alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/598cc14ca2c06e7d068b4567/event-sejarah-peci-lebih-dari-sekedar-penutup-kepala
icon-hot-thread
[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Salam hormat untuk kaskuser pada umumnya serta untuk momod dan panitia pada khususnya emoticon-Nyepi
Sejarah adalah pondasi masa sekarang, ketika kita membaca buku sejarah Indonesia pada masa pergerakan melawan penjajahan imperialisme, banyak terlihat para pejuang bangsa semisal Soekarno, Sutan Sjahrir, Moh. Hatta selalu menggunakan peci hitam yang memang begitu khas. Sepertinya Peci menjadi hal yang mewakili kebangsaan atau nasionalisme bangsa Indonesia saat itu. Selain itu, peci adalah bagian khas cara berpakaian sebagian umat muslim di Indonesia. Sebagai penutup kepala, Peci adalah sunnah nabi dan mereka meyakini bahwa menggunakan penutup kepala berarti mereka mencintai nabinya. Mereka berpendapat kebiasaan menelanjangi kepala, tanpa peci atau surban adalah kebiasaan orang di luar Islam. Dalam sebuah hadist diriwayatkan bahwa “Amr bin Huroits radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa, Nabi Shallallahu‘alaihi Wasallam pernah berkhutbah, sedang beliau memakai surban hitam” (HR Muslim dan Abu Dawud).
Tentu kita sudah terbiasa melihat kaum muslim mengenakan peci dalam melaksanakan shalat atau ibadah keagamaan lainnya. Tak hanya itu di televisi kita sering menyaksikan para pejabat mengenakan penutup kepala jenis ini di setiap event penting yang mereka jalani, seperti saat rapat kabinet, sidang parlemen, menerima tamu negara bahkan ketika upacara bendera HUT kemerdekaan RI dengan gagahnya mereka memakai peci sebagai aksesoris wajib. Peci dikenakan sebagai pelengkap busana jas, kemeja, dan dasi. Sebenarnya apa pentingnya makna peci bagi kita? Dari mana asal peci? Apakah peci untuk kaum muslim saja? Bagaimana bisa sejarah bangsa terukir karena peci?


[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Sejarah Awal Peci
Quote:Sebenarnya peci yang kita pakai ini berasal dari mana sih, apakah benar peci berasal dari Indonesia? Ternyata bukan, peci sendiri berasal dari Turki, di Turki topi Fez ini juga dikenal dengan nama ‘fezzi’ atau ‘phecy’ atau kalau lidah orang Indonesia menyebutnya dengan Peci. Jika dirunut ke belakang, topi Fez ini berasal dari budaya Yunani Kuno dan diteruskan oleh budaya Yunani Byzantium.

Spoiler for Fezzi:


Ketika Turki Ottoman mengalahkan Yunani Byzantium (Anatolia) maka Turki Ottoman mengadopsi budaya penggunaan topi fez ini terutama ketika pemerintahan Sultan Mahmud Khan II (1808-1839). Peci yang dibawa dari Turki membawa pengaruh budaya yang besar apalagi di Asia Tenggara sendiri, beberapa negara juga mengenal peci seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Di Thailand peci disebut songkok. Lain halnya dengan di Mesir, Peci disebut tarboosh dan di Asia Selatan (India dan sekitarnya) disebut Romap Cap/Rumi Cap yang artinya Topi Romawi. Namun, ada yang mengatakan bahwa Peci hasil modifikasi dari sorban Arab dengan blangkon dari Jawa. Peci sendiri mulai menyebar di rumpun Melayu pada abad XIII, seiring dengan perkembangan Islam di Nusantara.

Menurut Petrik Matanasi dalam artikelnya "Filosofi Peci" peci atau kopiah boleh jadi berdekatan dengan baret yang disebut kepi dalam bahasa Perancis. Bentuk kepi yang biasa dipakai militer Perancis agak mirip dengan kopiah yang kita kenal di Indonesia. Bedanya lebih bulat dan ada semacam kanopi di bagian depannya yang mirip topi. Sementara itu, istilah songkok, mengacu dari bahasa melayu dan Bugis. Di beberapa daerah di Indonesia dengan pengaruh Melayu dan Bugis, menyebut peci sebagai Songkok. Demikian pula di Malaysia dan Brunei.

