alexa-tracking
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / Story / ... / Stories from the Heart /
Namaku Aleya (Based on true story)
4.67 stars - based on 42 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5966d1c45074103b388b4568/namaku-aleya-based-on-true-story

Namaku Aleya (Based on true story) [18+]

Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...



Quote:


Namaku Aleya (Based on true story)


Quote:


Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:


Quote:


Quote:


Spoiler for video:
Polling

Poll ini sudah ditutup - 7 Suara

Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya? 
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya? 
42.86%
Rian
0%
Tomy
57.14%
Gak keduanya
profile-picture
profile-picture
exoluris dan doctorkelinci memberi reputasi
Diubah oleh alealeya
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
Halaman 1 dari 34
Part 1

Namaku Aleya (Based on true story)


"Nak gimana kabarmu? Udah bayar uang kost buat bulan ini? Maaf ya bulan ini ibu cuma bisa kasih transferan sedikit", bunyi sebuah pesan singkat yg barusan ku terima dari ibu di siang hari saat istirahat makan siang. Sebenarnya aku gak terlalu berharap sih sama transferan ibu, toh sekarang kan aku juga udah kerja di sebuah restoran cukup ternama di kota ini, walaupun dengan penghasilan yg pas-pasan, aku masih bisa bertahan hidup kok. Ternyata semuanya terasa amat sangat berbeda setelah bertahun-tahun berlalu, sering terbesit di pikiranku, "begini toh rasanya jadi anak broken home". Kedua orang tua ku bercerai ketika aku masih duduk di bangku SMP, tepat nya kelas 3 SMP menjelang ujian nasional. Bayangkan betapa beratnya bebanku, disamping harus terus belajar untuk menghadapi 3 hari penentuan hasil belajar selama 3 tahun di SMP, terpikirkan juga olehku tentang kedua orang tua yg makin hari makin sering berantem, bahkan malam ini seakan menjadi final dari semuanya.
Nama ku Aleya 25 tahun, ini kisahku...

9 tahun yg lalu...

Malam ini rumahku seakan menjadi medan perang, penuh dengan ledakkan emosi, suara piring dan barang lainnya yg berjatuhan menambah semarak suasana. Aku hanya berusaha untuk tetap tenang sambil terus memaksakan diri membaca setiap materi pelajaran bahasa indonesia, namun sayang nya dengan suara gaduh diluar kamar membuat konsentrasi dan keinginan untuk belajar ku padam. Ku raih sebuah pemutar musik yg terlilit dengan earphone lalu ku pasangkan di telinga, volume hampir penuh dari musik avril malah bikin suasana tambah campur aduk. Kenapa sih dengan keluarga ku? Kok gak bisa normal kayak keluarga lainnya? Hidup damai, rukun dan tentram tanpa ada masalah yg seakan terus melanda disetiap hari. Tak bisa di pungkiri, sebagai seorang anak terkadang aku meminta agar ditemani saat belajar, entah oleh ayah atau ibuku, namun keduanya sangat sibuk, hampir tak ada waktu untuk anak mereka satu-satunya ini. Disamping disibukkan oleh pekerjaan masing-masing, sesampainya dirumah pun mereka harus sibuk dengan kegiatan rutin nya, saling mengencangkan urat leher, berantem hampir tiap hari, apa mereka gak pernah mikir tentang anak nya?

Memang, aku hidup serba berkecukupan dalam segi materi, apapun yg ku pinta selalu tersedia, apapun yg ku mau selalu ku dapatkan. Lalu apa yg kurang dari hidupku? Bagaimana dengan kasih sayang orang tua? Itukah yg hilang selama ini? Itukah yg kucari selama ini?
Sebagai pelarian, aku punya beberapa teman akrab cowok, mungkin agak aneh ya? Tapi aku gak peduli dan gak pernah mau peduli tentang omongan orang lain, ku pikir gak ada salah nya mau berteman dengan siapa aja, selagi kita bisa menjaga diri dan gak ikut-ikutan yg gak baik. Aku memang cewek tomboy, disaat para remaja wanita seumuran ku mulai senang memakai make up, aku bahkan gak pernah menyentuh yg namanya make up. Disaat para remaja wanita seumuranku bangga dengan rambut panjang nya yg berkilau, bodo amat! Aku lebih enak dengan rambut pendek diatas bahu, bahkan kalo bisa bakal ku potong lebih pendek lagi ni rambut.

"Praanngg", terdengar suara sebuah piring yg dibanting dengan kerasnya, itulah makna makan malam yg sesungguhnya bagi kedua orang tua ku.
Suara pertengkaran hebat masih saja terdengar sayup-sayup padahal telinga ini sudah ditutupi earphone, "astaga makin menjadi-jadi aja kalo gini kapan aku belajarnya", gerutu ku sambil memejamkan mata dan menutupi kepala dengan bantal. Rupanya kegaduhan malam itu adalah kegaduhan terakhir yg terjadi di rumah ini, sesaat kemudian suasana menjadi hening. Apa aku salah dengar? Atau karena volume musik terlalu kencang jadi aku gak bisa mendengar suara mereka lagi?
Ku lepaskan earphone di kedua telingaku, memberanikan diri beranjak dari tempat tidurku sekedar mengecek apa gerangan yg terjadi. Langkah demi langkah ku ambil menghampiri pintu kamar lalu kutempelkan kuping di daun pintu berwarna putih itu. Sepertinya ada yg gak beres.
Ku buka perlahan pintu kamar dan maju menuju ruang tengah tempat biasanya pertengkaran terjadi, kosong.
Ku lanjutkan langkah ke dapur dan juga kosong, hanya tersisa pecahan sebuah piring berhamburan di lantai, "kasian bibi harus bersihin ini tiap hari", pikirku.
Lalu aku berjalan menuju kamar orang tua ku, dari kejauhan kulihat ibu sedang memindahkan pakaian dari dalam lemari, eh bukan hanya memindahkan, tapi memasukkan nya ke dalam sebuah tas.

