alexa-tracking

Bos GarudaFood: Industri RI Melambat Bukan Akibat Daya Beli

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5988f7c656e6af1b468b4567/bos-garudafood-industri-ri-melambat-bukan-akibat-daya-beli
Bos GarudaFood: Industri RI Melambat Bukan Akibat Daya Beli
Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) di kuartal II-2017 sebesar 7,19 persen, melambat dibanding periode yang sama sebelumnya 8,13 persen. Konsumsi mamin pun bernasib sama dengan pertumbuhan 5,24 persen secara year on year (yoy). Penyebabnya dinilai bukan karena daya beli masyarakat yang melemah.

Pendiri GarudaFood Grup, Sudhamek AWS menganalisis hasil pertumbuhan ekonomi kuartal II ini sebesar 5,01 persen atau masih tertinggi nomor tiga di antara negara kelompok G20. Produk Domestik Bruto (PDB) itu ditopang oleh 65 persen ekonomi domestik, yakni konsumsi rumah tangga, pengeluaran pemerintah, dan investasi.

"Kalau tiga sumber pertumbuhan itu melemah, pasti ekonomi kita juga melemah. Tapi buktinya ini masih bertumbuh 5 persen, ekonomi domestik masih menggeliat, karena tidak mungkin hanya kenaikan surplus neraca dagang dari ekspor impor bisa sampai mendongkrak pertumbuhan ekonomi," terangnya saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Senin (7/8/2017).

Selanjutnya, kata Sudhamek, pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) naik 18 persen. Hal ini menunjukkan kenaikan transaksi penjualan sehingga tidak bisa disebut bisnis meredup.


Dari kondisi mikro, diakui Sudhamek, laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami pertumbuhan penjualan dan pendapatan, kecuali pada industri semen. Anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) itu mencontohkan Ramayana yang kondisinya sudah memburuk, namun penjualannya dapat tumbuh positif 18 persen di semester I ini.

Indofood membukukan pertumbuhan penjualan 3 persen walaupun biasanya tumbuh dua digit, Gudang Garam lebih dari 10 persen. Dengan kata lain, Sudhamek menambahkan, banyak perusahaan mencatatkan laporan keuangan yang menggembirakan.

Begitu pun dengan industri makanan minuman, ada yang naik dan ada yang flat. Mayora termasuk yang flat, tetapi dalam 5 tahun terakhir ini, pertumbuhannya fantastis. Pertumbuhan GarudaFood hampir 20 persen. Pertumbuhan penjualan Alfamart dan Indomaret 4-5 persen, profit sedang turun karena rata-rata pertumbuhan 15-20 persen.

"Suatu bisnis pasti akan mengalami pertumbuhan melambat, itu wajar karena cycle-nya begitu. Tapi kalau dilihat data-data mikro, saya membantah kalau dibilang daya beli lemah, karena itu kan menandakan ekonomi lesu. Buktinya semua bagus, kecuali industri semen yang tumbuh negatif," kata Sudhamek.

Sudhamek menuturkan, sebuah bisnis lesu disebabkan dua faktor. Pertama, persaingan dan kedua, market size mengecil. Industri minuman di semester I ini tercatat masih negatif, tetapi di industri makanan justru kebalikannya.

"Dilihat dari kombinasi data makro dan mikro, analisa saya lebih kepada faktor persaingan. Kalau ada pengusaha yang pusing, itu karena mereka kalah dalam persaingan, tapi yang senang berarti menang dalam persaingan. Kecuali market size menurun, terjadi kelemahan," jelas dia.

Lebih jauh Sudhamek menegaskan, para pengusaha makanan dan minuman saat ini memasuki era persaingan liar dan tidak nampak. Perubahan tersebut tidak pernah dibayangkan belanja dari konvensional bergeser ke toko online.

"Mereka yang tidak tahu, selalu menyalahkan atau mengkambinghitamkan daya beli karena kalah dalam bersaing. Padahal yang terjadi adalah switching dari konvensional ke online sehingga kita harus berubah. Jadi pertumbuhan ekonomi 5 persen bukan berarti melemah," papar dia.

Ia menuturkan, Lazada, Bukalapak, Tokopedia, dan toko online lainnya mengalami pertumbuhan penjualan hingga lebih dari 100 persen. Mayoritas market space-nya merupakan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Pertumbuhan penjualan toko online itu sampai tiga kali lipat atau lebih dari 100 persen. Tentunya toko-toko online ini merebut pasar konvensional. Tapi menurut saya ini ada pergeseran pemain besar ke menengah bawah sehingga terjadi pemerataan pendapatan. Ini gejala yang positif," terang Sudhamek.

Ia menilai, kehadiran toko-toko online merupakan ancaman yang perlu mendapat perhatian. Salah satunya dengan melakukan pembenahan, dan berinovasi agar tidak ditinggalkan masyarakat.

