alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58fdd164d9d77057188b456d/meninggalkan-basis-wong-cilik-pdip-tersungkur-di-jakarta
Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta

Kekalahan Ahok-Djarot di semua wilayah Jakarta menggambarkan mesin partai PDIP macet di masyarakat kelas bawah, konstituen loyal mereka.

tirto.id - Penghitungan suara belum rampung ketika Megawati Soekarnoputri bergegas meninggalkan kediamannya, di Jalan Kebagusan Dalam IV, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Di depan rumah, tempat ia menggunakan hak suara, penghitungan sedang dilakukan.

Di papan hasil penghitungan, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat tersalip oleh Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Beberapa jam setelahnya, hasil akhir di TPS 027 menunjukkan jagoan Megawati kalah.

Pasangan Ahok-Djarot hanya memperoleh 252 suara, sementara Anies-Sandi meraup 292 suara. Ini tamparan bagi Megawati di tempat tinggalnya plus di dekat bekas kantor DPP PDI Perjuangan.

Apalagi pada putaran pertama, perolehan suara Ahok-Djarot di TPS tersebut tidaklah signifikan, hanya 254 suara, menang tipis dari Agus Harimurti-Sylviana Murni dan Anies-Sandiaga.

Kekalahan pasangan yang diusung PDI Perjuangan itu meluas di seluruh wilayah Jakarta.

Berdasarkan hasil pemindaian (scan) formulir C1 yang diunggah Komisi Pemilihan Umum, suara bagi Ahok-Djarot tergerus total oleh Anies-Sandi.

Di Jakarta Barat, jika pada putaran pertama Ahok-Djarot unggul 48,6 persen, pada putaran kedua mereka memperoleh 47 persen. Begitu pula di Jakarta Utara, dari 48,4 persen turun 47 persen. Di tiga wilayah Jakarta lain pun senada.

Hasil hitung cepat dari tiga lembaga survei yang bekerjasama dengan Tirto menunjukkan selisih tajam antara Anies-Sandiaga dan Ahok-Djarot, sebesar 15 persen. Semuanya di luar perhitungan lembaga-lembaga survei yang merilis hasil polling mereka menjelang pencoblosan, yang memberi selisih ketat tak lebih dari 4 persen. Semuanya terbalik. Hasil hitung TPS oleh KPU pun menunjukkan angka yang sama: selisihnya sekitar 15 persen.

Hasil putaran kedua itu pun menggambarkan potret yang jelas: suara Ahok-Djarot ajek, suara buat Anies-Sandiaga melonjak dari limpahan suara Agus-Sylviana.

Melihat hasil itu, Gembong Warsono, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPD PDI Perjuangan, cuma berkata singkat, Kamis kemarin: “Kita hormati pilihan warga Jakarta."

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta
Diterpa Sentimen Anti-Islam

Kekalahan Ahok-Djarot di luar perkiraan koalisi partai. Sehari sebelum pencoblosan, para politikus teras PDI Perjuangan percaya diri menargetkan suara buat paslon 2 sebesar 52,4 persen. Mereka bahkan mengklaim bahwa isu agama yang menerpa Ahok lewat 'Al-Maidah' tidak berpengaruh pada hasil perolehan suara nanti. (Baca: Buzzer Ahok Kewalahan Hadapi Isu 'Al-Maidah')

Namun, optimisme itu harus mereka telan dengan pahit.

Buat menguji optimisme yang kelewat bikin gelap mata, saya mendatangi TPS 02. TPS ini dekat dari lokasi pengusiran Djarot saat ia salat Jumat di Masjid Jami Al-Atiq, Tebet, Jakarta Selatan. Di TPS ini, Ahok-Djarot hanya memperoleh 43 suara, kalah telak dibanding Anies-Sandiaga dengan 245 suara. (Baca: Ahok-Djarot Menjaring Pemilih Muslim di Putaran Kedua)

Herwin Suryadi, kader Pengurus Anak Ranting PDI Perjuangan Kecamatan Tebet, yang bertugas memantau TPS 02, mengatakan pada putaran pertama Ahok-Djarot juga mengalami kekalahan. Salah satu tetapi yang utama jadi penyebabnya adalah faktor isu penistaan agama yang menjegal Ahok.

