alexa-tracking

Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58f5b382c0cb17f5208b4576/pilkada-dki-hasutan-kekerasan-seksual-dan-tragedi-mei-98
icon-hot-thread
Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98
Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98
Foto ilustrasi diambil dari momen aksi "One Billion Rising" di di Jakarta, Indonesia (14 Februari 2013).
Kelompok Perempuan Indonesia Anti-Kekerasan melaporkan status dari seorang pengguna Facebook ke Polda Metro Jaya, Senin (17/4). Status tersebut dianggap telah menghasut dan mengancam keamanan kaum perempuan.

Status yang dilaporkan berasal dari akun Facebook, Dwi Ardika. "Intinya yang dukung Ahok itu goblok dan enggak bermoral. Halal darahnya dibunuh dan halal juga kalau wanita diperkosa rame-rame," demikian potongan status Dwi Ardika.

Kiriman Dwi Ardika sulit dilepaskan dari Pilkada DKI 2017. Pilkada DKI 2017 ditandai dengan menguatnya sentimen suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA).

Isu SARA acap kali menerpa calon gubernur petahana, Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama--seorang pemeluk Kristen dan keturunan Tionghoa. Terlebih, Ahok sedang berstatus terdakwa dalam kasus dugaan penodaan agama.
Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98
Tangkapan layar status Dwi Ardika.
Namun, pegiat Perempuan Indonesia Anti-Kekerasan, Valentina Sagala, menyebut bahwa laporan mereka tak sekadar soal riuh-riuh Pilkada.

"Kami tidak mendukung salah satu kandidat (Pilkada DKI), kami berdiri untuk kaum perempuan," kata Valentina, dikutip The Jakarta Post.

Valentina Sagala mengatakan, pihaknya khawatir bila status Facebook Dwi Ardika berimbas pada kehidupan nyata. Ia pun merujuk pada kekerasan seksual yang terjadi dalam kerusuhan Mei 1998--terkhusus di Jakarta.

Hal yang sama disampaikan Koordinator Perempuan Indonesia Anti-Kekerasan, Ita Fadia Nadia. Status Facebook Dwi Ardika, kata Ita, mengingatkannya pada kondisi sebelum kerusuhan dan kekerasan seksual pada 1998.

"Kalau dulu, karena belum ada medsos, (pesan-pesan) itu lewat selebaran-selebaran, sopir-sopir bajaj, sopir taksi, dan lewat pager itu banyak," kata Ita, dikutip Tribun News.

Ita pun berharap agar negara memberikan rasa aman kepada perempuan, terutama saat tensi politik sedang meninggi. "Jangan perempuan menjadi objek permainan politik. Demokrasi tidak harus mengorbankan gender. (Tragedi) 98, trauma yang paling dalam untuk kami. Kami khawatir, kami takut itu terjadi kembali," kata dia.

Dalam laporan yang diterima kepolisian, pelapor diwakili oleh Ratna Bataramurni. Laporan bernomor LP/1905/IV/2017/PMJ/Ditreskrimum itu memuat dugaan pelanggaran Pasal 156 KUHP yang dilakukan pemilik akun Facebook, Dwi Ardika.

Pasal itu memuat larangan ujaran kebencian, permusuhan, dan penghinaan yang berdasar pada ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan, atau kedudukan menurut hukum tata negara. Pelanggaran atasnya, bisa diancam pidana penjara paling lama empat tahun atau denda maksimal Rp4,5 juta.

Di media sosial, kecaman atas status Dwi Ardika juga bermunculan. "Dengan menggunakan kata 'halal' untuk pemerkosaan, gua juga pengen tahu apa dia (Dwi Ardika) sosok yang memang 'separo-islami' atau blas enggak ada bau islamnya," tulis Savic Ali, pemimpin redaksi Islami.co, melalui Facebook.
Selintas peristiwa kelam Mei 1998
Sebagai informasi, temuan dan kesaksian korban perihal kekerasan seksual massal terhadap perempuan pada Mei 1998, antara lain bisa dilihat lewat dokumen Saatnya Meneguhkan Rasa Aman (Komnas Perempuan, 2008).

