alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/591e5b59dbd770f11b8b456a/geger-pacinan-dan-perang-sepanjang-episode-yang-hilang-dari-buku-sejarah-indonesia
icon-hot-thread
Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?
Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?
Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?
pacinan di era batavia

Quote:
LASKAR Tionghoa dan Jawa bersekutu melawan VOC. Perang dari ujung ke ujung pulau Jawa ini melahirkan Dinasti Yogyakarta dan Mangkunegaran.

Oktober 1740. Batavia, ibukota Serikat Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) rusuh. Tiga hari berturut-turut. Orang Cina dibantai atas perintah Kompeni.di kenal sebagai peristiwa geger pecinan : https://id.wikipedia.org/wiki/Geger_Pacinan

"Korban tewas diperkirakan mencapai 10 ribu jiwa," tulis Iwan "Ong" Santosa dalam Perang Terbesar Melawan VOC, Modal Sosial Membangun Indonesia--catatan editor buku Geger Pacinan.

"Jumlah tersebut sangatlah besar," sambung wartawan yang juga penulis sejumlah buku sejarah, antara lain Tarakan--Pearl Harbor Indonesia dan Pasukan M--Pertempuran Laut Pertama dalam Sejarah RI.

Mengingat jumlah penduduk Jawa, merujuk buku Conquest of Java di awal 1811, belum lagi genap lima juta jiwa.

Dia membandingkannya dengan Pertempuran 10 November 1945 yang berlangsung beberapa pekan di Surabaya. Melansir catatan Des Alwi, jumlah korban di pihak Republik diperkirakan 12 ribu jiwa. Ketika itu jumlah penduduk Indonesia, sekitar 70 juta jiwa.

"Ditinjau dari segala sisi, Perang Sepanjang (1740-1743) jauh lebih besar dari skala Perang Diponegoro (1825-1830) yang justru mendapat lebel Perang Jawa," paparnya.


Quote:

Perang Sepanjang


Dipimpin Kapitan Sepanjang, orang Tionghoa pun berlawan.

Daradjadi menggambarkan pertempuran demi pertempuran yang dikobarkan laskar Tionghoa melawan VOC itu dengan sangat kolosal dalam buku Geger Pacinan.

Ketika Susuhunan Pakubuwono II dari Mataram mendengar bahwa orang Tionghoa berani menyerbu Batavia, disebutkan bahwa dia merasa terkejut karena…

"Tionghoa diidentikkan dengan wanita, yang tidak memiliki kekuatan sendiri dan hanya cocok untuk perdagangan serta untuk menjaga gerbang tol saja," tulis Nagtegaal dalam Riding the Dutch Tiger.

Perang menjalar. Dipukul di Batavia, pasukan Kapitan Sepanjang membakar Jawa.

Dari Batavia perang meluas ke Karawang, Cirebon, pesisir Pantura-Tegal, Pekalongan, Semarang, Kudus, Purwodadi, Rembang hingga Lasem, Tuban, Surabaya hingga Pasuruan.

Merembet pula ke daerah pedalaman Mataram. Dari wilayah yang kini dikenal sebagai Yogyakarta, Surakarta, Banyumas hingga Pacitan-Madiun-Malang.


Bersama rakyat Mataram yang sudah muak dengan kompeni, Sunan Pakubuwono II berpihak pada aliansi Tionghoa-Jawa.

Namun kemudian, dia berbalik arah dan bergabung dengan Kompeni.

Apa boleh buat, "para pejuang Tionghoa-Jawa ternyata mampu meluluhlantakkan Keraton Pakubuwono II di Kartasura dan mereka mengangkat Mas Garendi (Sunan Kuning) sebagai raja," tulis Daradjadi.

Dikisahkan, panglima Jawa yang ikut dalam perang ini, di kemudian hari tampil sebagai pemimpin dinasti baru.

Pangeran Mangkubumi yang tadinya berperang di pihak aliansi Tionghoa-Jawa menarik pasukan. Kemudian mendirikan Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Begitu pula dengan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa yang setelah perang itu mendirikan Dinasti Mangkunegaran.

"Kelak di wilayah Yogyakarta dan Mangkunegaran dikenal sebagai motor penggerak serta modernisasi Jawa," ungkap Iwan Ong.

Bahkan medio 1800-an, sambung dia, Mangkunegara IV dikenal sebagai reformis dan tokoh enterpreneur Jawa terkaya di zamannya.

"Mangkunegara IV juga menyediakan layanan kesehatan gratis serta terobosan di bidang pendidikan di wilayah Pradja Mangkunegaran yang kini menjadi sebagian wilayah Surakarta modern," tutur Iwan Ong yang juga penulis buku Legiun Mangkunegaran.


Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

Quote:
Babak yang Hilang

Sunan Kuning yang masih bersetia memerangi VOC bersama Kapitan Sepanjang tertangkap dalam sebuah pertempuran.

"Setelah beberapa hari ditahan di Surabaya, dibawa ke Semarang. Para pengikutnya dieksekusi. Sunan Kuning dibawa ke Batavia untuk selanjutnya dibuang ke Sri Lanka," tulis Daradjadi.

Setelah terpisah dengan Sunan Kuning, Kapitan Sepanjang beserta pasukannya ke Timur menuju Blambangan dan menyerang pos-pos VOC.

Tapak-tapak wilayah yang pernah menjadi arena pertempuran ini masih bersisa hingga sekarang. Satu di antaranya cirinya, wilayah itu memakai nama pimpinannya.

Di Semarang ada Kampung Panjangan. Desa Sepanjang dapat dijumpai di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.

Di Selatan Surabaya ada juga daerah Sepanjang. Dan di Banyuwangi, wilayah terakhir pasukan Kapitan Sepanjang di pulau Jawa, juga ada kampung bernama Sepanjang.