Spoiler for Kepi di militer Perancis:


Menurut Rozan Yunos, dalam artikelnya The Origin of the Songkok or Kopiah di The Brunei Times (23/09/2007), peci diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam. Rozan juga menyebut beberapa ahli berpendapat di Kepulauan Malaya peci atau kopiah ini sudah dipakai pada abad XIII. Setelah dipopulerkan para pedagang Arab itu, baru orang Malaysia, Indonesia dan Brunei mengikutinya.

Sebelum ada peci, laki-laki di Indonesia terbiasa menutup kepala dengan ikat kepala. Tanpa tutup kepala, seorang laki-laki dianggap tak jauh beda dengan orang telanjang. Tutup kepala adalah bagian dari kesopanan.

Lalu, sejak kapan peci dikenal di Indonesia? Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid III diterangkan kalau peci sesungguhnya sudah dikenal di daerah Giri pada abad XV. Konon, pada 1486 sampai 1500 Raja Ternate, Zainal Abidin, berguru ilmu agama ke Giri, yang saat itu merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa. Sekembalinya ke Ternate, Zainal Abidin membawa peci sebagai kenang-kenangan. Hendri F. Isnaeni dalam artikelnya "Nasionalisme Peci" menambahkan bahwa peci dari Giri dianggap magis dan sangat dihormati serta ditukar dengan rempah-rempah, terutama cengkeh. Masyarakat Bone, Sulawesi Selatan juga sudah mengenal penutup kepala semacam peci sejak lama. Mereka mengenalnya dengan sebutan recca. Recca digunakan oleh pasukan Kerajaan Bone saat mereka berperang melawan pasukan Tortor pada 1683. Recca yang terbuat dari serat pelepah daun lontar itu digunakan sebagai identitas pasukan kerajaan. Zaman dahulu, ketika Raja Bone dijabat La Pawawoi lalu Andi Mappanyuki, Songkok Recca atau peci Bugis ini hanya dikenakan kain bangsawan. Sebuah foto zaman kolonial, memperlhatkan Raja La Pawawoi tengah mengenakan songkok ketika ditangkap pada 1905. Sementara lukisan diri Andi Mappanyuki pun memperlihatkan sosoknya tengah mengenakan songkok. Namun, dalam perkembangannya songkok tidak hanya digunakan oleh kalangan Raja Bone, tetapi juga rakyat biasa. Peci Bugis saat ini jadi bagian dari pakaian daerah Sulawesi Selatan.

Spoiler for Peci:


Peci mulai populer dipakai di Indonesia setelah kain mudah diperoleh. Pemakainya pun beragam mulai yang berbaju resmi sampai yang bercelana pendek. Penggunanya pun bukan hanya dari kalangan berada, tetapi juga rakyat jelata. Peci biasanya terbuat dari kain beludru yang diberi rangka plastik padat agar tegak. Peci yang beredar di Indonesia umumnya berwarna hitam.

Quote:
youtube-thumbnail

[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Bukan Hanya Untuk Kaum Muslim
Quote:Banyak yang beranggapan peci identik dengan Islam tak terkecuali di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umumkah? Adalah hal biasa ketika banyak tokoh Islam berfoto dalam keadaan berpeci. Tak ketinggalan juga jamaah-jamaahnya pun memakai peci. Sejak abad XIII peci sudah diperkenalkan kepada orang Islam di Indonesia oleh pedagang-pedagang Arab. Baru pada awal abad XX orang Islam di Indonesia beramai-ramai pakai peci. Dalam perjalanannya, peci dianggap sebagai identitas Islam.

Spoiler for Kippah, Surban dan Peci:


Padahal bukan cuma umat muslim saja yang mengenal peci. Masyarakat Yahudi pun lazim mengenakan peci yang mereka sebut kippah. Penutup kepala ini lebih tipis daripada peci dan biasanya berbentuk setengah lingkaran. Kippah dipakai oleh orang-orang Yahudi yang sudah dewasa ketika mereka melaksanakan ritual agama. Peci agak besar seperti fez Turki dipakai juga oleh orang-orang Kristen ortodok di sekitar Timur Tengah. Bahkan jilbab juga dipakai wanita-wanita kristen ortodok.

