alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58fdd91ddc06bdcc488b4567/abah-mengirimku-ke-tempat-penantian
Poll: Menurut anda bagaimana cerita pendek ini?

213 days left - 0 Voters

View Poll
Sangat Bagus 0% (0 votes)
Bagus 0% (0 votes)
Cukup Bagus 0% (0 votes)
Kurang Bagus 0% (0 votes)
Abah Mengirimku ke Tempat Penantian
Abah Mengirimku ke Tempat Penantian

Halo gaes,
Setelah beberapa saat lalu posting cerita dan dihapus karena alasan tertentu, akhirnya saya memutuskan untuk posting cerita lagi.
Mohon kritik dan sarannya. emoticon-Toast
**************************************************
Sebulan sebelum aku dibaptis, setiap sore Abah mengajarkan doa syahadat. Waktu itu aku berumur enam tahun, dan masih kepayahan menghafalkannya.

Doa itu seperti ini,

Aku percaya akan Allah … dan akan Yesus Kristus, …yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa…

Iya, aku hanya sanggup menghafalkan sebagian isi doa itu. Kalimatnya terpotong-potong. Tapi, satu hal yang membuatku bertanya-tanya pada Abah, yang turun ke tempat penantian ... Apa itu tempat penantian?

“Tempat penantian itu, tempat bagi orang-orang kudus, tempat menunggu orang-orang yang kita sayangi,” kata Abah.

Aku tak bisa membayangkan seperti apa itu tempat penantian. Mungkin setelah aku mati aku akan segera mengetahuinya.
Iya, setelah aku mati. Dan sekarang aku benar-benar sudah mati. Lantas apakah ini yang disebut tempat penantian seperti yang dikatakan Abah?

Lihatlah telaga di dekatku. Bukan! Itu bukan telaga biasa. Kata penghuni tempat ini, itu sumber air bagi jiwa orang-orang mati―jiwa-jiwa yang kudus. Telaga Renung, namanya. Letaknya di tengah-tengah pasren di bawah pohon ara. Airnya teramat jernih. Bak berlian―berkilauan, sampai-sampai tak hanya bisa untuk bercermin, tapi aku bisa menilik masa laluku di telaga itu. Menilik dosa-dosa semasa hidupku.

***
Hari ini hari ke tiga aku berada di pasren. Dikelilingi orang-orang berbalut sandang serba putih. Wajah mereka tampak bersahaja, layaknya bunga teratai yang tumbuh di tengah telaga. Meski aku tak mengenali mereka, namun perasaanku teramat hangat dan damai.
Satu hal yang masih mengganjal dalam diriku. Sesuatu yang mengganjal itu adalah... Abah.

“Gendis sayang,” panggil sesosok perempuan dari belakang. Membuatku terhenyak dari lamunan tentang Abah. “Kau tak usah risau, kau pun akan serupa mereka. Kau pasti akan mengerti ... kegelisahanmu akan segera terlepas. Lalu kau akan seperti kapas ringan yang melayang-layang.”

Aku bertanya pada perempuan itu, “Bagaimana caranya?”

Perempuan itu tersenyum, lalu duduk di atas batu di sampingku. “Tengoklah kembali ke dalam telaga itu. Bayangkan apa yang ingin kau lihat di sana.”

Satu-satunya orang yang ingin kulihat saat ini adalah Abah. Tapi bagaimana mungkin? Perlahan kulongokkan kepalaku ke dalam telaga. Dan heey... aku melihat Abah di sana! Tidak hanya Abah, di sana juga ada diriku yang lain.

***
“Kau tahu Nak, apa yang ajaib dari layang-layang ini?” tanya Abah padaku.

“Entahlah, itu nampak seperti layang-layang biasa.”

“Kemarilah!” Abah menarik tubuhku agar lebih merapat. “Tulislah harapanmu pada layang-layang ini.”

Aku berpikir. “Lalu apa yang akan terjadi?”

“Kita akan menerbangkannya. Jika sampai besok pagi layang-layang ini masih berada di udara, itu berarti harapan kita akan terkabul.”