Setelah terusir dari Jawa, Kapitan Sepanjang berkelana di pulau Bali. "Ia terlihat terakhir kali di muka umum pada 1758 di Istana Gusti Agung, Bali. Setelah itu, ia menghilang tiada rimbanya," tulis Daradjadi.

Budayawan Didi Kwartanada dalam Bukan Incorrigible Opportunists, Melainkan Kawan Seperjuangan--sebuah pengantar untuk buku Geger Pacinan menyayangkan hilangnya babak sejarah yang ini dalam buku pelajaran sejarah.

Menurut dia, pada masa Bung Karno, episode sejarah tersebut masih muncul dalam buku teks sejarah. Misalnya, karya Soeroto, Indonesia dan Dunia: Peladjaran Sedjarah untuk SMP djilid 2 (Djakarta: Tiara, 1961).

Bahkan, lanjut Didi, buku Sedjarah Nasional yang diterbitkan Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru di Bandung (1953) menyebut episode tersebut sebagai Revolusi Tahun 1740-1743.

"Namun, dalam masa Orde Baru, kepada para murid tidak lagi diajarkan kisah perjuangan bahu-membahu melawan penjajah yang cukup penting artinya bagi nation building kita tersebut," tulis Didi.


http://www.jpnn.com/news/ini-episode...donesia?page=5

secara sederhana tokoh tokoh yg terlibat dalam perang ini :

pro aliansi jawa cina :
- Kapiten Sepanjang (Khe Panjang / Tan Way Soey; Pemimpin Laskar Tionghoa)
- Raden Mas Garendi (Sunan Kuning / Amangkurat V,mataram)
- Patih Notokusumo ( pemimpin 20.000 pasukan mataram melawan VOC )
-Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi (Bangsawan Mataram)

pro aliansi jawa cina diawal dan kemudia berubah haluan jadi pro VOC :
- Sunan Pakubuwono II (Raja Mataram berkuasa)

pro VOC :
- Adriaan Valckenier (Gubernur Jendral VOC saat terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Batavia)
- Hugo Verijsel (Pimpinan Militer VOC)
- Cakraningrat IV ( madura )

kronologi singkat :

1.dari 15.000 tionghoa di batavia dan sekitarnya,10.000 diantaranya tewas dibantai VOC,sisanya yg selamat dari pembantaian kabur ketimur

2.Sunan Pakubuwono II mataram yg sudah jengah dengan VOC melihat kesempatan ini utk menyerang VOC,pihak mataram dibawah pimpinan Patih Notokusumo dengan kekuatan 20.000 pasukan beraliansi dengan 3.500 tionghoa untuk menyerang kedudukan VOC di semarang

3.dengan bantuan Cakraningrat IV dari Madura,VOC berhasil mengalahkan kepungan mataram+tionghoa di semarang,bahkan Cakraningrat IV berhasil mengalahkan pasukan tionghoa di wilayah timur

4.Setelah kekalahan itu, Pakubuwono II baru menyadari bahwa pilihannya untuk melawan VOC adalah sebuah tindakan yang keliru. Untuk itu Pakubuwono segera memohon ampun kepada VOC. VOC mengabulkan dan mengirim utusan yang dipimpin Kapten Van Hohendorff ke Kartasura untuk melakukan perundingan. Sementara, Pakubuwono II mengirim juru runding yang dipimpin oleh Patih Notokusumo ke VOC Semarang, namun VOC menangkap Patih itu dan membuang ke luar negeri. Penangkapan dan pembuangan Patih Natakusuma ini atas seizin Pakubuwono II.

5.Perubahan sikap Pakubuwono II yang berbalik 180 derajat ini menimbulkan ketidakpuasan dari berbagai kalangan. Para pejuang anti VOC baik dari kalangan Jawa maupun Tionghoa merasa telah dikhianati oleh Raja. Situasi ini memunculkan perlawanan pejuang yang lebih hebat baik kepada VOC maupun Pakubuwono II. Isu perlawanan pun berubah dari anti VOC menjadi anti Pakubuwono, maka sasaran penyerangannya adalah Keraton Pakubuwono II di Kartasura.

6.Pada tahun awal 1742, para pemberontak itu mengangkat salah seorang pangeran cucu laki-laki dari Amangkurat III yang baru berusia 12 tahun yang bernama Raden Mas Gerendi atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning. Sunan Kuning adalah sebutan sunan yang diangkat oleh komunitas Tionghoa.

7.Pemberontakan ini berhasil merebut Keraton Kartasura pada bulan Juli 1742, dan Pakubuwono II lari ke Ponorogo. Namun demikian, VOC dibawah pimpinan Kapten Wilhem atas perintah Wakil Gubernur Jenderal Gustaaf W. Van Imhoff dan dengan dibantu oleh Pangeran Cakraningrat IV menyerang Kartasura dan berhasil merebut Kartasura bulan Desember 1742. Cakraningrat IV mendesak VOC agar Pakubuwana II dibuang saja karena dinilai tidak setia. Namun VOC menolak permintaan itu karena Pakubuwana II masih bisa dimanfaatkan. Cakraningrat IV terpaksa mengikuti kemauan VOC karena khawatir VOC batal membantu kemerdekaan Madura. Raden Mas Gerendi sendiri tertangkap beberapa bulan kemudian, yaitu pada bulan Oktober 1743. Karena istana Kartasura sudah hancur, Pakubuwana II memutuskan untuk membangun istana baru di desa Sala, yang bernama Surakarta. Istana baru ini ditempatinya mulai tahun 1745.