"Loh bu, mau kemana?", tanya ku sambil menghampiri ibu.
Ibu hanya diam dengan mata penuh emosi, nampaknya masih marah.
"Bu, kok diam aja? Ibu mau kemana malam-malam gini?", tanya ku lagi.
Ibu menoleh kearahku sambil berkata, "kamu mau ikut ibu atau ikut ayahmu?, kalo kamu mau ikut ibu, bereskan barangmu sekarang!".

Apa aku harus memilih salah satu? Kenapa sih aku gak bisa hidup tenang dengan kedua orang tua ku? Kalau boleh memilih, aku masih mau tinggal dengan keduanya, masa iya aku harus tinggal dengan salah satu?.

"Kalo kamu mau ikut ibu, jangan diam disitu, cepat sekarang juga ke kamarmu, ambil barang-barang mu, kita keluar dari sini sekarang juga!", ucap ibu dengan nada tinggi.
"Iya bu, aku bereskan sekarang", sambil berlari menuju kamarku yg terletak lumayan jauh dari kamar kedua orang tua ku.

Jujur, aku enggan untuk memilih diantara mereka berdua, tapi kalau memang diharuskan untuk memilih, aku akan memilih ibu. Kemudian ku bereskan semua perlengkapan sekolahku, mulai dari seragam, buku-buku yg seabrek, beberapa kaos dan celana untuk santai. Masih ada banyak barang yg harus ku tinggalkan karena kapasitas ranselku yg paling besar pun tak mampu menampung semua barang-barangku.

"Aleya! Udah selesai belum? Ayo cepat kita pergi, ibu udah gak betah disini", sambil berteriak dari ruang tengah.
"Iya bu, ni udah hampir beres", ku pastikan sekali lagi barang-barang yg penting bagiku tak ketinggalan.

Aku dan ibu sudah berada di ruang tengah, dengan bawaan masing-masing ditangan, ibu masih menyempatkan diri untuk pamitan dengan ayah.

"Ini kan mau mu? Aku pergi sekarang juga!", ucap ibu sambil melangkah keluar.
"Aleya mau kemana?! Masuk ke kamar sekarang!", teriak ayah. Aku yg berjalan mengikuti ibu dari belakang tetap melangkah maju tak menghiraukan.
"Leya!"
"Hei Aleya dengar ayah gak?! Mau kemana kamu?!", ayah menarik tanganku.
"Udah gak usah pikirin aleya!, dia bakal lebih baik kalo ikut aku", ibu melepaskan tangan ayah dari tanganku.
"Oh jadi kamu lebih milih ikut ibu mu? Oke silahkan pergi dari sini"

Kami pun terus melangkah meninggalkan rumah tempatku dibesarkan, walau kebanyakan waktu ku dihabiskan dengan bibi dirumah, tapi aku masih ingat waktu-waktu bahagia dulu. Seiring dengan langkah menyusuri halaman depan rumah yg cukup luas, seakan ingatan masa kecil dulu kembali terlintas di kepalaku, jatuh bangun saat belajar naik sepeda bersama ayah, lari-larian main lempar bola dengan ibu, mendirikan tenda lalu berkemah di halaman rumah dengan ayah dan ibu. Tapi semua itu kini tinggal kenangan, bahkan aku pun lupa kapan terakhir kali kami punya aktifitas bersama.

Akhirnya aku dan ibu semakin jauh menyusuri jalanan yg sudah mulai sepi, waktu di arloji ku menunjukkan pukul 23.40
"Mana ada taksi jam segini bu, emang kita mau kemana?", tanya ku sambil membetulkan posisi ransel yg terasa semakin berat.
"Kita ke rumah om mu dulu, paling gak kita numpang sampai besok disana, kalo emang gak ada taksi yasudah kita jalan aja sampai sana", tampang ibu pun terlihat kelelahan. Wajar saja, ibu seharian bekerja, ditambah lagi sekarang harus berjalan kaki dengan beban lumayan banyak pasti sangat menguras tenaga ibu.
"Bu ini udah tengah malem lho, apa gak sebaiknya kita mampir aja dulu disitu?", sambil menunjuk sebuah mesjid di pertigaan jalan.
"Gak, pokoknya kita harus ke tempat om mu, tapi kalo kamu capek ya gak papa kita mampir dulu sebentar buat istirahat", jawab ibu.

Malah disaat begini aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, padahal aku tau ibu jauh lebih lelah daripada aku, tapi ibu malah mengkhawatirkan kondisiku.
Beberapa langkah menuju mesjid, cahaya lampu dari sebuah mobil menerangi kami di ikuti dengan suara klakson dari mobil hitam tersebut.
"Tiiit tiiiiiiit", ia kemudian berhenti tepat di dekat kami yg terdiam terkejut dengan hadirnya mobil itu.
profile-picture
masbroo15 memberi reputasi
Diubah oleh alealeya
Wah baru part 1 dah kentang emoticon-Ngakak (S)
Quote:


Sabar ya agans yg baik hati, tar di update lagi
Thanks udah mampir dan menyempatkan diri buat komen emoticon-Malu (S)
Quote:


Ok sis.
Dan sama2 emoticon-Shakehand2
Part 2

Namaku Aleya (Based on true story)


"Ayo naik, aku udah tau semuanya mbak", ucap seorang lelaki berjanggut dari dalam mobil. Rumahnya lah yg akan kami tuju malam ini, sungguh sebuah kebetulan beliau malah melintas dan memberikan tumpangan pada kami yg sudah mulai kelelahan berjalan kaki.

