMA
28. HARUS CERITA KE SIAPA?
29. BERTEMU
30. RUNTUHNYA BANGUNAN KEBOHONGAN
31. GILA ANYARAN
32. SURAT TERAKHIR
33. KEMBALI KE BARAK
34. NAPAK TILAS
35 DEKAT NAMUN JAUH
36..IDOLA BARU
37. LENCARI PUNYA RENCANA
38. SIRNANYA KABUT HATI


PUPUH KEDUA

01. P A M I T
02. TUGAS PERDANA
03. PEMETAAN SITUASI
04. RONDA MALAM
05. CUACA
06. TANTANGAN
07. EKSEKUSI
08. TANDA SILANG DARAH
09. PASUKAN IKAT MERAH
10. BANTUAN DATANG
11. EKSEKUSI SERENTAK
12. KI BORAS
13. PERTAPA BERTOPENG KAIN KAYU

PUPUH KETIGA

01. SEKRINING
02. PESONA LENCARI
03. MENCARI LENCARI
04. PENGEJARAN
05. PELARIAN
06. KABUT DI KAHURIPAN
07. LANGKAH TEGAS BHRE KAHURIPAN
08. BADAI FITNAH RADEN SASTRO
09. PERLAWANAN
10. PERJODOHAN
11. BOCORNYA RAHASIA
12. RENCANA SULASTRI
13. PASUS JALA YUDHA
14. MENYERANG KE PULAU BESAR
15. MAKAR DIATAS MAKAR
16. TERBAWA ARUS
17. TERTAHAN
18. JALAN PULANG
19. PENDEKATAN
20. KEMBALI KE WILWATIKTA
21. LAMARAN KESIANGAN
22. MENCARI LENCARI 1
23. MENCARI LENCARI 2
24. MENCARI LENCARI 3
25. MELIHAT LENCARI
26. RAMUAN PENGANTIN BARU
27. PENGAKUAN LENCARI
28. MELIHAT JINGGA
29. TERBONGKAR
26. HIDUP BARU


PUPUH KE EMPAT


01. AMBISI JINGGA
02. OPSUS DI MATAHUN
03. DIJEBAK
04. PELARIAN
05. PEMBANTAIAN
06. DI KOTA MATAHUN
07. TITIK TERANG DITEMPAT GELAP
08. SALING BUNUH
09. LAPOR KE BHREE MATAHUN
10. LENCARI DIUSIK
11. INTEROGRASI
12. PERSIAPAN OPERASI
13. HARI HARI MENJELANG
14. SENOPATI RAWITEJA
15. HARI H DI MATAHUN
16. OPERASI BESAR BESARAN
17. BALA BANTUAN
18. KEMBALI
19. RATU SESUNGGUHNYA
20. PENGHADANGAN
LANJUTAN
21. RENCANA PANGERAN MAHESA
22. MENGUNDURKAN DIRI


PUPUH KE LIMA

01. PENYULUH DADAKAN
02. KEMBALI KE TANAH WARISAN
03. TERSANGKA
04. MENYAMAR
05. MENOLONG
06. PAMIT KEMBALI
07. KEMATIAN
08. DEKRET BLAMBANGAN
09. ALAP ALAP DAN GAGAK HITAM
10. PULANG KAMPUNG 1
11. PULANG KAMPUNG 2
12. PERTOBATAN BODRO
13. KEHANCURAN KEPATIHAN LOR
14. BHREE MATAHUN KE BLAMBANGAN
15. KEMATIAN NAGARAWARDHANI
16. LANJUTAN
17. KESETIAAN
18. AKSI SIDATAPA
19. PRAJURIT PUTRI SENDANG
20. DON'T TURN BACK
21. PERJALANAN KE TIMUR
22. MENANTI MANDAT
23. PERANG TERBUKA
24. PERANG PUPUTAN PATIH ETAN
25. PADA SAAT ITU
26. BLAMBANGAN DOM
27. PERJUMPAAN
28. FIRASAT
29. MENCARI UNTARI
30. MERESAP KE SARANG LAWAN
31. BIMBANGNYA HATI JINGGA


PUPUH KE ENAM

01. MENYERANG SONOKELING
02. MELIHAT RAKSASA
03. SENOPATI KARBITAN
04. KANANA WYUHA
05. PENGIKISAN
06. PELARIAN LENCU
07. RESTU JINGGA
08. GANTUNG
09. SERANGAN UMUM BLAMBANGAN I
10. SERANGAN UMUM BLAMBANGAN II
11. MENYERET KIJANG ANOM
12. MISI PRIBADI
13. KEMBALI TERINGAT
14. PENGORBANAN DIRI
15. JALAN TERUS
16. KESEPAKATAN
17. USAHA PENCULIKAN
18. SIAPA TUANMU?
19. KE HUTAN ANGKER
20. PENDUDUKAN BLAMBANGAN
21. MENGHADAP BHREE WIRABHUMI
22. LENCARI MENCARI ARTI
23. OPERASI TULANGBAWANG SEKAMPUNG
24. OPERASI TULANGBAWANG SEKAMPUNG II
25. PENCARIAN JINGGA
26. OPERASI DI MALUKU
27. MENCARI PEGANGAN


PUPUH KE TUJUH

01. RESUFLE SENOPATI
02. PASUKAN SILUMAN RADEN RANGGAPANE
03. BEGAL KELOMPK JINGGA
04. ANDAKA PUPUTAN
05. UTUSAN PAMOTAN
06. PERPISAHAN
07. WASIAT PAMAN ANDAKA
08. NASIB RANU DAN JINGGA
09. BERSEKUTU
10. RASA BERSALAH
11. MISI KE WILWATIKTA
12. PERANG PAREGREG
13. RATNA MENGAIS NASIB
14. KEPUTUSAN RAJA
15. BERTEMU KEMBALI
16. PERGI KE WILWATIKTA
17. JINGGA BIMBANG
18. PERNIKAHAN I
19. PERNIKAHAN II
20. PARADE PENAKLUKAN PAMOTAN
21. DUTAMANDALA DIBUANG
22. BERPISAH KEMBALI
23. MENYERAHKAN DIRI
24. MELEPASKAN DIRI
25. PERSIDANGAN
26. AKSI RANGGAPANE
27. PERSEKONGKOLAN
28. SEMANGAT PARA PEMUDA
29. RENCANA BATANGA
profile-picture
profile-picture
profile-picture
MenakKoncar dan 55 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
Lihat 3 balasan
PRASASTI JINGGA


catatan A
Quote:
profile-picture
profile-picture
profile-picture
litawin dan 16 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
Lihat 1 balasan
KOTA RAJA MAJAPAHIT

Sinar keemasan memenuhi langit pagi yang cerah. Hiruk pikuk pedati dijalan utama menuju pintu Regol timur Kotaraja menunjukkan tingginya roda perekonomian disini. Gerbang itu berbentuk candi bentar yang menjulang tinggi dikanan kiri jalan, di bidang datarnya terdapat relief matahari sebagai simbol Kerajaan yang dikenal sebagai sinar Majapahit. disekitarnya terdapat ukiran kala-makara dibelit oleh tanaman menjalar dan untaian manik manik diperindah dengan hiasan awan dan bunga teratai.

Jalanan yang lebar menghubungkan Kotaraja dengan pelabuhan disepanjang sungai Brantas. dermaga itu sekitar 34 tempat banyaknya. Yang paling ramai ada 3 tempat yaitu Surabaya, yang terletak di Muara Brantas, kemudian Trung dan terakhir Canggu. Barang yang diangkut ke Kotaraja biasanya diturunkan di Canggu. sedang di Surabaya untuk di perdagangkan kembali ke luar atau ke pedalaman. Untuk pelabuhan Trung biasanya untuk mengangkut komoditi ekspor Majapahit berupa hasil bumi, kayu jati.1)

Dari sekian banyak pedati yang lalu lalang melewati Regol Kotaraja, terlihat sebuah pedati mengangkut barang barang kelontong. Sais pedatinya seorang tua berumur sekitar 50 tahun. Disebelahnya duduk seorang anak menginjak dewasa. Usianya antara 14 tahunan. Dari raut wajahnya yang tampan, dengan sinar mata kuat, pakaiannya yang rapi namun sederhana. Pemuda itu tidak mirip dengan Pak Tua sais pedati itu..

Penjagaan pintu gerbang tidak begitu ketat seperti biasa . Para petugas dengan orang orang yang lalu-lalang sudah saling kenal. Dengan bertegur sapa sudah cukup untuk melewati Regol kota. Lain lagi bila ada orang baru dengan perilaku mencurigakan. Petugas meminta meminggirkan kendaraannya disisi pos penjagaan untuk diperiksa.

Quote:


Pemandangan didalam Kotaraja berbeda dengan diluar Regol. Banyak gedung gedung megah, pepohonan besar dikanan kiri jalan. Rumput dan bunga bunga yang tertata rapi. Pedati berbelok kekiri menyusuri jalan dekat dinding pembatas Kotaraja.

Pasar Kotaraja terletak di sisi kiri. Disana amat ramai oleh segala aktifitas perdagangan. Mulai dari kebutuhan pokok sehari hari, perabotan rumah, perlengkapan pertanian sampai perhiasan diperdagangkan disana. Meskipun begitu kebersihan pasar tetap terjaga. Penempatan kios kios ditata sedemikian rupa sehingga tidak semrawut. Untuk setiap jenis perdagangan dikelompokkan sendiri sendiri dalam satu blok. Meskipun tidak seramai di Pelabuhan. Pedagang di Pasar Kotaraja datang dari berbagai macam bangsa. Ada dari Burma, Khmer, Thailand, Srilanka, Campa, India bahkan Arab. Sebagian bahkan sudah tinggal di Kotaraja menjadi warga tetap disana. Terlihat dari Bangunan sekitar pasar yang mempunyai arsitektur campuran antara Majapahit dan tempat mereka berasal.

Jingga bersemangat mengamati sekitar. Kalau mengikuti perasaannya, Ia ingin berlama lama menikmati suasana pasar yang belum pernah dilihatnya. Ia harus segera mendaftar ke Kadewaguruan membuatnya harus cepat cepat meninggalkan pasar.

Setelah berpamitan pada Mbah Dipo, Ia pergi mandi di pemandian umum, sarapan di kedai makan dekat pemberhentian pedati. Jingga setengah berlari menuju pusat Kotaraja. Di alun alun Ia berhenti mencari bangunan yang dituju. Suasana disana begitu tenang meski banyak kereta pejabat kerajaan hilir mudik keluar dari gedung satu menuju gedung lainnya. Hanya suara derap kuda dan seruan seruan dari sepasukan prajurit Istana yang berlatih formasi barisan ditengah alun alun. Jingga mengeluarkan surat yang harus dia serahkan ke Kadewaguruan.

Seorang prajurit jaga mendekati menanyakan keperluannya. Mengetahui Jingga anak bangsawan, prajurit itu menghaturkan sembah hormat. Mereka berjalan menuju ke arah timur. Ternyata Kadewaguruan itu terletak di dekat Regol timur.
Prajurit itu dengan senang hati mengantarkan Jingga sampai ke Regol Kadewaguruan.
“Terimakasih Paman,” Jingga memberi hormat berterimakasih karena diantarkan. Dibalas dengan hormat lebih dalam.

----------------------------------
1). lebih detailnya bisa dibaca pada prasasti Canggu 1358M yang memuat 50 tanah pertikan sebagai imbalan atas jasa penyeberangan.di sepanjang sungai Brantas atas perintah Hayam Wuruk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 11 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
KADEWAGURUAN

Komplek Kadewaguruan letaknya dipinggiran kota raja, lebih tepatnya di pinggiran kota raja. Didirikan oleh Mahapatih didukung oleh para Dharmaputra. Sebagai bentuk keprihatinan semasa pengangkatan Prabu Jayanegara menjadi Mahaprabu Majapahit. Bagi mereka pengangkatan ini menyimpang dari aturan. Derajat Prabu Jayanegara masih dibawah Permaisuri Dyah Rajapatni, anak perempuan Prabu Kertanegara, Prabu Singasari. Sedangkan Jayanegara adalah anak Raden Wijaya dengan garwa paminggir.

Kadewaguruan dipimpin seorang Dewaguru dibantu wiku, pendeta yang berilmu tinggi sebagai tangan kanan Dewaguru. Dibawahnya terdiri dari Guru Guru yang bertugas mengajar para murid, mereka tinggal (pangubwanan) berdekatan dengan Tapowana Dewaguru.