Prasasti monumen laskar tionghoa-jaWa
Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?
TS nya terinspirasi bikin trit ini karena SF Berita Politik kah?? emoticon-Big Grin
memang seperti bab yang hilang padahal efeknya besar.

sampai bikin Gubernur Jendral VOC dituntut hukuman mati dan akhirnya tewas dalam penjara setelah 10 tahun proses persidangan.

https://en.wikipedia.org/wiki/Adriaan_Valckenier

pemberontakan sendiri bergeser dari Batavia ke Jawa Tengah dan tidak mampu dipadamkan VOC hingga 17 tahun.

https://en.wikipedia.org/wiki/Java_W...%E2%80%931743)

yang paling pilu adalah komunitas chinese di Batavia, Semarang, dsb-nya yang jadi korban padahal tidak ikut memberontak. mereka tewas karena isu liar yang menjadikan mereka sasaran VOC yang mengadu domba dengan rakyat lain dengan sentimen ekonomi. hal ini akhirnya dibayar mahal oleh VOC dan masyarakat lapisan bawah dimana ekonomi mengalami kemunduran drastis dan stagnasi hingga 1/2 abad mendatang.

Edit: Post yang Konstruktif

Quote:Original Posted By marmut.deglok
Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

Pengantar Thread Persaudaraan Jawa-Tionghoa di Yogya, Citizen Jounalism

"tidak ada yang lebih menyedihkan bagi para pecinta sejarah selain melihat sejarah yang berusia ratusan tahun dirusak demi sebuah kepentingan, apalagi bila sejarah yang dirusak tersebut menimbulkan dampak buruk bagi harmoni masyarakat.

berawal dari masalah tanah di Yogya, pada bulan Februari 2016 salah satu artikel di Nahimunkar menyebut bahwa soal hilangnya hak memiliki SHM bagi warga Tionghoa di Yogya adalah akibat mereka mendukung Belanda saat revolusi kemerdekaan, selanjutnya Oktober 2016 setelah diangkat Teropong Senayan seakan ini menjadi "sejarah baru" yang segera menyebar ke media media lain.

celakanya .. versi sejarah baru ini dipercaya oleh banyak orang awam sejarah.

dibuatnya artikel ini adalah sebagai penyeimbang sejarah ngawur tersebut, sebab bukan hanya orang Tionghoa yang terkena dampak negatif tapi juga pihak Keraton Yogya dan yang lebih buruk lagi masyarakat luas yang awam sejarah.

mudah mudahan artikel ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan bersama serta tidak menyalahi rule di SF Citizen Jounalism, terima kasih."


Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

Cino wurung, Jowo tanggung, Londo pun durung

sejarah Yogya dan Tionghoa sudah bermula lama sekali, tercatat dalam sejarah, RM Said Pangeran Sambernyawa pada tahun 1741 sudah memimpin laskar Tionghoa dalam serangkaian pemberontakan pada Belanda yang terjadi di Jawa.

pada masa masa setelah peristiwa tersebut, tercatat ada tiga trah keturunan Tionghoa di lingkungan Keraton Yogyakarta, yaitu: Trah Secodiningrat, Trah Honggodrono, dan Trah Kartodirjo.

diantara ke 3 trah tersebut, yang menonjol adalah Secadiningrat, yang dimulai dari sesorang bernama Tan Jin Sing yang kemudian atas restu penguasa Yogya menjadi bupati salah satu wilayahnya dengan gelar K.R.T Secodiningrat, kelak ibeliau ini turut berperan dalam penemuan Candi Borobudur.

masyarakat Tionghoa berpendapat K.R.T. Secodiningrat mempunyai bakat dalam hal memadukan antara kebudayaan Cina dan unggah-ungguh (sopan-santun) Jawa. Adapun mereka yang tidak senang kepadanya, acapkali menyindirkannya dengan ungkapan berlanggam senada: "Cino wurung, Jowo Nanggung, Londo pun durung" atau dengan kata lain, Cina ya tidak lagi, Jawa ya tanggung, jadi Belanda pun belum.

setelah masa itu, pada awal abad 20 hubungan baikpun tetap belanjut.

Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

pada tahun 1936, masyarakat Tionghoa Yogya urunan beramai ramai mendirikan prasati/tugu Ngejaman.

bila diperhatikan pada tugu tersebut terdapat prasasti atau tulisan. Jam tua yang sekarang masih berfungsi ditaruh diatas tugu dimana dibagian paling atas terdapat logo atau lambang Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Prasasti pada dinding tugu terdapat tulisan yang ditulis dengan huruf Jawa, huruf Latin, dan huruf China.

10 tahun setelah itu perang berkecamuk di Indonesia, dan kota Yogya memegang peranan penting dalam sejarah.

Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

sempat menjadi ibukota RI, Yogya mengalami kecamuk perang dari masa agresi 1 dan 2 hingga serangan umum 1 Maret periode 1946 - 1949.

masyarakat Tionghoa, tak ketinggalan ada yang turut berpartisipasi dalam berjuang bersama rakyat dan Tentara RI, yang tercatat antara lain:

Menurut keterangan Divisi V tentara Republik, pada Mei 1946, Chung Hua Tsung Hui bersama 4 orang pengusaha Tionghoa telah memberi sumbangan sebesar f400.000. uang tersebut dibagi rata diantara Fonds Perjuangan, seksi sosial Fonds Masjumi, Fonds Pemondokan Kaum Buruh, dan Partai Buruh Indonesia.

Setelah aksi militer pertama, CHTH Yogyakarta memimpin kampanye pengumpulan dana untuk pemerintah Republik.