“Di sini memang agak sulit,” kata Herwin kepada saya di hari pencoblosan, 19 April lalu.

Ia berkata dengan nada pelan bahwa lokasi pengusiran Djarot pada Jumat pekan lalu adalah basis pemilih Anies-Sandiaga. Meski demikian, katanya, tak pernah ada gesekan antar relawan yang berujung perkelahian.

Tetapi poin isu penistaan agama terlalu sulit buat diredam, ujar Herwin. Apalagi, katanya, lokasi di sekitar TPS 02 adalah wilayah kuat sentimen agama.

Di Kelurahan Kebon Baru, tempat TPS itu berada, pada putaran pertama pasangan Ahok-Djarot cuma dapat 6.461 suara (27,28%). Sebaliknya Anies-Sandi unggul dengan 13.743 suara (58,02%).

Menyadari selisih suara yang nyaris separuh itu, PDI Perjuangan mengerahkan sekitar 50 kader buat memantau 53 TPS di kelurahan tersebut. Hasilnya tak banyak berubah.

Meski ada suara dari basis yang bilang isu agama jadi faktor determinan menggerus suara Ahok, seperti disampaikan Herwin, Gembong Warsono mengatakan kepada saya bahwa isu penistaan agama bukanlah faktor kekalahan pasangan Ahok-Djarot. “Saya rasa pemilih Jakarta sudah semakin dewasa,” katanya.

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta
Kader PDIP tidak (lagi) Militan

Gembong berkata, PDI Perjuangan telah mengerahkan para kader di tingkat struktural hingga ranting. Namun hasilnya berkata lain. “Kader bekerja sudah maksimal," katanya.

Klaim "kader sudah bekerja maksimal" tidak tergambar dari aksi-aksi aksi-aksi penolakan dan pengusiran yang dihadapi Djarot selama masa kampanye di putaran pertama dan terutama pada putaran kedua.

Selain ke Masjid Jami Al-Atiq di hari pencoblosan, saya juga mendatangi Masjid Raya Al-Ittihad tempat kampanye apa yang disebut "Tamasya Al-Maidah" digelar, taktik pamungkas pengusung isu agama dalam Pilkada Jakarta. Di sini juga diadakan deklarasi dukungan buat Anies-Sandiaga. (Baca: Ruang Politis Masjid dalam Gerakan 'Tamasya Al-Maidah')

Saya juga mendatangi TPS 05 tempat mencoblos mantan Presiden B.J. Habibie. Di TPS ini ada kabar soal "kericuhan dan pengusiran" terhadap sekelompok orang oleh polisi. Namun, sekelompok orang yang diusir adalah relawan Roemah Djoeang.

Pengusiran itu lantaran polisi menduga mereka bakal melakukan intimidasi. Dari wawancara dengan para relawan itu, mereka datang ke sana bukan untuk mengintimidasi melainkan bertugas memantau TPS atas instruksi Pius Lustrilanang, panglima Roemah Djoeang plus koordinator relawan Anies-Sandiaga.

Dari tiga TPS di Jakarta Selatan ini, kawasan yang jadi basis kuat sentimen agama, tak terlihat klaim pejabat teras PDIP bahwa para kadernya telah bekerja maksimal. Justru yang terlihat ialah relawan Anies-Sandiaga yang bekerja militan.

Seharusnya ada 10 relawan buat menjaga satu TPS—tetapi ini tidak dilakukan. Dari contoh tiga TPS itu, hanya satu TPS yang dijaga kader PDIP. Sebaliknya, relawan Anies-Sandiaga menjaga ketiga TPS tersebut.

