alexa-tracking

Emir Moeis Ajukan Uji Materi Soal Saksi dan Keaslian Dokumen

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ba2959529a452f538b4569/emir-moeis-ajukan-uji-materi-soal-saksi-dan-keaslian-dokumen
Emir Moeis Ajukan Uji Materi Soal Saksi dan Keaslian Dokumen
Emir Moeis Ajukan Uji Materi Soal Saksi dan Keaslian Dokumen

Proses peradilan Emir Moeis penuh keganjilan. Saksi yang memberatkan dan merupakan saksi fakta kunci tak pernah dihadirkan di persidangan. Bukti yang memberatkan hanya dokumen dalam bentuk fotokopi, yang tak pernah diperlihatkan pula aslinya. Pada Kamis ini, 14 September 2017, Emir akan mengajukan uji materi mengenai pasal yang berkenaan dengan ketidakhadiran saksi dan keaslian dokumen. Tujuannya: agar tidak ada lagi orang Indonesia yang menjadi korban sistem peradilan seperti yang ia alami.


Kasus yang menimpa mantan Ketua Komisi XI DPR Emir Moeis bisa dijadikan contoh bagaimana wajah hukum di negara ini. Emir direnggut kebebasannya sebagai manusia merdeka selama 3 tahun karena Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi Jakarta memutuskan dia bersalah. Padahal, satu-satunya yang memberatkan Emir dalam dakwaan adalah suatu dokumen yang hanya berupa fotokopian dan tidak ditemukan diperlihatkan aslinya sampai sekarang. Satu-satunya saksi fakta kunci pun, Pirooz Sharafi namanya, tak pernah dihadirkan dalam persidangan.

Namun, persidangan sudah berjalan, meski harkat dan martabat Emir—dan juga keluarganya—sebagai seorang manusia telah dinistakan. Emir juga telah menjalani hari-hari yang sangat berat dan panjang di balik sel penjara.

Emir tak ingin ada orang yang mengalami nasib buruk seperti dirinya, dinyatakan bersalah dan dijebloskan ke penjara tanpa kehadiran saksi fakta utama di persidangan. Juga tak ada dokumen asli otentik yang merupakan bukti yang memberatkan terdakwa.

“Biarlah saya dan keluarga saya saja yang menanggung penderitaan akibat sistem peradilan yang seperti itu. Sekarang, saya bukan ingin menuntut keadilan, karena saya sudah dihukum dan sudah menjalani. Tapi, saya ingin mengungkapkan kebenaran. Bangsa Indonesia harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan diri saya dalam kasus PLTU Tarahan, Lampung, dan bagaimana peradilan terhadap diri saya berlangsung. Sebagai warga negara, saya berkewajiban untuk mencegah agar tak ada lagi korban akibat lemahnya sistem peradilan kita. Itu sebabnya, saya datang ke Mahkamah Konstitusi untuk mengajukan uji materi soal saksi dan keaslian dokumen,” ungkap Emir.

Pada 27 Juli 2016 lalu, Emir juga mendatangi Bareskrim Polri di Jakarta, untuk mempertanyakan kasus dokumen palsu yang digunakan dalam persidangannya. Menurut Emir, Pirooz Sharafi menunjukkan dokumen kontrak kerja sama antara Pacific Resources Incorporated (PRI) dengan PT Anugrah Nusantara Utama (ANU). Dokumen itulah yang dianggap sebagai bukti bahwa Emir membantu pemenangan Alsthom.

“Saat pemeriksaan saksi atas Juliansyah Putra Zulkarnain, kepada penyidik telah disampaikan bahwa dokumen tersebut palsu. Paraf Juliansyah di atas 5 lembar dokumen—dari 6 lembar yang ada—dipalsukan. Halaman 1 sampai dengan halaman 5 diubah isinya oleh Pirooz,” ujar Emir.

Dokumen itu aslinya berisikan kerja sama di bidang batubara, tapi kemudian diubah menjadi bantuan teknis untuk pemenangan proyek PLTU Tarahan oleh Alsthom. Pada Maret 2015, Juliansyah mengadukan kasus pemalsuan tandatangan itu ke Bareskrim Polri. Dan, Bareskrim menyatakan paraf tersebut memang berbeda.

Bareskrim lalu meminta dokumen asli, namun Juliansyah hanya punya fotokopinya, yang sudah dilegalisasi oleh KBRI di Washington, Amerika Serikat. Bareskrim pun menyurati Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Jawaban dari KPK, KPK juga hanya punya fotokopinya. Menurut pihak KPK, dokumen aslinya ada di Amerika Serikat. Jadi, saya diadili dengan bukti fotokopi dokumen saja,” kata Emir.

Satu-satunya saksi memberatkan dalam kasus ini, Pirooz Sharafi, telah dipanggil Polri untuk mempertanggungjawabkan pemalsuan dan kebohongannya. Namun sebagaimana yang terjadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Pirooz tidak mau datang dan baik KPK maupun pihak Pengadilan Tipikor Jakarta tidak dapat berbuat apa-apa.

“Padahal, oleh Pirooz, kasus ini juga telah dijadikan ajang pencucian uang. Dana yang diinveskan dia untuk mendirikan stasiun pengisian Elpiji di Bali dikatakan sebagai hadiah untuk Emir yang membantu pemenangan,” ujar Emir lagi. Kenyataannya, tambahnya, Pirooz Sharafi hingga hari ini masih tetap memiliki pabrik tersebut, yang seharusnya saham pemilikannya disita.

“Sebagai orang asing, ia mengunakam trustee sebagai pemilik saham-sahamnya di Indonesia, yaitu PT Pacific Resources Inc. for Indonesia, yang beralamat di Jalan Hang Tuah , Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Bukti-bukti sudah saya serahkan ke Bareskrim,” kata Emir.

Pada 14 April 2014, Ketua Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Matheus Samiadji memvonis Izedrik Emir Moeis dengan hukuman 3 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan penjara. Majelis hakim menilai Emir terbukti secara sah dan meyakinkan menerima hadiah atau janji (gratifikasi) terkait kasus dugaan suap PLTU Tarahan, Lampung Selatan, tahun 2004. Emir juga dinilai terbukti menerima suap berupa uang sebesar US$ 357 ribu dari Alstom Power Incorporated asal Amerika Serikat.

“Saya bertanya, apakah adil bilamana seorang anak bangsa yang terhormat dikorbankan, dipidanakan, dan dihukum atas dasar kesaksian sepihak seorang asing tanpa menghadirkannya? Di mana letak pembelaan negara terhadap warga negaranya? Seperti dalam pledoi, saya katakan ini akan menjadi catatan sejarah buruk sistem peradilan kita,” tutur Emir. []
kok jadi yusril pembelanya?

emoticon-Cape d...