alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58f57261162ec29a048b4568/11
#11
“Aku sekarang berumur 16 tahun, meletus nya perang dunia tiga buat banyak orang seperti ku, putus sekolah, hanya orang orang yang super kaya yang sanggup selamat dan lanjutkan sekolah, yang katanya ada di taman dunia, aku sedari kecil memang bisa dengan mudah dekat dengan binatang, apapun itu, bahkan ular sekalipun bisa jinak bila sudah tersentuh tangan ku, entah kenapa aku tidak mengerti, kemudian ketika perang dunia tiga meletus aku masih berumur sangat kecil empat tahun atau berapa yah aku sedikit lupa, kedua orang tua adopsi ku harus mati terkena ledakan nuklir dan efek nya meyerang rumah kami di Palangkaraya, untungnya ada saudaraku yang masih hidup bawa ku bertahan menjauh dari Palangkaraya kota, sampai ke daerah Sampit kami menjauh,” kemudian Zero mereguk air yang di berikan Wisang agar daging yang ia makan bisa lebih mudah di cerna.

Sebelum ia lanjutkan cerita , ia menawarkan minuman nutrisi pada Wisang “eh ini aku bawa perbekalan cairan nutrisi cukup untuk buat kita tidak lapar sampai esok, kamu mau ?”

“Oh engga gausah tenang saja rumah ku dekat kok, di rumah aku ada sumur belum terlalu saat airnya, lanjutkan saja cerita mu,” jawab Wisang, sambil menolak pemberian Zero,

Ia menghela nafas sebentar kemudian,“Di Sampit lah kenangan yang paling banyak aku ingat, disana aku masih lanjutkan sekolah walau bumi lambat laun semakin gersang dan seperti menuju ke akhir jaman, aku pun rutin ke gereja, namun ketika menginjak umur 14 baru pertama kali masuk SMA, semua berubah, entah berawal dari mana mendadak orang orang jadi seperti robot, susah sekali di ajak bicara panjang lebar, seperti penyakit dari satu orang yang seperti robot akhirnya hampir semua orang yang aku temui di gereja seperti itu,”

“Teman sekolahmu gimana?” tanya Wisang,

“Nah disini awal mula aku bertemu dengan pimpinan, ketika lonceng sekolah di bunyikan tanda pelajaran telah selesai, aku segera berlari ke toilet karena tak kuat ingin buang air kecil, lalu mendadak ada dua truck hitam besar masuk ke lapangan basket di depan kelas ku, berisikan beberapa tentara berbaju hitam bertuliskan arab gundul di dada, lengkap dengan senjata laras panjang, satu persatu mereka memasuki kelas dan menyuruh semua siswa keluar, aku begitu kaget melihat tentara dan dua truck besar itu semua siswa dan guru di kumpulkan di semua lapangan, pa Suhardi seorang guru olahraga berontak, ia seperti miliki ilmu silat memukul salah satu tentara hingga terjengkang, namun setelah leher pa Suhardi di pegang lehernya oleh salah satu tentara yang miliki bekas luka di muka, ia terdiam kemudian seperti robot”

Wisang tertegun sebentar, kemudian berusaha mengingat salah satu tentara yang miliki bekas luka di muka rasanya ia pernah temui di monas ketika ia masih kecil di tragedi satu kepala,

Zero melanjutkan ceritanya “Kemudian satu persatu teman ku guru guru semua bersikap sama begitu tentara itu seperti memasangkan sesuatu di leher orang orang yang ada disitu, kemudian mereka berubah mengingatkan ku pada orang orang di gereja waktu itu.”

Ia kemudian melihat ke atas dan,
“biar aku persingkat besok aku lanjutkan sudah larut besok kita harus lakukan perjalan jauh kembali ke markas bawa mu agar kamu selamat, intinya aku bertemu pimpinan setelah kejadian itu, aku sembunyi kemudian dari belakang pimpinan datang selamatkan aku, membawa ku jauh dari Sampit, ia jelaskan bahwa semua keluarganya di Sampit sudah berubah tidak sama seperti dulu, ia yakinkan ku bahwa ia adalah orang baik, dan entah kenapa aku percaya, kemudian putus sekolah selama dua tahun kurang, aku ikut pimpinan di markas. Banyak hal yang aku pelajari bertahan hidup di alam liar sampai, bagaimana maksimalkan potensi kekuatan pikiran, nanti kamu juga di ajarkan di markas,” semua penjelasan itu di barengi dengan Zero yang kemudian merebahkan badan , tudung hijaunya seketika berubah menjadi sleeping bag begitu ia tekan di bagian tertentu, ia meringkuk di depan api unggun yang masih menyala.

“Hey hey hey, entong sare heula atuh ( jangan tidur dulu hey), ah yasudah , janji besok lanjutin cerita yah,” Wisang sedikit kesal kemudian ia matikan api unggun dan masuk tenda kecil miliknya, dan berusaha pejamkan mata, ia paksakan, walau sejuta tanya masih ada di kepala.

Bulan terang , burung elang awasi mereka berdua di atas pohon, aman, mungkin.