alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a05edf3947868720e8b4569/gaet-generasi-digital-kubu-jokowi-prabowo-siap-adu-kreativitas
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
JAKARTA - Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto masih menempati urutan teratas elektabiltas calon presiden di kalangan generasi milenial. Hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) beberapa waktu lalu menunjukkan secara umum, elektabilitas Jokowi di kalangan generasi Z ini sebesar 33,3%, dan Prabowo 25%.

Persaingan keduanya juga terjadi di media sosial (medsos). Dilihat dari tingkat pemilihan capres berdasarkan kepemilikan akun media sosial, Jokowi mendapatkan suara terbanyak dari Facebook yaitu 30,6%, sedangkan Prabowo mendapat suara terbanyak dari Twitter, Path, dan Instagram yaitu di atas 20%.

Partai politik pendukung dua bakal capres ini sama-sama optimistis akan mampu memenangi suara kaum milenial menjelang Pemilu 2019 yang tersisa kurang dua tahun. Dua kubu siap adu kreativitas untuk merebut dukungan pemilih muda yang usianya 17-29 tahun tersebut.

Kubu Prabowo yakin saatnya nanti bisa mengungguli Jokowi setelah melihat luasnya dukungan pengguna media sosial, yakni di Twitter, Instagram, dan Path. Ketua DPP Partai Gerindra Moh Nizar Zahro mengatakan, sebagian kelompok milenial mulai mengerti bahwa apa yang ditampilkan oleh Prabowo Subianto adalah natural atau apa adanya.

Menurut dia, Prabowo jauh dari kesan pencitraan sehingga lebih unggul di kelas menengah atas yang banyak menggunakan Twitter. Gerindra akan terus mengawal agar dukungan kelompok milenial tersebut meningkat. Partainya sudah menyiapkan kader-kader yang khusus bergerak di media sosial untuk mengetahui kecenderungan dan aspirasi dari kalangan milenial. Dengan kreativitas yang diciptakan, diharapkan dukungan pemilih milenial akan semakin kuat.

"Dan saya yakin dengan pola seperti ini, yakni Pak Prabowo tampil apa adanya, maka kelompok milenial ini akan lebih mendukung Prabowo dan mengantarkannya jadi presiden pada 2019," ujar dia.

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno mengatakan, hasil survei soal elektabilitas capres di mata generasi milenial bisa naik-turun seiring berjalannya waktu. Namun, dia menilai popularitas dan elektabilitas Jokowi yang lebih tinggi ketimbang tokoh lain di media sosial menjadi bukti bahwa persepsi kalangan milenial dan masyarakat umum sangat positif. Jokowi di mata milenial lebih bisa mewakili mereka.

Menurut Hendrawan, PDIP tentu saja terus berupaya dalam segala aspek agar elektabilitas Jokowi bisa terus meningkat. Menjadi tugas partai pengusungnya, termasuk PDIP, untuk terus mendongkrak elektabilitas mantan gubernur DKI Jakarta tersebut. "Kita tunggu saja adu kreativitas dalam kontestasi (pemilu) pada April 2019 nanti,” ujar dia.

Kategori pemilih milenial pada survei CSIS ini yakni responden yang berusia 17-29 tahun yang mempunyai akses dan merasa nyaman terhadap media sosial. Dalam survei ini CSIS memilih 600 sampel secara multistage random sampling dari 34 provinsi di Indonesia. Responden generasi milenial adalah masyarakat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih dalam pemilu. Margin of error survei ini sebesar +/-4%. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka.
(amm)
https://nasional.sindonews.com/read/...tas-1510134519
========================

Bakalan ribet lagi dah.
Isu yang akan berkembang tak akan jauh dari Aseng, Asing, Liberalisme, Kapitalisme, Komunis. Itu buat Jokowi.
Buat Prabowo tak akan jauh dari soal Keturunan, Anak Pemberontak, Penculikan, Keluarga.

Fitnah nampaknya masih enggan untuk pergi dari bumi pertiwi.
Isu SARA pastinya akan punya tempat untuk dijual di Indonesia, dan selalu punya harga.
Ormas-ormas akan bergelimang uang untuk merapat dan memberi dukungan.