Salah satu suku di Indonesia yaitu Betawi yang mana masyarakat Betawi mencakup berbagai suku di Nusantara. Mereka sengaja didatangkan oleh VOC di fajar kekuasaannya di Nusantara pada abad XVII. Di Batavia, masyarakat berbagai suku itu dipisahkan sesengit mungkin atas dasar warna kulit (ras), tempat lahir, dan status kerja terhadap VOC. Pemilahan berikutnya mencakup agama dan suku. Banyak sejarawan menduga di sinilah pangkal sentimen berbasis suku, ras, agama, dan golongan sosial. Seiring dengan pertumbuhan penduduk, sekat buatan VOC bobol di sana-sini. Pemeluk Kristen tidak melulu Eropa. Pemeluk Islam tidak melulu Bumiputra (pribumi). Ada budak yang diseranikan dan dimerdekakan, lantas menjadi kelompok tersendiri yang disebut "Mardjikders". Ada juga pendatang Tionghoa yang melakukan perkimpoian dengan Bumiputra. Terjadi silang-genetik disusul silang-budaya. Dari musik sampai pakaian adat Betawi sarat pembauran. Musik khas Betawi banyak dipengaruhi Portugis. Pakaian pengantin Betawi mengambil tradisi Tionghoa. Bahasa yang dipakai masyarakat Betawi banyak menyerap Melayu-Pasar (Melayu Tionghoa). Jadi tak mengherankan bila melihat upacara gereja Kristen di Betawi memakai aksesoris Betawi. Upacara itu cuma kelanjutan tradisi yang pernah dirintis oleh leluhur mereka di awal pembentukan suku Betawi yang kosmopolis. Sama halnya dengan peci yang merupakan budaya Nusantara ini masih melekat erat di Betawi seperti contoh di Kampung Sawah, dimana orang-orang berkebudayaan Betawi beragama Kristen hidup, memakai peci bagi kaum laki-laki dan kerudung bagi perempuan adalah hal biasa. Perayaan Natal mereka kadang diisi dengan ondel-ondel juga. Mereka berusaha menunjukan Agama Kristen tidak membunuh budaya lokal. Itulah kenapa mereka masih berpeci juga.

Spoiler for Pengurus Gereja Kampung Sawah Bekasi:


Fotografer legendaris asal Yogyakarta di masa Hamengkubuwono VI, Kassian Chepas, 'Sang Pemula' dalam Fotografi Indonesia, juga berpeci dalam sebuah foto dirinya yang dibuat tahun 1905. Kassian Chepas adalah seorang kristen. Nama belakangnya, Chepas, adalah nama baptisnya. Chepas tentu bukan satu-satunya orang Kristen yang pakai peci.


Spoiler for Kassian Chepas pada 1905:


Peci sedemikian lekatnya dengan Islam, padahal tidak demikian. Walikota Bandung Ridwan Kamil berkata bahwa peci hitam atau kopiah merupakan penutup kepala khas Indonesia dan tidak ada hubungannya dengan agama Islam. Peci adalah budaya bukan atribut ibadah dari golongan tertentu. Siapapun boleh memakainya tanpa terkecuali.

Quote:
youtube-thumbnail

[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Penanda Sosial dan Identitas Bangsa
Quote:Benarkah peci di Indonesia diciptakan begitu saja tanpa tujuan yang jelas? Apa makna sesungguhnya dari terciptanya peci untuk bangsa ini? Pada perkembangannya, peci kemudian menjadi penanda sosial seperti penutup kepala lainnya yang saat itu sudah dikenal seperti kain, turban, topi-topi Barat biasa, dan topi-topi resmi dengan bentuk khusus. Pemerintah kolonial kemudian berusaha mempengaruhi kostum lelaki di Jawa. Jean Gelman Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertengahan abad XIX, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu pakaian Barat. Pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala mereka. Selaras dengan Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya), dimana Barat sangat sedikit mempengaruhi tutup kepala orang Jawa. Topi Eropa sama sekali tak populer. Demikian pula topi gaya kolonial (yang populer di Vietnam). Kuluk atau tutup kepala berbentuk kerucut terpotong tanpa pinggiran, yang dikenakan para priayi, dapat dikatakan hilang dari kebiasaan, dan kain tutup kepala yang dililitkan dengan berbagai cara (ikat kepala, blangkon, destar, serban) makin lama makin jarang digunakan.