Mereka umumnya kaum kerabat istana semasa kejayaan Singasari. Disana diajarkan bermakai macam ilmu pengetahuan yang harus dikuasai para generasi anom agar aturan yang ditata selama ini tidak kacau balau.

Karena para pendirinya adalah Bangsawan utama kerajaan, status Kadewaguruan ini amat kuat di kerajaan. Mereka dibebaskan dari pajak serta kewajiban lain seperti tunduk pada aturan pejabat yang membawahi wilayah yang mereka tempati.

Dalam perkembangannya, Kadewaguruan ini tidak dapat lepas sepenuhnya dalam urusan kenegaraan, keilmuan, derajat kebangsawanan dan latar belakang mereka terpengaruh juga oleh pasang surut pemerintahan.

Para pengurusnya silih berganti, ada yang pergi untuk mengabdi kepada Kerajaan, meninggal atau mendirikan Kadewaguruan di tempat lain. Yang datang umumnya adalah para bangsawan yang mengundurkan diri dari pemerintahan dan ingin mendalami keagamaan.

Dahulu tempat Kadewaguruan ini jauh dari Kotaraja. Sejalan dengan kemajuan kerajaan Majapahit, lama lama batas Kotaraja semakin luas dan Kadewaguruan berada di dalamnya.

Jingga berjalan menuju ruangan yang ditunjuk Prajurit tadi. Disana Ia menyerahkan surat pengantar, diperiksa sebentar lalu diantarkan ke ruangan yang lebih besar.

Di ruangan itu sudah berkumpul pemuda pemuda seusianya duduk bersimpuh menghadap seorang Kakek berjubah putih. Jingga duduk di baris belakang. Beberapa pandangan mata mengikutinya, Jingga tersenyum menyapanya.

Quote:


Masuk Kadewaguruan kalangan bangsawan ini harus mendapat rekomendasi dari pejabat pejabat pemerintahan yang berpengaruh. Jingga sendiri mendapat rekomendasi dari Ayahnya juga senopati sahabat ayahanda sejak masa muda dulu. Untuk mendapatkannya juga tidak mudah, Jingga harus diuji berbagai macam keahlian oleh mereka berdua. Disamping menjaga nama baik mereka juga untuk mengetahui minat dan kemampuannya agar nantinya tidak sia sia.

Sebelum berangkat, jingga digembleng langsung oleh Ayahanda. Sebetulnya apa yang diajarkan oleh Ayahanda Ia sudah menguasai. Bahkan lebih dari itu. Namun untuk tidak mengecewakan keluarganya, Jingga mengikuti semua gemblengan. Mulai dari menulis, membaca kitab, dasar dasar ilmu kanuragan. Padahal semua ilmu itu diam diam sudah dikuasai Jingga sejak kecil dulu. Ia sengaja menyembunyikan kemampuannya, menjaga perasaan Kakaknya. Bila diketahui oleh orang lain Ia lebih pintar dari Kakaknya, bisa digunakan untuk pemecah belah keluarga. Pikiran Kakaknya bisa dibakar oleh pendapat orang orang kalau Dia tidak cukup pantas mengganti Ayahanda dibanding Jingga. Lalu dihembuskan isyu seolah olah Jingga berencana merebut posisi Kakaknya. Kisah seperti ini pernah dia baca disalah satu kitab milik Ayahanda. Hal itu amat menakutkannya.

Setiap ingin mempelajari kitab kitab milik Ayahanda, Jingga sekuat tenaga menghapalnya tanpa perlu mengerti dulu. Dihapalnya kata demi kata, bait demi bait. Bila dirasa sudah cukup, Jingga pergi menyepi ke Gunung Kumitir. Dia berusaha mengurai kata demi kata dalam keheningan menyingkap makna dibaliknya. Adakalanya Dia setuju, adakalanya setuju dengan catatan. Bahkan Dia rubah sana sini agar sesuai pendapatnya.

………………….
Ilmu laksana udara
Yang memberi nafas seisi alam
Ilmu laksana air
Yang menyejukkan dahaga
Ilmu laksana matahari
Yang menerangi jalanmu
Ilmu laksana bumi
Tempat kamu kembali

Masih bisakah dikatakan ilmu
bila menyesakkan dada,
mengeringkan hati
membutakan mata
dan tak tahu kemana akan berlari?

…………………………


Kamar asrama siswa jauh berbeda dari kamarnya di rumah. Disini hanya ada dipan meja kursi dan lemari kecil. Semuanya serba sederhana. Teman teman seasrama bermacam macam reaksinya. Ada yang cemberut, marah marah, menangis bahkan sampai minta pulang. Jingga tersenyum melihat tingkah pola mereka. Mungkin kalau Dia tidak terbiasa berkelana di alam bebas, sikapnya tidak akan jauh berbeda dengan mereka. Bayangkan saja, sejak kecil terbiasa dilayani tiba tiba semuanya harus dilakukan sendiri. Merapikan kamar, mencuci pakaian, kecuali makan tidak masak sendiri tapi disediakan pelayan asrama.

Untunglah manusia diberi kemampuan untuk beradaptasi, lambat laun mereka dapat menerima bahkan bergembira dalam kondisi serba terbatas ini. Beban harus sukses agar keluarga yang mengirim mereka menuntut ilmu disini tidak kecewa dan Kesibukan mengikuti pelajaran berat membuat mereka tidak bisa berlama-lama bersikap seperti itu.

Karena perasaan senasib mereka mulai akrab. Rata rata mereka dari keluarga bangsawan yang jauh dari Kotaraja. Sahabat terdekat di asrama Jingga ada dua anak, Sasi Kirana dan Padang Gumuruh. Lingkungan asal mereka yang mirip, sama sama dari tanah pesisir membuat kegemaran, permainan dan kenangan, dan sifat mereka tidak jauh beda. Ketiganya sama sama suka berenang di laut. Sifat anak pesisir yang terbuka menghangatkan suasana asrama. Mula mula banyak yang terganggu dengan gaya ceplas ceplos Sasi dan Padang. Beberapa kali mereka bersitegang dengan yang lain. Buru buru Jingga menengahi, menjelaskan duduk persoalannya. Akhirnya semuanya dapat menerima. Bila kedua anak itu keterlaluan tingkahnya, yang lain sepakat menganggap, “Biarkan saja, dasar anak anak gila…”

Quote:


profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
Jangan ada kentang di antara kita gan emoticon-Cool
Mantab...
Suka gan, ada cerita bercampur sejarah 👍🏼
Quote:

disini gak nanam kentang gan
cuman adanya umbi umbian, talas, bentul, gadung dan singkong gan
emoticon-Wkwkwk

Quote:


sip pantengin terus ya, dan ingetin kalau melenceng dari literatur
emoticon-Shakehand2
SANG BAYANGAN

Mereka berjalan mendatangi setiap keramaian malam. Suasana malam di Kotaraja amat mempesona. Disepanjang jalan dipenuhi penerangan lentera minyak kelapa. Orang orang berjalan lalu lalang membawa obor atau lampion kecil. Setelah berputar putar kesana kemari sampailah kedepan rumah seorang tumenggung. Didalamnya terdengar bunyi gamelan. Sepertinya ada pesta pernikahan. Banyak orang keluar masuk. Mereka dengan hati hati menyusup masuk menghindari perhatian petugas jaga.

Mereka bergabung dengan kerumunan disisi kiri. Sedikit demi sedikit bergerak kedepan mendekat tempat gamelan dimainkan. Setelah mendapatkan tempat yang cocok, mereka duduk ditanah sambil mengawasi kanan kiri mencari Padang.

Sebenarnya mereka tidak bisa menikmati tarian yang disajikan oleh penari penari cantik karena tempat mereka cukup jauh. Biasanya dalam acara acara seperti ini, mereka berada di dalam sana bersama undangan undangan itu. Jadi bisa sepuasnya menikmati setiap gerak tari bahkan kerdip mata para penari itu. Namun mereka merasakan suasana lain yang tak kalah menyenangkan, duduk bersama orang orang jelata, prajurit rendahan bersama keluarganya yang haus hiburan. Menyadarkan mereka bahwa nasib mereka jauh lebih baik dari orang orang disekitarnya. Semakin menghargai setiap jengkal karunia yang didapatkan. Bagaimana melihat ekspresi orang orang disekitar yang memandang tanpa berkedip kearah para penari itu yang bahkan wajahnya saja tidak jelas kelihatan.

“Eh itu Padang!” Seru Sasi menunjuk anak muda yang duduk bersandar pohon Mangga. Padang duduk santai menikmati suara gamelan. sesekali tangannya memasukkan sesuatu kemulut.

Hati hati mereka beringsut mendekati pohon tempat Padang bersandar.
“hayoo...kabur dari asrama ya..” Sasi menepuk pundak Padang dari belakang. Padang terkejut sampai kacang ditangannya terjatuh.
“Sialan...saya kira siapa...” Padang ngomel menyadari siapa yang menepuknya. Dia pikir salah satu Gurunya.
“Kamu tuh yang sialan, pergi diam diam.” Sasi balas ngomel, dirampasnya bungkusan makanan ditangan Padang.

Suara gamelan semakin cepat temponya menghentikan pembicaraan mereka. Dalam diri mereka seolah terjerat tempo gamelan itu. selama di Kotaraja, jarang sekali terdengar tetabuhan dengan tempo cepat, tidak seperti di daerah mereka. Daerah pesisir tetabuhannya lebih cepat dan hingar bingar. sebagai ekspresi sikap masyarakatnya yang bebas. Sementara di Kotaraja, penabuh gamelan seperti hati hati membunyikan peralatannya, takut tidak laras. Namun bagi mereka bertiga terasa membosankan. Bikin kantuk mata.

“Kita jalan jalan saja yuk, buat apa mendengarkan gamelan yang takut rusak ini.” Sasi bangkit diikuti Padang dan Jingga.
Mereka berjalan sesukanya menyusuri jalan negari sampai ujung selatan, samar terlihat rimbunan pohon besar . “Kita kemana lagi ini? jalannya gelap” Padang berhenti di batas jalan yang mengecil diantara tembok tembok tinggi rumah pejabat.

“Ssst... ada suara mencurigakan,” Jingga menarik kedua temannya bersembunyi di rimbunan semak yang gelap. Sasi dan Padang mengikutinya meski tidak mengerti maksud Jingga. mereka hanya mendengar suara jangkrik yang bersembunyi dibalik batu bata dinding pagar selebihnya hening. Merasa dikerjai, Padang hendak berdiri keluar dari rimbunan. Namun Jingga sigap mencegahnya sambil menunjuk ke arah lorong.

Lamat lamat diantara keheningan dan derik jangkrik, terdengar suara langkah halus. Jingga mengambil napas menahannya diperut kemudian dialirkannya tenaga ke indra pendengaran dan penglihatannya. Malam tidak ada bulan, hanya cahaya bintang yang membantu penglihatan mereka.

Sebetulnya Sasi dan Padang belum bisa menangkap isyarat apa apa, selain genggaman tangan Jingga yang mengisyaratkan ada sesuatu yang terjadi di ujung lorong sana.Membuat mereka ikut ikutan sikap Jingga.

Jingga merasakan bayangan hitam itu meloncati pagar tembok bata. Gerakannya ringan, dinding setinggi rumah dengan mudah delewati. Sejenak Jingga menunggu kejadian apa setelah itu. Namun suasana semakin sepi.

Jingga melepaskan cekalan di tangan kedua temannya. “Ada apa sih Ga’ ?” Padang bingung.
Hampir saja Jingga menceritakan kejadian yang dia lihat. Namun begitu melihat wajah temannya yang kebingungan, Ia menyadari kemampuan temannya dalam penginderaan masih lemah, jauh dibawah kemampuannya. Agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari, Jingga mereka reka cerita.
“Ada hantuu...” Seru Jingga sambil berlari kencang meninggalkan teman temannya. Sasi dan Padang misuh misuh merasa dipermainkan.


* * * *

Malam itu Jingga tidak bisa tidur, rasa penasarannya akan kejadian tadi amat mengusik nafsu tidurnya. Dadanya terus berdetak cepat, otaknya bekerja lebih cepat merangkai berbagai kemungkinan sebagai rentetan dari kejadian tadi. Tidak tahan rebahan di tempat tidur, Jingga turun duduk dilantai kamar, bersila menghadap jendela. Menarik nafas dalam mengalirkannya ke sekujur tubuhnya yang dirasa mampat.

