alexa-tracking
Kategori
Kategori
Pengumuman! Mau dimodalin 25 Juta untuk acara komunitas? Ceritain aja tentang komunitas lo di sini!
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Sri Mulyani Telah Kaji Soal Daya Beli Lesu, Ini Hasilnya
4.38 stars - based on 8 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59ad827a96bde606328b4569/sri-mulyani-telah-kaji-soal-daya-beli-lesu-ini-hasilnya

Sri Mulyani Telah Kaji Soal Daya Beli Lesu, Ini Hasilnya

Tampilkan isi Thread
Halaman 14 dari 14
Quote:


wedew ... berarti jakarta kalah donk secara mangga dua yg terkenal aja tokonya tutup atu atu, lha ini malah sepropinsi naik semua .... hebat euy ...emoticon-Malu
Ada satu hal yang ga di pahamin nastaik...

Mereka selalu berpatokan bahwa pertumbuhan penjualan masih positif, artinya daya beli masih tinggi..

Tapi mereka ga paham bahwa bagi penguasaha patokan pertumbuhan penjualan aja ga cukup.. Mereka juga membandingkan dengan kenaikan tahun2 sebelumnya..

Kalo lebih rendah, maka bisa di anggap daya beli sedang lesu.. Karena apa? Karena setiap tahun, mayoritas penduduk RI dari kelas menengah merupakan pegawai perusahaan yang mengalami kenaikan gaji/ pendapatan di rentang 5-10%.. Artinya harusnya konsumsi mereka pun ikut naik dari tahun2 sebelumnya karena pendapatan mereka naik.. emoticon-Cape deeehh
Diubah oleh filusufkacang
Quote:


maklum dia kan lulusan sekolah perpajakan di amrik sono jadi yg ada di otak dia cuma pajak doangemoticon-Ngakak (S)
sektor pendapatan negara dari hal lain dia ga tau mungkin dan ga bisa dia kelolaemoticon-Ngakak (S)
Quote:


jatim naik semua saya kurang tau, tapi kalau kondisi perekonomian lebih lumayan dibanding yang lain, sepertinya iya. Jakarta mungkin mengalami penurunan ekonomi lumayan banyak, sedang jawa timur cenderung stabil meski ada penurunan (entah statistiknya bagaimana). 2012 terakhir saya ke jakarta, ke glodok beberapa kali untuk beli kabel, sepi. Ke mangga dua untuk antar ibu2 dari luar jakarta belanja, ya gak serame yang saya perkirakan. Ke grand indonesia, taman anggrek dan emporium mall tetep rame. Saat itu sepertinya orang jakarta lebih pilih mall modern daripada tempat belanja yang lama2. Sepertinya hanya orang luar jakarta yang ingin jalan2 ke mangga dua. Sekarang jaman belanja online, yang glodok dan mangga dua sepertinya tambah kalah bersaing. Tapi itu pengamatan saya cuma seminggu di jakarta tahun 2012.
Apalagi kondisi jakarta dan sekitarnya yang banyak demo setahun terakhir dibandingkan jatim yang jauh lebih kondusif sehingga sepertinya ekonomi lebih lancar. Dulu orang luar jakarta beli barang grosir ke perusahaan2 di jakarta, sekarang sepertinya orang2 luar jakarta bisa impor sendiri, di jakarta cuma untuk lewat pelabuhannya saja. Waktu remaja, saya kadang diajak ke tanah abang oleh famili untuk belanja barang2 secara partai, tapi 5-10 tahun terakhir famili saya itu impor sendiri dari RRC.
Quote:


