alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58f56aebd675d4a05b8b4569/3
#3
Ayah Wisang sungguh terkaget, suara gaduh dari masing masing orang yang berkumpul di depan monumen nasional itu terpicu dari kalimat terakhir lelaki berjenggot itu. Kedua kakak wisang, mereka bergetar dan menelan air liur di leher, gambarakan akan ke khwatairan yang makin menjadi.

“DIAM DIAM SEMUA DIAM, SAYA TIDAK AKAN BERPANJANG LEBAR, SAYA ADALAH SEORANG DIFABEL DAHULU KALA, NAMUN IA YANG BERADA DI TAMAN DUNIA BUAT SAYA KEMBALI BERJALAN DENGAN MEMEGANG KEPALA SAYA, DENGAN MENGAKUI BAHWA TUHAN ITU TIDAK ADA.” Teriak lelaki berjenggot sepusar itu, lelaki yang belum terlihat tua namun miliki jenggot panjang itu sangat santai berbicara seperti itu, seolah tidak ada yang aneh,

“JANGANKAN TIDAK BISA BERJALAN, UNTUK TIDAK MENGAKUI TUHAN AKU BILA BUTA TIDAK AKAN MINTA DI BERI PENGLIHATAN LAGI KALAU SYARATNYA TIDAK AKUI TUHAN….!,” teriak lelaki yang di keningnya ada dua tanda hitam, ia memotong argument lelaki berjanggut itu.

Semua pandangan mata melihat pada lelaki itu kemudian beberapa orang bertakbir. Ayah Wisang hanya bisa diam melihat itu sambil memegang erat kedua kakak Wisang.

“OH BAIK SAYA TIDAK AKAN BANYAK BERBICARA PANJANG LEBAR LAGI, MUNGKIN INI YANG AKAN TERJADI YAH BILA TIDAK IKUTI ATURAN DARI TAMAN DUNIA, HHMMMM DI MULAI DARI KAMU MAS YANG TADI BERTERIAK TERIAK TIDAK JELAS,”

lelaki berjenggot itu menunjuk pria yang berteriak teriak tadi yang miliki dua tanda hitam di keningnya. Kemudian dua tentara bergerak ke arah pria lusuh itu, memegangnya layaknya tahanan dan membawa nya, kemudian ia di buat berdiri di sebelah lelaki berjenggot itu.

“Mas apa yang paling kamu inginkan di dunia ini, katakan lah akan segera di wujudkan…”
Lelaki itu terdiam seribu bahasa,

“hhmmmm baiklah, tuhan itu ada atau tiada ?” , tanya lelaki berjenggot itu pada lelaki yang miliki dua tanda hitam di jidat,

“Bissmilahirahmanirahim, Tuhan itu ada, Allohuaaaaa……” belum selesai bertakbir, jari lelaki berjenggot itu seperti menyentuh leher lelaki yang baru di tanya olehnya, seperti menandai dari ujung leher ke ujung leher lainnya, dan…

“CRAAAATTTTTTTTTTT !!!!” kepala lelaki itu terpisah dari tubuhnya di barengi dengan darah yang bermuncratan.

“SILAHKAN BILA INGIN BERNASIB SAMA DENGAN PRIA INI, SILAHKAN JAWAB YANG SAMA DENGAN PRIA INI JAWAB !!!!”, teriak lelaki berjenggot itu penuh kekesalan.

Semua orang disitu terkaget istri dari lelaki tadi menangis histeris dan pingsan di tengah tengah kerumunan orang orang, hanya ibu ibu di sekitarnya yang berani menolong istri dari pria yang baru saja meng akhiri hayatnya. Kemudian satu persatu orang di buat berbaris menuju pria berjenggot untuk di buat hidup atau mati. Satu persatu kepala berpisah dari badan orang, darah penuhi pelataran monumen nasional, tanda orang menolak akan ajakan orang orang sesat itu untuk tidak mengakui adanya tuhan. Kepala buntung di kumpulkan, di pojokan. Wisang menangis keras ketakutan, ibunya seperti sudah tahu akan mati maka ia memandang suaminya dari jauh, dan seolah mengerti suaminya menggangguk tanda bahwa kematian tinggal menanti dari antrian panjang manusia menuju pria berjenggot itu.

Tragedi satu kepala yang tidak mudah di lupa.