Pikirannya membuka buka lagi halaman demi halaman kitab Ayahanda yang dihapalnya dulu. Dicari ujaran yang cocok dengan suasana batinnya. Tanpa terasa dia sampai pada keinginan untuk membuka indra lebih tajam. Dia mulai dari jarak terdekat dulu, bunyi yang muncul di luar kamarnya dengan khidmat dia simak. Kemudian semakin jauh lagi mendengarkan bunyi bunyian lain. Dibayangkannya pendengaran bagaikan obor biji jarak yang dia bawa kemanapun dia melangkah di kegelapan. Jingga menemukan permainan baru, dia bermain seolah berjalan jalan mengelilingi asrama, mengamati jengkal tiap jengkal Asrama bahkan sampai keluar pagar Asrama meski tak bisa jauh jauh. Ia tersenyum mendengar bunyi ngorok penjaga Asrama yang tertidur di pos Regol masuk. Atau mengamati tidur teman temannya yang gelisah.
Jingga tersentak mendengar bunyi kokok ayam pertanda malam akan segera usai. Sekujur tubuhnya panas basah kuyup penuh keringat. Setelah menyeka keringat, Jingga rebahan di dipan, terlelap.

Pagi hari, Jingga menajamkan indera menangkap berita disekitar, entah lewat bisik bisik di kelas, di luar kelas sampai ekspresi orang orang disekitarnya. Adakah kabar kelanjutan kejadian semalam. Sampai mendekati istirahat makan siang, tidak ada tanda tanda ada kejadian besar di Kotaraja.
“Mungkin seorang ksatria yang sedang iseng, malas melewati pintu gerbang rumahnya,” Jingga menghibur diri mengistirahatkan otaknya.
Memasuki malam, rasa penasaran Jingga tak dapat dibendung. Sengaja Dia masuk kamar lebih cepat. Sasi dan Padang si biang ribut sudah kembali ke kamar mereka masing masing. Dimatikannya ublik di kamarnya. Berjingkat jingga keluar kamarnya. Jingga melalui jalur baru untuk keluar dari Asrama. Bila melewati jalur Sasi, takutnya mereka bertemu, bisa kacau rencananya.

Sejenak Jingga menatap langit, posisi bintang kesayangnnya menunjukkan masih cukup waktu mempersiapkan diri melakukan pengintaian di tempat kemarin. Hati hati Dia duduk disemak semak terdekat orang itu meloncat masuk. Dengan berkemul kain, Jinnga menyembunyikan diri dari pengamatan orang juga menghinadri serbuan nyamuk.

Bintang kesayangannya semakin condong ke barat, bayangan itu masih belum muncul. Mengisi waktu, Jingga menarik napas mencoba permainan yang dilakukan semalam. Ternyata disini lebih sulit. Suara suara disekitarnya tidak bisa membantu menggambarkan secara lengkap apa saja yang ada dalam kegelapan ini. Bila dibayangkan, malah tergambar bayangan pagar Asramanya. Diaturnya lagi pernapasannya sehingga tidak mengganggu pendengarannya. Dia menghitung ada tujuh jangkrik, empat katak hitam dan empat belas nyamuk di sekitar wajahnya. Selebihnya hening.
“Ah mungkin Dia tidak datang,” Jingga beringsut. Kakinya kesemutan terlalu lama dilipat. “Daripada semalaman menunggu, lebih baik aku masuk kedalam.”

Jingga bangkit lalu hati hati memanjat dinding bata yang agak rapuh. Didalam ternyata sebuah taman luas, rimbun oleh pohon pohon sawo kecik. Sepertinya dibiarkan begitu oleh pemiliknya. Jingga segera meloncat turun menghindari cahaya yang menyusup diantara daun daun sawo. Cahaya itu berasal dari obor yang dipasang pada dinding bangunan. Mencari tempat cocok untuk mengamati, Jingga mencari semak semak agak ketengah, menjauhi pagar.

Dari dalam gedung, sesekali terlihat orang keluar masuk. Bukan orang dewasa, tapi anak kecil setinggi adik Jingga. Sejenak kemudian keluar Ibu tua. Menghaturkan sembah lalu membimbing Anak itu masuk rumah. Sepertinya Emban dengan asuhannya. Sebagian lampu dipadamkan. Taman semakin gelap. Hampir saja Jingga keluar dari semak, dari atas pagar terlihat kelebatan bayangan. Dada Jingga berdegup kencang. “Dia sudah datang.”

Bayangan itu turun dari atas pagar. Hampir tak bersuara, laksana melayang mendekati gedung dimana anak tadi terlihat. Masuk kedalam, keluar lagi menggendong lalu berlari cepat ketempat gelap.
“Mengapa Paman terlambat?” Tanya anak itu turun berdiri disebelah Si Bayangan. Suara anak perempuan.
“Maafkan, paman banyak urusan. Sudah kamu hapalkan?”
“Sudah.”
“Baiklah kita pergi.” Sekali sentak Gadis kecil itu dikempit. Angin bersiuran menerpa wajah Jingga. Matanya menjadi gelap, pingsan.
Jingga kebingungan ketika pipinya seperti ditepuk tepuk seseorang. “Dimana aku?” Ia bergumam kebingungan.
“Siapa kau? Apa tujuanmu?” Sang Bayangan mencengkeram pundaknya.
“Aku Jingga, aku tidak ada maksud apa apa,” jawab Jingga terbata bata.

Sang Bayangan tidak percaya, semakin keras menekan pundaknya. Jingga meringis menahan sakit.
Jingga akhirnya menceritakan dari awal mula. Cengkeraman itupun dilepaskan.
Angin malam menerpa, desau dedaunan mengisi suasana saat mereka terdiam. Jingga membetulkan kainnya, bersimpuh di depan Sang Bayangan. Dari bau tanah bercampur daun busuk, Jingga menduga dirinya dibawa keluar Kotaraja. Karena di dalam Kotaraja, tak ada hutan seperti ini. Bintang kesayangannyapun tidak kelihatan.

“Jangan kemana mana,” perintah Sang Bayangan berkelebat pergi meninggalkan Jingga sendiri. Merasa bersalah, Jingga mematuhi perintah itu. Dalam hatinya bertekad, tak akan lagi ikut campur urusan orang.
Mengisi waktu, Jingga bersemedi. Mengingat ingat kitab milik Ayahanda.
……….
Diam itu bergerak
Bergerak dalam diam
Dalam hening bukalah tabir makna
Dari sanalah kau dapat tahu tujuanmu tercipta

……………

Jingga berusaha keras menerjemahkan maksud syair itu. Diam dalam gerak, bergerak dalam diam, semakin dipikirkan semakin pening kepalanya. Minatnya Dia alihkan mendengarkan suara suara disekitarnya. Suara jangkrik mencari pasangannya, desis ular dibalik semak semak, dikejauhan lolongan anjing hutan bersahutan bak pasukan khusus menjalankan misi pembantaian.
“Bangun.” Terdengar suara halus ditelinganya. Tubuhnya seperti melayang bergerak diantara pepohonan. Terpaan angin dingin membuat pipinya terasa beku. “Aku antar kau pulang.”
Jingga mengusap pipi dan telinganya. Dia sudah berdiri di sebelah pagar asrama.
“ Tengah bulan purnama aku tunggu kamu di hutan tadi,” bisik Sang Bayangan, berkelebat pergi.
Jingga melompat masuk asrama. Tidur.


* * * *

profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
Ijin mejeng di pejwan dulu gan emoticon-rose
ikutin ah.. pesen kursi #11 yak
Diubah oleh rani.sweet
MELAWAN BEGAL

Di Kadewaguruan persaingan antar siswa membentuk dua kubu. Kubu anak anak asrama sebagai kelompok anak anak luar Kotaraja dan kubu anak anak Kotaraja. Jingga sebagai anak yang paling muda dan paling kecil postur tubuhnya sering menjadi incaran kejahilan kubu anak Kotaraja. Bila berpapasan di jalan, mereka menyenggol pundak Jingga sampai terhuyung. Atau diselonjorkan kakinya mengunci jalan Jingga sampai terjatuh.

“Apa lihat lihat!” pelotot mereka, “Nantang berkelahi?!”
Melihat kejadian itu, Sasi dan Padang nimbrung. Dada mereka adukan dengan dada anak anak Kotaraja.
“Sudah, sudah jangan berkelahi,” pinta Jingga menarik kedua temannya menjauh.
“Puih! Dasar anak kampung!” Yang menabrak Jingga meludah mengejek. Sekuat tenaga Jingga menahan kedua temannya yang sudah merah padam menahan amarah.
“jangan dilayani, ingat mereka kedudukannya lebih tinggi dari kita. Jangan menyulitkan diri,” Jingga berusaha meredam amarah.
“Mulut mereka minta disikat!” Geram Padang mengayunkan kepalannya memukul angin.

Di kelas permusuhan masih berlanjut. Bila anak anak asrama bisa menjawab pertanyaan Guru langsung disambut seruan “Huuuu…..”
Guru pengajar mengetahui hal itu, namun mereka tidak berani menindak mereka. Siapa yang tidak mengenal orang tua mereka. Para pejabat tinggi keraton. Berurusan dengan mereka bisa bisa mematikan asap dapur anak istrinya di rumah. Kadewaguruan inipun dibentuk oleh leluhur mereka.

Hanya Dewaguru yang berani menghukum mereka. Tapi hal itu jarang terjadi, karena jarang mengajar disini. Beliau mengajar kelas di tingkat atas. Menyiapkan calon calon perwira kerajaan sebelum keluar Kadewaguruan, atau bertapa di wanaprasta bersama sesepuh sesepuh kerajaan yang telah meninggalkan urusan duniawi. Kalaupun datang ke kelas, anak anak Kotaraja itu akan berubah manis mirip kelinci di hadapannya.

Menghindari permusuhan, Jingga di kelas memilih diam. Menyimak semua yang diajarkan. Dia tak pernah bertanya atau mengajukan diri menjawab soal yang diajukan Guru. Kalaupun terpaksa, dia hanya menjawab seperti jawaban teman temannya.

Bila ada waktu kosong, Jingga menyelinap pergi ke rumah kitab. Disana banyak kitab kitab yang ditulis para Empu dari jaman dahulu sampai sekarang. Sebagian sudah pernah Dia baca kala di rumahnya di Blambangan. Sebagian besar belum.

Rumah kitab itu terletak di bagian belakang, dalam lingkungan tapowana Dewaguru. Suasananya tenang hampir tanpa suara. Hanya bunyi lontar yang bersentuhan dengan peti kayu pelindungnya yang terdengar. Rimbunan pepohonan tua disekitarnya menambah suasana sejuk cenderung angker. Disana hanya siswa siswa tingkat atas yang mau menghadapi ujian kelulusan sibuk membaca. Disudut lain ada seseorang yang dari penampilannya bukan seorang siswa, lebih mirip pertapa. Namun dari wajahnya terlalu muda untuk menjadi pertapa. Orang itu serius menulis pada lembar demi lembar daun lontar. Hampir setiap Jingga kesana, orang itu selalu melakukan aktifitas yang sama. Jingga tidak berani mendekat mencari tahu apa yang dikerjakannya. Pernah mencoba lewat dekat orang itu, beberapa Guru langsung melotot dengan isyarat mata memerintahkannya pergi menjauh.

Awal kesana, Jingga sempat disuruh keluar. Penjaga gedung Kitab mengira Jingga akan bermain di ruangan itu. Setelah melihat minat Jingga terhadap buku, barulah mereka mengijinkan dengan berbagai nasehat, peringatan dan larangan. Itupun hanya bisa membaca kitab kitab yang ditulis dengan bahasa Jawa. Kitab kitab sempalan dari kitab yang namanya hanya di dengar ditelinganya dari guru guru. Sementara kitab kitab berbahasa sansekerta disimpan di ruang dalam.

Hal itu tidak mengurangi tekat Jingga membaca. Kebiasaannya menghapal kitab tanpa harus mengerti apa isinya sejak kecil bisa dilanjutkan disini. Apalagi semua kitab ditulis dalam bentuk syair, memudahkan dia mengingat tanpa harus mengerti. Setiap bait syair dia kaitkan dengan kejadian atau suasana saat membacanya. Dia tidak membaca seluruh isi kitab, melainkan per lembar sampai hapal benar isinya baru menginjak lembaran lain.

Hari ini Jingga menghapal bait demi bait kitab arjuna wiwaha karya Empu Kanwa.
Jingga tidak menyadari kalau dia diamati oleh pemuda berpenampilan pertapa itu.