"Kok kamu bisa tau? Kamu ke rumah?", tanya ibu sesaat setelah kami menaiki mobil.
"Iya tadi rencana nya mau mampir buat istirahat, tapi kayaknya suamimu ikut kesal sama aku, dia jelaskan kalo kamu sama aleya udah di usir, makanya aku buru-buru mencari kalian", om menjelaskan.

Rupanya om baru saja tiba dari perjalanan luar kota, dan bermaksud mampir dirumah ku atau tepatnya bekas rumah ku untuk beristirahat, tapi kok ayah juga ikut kasar ke om? Emang dia salah apa sama ayah?.
Singkat cerita aku dan ibu kini menumpang di rumah om ku setelah kejadian malam itu, agak susah rasanya harus ikut menumpang dirumah saudara. Om ku tinggal dengan istri dan 2 orang anak nya yg laki-laki semuanya. Di pagi hari ibu sudah berangkat kerja, sedang aku bersiap menuju sekolah SMP yg tak lama lagi akan ku tinggalkan. Waktu terus berjalan tanpa terasa, kini aku sudah berhasil lulus dari sekolah menengah pertama, di hari kelulusan ku pun tak di hadiri oleh ibu ataupun ayah, hanya ada tante, istri dari om ku yg menjadi wali ku saat hari kelulusan. Agak sedih rasanya melihat teman-teman bersama dengan orang tua nya masing-masing, tapi mau apa lagi? Toh kedua orang tua ku terlalu disibukkan oleh kerjaan nya dengan alasan, "ini buat masa depanmu nak".
Akhirnya setelah lulus aku berpikir keras saat liburan tiba, aku masih belum memutuskan melanjutkan SMA dimana. Ibu kini membeli rumah baru lumayan jauh dari kediaman om, tapi aku tetap tinggal untuk sementara di rumah om dengan alasan menemani adik-adik sepupu ku yg masih kecil-kecil.

"Ley, kamu nanti mau SMA dimana?, Ley!, Leya oi!", Rian menyadarkan ku dari lamunan. Aku punya 3 sahabat dekat sejak masa awal masuk SMP, mereka adalah Rian seorang cowok berbadan langsing, badan cukup tinggi kulit agak gelap, Miza seorang cowok dengan badan lumayan berisi, agak lebih tinggi dari baran ku yg hanya 158cm, dan Leo cowok yg satu-satunya berpostur sempurna, berkulit putih dan badan tegap. Menjadikan aku sebagai satu-satunya yg tercantik di kumpulan ini.

"Apa sih ganggu aja, aku masih gak tau mau ngelanjut dimana", jawabku sambil menyeruput sebotol soft drink.
"Kita tau kok perasaan kamu gimana, tapi jangan ngelamun gitu dong Leya, kan masih ada kita yg selalu jagain kamu, selalu peduli sama kamu", ucap Miza.
"Iya sih Miz peduli, kalo ada maunya", celetuk Leo di ikuti gelak tawa dari sekumpulan sahabat yg tak lama lagi akan berpisah ini.

"Leo, kamu jadi mau lanjut diluar kota?", tanya ku sambil menatap mata nya.
"Uhukk.. uhuk.. hmmm.. ho'oh", jawabnya sambil menyantap mie ayam.
"Yahh kalo gitu yg tersisa disini cuman aku sama Rian dong?"
"Iya Ley, cuman kita doang kayaknya yg bakal lanjut sekolah disini", Rian menjawab.

Siang itu suasana kumpul bersama kami agak diwarnai dengan kesedihan karena tak lama lagi kami akan berpisah dan mungkin bakal menemukan sahabat baru, tapi kami saling berjanji, bagaimanapun caranya kita harus terus ada kabar dan saling terhubung meski hanya lewat fr*endster. Hari perpisahan yg tak kami harapkan pun akhirnya tiba, Miza pindah keluar kota untuk mengikuti orang tuanya yg sudah duluan berangkat karena sang bapak dipindah tugas kan, sementara Leo berangkat keluar kota karena bapaknya sudah pensiun dan ingin pulang ke kampung halaman. Meninggalkan aku dan Rian disini.

"Yan kamu udah yakin mau lanjut di SMA itu?", tanyaku sesaat setelah mobil yg ditumpangi Leo berangkat.
"Iya aku udah yakin 100%, emang kamu udah nentuin mau lanjut dimana?"
"Nah itu dia masalah nya, aku masih bingung harus kemana"
"Pikirin aja dulu Ley, ikuti kata hatimu, jangan sampai salah pilih"
"Yan, kata-kata mu kayak calon walikota"
"Hahaha bener lho, serius ini Ley, ikuti kemauan mu kemana".

Aku sih pengen nya gak ikut siapa-siapa setelah kejadian ini, tersisa sedikit trauma di diriku. Takut seandainya kejadian seperti itu terulang lagi.

"Yan..."
"Hmm.."
"Kalo misalnya aku pindah jauh dari sini gim...", belum aku selesai dengan ucapanku, Rian membungkam mulutku dengan tangan nya.
"Gak usah ngomong aneh-aneh, kamu disini aja biar aku yg jagain", sambil mengusap kepala ku.

Rian begitu peduli begitu perhatian padaku, sebenarnya tak hanya Rian saja, semua sahabatku pun sama perhatian nya tapi entah kenapa aku merasa lebih nyaman saat bersamanya.

"Panggilan masuk"

Di pagi keesokan harinya, aku menerima sebuah panggilan dari Leo. Padahal baru beberapa hari berpisah tapi ia mengungkapkan rasa rindunya, katanya lebih enak saat masih satu kota sama teman-teman lain, aku pun merasa ada yg kurang dengan kepergian Leo dan Miza, aku dan Rian yg tersisa tak dapat berbuat banyak, kami mencoba untuk bertahan walau hanya berdua disini. Akhirnya hari itu tiba juga, tak terasa liburan panjang akan segera berakhir, dan aku masih bingung akan melanjutkan sekolah dimana sementara teman-teman sudah menemukan SMA pilihan nya.