Pada tanggal 3 Agustus 1947, Gabungan Pemuda Tionghoa mengadakan rapat yang diadakan di Yogyakarta, dalam rapatnya tesebut para pemuda Tionghoa menyatakan resolusi-resolusi sebagai berikut

1) Berdiri di belakang pemerintah Republik.
2) Turut mempertahankan Negara.
3) Masuk Badan Kongres RI dan Dewan Pimpinan Pemuda.
4) Usaha sosial: membentuk pos PMI.

Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali melancarkan Agresi Militer yang kedua.

Orang-orang Tionghoa banyak yang ikut membantu perjuangan tersebut. Mereka banyak yang ikut berjuang, bergerilya, dan mendirikan dapur umum sampai menampung para gerilyawan. Contohnya babah Tjoe Kiat, babah Soe Gin, dan Jong Twan. Mereka dengan penuh semangat ikut memberikan makanan. Rumah bagian belakang dijadikan markas bagi para pejuang. Mereka aktif ronda dan memberi jaminan (logistik).

Seorang pengacara Mr. Ko Siok Hie, giat melakukan berbagai aktivitas pro-Republik.

Dua pejabat Republik dalam suatu kesempatan, yaitu Mr. Soemanang dan Mr. Soetopo menghimbau kepada komunitas Tionghoa Yogyakarta supaya membantu penyediaan logistik bagi para pemuda pejuang. Mr. Ko (selaku konseptornya) lalu mempersiapkan “kue keranjang”, suatu jenis makanan tradisional Tionghoa yang bisa tahan lama. Pertama kali diproduksi sebanyak 10 kuintal “kue keranjang”. Agen distribusinya adalah anak-anak kecil.


Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

tentu saja tidak menutup mata kalau memang ada Tionghoa yang pro Belanda maupun Tionghoa yang tak mau terlibat dan sembunyi seperti kebiasaan orang jelata pada umumnya.

tetapi bahkan dokter pribadi Jenderal Soedirman pemimpin pasukan gerilya Republik, juga adalah Tionghoa yaitu dr. Oen yang kemudian namanya oleh pemerintah RI dikenang menjadi nama salah satu RS di Solo.

maka dari itu konyol sekali bila dibilang semua Tionghoa Yogya mendukung Belanda, pihak Keraton tentu saja lebih tahu, secara khusus Sultan Hamengku Buwono IX sebagai pemimpin yang adil dan berwawasan luas tentu tahu hal itu.

kembali ke masa sekarang .. masalah tanah di Yogya secara sejarah bukan disebabkan oleh penghianatan Tionghoa Yogya seperti dijelaskan sejarah hoax semacam itu.. bila ingin tahu duduk masalahnya secara obyektif pembaca dapat menyimaknya di arikel ini dan semuanya bisa dimaklumi.

Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

pada hari ini di Yogya, sebuah prasasti berhuruf jawa cina berdiri tegak di dalam kraton Ngayogyokarto Hadiningrat, inilah salah satu prasasti tugu dari dua prasasti yang menyimpan sejarah hubungan warga tionghoa di Jogjakarta.

1. Ing Mataram duk rumuhun, telenging karaton jawi, mangkya mangku buwono, nglenggahi damper mulyadi
2. Prabaweng Pangwasa Prabu, muncarken prabeng herbumi, mangku sarawediningrat, Dera nrusken hujwalaning, keprabon Jeng Sri Mahraja, Lir lumaraping jemparing
3. Tumujweng leres neripun, susatya tuwin mahoni, pamengku nireng buwono. Lus manis cipta tresnasih sih marma mring bangsa Tionghoa, asli saking manca nagri
4. penrenahken manggenipu, ing papan ingkang pakolih laras lan upajiwanya, kang limrah samya mong gramin ing riki nagari harja, tentrem pra dasih geng alit.
5. Bangsa Tionghoa Matur Nuwun/ Harsayeng Tyas Tanpa Pamitan Bangkit Angucapana/ Mengkya Kinertyang Sela Mrih Enget Saklami Laminya/ Rat Raya Masih Lestari

pada baris terakhir ke 5 berarti “…maka kami lantas memahat batu peringatan ini, dengan maksud ingin mengucapkan terima kasih untuk selama-lamanya.kepada Sultan Yogya, sebab terbukti beliau mampu melindungi seluruh warganya,”

lebih baik begitu, apalah artinya sebuah surat sertifikat dibanding penerimaan sebagai bagian dari keluarga besar rakyat Yogya, tentu saja bila tidak setuju masih ada kota lain untuk pindah, tapi nyatanya tidak .. wargaTionghoa Yogya tetap bahagia dan kerasan di Yogya sebagai bagian sejarah dari kota Yogyakarta.

daftar pustaka:

http://jogja.tribunnews.com/2014/10/...-dalam-prasati

http://regional.kompas.com/read/2016....Sing?page=all

file:///C:/DOCUME~1/windows/LOCALS~1/Temp/5781-12691-2-PB.pdf

https://teamtouring.net/tugu-ngejama...ogyakarta.html

http://jogjadiluhung.blogspot.co.id/...ogyakarta.html


dengan sedikit edit, aslinya page 7 post 123. emoticon-Shakehand2


Quote:Menilik Peran Orang Tionghoa di Palagan Surabaya 10 November

Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

PERAN ulama dan santri dalam Palagan Surabaya 10 November 1945 tidak diragukan. Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945 menjadi bahan bakar bagi perjuangan rakyat Surabaya menghadapi Inggris dan NICA di kota mereka.

Salahsatu yang mungkin tidak banyak orangtahu adalah peran etnis Tionghoa dalam pertempuran melawan Inggris tersebut. Koran Kedaulatan Rakyat mencatat kiprah mereka bahu membahu dengan seuma komponen bangsa dalam perjuangan melawan sekutu.