Kala itu, pemerkosaan tak sekadar aktivitas bersetubuh (baca: penetrasi) di bawah ancaman dan kekerasan. Pasalnya, kesaksian korban menyebut adanya pemaksaan aktivitas seksual lewat anal dan oral.

Pun terjadi penyiksaan organ-organ seksual dengan benda tumpul dan tajam. Kian banal, sebab kekerasan seksual dilakukan secara massal (gang rape).

Tim Gabungan Pencari Fakta menyebut ada 85 korban kekerasan seksual pada Mei 1998. Ita Fatia Nadia, yang juga mantan Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK), menyebut jumlah korban (versi TRK) mencapai 152 orang--20 orang di antaranya meninggal.

"Jumlahnya bisa lebih besar dari itu karena banyak korban memilih diam," kata Ita, dikutip CNN Indonesia (19 Mei 2016). Pun, tidak sedikit korban yang memilih pergi dan tinggal di luar negeri, demi melupakan cerita kelam itu.

Dokumen Komnas Perempuan menyebut usia korban beragam, mulai dari anak-anak hingga dewasa--sampai usia 50. Ada yang masih lajang, ada pula yang sudah menikah. Mereka adalah pelajar, karyawan, dan ibu rumah tangga.

Kebanyakan dari mereka adalah perempuan etnik Tionghoa. "Korban memang dipilih dengan sengaja berdasarkan etniknya," demikian kesimpulan Komnas Perempuan.

Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa bahwa kekerasan seksual ini merupakan perpanjangan dari kerusuhan yang menyasar etnik Tionghoa pada Mei 1998. Kerusuhan dengan skala paling besar terjadi di Jakarta. Titik lain adalah Medan (Sumatra Barat) dan Surakarta (Solo, Jawa Tengah).
Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...tragedi-mei-98

---

Baca juga dari kategori BERITA :

- Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98 Menjemput TKI ilegal dengan pesawat pribadi

- Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98 Permintaan Jokowi kepada ulama menjelang Pilkada DKI

- Pilkada DKI, hasutan kekerasan seksual, dan tragedi Mei 98 Investasi belum mampu angkat Papua

jgn gaptek lagi
perempuang pegang pisau juga si BARBAR takut kok
di apa apain tusuk saja
klo ga mati tusuk sampai mati

toh uda ada jaminan hukum
elu kan hanya self defense saja
nyimak emoticon-Cool emoticon-Cool emoticon-Cool
KASKUS Ads
image-url-apps
semuanya repot breemoticon-Leh Uga
image-url-apps
Jangan sampai kita jadi pihak yang terhasut. emoticon-Toast
image-url-apps
Ane jadikan hot thread dulu, biar makin banyak orang berpikir jernih dan tidak mudah terhasut. emoticon-Cool
image-url-apps
Nyundul
image-url-apps
Quote:


Wah makasih ya emoticon-Betty
image-url-apps
Kabar kasus Etnis, Mahasiwa yang hilang, Penjarahan dan lain2 gimana yg tahun 98?
image-url-apps
Miris kata-katanya kalau bisa di sensor gan pake tanda "*" (bint*ng), ini kan hari "H" pasti ngerti dan juga di cross check lagi setelah copast sebelum dipublish, tapi klw kebebasan pers ngeri juga klw gini...
emoticon-cystg emoticon-cystg
parah emank kaum radikal ini. sayang pemerintah kurang tegas dengan mereka.
image-url-apps
alumni nasi bungkus 212
image-url-apps
yang tolol yg bikin status. duh, hina bgt tuh otaknya
image-url-apps
98 .. jadi inget bakar2an dulu emoticon-Berduka (S)
image-url-apps
kalo sodari perempuan atau anak cewek si ardhika ini yg jadi korban perkosaan barangkali baru mikir
image-url-apps
Yah semoga kejadian seperti itu ga ada lagi aamiin...
image-url-apps
Ada yg gagal paham sama comment gua emoticon-Shakehand2
Thx emoticon-Toast sorry gua ga bisa bales
image-url-apps
Semoga dimari para kaskuser kagak ada yg bersumbu pendek, percaya bumi datar. Laskar panasbung dan sejenisnya. Aamiin emoticon-Berduka (S)
image-url-apps
Dasar otak kopong emoticon-Blue Guy Bata (S)
image-url-apps
ninggalin jejak aja wkwk
×