Siapapun nanti Presidennya, cukup sudah pertempuran di dunia maya yang menyita waktu dan pikiran.
Jangan lagi rakyat dijejali dengan isu-isu murahan dan tekanan-tekanan psikis yang membuat rakyat takut untuk memilih.
Bukan waktunya lagi menakuti dengan tak menshalatkan.
Jangan sampai lagi ada yang bersujud sebelum kemenangan benar-benar diraih.
Jangan lagi isu curang-curang didengungkan padahal bukti saja tidak ada.

Jakarta jadi barometer, betapa seorang pemimpin itu dilihat dari track recordnya, dari bukti kerjanya, bukan kata-kata manis yang membuai.
Bahwa memilih pemimpin di pemerintahan bukanlah memilih pemimpin agama.

Cukup Jakarta yang mempunyai Duo pelawak, jangan sampai Indonesia mempunyai Duo pelawak.
Biar saja urusan melawak kita serahkan pada Cak Lontong atau Komeng.

Semoga kedepan, semua yang hanya menjadi angan-angan, akan terwujud, dan itu bermula dari Jakarta.
Cuma Jakarta, dimana pejalan kaki dipersalahkan karena kesemrawutan trotoar.
Cuma Jakarta, dimana ojek terbang dipacu untuk memobilisasi perpindahan masyarakat.
Cuma Jakarta, dimana kue lapis mempunyai saingan.
Cuma Jakarta, dimana pembuangan air vertikal akan menjadi solusi jitu untuk membuang air dari Bogor.
Cuma Jakarta, dimana Pemdanya takut membongkar rumah diatas kali dan memakan bantaran sungai.
Cuma Jakarta, dimana PPSU diminta untuk mengeruk kali secara manual.
Cuma Jakarta, dimana pajak halal diinginkan, tapi pabrik bir yang menjadi pemasukan kas DKI jadi halal.
Cuma Jakarta, dimana tanah pemda digugat triliunan, dan pimpinannya tersenyum tanpa kasasi.
Cuma Jakarta, dimana tanah pemda yang diserobot warga justru akan diberikan secara cuma-cuma.
Cuma Jakarta, dimana Wakil Gubernur mengaku Kepala Negara.
Cuma Jakarta, dimana Ormas diberi tempat untuk mengadakan acara di Kantor Walikota.
Cuma Jakarta, dimana Ormas bisa meminta tempat di Balai Kota.
Cuma Jakarta, dimana tak ada preman di sebuah kawasan perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara.
Cuma Jakarta, dimana sekarang ini bukan kerja yang jadi patokan, tapi bagaimana bisa menjilat pemimpin baru.
Cuma Jakarta, dimana kontribusi 15% buat rakyat digugat wakil rakyat.
Cuma Jakarta, tak ada di wilayah lain.
Dan itu adalah hasil dari fitnah, tekanan psikis, intimidasi, dan pemutarbalikan fakta.

Maukah itu terjadi di Indonesia?
Semua berpulang kepada anda.
Mau ngomel dibawah aja.
Quote:Original Posted By n4z1
Mau ngomel dibawah aja.


Ane kaga mau ngomel.. cuma mo nanya.. ngomong2 komeng kok ga pernah nongol lagi ya?

Tambahan untuk wowo..

Mantu suharto.. you know what I mean..
Quote:Original Posted By khayalan


Ane kaga mau ngomel.. cuma mo nanya.. ngomong2 komeng kok ga pernah nongol lagi ya?


Kadang2 suka mangkal di acara Comic Academi.
Tapi ya garing gitu lawakannya, gak berbobot kayak Cak Lontong.

Tapi sekarang Cak Lontong aja kalah sama Duo Badut di DKI Jakarta.
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Sayangnya generasi digital cenderung prakmatis dalam melihat suatu hal tanpa mau mencari fakta dan kebenaran, jadi si oknum tinggal goreng isu aja sampe jadi isu publik, siapa yang paling sering menggoreng dialah yang bakalan makan besar emoticon-Angkat Beer
"Adu kreatifitas......"