Spoiler for Ir. Soekarno:


Menurut Soekarno asal kata Peci berasal dari Bahasa Belanda yaitu pet (topi) dan je (kecil), kata Belanda untuk mengesankan sifat kecil. Baik dari sejarah pemakaian dan penyebutan namanya, peci mencerminkan Indonesia: satu bangunan “inter-kultur”. Pada awalnya, banyak kaum terpelajar yang meremehkan peci dan blangkon sehingga membuat Soekarno gamang. Mereka merasa terhina jika mereka mengenakan blangkon dan peci, yang menurut mereka identik dengan busana tukang becak dan rakyat jelata lainnya. Mereka menjauhkan diri dari kehidupan serta gaya hidup rakyat jelata, dan bersikap elitis dan kebarat-baratan. Soekarno membalikkan logika mereka tentang hal itu. Beliau beranggapan bahwa kaum terpelajar harus dekat dengan rakyat jelata. Kaum terpelajar tidak akan mungkin dapat memimpin rakyat, jika mereka sendiri menjauhkan diri dari kehidupan rakyat. Maka diciptakanlah peci di Indonesia menjadi sebuah simbol perlawanan dan kesederhanaan untuk membentuk pola keseimbangan dalam masyarakat yang mementingkan material. Hitam dalam sebuah psikologi warna mempunyai rangsangan sifat emosi manusia yang kuat dan mempunyai keahlian walaupun diartikan resmi atau formal, penggunaan warna hitam juga menunjukkan sifat-sifat yang positif, menandakan sifat tegas, kukuh, formal, struktur yang kuat. Bentuknya yang melingkar mengikuti bentuk kepala menandakan bentuk peci yang luwes dalam membentuk kepala. Pola kesederhanaan yang terbentuk dalam pola perilaku masyarakat Indonesia, sederhana tetapi dapat menciptakan ketangguhan. Keinginan itulah yang ingin dinyatakan dalam sebuah simbolisasi peci yang dikenakan masyarakat terhadap sebuah peci. Kesederhanaan inilah yang ditangkap Soekarno “Founding Father” dalam sebuah pemaknaan peci sebagai simbol nasionalisme untuk mempersatukan bangsa. Soekarno mengerti betul tentang simbol kesederhanaan itu dalam sebuah peci. Ada sebuah cerita tentang awal mula Soekarno mempopulerkan pemakaian peci, seperti dituturkannya dalam autobiografi "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" yang ditulis Cindy Adams,

Pemuda itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!” Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah.
Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.” Itulah awal mula Soekarno mempopulerkan pemakaian peci.

Spoiler for CIndy Adams bersama Soekarno:


Demikian awalnya Soekarno mempopulerkan peci. Beliau kemudian mengombinasikan peci dengan jas dan dasi. Tujuannya, menurut Soekarno yaitu untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (yang dijajah) dan Belanda (kaum penjajah). Sejak saat itu hampir bisa dipastikan Soekarno selalu mengenakan peci hitam saat tampil di depan khalayak umum. Begitu pula ketika Soekarno membacakan pleidoinya yang terkenal, “Indonesia Menggugat”, di Pengadilan Landraad Bandung, 18 Agustus 1930 di hadapan antartokoh pergerakan nasional. Setelah sidang tersebut, peci bukan hanya menjadi ciri khas Soekarno, tetapi juga menjelma menjadi simbol nasionalisme para pejuang kemerdekaan dan mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual, termasuk digunakan oleh pemuda beragama Kristen. Denys Lombard (Nusa Jawa: Silang Budaya) menambahkan setelah diterima oleh Soekarno dan PNI sebagai lambang nasionalisme, peci mempunyai makna lebih umum.

Spoiler for Indonesia Menggugat:


Sikap Soekarno yang menasionalisasi peci itu membuat Partai Indonesia (Partindo) melancarkan kampanye pada pertengahan tahun 1932. Aksi Partindo ini diilhami dari gerakan swadesi di India, dengan menyerukan agar rakyat hanya memakai barang-barang buatan Indonesia. Kampanye tersebut berhasil mempengaruhi masyarakat untuk mengenakan pakaian dari bahan hasil tenunan tangan sendiri yang disebut lurik, terutama untuk peci yang dikenakan umat muslim di Indonesia. Peci lurik sendiri mulai terlihat dipakai terutama dalam rapat-rapat Partindo. Namun Soekarno tak pernah memakainya, beliau tetap memakai peci beludru hitam yang bahannya berasal dari pabrik di Italia (Molly Bondan dalam Spanning A Revolution).