Partai berlambang banteng moncong putih ini dulu dikenal lewat posko-posko yang menjamur hampir di tiap kampung. Keadaan sekarang? Posko-posko ini tertelan dan diganti oleh semaraknya bendera-bendera bercorak Islam serta bendera Partai Keadilan Sejahtera yang mengusung Anies-Sandiaga. (Baca: Akar Rumput "Wong Cilik" yang Tak Terawat Lagi)

Meski PDIP unggul di Jakarta dan memenangi Pilpres 2014, tetapi pengaruh mereka terkikis tiga tahun kemudian. Kekalahan di Jakarta ini pun menambah daftar panjang tersungkurnya si Banteng termasuk di Provinsi Banten dalam Pilkada serentak 2017.


https://tirto.id/meninggalkan-basis-039wong-cilik039-pdip-tersungkur-di-jakarta-cncs#comments-cncs

Wong cilik ditinggal demi wong menengah






Si Raja Gusur yang Tergusur di Pilkada Jakarta


“Kenapa proyek terus yang dipikirin, bukan warganya yang dipikir. Kita sudah di pinggir tapi tetap diuber pembangunan dan proyek pemerintah. Kami orang kecil selalu diusik, selalu digusur,” kata Rohmat, 40 tahun, warga Cipinang Melayu, Jakarta Timur.

Rohmat ialah pengurus rukun tetangga 7 dan rukun warga 4 seksi pembangunan di Kampung Bayur. Di RW itu ada 48 hunian yang terancam digusur dalam waktu dekat karena proyek Jalan Tol Bekasi, Cawang, dan Kampung Melayu—disebut “Becak Kayu”.

Tak hanya RW 4, imbasnya RW 1, RW 2, RW 3, RW 11, dan RW 13 akan terdampak gusuran pula. Diperkirakan ada sekitar 376 hunian yang berada dalam posisi rentan. Proyek yang dimulai sejak 1996 ini akan menghubungkan Bekasi dan Jakarta sepanjang 21 kilometer. Kawasan ini akan dibelah proyek lain, yakni Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) jurusan Jakarta-Bandung.

Rohmat yang sudah 25 tahun memiliki KTP dan KK DKI Jakarta menuturkan pihak pelaksana pembangunan proyek sudah dua kali mondar-mandir di daerahnya. Pertama berkeliling sembari memberi tanda dengan cat semprot di beberapa area. Kedatangan kedua mereka guna menggambar peta perencanaan pembangunan.

Pada 28 April nanti, akan ada pertemuan di Kantor Kelurahan Cipinang Melayu. Rencananya membahas ganti rugi penggusuran. Hingga saat ini, Rohmat mengaku belum ada kepastian kapan penggusuran dilaksanakan.

“Surat resmi kapan penggusuran, warga belum dapat. Kalau sudah dapat surat resmi, kita bisa siap-siap. Lha kalau tidak? Kita cuma dapat keresahan,” katanya kepada Tirto, Kamis kemarin (20/4).

Warga di RW yang sama, Darsa, 45 tahun, mengisahkan tentang banjir yang menghantam permukiman di Cipinang Melayu selama dua hari sejak Selasa dan Rabu, pekan lalu. Kedalaman mencapai sekitar 1 meter. Sumber banjir dari Kali Sunter. Rumah Darsa di RT 7 hanya berjarak sekitar 5 meter dari Kali Sunter. Bahkan banjir merendam Masjid Nurul Iman yang berjarak 240 meter dari rumahnya.

“Waktu banjir kemarin lumpur 5 sampai 10 sentimeter di rumah dan jalan,” ujarnya.

Aktivitas keseharian warga lumpuh. Anak-anak dan ibu-ibu diungsikan ke Universitas Borobudur dan kantor kelurahan. Ada belasan perahu. Belasan tali tambang menjuntai dari satu rumah ke rumah lain. Darsa sudah jauh hari membuat loteng sederhana dari kayu; di situlah barang-barang berharga disimpan ketika banjir.

“Keluarga saya tidak pernah ngungsi. Saya belanja, renang lawan arus. Pakai rompi pelampung. Belanjanya di toko kelontong sekitar setengah kilometer dari rumah,” tuturnya.

Darsa, yang sudah 20 tahun tinggal di Jakarta, mengatakan siapa pun yang jadi gubernur Jakarta harus memerhatikan rakyat kecil seperti dirinya. Ia juga mengharapkan Kali Sunter secara rutin dikeruk.

Pada 19 April kemarin, di hari pencoblosan, Darsa dan Rohmat memakai hak pilihnya di TPS 21. Di TPS ini pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno menang. Tirto berbicara dengan warga dan semuanya mencemaskan nasib mereka yang rentan digusur jika Ahok terpilih kembali. Sehingga isu "duniawi" inilah, dan bukan agama, yang cukup sering diutarakan.