Senyum di bibirku seketika merekah, namun detik berikutnya ragu. “Tapi, bagaimana kalau layang-layangnya terjatuh?”
Abah tertawa lirih. Ia mengecup lembut keningku.

“Gendis sayang, putri Abah yang cantik ...” kata Abah. “Harapan itu akan selalu datang pada saatnya, asal kita tak pernah putus asa dan selalu berusaha. Jadi ...”

“Jadi Gendis akan menerbangkan layang-layang ini besoknya lagi. Iya kan, Abah?”

“Anak pintar.”

Penuh semangat aku berlari ke dalam rumah untuk mengambil spidol. Spidol itu berwarna merah menyala. Setelah kembali pada Abah, mulailah kutulis harapan-harapan di permukaan kertas layang-layang itu. Meski tulisanku serupa cakar ayam, aku yakin malaikat di sana akan membacanya.

“Apa yang kau tulis, Nak?” tanya Abah.

“Abah ... Gendis tidak ingin punya benjolan di kening. Rasanya sakit. Abah juga tidak suka, kan, Gendis punya benjolan ini? Dan semoga malaikat mau mengirimkan Emak kembali.”

Abah tak kuasa menahan rasa yang bergelut dalam dirinya. Iya, aku bisa merasakannya. Bola mata Abah mendadak berkaca-kaca. Segera dibilasnya air mata itu dengan senyum getir.

“Kenapa Abah menangis? Abah tak boleh bersedih.”

“Abah tidak menangis sayang. Abah sangat senang melihat putri Abah begitu bersemangat.”

“Kalau begitu, Abah tak usah bersedih lagi.” Kupeluk Abah erat-erat. “Ayo cepat terbangkan layang-layang ini, Abah, Gendis sudah tidak sabar menunggu hingga besok pagi.”

Setelah layang-layang itu terbang di awang-awang, Abah mengikat tali pangkalnya pada sebuah pasak. Lantas pada malam harinya aku berdoa agar layang-layang tersebut tidak jatuh. Kemudian besok pagi saat aku terbangun, aku tidak lagi menemukan benjolan di keningku. Dan Emak ... Emak akan segera pulang.

***
Aku menuliskan harapan-harapan itu karena aku sering diolok oleh teman-teman di sekolah.

“Gendis itu tumoran! Jangan dekat-dekat nanti ketularan!”

Ya, mereka tak salah. Aku memang tumoran. Itu sebabnya Abah selalu membiarkan poniku tidak dipotong supaya menutupi benjolan itu. Usaha yang tidak terlalu berhasil. Sebab benjolan itu selalu menyembul dari persembunyiannya. Benjolan itu membuat anak-anak menjauhiku karena takut tertular. Padahal Bu Mumun, guru kelas kami selalu mengatakan benjolan di keningku tidak menular.

Pada hari pertama aku masuk sekolah, aku sangat sedih. Tak satupun dari teman-temanku bersedia duduk sebangku. Aku terkucil, duduk sendirian di pojokan. Satu-satunya orang yang senantiasa menghiburku adalah Bu Mumun.

Tentang Emak, aku hanya mengenal sosoknya dari cerita Abah. Kata Abah, Emak sangat cantik. Hati Emak seputih hati malaikat. Tuhan sangat sayang pada Emak, jadi Tuhan ingin Emak tinggal di rumah-Nya.

“Abah, Gendis sudah menuliskan harapan agar Tuhan mengijinkan Emak pulang barang sebentar. Gendis ingin sekali bertemu Emak. Gendis tidak apa-apa seandainya Emak nanti pergi lagi,” aku berkata polos pada Abah.

“Tenanglah, Nak. Emak pasti datang menemuimu. Sekarang Gendis harus minum obat sirop ini dulu ya, supaya keningmu tidak sakit lagi!”

Tanpa suara aku meminum sirop itu dari sendok plastik di tangan Abah. Aku tidak mengatakan apapun meski rasa sirop itu agak lain. Rasanya aneh. Pahit dan getir di mulut. Tidak seperti sirop yang selalu diberikan Abah, rasanya manis buah stroberi.

“Sekarang pejamkan matamu dan tidurlah!” pinta Abah.