Dalam artikel koran tersebut digambarkan bahwa tentara penduduk Tionghoa turut serta menjaga keamanan dan mendapat bantuan dan sambutan yang hangat dari kaum pemberontak, terlebih lagi setelah kampung pecinan di Surabaya telah diluluhlantakkan oleh gempuran pesawat sekutu.

Dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara Sampai Indonesia (2014) karya Iwan Santosa, dijelaskan bagaimana heroisme warga Tionghoa pada pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Jawa Timur. Dalam pertempuran itu, warga Tionghoa menyebut diri sebagai TKR Chungking dan membawa bendera Kuo Min Tang sebagai identitasnya.

Perlengkapan tempur yang digunakan juga sedikit berbeda dengan pejuang lainnya, mereka menggunakan Fritz Helmet yang digunakan pasukan Wehrmacht (Jerman), lengkap dengan senapan Karaben (Kar) 98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.

Tak hanya ikut dalam pertempuran, warga Tionghoa juga terlibat dalam pengobatan terhadap pejuang yang terluka. Korps medis ini diberi nama Barisan Palang Merah Tionghoa. Satuan ini diberangkatkan dari RS Militer di Malang dan mendapat tugas untuk memasok ransum bagi para pejuang yang berasa di garis depan.

Misalnya Letnan Kolonel (Purn) Ong Tjong Bing alias Daya Sabdo Kasworo. Pria asal Desa Kerebet itu mengikuti pendidikan tekniker gigi dan dokter gigi lalu bergabung dengan militer pada 1953 sebagai pegawai sipil. Dia mulai menyandang pangkat militer sebagai kapten pada 1955 di bawah Resimen Infanteri RI-18 Jawa Timur.

Para pemuda Tionghoa dari Malang juga bergabung dengan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin langsung oleh Bung Tomo. Mereka adalah Giam Hian Tjong dan Auwyang Tjoe Tek.

Selama berlangsungnya pertempuran mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan sekutu, warga Tionghoa telah mendirikan 10 pos dengan 10 dokter ditambah tenaga medis lainnya. Seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh organisasi Chung Hua Chung Hui. Tak hanya sebagai tenaga medis, beberapa di antaranya ikut terlibat dalam serbuan 'berani mati' saat penyerbuan ke sarang serdadu sekutu dan Gurkha.

Serangan demi serangan yang sebagian besar diarahkan ke warga membuat rakyat Indonesia marah, tak terkecuali warga Tionghoa, mengingat sebagian besar korban merupakan orang Tionghoa. Apalagi, pos kesehatan yang didirikan juga ikut diserang sekutu.

5.000 Orang Tionghoa Terluka atau Mati

Geger Pacinan dan perang sepanjang, episode yang hilang dari buku sejarah indonesia ?

Koran KR edisi 21 November 1945 diantaranya memuat berita berjudul 5.000 Orang Tionghoa Mati atau Terluka di Surabaya. Berita tersebut berisi informasi dari Pemimpin Palang Merah Tionghoa Kapasari Surabaya yang memberi kabar bahwa antara 10-17 November, korban penduduk Tionghoa di Surabaya sebanyak 5.000 orang Tionghoa mati atau luka-luka.

Kantor PMI Tionghoa yang berada di depan kantor PRI ditembaki dengan mitralyur atau senapan mesin sehingga salahsatu pemimpin Palang Merah, Tjoa Hong Siang mengalami luka-luka. Tiap hari Pusat Rumah Sakut Umum dibanjiri oleh korban.

Berita tersebut juga menceritakan bagaimana kelakuan serdadu Gurkha yang merampok kambing, ayam, dan ternak-ternak milik penduduk. Hal ini menunjukan bahwa serdadu sekutu, kelaparan. Diberitakan juga dikolom tersebut dua kapal musuh rusak hebat serta satu pesawat terbang hancur. Pertempuran terus berlangsung. Mulai 18-11 Pusat Rumah Sakit Umum Surabaya akan dipindahkan keselah satu tempat di Jawa Timur. (Mg-21/Apw)

http://krjogja.com/web/news/read/15406/home3.html
Quote:Original Posted By permberontak98
TS nya terinspirasi bikin trit ini karena SF Berita Politik kah?? emoticon-Big Grin


wkwk,males gw bikin thread knil di bp sdh didelete emoticon-Big Grin

De Chinezenmoord / Tragedi Angke

nambahin emoticon-Angkat Beer

Latar belakangnya gara2 orang Tionghoa yg udh banyak bgt di Batavia,ditambah kegiatan ekonomi orang Tionghoa yg maju pesat padahal awalnya jadi pedagang,buruh,sm pemilik toko kelontong

akhirnya sama Adrian Valckenier mengeluarkan "surat indentifikasi" buat orang Tionghoa. buat yg gk punya surat ini,akan dideportasi ke Sri Lanka (kabarnya blom sampe udh dibuang ke laut)

juga ditambah dengan kecemburuan orang2 pribumi asli (khususnya Betawi) yg menganggap orang Tionghoa merebut tanah ekonomi mereka. banyak orang Tiongoa yg tinggal di kawasan eksklusif,padahal orang Tionghoa sm VOC diperas habis2an

pecahnya saat Nie Hoe Kong,memimpin orang2 Tionghoa dgn membunuh 50 pasukan Belanda di Meester Cornelis (Jatinegara) dan Tanah Abang

Sebagai reaksi atas peristiwa terbunuhnya pasukan kolonial, Adriaan Valckenier yang bertanggung jawab atas keamanan Kota Batavia dan Hindia Belanda menyampaikan di dalam pertemuan dengan Dewan Hindia (Raad van Indie) yakni badan pemimpin VOC bahwa setiap kerusuhan harus ditanggapi dengan kekerasan yang mematikan.