Ya nggak heran ... soalnya ajaran disana kan emang nekanin di teori.
Makanya banyak jurnal yang dibikin bukan berdasarkan keadaan pasar yang sebenarnya, tapi justru berlandaskan teori dengan asumsi dimana semua pemain pasar itu orang2 'pintar' alias berpendidikan tinggi.
Quote:


terserah eloe dech gan, masih menganggap daya beli masyarakat naik dilihat dari pembelian mobil dan properti saja, banyak faktor gan dan bukan hanya mobil dan properti yg dijadikan acuan saja gan.janga naif gam berusahalah lihat ke sekililing agan, usaha saya saja terus terang gan sepii, dan kalau benar jawa timur daya beli masyarakat naik secara signifikan boleh jadi acuan tuch saya pindah ke surabaya untuk betdagang di sana ...
Quote:


kalo dia pake teori gitu dalam menerapkan kebijakan dia maka dia salah besar hahaha. dia pikir mungkin semua orang yang impor itu punya duit gede semua jadi dipaksa harus urus jalur resmi semua dengan segala bea masuk dan segala biaya perijinan tetek bengeknya
Quote:


apa saya pernah berkata daya beli naik? Saya kan berkata kalau sekarang orang2 mulai berani lagi dalam pengeluaran, wisata dan jalan2 ke mall (untuk yang menengah), properti dan mobil (untuk yang kaya) . Menurut saya ini indikasi untuk mulai pulih ekonominya. Sebelumnya kan orang2 takut mengeluarkan uang karena listrik (untuk yang menengah) dan pajak (untuk orang kaya).
Saya tidak pernah berkata ekonomi jawa timur naik, tapi lebih lumayan kondisinya dibanding yang lain. Sepertinya penurunannya tidak banyak, cenderung stabil.
Coba baca lagi.
Saya cuma ingin memberikan sedikit harapan, beberapa orang bisa bertahan di tengah ekonomi seperti ini.
Ada yang berhasil menemukan ceruk pasar berdasarkan hobinya : fashion berbau militer.
Ada yang melihat ceruk pasar tidak berdasar hobi : penjual buah sortiran/sisa ekspor/impor. Laris karena harganya murah. Dulu jualan pakai sepeda motor jelek, dalam beberapa bulan bisa beli motor roda 3 untuk jualan.
Ada yang kejatuhan keberuntungan : pemilik pabrik garmen tiba2 kewalahan memenuhi permintaan karena impor pakaian dipersulit.
Nanti mau hampir deket2 pemilu pilpres biasanya masalah ekonomi nasional baik itu daya beli maupun tingkat pertumbuhan ekonomi ikut membaik.
Quote:


kalau ekonomi jawa timur menurut agan baik dilihat dari indikasi banyaknya yg beli mobil baru, dan properti begitu maksud agan khan ? terus ketakutan orang banyak hanya karena listrik naik dan pajak, itu kenaifan agan, banyak indikator gan yg mempengaruhi daya beli masyarakat ... ahh sudahlah males ngejelasin ama orang yg di lingkungan sekitarnya terlihat maju, padahal lingkungan keseluruhan cenderung lesu dan berusaha untuk diingkari oleh orang orang yg salah satunya agan ini ...
Quote:

peningkatan pengeluaran masyarakat (mulai cari properti, beli mobil, wisata di dalam negeri, jalan2 di mall) salah satu indikator ekonomi mulai pulih.
Ya kira2 setahun ini pajak yang banyak dikeluhkan orang kaya2 yang saya kenal. takut keluar uang besar, nanti ditanya petugas pajak "uangnya dari mana?". Saya dinasehati beberapa orang kaya "jangan keluar uang dulu sampai tau nanti pajaknya bagaimana terhadap pengeluaran dan mengintip rekening"
kalau kelas menengah yang saya kenal, 3-4 bulan terakhir mengeluhnya soal bengkaknya tagihan listrik sehingga pas sabtu minggu tidak lagi ke mall dan ke tempat wisata.
Mungkin agan tau indikator yang lain, tapi indikator yang saya tau menunjukkan mulai ada sedikit pemulihan. Ibaratnya pemulihan ekonomi butuh ganti oli 1 liter, mulai berani konsumsi itu ibarat oli 0,1 liter. Butuh 0,9 liter lagi tapi paling tidak roda ekonomi sedikit bergerak.
sekarang yang ane tau, barang-barang tambah mahal, bahkan perlengkapan hajatan seperti dus nasi, sendok plastik udah naik sekitar 10%-20%. karena harganya murah jadi ga terlalu terasa. tapi kalo dipersenin lumayan banyak kan..

