alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58f56bf92e04c8e90d8b456a/4
#4
Situasi saat itu sungguh tidak bisa di kendalikan, peluru berterbangan balas membalas antara tentara berbaju hitam dan para pemberontak yang telah turun dari mobil kol bak itu. Ayah Wisang kemudian mengangkat anaknya, berlari dengan cepat menjauh dari medan konflik, dengan terpogoh pogoh dan kebingungan.

Rasa khawatir sedih emosi semua bercampur aduk, kemudian satu hal yang mendadak tertempel di kepalanya, ia harus selamat dahulu dengan anaknya.

Kedua kakak Wisang entah menghilang kemana ledakan truck besar itu sanggup beri luka pada kaki hingga dada ayah Wisang namun tidak di rasa, ia kesampingkan dulu itu dan terus berlari menjauh dari lokasi ledakan dan baku hantam antara tentara dan pemberontak.

Ia berlari tunggang langgang ke arah keluar pelataran monas, sampai ia melihat seorang pemberontak tertembak dan jatuhkan senapan laras panjang ak47. Bersembunyi dan berencana untuk ambil senapan itu sebagai alat untuk menjaga diri. Wisang kecil pingsan setelah ledakan besar itu , tentu akan sulit bila menggendong sambil membawa senjata sebagai alat perlindungan, jadi ayah Wisang melepas kemeja lusuhnya tinggal kenakan kaos dalam, Wisang kecil kemudian di talikan di punggungnya dengan erat menggunakan kemeja lusuh itu.

“ISTRIKU SUDAH TIADA DUA ANAK KU ENTAH KEMANA, AKU HARUS HIDUP AKU HARUS BERTAHAN HIDUP DEMI WISANG DEMI DIRIKU SENDIRI,” kurang lebih itu yang ada di kepala ayah Wisang saat itu.

Sigap dan cepat ak47 senapan laras panjang itu sudah ada di genggaman ayah wisang, dengan anaknya yang di gendong dengan di talikan di punggung gunakan kemeja, ia mengendap ngendap menjauh dari medan baku hantam tembak menembak antara pemberontak dan tentara. Peluru berterbangan di pelataran monas itu, apalagi dekat dengan lokasi ledakan truck besar, tidak ter elakan lagi banyak korban berjatuhan. Pelataran yang tadinya aman tentram mendadak jadi kacau balau.

Ayah wisang membungkuk mengendap ngendap di belakang tenda yang rapih berdiri, dengan anaknya di gendongan, ia masuk ke tenda berharap ada makanan atau apapun yang bisa di makan. Sampai pada tenda komando yang sepi sudah di tinggalkan orang pasca ledakan truck tadi sepertinya, ada beberapa apel dan air putih segar, ia kemudian mereguk air putih itu dengan cepat, tanda kehausan yang teramat sangat, dan memakan dengan cepat buah apel itu.

Ingin bangunkan anaknya namun ia merasa kasihan, jadi ia memisahkan perbekalan seadanya pada kantung tentara yang tergeletak di sebelah kasur di tenda komando itu. Kerepotan membawa perbekalan senjata dan gendong si bungsu akhirnya buat ia berjalan perlahan ke belakang tenda komando itu.

Suara balas membalas tembakan terdengar dari balik tenda itu, hanya beberapa ratus meter jaraknya. Dengan tetap di gendongan ia berusaha bangunkan Wisang, namun tak kunjung bangun, jadi ia membawa perbekalan secukupnya, kemudian pergi menjauh dari monas.
Berlari ketika sepi dan mulai mengendap bersembunyi bila ada tentara yang berlarian menuju pusat ledakan. Ia terus menjauh sambil membawa senapan laras panajng ak47 itu, kemudian ia sungguh terkaget ketika,

“HEEEHHHEEEYYYY DDIDIIIDIIAMM DI TEMPAT !!!,” ujar tentara berbaju hitam yang muncul entah dimana sambil menodongkan senjata, suara parau tegang yang tidak bisa di tutupi,

“TENANG TENANG, SAYA BUKAN PEMBERONTAK, SAYA HANYA RAKYAT BIASA, lihat anak kecil di gendongan saya yang saya ikat pakai kemeja saya, dia anak saya pingsan, saya hanya ingin selamat dari sini…” jawab ayah Wisang coba menenangkan tentara panik itu,

“AAHHHH DiDIiiiDiiam , aku baikidak percaya…SESEKAARANGA KAU MATIII !!!” teriak tentara itu seperti akan menembakan senapan nya,

Ayah Wisang terkaget , ia kemudian bersiap menghindar kemudian membalas tembakan tentara itu dengan senapan ak47 di tangannya, namun…

“KRAKKKKKKKK BLAM KRAAKKKKKKK CRAATTTTTTT !!!!!,” seperti kilat tidak terlihat, pandangan baru suara, baru saja akan menghindari, mahluk besar seperti macan berkaki enam memakan setengah badan tentara yang akan menembak itu. Ia mengunyah setengah badan tentara itu dan merapihkan dengan cakarnya di tanah.

Kemudian mata liar ayah Wisang memandang jauh ke belakang tentara itu, macan macan berkaki enam itu entah muncul dari mana, sedang memangsa semua orang yang ada di monas. Menjadikan baku hantam pemberontak dan tentara terhenti. Semua orang berlarian tidak karuan menyelamatkan diri dari mahluk seperti macan berkaki enam itu.

DZZZIIIINGGG DZZZIIINGHGGGG DZIIINGGGG.... !!!! , suara dari senapan ak 47 di tangan ayah Wisang di tembakan pada macan berkaki enam itu, namun, peluru itu tidak menembus sedikit pun kulit si macan kuning pucat itu. Bahkan macan itu tidak merasakan apapun, ia dengan tenang terus memakan mayat tentara itu.