akhirnya mulailah pembantaian oleh kelompok VOC dengan pribumi2 lain kepada etnis Tionghoa emoticon-Angkat Beer
Quote:Original Posted By avantichsan
nambahin emoticon-Angkat Beer

Latar belakangnya gara2 orang Tionghoa yg udh banyak bgt di Batavia,ditambah kegiatan ekonomi orang Tionghoa yg maju pesat padahal awalnya jadi pedagang,buruh,sm pemilik toko kelontong

akhirnya sama Adrian Valckenier mengeluarkan "surat indentifikasi" buat orang Tionghoa. buat yg gk punya surat ini,akan dideportasi ke Sri Lanka (kabarnya blom sampe udh dibuang ke laut)

juga ditambah dengan kecemburuan orang2 pribumi asli (khususnya Betawi) yg menganggap orang Tionghoa merebut tanah ekonomi mereka. banyak orang Tiongoa yg tinggal di kawasan eksklusif,padahal orang Tionghoa sm VOC diperas habis2an

pecahnya saat Nie Hoe Kong,memimpin orang2 Tionghoa dgn membunuh 50 pasukan Belanda di Meester Cornelis (Jatinegara) dan Tanah Abang

Sebagai reaksi atas peristiwa terbunuhnya pasukan kolonial, Adriaan Valckenier yang bertanggung jawab atas keamanan Kota Batavia dan Hindia Belanda menyampaikan di dalam pertemuan dengan Dewan Hindia (Raad van Indie) yakni badan pemimpin VOC bahwa setiap kerusuhan harus ditanggapi dengan kekerasan yang mematikan.

akhirnya mulailah pembantaian oleh kelompok VOC dengan pribumi2 lain kepada etnis Tionghoa emoticon-Angkat Beer


bermula dari harga gula dunia yg jatuh menyebabkan ketegangan antara pengusaha+buruh tionghoa melawan VOC akibat VOC menurunkan harga beli gula(VOC yg menentukan brp hrg gula yg harus dijual kepada mereka)

tewasnya 50 pasukan belanda merembet menjadi pembantaian tionghoa di berbagai tempat oleh belanda dan menjadi asal muasal nama di berbagai tempat jakarta seperti muara angke dan tanah abang yg merujuk ke peristiwa pembantaian kepada tionghoa disana

dari sini merembet lagi jadi koalisi perang jawa+cina melawan voc 3 tahun kedepan dan menjadi total war di jawa
Quote:Original Posted By omdikenyotom
wkwk,males gw bikin thread knil di bp sdh didelete emoticon-Big Grin


liat ampe anak2 bpler hijrah ke mari, bakal digembok sama mod heane juga emoticon-Traveller
Quote:Original Posted By permberontak98


liat ampe anak2 bpler hijrah ke mari, bakal digembok sama mod heane juga emoticon-Traveller


jgn tong

jgn loe ajak temen temen loe

rusuh tar

wkwkwk
Quote:Original Posted By omdikenyotom
jgn tong

jgn loe ajak temen temen loe

rusuh tar

wkwkwk


ngapain gw ngundang makhluk2 hina emoticon-Big Grin



anti-oot
trit kayak begini sebenarnya masih bisa dijadikan sarana edukatif. soalnya belakangan ini banyak postingan2 pembelokan sejarah di medsos seolah2 tionghoa selalu bersekutu sama VOC/belanda. padahal seperti yg dibilang agan avantichsan, tionghoa juga selalu diperalat/diperas belanda.
Quote:Original Posted By permberontak98


ngapain gw ngundang makhluk2 hina emoticon-Big Grin



anti-oot
trit kayak begini sebenarnya masih bisa dijadikan sarana edukatif. soalnya belakangan ini banyak postingan2 pembelokan sejarah di medsos seolah2 tionghoa selalu bersekutu sama VOC/belanda. padahal seperti yg dibilang agan avantichsan, tionghoa juga selalu diperalat/diperas belanda.


rupanya sudah ada yg pernah bikin threadnya di bp

https://m.kaskus.co.id/thread/56db059c1ee5df1b688b4568/ketika-tionghoa-jawa-berkoalisi/?ref=postlist-246&med=recommended_for_you

tp ga laku krn ga bisa sara,wkwk

Quote:
Ketika Tionghoa-Jawa Berkoalisi

Episode Geger Pecinan menghilang dari pelajaran sejarah di sekolah semasa Orde Baru. Dinilai lebih besar daripada Perang Diponegoro.

Jumat, 4 Maret 2016

Teddy Jusuf tersenyum kecut saat ditanya letak Monumen Pao An Tui, yang sejak pertengahan Februari lalu oleh sejumlah pihak di media sosial disebut-sebut berada di lingkungan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Kepala Unit Kerja Taman Budaya Tionghoa TMII itu menyatakan, di lingkungan kompleks Museum Budaya Tionghoa dan Museum Hakka cuma ada monumen Perjuangan Laskar Tionghoa dan Jawa Melawan VOC Tahun 1740-1743, bukan Monumen Pao An Tui. Persisnya, monumen yang diresmikan Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo pada 14 November 2015 itu terletak di antara Museum Cheng Ho dan patung Kong Hu Chu.

“Coba, yang gembar-gembor di medsos (media sosial) itu datang sendiri, lihat. Gratis, kok,” kata pensiunan jenderal bintang satu itu saat ditemui detikX, Rabu, 24 Februari lalu.