Di sini ane ngerasa ngeri dgn yg sudah2.....kreatifitas nasbung di luar batas ketuhanan emoticon-Takut


jadi merinding bacanya ni buat 2019

isu apa lagi yah nanti ?

emoticon-Takut emoticon-Takut
Nasbung malu hati masuk ke trit ini. emoticon-Big Grin
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
1 masuk, die lagi die lagi. emoticon-Big Grin
Mentok gak berani komen.
Nasbung khuontol ndlesep ora wani komentar
Kreativitas apa nih, buat meme untuk saling bully lawan politik ato korek semua kesalahan lawan dan keluarganya?
paling juga adu meme kaya yang udah udah hahahahah emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka emoticon-Wakaka
jasmev versus sarasen dimulai.
monggo!!
Saracen vs Jasmev kah?
Menurut gw menang Saracen.
Jasmev kan ancemannya cuma anti kebhinnekaan dan NKRI.
Saracen punya senjata anti islam, pk1, kopar kapir, menlen, asing aseng dan bangke gak disolatin.
emoticon-Cool
Quote:Original Posted By n4z1
Nasbung malu hati masuk ke trit ini. emoticon-Big Grin


Dibawah agan ada nasbung IQ jongkok tuh.
leh uga
perang dunia maya
keyboard warrior
bnyk sebutannya

awal yg satu mulai mengintimidasi
yg lain ga terima ngikut mengintimidasi balik
jadinya masing2 punya kubu
nastak nasbung selalu hidup
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Quote:Original Posted By n4z1
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
JAKARTA - Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto masih menempati urutan teratas elektabiltas calon presiden di kalangan generasi milenial. Hasil survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) beberapa waktu lalu menunjukkan secara umum, elektabilitas Jokowi di kalangan generasi Z ini sebesar 33,3%, dan Prabowo 25%.

Persaingan keduanya juga terjadi di media sosial (medsos). Dilihat dari tingkat pemilihan capres berdasarkan kepemilikan akun media sosial, Jokowi mendapatkan suara terbanyak dari Facebook yaitu 30,6%, sedangkan Prabowo mendapat suara terbanyak dari Twitter, Path, dan Instagram yaitu di atas 20%.

Partai politik pendukung dua bakal capres ini sama-sama optimistis akan mampu memenangi suara kaum milenial menjelang Pemilu 2019 yang tersisa kurang dua tahun. Dua kubu siap adu kreativitas untuk merebut dukungan pemilih muda yang usianya 17-29 tahun tersebut.

Kubu Prabowo yakin saatnya nanti bisa mengungguli Jokowi setelah melihat luasnya dukungan pengguna media sosial, yakni di Twitter, Instagram, dan Path. Ketua DPP Partai Gerindra Moh Nizar Zahro mengatakan, sebagian kelompok milenial mulai mengerti bahwa apa yang ditampilkan oleh Prabowo Subianto adalah natural atau apa adanya.

Menurut dia, Prabowo jauh dari kesan pencitraan sehingga lebih unggul di kelas menengah atas yang banyak menggunakan Twitter. Gerindra akan terus mengawal agar dukungan kelompok milenial tersebut meningkat. Partainya sudah menyiapkan kader-kader yang khusus bergerak di media sosial untuk mengetahui kecenderungan dan aspirasi dari kalangan milenial. Dengan kreativitas yang diciptakan, diharapkan dukungan pemilih milenial akan semakin kuat.

"Dan saya yakin dengan pola seperti ini, yakni Pak Prabowo tampil apa adanya, maka kelompok milenial ini akan lebih mendukung Prabowo dan mengantarkannya jadi presiden pada 2019," ujar dia.

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno mengatakan, hasil survei soal elektabilitas capres di mata generasi milenial bisa naik-turun seiring berjalannya waktu. Namun, dia menilai popularitas dan elektabilitas Jokowi yang lebih tinggi ketimbang tokoh lain di media sosial menjadi bukti bahwa persepsi kalangan milenial dan masyarakat umum sangat positif. Jokowi di mata milenial lebih bisa mewakili mereka.

Menurut Hendrawan, PDIP tentu saja terus berupaya dalam segala aspek agar elektabilitas Jokowi bisa terus meningkat. Menjadi tugas partai pengusungnya, termasuk PDIP, untuk terus mendongkrak elektabilitas mantan gubernur DKI Jakarta tersebut. "Kita tunggu saja adu kreativitas dalam kontestasi (pemilu) pada April 2019 nanti,” ujar dia.