* * * *


Jingga bergegas pergi meninggalkan Kadewaguruan menuju kearah selatan, hutan tempat Jingga dibawa Sang Bayangan. Siang tadi Jingga sudah berpamitan pada kedua sahabat akbrabnya mau pergi ke sanak saudaranya malam ini -bohong- agar mereka tidak menggagalkan rencananya juga membantunya bila ada pemeriksaan petugas asrama.

Ternyata untuk kesana memakan waktu lama. Beberapa kali dia harus sembunyi agar tidak dilihat para penjaga. Setelah melewati beberapa kanal, sampailah Jingga di Regol selatan, tempat penjagaan terakhir. Senyap jingga menyusup keluar lalu sekuat tenaga berlari menembus gelap malam menyusuri jalan tikus pencari kayu. Bintang kesayangannya sudah condong ke barat. Ia terlambat.

Disana ternyata tidak ada tanda tanda Sang Bayangan. Terengah engah Jingga memanggil, namun tak ada jawaban. Jingga memeriksa takut salah tempat, diperhatikannya sekeliling. “Tidak salah,” gumamnya, “Disini aku duduk,” meraba bekas tempat duduknya. “Apakah sudah pergi?”

Kelelahan Jingga merebahkan diri diatas dedaunan kering. Hampir saja terlelap kalau tidak dibangunkan sayup sayup bunyi senjata beradu di kejauhan. Segera ia bangkit berlari menuju sumber suara itu. Dari balik pohon Ia melihat segerombolan orang menyerang arak arakan pedati dan kereta. Beberapa pengawal arak arakan itu sudah terjengkal ditebas pedang gerombolan itu. Denting senjata beradu, erangan kematian dan jerit tangis wanita dalam rombongan itu membuat bulu kuduk Jingga merinding. Tangannya gemetar. Sejenak dia bingung harus bagaimana melihat para begal itu membantai satu persatu lawannya.

Jingga meloncat dari persembunyiannya. Dia mengambil senjata pengawal yang terpental didekatnya. Sekali sabetan Dia menyerang mengenai salah seorang Begal yang tidak siap menerima serangan dari belakang. Mendapat serangan, Begal itu berbalik menyerang Jingga. Kata kata kotor berhamburan dari mulutnya. Namun Begal itu lebih tinggi mulutnya daripada kemampuannya. Dalam dua jurus, Jingga kembali dapat melukai, kali ini lebih parah sehingga pedang ditangannya terlepas.

Melihat temannya terancam, beberapa Begal turun bergabung mengeroyok. Gemercik letikan api akibat benturan senjata menerangi malam. Gempuran mereka membuat Jingga terdesak. Jurus jurus mereka amat kacau namun kejam. Mereka bukan orang terlatih yang pernah berguru pada sebuah perguruan silat, hanya mengandalkan tenaga dan pengalaman. Mereka terbiasa bertempur dalam gelap. Sementara Jingga baru kali ini turun dalam perkelahian sebenarnya. Membunuh atau dibunuh.

Jingga meloncat mundur kedalam hutan. Ia berusaha menggunakan pepohonan sebagai pelindungnya. Namun lama kelamaan, pengalaman lebih banyak berbicara. Meski dapat melukai, namun karena dia tidak berani membunuh orang membuat pengeroyoknya semakin berani menggempurnya. Sebuah sabetan mengenai pahanya. Kainnya sobek, darah mengucur deras turun merambat kaki. Jingga meringis menahan sakit. Akankah aku mati disini? Pikirnya. Sekuat tenaga dia mengerahkan segala kemampuannya. Jeritan dan makian semakin banyak meluncur dari mulut lawannya. Jingga bertempur seperti kesurupan, matanya dia pejamkan, pasrah. Lalu dia terjatuh, badannya seperti melayang.

Gelap.

Saat tersadar, Dia meringis menahan sakit. Badannya terasa lumpuh tak bisa digerakkan. Denyut sakit dipahanya mengingatkannya akan kejadian yang Dia alami.

“Wah sudah sadar,” seru seorang Nenek, dari pakaiannya adalah penduduk miskin. Orang itu bergegas keluar lalu masuk kembali bersama laki laki tua -mungkin suaminya- diikuti anak muda seusianya.
“Aku dimana?” Jingga bertanya, berusaha mengangkat kepala, namun pening luar biasa menghalangi keinginannya.
Nenek itu buru buru menahan geraknya. Mereka membantu Jingga bersandar.
“Aku dimana?” Jingga bertanya lagi.
“Dirumah kami, Kakekmu yang menemukanmu di sungai, hanyut. Kami kira sudah meninggal, untunglah Tuhan masih melindungi,” jelas Pak Tua itu gembira.
“Iya, lukamu parah sekali. Kami sudah beri boboran, semoga cepat sembuh,” sambung Nenek.
“Terima kasih Kek, Nek, Mas,” Jingga menganggukkan kepala memberi hormat.

Dalam pembicaraan Jingga mengetahui dirinya pingsan sehari semalam. Ditemukan hanyut disungai tanpa sehelai kainpun. Mereka tinggal di pedalaman jauh dari perkampungan. Menggarap ladang yang ditanami umbi umbian. Anak itu cucu mereka, namanya Wijo. Kedua orang tuanya meninggal terkena wabah yang menyerang kampung mereka lima tahun yang lalu. Umumnya rakyat jelata tanah Jawa, perawakan mereka sedang, kulit coklat kehitaman, badan kurus, wajah bulat, hidung tidak mancung.

Sejak itu Wijo ikut Kakek Neneknya. Trauma akan wabah itu begitu melekat pada diri mereka. Bagaimana satu persatu penduduk sakit lalu meninggal tanpa dapat dicegah karena tidak tahu dan tak ada obat penawarnya. Sejak kejadian itu Kakek Nenek bertekat mengumpulkan tanaman obat di hutan, menanam di pekarangannya. Dikirim ke kampung kampung terdekat dengan imbalan seadanya.
Beruntung Jingga diselamatkan mereka. Dalam perawatan mereka lukanya cepat pulih. Disana Jingga mempelajari tanaman tanaman obat yang ditanam.

Sepasar Jingga disana. Setelah agak lancar berjalan, Jingga berpamitan kembali ke Kotaraja. Nenek dan Kakek itu berat melepaskan, namun mendengar penjelasannya bahwa orang orang yang ditinggalkannya selama ini cemas mencari dan berjanji lain hari akan sering berkunjung kemari, mereka merelakan kepergiannya. Meski tidak tahu asal usul Jingga, namun dari perwakannya bukan kaum jelata seperti umumnya. Dari kulitnya yang putih menurut ukuran mereka, hidungnya yang mancung, pastilah anak bangsawan Kotaraja.

Membawa bekal seadanya, gula jawa dan sesobek daging kelapa, Jingga diantarkan Wijo menyusuri jalan setapak menuju perkampungan terdekat.
“Terima kasih Jo, salam untuk Kakek Nenek ya,” Jingga memeluk Wijo. Wijo hanya mengangguk, anak itu memang sedikit bicara. Dari raut wajahnya Jingga merasakan Wijo sama dengan Kakek Neneknya, berat berpisah dengan Jingga.

Di jalanan Ia baru menyadari kain yang dikenakan membuat orang orang terganggu. Kain murah dan lusuh pemberian Kakek dimata orang orang menjadikannya sederajat dengan pengemis. Terpaksa dia bersembunyi menunggu gelap untuk masuk Kotaraja.

Setelah perjuangan yang sulit, harus sembunyi dari semak ke semak, masuk got agar tidak dicurigai orang. Jingga sampai ke Asrama. Di kamar Jingga berganti kain lalu keluar menuju kamar Padang. Malam larut. Pelan mengetuk pintu.
“Siapa?”
“Aku.”
“Darimana saja?”
“Panjang ceritanya.”
“Kamu dicari di kelas, Sasi sudah memintakan ijin kamu pergi ke keluargamu yang datang ke Kotaraja. Tapi kamu diminta menghadap kalau sudah kembali.” Jelas Padang dengan mata selidik, “Kamu kenapa? Sakit?”

Tertatih Jingga duduk di tempat tidur Padang, “sebentar,” Padang keluar kamar. Sesaat dia kembali bersama Sasi.
Jingga menceritakan kejadian yang beruntun menimpanya, kecuali tentang Sang Bayangan dan semua kejadian yang menghubungkan dirinya dengannya. Sasi dan Padang bersemangat mendengarkan. Jingga menunjukkan luka sabetan pedang di pahanya.
“Wah hebat, kamu ternyata jago berkelahi, melawan begal lagi.”
“Bagaimana kalau kita tantang anak anak Kotaraja,” tambah Sasi. Dendam masih membara.
“Hus! Sudah ya mau tidur, kakiku masih sakit.”
“Yaaa….”

****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 6 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
BERLAGA

“Masuk,” terdengar suara dari dalam mempersilahkan. Beringsut Jingga menghadap Ki Lembu Girah, Guru Kanuragan. Tingkatannya adalah Manguyu, namun karena ilmu kanuragannya tinggi, Ia diberi tanggungjawab menjaga keamanan dan disiplin siswa. Usianya 40 tahunan, badannya kuat berotot, wataknya keras cocok dengan bentuk rahangnya yang kokoh, bicaranya lugas apa adanya. Selain pada Mahaguru, dia yang paling ditakuti di Kadewaguruan ini. Kalau lebih bisa mengendalikan hawa panas dirinya, bukan tidak mungkin Ia akan cepat meningkat menjadi Wiku

Setelah menghormat, Jingga duduk bersila, kepala menunduk.
“Jelaskan,” katanya pendek, merapikan lembar lembar lontar yang dibaca.
“menjelaskan apa Pak Guru?”
“Menjelaskan dirimu mengapa dipanggil kemari.”
Dug, jantung Jingga berdegub kencang. Menarik nafas dalam, “Ampun Bapak Guru, saya tidak pamitan keluar asrama menemui saudara yang datang ke Kotaraja. Saya kira sebentar, ternyata disana saya sakit. Saat inipun saya belum sembuh benar,” agak gugup menjelaskan dibawah tatapan selidik Ki Lembu Girah.
“Benar begitu?”

Dada Jingga berdebar lebih keras, perasaannya gelisah. Dia ingin sekali jujur, namun banyak hal membuatnya harus berbohong. Melindungi kedua temannya yang susah payah membuat alasan kepergiannya. Bisa bisa mereka bertiga dikeluarkan dari Kadewaguruan ini.
“Ampun Bapak Guru, hanya itu yang bisa saya jelaskan.”
Ki Lembu Girah menatap tajam, menghela nafas, “Kadewaguruan ini didirikan untuk membentuk kesatria negara yang piniluih, pilih tanding, cerdas dan berperilaku mulia.”
“Inggih Bapak Guru.”
“Kali ini aku beri kesempatan, lain kali kalau salah jangan membuat alasan macam macam kalau tidak mau dikeluarkan dari sini.”
“Ampun Bapak Guru.” Wajah Jingga berubah pucat.
“Mulai besok, setiap pagi mengepel pendopo sampai aku memerintahkan berhenti. Sekarang kamu kembali ke kelas.”
“Terimakasih Bapak Guru,” Jingga memberi hormat, beringsut keluar ruangan. Lega tidak dikeluarkan dari Kadewaguruan. Namun perasaannya masih gelisah, bukan karena dihukum tiap pagi mengepel lantai pendopo, tapi kebohongannya tadi membuat dia seperti tanpa pijakan dan hanya bergantung belas kasihan orang lain. Apalagi Ki Lembu Girah sepetinya tahu kalau dia berbohong. Dia merasa di dahinya ada tulisan, Jingga Sang Pembohong.

Sejak itu Jingga tidak berani keluar malam. Dia berjanji tidak mempersulit diri dengan tindakan tindakan tanpa tujuan jelas. Apalagi bila harus melanggar aturan Kadewaguruan. Yang resikonya jelas, dipulangkan ke kampung halaman. Dia tidak ingin orang tuanya malu mengetahui anaknya tidak becus berguru di Kadewaguruan ini.

Pagi pagi, Jingga ke dapur mengumpulkan ampas kelapa untuk mengepel lantai pendapa. Dapur Kadewaguruan dikepalai seorang Ibu sepuh, badannya besar, rambutnya putih. Meski sepuh namun tenaganya dalam membuat bumbu tidak kalah dengan anak buahnya. Anak buahnya beberapa seumuran dengan dia. Selebihnya masih setengah baya dan beberapa saja yang muda. Mereka sepertinya turun temurun menjadi juru masak Kadewaguruan.