Ide pembangunan monumen itu, ia melanjutkan, berasal dari kerabat keluarga Mangkunegaran. Sebab, ada leluhur mereka yang terlibat langsung dalam perjuangan laskar Tionghoa dan Jawa melawan VOC. Leluhur yang dimaksud adalah Raden Mas Said atau Mangkunegoro I dan Pangeran Mangkubumi atau Hamengku Buwono I. Keduanya pada 1983 mendapat anugerah gelar Pahlawan Nasional. “Peristiwa dalam monumen tersebut tahun 1740-1743, sedangkan Pao An Tui mulai terbentuk tahun 1940-an. Bedanya 200 tahun, nyambung enggak?” kata Teddy, yang menjadi anggota Fraksi ABRI di Dewan Perwakilan Rakyat pada 1996.

Kalaupun ada yang menyebut monumen itu sebagai Monumen Lasem, menurut KRMH Daradjadi Gondodiprodjo, hal itu bisa dimaklumi karena yang membangun adalah Paguyuban Warga Lasem. Kerabat Mangkunegaran memang tidak terlibat langsung secara fisik. “Kami cuma memberikan sumbang saran dan dukungan moral,” ujar Daradjadi melalui surat elektronik.

Penulis buku Geger Pacinan itu menjelaskan, monumen adalah deskripsi atas suatu sejarah. Ia menilai sejarah yang baik harus memperlakukan tokohnya dengan adil. Karena itu, ketika mencuat niat untuk mengungkap kepahlawanan Raden Mas Said, laskar Tionghoa, yang membantunya saat berjuang melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), tidak dapat dilepaskan. Sebaliknya, ketika mengungkap perjuangan Khe Panjang, peran RM Garendi atau Sunan Kuning tidak dapat diabaikan begitu saja.

“Mereka berlainan etnis maupun agama, tapi dapat bekerja sama untuk mencapai cita-cita bersama. Barangkali nilai inilah yang menjadi pesan moral dari monumen tersebut,” tutur Daradjadi.

Menurut dia, Geger Pecinan, yang melibatkan koalisi laskar Tionghoa-Jawa melawan VOC, merupakan perang balas dendam terhadap kesewenang-wenangan VOC. Pada 8-10 Oktober 1740, atas perintah Gubernur Jenderal Adrian Valckenier, VOC membantai sekitar 10 ribu orang Tionghoa di Batavia. Dengan dalih telah melanggar peraturan keimigrasian dan perpajakan, orang-orang Tionghoa itu dianiaya dan dibunuh. Padahal tujuan sesungguhnya adalah memeras dan merampas harta benda orang-orang Tionghoa.

Jumlah korban itu tergolong sangat besar bila dibandingkan dengan pertempuran 10 November 1945, yang menelan korban sekitar 12 ribu jiwa. Pada 1945, jumlah penduduk Indonesia sekitar 70 juta jiwa. Sedangkan saat pembantaian 1740, jumlah penduduk Jawa belum genap 5 juta jiwa.

"Peristiwa dalam monumen tersebut tahun 1740-1743, sedangkan Pao An Tui mulai terbentuk tahun 1940-an. Bedanya 200 tahun, nyambung enggak?"

Orang Belanda, baik sipil maupun militer, dan pasukan milisi pribumi bentukannya yang kejam dan rakus bersama-sama melakukan penjarahan terhadap orang Tionghoa. Mereka yang turut dibantai adalah orang-orang Tionghoa yang berada dalam penjara dan yang tengah dirawat di rumah sakit. Ratusan rumah dan gedung musnah dimangsa api.

Menurut B. Hoetink dalam bukunya, Ni Hoe Kong, Kapiten Tiong Hoa di Betawie dalem Tahon 1740, warga Tionghoa di Batavia kala itu umumnya berasal dari Fujian, Cina Selatan, yang berdialek Hokkian. Di Batavia, banyak dari mereka yang termasuk golongan menengah serta mendominasi sektor perdagangan dan industri. Baru pada abad ke-19, berdatangan orang Tionghoa dari suku Hakka.

Turut menjadi tumbal dalam tragedi itu adalah Ni Hoe Kong, seorang kapitan Cina yang kaya raya di Betawi. Rezim VOC menuding Ni Hoe Kong bertanggung jawab atas berbagai aksi rusuh oleh orang-orang Tionghoa terhadap pemerintahan VOC di Batavia. Dia dibuang ke Ambon pada 12 Februari 1745, dan pada 23 Desember 1746 meninggal di sana. dan industri. Baru pada abad ke-19, berdatangan orang Tionghoa dari suku Hakka.

Pascapembantaian, tokoh masyarakat Tionghoa di Gandaria, pinggiran Batavia, bernama Souw Phan Ciang alias Khe Panjang alias Sepanjang membentuk laskar untuk melawan VOC. Mereka menyerang pos-pos pertahanan VOC di sekitar Batavia hingga Cirebon, dan akhirnya pada 1741 memasuki wilayah Kerajaan Mataram, yang beribu kota di Kartasura. Kedatangan mereka, menurut Daradjadi, disambut oleh laskar-laskar Tionghoa lokal di bawah pimpinan Tan Sin Ko alias Singseh, Oey Ing Kian (Raden Tumenggung Widyaningrat/Bupati Lasem), Tan Kee Wie, dan lain-lain.

“Raja Mataram Pakubuwono II membangun persekutuan dengan laskar Tionghoa tersebut dan menyerang pertahanan VOC di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur,” ujar Daradjadi.

Perang koalisi pasukan laskar Tionghoa-Jawa melawan VOC, ia melanjutkan, makin dahsyat setelah Pakubuwono II diganti oleh Raden Mas Garendi, yang bergelar Amangkurat V. Di samping tokoh seperti Bupati Grobogan Martopuro, Patih Notokusumo, dan Pangeran Mangkubumi, muncul tokoh-tokoh muda dengan nama Raden Mas Said, Raden Panji Margono, dan lainnya.