Kategori pemilih milenial pada survei CSIS ini yakni responden yang berusia 17-29 tahun yang mempunyai akses dan merasa nyaman terhadap media sosial. Dalam survei ini CSIS memilih 600 sampel secara multistage random sampling dari 34 provinsi di Indonesia. Responden generasi milenial adalah masyarakat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih dalam pemilu. Margin of error survei ini sebesar +/-4%. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka.
(amm)
https://nasional.sindonews.com/read/...tas-1510134519
========================

Bakalan ribet lagi dah.
Isu yang akan berkembang tak akan jauh dari Aseng, Asing, Liberalisme, Kapitalisme, Komunis. Itu buat Jokowi.
Buat Prabowo tak akan jauh dari soal Keturunan, Anak Pemberontak, Penculikan, Keluarga.

Fitnah nampaknya masih enggan untuk pergi dari bumi pertiwi.
Isu SARA pastinya akan punya tempat untuk dijual di Indonesia, dan selalu punya harga.
Ormas-ormas akan bergelimang uang untuk merapat dan memberi dukungan.

Siapapun nanti Presidennya, cukup sudah pertempuran di dunia maya yang menyita waktu dan pikiran.
Jangan lagi rakyat dijejali dengan isu-isu murahan dan tekanan-tekanan psikis yang membuat rakyat takut untuk memilih.
Bukan waktunya lagi menakuti dengan tak menshalatkan.
Jangan sampai lagi ada yang bersujud sebelum kemenangan benar-benar diraih.
Jangan lagi isu curang-curang didengungkan padahal bukti saja tidak ada.

Jakarta jadi barometer, betapa seorang pemimpin itu dilihat dari track recordnya, dari bukti kerjanya, bukan kata-kata manis yang membuai.
Bahwa memilih pemimpin di pemerintahan bukanlah memilih pemimpin agama.

Cukup Jakarta yang mempunyai Duo pelawak, jangan sampai Indonesia mempunyai Duo pelawak.
Biar saja urusan melawak kita serahkan pada Cak Lontong atau Komeng.

Semoga kedepan, semua yang hanya menjadi angan-angan, akan terwujud, dan itu bermula dari Jakarta.
Cuma Jakarta, dimana pejalan kaki dipersalahkan karena kesemrawutan trotoar.
Cuma Jakarta, dimana ojek terbang dipacu untuk memobilisasi perpindahan masyarakat.
Cuma Jakarta, dimana kue lapis mempunyai saingan.
Cuma Jakarta, dimana pembuangan air vertikal akan menjadi solusi jitu untuk membuang air dari Bogor.
Cuma Jakarta, dimana Pemdanya takut membongkar rumah diatas kali dan memakan bantaran sungai.
Cuma Jakarta, dimana PPSU diminta untuk mengeruk kali secara manual.
Cuma Jakarta, dimana pajak halal diinginkan, tapi pabrik bir yang menjadi pemasukan kas DKI jadi halal.
Cuma Jakarta, dimana tanah pemda digugat triliunan, dan pimpinannya tersenyum tanpa kasasi.
Cuma Jakarta, dimana tanah pemda yang diserobot warga justru akan diberikan secara cuma-cuma.
Cuma Jakarta, dimana Wakil Gubernur mengaku Kepala Negara.
Cuma Jakarta, dimana Ormas diberi tempat untuk mengadakan acara di Kantor Walikota.
Cuma Jakarta, dimana Ormas bisa meminta tempat di Balai Kota.
Cuma Jakarta, dimana tak ada preman di sebuah kawasan perbelanjaan terbesar di Asia Tenggara.
Cuma Jakarta, dimana sekarang ini bukan kerja yang jadi patokan, tapi bagaimana bisa menjilat pemimpin baru.
Cuma Jakarta, dimana kontribusi 15% buat rakyat digugat wakil rakyat.
Cuma Jakarta, tak ada di wilayah lain.
Dan itu adalah hasil dari fitnah, tekanan psikis, intimidasi, dan pemutarbalikan fakta.

Maukah itu terjadi di Indonesia?
Semua berpulang kepada anda.


kubu prb mau ngapain?
Quote:Original Posted By andika.1stravel
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas
Gaet Generasi Digital, Kubu Jokowi-Prabowo Siap Adu Kreativitas


emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga emoticon-Leh Uga