toko besi tempat adek ane kerja, katanya hari ini jual paku 12000/kg, besok modalnya aja udah 12.000. hari ini jual besi 14.000 besok modalnya aja udah 17.000. harga naik terus setiap hari. toko bangunan di kota ane udah banyak yang tutup dan karyawannya pada lari ke tempat adek ane kerja. walaupun masih rame, tapi omset udah turun 50% dibandingin dlu. padahal udah terlanjur ikut tax amnesty laporin omset taun lalu, tapi dengan omset taun sekarang yang turun drastis, pajak tetap sama.

ane sendiri dlu kalo mampir ke indomaret buat pake atm, pulang bawa jajanan dari indomaret. sekarang males deh, ngirit duit daripada belanja yang ga perlu. bukan karena terpengaruh isu ekonomi meroket, tapi entah kenapa suara hati ane pengennya ngirit.emoticon-Malu
Quote:


NGAKAK ABIS GUE LIHAT FOTO ORANG SATU INI...HAHAAHAHAH
Quote:


muka idiot planga-plongo gini ga pantas dipilih lagi
gue dulu nyoblos dia dan pengagumnya tapi ternyata sekarang keliatan parahnya dia, selama 2015-2016 blunder2nya dimaklumin tapi sekarang ga lagi deh. salam 1 periode aja

Quote:


Percuma jelasin panjang lebar sama orang retard..
intinya sih gini,
pajek disedot dari semua aspek, impor disusahin, hampir semua harga2 naik.

orang miskin makin miskin, orang menengah dan kaya masih survive.. (hasil inves, deposito, tabungab dll)

efeknya apa ?
semua usaha yg berhubungan langsung sama orang menengah ke bawah, collapse.
(misal pakaian, ritel makanan dll)

untuk pangsa atas masih baik
karena golongan ini masih punya uang banyak.. gaya hidup bakal terus jalan.. (starbuk dll)

dan segelintir pihak2 yang punya hubungan sama pemerintah masih hepi2 lah (sub kontraktor, kontraktor) yang berhubungan sama bangun2 infrastruktur.. pegawai pns gaji naek terus, dana partai naik 10x lipat..

kita2 orang swasta yang ga ada hubungan sama pemerintah yang habis2an
hahaha...
gmna nih proyek yg dulu di gadang2 jokowi saat debat,yg katanya mau buat kawasan industri?
Quote:


nah itu yg baerusaha ane jelasin ama agan satu itu gan ... kayaknya dia salah satu orang yg deket ama pemerintahan gan emoticon-Malu
Daya beli....
Aku golongan karyawan. Lalu aku malah berhenti nabung skrg gara2 kebijakan bodoh impor. Aku habiskan tabungan buat keperluan yg berkaitan dg impor karena takut harga naik lalu ga bisa beli lagi. Aku ga suka SMI dan Jokowi skrg. Lalu capres lain ga ada yg bener. Rasanya Jokowi bakal 2 periode, otomatis SMI bakal lama jadi mentri. Jadinya aku belanja besar2an, bukan berarti Daya beli meningkat. Demi belanja besar itu, justru aku kurangi keperluan pokok karena ada deadlines(saat barang yg masih harga normal habis)😨😨😨
ane ngalamin sdiri...

listrik 900wat di rumah,, naek 150%...

dulu tia bulan bayar 120rb - 150rb..

bgitu subsidi listrik di cabut.. tarif listrik jd 280rb - 320rb...

dari kenaikan itu,, ngurangin uang jajan dan ngurangin belanja bulan an..

klo di minimarket,, beli yg urgent2 aja... and sesuai kebutuhan...

bisa jadi,, rmh tangga yg laen.. juga ngalamin efek kenaikan listrik 900watt...

Quote:


bener gan.. ane ngalamin sdiri,, tarif listrik 900wat subsidi nya di cabut...

dulu msh bisa nabung 300rb-500rb/bulan...

sekarang, krn inflasi naek nya sembako and tarif listrik,, banyak berkurang untuk menabung tiap bulan nya...

Quote:


sama kyk ane gan... klo pas ke minimarket hny beli kebutuhan yg urgent aja..

mo beli snack and minuman... mikir dulu and musti ngirit untuk kebutuhan pokok nanti

Diubah oleh mckagan07
Halaman 14 dari 14


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di