Bila dipel, pendopo Kadewaguruan terasa luas sekali. Sampai siswa siswa berdatangan, Ia masih sibuk menggosok lantai. Ledekan anak anak Kotaraja melihat Dia dihukum seperti tamparan di siang hari. Dadanya sesak ingin berontak. Wajah orang tuanya mengingatkan apa tujuan Ia disini yang bisa menenangkan perasaannya. Beberapa malah berani mengotori lantai yang dipel dengan lemparan tanah, sehingga Jingga harus mengulangi. Setitik air matanya menetes membasahi lantai.

Hari demi hari dilalui dengan perasaan sakit hati. Rasa bosan mulai mendera. Kejadian kejadian beruntun yang dialaminya membuat perasaannya berkelana di luar Kadewaguruan. Dia merasa terkekang berada di Kadewaguruan. Namun untuk pergi seperti Sasi dan Padang menyelinap keluar Asrama, Ia tidak mau.

Malam ini sudah malam ketujuh sejak Jingga kembali ke Kadewaguruan. Entah kenapa perasaannya tidak enak sejak dia masuk kamar. Tumben Sasi dan Padang tidak datang mengganggunya malam ini. Ah paling juga mereka pergi jalan jalan keluar Kadewaguruan.
Dicobanya memejamkan mata, pikirannya masih berjalan kemana-mana. Apakah karena besok pagi ada pertandingan kanuragan antar siswa angkatannya. Semua diwajibkan ikut untuk penilaian kenaikan tingkat dari endang ke kaki. Ia terlelap setelah pindah tidur di lantai.

****

Udara pagi terasa segar. Kabut tipis tersisa diantara dedaunan pepohonan disekitar Kadewaguruan. Jingga tidak membersihkan Pendopo, Dia dialihkan membantu Ki Girah mempersiapkan arena pertandingan nanti. Membuat lingkaran di tanah lapang samping Pendopo menggunakan abu dapur. Memasang tali pembatas penonton dan menata tempat duduk Dewan Guru, termasuk undangan yang ingin menyaksikan olah kanuragan siswa Kadewaguruan.

Sebelum bertanding, semua siswa yang diuji berbaris memeragakan jurus demi jurus perguruan bersama sama. Bila gerakan yang diperagakan padu, tepuk tangan penonton membahana, bila ada yang salah, langsung di soraki. Suasana begitu riuhnya mirip pertunjukan yang biasa diadakan di Alun alun.

Sampailah pada acara uji tanding. Yang diuji duduk di rumput membentuk lingkaran besar sekeliling arena. Satu persatu dipertandingkan berkelahi tangan kosong. Padang mendapat giliran ke lima, Ia berhadapan dengan Arya, salah satu dedengkot kelompok anak Kotaraja. Beberapa jurus pertama pertandingan berjalan normal, keahlian keduanya terlihat seimbang menggunakan jurus jurus yang diajarkan. Menginjak jurus ke enam, Jingga melihat kejanggalan. Arya menggunakan jurus yang lebih tinggi. Jurus itu belum diajarkan. Memang bila dipandang sekilas, tidak ada perbedaan. Karena Arya menambah dengan tenaga dalam. Hasilnya sungguh fatal, Arya yang sombong, menghajar Padang yang kebingungan melawan tenaga Arya yang tiba tiba tak dapat dibendungnya.

Krak!
Padang terguling memegangi lengan kirinya. Sendi lengannya lepas. Pingsan.

Tepuk riuh membahana, Jingga meloncat menggotong Padang bersama yang teman teman ke Pendopo. Ki Girah sekali sentak mengembalikan posisi tulang lengan Padang.

Pertandingan di mulai lagi, untunglah jurus jurus yang digunakan normal kembali. Kecurigaan Jingga perlahan pupus. Mungkin Arya punya kelebihan olah tenaga dalam dan tadi tidak sengaja Dia keluarkan, pikirnya. Jingga larut lagi dalam sorak sorai penonton menyemangati pertandingan.

Di arena terjadi pergumulan seru. Jurus yang digunakan adalah jurus bantingan dan kuncian. Dalam bertanding dibebaskan menggunakan jurus-jurus yang dikuasai, asalkan jurus itu diajarkan di Perguruan ini. Wira, siswa yang postur tubuhnya lebih besar, berusaha mengunci tangan Nari yang bertubuh lebih kecil namun liat itu.

Meredam kuncian Wira, Nari menggeliat mengikuti arah pelintiran Wira. Dengan sekali hentakan Nari berbalik berada diatas tubuh Wira. Tepuk tangan terdengar memuji aksi Nari dalam berkelit membalikkan situasi dari diserang menjadi menyerang. Wira terkejut, sekuat tenaga Ia melawan jepitan lengan Nari di lehernya dengan menarik pergelangan tangan Nari keluar.

Namun Nari sudah mengamankan tangan kanannya dengan belitan tangan kirinya dibelakang kepala Wira. Sehingga usaha Wira melepaskan menjadi sia sia. Sesaat Nari lengah, dia tidak menyadari siku tangan kanannya menghadap tanah. Melihat kesempatan itu, Wira menjatuhkan dirinya dengan harapan siku Nari menghantam tanah. Mau tidak mau Nari melepaskan cekikannya. Merekapun bergulingan menjaga jarak untuk bertanding lagi.

Di Pendopo, Padang sudah siuman. Seorang cantrik Kadewaguruan membobori lengannya dengan beras kencur. Dia sudah bisa duduk meski masih lemas. Beberapa temannya merubungi menanyakan keadaannya, dijawab dengan senyuman, “Aku tidak apa apa, terimakasih.”
“Anak anak Kotaraja menguasai pertandingan. Hampir semua anak asrama kalah,” cerita teman disebelahnya satu asrama dengannya.
“Iya mereka terlalu kuat,” kata Padang.
“Hanya dua orang yang menang, itupun karena melawan teman seasrama sendiri.”
“Jingga bagaimana? Dia sudah bertandingkah?”
“Belum, tapi Dia bisa apa? Kamu saja yang lebih besar kalah.”

Padang tersenyum, “Ya siapa lagi kalau bukan Dia yang harus memenangkan pertandingan. Bisa bisa anak anak Kotaraja semakin sombong menghina kita.”
“Betul, sialan. Kenapa aku tadi lengah. Tapi memang mereka tenaganya kuat sekali.”
“Kalian semangati Jingga saja agar dia memenangkan pertandingan. Aku disini saja,” pinta Padang pada teman temannya. Dia sedikit banyak mengenal watak Jingga, setelah perkelahian dengan para Begal, Padang percaya Jingga adalah anak yang hebat dalam ilmu kanuragan. Hanya karena tidak ingin menyombongkan diri di Kadewaguruan, maka Dia menyembunyikan kemampuannya. Nah sekarang tinggal bagaimana merayunya agar mau mengalahkan lawan lawannya dalam pertandingan. Demi kehormatan anak anak asrama.

Padang tersenyum mengangguk melihat Jingga yang dikerubuti teman teman se asrama menoleh ke arahnya. Meminta dukungan apa yang mesti Dia lakukan. Sambil meringis menahan sakit Padang mengangkat kepalan tangannya.

Sampailah pada pertandingan antara Jingga melawan Darpala. Dengan lagak sudah menjadi pemenang, Darpala mengangkat kedua tangan dihadapan pendukungnya. Dimata anak anak Kadewaguruan, Jingga adalah musuh terlemah. Bukankah hampir setiap hari Dia jadi bulan bulanan anak anak Kotaraja. Wajahnya yang tampan lebih mirip wajah perempuan semakin membenarkan anggapan bahwa Dia anak lemah. Penonton yang simpati melihat sosok Jingga bukan berharap Jingga mengalahkan Darpala tetapi berharap Darpala jangan terlalu keras menghajar anak itu.

Aba aba telah dibunyikan. Darpala masih bertingkah, mengundang Jingga memukul dadanya. Jingga maju, memukul pelan. Tanpa waspada Darpala menangkap kepalan tangan Jingga. Ia berencana memelintir tangan itu sampai Jingga menangis. Sebuah rencana besar mempermalukan lawan. Namun ternyata Dia salah mengukur lawan. Kepalan tangan yang tadinya lemah, tiba tiba kokoh dan licin. Dari rencana memelintir keluar, malah tangannya tertangkap dan dipelintir kedalam. Darpala tersadar dia menghadapi gerak tipu, tangan kirinya cepat merusaha membantu melepaskan pelintiran Jingga. Tapi dia bagaikan menghadapi kekuatan raksasa. Tanpa dapat dihalangi, badan Darpala berputar membelakangi Jingga. Sekali kedutan pada tumit, membuat Darpala terjatuh berlutut.

Darpala kalah telak. Sejenak suasana hening, penonton tak percaya kejadian didepan mata mereka. Seharusnya dalam bayangan mereka yang duduk meringis di tanah adalah Jingga. Bagaimana bisa anak lemah itu bisa melakukan itu. Pasti kebetulan. Meledaklah sorak sorai teman teman Jingga seolah mimpi temannya bisa mengalahkan salah satu jagoan anak Kotaraja.
“Darpala terlalu sombong, adigang adigung adiguno,” komentar orang orang.
“Ia terlalu meremehkan.”
“Darpala lengah.”
“Kebetulan.”
“Kalau diulang belum tentu anak itu menang.”

Berbagai komentar penonton menyikapi kekalahan Darpala. Mereka tidak menyadari bahwa meskipun Darpala waspada, Dia belum tentu bisa memenangkan pertarungannya dengan Jingga.
Bahkan bila diulang seratus kalipun.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
smoga trus lancar updatenya gan
profile-picture
arcaraya memberi reputasi
Ane pernah tinggal 3,5 tahun di Banyuwangi gan, sedikit tau lah kultur Blambangan hehehe..
semangat terus updatenya gan, kalo bisa nambah ilustrasi gan. Semisal tata kota di Kotaraja, dan gambaran wilayah Blambangan ke Majapahit.

seperti ini misalnya gan.

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN

dan ini

[ROMAN SEJARAH] SINAR JINGGA DITANAH BLAMBANGAN


salam. emoticon-shakehand
Quote:

Ok silahkan. sering sering ditengok gan, ini cerita masih panjang

Quote:

duduk manis yak, semoga bisa menikmati ceritanya

Quote:

amiiin, sering sering tegor gan biar gak males nulisnya

Quote:


wah pernah tinggal dibanyuwangi ya, salam kenal kalau gitu. didaerah mana nih banyuwanginya?
kalau ilustrasi wah emang kepikiran bikin atau comot sana sini, termasuk yang agan kirim diatas.
cuma ya itu, untuk bikin sedetil itu merekontruksi kondisi trowulan semasa tokoh ini tinggal disana, lumayan dalam risetnya. berkali kali harus disesuaikan
makasih sarannya, emoticon-Shakehand2
profile-picture
arcaraya memberi reputasi
ILMU DEMIT


Pertandingan menginjak babak selanjutnya. Ditambah Jingga, anak anak asrama yang masuk babak kedua ada tiga orang. Pertandingan semakin seru, meski ada satu dua yang kelelahan karena kehabisan tenaga pada pertandingan pertama. Satu persatu sahabatnya berjatuhan. Sekarang tinggal Jingga, apakah dia mampu menghadapi lawannya.

Lawannya sudah lebih waspada daripada Darpala. Tak ada yang menjagokan Jingga dapat memenangkan pertarungan kali ini. Kemenangan tadi tidak dianggap sebagai kemenangannya, melainkan kesalahan Darpala semata.

Danu melakukan gerakan pembuka mencari posisi dan jarak tepat untuk menyerang. Jingga mengimbangi dengan melakukan gerakan pancingan. Kakinya ditendangkan ke tubuh Danu, namun tidak dilepaskan, sebelum mendekati lawan, kaki itu ditariknya kembali.
Tiba tiba Danu maju menyerang dengan pukulannya kearah wajah Jingga. Semua menahan napas menunggu detik detik masuknya pukulan itu. Posisi kaki Jingga tidak sempurna karena kakinya yang baru melakukan tendangan pancingan belum menjejak tanah.