Perang dengan cakupan wilayah yang luas (meliputi Kartasura, Salatiga, Boyolali, Magetan, Welahan, Pulau Mandalika di lepas pantai Jepara, hingga Lasem) dengan korban besar yang dihadapi VOC ini berakhir pada 1743. Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning tertangkap di Surabaya dan dibuang ke Sri Lanka. Sebelumnya, Patih Notokusumo ditangkap Belanda.

Sementara itu, Tan Sin Ko dan Tan Kee Wie gugur dibunuh serdadu VOC. Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I) dan Raden Mas Said (Mangkunegoro I) terus berjuang di daerah Jawa Tengah. Pada 1983, keduanya oleh pemerintah RI diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Sedangkan Sepanjang meneruskan perlawanannya ke arah timur. “Ia sempat terlihat di Pulau Bali pada 1758,” kata Daradjadi.

Salah satu strategi yang membuat VOC kebingungan menghadapi perlawanan koalisi Jawa-Tionghoa itu, menurut Iwan Santosa, adalah banyaknya anggota pasukan Jawa yang biasa menggunakan busana ala orang-orang Tionghoa. “VOC bingung, kok pasukan Tionghoa tak kunjung habis,” tulisnya dalam pengantar buku Geger Pacinan karya Daradjadi.

Penulis buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran Indonesia itu juga menilai, ditinjau dari segala sisi, perang Geger Pecinan itu jauh lebih besar ketimbang skala Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-1830). Periode Geger Pecinan atau disebut juga Perang Sepanjang menumbuhkan benih perlawanan di kalangan bangsawan Jawa terhadap kepemimpinan yang khianat dan menghamba pada kekuasaan asing kompeni.

Sementara itu, sejarawan Didi Kwartanada dari Yayasan Nabil menulis, episode Geger Pecinan sebetulnya masih muncul dalam buku teks sejarah di sekolah-sekolah di era pemerintahan Bung Karno. Ia antara lain merujuk buku Indonesia dan Dunia: Peladjaran Sedjarah untuk SMP Djilid 2 karya Soeroto yang diterbitkan Tiara, 1961. Bahkan bahan Sedjarah Nasional yang diterbitkan Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru di Bandung (1953) menyebut episode tersebut sebagai “Revolusi Tahun 1740-1743”.

“Namun, dalam masa Orde Baru, kepada murid tak lagi diajarkan kisah perjuangan bahu-membahu melawan penjajah yang cukup penting artinya bagi nation building kita,” kata Didi.

sayangnya sinophobia tetap muncul setelah perang diponegoro. terutama di jawa tengah dan jawa timur.
padahal belum 100 tahun setelah peristiwa geger pecinan dan perang sepanjang.

gua penasaran sama ini:
Quote:Pangeran Mangkubumi yang tadinya berperang di pihak aliansi Tionghoa-Jawa menarik pasukan. Kemudian mendirikan Keraton Yogyakarta Hadiningrat.

Quote:Larangan Pangeran Diponegoro untuk menjalin relasi politik dengan etnis Tionghoa sesuai peringatan leluhurnya yaitu Sultan Mangkubumi.[8]
https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro

ada apa dengan HB1, kenapa jadi begitu. apa yang terjadi selama pemberontakan hingga pendirian keraton YK.
Sepak terjang perjuangan etnis china melawan VOC yg ingin dihapus dari sejarah Indonesia, padahal banyak daerah di jawa yg bernama Sepanjang merunut pada perjuangan Kapitan Sepanjang.
Sejarah yang 'terlupakan' (sengaja dilupakan) dan kalau bisa dihapuskan saja sehingga tidak diketahui sama sekali oleh generasi masa sekarang.

Threadnya kena hujan rate satu ini ts emoticon-Big Grin, hanya bisa membantu rate saja. emoticon-thumbsup
Quote:Original Posted By k4ktus
sayangnya sinophobia tetap muncul setelah perang diponegoro. terutama di jawa tengah dan jawa timur.
padahal belum 100 tahun setelah peristiwa geger pecinan dan perang sepanjang.

gua penasaran sama ini:



https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Diponegoro

ada apa dengan HB1, kenapa jadi begitu. apa yang terjadi selama pemberontakan hingga pendirian keraton YK.


konon diponegoro tertangkap belanda setelah tidur dg selirnya yg cina,
dr situlah sentimen cina dianggap membawa sial muncul.
Quote:Original Posted By 2V7


konon diponegoro tertangkap belanda setelah tidur dg selirnya yg cina,
dr situlah sentimen cina dianggap membawa sial muncul.


"konon" kayak lu bu dan diao chan aja.
bukannya pangeran diponegoro ketangkep di magelang atas undangan kolonel belanda.
ditipu belanda, undangannya berunding.

yang gua penasaran itu perilaku HB1.

kupikir isu sinophobia malah belanda yang bikin dan sengaja disebar biar mecah belah.
panjang bener dah emoticon-Embarrassment
nyimak dlu
naru ane baca kemudian
panjang bgt

edit:
ternyata banyak yg berpusat di semarang
pantes etnis china disini banyak banget, yg islam pun ngga sedikit
tapi banyakan campuran jawa, jd tambah seger emoticon-Leh Uga
lagi viral nih emoticon-Traveller bagus gann....
semoga yg berkomentar memiliki pikiran yg ingin mendapat edukasi bukan penyebar sara....

ini trit isi sejarah, bukan buat sara. hargai sejarah gan emoticon-Turut Berduka
etnis cina yg ramah, toleran & damai
Ane malah penasaran nasibnya kapitan sepanjang. Ditangkap ? / dibuang ? / mati dalam perang ?

Dia berhak dapat gelar pahlawan kalau begini ceritanya