alexa-tracking

Kafe tanpa Kata-Kata Layani Tunarungu

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/59891b8532e2e6747b8b4587/kafe-tanpa-kata-kata-layani-tunarungu
Kafe tanpa Kata-Kata Layani Tunarungu
Kafe tanpa Kata-Kata Layani Tunarungu


MENTARI belum menuju peraduan. Namun, dua gadis yang duduk di meja di sebuah kafe Bogota menyalakan lampu di atas sebuah meja kayu.



Mereka yang duduk di samping meja kayu itu tak mengucapkan sepatah kata pun.



Setelah lilin menyala, dalam hitungan menit, bartender menghampiri mereka.



Dia membawakan pesanan minuman.



Suasana hening tersebut terjadi di sebuah kafe pertama yang dikhususkan bagi para penyandang tunarungu di Kolombia.



"Sin Palabras Cafe Sordo (Kafe Tuna Rungu tanpa Kata-Kata) adalah yang pertama dari jenis kafe di negara ini," kata Maria Fernanda Vanegas, satu dari tiga pemilik kafe yang khusus untuk para penyandang tunarungu.



Sin Palabras Cafe berlokasi di lingkungan elite Chapinero di Kota Bogota, ibu kota Kolombia. Di kawasan tersebut, para pengunjung biasa mendengar lantunan musik heavy metal dan reggae.



"Ini (kafe biasa) diperuntukkan kita, orang-orang yang bisa mendengar, bagi penyandang tunarungu harus beradaptasi dan bukan sebaliknya," ujar Fernanda Vanegas.



Sin Palabras Cafe dilengkapi dengan monitor besar untuk tayangan video musik.



Video musik di monitor menampilkan pula lirik dalam bahasa isyarat.



Tak hanya itu, lantai dansa yang digetarkan entakan alunan musik pun disediakan bagi para tamu.



Aneka menu yang ditawarkan di sana juga diterjemahkan ke bahasa isyarat.



Bukan hanya sajian menu dengan bahasa isyarat, para penyandang tunarungu dapat bermain gim, seperti jenga atau domino yang menghibur.



Vanegas dan mitranya, Cristian Melo dan Jessica Mojica, memiliki pendengaran yang baik dan bukan penyandang tunarungu.



Namun, mereka lama memimpikan membuka sebuah kafe khusus bagi lebih dari 50 ribu penyandang tunarungu di wilayah Bogota.



Secara nasional, Kolombia memiliki total lebih dari 455 ribu penyandang tunarungu.



Jumlah tersebut didapat berdasarkan sensus yang dilakukan pada 2005.



Para tamu yang datang ke Sin Palabras Cafe bukan hanya para penyandang tunarungu.



Semua tamu baik penyandang tunarungu maupun bukan tetap harus berinteraksi dengan menggunakan bahasa isyarat.



"Ini pertama kali saya bisa menikmati musik," kata Erin Priscila Pinto, tamu penyandang tunarungu yang baru pertama yang menikmati minuman bersama teman lamanya, Carol Aguilera.



"Itu membuat saya sangat senang karena pertama kalinya saya bisa menari," kata Pinto yang juga mahasiswa fotografi berusia 23 tahun itu.



Enam pelayan di kafe tersebut juga penyandang tunarungu.



Kendati tidak semua tamu penyandang tunarungu, mereka mengaku puas dapat memberikan pelayanan dengan baik.



Kafe itu juga dilengkapi kartu kecil yang menunjukkan dasar-dasar bahasa isyarat.



Kartu-kartu itu diperuntukkan pengunjung yang tertarik menambah daftar lagu yang ingin mereka nikmati.



"Saya merasa lebih nyaman dengan pelayan yang tuli. Semuanya jauh lebih mudah," ucap Pinto yang mengaku sangat puas dengan pelayanan kafe tanpa kata-kata itu. (AFP/Haufan Hasyim Salengke/I-3)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/news/r...ngu/2017-08-08

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Kafe tanpa Kata-Kata Layani Tunarungu Indonesia Berjaya di Bulgaria

- Kafe tanpa Kata-Kata Layani Tunarungu Banyak Keunggulan Sagu Perlu Digarap secara Serius

- Kafe tanpa Kata-Kata Layani Tunarungu SDM Produktif Modal Utama Bangun Iptek