"Oh, online itu ancaman, makanya kita perlu inovasi seluas-luasnya, seperti strategi bisnis model dalam produk, jasa, operasi. Jadi bukan mengkambinghitamkan daya beli," pungkas Sudhamek.


source: m.liputan6.com/bisnis/read/3049906/bos-garudafood-industri-ri-melambat-bukan-akibat-daya-beli


nah analisis nya karena ada switching dari konvensional ke online bahkan profit yg online pertumbuhannya lebih dari 100 persen. so bukan terjadi pelemahan, namun karena ada perpindahan media ataupun transisi metode transaksi dari yang tunai ke online.

selain itu, kita jangan sering2x nabung gan. kita harus konsumtif justru karena ekonomi jalannya lebih cepet kalo tingkat konsumsi tinggi, contohnya sama seperti saat sebelun iduk fitri.

kesimpulannya, mari kita tingkatkan konsumsi domestik demi kemajuan bersama!
image-url-apps
wew mantab lah jadi top thread.
image-url-apps
Masih meroket

Bos GarudaFood: Industri RI Melambat Bukan Akibat Daya Beli
KASKUS Ads
kalo menurut gw peran cina dan amerika penyebabnya

pemerataan ke cina dst banyak muncul orang kaya baru

dan amerika yang kian bersifat protektif

di dalam negeri, yang diandelin itu yang salaryman skrg terutama pns

sementara pengusaha sdh banyak ngerem, tapi untuk bisnis di pasar msh bagus, jadi intinya kebutuhan primer yg plg berjalan skrg
image-url-apps
Trit sepi dari nasbung dan nastak nih gan emoticon-Matabelo

Analisis pengusaha lebih realistis daripada analisis pengamat ekonomi apalagi pengamat politik emoticon-Leh Uga
penyebabnya krn sajen ke laut kidul kurang
image-url-apps
industri semen kok bisa negatif?
katanya proyek infrastruktur lagi meroket.
apa proyek2 era jokowi gak butuh semen lagi?
image-url-apps
Pke putih telor bre.. emoticon-Cool

Quote:



Dibilang jg apa..

Semua sekarang sdh serba online...

Pas Mens kehabisan sotek, beli online banyak diskon..

Barang datang 2 hari, selama 2 hari ganjel sempak.. emoticon-Recommended Seller..
image-url-apps
pertumbuhan melambat, apa pemerintah pernah coba dorong ekspor?

gw beli tas carrier kucing di salah satu market place dari seller di tiongkok, harga 130 rb sdh sampai rumah. malah pernah ada harga 100 rb sampe rumah. tp karena po 9 hari ogah gw ambil

coba kalau ongkos dari sini ke tiongkok aja sdh berapa. paling gak pemerintah kasih subsidi pos buat pengiriman barang ukm ke luar negeri
image-url-apps
Quote:


sekarang pake gojek nyampe di hari yg sama bro
image-url-apps
Quote:


Pengamat ekonomi dan politik yang mana bray? Jaman skrg tinggal bikin lsm abal2 dan komentar di media abal2 dah jadi pengamat..

Apalagi pengamat ekonomi di kaskus.. Semua mendadak jadi ahli ekonomi bisa baca neraca perdagangan dan pergerakan bursa emoticon-Big Grin

Lebih pinter dari pendiri garudafood..
image-url-apps
Yg bilang ekonomi lesu kan mereka para tengkulak alias broker yg posisinya sdh di babat...
Jadi....
image-url-apps
Jadi pengen denger apa kata bos unilever, nestle, coca cola, kino, charoen pokphand dll yg udah ada pengurangan karyawan. Coba tanya alasan mereka bilang ke karyawannya apa.
image-url-apps
Quote:


karena Tiongkok ongkir nya disubsidi sama pemerintah nya agar barang2 yg kalah saing masih tetep laku. kalau Indonesia apa mampu subsidi gitu
Quote:


isa jadi bahan baku satu paket dari negara pemberi pinjaman om
image-url-apps


Quote:

Ini serius an? Lu ambil partai banyak kali...
Quote:


yg diliat jangan hanya indocement, SMGR, holcim, tapi pemain kyk semen merah putih, semen garuda, harganya lumayan kerasa, klo indocement, SMGR, holcim sekitaran 50-51k semen merah putih ma garuda itu maen di 43-44k ditempat ane, apa ga kegerogot tuh pasar, semen itu over supplai karena yg mo ngebangun rumah nunda dulu banyak yg musti dibayar emoticon-Big Grin
image-url-apps
Quote:


ya harus bisa

yang penting kan tujuannya perputaran ekonomi. selama ini perputaran ekonomi pemerintah palingan dari kenaikan gaji pns atau penggunaan anggaran yg musti dihabisin

gak mendidik lah. kalau bisa subsidi pos spt tiongkok, pasti banyak nongol wirausaha baru

itu bumn kan bisa di paksa buat ngurangi biaya. biar lebih efisien n hasilnya bisa buat subsidi pos barang ekspor
image-url-apps
Quote:


gak kok... gw ambil sebiji doang emoticon-Big Grin
barangnya lumayan bagus. cuma karena kucing gw gak suka, gw jual lagi di toped emoticon-Shutup
image-url-apps
Quote:

Ready, set, attack !!!

Kurang ngerti jadi gak mau komen, takut sok tau emoticon-Peace
×