Diluar dugaan, Jingga malah menjatuhkan diri sehingga pukulan itu melewati kepalanya. Hanya destarnya terlepas terserempet tangan Danu. Sedang kedua tangannya meraih tangan kiri Danu. Danupun terhuyung terbawa beban berat badan Jingga yang menjatuhkan diri. Dengan bertumpuan pada tanah, Jingga memanfaatkan tenaga jatuhan menjadi tenaga tolakan. Danu tak menduga mendapat serangan, badannya melayang salto dan jatuh dengan punggung lebih dulu. Sebelum menyadari kejadian yang menimpanya. Jingga sudah duduk diatas dadanya mengunakan jurus trenggiling. Tangan Jingga ditarik tinggi menyiapkan pukulan terakhir, namun wasit pertandingan sigap menahan tangannya, menariknya berdiri menyatakan Jingga sebagai pemenangnya. Sementara Danu tergeletak linglung.

eman temannya berhamburan kedalam arena melihat kemenangan singkat Jingga. Ia digotong keluar lapangan bak pahlawan. Dibawah pohon, teman temannya mengipasinya, menyediakan minum, memijiti sekujur tubuhnya. Semuanya begitu riang menyambut kemenangan Jingga. Beberapa meniru adegan Jingga dengan gaya lucu tentunya disambut tawa gembira yang lain.

Di sudut lain terlihat wajah wajah geram mengawasi.

Matahari sudah meninggi, arena pertandingan penuh diterangi cahaya matahari. Lawan Jingga selanjutnya adalah Arya, anak senopati yang berpengaruh di Kotaraja. Gaya berkelahi anak itu agak keji. Dia belum puas kalau tidak menghajar habis lawannya. Salah satu korbannya adalah Padang. Bahkan teman sendiripun Dia hajar habis hanya untuk menunjukkan pada Jingga bahwa Dia akan menghajar Jingga seperti itu.
Pertarungan Jingga dengan Arya sebetulnya bukan pertandingan terakhir, masih perempat final, namun karena keduanya dari kubu yang berbeda -Jingga adalah satu satunya yang tersisa dari kelompok anak anak asrama sedang Arya adalah anak terkuat dari sekian banyak anak Kotaraja- semua sepakat menyatakan partai kali ini adalah partai puncak perseteruan dua kubu.

Sorak sorai membahana memberi dukungan masing masing jagoannya. Di lapangan keduanya saling mengitari, berpandangan tajam mengamati dan mencari titik lemah lawan. Gerakan pancingan dibalas dengan pancingan. Gerakan tipuan dibalas dengan tipuan. Silih berganti mereka melakukan serangan.

Jingga mengurangi serangannya. Dia tersadar, bukankah selama ini Ia merahasiakan kemampuannya, lalu mengapa sekarang memamerkannya. Kali ini aku harus mengalah, putusnya. Beberapa pukulan sengaja Ia terima lalu pura pura terhuyung kesakitan. Sorak sorai pendukung Arya semakin gegap gempita. Membuat Arya semakin bersemangat menyerangnya, bahkan membabi buta. Watak kejamnya muncul, Ia mulai menggunakan tenaga dalam untuk menyerangnya.

Dug!

Pukulan mengenai dada Jingga. Namun bukan Jingga yang kesakitan, tapi Arya yang meringis menahan sakit di dadanya. Pukulan tenaga dalamnya berbalik ke dirinya. Jingga sendiri terbengong bengong melihat Arya menjerit. Dia hanya merasakan sebuah tenaga mengarah ke dadanya, lalu tiba tiba seperti getaran hangat mengalir dari telapak kakinya bergerak berkumpul di dadanya. Tepat di titik dimana pukulan Arya telak mengenai dadanya.

“Ilmu demit!” seru sebuah bayangan meloncat kedalam arena.

Sebuah kebatan membanting Arya menjauh dari tubuh Jingga. Sementara Jingga masih berdiri tegak tidak merasakan hempasan angin yang diakibatkan jubah orang itu. Orang itu adalah Ki Lembu Girah. Matanya melotot terkejut. Bukan saja kebatannya bisa ditahan oleh Jingga, bahkan dirinya sendiri tercekat tertahan oleh kekuatan yang melindungi Jingga.

Sebagai penanggung jawab pendidikan kanuragan. Dia tahu luar dalam kemampuan setiap siswa didiknya. Namun Jingga lepas dari pengamatannya. Selama pelatihan, anak itu tidak lebih dari yang lain. Bahkan cenderung lemah. Mengenalpun karena kejadian bolos, bukan karena ilmu kanuragannya.

Pasti ada orang lain yang membantunya, pikir Ki Lembu Girah. Dipandanginya orang orang sekitar. Tak ada yang mencurigakan. Dia sudah mengukur kemampuan wajah wajah disekeliling arena.

“Silahkan yang bermain main masuk kedalam gelanggang!” Suara Ki Lembu Girah menantang. Hening tidak ada yang bereaksi. Hanya wajah wajah kebingungan tidak mengerti apa yang terjadi di arena.

Karena tidak ada tanggapan, perhatian Ki Lembu Girah beralih ke Jingga yang masih berdiri bingung. Dia berencana menyelidiki dengan memancing orang yang main main itu memanfaatkan Jingga. Apa maksud orang itu? adakah hubungannya dengan desas desus di kalangan istana. Bukankah disini tempat anak anak pejabat Istana belajar. Segala kemungkinan bisa saja terjadi disini.

Menghadapi situasi kacau tersebut, panitia memutuskan perandingan di bubarkan. Arya yang terluka dalam segera dilarikan ke ruangan Dewaguru untuk mendapatkan pertolongan. Untunglah buru buru dibebaskan oleh Ki Lembu Girah. Jadi lukanya tidak parah.

Jingga diamankan di ruangan khusus, ruangan itu dulunya digunakan untuk menahan murid Kadewaguruan yang berbahaya. Setelah sekian lama tidak digunakan akhirnya digunakan lagi. Jinggalah yang mendapat kehormatan itu, bukan murid tingkat akhir, tapi murid tingkat dasar. Sebuah kejadian yang sulit dibayangkan kalau tidak terjadi.

*****

Ruang pasowan nanti Dewaguru begitu hening, para biku, wiku yang bertugas mengurus Kadewaguruan terdiam memikirkan kejadian siang tadi. Mereka berkumpul untuk mendapatkan fakta sebenarnya, apa latar belakangnya, adakah kaitannya dengan orang luar. Kalaupun ada apakah ada kaitannya dengan gerakan pemberontakan yang sampai saat ini belum jelas akan dilakukan siapa.

“Ki Girah, ada hal lain untuk melengkapi yang telah kami ketahui?” Mahaguru meminta Ki Lembu Girah menambahkan.
“Data Jingga sama dengan yang lain, anak kedua Pangeran Blambangan, direkomendasi Senopati Ajisaka. Prestasi biasa biasa saja, sering diganggu teman temannya, pernah bolos satu minggu katanya menemui sanak saudaranya yang berkunjung ke Kotaraja. Sebelum kejadian itu Dia masih menjalani hukuman atas kesalahan pergi tidak ijin.”
“Teman temannya bagaimana?”
“Teman temannya biasa saja. Dia dekat dengan Sasi dan Padang karena sama sama dari pesisir.”
“Ada yang mencurigakan?”
“Tidak ada, teman temannya memberi kesaksian sama dengan yang diceritakan Jingga.”
“Ada tamu yang sering berkunjung menemuinya?”
“Tidak ada.”

“Dewaguru, maaf, kalau boleh tahu, ilmu apakah yang digunakan anak itu?” Tanya salah satu pengurus Kadewaguruan.

“Melihat dari luka Raden Arya, hanya tenaga pukulan berbalik. Mungkin anak itu terlalu emosi menyerang sehingga tidak bisa mengukur kemampuannya. Pukulan itupun belum waktunya Raden Arya memiliki. Ki Girah, apakah anda yang mengajari mereka?”

“Ampun Dewaguru, hamba tidak berani melebihi yang ditentukan oleh Kadewaguruan. Hamba juga heran mengapa Raden Arya punya pukulan itu. Tapi? Saya merasakan sebuah tenaga yang besar diluar tenaga yang dikeluarkan Raden Arya, mohon penjelasan Guru.”

“Lebih baik kita berbaik sangka dulu agar tidak menganiaya anak itu. Bisa saja ada salah satu keluarga peserta ujian tadi yang tak punya maksud apa apa, hanya menolong Jingga dari pukulan keji Raden Arya. Tak lebih dari itu.

Maka waktu Ki Girah menantang tadi, orang itu tidak menanggapi, hal ini dilakukan agar masalah tidak tambah berat.
Bukan berarti kita mengurangi kewaspadaan, tapi kewaspadaan jangan sampai menganiaya orang yang tidak berdosa agar tidak timbul masalah baru karena kecerobohan kita.

Anak itu sementara tetap disana menunggu situasi reda. Agar tidak timbul anggapan bahwa Kadewaguruan melindungi penyerang keluarga Wredamentri Ranggapane. Setelah situasi reda, baru kita putuskan langkah berikutnya.

Memang aku mendengar anak Wredamentri Ranggapane sering membuat ulah disini. Semoga kejadian ini bisa dijadikannya pelajaran agar dia memperbaiki sikapnya.

Untuk kalian, aku berpesan agar selalu waspada. Suasana keraton sedang menghadapi desas desus pemberontakan. Jangan sampai Kadewaguruan ini terbawa bawa. Bila ada hal yang mencurigakan segera laporkan.
Untuk Ki Girah, anak itu menjadi tanggung jawabmu. Jaga dia baik baik. Suradira jayadiningrat, lebur dening pangastuti (ambil tindakan terbaik).”

Semua yang hadir mengaturkan sembah hormat, beringsut meninggalkan pasowan nanti satu persatu.

****
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 10 lainnya memberi reputasi
TERUSIR DARI KADEWAGURUAN

Malam semakin gelap. Kabut menambah dingin udara Kadewaguruan. Sasi dan Padang sudah berada di kamar masing masing. Mereka bingung menghadapi perkembangan situasi. Silih berganti para Guru mendatangi, ditanya dengan pertanyaan yang sama sampai bingung harus menjawab apa.

Untunglah mereka sudah sepakat akan cerita tentang Jingga, tentang kepergian Jingga. Tidak akan menceritakan sedikitpun kegiatan mereka menerobos asrama malam hari, kepergian Jingga diam diam, perkelahian dengan begal dan luka lukanya.
Selebihnya mereka menghindari untuk membicarakan tentang Jingga, takut salah bicara.

Di sisi lain, Jingga tercenung di dalam ruangan isolasi. Ia tak kalah bingung seperti kedua temannya. Ia tidak mengerti munculnya tenaga dari mana sehingga Arya terpental.
Ia tak mengerti mengapa dirinya sekarang dihukum disini. Tidak bisa ke kamarnya, terkunci dalam ruangan khusus untuk menahan orang orang berbahaya.

Ruangan itu amat pengap dan dingin. Satu satunya lubang adalah lubang pada pintu, tempat penjaga mengawasi, mengirimkan makanan dan minuman. Sekelilingnya tembok batu. Balai balainyapun terbuat dari batu.
Jingga menggulung dirinya dengan selimut yang diberikan petugas jaga untuk mengurangi dinginnya malam. Ia rebahan saja, merenungi hal hal yang menimpa dirinya.

Terdengar orang berbicara diluar, langkah langkah mendekati ruangan tempanya. Palang pintu dibuka, cahaya obor menerangi ruangan bersamaan dengan derit pintu terbuka. Jingga memicingkan mata menyesuaikan.

Melihat siapa yang datang, Jingga menghaturkan sembah hormat. Beliau adalah Dewaguru. Melihat senyum diwajahnya, hati Jingga agak tenang.
“Sudah, kamu duduk di bale saja,” Dewaguru menyentuh pundaknya memerintahkan untuk bangun dari bersimpuh dilantai. Dengan anggukan Mahaguru memerintahkan penjaga pergi meninggalkannya. Menyalakan obor yang menempel di depan pintu masuk lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Ampun Bapa Guru,” Jingga memberi hormat lagi sebelum duduk. Dewaguru dengan lembut mengusap pundak Jingga.
“Kamu baik baik saja?”
“Baik Bapa Guru,” jawab Jingga lirih.
“Kamu tahu mengapa dihukum disini?”
“Tahu Bapa Guru, ampun.”
“Kamu berguru pada siapa selain di Kadewaguruan sini?”
“Ayahanda murid, lain tidak ada.”
“Apa yang kau pelajari dari Ayahandamu?”

Jingga menjelaskan semua yang dia pelajari dari Ayahandanya. Semuanya adalah pelajaran umum yang diterima anak anak seusianya. Siapaun bisa mempelajarinya.
Dewaguru mendengarkan penjelasan Jingga. Sambil manggut manggut jemarinya menarik narik janggut putihnya. Pertanda Beliau berpikir dalam.
“Baiklah, aku mau genggam tanganmu. Kosongkan pikiranmu.”