Siang itu...

"Yan, aku besok pergi ya..."
Rian terdiam menatap wajahku, ekspresi kaget jelas terlihat.
"Kamu mau kemana ley? Kalo kamu jauh dari aku, siapa yg bakal jagain kamu?", ia menggenggam erat tanganku.
Aku merasakan ada sesuatu yg berbeda dari tatapan nya kali ini, ada rasa yg tak biasa.
"Aku mau lupain kota ini dan segala kenangan pahitnya Yan, maafkan aku ya tapi aku harus pergi..."
"Jauh..."
"Jauh dari sini"


...sampai ketemu update selanjutnya...
Diubah oleh alealeya
apdet seminggu sekali

itu apdet apa siaran langsung liga inggris emoticon-Ngakak
Quote:


Cuman formalitas aja gan, takut gak bisa menuhin janji kalo ane tulis update tiap hari, aslinya kalo ada waktu pasti di update kok
Dan ane gak mau di cap sbg pembohong gara2 gak bisa menuhin janji emoticon-Malu (S) emoticon-Peace
Part 3

Namaku Aleya (Based on true story)


1 tahun berlalu, kini aku hidup seorang diri di sebuah kota yg lebih besar daripada tempat ku tumbuh. Disini aku belajar untuk lebih dewasa dan belajar tentang makna hidup. Aku Aleya, seorang remaja wanita yg memulai kembali hidup, meski di usiaku yg sangat belia, aku harus memikul tanggung jawab atas nasibku sendiri. Sekarang jaman sudah berubah, aku pun sudah berhasil masuk di sekolah SMA favorit di kota ini, hasil dari usaha ku sendiri. Sahabat-sahabat ku yg kini terpisah di 4 kota berbeda masih saling terhubung, kini kami beralih menggunakan f*cebook untuk saling berkomunikasi.

Memang aku seorang yg agak sulit bergaul dan beradaptasi, disini aku tak memiliki banyak teman, bahkan di sekolah aku hanya menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas sementara teman-teman lainnya nongkrong di kantin atau saling menggosipkan satu sama lain. Untuk masalah dana hidup aku tak perlu khawatir, bahkan bisa dibilang aku hidup sangat berkecukupan berkat 2 transferan dari ayah dan ibu ku, mungkin ini lah untungnya jadi anak broken home?

Di pagi itu...

"Al sore ini kamu mau kemana?", seorang cowok menghampiri tempat dudukku, lumayan ganteng sih, dan menurut isu yg beredar katanya dia salah satu cowok favorit di SMA, Tomy namanya.
"Mmmh... gak ada, mungkin langsung pulang ke kost, kenapa Tom?", jawabku.
"Kayaknya kamu hobi musik ya, aku mau ajak kamu ke toko musik, kamu mau gak?", matanya menatapku lembut, begitu teduh rasanya tatapan tulus dari seorang Tomy.

Sehari-hari aku memang sering mendengarkan musik lewat hp walkman editionku, bahkan di beberapa kali kegiatan ekskul aku pernah memakai kaos dengan logo-logo band musik aliran pop punk atau rock. Aku memang tak berubah sama sekali, masih setia dengan rammbut ku yg diatas bahu, masih dengan tampilan tomboy khas Aleya.

"Habis pulang sekolah Tom?", aku memastikan.
"Yap, itu kalo kamu mau biar sekalian nanti ku antar pulang ke kost ya".

Aku meng-iyakan ajakan Tomy, kami pun pergi menuju toko yg menjual berbagai kaset musik mulai dari lokal sampai manca negara, ini tempat yg asyik. Ketertarikan ku pada Tomy pun mulai muncul saat ia menyodorkan earphone yg di gunakan untuk mencoba kaset sebelum dibeli...

"Al, coba dengerin ini deh", sambil memasangkan earphone ditelinga ku.
Aku tersenyum sambil menatap raut wajah Tomy setelah earphone terpasang ditelingaku.

"Kamu suka musik gini Tom?", tanya ku sambil melepas kan sebelah earphone.
"Ihh ini band favorit aku tauk, dari SMP aku suka banget sama band ini", jawab Tomy.

Wow rasanya kayak puzzle yg tepat terpasang, "perfect match". Baru kali ini aku nemuin orang yg sama-sama suka dengan band ini selain Rian.

"Yuk dengerin sama-sama", sambil ku sodorkan earphone yg sebelahnya ke Tomy.

Makin hari kami makin dekat, Tomy sering membuatku tertawa saat dikelas, maupun diluar kelas. Ia jadi sering main ke kost ku, tapi masih dalam batas wajar, kami hanya duduk-duduk mengobrol di ruang tamu yg disediakan oleh ibu kost, lagian mana boleh cowok masuk ke kamar kost cewek disini.

"Al...", Tomy memanggilku lembut sambil rebahan di paha ku.

Kami sedang berada di rumah Tomy, tepatnya sekarang kami duduk di teras kamar Tomy. Ternyata Tomy adalah anak dari orang yg cukup berada, rumahnya sangat besar, kamarnya bagus banget, jauh berbeda dengan kamar kost ku yg sempit. Yaa memang aku juga pernah merasakan hidup di rumah seperti ini, tapi itu dulu.

"Kamu tau gak?, aku seneng banget bisa deket sama kamu, cewek secantik kamu bisa ada di hidupku", ucapnya sambil menatap mataku.