Senapan itu ia lempar ke tanah, ia berpikir bahwa dengan membawa anaknya dan perbekalan akan mempermudah gerak nya. Putuskan untuk berlari sekuat kuatnya, akan tetapi, macan berkaki enam dari taringnya masih bercucuran darah tentara yang ia terkam, melirik tajam ke arah Ayah Wisang, bersiap menerkam.

Seperti mendadak mematung badan nya, susah bergerak khawatir satu gerakan salah saja, akan buat ia dan anaknya berada dalam terkaman macan itu. Kemudian langkah mundur perlahan menjauh dari situ, menjauh dari macan yang masih perhatikan tajam ayah Wisang.
Ia berfikir kalau ia langsung lari pasti ia akan mati, harus cari pengalihan pikirnya, sambil mundur ia melihat di bawah dekat kakinya ada lengan tentara yang buntung terlepas sisa dari macan yang menyantap tubuhnya. Secepat mata ia meraih lengan itu, kemudian memainkan nya agar si macan perhatikan, lalu ia lempar lengan itu jauh, mata macan itu melihat sekejap kemana lengan itu terlempar. Yakin akan macan berkaki enam yang teralihkan, ayah Wisang kemudian tunggang langgang mengambil langkah kaki seribu berlari menjauh dari macan berkulit kuning pucat yang masih kelaparan itu, namun sayang macan itu hanya melihat lengan yang di lempar oleh ayah Wisang, tidak ikut bergerak mengejarnya.

Mata macan itu kemudian kembali perhatikan ayah Wisang yang sekarang sudah berlari menjauh dari dirinya, macan itu kemudian dengan liar bergerak mengaum mengejar ayah Wisang yang berlari kencang. Degup jantung sungguh berdebar tidak beraturan, keringat dingin basahi dahi , ia sadar di belakangnya ada macan berkaki enam yang mengejarnya. Perbekalan di kantung berisikan air mineral dan beberapa buah sudah di tinggal entah kemana.

Tinggal beberapa meter lagi cakar dari macan itu mengenai Wisang kecil yang di gendong oleh ayahnya, nafas seperti akan habis, macan itu siap menerkam, melompat untuk melahap mangsanya satu gigitan, tapi “BRAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKKKK”, pagar pembatas pelataran parkir monumen nasional buat macan itu terhenti, menabrak dengan keras. Tepat di bagian dahi. Ayah Wisang melewati pagar itu lewat sela selanya dengan mudah.
Macan itu sedikit pusing dan sulit untuk stabilkan lagi badan mencari mangsa nya yang kembali menjauh darinya. Mata liar mencari tempat berlindung, namun disana tidak ayah Wisang temukan apapun, hanya jalan aspal tandus dan bangkai mobil yang rusak, tak ada apapun.
Sambil berlari kecil menjauh ia melihat kebelakang, macan pusing tadi seperti akan bersiap berlari lagi dan memburu dirinya, ia kembali panik, lagi matanya dengan liar mencari sesuatu untuk di pakai berlindung, senjata atau apapun, pikirnya.

“ARRRRRGGHHHHHHHHHHOOOWWW !!!!!!” , macan berkaki enam itu mengaung dari jauh, lalu, “AARGGGGGGHHHHHHHOOOWWWWWUUMMM,” dari belakang macan itu muncul macan - macan yang lain nampak baru selesai memangsa semua manusia yang ada di pelataran monumen sambil mengaum.

Putus asa bingung akan apa yang harus di lakukan nya, nafas seperti satu tarikan lagi, untuk terus lari dengan mengendong anak nya di pundak rasanya ia tidak sanggup. Tiga ekor macan berlarian liar ke arah ayah Wisang yang sudah tidak kuat berlari lagi. Masih jauh namun perlahan mendekat.

“INI AKHIR SEMUA NYA, BILA AKU TIDAK SELAMAT ANAKU HARUS ! MAAFKAN AYAH WISANG MAAFKAN”, jeritan putus asa melecut di ulu hati nya, di barengi tangis yang tak bisa ia bendung, sampai ,

“VROOOOOOMMMMMMMMMMMM” , “ DDDRRAAAKKKKK, BLAAAAM”, suara jeep terdengar dari sudut, muncul menabrak dari samping salah satu macan yang sedang berlari menuju ayah Wisang.

Mobil jeep itu kemudian memacu laju nya menyusul ketiga macan itu, mendekat ke arah ayah Wisang yang perlahan larinya sudah gontai. Mobil jeep itu sudah di samping nya sedangkan macan macan itu sudah berada beberapa puluh meter di belakangnya, kemudian ia melihat seorang wanita berambut pirang menyetir mobil itu dan pria kekar di belakangnya, dari pakaian nya seperti tentara angkatan darat, berwarna hijau dan ada pangkat bintang di dada nya.

“CEPAT NAIK CEPAT TIGRESS ITU AKAN MEMANGSA ELU CEPAT !!!”, ujar lelaki kekar itu sambil ulurkan tangan,

“TOLONG BAWA ANAK KU SAJA BAWA ANAKU SAJA AKU TIDAK APA APA TINGGALKAN AKU BAWA ANAKU SAJA TOLOOONG AKU SUDAH TIDAK KUAT LAGII !!!”, ujar ayah Wisang yang sudah bercucuran air mata, sambil melepas ikatan kemeja di badanya memberikan anaknya yang masih pingsan,

“BICARA APA LU !!! LU JUGA HARUS SELAMAT GOBLOK !!! “, pria kekar itu marah berteriak.
Dibikin 1 thread aja gan cerita'y