alexa-tracking

Daya Beli Masyarakat masih Kuat

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5988ff80902cfebe588b456a/daya-beli-masyarakat-masih-kuat
Daya Beli Masyarakat masih Kuat
Daya Beli Masyarakat masih Kuat


BADAN Pusat Statistik (BPS) menjawab perdebatan soal kondisi daya beli yang disebut-sebut menurun. Kepala BPS ­Suhariyanto menegaskan daya beli masyarakat tidak menunjukkan tanda-tanda pelemahan setelah konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2017 tercatat mengalami ­pertumbuhan.



“Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% pada triwulan II 2017. Ini membuktikan bahwa daya beli masyarakat masih kuat,” kata ­Suhariyanto di Jakarta, kemarin.



Ia mengatakan konsumsi rumah tangga pada periode itu terbantu oleh Ramadan dan Idul Fitri serta libur sekolah sebelum tahun ajaran baru. “Selain itu, konsumsi juga terbantu oleh banyaknya hari libur hingga 39 hari dalam periode ini,” tambahnya.



Ia mengatakan komponen yang memberikan kontribusi terhadap konsumsi rumah tangga ialah makanan dan minuman, restoran dan hotel, kesehatan dan pendidikan, serta transportasi dan komunikasi. “Semuanya masih tumbuh, tidak ada yang negatif. Makanan-minum-an tumbuh 5,24%, restoran dan hotel tumbuh 5,87%, tapi memang yang nonfood sedikit terkoreksi dan tumbuh agak lambat sedikit.’’



Menurut Suhariyanto, konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2017 tumbuh lebih baik ketimbang triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,94%. Kalau dibandingkan secara year on year memang ada perlambatan, tapi 4,95% masih tumbuh signifikan,” katanya. BPS mencatat, pada triwulan II 2016 konsumsi rumah tangga tumbuh 5,07%.



Daya beli masyarakat menjadi perdebatan karena industri ritel lesu dan banyak pusat perbelanjaan yang sepi pengunjung. Anehnya, penerimaan negara dari pajak pertambahan nilai masih tumbuh di atas 13% yang berarti transaksi di masyarakat tetap signifikan.



Pebisnis optimistis

Tak cuma daya beli masyarakat yang masih kuat, BPS juga mencatat tingkat optimisme para pelaku bisnis masih baik. Indeks tendensi bisnis (ITB) tercatat naik pada triwulan (kuartal) II tahun ini menjadi 111,63 dari 103,42 di kuartal sebelumnya. “ITB merupa­kan pandangan para manajer yang melihat kondisi bisnis masih baik,” ucap Suhariyanto.



Hal itu, sebut dia, berasal dari kenaikan pendapatan usaha dari 104,54 menjadi 118,93 dan kenaik-an penggunaan kapasitas usaha dari 104,6 menjadi 114,55. Kenaikan tipis rata-rata jumlah jam kerja juga mendorong kenaikan optimisme pelaku bisnis.



Namun, pada kuartal III tahun ini optimisme pelaku usaha diperkirakan menurun di angka 108,82 karena adanya kekhawatiran pada pergerakan harga komoditas. Penurunan juga diprediksi terjadi pada indeks tendensi konsumen (ITK) dari 115,92 menjadi 103,29.



Suhariyanto menilai penurunan ITK itu disebabkan pendapatan yang kembali normal sehingga konsumsi tidak sebesar pada waktu menjelang Lebaran. “Kalau kuartal II kan ada THR (tunjangan hari raya).”



Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan konsumsi rumah tangga masih tetap tumbuh meski cenderung stagnan dalam dua kuartal terakhir ini. “Ke depan, konsumsi rumah tangga diperkirakan membaik seiring dengan penundaan penyesuaian tarif listrik serta perkiraan stabilnya harga BBM pada semester II tahun ini sehingga tetap dapat menjaga daya beli masyarakat.”



Ekonom Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyata­kan momentum triwulan yang bersama­an dengan Lebaran semestinya dibareng­i dengan tingginya permintaan konsumsi. Dengan begitu, meski tetap tumbuh, dengan hanya tumbuh 4,95% berarti konsumsi tidak optimal.



“Angka ini terbilang rendah karena tahun lalu bisa tumbuh 5,07%. Padahal konsumsi rumah tangga jadi motor pertumbuhan ekonomi paling utama dengan kontribusi 56%,” tutur Bhima. (Try/X-8)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com/news/r...uat/2017-08-08

---

Kumpulan Berita Terkait :

- Daya Beli Masyarakat masih Kuat Rekrutmen Garis Keras Digagalkan

- Daya Beli Masyarakat masih Kuat Penolakan Kerja Sama Perburuk Nasib Karyawan JICT

- Daya Beli Masyarakat masih Kuat Komisi Yudisial Bersiap Jemput Bola