Aku sih udah biasa deket-deketan sama cowok, rebahan di paha cowok, bersandar di pundaknya, tapi kok rasanya kali ini sama Tomy beda yah?...
Aku tersipu malu setelah mendengar kata-kata Tomy barusan, wajahku memerah, perasaan campur aduk bergejolak dalam diriku.

"Al...", ucap Tomy lagi, kali ini ia berusaha mendekatkan wajahnya ke wajahku, semakin dekat, makin dekat. Jantung ku berdegup kencang, perasaan tak karuan menghampiriku seiring dengan wajah nya yg makin dekat ke wajah ku. Aku tak bisa menghindar atau mengelak, ingin rasanya bangkit dan menjauh tapi badanku terasa lemas, hanya bisa pasrah apapun yg terjadi. Lalu sebuah ciuman mendarat tepat di bibir ku!, astaga! Ini pertama kalinya buatku. Aku berusaha mendorong Tomy, tapi seakan tak berdaya aku hanya bisa diam.

"T... Tom... kamu..", badanku gemetaran, terasa layu di persendianku.
"Al... mulai sekarang boleh gak kamu ku panggil sayang.."

Sejak hari itu, aku dan Tomy resmi menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih. Pertama kalinya aku pacaran, rasanya sih gak jauh beda dengan punya sahabat yg care kayak waktu itu, tapi sedikit banyak nya ada yg berbeda antara sahabat dan pacar.
Kami jadi makin sering menghabiskan waktu bersama, Tomy yg juga tak punya banyak teman sepertiku nampak bahagia setelah ia memiliki aku. Banyak kejadian lucu saat kami bersama, kenangan-kenangan kami lukiskan bersama dalam hati. Sama seperti Tomy, aku pun tak ingin momen ini cepat berlalu, kami ingin bersama sampai nanti (entah kapan).

Aku masih tetap terhubung dengan para sahabatku, kini jaman semakin canggih dengan hadirnya smartphone dan aplikasi chat realtime, kami membuat sebuah grup disana yg berisi kan aku, Leo, Rian dan Miza. Walau hidup di kota yg berbeda, kami masih tetap saling sapa, saling berbagi cerita.

""Group Chat"

"Leo sekarang udah punya band sendiri lho...", tulis Miza.

"Wow keren, emang Leo main apaan?", jawab Rian.

"Dia sih gak mau sombong, megang kabel dia", Miza menjawab.

"Eh eh kalian ya sembarangan, gini-gini aku ngisi vokal tauk!, jangan salah kalian", Leo geram.

"Ley, si Leo jadi vokalis beneran sekarang lho, kamu gak ngucapin selamat?", tulis Rian kemudian.

Aku membalas 1 jam kemudian, "selamat Leo, akhirnya jadi juga vokalis gadungan jaman SMP sekarang punya band sendiri haha, pasti bawain lagu dangdut ya".

"Leya dari mana aja sih? Lama banget balasnya? Gak kayak biasanya ih", tulis Miza.

"Biasa Miz, yg udah punya pacar mungkin sibuk pacaran", jawab Rian.

"Mungkin dia lagi sibuk Miz, kan sekarang udah mau ulangan kenaikan kelas", kata Leo.

"Rian cemburu, ehhem", celetuk Miza.

"Miz!"

"Apaan yan? Aku salah ya?"

Iya sih emang ku akui, perhatian dari Rian emang beda daripada sahabat-sahabat yg lain, apakah emang bener kalo Rian cemburu dengan pacarku yg sekarang si Tomy? Sebelumnya Rian gak pernah begitu, entahlah...
Diubah oleh alealeya
cerita yg cukup menarik, ditunggu lanjutannya sist.
Hmmm seru juga,dobel apdet lg dong
mantep nih emoticon-Sundul
ane tunggu updatenya ley ya o :v
Part 4

Namaku Aleya (Based on true story)

Beberapa bulan setelah aku dan Tomy pacaran, Rian seakan menjauh dari ku, tak lagi sering menghubungi ku, tak lagi mengingatkan makan siang atau belajar di malam hari. Si Rian kenapa sih? Apa aku kurang peka?.

Sore ini ku beranikan diri menghubungi Rian duluan, sekedar ingin menanyakan kabarnya, dan ingin meminta maaf bila aku salah padanya.
Ku ketikkan sebuah pesan singkat melalui aplikasi chat paling hits di masa nya...

"Yan, kamu lagi apa? Sibuk gak?"

Ku tunggu 10 menit, 30 menit, satu jam kemudian tapi tak ada balasan dari nya. Matahari terbenam, malam menjelang, aku sedang asyik memasak makanan untuk santap malam ku di dapur umum kost. Saat asyik-asyiknya aku memasak ikan goreng sayup-sayup ku dengar ringtone hp ku berdering dari dalam kamar ku yg terletak di lantai 2 kost, tepat disamping tangga. Segera ku angkat ikan dari penggorengan, mematikan kompor lalu berlari menuju kamar, langsung ku raih hp dari atas meja belajar.

"Halo Yan..."

"Halo Ley, sorry baru bisa kasih kabar sekarang ya", ucap Rian via telepon.

"Iya gak papa Yan, emang kamu lagi sibuk apa?"

"Aku gak sibuk sih, cuman baru bisa kasih kabar aja sama kamu", suara Rian terdengar lemas.

"Kamu kenapa Yan? Kok suaramu beda?"

"Enggak kok Ley, aku gak papa cuman lagi gak enak badan aja"

"Gak Yan, kamu gak bisa bohong sama aku, kita udah lama kenal, aku tau kalo kamu kenapa-kenapa", mulai khawatir dengan si Rian.