“Pak Anies jangan obral janji saja. Harapan saya, tolong perhatikan rakyat kecil,” tegasnya.

Kalau pun penggusuran tak bisa dihindari, Darsa tak ingin nasibnya sama dengan warga gusuran lain di masa pemerintahan Ahok. Misalnya, ia ingin dipindahkan di dekat kediamannya sekarang. Dan ada uang ganti yang harus sesuai luas tanah yang digusur.

"Kami masih berat ninggalin Kampung Bayur. Warga inginnya rumah diganti rumah, bukan rusun,” ujar Darsa, mengungkapkan kekhawatiran.
Korban Gusuran Menggusur Ahok

Sepanjang 2016, berdasarkan data LBH Jakarta, Ahok melakukan 193 kali penggusuran. Sebanyak 5.726 keluarga dan 5.379 unit usaha dia singkirkan. Dampaknya, saat pemungutan suara di rumah susun sederhana sewa (rusunawa) warga korban gusuran, Ahok jatuh.

Misalnya di Rusunawa Rawa Bebek. Rusun ini menampung 1.458 warga gusuran dari Bukit Duri yang menempati 377 unit, 98 warga Krukut yang menempati 23 unit, dan 652 jiwa warga Pasar Ikan yang menempati 164 unit.

Pada putaran I Pilkada DKI Jakarta, 15 Februari lalu, pasangan Anies-Sandiaga unggul di TPS 140 dan TPS 141, mengantongi 148 suara dan 171 suara. Sedangkan Ahok-Djarot hanya mendapat masing 80 suara dan 48 suara. Pada putaran II, Anies-Sandiaga tetap menang: 444 suara di TPS 140 dan 270 suara di TPS 141. Sebaliknya, Ahok-Djarot mendapat 108 suara di TPS 140 daan 46 suara di TPS 141.

“Warga saya pada karaokean, pada bahagia, alhamdulillah. Jagoan warga saya menang. Pada dasarnya warga saya tidak suka sama Pak Gubernur Ahok. Pada dasarnya warga saya sakit hati,” kata Muhamad Rais‎ pada hari pencoblosan, 19 April kemarin.

Rais ialah ketua RW 17 yang mengurus seluruh warga di Rusunawa Rawa Bebek. Ia mengatakan beberapa alasan Ahok kalah dari tempatnya. “Gara-gara tekanan pada saat digusur, tidak ada pembayaran ganti rugi sama sekali. Ngomongnya di debat Pilgub, air per kubik Rp1.050, faktanya warga bayar Rp5.500 per kubik. Itu kelemahan Pak Gubernur."

Menurut Rais, sampai saat ini tak ada sekalipun keluhan warganya yang didengar Ahok. Ia berharap Ahok datang sendiri ke Rusunawa Rawa Bebek. Rais beranggapan, selama ini Ahok lebih percaya kepada pegawainya ketimbang menengok kenyataan di lapangan dan warga korban gusuran.

“Jangan mau dibohongi orang-orangnya atau pegawainya sendiri. Mereka bilang warga kami bahagia, bahagia apanya?”

Rais dipindah paksa ke rusunawa dari kampung di Pasar Ikan. Ia bersama warga ditempatkan di blok rusunawa untuk masyarakat umum, bukan khusus korban penggusuran. Karena itu warga Pasar Ikan harus membayar uang sewa Rp300 ribu per bulan. Sedangkan warga gusuran lain hanya membayar Rp200 ribu.

Meski sejak Februari 2017, blok untuk warga Pasar Ikan sudah terbangun, tetapi mereka belum bisa menempatinya.

"Mandat dari Pak Gubernur belum boleh. Kita masih di sini-sini saja, ya namanya kita orang titipan. Kita debat sama pengelola juga percuma, malah ujung-ujungnya kita yang dimusuhi,” keluhnya.

“Yang penting Pak Anies harus amanah. Cukuplah kami saja yang tergusur. Untuk selanjutnya, jangan ada lagi. Cukup kami saja yang merasakan kalau hidup di rusun itu sebenarnya pahit,” harapnya.