Aku terbatuk-batuk sembari menatap Abah. Kedua bola mataku tiba-tiba terasa tertarik ke luar. Aku mendelik.

“Tidurlah, Nak!” ulang Abah. Tangannya yang lembut mengelus rambutku.

“A-bah ... A-Abah!” Aku berusaha mengatakan sesuatu. Mulutku terasa panas. Napasku sesak. Aku tak bisa bernapas. Sekujur tubuhku mulai mengejang.

Abah hanya menatapku dengan berlinangan air mata. Tangannya terus bergetar mengelus rambutku, serta membelai wajahku. Abah menyingkap poniku hingga benjolan itu terlihat jelas. Abah masih berusaha agar tetap tersenyum.

“Inilah yang terbaik untukmu Gendis ... maafkan Abah.”

Aku bisa melihat raut wajah Abah yang pilu. Abah menangis sesenggukan. Setetes demi setetes air mata Abah mengalir, jatuh di pipiku.
Akus tersentak bangun. Mataku semakin mendelik ke arah Abah. Cairan busa putih mengalir dari sudut bibirku. Dalam hati aku berteriak meminta pertolongan Abah.

Abah tersenyum getir padaku. Sebelah tangannya menahan tubuhku agar tetap berbaring. Akupun mengejang untuk yang terakhir kalinya sebelum Abah membisikan kalimat terakhirnya.

“Tenanglah, Nak! Tak apa-apa. Ini sebentar saja. Maafkan Abah, ya. Abah hanya ayah pecundang yang tak mampu membahagiakanmu dan Emak. Abah begitu miskin, tak mampu membiayai persalinanmu. Hingga Emakmu harus meregang nyawa di tangan dukun beranak. Abah juga tak mampu menyembuhkan tumormu. Abah terpaksa melakukan ini. Semoga Gendis cepat bertemu Emak di sana.”

***
Dari telaga aku melihat Abah berlutut, terisak di tepian amben di mana tubuhku sudah tebujur kaku. Dan sekarang aku mengerti. Aku tidak marah ataupun benci pada Abah. Apa yang dilakukan Abah adalah bukti rasa sayangnya padaku.

Aku meraba keningku. Sudah rata. Benjolan itu sudah hilang. Abah memang tidak berbohong tentang layang-layang itu. Dan perempuan berparas ayu yang berada di sampingku saat ini tak lain adalah ...

“Betul nak, ini Emak! Kemarilah, Nak! Emak ingin memelukmu erat-erat.”

Tanpa ragu aku menyambut dekapan Emak. Tenggelam dalam pelukan hangatnya. Pelukan kasih sayang seorang Emak yang tak pernah kurasakan.

“Maak... lalu bagaimana dengan Abah, Mak?”

“Jangan khawatir sayang, Abah pasti akan bersama kita di sini. Hanya saja perjalanan Abah akan sangat panjang sebelum sampai ke tempat ini. Sesungguhnya Abah itu orang yang baik. Hanya saja, saat ini Abah sedang tersesat, Abah menemui jalan buntu. Gendis yakin kan, Abah pasti akan menemukan kita?”

Aku mengangguk. Seperti yang dikatakan Emak sebelum ia melihat ke dalam Telaga Renung, kini jiwaku terasa lebih damai, semua kekhawatiran telah lenyap. Tubuhku seringan kapas. Aku telah tinggal bersama Emak, sedangkan Abah... Abah akan tiba di tempat ini meski dalam waktu yang lebih panjang. Tapi aku tak perlu risau, karena waktu panjang bagi semua penghuni di pasren ini tentu akan terasa singkat. Seperti halnya menanti terbitnya matahari dari ufuk timur.

Emak dan aku meninggalkan Telaga Renung, lalu berbaur bersama orang-orang kudus itu.
***










kebanyakan cerita dihapus karena satu sebab: agama emoticon-Cool

moga2 yg ini enggak
Iyaa.. Hehe
Yg penting no SARA sis... emoticon-No Sara Please
Lanjutken bray! mantabh djiwa nih part 1 nya
ini sih cerpen.. emoticon-Cape deeehh
njut lah ampe tamat yak emoticon-Kiss

pesen tempat emoticon-linux2