Kemudian Rian menjelaskan bahwa penyakit tifus yg di deritanya baru saja kambuh karena kelelahan, ternyata saat ini Rian sedang di rawat di rumah sakit. Namun Rian tetap bersikeras bahwa keadaan nya baik-baik saja. Aku tak percaya, setelah telepon di tutup, aku langsung menghubungi Yana adik dari Rian. Dan sungguh diluar dugaan, keadaan Rian sekarang ternyata sangat buruk, bukannya sakit tifusnya yg kambuh, tapi Rian baru saja kecelakaan motor. Secara garis besar memang Rian jujur mengenai dirinya yg sedang dirawat dirumah sakit, tapi kenapa dia harus bohong masalah sakit yg dia derita?.

Malam itu juga, ku putuskan untuk pergi ke kota itu lagi untuk menjenguk Rian, merawat Rian, walaupun sudah ada keluarganya disana, paling tidak kan kehadiran seorang sahabat bisa lebih cepat menyembuhkan nya. Aku tak peduli lagi dengan semua, rasa khawatirku mengalahkan logika, lagipula jarak kota kediaman ku sekarang dengan kota asalku hanya 14 jam perjalanan darat, dan kalau aku berangkat sekarang naik bus kota, besok siang aku sudah bisa bertemu Rian. Ehh tunggu dulu, tadi kan aku masak ikan. Buru-buru aku turun tangga menghampiri ikan goreng ku diatas wajan. Yahh baru aja ditinggal sebentar, ikan gorengku raib dicuri kucing garong yg suka keliaran di kost, astaga makan apa aku malam ini.

"Panggilan keluar"

"Halo yang, kamu lagi sibuk gak?, boleh aku minta tolong?", ucapku sesaat setelah Tomy mengangkat telepon nya.

"Hmmm.. enggak sih, emang mau minta tolong apa?"

"Anterin aku ke terminal bus dong, aku mau pulang malam ini"

"Hah? Malam-malam begini kamu mau pulang? Emang ada apa? Kok mendadak banget?"

"Kamu ingat kan sahabat ku si Rian, dia sekarang di rumah sakit, kecelakaan katanya, jadi aku mau jenguk dia, mau ya anterin aku?"

"Oh ya? Wah kasian dia ya, tapi apa kamu gak papa sendirian berangkat malam-malam gini?"

"Gak papa kok, yaudah anterin aku makanya, temenin sampe aku dapet bus ya..."

Setelah telepon ditutup Tomy langsung menggeber motor sport 2 tak nya menuju kost ku, tak banyak barang yg ku bawa, hanya beberapa lembar kaos dan celana pendek untuk ganti. Walau disana ada rumah Ayah, Ibu dan Om, tapi aku bakal milih tidur di rumah sakit aja nemenin Rian. Untungnya Tomy adalah sosok yg pengertian, ia gak pernah tuh marah atau cemburu kalo aku berhubungan sama sahabat-sahabatku, bahkan ia sering penasaran dan minta diceritakan tentang kami dulu. Ia sudah banyak tau tentang masa lalu ku, tentang siapa aku, dan tentang sahabat ku, sangat bahagia rasanya bisa bersama Tomy.

Aku dan Tomy sampai di terminal bus, suasana ramai khas terminal menyambut kami. Ditengah kerumunan ku lihat seorang kernet bus melambai-lambai menyebutkan nama kota yg akan ku tuju. Ah pasti itu bus yg akan membawaku kesana.

"Yang aku naik bus itu ya, kamu hati-hati pulang nya...", ucapku sambil menyerahkan helm pada Tomy.

"Iya, yuk ku anterin sampe bus, motornya biar parkir disini aja", sambil menstardarkan motornya disamping sebuah kios.

Kami berjalan kaki menuju bus, Tomy membawakan ranselku yg padahal gak seberapa berat tapi tetap saja Tomy bersikeras untuk membawakan nya. Inilah cara Tomy menunjukkan perhatiannya.

"Jaga diri baik-baik ya, cepat balik kesini Leya sayang, titip salam buat Rian", Tomy mengusap kepalaku. Aku hanya mengangguk sambil membalikkan badan memasuki bus.

Memang aku gak bilang-bilang sama Rian kalo aku mau kesana menengoknya, ku pikir dia akan melarangku kalau tau aku berangkat sendirian malam-malam begini, jadi lebih baik begini, toh dia gak bakal bisa melarang kalo aku sudah ada disampingnya nanti.
Perjalanan panjang ku malam ini mengantarkan ku pada sebuah lamunan, sekilas memori tentang kota yg akan ku tuju ini, disana lah tempat aku tumbuh besar, di kota itu juga aku dihancurkan oleh keluarga ku yg harus berpisah. "Apa sebaiknya aku sekalian menengok kedua orang tua ku ya?", gumamku dalam hati. Ah liat nanti aja lah.

Ditengah perjalanan bus berhenti untuk makan dan istirahat, sang sopir terlihat lahap menyantap hidangan yg tersaji, kemudian ia tidur sejenak untuk menyegarkan kembali matanya agar tetap terjaga di 8 jam perjalanan kedepan.
Aku hanya menikmati secangkir teh hangat dan satu cup mie instan, sebagai ganti dari makan malam ku yg dicuri kucing di kost tadi, yah elah mana itu ikan terakhir lagi.
Seorang pria lumayan berumur duduk di depanku, dari tampang nya terlihat agak kelelahan, ia membawa secangkir kopi lalu meletakkan nya di atas meja.

"Sendirian aja dek?", tanya nya.

Duh gimana ini, kalo dia mau macam-macam sama aku gimana, aduhh gawat nih.

"I.. iya pak..", jawabku.

"Ooh, mau kemana?", lanjutnya.

"Mau ke kota T pak"

"Kok malem-malem gini pake celana pendek gitu? Apa gak kedinginan?", sambil menunjuk celana ku. Iya sih aku pake celana pendek, udah kebiasaan ku, tapi harusnya aku pake celana panjang dan lebih sopan biar paha ku gak jadi 'pemandangan' buat orang-orang nakal.