Dalam perjalanan peci sebagai sebuah simbol, terdapat kisah yang tertuang dalam sebuah cerpen di tahun 1948, terungkap bahwa peci memuat tentang nilai sebuah simbol yaitu nasionalisme,
“...gambar Bung Karno yang berpeci sambil memegang dagu, menjadi model yang suka ditiru pemuda dan dengan tiada sengaja menjadi alat reklame peci juga. Perasaan persatuan semakin kokoh. Cara berpakaian kedaerahan terdesak dan diganti oleh cara berpakaian nasional, ialah berpeci.”

Kutipan di atas berasal dari cerita pendek (cerpen) “Peci” karya Mas Saleh Sastrawinata. Cerpen yang dimuat dalam Mimbar Indonesia No. 34, 21 Agustus 1948 ini mengisahkan sejarah peci sejak masa Hindia Belanda,
zaman pendudukan Jepang hingga awal kemerdekaan. Dalam cerpen itu dikisahkan perjalanan peci dan hubungannya dengan orang Indonesia yang tak sekadar berfungsi sebagai penutup kepala. Mulai dari peci sebagai identitas kelas masyarakat, gaya hidup, sampai identitas bangsa. Anehnya, cerpen itu tidak sekalipun menyinggung hubungan peci dengan identitas agama (Islam).

Quote:
youtube-thumbnail

[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Bagian dari Sejarah Indonesia
Quote:Pernahkah kalian membuka buku-buku sejarah? Jika sudah, pastilah kita melihat beberapa foto pahlawan nasional mengenakan peci. Peci seolah-olah sudah menjadi ciri khas kaum pergerakan nasional kala itu. Lihat saja Ki Hadjar Dewantara, Haji Agoes Salim, atau Soekarno. Seakan-akan peci tak pernah lepas dari kepala mereka. Tanpa disadari juga peci telah menjadi bagian sejarah karena perjuangan mereka untuk bangsa ini.

Peci yang kita saksikan sampai saat ini menjadi bagian dari kelengkapan pakaian para pemuka masyarakat dan pejabat ternyata tidak muncul begitu saja. Tokoh yang pertama kali mempopulerkan peci adalah Soekarno. Peci menurutnya merupakan lambang identitas bangsa Indonesia.

Spoiler for Tiga Serangkai:


Namun Hendri F. Isnaeni dalam artikelnya “Nasionalisme Peci” mengatakan bahwa sesungguhnya Soekarno bukan satu-satunya kaum intelektual yang pertama kali mengenakan peci. Fakta sejarah menyebutkan jauh sebelum Indonesia merdeka yaitu pada tahun 1913 digelar rapat Partai Politik SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) di den Haag yang mengundang 3 politisi Hindia-Belanda (yang pada saat itu memang sedang diasingkan ke Negeri Belanda), yaitu Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Menurut Dr. Van der Meulen yaitu Direktur Departemen Pendidikan dan Ibadah pemerintahan Gubernur Jenderal Van Mook tahun 1946, masing-masing perwakilan menunjukkan identitas yang berlainan. Ki Hajar Dewantara menggunakan topi fez Turki berwarna merah yang memang pada waktu itu pemakaian topi ini begitu populer di kalangan nasionalis setelah timbulnya gerakan Turki Muda tahun 1908 yang menuntut reformasi kepada Sultan Turki. Sedangkan Cipto Mangunkusumo mengenakan peci dari beludru hitam dalam rapat tersebut yang pada akhirnya nanti pemakaian peci hitam sebagai jati diri kaum nasionalis Indonesia yang belakangan dipopulerkan oleh Bung Karno pada akhir tahun 1920-an. Sedangkan Douwes Dekker tidak memakai penutup kepala. Namun setelah Indonesia merdeka, Douwes Dekker memakai peci di masa tuanya yaitu ketika beliau menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir III pada tahun 1946.