Mereka duduk bersila diatas bale berhadapan. Tangan keduanya bertemu bersalaman dengan mata terpejam.
Dewaguru mengalirkan tenaga dalamnya sedikit demi sedikit, menguji apakah ada tenaga aneh dalam diri Jingga. Tenaga itu mengalir wajar kedalam tubuh jingga lewat tangan. Tak ada hambatan, apalagi tenaga berbalik yang dialami Arya.

Perlahan lahan Dewaguru meningkatkan aliran tenaganya. Tak ada gejolak dalam diri Jingga, Ia hanya merasakan badannya hangat saja. Yang terkejut malah Dewaguru. Semakin Dia meningkatkan tenaganya semakin nyata perasaannya seperti berjalan jalan di sisi telaga yang damai dengan gemericik air mengalir dari tebing bukit. Perasaannya melayang kembali ke masa masa muda, kemasa Dia mengalami berbagai gejolak jiwa berbagai macam rasa. Ada bahagia, rindu, sakit mengiris hati berbaur menjadi satu. Sebuah perasaan yang selama ini telah terlupakan. Setitik air mata mengalir di sela sela bulu mata.

“Ya Tuhan!” Dewaguru tersadar dari permainan perasaannya melihat Jingga tergetar kuat. Dengan gerakan pundak Dia menghentikan aliran tenaganya. Jingga terjengkang ke belakang. Badannya panas, tak sadarkan diri. Ternyata tanpa disadari, Jingga terlalu banyak menerima tenaga dari Mahaguru.

Sipat Dewaguru membetulkan posisi tubuh Jingga. Lalu memulai beberapa pijatan pada beberapa bagian tubuh Jingga untuk meringankan beban tenaga dalam di tubuhnya.

Jingga terbatuk tersadar.

“Maaf Guru, murid ketiduran.” Jingga tidak sadar bahwa dia tadi bukan tidur, tapi pingsan.

Dewaguru agak gugup menerima hormat Jingga. Bukankah yang salah dirinya, bukan anak ini. Mengapa anak ini yang meminta maaf, sedang dirinya tidak berani mengaku salah didepannya. Tapi kalau dirinya meminta maaf mengaku salah pada anak kecil ini, apakah tidak menambah kacau, karena anak ini dalam status disalahkan. meski belum tentu salah dan sepertinya anak baik, polos. Untuk sementara biarkan anak ini merasa bersalah sehingga Dia merasa pantas berada di ruangan isolasi ini. Kalau tidak basah, biarkan merasakan basah.

Menutupi kegelisahannya, Dewaguru segera pergi setelah menasehati selayaknya seorang yang di hormati. Jingga menghaturkan sembah hormat sampai bayangannya menghilang dibalik pintu.


* * * * *

Matahari pagi sudah meninggi, cahayanya mengusir sisa kabut malam yang menyelimuti Kadewaguruan. Di kelas, Sasi mencari cari apakah Jingga sudah hadir. Diliriknya Padang, dibalas dengan gelengan kepala. Arya juga tidak hadir. Mau bertanya mereka tidak berani. Apakah Jingga sakit? Apakah Jingga disiksa di ruang hukuman? Bulu kuduk mereka berdiri membayangkannya.

Beberapa anak kasak kusuk membicarakan kejadian lalu dan nasib Jingga. Berhenti bila ada orang lain mendekati.
"Kalau diteruskan, aku yakin Jingga yang jadi juaranya," salah seorang anak asrama berbicara pelan dikerumunan anak anak dibawah pohon.
"Iya, tapi sayang, malah dihentikan," sahut yang lain.
"Memangnya ada apa kok dihentikan?"
"Gak tahu, Ki Girah tiba tiba maju terus nantang sekeliling."
"Eh, kabarnya, Jingga dihukum setelah kejadian itu."
"Kok bisa? bukankah terakhir yang mukul Raden Arya? Trus dia keseleo kesakitan."
"Entahlah, ssst.."
...

Sudah tiga hari Jingga menghilang. Arya sudah kembali masuk. Lalu dimana Jingga? sampai kapan Ia dihukum?

Akhirnya kabar tentang Jingga diumumkan oleh Guru pengajar, “Sejak hari ini Jingga tidak bisa belajar bersama kalian. Dia diantarkan pulang ke Blambangan. Dia sering melakukan kesalahan, meski sudah dihukum, namun Dia masih mengulanginya melanggar aturan Kadewaguruan. Maka demi tegaknya peraturan, juga peringatan bagi yang lain agar tidak meniru perilakunya.”

Anak anak asrama tertunduk lemas. Hanya kelompok Arya yang tersenyum puas.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
Diubah oleh curahtangis
PULANG KE BLAMBANGAN

Sementara anak anak asrama membicarakannya, Jingga diam diam telah dipaksa keluar dari Kadewaguruan, diantar Cantrik Dalem Kadewaguruan dan seorang prajurit Istana. pergi meninggalkan Kotaraja menuju Pelabuhan Canggu mengendarai kereta kuda.

Di perjalanan Jingga lebih banyak diam, bila ditanya baru menjawab. Yang membuatnya bosan, selalu itu itu saja yang ditanyakan.
Siapa teman dekatmu?
Siapa saja Gurumu?
Apa kegiatanmu?
Apa hobimu?
Rasanya bukan teman seperjalanan, tapi sebagai pesakitan yang diinterograsi.
Cantrik dalem Kadewaguruan yang ikut menemani berusaha mencairkan suasana meski akhirnya diam karena pembicaran canggung tidak nyambung.

Di pelabuhan Canggu, Jingga melanjutkan perjalanan dengan menaiki jung bersama Prajurit Istana, sedang Cantrik ke Kotaraja membawa kembali kereta kuda. Kapal kapal lalu-lalang melintasi sungai brantas. Jung berulangkali berhenti di dermaga yang berada disepanjang
sungai untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Sesampai di Surabaya, Jingga ditumpangkan ke kapal barang yang hendak berlayar Pelabuhan Panarukan.

Dahulu Blambangan adalah sebuah kerajaan berdaulat. sebelum ditaklukkan Majapahit atau mungkin Singasari semasa Ken Arok dan keturunannya berkuasa disana. Majapahit menempatkan Keturunan Empu Kepakisan, yaitu Dalem Kepakisan dari Kediri pada tahun 1265 Caka untuk memerintah Blambangan.

Pembentukan Istana Utara di Panarukan untuk menjaga Bandar pelabuhan Panarukan yang dekat Pelabuhan pelabuhan utama Majapahit. Apalagi sejak Keraton dikuasai Orang orang Majapahit sebagai taklukan, yaitu dari Keluarga Empu Kepakisan. Semakin berkembang saja Keraton Utara itu. Sementara keraton timur berada di Kutalateng, semenanjung Banyuwangi. Disana tinggal keluarga taklukan dari dinasti Blambangan terdahulu.

Sejak itu status Blambangan menjadi kerajaan taklukan Majapahit dipimpin seorang Pangeran. Dibantu oleh dua orang Patih, yaitu Patih Nagari Blambangan Lor dan Patih Nagari Blambangan Etan. Struktur pemerintahannya untuk Nagari

Blambangan Lor sedikit banyak mengikuti Majapahit karena mereka adalah orang orang Majapahit, sedang di Nagari Blambangan Etan masih mengikuti tata cara pemerintahan Raja sebelumnya. Karena orang orang pemerintahan disana banyak diisi orang orang lama. Hal ini dimata Majapahit tidak masalah, yang penting setiap tahun upeti dalam bentuk beras dan sarang burung walet tetap terkirim sebagai bentuk takluk mereka.
Para Bekel Agung juga diberi kekuasaan lebih untuk mengatur pertanian oleh Majapahit, agar kekuatan Keraton Blambangan Etan tidak cukup untuk melakukan pemberontakan.

Setelah berhari hari menempuh perjalanan membosankan. Sampailah di Nagari Blambangan Etan. Jingga masuk kedalam disambut Ibu tercinta, Ia dipeluk erat-erat. Adiknya, Untari juga ikut memeluknya. Ayahanda dan Kakaknya didampingi Patih Dalem masih di Paseban menyambut tamu.
“Sudahlah, kok pada menangis?” Jingga menenangkan. Tangisan keduanya semakin dalam.
“Memangnya ada apa?” Jingga mulai curiga, tak biasanya Ia disambut seperti ini. Ibunda melepaskan pelukannya.
Airmatanya terus mengalir.
“Tidak ada apa apa Nak Mas,” jawab Ibunda terisak, “Hanya kangen saja.”
“Kamu baik baik saja disana?”
Jingga mengangguk, tersenyum menenangkan.
“Apa yang kamu lakukan disana sehingga dikeluarkan dari Kadewaguruan?” Ternyata kabar Jingga dikeluarkan dari Kadewaguruan lebih dulu sampai kerumah.
“Ananda tidak berbakti pada keluarga. Ananda dikeluarkan, tidak mampu meneruskan pelajaran disana.”
“Kamu tidak nakal kan disana?”
“Ampun Ibunda, ananda selalu berusaha mengikuti nasehat Ibunda.”
“Syukurlah kalau begitu, kamu bisa mencari guru ditempat lain.”
“Baik Ibunda.”
“Kata orang orang Kakang berkelahi?” Untari ikut bertanya.
“Oh tidak, kami memang berkelahi, tapi dalam ujian kenaikan tingkat di Kadewaguruan dan aku gagal dalam ujian itu.”
“Sudah, jangan ditanya macam macam. Antarkan Kakakmu ke kamarnya. Biarkan istirahat, lihat badannya sudah kotor begini. Aduh kamu agak kurus, kamu sakit?”
“Hanya lelah perjalanan kok bunda.”

Kamar Jingga terletak agak jauh, berbentuk bangunan bata merah berundak 3 beratap sirap. Didepan kamarnya masih ada meja pendek tempat dia membaca kitab kitab Ayahandanya. Dibukanya pintu kupu tarung, agak berdenyit, dan ... Jingga merasakan kebebasan dari tekanan batin selama ini. Aroma dipan, lemari kayu, tembok dan hembusan angin dari taman diluar sana seperti obat mujarab menggilas semua sakitnya. Jingga merebahkan diri di atas bale, Satu persatu kenangan masa lalu melintas dalam benaknya.

Sebuah ketukan di pintu mengagetkan dari lamunan.
“Siapa?”
“Aku,” Jawab suara diluar. Suara Untari, adik kesayangan, “Aku masuk ya?”
“Masuk saja,” jawab Jingga gembira. Senyumnya mengembang setiap bertemu adiknya ini.
Untari membawa mampan berisi makanan dan minuman dari Ibunya. Diletakkannya dimeja kecil sebelah tempat tidur Jingga.
“Kok gak bawa oleh-oleh?” Tanya Untari manja. Ia duduk disamping Jingga yang tidur tengkurap. Jingga bangun dari tidurnya, mengusap kepala adiknya, sayang.
“Maaf, kami buru buru dalam perjalanan.”
“Anak Kotaraja memangnya pintar pintar ya Kakang?”
“Benar, mereka pintar pintar.”
“Kakang kalah pintar?”
“Iya.”
“Aku gak percaya, Kakang kan pintar, masak kalah,” Untari protes, tidak terima Kakaknya kalah pintar.
Jingga tersenyum melihat tingkah adiknya. Kalau cemberut adiknya tambah terlihat cantik.
“Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Mungkin karena kakang tidak suka dengan pelajaran disana jadinya kalah pintar dengan mereka. Coba dengan yang Kakang suka, belum tentu kalah.”
“Jadi betul kan Kakang gak kalah pinter.”
“Iya iya.”
“Mmm trus cerita dong tentang Kotaraja. Eh ketemu Raja? Permaisuri? Pangeran? Putri? Istananya indah ya?……”
Jingga tertawa menerima serbuan pertanyaan Untari. Dengan senang hati Ia menceritakan semua pertanyaan. Untari mendengarkannya tanpa berkedip. Matanya yang indah berbinar binar membayangkan semua hal yang diceritakan Jingga.