Tak hanya di Rusunawa Rawa Bebek, Ahok-Djarot kalah di Rusunawa Jatinegara Barat. Di sini ada 2.184 jiwa warga gusuran dari Kampung Pulo, terdiri 620 KK yang menempati 518 unit.

Di TPS 33 dan TPS 34, Anies-Sandiaga menang dengan perolehan 323 dan 348 suara. Sedangkan Ahok-Djarot mengantongi 50 dan 46 suara. Pada putaran II, Anies-Sandiaga kembali menang, 541 dan 553 suara melawan hanya 53 dan 44 suara buat Ahok-Djarot.

Berbeda dari dua rusunawa di atas. Di Rusunawa Marunda, pada putaran I, Ahok-Djarot menang di TPS 28, TPS 32, 33, 34, 35, 36, dan 37. Sebaliknya Anies-Sandiaga hanya menang di TPS 30. Namun, pada putaran II, perolehan suara itu berbalik. Anies-Sandiaga berkuasa di TPS 28, 30, 32, 33, dan 37. Sedangkan Ahok-Djarot dominan di TPS 34, 35, dan 36. Rusunawa Marunda menampung warga gusuran Rawajati yang menempati 16 unit, warga Kalijodo 152 unit, dan Pasar Ikan 102 unit.

Di Pasar Ikan pun, ada segelintir warga yang ngotot tinggal di puing-puing rumahnya dan mencoblos buat kemenangan Anies-Sandiaga. Ada dua TPS di sini. Pada putaran I, di TPS 16, Anies-Sandiaga meraih 271 suara sementara Ahok-Djarot 114 suara. Di TPS 17, Anies-Sandiaga mengantongi 249 suara dan Ahok-Djarot 54 suara. Pada putaran II, cuma 57 suara untuk Ahok-Djarot di TPS 16 dan 131 suara di TPS 17. Sebaliknya, Anies-Sandiaga meraup 297 suara di TPS 16 dan 333 suara di TPS 17.


Berdasarkan laporan LBH Jakarta bertajuk "Seperti Puing: Laporan Penggusuran Paksa di Wilayah DKI Jakarta Tahun 2016", dalam eksekusi penggusuran, Ahok melibatkan aparat dari Polri dan TNI. Ada 59 persen kasus penggusuran di Jakarta melibatkan aparat Polri. Kemudian 57 persen kasus penggusuran yang melibatkan aparat TNI. Bagi LBH Jakarta, pelibatan aparat yang dibayar negara untuk menggusur memicu terjadinya intimidasi dan kekerasan pada korban penggusuran.

Faktor lain yang membuat Ahok kalah adalah tingkatan pemilih kelas menengah ke bawah yang cenderung memilih Anies, seperti warga penggusuran. Data exit poll Indikator menunjukkan, sebesar 52 persen warga berpendapatan di bawah Rp2 juta memilih Anies. Sementara yang memilih Ahok cuma 35 persen. Sedangkan data exit poll Pollmark memberikan gambaran yang sama. Di segmen pemilih dengan pendapatan kurang dari 1 juta, Ahok hanya didukung 26,4%; pada segmen pendapatan 1-3 juta Ahok hanya dipilih oleh 35%. Pendeknya: Ahok-Djarot kalah di kalangan pemilih dengan pendapatan paling rendah (baca: Ahok Tergusur di Rusun Jatinegara Barat dan Rawa Bebek).

Keberpihakan warga rusunawa kepada Anies dilandasi tindakan Ahok yang tidak manusiawi kepada warga gusuran sehingga senjata untuk melawan, salah satunya, lewat peluang pesta demokrasi lima tahun sekali. Dalam penelusuran Tirto pasca pencoblosan, sangat sedikit warga yang bicara soal agama. Mereka mengeluhkan problem duniawi: perlakuan buruk Ahok dalam hal penggusuran.