"Ng... anu pak, tadi gerah soalnya pas di kota A", jawabku sambil menutupi pahaku dengan jaket.

"Hati-hati lho dek, jangan sampe kamu jadi korban gara-gara pakaian mu 'mengundang' niat orang berbuat jahat", ucapnya.

"Ii... iiya pak, makasih udah di ingetin", terus melanjutkan menyantap mie cup.

"Kamu gak usah takut sama saya, saya bukan orang jahat kok, saya cuman ingat sama anak saya yg mungkin sekarang seumuran kamu kalo masih hidup", sambil menatap wajahku.

Sang bapak bercerita bahwa anak beliau meninggal saat umur 12 tahun, ia mengidap penyakit leukimia. Aku ikut sedih mendengar kisahnya, sang Bapak merasa sangat terpukul dengan kejadian itu, ia masih merasa bersalah karena tak bisa membawa anaknya untuk berobat. Aku jadi teringat ayahku, apa kabar ya ayah sekarang? Walau ia sering kirim transferan ke rekeningku tiap bulan, tapi aku tak pernah lagi melihat wajahnya bertahun-tahun belakangan. Apa sebaiknya nanti aku mampir di rumah ayah sekalian yaa? Sekedar silaturhami dan bertemu mungkin gak ada salahnya.
Diubah oleh alealeya
ikutan nenda dulu gan, lumayan bagus juga tampilan trid nya,tiap part ada cover nya
Quote:


dipantengin terus ya gan, ane update semampu nya, kalo mampu 4 yaa ane kasih 4 emoticon-Malu (S)

Quote:


hehehe ni lagi ane usahain gan, moga aja bisa yaa emoticon-Cendol (S)

Quote:


yups bang, leya usahain update terus emoticon-Betty (S)
Quote:


hihihi thanks gan emoticon-Cendol (S)
btw mohon masukan nya kalo ada yg kurang yakk, ane masi belajar soalnya
Part 5

Namaku Aleya (Based on true story)


Sekitar pukul 14.00 waktu setempat akhirnya bus kota yg ku tumpangi berhasil mengantarkan ku sampai dengan selamat di tujuan, kota penuh dengan kenangan. Ku langkahkan kaki dengan pasti keluar dari bus, terminal yg (maaf) agak kumuh menyambutku, aaahh aroma udara di kota ini tak berubah sedikitpun setelah bertahun ku tinggalkan. Eh iya, aku ke rumah sakit naik apaan ya? Ojek atau angkot?, ah sambil jalan aja lah mikirnya.
Kulanjutkan lagi perjalanan menuju keluar dari terminal, melewati sebuah warung kopi dengan beberapa cowok-cowok yg mungkin preman terminal di depannya.

"Eh eneng mau kemana? Abang anterin yuk", goda salah satu cowok padaku.

Yahh pakaian ku gini, jelas lah jadi perhatian orang, lagian disini gak biasa kalo liat orang pake pakaian gini keluar rumah. Aku hanya terus berlalu walau mereka tak henti-henti nya menggoda ku. Ahh cowok pikirku. Pilihanku akhirnya tertuju pada seorang pengojek yg sedang mangkal tepat di seberang terminal, tampang nya cukup meyakinkan, ia mengenakan peci putih (ditempatku biasa disebut kopiah haji).

"Pak, ke rumah sakit berapa?", tanya ku sambil menghampiri beliau.

"Eh.. a.. anu neng 15 ribu", jawabnya sambil memperhatikanku dari atas kebawah.

"Maaf pak pakaian saya kurang sopan, abis gerah banget dalam bus"

"Iya neng gak papa, yuk bapak anterin".

Aku menyambut sebuah helm yg ia sodorkan padaku, tak seperti dugaan ku, helm yg ia sodorkan ternyata tak berbau. Kupikir semua pengojek punya standar bau helm yg sama, tapi bapak ini berbeda.
Dalam perjalanan ia sempat tanya-tanya tentang asalku dan ada apa kok baru datang langsung ke rumah sakit, aku jelaskan sejelas mungkin pada beliau maksud kedatangan ku ini. "Wah pasti bukan sahabat biasa ini mah, wong jauh-jauh datang cuma buat nengok hihi", ucap beliau mencoba menggoda. Iya sih pak, emang bukan sahabat biasa, kita kan sahabat dekat.

20 menit perjalanan berlalu, aku tiba dirumah sakit lumayan besar, tak ingin buang waktu langsung ku tanyakan keberadaan Rian pada bagian informasi, Rian pasti kaget liat aku ada disini pikirku. Walaupun lapar rasanya menggerogoti perutku karena dari semalam aku hanya makan 1 cup mie instan, tak apalah yg penting aku bisa ketemu Rian dulu dan memastikan kondisinya baik-baik saja.
Ku masuki sebuah ruangan tempat Rian dirawat, dari kaca pintu terpampang jelas wajah Rian yg sedang tidur sendirian, kasian si Rian lagi sakit gini malah gak ada yg ngerawat, ucapku dalam hati. Kemudian ku letakkan ransel bawaan ku di kursi, lalu aku duduk disamping Rian yg sedang tertidur pulas, terlihat jelas wajahnya yg polos dan lucu. Ku raih tangan kanan Rian yg tergeletak di ranjang.

"Yan, cepet sembuh yaa, kok kamu gak bilang sih kalo kamu habis kecelakaan", aku bicara sendiri sambil memegangi tangan nya.

Oh iya aku lupa mengabari Tomy kalo aku sudah sampai di rumah sakit dengan selamat. Segera ku ketik sebuah pesan singkat menyampaikan bahwa aku sudah disini, disisi sahabat baik ku yg sedang sakit.