Kadang dia mengangguk angguk sambil tersenyum, menunjukkan dia sedang asyik dengan hayalannya sendiri.
“Hey… ini mendengarkan ceritaku apa enggak?” Tegur Jingga merasa ceritanya tidak didengarkan.
“Yee.. aku mendengarkan kok, ayo teruskan,” pinta Untari.
“Kalau mendengarkan, coba sampai mana tadi ceritanya?” Jingga balik bertanya. Untari mengejap ngejapkan mata,

berpikir. Jingga tersenyum di buatnya. Anak ini kalau sudah begini orang mana bisa marah, batin Jingga.
“Sampai Pasar,” Jawab Untari setengah ragu.
“Huaa… salah, malas ah cerita. Tidak didengarkan,” Jingga bergaya ambeg.
“Duh begitu saja marah, jelek.”
“Biar.”
“Jelek jelek jelek.” Untari semakin keras.
“Biar biar biaaaaaar.” Jingga membalas lebih keras.
“Ayo cerita lagi, janji kok aku mendengarkan,” pinta Untari. Duduk manis, tepatnya di manis maniskan.

Jingga mengulang ceritanya dari kisah di Pasar. Mereka larut dalam canda. Seharian mereka bercerita bergantian diselingi pertengkaran manja Untari. Ibunda yang mendengarkan keributan kecil itu tersenyum, bahagia. Meski berkali kali namanya dipanggil Untari bila kalah berdebat atau terpojokkan Kakaknya. Selalu begitu mereka kalau kumpul. Ribut, nangis, tertawa bisa terjadi dalam waktu singkat.

Di Paseban, terjadi pembicaraan penting. Pangeran Kebo Marcuet wajahnya merah padam mendengar laporan dari utusan pengantar Jingga. Meskipun Dia sudah mendengar kabar sebelumnya, Ia masih berharap kabar itu salah. Ternyata harapannya tak terpenuhi. Kabar didapat lebih dari itu. Jingga putranya yang tidak pernah berperilaku buruk di rumah, ternyata di Kotaraja menimbulkan banyak persoalan. Bahkan dengan beraninya menghajar putra Wredamentri Ranggapane, pejabat paling berpengaruh sat ini di Kotaraja. Ditambah lagi munculnya desas desus, Jingga dikaitkan dengan gerakan pemberontakan dan ujung ujungnya Pangeran Kebo Marcuet dikaitkan dengan hal itu.

“Tapi mana mungkin anakku yang bau kencur itu ikut dalam kegiatan pemberontakan?” Tanya Pangeran geram.
“Bukan anak itu yang berbahaya, tapi siapa dibelakang anak itu yang berbahaya.” Jawab utusan itu tegas, setengah menjebak.
“Jadi kalian mencurigai aku memberontak?”
“Kami tidak curiga, hanya mengabarkan pembicaraan yang berkembang di Kotaraja. Kalau kami curiga, mana kami sampaikan kabar itu.”
“Maaf Pangeran, hal ini memang rumit, kami datang kesini bukan untuk menuduh, namun ingin mencari kejelasan, duduk persoalan dan kalau bisa mendapatkan pemecahan. Sengaja kami sampaikan apa yang terjadi, apa yang dibicarakan dan apa yang berkembang di Kotaraja. Dengan harapan Pangeran dapat mengurai simpul simpul itu.”
“Apakah dari sanak saudara Pangeran ada yang berkunjung ke Kotaraja dua minggu lalu?”
“Tidak ada,”
“Maaf Pangeran, berarti Ananda Jingga tidak menemui saudaranya. Sebelum kejadian perkelahian, Ananda Jingga pergi dari Kadewaguruan selama sepasar tanpa pamit, ketahuan Ki Lembu Girah, dihukum membersihkan pendopo Kadewaguruan setiap hari. Belum usai hukumannya sudah menimbulkan masalah baru. Dalam pertandingan kanuragan, Jingga menggunakan ilmu demit atau mungkin dibantu orang. Tujuannya bisa saja untuk membunuh Den Mas Arya, putra Wredamentri Ranggapane. Untung Ki Lembu Girah tanggap turun ke gelanggang melerai, kalau tidak, bisa bisa Den Mas Arya terbunuh disana. Ki Lembu Girah pun hampir terpental menahan pukulan itu.”

Pangeran Kebo Marcuet gemetar menahan amarah. Bulir bulir keringatnya mengalir merambat di pelipisnya. Memang sejak dulu Ia dan Wredamentri Ranggapane sering berseberangan. Orangnya terlalu ambisius dan cenderung menghalalkan segala cara. Namun karirnya lebih cemerlang. Darah keturunan dan pengaruh di Kotaraja amat pandai Dia manfaatkan. Hampir semua pekerjaan besar Dia tangani, sedangkan yang lain memilih menghindar, termasuk dirinya.Sekarang anaknya sendiri mencari perkara dengannya. Membuat posisinya di Blambangan terancam. Berbagai tuduhan bisa saja dibuat, berbagai bukti bisa saja dihadirkan karena mereka mempunyai kekuatan dan segalanya.
Setelah pembicaraan dirasa cukup, Pangeran Kebo Marcuet mempersilahkan tamunya beristirahat di rumah peristirahatan khusus tamu. Dihantarkan beberapa pengawal dan pelayan.

Dari Paseban, Pangeran mengajak putra pertamanya, Sendaru berjalan ke taman. Duduk diatas balai dekat kolam teratai. Beberapa pengawal diperintahkan pergi menjaga pintu masuk taman, tidak boleh seorangpun masuk taman. Sendaru terdiam tak tahu harus berbuat apa. Menghadapi situasi seperti ini, Ia belum berpengalaman sama sekali. Ia menunggu Ayahanda memulai pembicaraan.
“Ndaru, apa pendapatmu menghadapi permasalahan seperti ini?” Akhirnya Pangeran membuka pembicaraan.
“Menurut pendapat ananda, kita harus membersihkan nama baik Jingga, Ayahanda, keluarga dan Kadipaten Blambangan.
Bahwa kita tidak tersangkut dalam masalah pemberontakan yang dituduhkan.”
“Tapi bagaimana, keadaan sudah terlanjur begini. Jingga sudah dikeluarkan dari Kadewaguruan. Yang mengherankan, mengapa tidak dihukum di Kotaraja kalau Jingga benar benar salah. Mengapa harus di pulangkan ke Blambangan.”
“Mungkin menjaga nama baik Ayahanda.”
“Kalau menjaga nama baik keluarga kita, mengapa selama disana tidak ada pembelaan terhadapnya?”
“Mungkin takut dikaitkan dengan pemberontakan.”
“Inilah kalau pemberontakan belum jelas orangnya, sudah memakan korban orang yang tidak ikut ikut.” Geram Pangeran. Kepalannya memukul tiang balai bengong, tergetar.
“Itu semua kalau orang orang di sisi baik, kalau sisi buruknya bagaimana?”
“Sisi buruknya, bisa saja Jingga diperalat orang untuk menjebak Ayahanda. Dengan tidak diadilinya Jingga, bisa dihembuskan kabar kalau Ayahanda menggunakan pengaruhnya menghindarkan Jingga dari pengadilan. Bukankah Jingga tidak memiliki kemampuan ilmu kanuragan yang dikatakan mereka ilmu demit itu?

Bisa saja Jingga selama disana tertarik arus kelompok yang ingin memberontak tanpa disadarinya. Kita tidak tahu pergaulan Jingga selama di Kotaraja, baikkah atau burukkah. Terlalu gelap menguraikan simpul rumit di Kotaraja dimana semua orang punya kepentingan dan semua orang bisa memanfaatkan apapun untuk kepentingannya.”
Pangeran mengangguk angguk setuju. Seulas senyum menyungging di bibirnya. Anakku ternyata luas juga pemikirannya.

Agak lega hatinya mempunyai penerus seperti dia. Andaikan tidak muncul masalah ini, betapa bahagianya.
“Kalau sudah begini, bagaimana pendapatmu menyelesaikannya?”
“Maaf Ayahanda, ananda rasa Ayahanda lebih tahu. Ananda masih belajar, belum berani mengambil keputusan. Sebaiknya kita tanya dulu Jingga duduk persoalannya.”
“Panggil Nak mas Jingga kemari,” Pangeran memberi perintah penjaga Regol di kejauhan.
Bergegas Penjaga itu menjemput Jingga di kamarnya.

Jingga menghaturkan sembah lantas duduk bersimpuh didepan Ayahanda.
“Jingga, tolong jelaskan sejujur jujurnya sejak kamu di Kotaraja sampai dipulangkan. Biar kami tahu duduk persoalannya.”
Jingga dengan hati hati menjelaskan kisahnya. Satu persatu mulai kedatangan di Kadewaguruan, di asrama, menyelinap dengan kedua temannya, diculik orang sakti, janji bertemu dengan orang itu tapi malah berkelahi dengan Begal di hutan, dirawat keluarga di kampung sampai dihukum dan pertandingan yang berakhir tragis bagi dirinya.
“Siapa orang sakti itu?”
“Ananda tidak tahu, bertemu pun disaat gelap.”
“Kamu diajar apa oleh dia?”
“Belum diajar apa apa.”

Jingga tidak menjelaskan ilmu kanuragannya yang selama ini dia sembunyikan dari keluarganya. Toh hal itu tidak penting, pikirnya. Jingga belum sepenuhnya mengerti bahwa dirinya telah menyimpan dasar dasar kanuragan yang kuat.

Sebagai hasil dari ketekunannya belajar sendiri dari berbagai kitab. Dia hanya merasakan dirinya lebih segar dan kuat setelah mencoba berbagai olah pernapasan dan gerak yang Ia pelajari diam diam. Kejadian terpentalnya Raden Arya dan linglungnya Mahaguru saat mengujinya sebetulnya bersumber dari tenaga yang belum dikenalnya. Sehingga kemunculannya selalu tak terduga dan tak jelas arahnya.
Jingga menunjukkan bekas sabetan golok begal di pahanya. Ayahanda dan kakaknya memperhatikan bekas luka yang menggaris panjang.
“Baiklah, kalian istirahat saja. Ayahanda mau sendiri disini.”
Jingga dan Sendaru memberi hormat, beringsut pergi keluar taman.

“Wah kamu ini baru pergi sebentar sudah banyak menimbulkan masalah.” Sendaru menepuk pundak Jingga disebelahnya.
“Masalah apa? Aku kan sudah dikeluarkan dari Kadewaguruan meskipun aku tidak bersalah. Katanya ada orang yang ikut campur dalam pertandingan, tapi aku kan tidak memintanya ikut campur.”
“Ah kamu masih kecil, belum mengerti.” Sendaru mengusap rambut adiknya. “Kita makan dulu, aku sudah lapar. Kamu sudah makan?”
“Belum.”

* * * *

Pangeran Kebo Marcuet bersama Patih tengen mengumpulkan beberapa pimpinan Jagabela dan Jagalatri kepercayaannya. Mereka terlibat perbincangan serius, meski dengan nada pelan. Salah seorang telik sandinya melaporkan adanya pergerakan pasukan dari Kediri. Mereka mengadakan latihan di tapal batas.
“Pasukan dari kesatuan mana?”
“Pasukan khusus pimpinan Senopati Mahendra.”
“Hmm kelompok Wredamentri Ranggapane.”
“Ada laporan ditempat lain?”
“Sementara belum ada Gusti.”
“Bagaimana pengawasan tamu tamu kita?”
“Sudah kami atur. Kami tempatkan tenaga khusus.”
“Bagus, jangan sampai mereka curiga kita mengawasi.”
“Siap Pangeran.”
“Sudah memberitahu kalian apa rencana mereka selanjutnya?”
“Siap, mereka berencana meneruskan perjalanan ke Hutan Baluran. Mencari pusaka keramat untuk hadiah ulang tahun Mahapatih.”
“Ya itu aku tahu, rencana lainnya?”
“Maaf, hamba belum mendapat kabar.”
“Baiklah, kalian kembali ke tugas kalian masing masing, bila ada perkembangan penting, laporkan segera. Jangan membangunkan macan tidur.”
“Siap.”
Mereka menghaturkan hormat, pergi keluar taman, hilang ditelan gelap.
Malam semakin dingin. Bulan hampir bulat penuh. Bayang bayangnya terpantul oleh air kolam taman. Bunyi katak dan jangkrik semakin keras, sepertinya mereka tidak mengetahui peristiwa besar sedang menghadang Blambangan, ataukah mereka lebih mengerti namun manusia tidak dapat menangkap pembicaraan mereka.


* * * *
profile-picture
profile-picture
profile-picture
itkgid dan 8 lainnya memberi reputasi
Lihat 1 balasan
Quote:



Ane pernah mampir kuliah di Untag Banyuwangi gan, ngekos di belakang Mesjid Dahlan, jl.Adisucipto hehehe. Salken
g sabar baca lanjutannya
u
Halaman 1 dari 224


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di