Yusron Hariyanto, penghuni Rusunawa Jatinegara Barat, mengatakan saat digusur pemerintahan Ahok, "sumber kehidupan kami dihancurkan begitu saja tanpa ada kompensasi sedikit pun." (Baca: Di Rumah Susun, Kondisi Ekonomi Korban Gusuran Kian Sulit)

Padahal untuk membangun rumahnya, lanjut Yusron, ia menabung pelan-pelan dari gaji yang dulu ia dapatkan Rp8.500. Sejak pindah ke rusunawa, ujarnya, ia harus memikirkan biaya sewa unit, listrik, dan air setiap bulan, yang bisa mencapai Rp600 ribu atau lebih.

“Kami tidak sanggup melawan pemerintah, mereka ada Polisi, TNI dan, Satpol PP dalam penggusuran. Kita hanya bisa melawan melalui Pilkada ini,” kata Yusron. “Banyak yang sakit hati karena tidak ada ganti rugi. Sebelum Ahok jadi gubernur kok bisa ada ganti rugi, kenapa sekarang enggak bisa? Indonesia ini belum ada keadilan.”

https://tirto.id/si-raja-gusur-yang-tergusur-di-pilkada-jakarta-cncd
pdip dirusak ahoax

karena satu ahoax rusak pdip segentong
Dan blunder yang paling epic ialah menyamakan nastak BP buzzer bayaran rela menjual otak dan harga diri demi 2.5 juta perbulan dengan warga jakarta dengan bagi2 sembako dan sapi.
emoticon-Stick Out Tongue
Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta

Quote:Original Posted By infanteri.bata


maling ngaku, penjara penuh emoticon-Leh Uga


Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta


Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta



Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta


reputasi pKS tentang fitnah memfitnah tak perlu diragukan lagi emoticon-Leh Uga

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta





masih percaya bullshit taqiyah PKS ?emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By nasbungsetan
ntap gan emoticon-Ngakak

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta


Ngakak gan
Bukan hanya di jkarta, seluruh indonesia udh tahu parte banteng itu partei apa..
Pendukung penista agama, tukang adu domba
Megolowati arogan'nya ruarr biasa..
Hukum tabur-tuai pasti berlaku
Jgn harap ridwan kamil menang di jabar kalo di usung parte ini..
Insya ada preziden baru 2019..
Trik cukur emperan plus vblog bakal ga laku
Entar di jateng juga kalah
jauhkan bahaya laten PDIP emoticon-Hansip
Kalo "wong cilik" gagal tinggal ganti "wong licik"..

emoticon-Ngacir



gara2 dukung si hog, pdip nyungsep suaranya emoticon-Wkwkwk


emoticon-Traveller


Mau ngerebut hati Wong Cilik pake sembako...
emoticon-Leh Uga
Banyak panastak murtad berarti😂😂
Quote:Original Posted By chuifen.chow
Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta



Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta


Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta



Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta


reputasi pKS tentang fitnah memfitnah tak perlu diragukan lagi emoticon-Leh Uga

Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta





masih percaya bullshit taqiyah PKS ?emoticon-Embarrassment


Meninggalkan Basis 'Wong Cilik', PDIP Tersungkur di Jakarta
dilihat lihat lg...manis juga ya gan.....kumis kecilnya itu lho ga ku..ku...hihihhii
Quote:Original Posted By wilir
Bukan hanya di jkarta, seluruh indonesia udh tahu parte banteng itu partei apa..
Pendukung penista agama, tukang adu domba
Megolowati arogan'nya ruarr biasa..
Hukum tabur-tuai pasti berlaku
Jgn harap ridwan kamil menang di jabar kalo di usung parte ini..
Insya ada preziden baru 2019..
Trik cukur emperan plus vblog bakal ga laku


Betul gan,kasihan rakyat tambah miskin,proyek aja dikerjakan yg dinikmati org2 pendukung si xxx,trus rakyat di palak lewat pajak.....tunggu bom waktu aja meledak....kacau jika partai xxx menang dan jadi pemimpin...

pdip jadi parte wong cilik kslo pemilu aja....abis pemilu... lupa dah ama wong cilik
emoticon-Wow emoticon-Wakaka
Pdip kalah dijakarta bukan taon ini saja deh.

mklm aja wong cilik di jadiin sebagai label aja emoticon-Ngakak
akibat si mbok udh uzur jd tenaga krg




-rockabye