Spoiler for Douwes Dekker Berpeci:


Tokoh pergerakan nasional, Muhammad Husni Thamrin, yang sejak 1927 terpilih sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat), menghadiri sidang dengan kepala tertutup peci. Menurut Petrik Matanasi dalam artikelnya "Filosofi Peci" kemungkinan sejak kecil Thamrin sudah berpeci dan masih mempertahankan peci sebagai identitasnya hingga beliau wafat.
Sementara itu, Soekarno yang besar dalam budaya Jawa tentu beda dengan Thamrin yang besar dalam budaya Betawi, meski beliau Indo. Sedari kecil, Soekarno terbiasa dengan blangkon atau tutup kepala khas Jawa. Begitu pun Bapak Bangsa sekaligus Bapak kost dan guru Soekarno, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Menurut Ahmad Mansur Suryanegara (Api Sejarah Jilid 1), Pada awal kepemimpinan di Sjarikat Islam tahun 1912, Busana Oemar Said Tjkroaminoto sebagai orang Jawa masih menggunakan “Blangkon” sebagai tutup kepalanya. Namun setelah Sjarikat Islam (SI) tidak hanya dipimpin oleh pimpinan dari Suku Jawa, maka Tjokroaminoto seperti halnya Pangeran Diponegoro menanggalkan Blangkon dan diciptakannya busana tudung kepala yang belum pernah dipakai oleh suku manapun yang ada di Indonesia yaitu kopiah hitam polos atau peci hitam. Awalnya, SI hanya berkembang di Jawa saja. Belakangan, SI berkembang di wilayah di mana blangkon bukan tutup kepala lagi karena digantikan oleh peci. Kebiasaan Tjokro untuk berpeci itu ternyata berpengaruh ke Soekarno yang merupakan muridnya yang mana kelak akan mempopulerkan peci sebagai identitas nasional. Selain itu, pengurus SI lain yaitu Haji Agoes Salim yang semasa mudanya kebarat-baratan juga ikut berpeci karena pengaruh Tjokroaminoto. "The Grand Old Man" yang berasal dari Padang ini sering kita lihat di buku sejarah menggunakan peci.

Spoiler for M.H. Thamrin:


Spoiler for Sebelum dan Sesudah Berpeci:


Seiring dengan populernya peci di Indonesia pada zaman pendudukan Jepang, Anti Nasionalisasi dengan mendeskreditkan peci sebagai simbol nasionalisme sering dimunculkan di koran Asia Raya, seperti yang diungkap Ridha Al Qadri dalam harian Suara Merdeka, pada saat itu pemerintah Jepang secara diam-diam merasa alergi terhadap segala lambang yang menyatukan nasionalisme Indonesia seperti Peci yang dipopulerkan oleh Soekarno. Cara yang dilakukan Jepang yaitu dengan merendahkan nilai simbol sebuah peci sebagai penutup kepala. Visual rupa pria tak berpeci sebagai orang kantoran, duduk dibelakang meja, menulis dan membaca koran, menikmati secangkir kopi, berpakaian necis dan bersih, dengan kata lain tak berpeci bermakna manusia modern. Dan propaganda tidak berpeci ini diperkuat dengan visual rupa setahun menjelang proklamasi, Jepang memunculkan karikatur Oesaha Hoeroef di daerah Djakarta Tokubetsu Shi (Asia Raya, 29 Juli 1944) dengan memperlihatkan karikatur pria berpeci yang hendak dijadikan melek huruf. Salah satunya memperlihatkan sosok pemuda pribumi berpeci diatas kepalanya tampak sebuah tangan mengenggam dan menarik peci sekaligus rambutnya, membuat wajah itu tegak dan dibawahnya terdapat tulisan :
”Boekalah mata mereka agar mereka djoega
dapat membatja dan menoelis”.
Pribumi berpeci, menjadi sebuah subjek yang ditempatkan dalam posisi yang harus diangkat derajatnya, ditegakkan, diberi pendidikan sama artinya dianggap sebagai masyarakat pramodern. Bodoh! Pada zaman itu seolah-olah muncul penafsiran tandingan bagi nasionalisme peci yakni sebuah penafsiran orang yang tak berpeci berarti modern dan melek huruf. Sebaliknya, pribumi berpeci mewakili tradisi, buta huruf, kotor, tubuhnya berpenyakitan dan juga distereotipkan sebagai perokok, muncul pada sebuah iklan rokok kretek cap Garbis Manggis (Asia Raya, 24 Juli 1942).