"Klakk...", pintu kamar terbuka.

"Eh Leya, kapan datang?", ucap Ibu Rian sambil menutup kembali pintu.

"Baru aja sampe tante, hehe"

"Naik apa kamu kesini? Udah makan belum kamu nak?", sambil meletakan tas plastik cukup besar diatas meja.

"Belum tante, gak sempet makan langsung kesini soalnya, khawatir banget abis denger Rian kecelakaan", jawabku.

Ibu nya Rian mengajakku untuk makan bersamanya, tanpa menunggu lama langsung ku santap makanan yg di suguhkan dengan lahapnya. Beliau sambil menceritakan kronologis kejadian kecelakaan Rian, ternyata Rian jadi korban tabrak lari dari sebuah truk saat pulang sekolah, membuat tulang kaki kiri nya retak dan harus menjalani serangkaian terapi selepas sembuh nanti. Kasian banget Rian harus menghadapi bencana kayak gini.

"Maa...", Rian terbangun dari tidurnya, mungkin karena terganggu dengan suara kami yg asyik mengobrol.

"Nahh Rian udah bangun, mau makan nak?, coba liat siapa yg datang ini", ucap Ibu Rian.

"Siapa ma..., eh.. loh.. Leya?", sambil mengucek matanya rasa tak percaya.

"Halo Yan, aku disini buat kamu hihi", aku tersenyum menatapnya.

Rian meneteskan air mata, mungkin ia terharu karena aku rela jauh-jauh datang kesini cuma buat nengok dia yg sedang sakit. Sempat ku cubit tangan nya karena kesal di bohongin, tapi hanya sebagai rasa khawatirku saja dengan keadaan nya.

"Untunglah Yan kamu gak apa-apa", ucapku.

"Aduh kamu Ley, kaki ku diperban gini kamu bilang gak apa-apa?, tega kamu"

"Ya kan masih untung kamu gini, jadi bisa ketemu aku sekarang", canda ku sambil mengusap-usap kepalanya.

"Awas kamu Ley kalo aku udah sembuh, terus terus aja berantakin rambutku, tar ku bales jangan nangis", Rian mulai emosi.

"Ehh anak-anak, jangan pada ribut disini, ingat ini rumah sakit, emang yaa si Rian cocok nya sama Aleya, klop banget deh pasti cepet sembuh", Ibu rian tersenyum melihat tingkah kami.

Pertemuan siang itu mengantarkan kami pada cerita-cerita nostalgia, aku duduk disamping ranjang Rian, sambil berbagi cerita lama yg lucu, kocak dan penuh kenangan. Rasanya ingin mengulang lagi masa-masa indah itu, masa dimana gak ada duka, hanya ada ceria setiap hari dikelilingi oleh sahabat terbaik di dunia.
Ditengah perbincangan kami, tiba-tiba Rian bertanya, "Ley, gimana pacarmu? Apa dia gak marah kamu jauh-jauh kesini cuma buat nengokin aku?".

Kujelaskan pada Rian bahwa aku ada disini sekarang itu semua atas izin dari Tomy, dan dia titip salam buat Rian.

"Masa sih?", Rian rasa tak percaya.

"Beneran... liat nih muka ku emang aku bo'ong?"

"Gak usah dijelek-jelekin muka nya udah jelek dari orok", sambil mencubit pipiku.

"Ih ih, Yaaann!! Sakiit!"

"Hus huss ini anak-anak susah banget di kasih tau orang tua", kata Ibu Rian.

Kami cekikikan sebentar lalu langsung diam, sejenak ditengah diam aku melamun, entah memikirkan apa.

"Kenapa Ley? Ada masalah?, Rian meraih tanganku.

"Mmmh... engga Yan gak papa, gak tau ngelamun sendiri", kulemparkan senyuman pada Rian biar dia percaya kalo aku gak mikirin apa-apa.

"Ini... muka ini gak bisa bo'ong kalo ada masalah", sambil mengusap-usap dahiku.

Iya sih, setiap aku ada masalah pasti teman-teman bisa tau tanpa ku kasih tau ada masalah apa. Apa begitu jelas terlihat ya?

"Ley, kamu gak mau nengok Ibu mu?", tanya Rian. Membuatku terdiam seakan menyadari apa yg barusan ku lamunkan.

"Ntar aja Yan, aku mau temenin kamu dulu sampe sembuh pokoknya"

"Gak boleh gitu dong, kamu ingat kan? Keluarga itu nomer satu..."

"Iya Leya, bener kata Rian, mending kamu jenguk dulu deh ibu kamu mumpung tante ada disini nemenin Rian"

Apa iya sekarang aku harus kesana? Bukannya males sih, cuman aku masih ada rasa trauma yg gak hilang dalam hati, walau orang tua ku sudah lama berpisah. Entah kenapa perasaan itu masih ada dan membekas.
Diubah oleh alealeya
Quote:


Quote:


trit ente lumayan juga emoticon-Big Grin
Quote:


Wahh makasih banyak pujian nya, ane masih belajar masih banyak baca2 tutorial biar bikin yg menarik, mohon komentarnya kalo ada yg kurang atau salah yaa emoticon-Malu (S)

Besok lagi ahh nulisnya, dah malem emoticon-Stick Out Tongue
Diubah oleh alealeya
Quote:


gw juga sama kaya lu, baru belajar juga, mampir dih di trit ane emoticon-Big Grin
Quote:


Ane pikir ente cewe jg, abis baca trit ente baru sadar kalo ternyata ente cowo hahaha
Btw oke juga, jadi pengen baca lagi part selanjutnya hehe emoticon-Stick Out Tongue
Halaman 1 dari 34


GDP Network
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved
Ikuti KASKUS di