-------------------------------------------------------

Tentara berbaju hitam lengkap dengan senjata laras panjang mengatur barisan yang panjang menuju lelaki berjenggot itu, untuk tentukan nasib hidup atau tidak. Kengerian darah dan kepala yang semakin banyak di tumpuk di pojokan buat satu persatu orang yang tipis iman tidak akui adanya tuhan. Wisang menangis tidak karuan di gendongan ibunya.
“Kelak kita akan berkumpul lagi nanti di akherat yah nak, jangan menangis ibu tunggu disana yah, pesan ibu jaga iman mu jaga warisan leluhur mu yah…”, seperti akan mengerti begitu kalimat terakhir ibu Wisang pada anaknya, wisang hanya bisa menangis memeluk ibunya kemudian,

“IBU INI ANAKNYA TIDAK BISA IKUT MAAP IBU SUDAH DEKAT, JANGAN MEMBANGKANG !!!”, seorang tentara memaksa Wisang berpisah dengan anaknya dan membuat ibu wising kembali ke barisan wanita yang rapih menuju lelaki berjenggot yang ada di atas tangga monument nasional. Ibu Wisang berontak tidak mau di pisah dengan anaknya, namun,

“ANAK SAYA PA ANAK SAYA !!!”, lelaki berteriak dari jauh ayah Wisang dan kedua kakaknya kemudian meraih Wisang.

Wanita yang jumlahnya lumayan banyak di buat mengantri dan di tanya lebih dulu, dan ngerinya darah dan kepala yang bertumpuk di pojokan jadi salah satu faktor banyaknya wanita tidak akui adanya tuhan. Hingga akhirnya hidup dan masuk ke tempat perlindungan di belakang monument nasional, sedangkan Pria di buat mengantri lumayan lama, hingga tiba antrian dimana antrian mencapai ibu Wisanggeni.

Dari jauh walau masih di antrian terlihat dari jauh ibunda wisang menitikan air mata melihat ketiga anak lelakinya penuh harap, ayahnya tahu akan apa yang terjadi pada ibunya, kemudian dengan sigap berjongkok dan memeluk mereka bertiga dan kemudian berkata
“SUDAH INI NANTI KITA MAKAN YANG ENAK YAH, TERUS KITA MAIN PETAK UMPET, AYAH IKUTAN LAH KALI INI“, Wisang kemudian perlahan menghentikan tangis dan perhatikan ayahnya yang berjongkok, seperti sedang memberitahu pengumuman penting, kemudian, badan lemah berbaju cream tua terhempas ke tanah tanpa kepala.

Seperti akan membanjiri kelopak mata, ayah Wisang menahan tangis sambil terus berusaha alihkan ketiga anak lelaki itu agar tidak melihat ke ujung tangga, mengajak mereka bicara ini itu. Seribu kenangan bagaimana ia bertemu menikah susah senang bersama meletup letup di ulu hati ayah Wisang, mendorong air mata yang berusaha terus ia tahan agar ketiga anaknya tidak heran.
“Ayah sudah jangan menangis,” ujar kedua kakak Wisang pada ayahnya, yang ternyata tidak sanggup membendung air mata menangisi kematian istrinya.

Lalu seperti ada yang mengendap gendang telinga seperti mendadak tidak ada suara, peluru rpg meluncur menghantam tembok di ujung tangga monument nasional,

“SUUUUUUUUUUUUTTTTT BLAAAAAAAARRRRR !!!!!!”

Orang orang terkaget, tentara berbaju hitam dengan senjata laras panjang terkaget mencari dengan mata liar asal peluru rpg itu datang, lelaki berjenggot itu tertunduk nyaris terkena peluru rpg itu, ia bangkit seperti bicara singkat dengan komandan disitu kemudian bergegas pergi. Ayah Wisang terkaget, memeluk ketiga anaknya, mata liar melihat keadaan banyak tentara bersiaga dan orang orang yang seperti akan berontak, tinggal tunggu waktu untuk terjadi kerusuhan pikirnya.

“WUIIIIIIIII…. WUIIIIIIIII….. WUIIIIIIIIIIII…… “ , sirine berbunyi tanda bahaya mengintai ,lalu dari jauh seperti ada truck minyak dengan kecepatan tinggi seperti akan menabrak kerumunan, keadaan sungguh carut marut, truck itu kemudian tidak memperlambat malah menambah kecepatan begitu sudah dekat dengan barisan orang orang dan tentara.

Kemudian orang orang berhamburan begitu truck itu mendekat dan, “DUUUUUUAAARRRRRRRRRRRRRR”, truck itu seperti sudah di siapkan alat pemicu ledak, truck pengangkut bahan bakar itu meledak buat orang berhamburan seketika. Membuat tragedi satu kepala itu berkahir mendadak, tentara tunggang langgang seperti menyiagakan diri akan serangan selanjutnya, kemudian benar saja, dari jauh ada sekitar lima mobil kol bak berisikan orang orang yang membawa senjata menambakan senjata kearah tentara tentara itu, dan baku tembak antara tentara dan para pemeberontak tak terelakan.

Ayah wisang terhempas jauh setelah ledakan truck besar itu, matanya berkunang kunang mencoba melihat dengan jelas, membuat pandanganya tidak buram dengan mengusap ngusap matanya.

Perasaan lega terasa begitu melihat si bungsu masih di dekapan. Namun, hati nya kaget bukan kepalang begitu sadar dua kakak Wisang tidak ada, dekatnya.
×