Spoiler for Iklan Rokok Kretek Cap Garbis Manggis:

Spoiler for Baliho Propaganda Jepang di Indonesia:


Peci pada masa pendudukan Jepang seperti didorong kedalam kontradiksi yakni antara ditampilkan sebagai identitas nasional sekaligus direndahkan sebagai identitas tradisional. Penafsiran tandingan yang dilakukan Jepang dapat dianggap berhasil karena beberapa tahun setelah kemerdekaan agaknya sulit untuk menerima simbol peci sebagai sebuah lambang nasionalis, tidak banyak tokoh politik saat itu yang merawat ide nasionalisme peci ini. Sutan Sjahrir mulai menanggalkan peci dalam tiap kesempatan politiknya, bahkan Muhammad Hatta sesekali rambutnya ditampakkan secara klimis terbuka meski hadir dalam acara-acara resmi negara. Pada fase ini nilai sebuah nasionalisme pada peci pun mulai tergerus seiring makin berkurangnya popularitas Soekarno karena adanya pertentangan politik saat itu. Seperti yang kita ketahui, tidak semua tokoh nasionalisme awal kita seperti Tan Malaka mengagungkan peci sebagaimana Soekarno yang menjadikan peci sebagai identitas nasional.

Setelah kemerdekaan Indonesia, penjaga kedaulatan negara kita yaitu TNI yang dulunya bernama TKR, masih sering memakai peci sebagai penutup kepala karena mereka tak memiliki baret atau helm baja untuk menutup kepala. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang baru saja terbentuk pada 5 Oktober 1945, tak mampu menyediakan baret dan helm baja. Jika ada yang memakai baret atau helm, itu seringkali hasil rampasan dari tentara musuh. Meskipun tak ada baret, para pahlawan Indonesia tetap terlihat gagah. Contohnya Panglima Besar TKR, Letnan Jenderal Soedirman yang berpeci seperti Soekarno. Dalam acara resmi, Soedirman lebih sering berpeci dan ketika di medan perang beliau lebih sering memakai blangkon. Dalam buku-buku sejarah belum ditemukan ada foto Soedirman memakai baret.

Spoiler for Tentara Keamanan Rakyat:

Spoiler for Soedirman Dilantik sebagai Panglima Besar TKR:


Tak seperti di tahun 1945 dimana peci sudah membumi di Nusantara. Setelah tahun 1950, peci makin jarang digunakan terutama oleh generasi muda. Hanya generasi tua atau tokoh masyarakat yang masih suka memakainya. Generasi muda hanya berpeci ketika ke masjid atau ke acara keagamaan. Sungguh disayangkan, hal tersebut bertahan hingga sekarang. Kini, dalam acara resmi, peci menjadi tutup kepala dalam upacara Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia (Korpri), Pasukan Pengibar Bendera ketika Upacara Pengibaran Bendera dalam rangka HUT Kemerdekaan RI, pelantikan pejabat sipil, pengantin pria dan acara lainnya. Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 60 pasal 27 tahun 2007, peci termasuk salah satu atributnya untuk pakaian dinas harian lurah dan camat di Indonesia.

Quote:
youtube-thumbnail

[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Peci memang merupakan simbol nasionalisme bangsa Indonesia. Sayangnya, peci kini hanya sekedar simbol bukan menjadi makna. Berpeci tak selalu membuat semua pemakainya meneladani keteladanan pendiri bangsa kita yang senantiasa menjaga diri dan menjadi panutan bangsa. Semoga dengan warisan budaya berupa peci dan kita sebagai usernya memaknai bahwa kita benar-benar orang Indonesia yang mempunyai harkat dan martabat tinggi di mata bangsa lain dan terutama di mata bangsa sendiri. Bukan bagaimana kita terlihat rapi dan sopan karena memakai peci namun cerminan dari kita yaitu dari perkataan dan tindakan yang membuat peci atau apapun yang melekat pada diri kita jadi bermakna. Demikian pembahasan dan closing statement tentang peci, kurang lebihnya saya mohon maaf dan semoga bermanfaat. Saya juga mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah mensupport saya sehingga thread ini bisa tercipta. Jika tadi saya sudah membukanya dengan salam maka tak lengkap rasanya jika tak ditutup pakai salam juga. Akhirulkalam, Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.emoticon-I Love Indonesiaemoticon-terimakasihemoticon-I Love Indonesia
[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
Quote:Intermezzo

For your information, forum kita tercinta KASKUS ternyata mempunyai emoticon resmi yang memakai atribut peci sebagai pelengkap green tosca guy berkumis. Namun, hampir semua emoticon tersebut yaitu [EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepalahanya bisa ditemukan oleh kaskuser yang mempunyai tag khusus seperti Kaskus Plus, Aktivis Regional, Moderator Kaskus, Enthusiast dan lain-lain, kecuali emot ini [EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala yang mana bisa didapatkan oleh semua kaskuser tanpa terkecuali.

Sekian info emoticon-terimakasih


[EVENT SEJARAH] Peci, Lebih dari Sekedar Penutup Kepala
emoticon-Rate 5 Star + emoticon-Blue Guy Cendol (L) = emoticon-Shakehand2
Spoiler for Referensi:
Spoiler for Komentar Ntaps dari Kaskuser:
ane sering pake peci
keren peci jaman dahulu
Wah pas banget saya suka pakai emoticon-welcome

Semoga sukses tritnya om emoticon-terimakasih
mantaabbb bgt nih tritnya bre emoticon-2 Jempol

smoga menang ya emoticon-Angel
wih keren pengulasannya om emoticon-Shakehand2
bagi ane peci
nyimak dulu di thread peci emoticon-Hansip
Jarang pakai peci saya
ternyata peci dr bhs turki & kopiah dr prancis ya.
Quote:Original Posted By rizalnht
ane sering pake peci

Ane tergantung sikonnya gan tapi emang suka pakai yg songkok hitam yg ada motifnya emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By jones.abadi
keren peci jaman dahulu

Apalagi kalau masih awet sampai sekarang gan emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By dtvaganza
Wah pas banget saya suka pakai emoticon-welcome

Semoga sukses tritnya om emoticon-terimakasih

Makasih om, ditunggu tritnya yah emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By otihime
mantaabbb bgt nih tritnya bre emoticon-2 Jempol

smoga menang ya emoticon-Angel

Makasih ya mbak, gak berharap apa² sih cuma dr dulu suka sejarah salah satu pelajaran favorit emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By enggarofficial
wih keren pengulasannya om emoticon-Shakehand2

Wah suwun yo mbah emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By pianzie
bagi ane peci

Bukan bos peci ane om haha ya ada beberapa koleksi di rumah sih emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By okky628
nyimak dulu di thread peci emoticon-Hansip

Makasih loh ki udah repot² mampir emoticon-Wink
Quote:Original Posted By pabloo
Jarang pakai peci saya

Yo rapopo mbah haha
Quote:Original Posted By haqqits

Ane tergantung sikonnya gan tapi emang suka pakai yg songkok hitam yg ada motifnya emoticon-Big Grin

Apalagi kalau masih awet sampai sekarang gan emoticon-Big Grin

Makasih om, ditunggu tritnya yah emoticon-Big Grin

Makasih ya mbak, gak berharap apa² sih cuma dr dulu suka sejarah salah satu pelajaran favorit emoticon-Big Grin

Wah suwun yo mbah emoticon-Embarrassment

Bukan bos peci ane om haha ya ada beberapa koleksi di rumah sih emoticon-Embarrassment

Makasih loh ki udah repot² mampir emoticon-Wink

Yo rapopo mbah haha


Ente pakai peci gak mbah
Quote:Original Posted By 2V7
ternyata peci dr bhs turki & kopiah dr prancis ya.

Iya gan bukan asli budaya kita
Quote:Original Posted By pabloo
Ente pakai peci gak mbah

Sering pakai kok mbah emoticon-Big Grin
Quote:Original Posted By haqqits
Ane tergantung sikonnya gan tapi emang suka pakai yg songkok hitam yg ada motifnya emoticon-Big Grin

Apalagi kalau masih awet sampai sekarang gan emoticon-Big Grin

Makasih om, ditunggu tritnya yah emoticon-Big Grin

Makasih ya mbak, gak berharap apa² sih cuma dr dulu suka sejarah salah satu pelajaran favorit emoticon-Big Grin

Wah suwun yo mbah emoticon-Embarrassment

Bukan bos peci ane om haha ya ada beberapa koleksi di rumah sih emoticon-Embarrassment

Makasih loh ki udah repot² mampir emoticon-Wink

Yo rapopo mbah haha


Oke, bentar lagi ini saya jadiin HT ya emoticon-pencet
Quote:Original Posted By haqqits

Iya gan bukan asli budaya kita

Sering pakai kok mbah emoticon-Big Grin


Apalagi kalau ke kua cucok pakai peci mbah
buat kaum Adam nih emoticon-Embarrassment
mana te es nya nih
okelah gembokemoticon-Tepar