alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58f5686c2e04c8060e8b4567/2
#2
Puluhan orang masuk tertunduk dalam truck tentara bertapkan terpal, Wisanggeni di tuntun ibunya berjalan kearah belakang truck.
“Wanita di depan, lelaki di belakang,” ujar tentara berseragam hitam yang baru turun dari pintu depan mobil truck itu,

“Tapi ieu budak abi pa ! (anak saya pa),” ibu Wisanggeni sambil memeluk nya erat setengah berteriak, gambarkan ia tidak mau berpisah dengan anaknya yang bungsu,

“Wanita di depan lelaki DI BELAKANG,” ujar tentara itu dengan wajah kesal dan seperti menjelaskan perintah atasannya,
“sudah biarkan ibu ini bersama anaknya, kasih dia duduk di depan sebelah sopir, kamu siapa namamu ?,” ujar lelaki berpakaian berbeda dengan tentara lainya

“Azzam komandan “

“Kamu Azzam di belakang saja bersama dua teman mu yang lain ,”

“Siap Komandan”

Ingin ucapkan terimakasih pada komandan itu, namun terlupakan akibat situasi yang paksa buat mereka di giring seperti tahanan.

Akhirnya Wisanggeni bersama ibunya duduk di depan di truck yang mengangkut puluhan pria, dari kaca depan terlihat truck di depannya yang mengangkut puluhan wanita. Ayah Wisanggeni dan kedua kakaknya berdiri hingga terduduk di belakang truck bersama para pria yang lain, berpikir sejenak bahwa “dari mana tentara tentara ini tau lokasi aku tinggal, mungkin memang bisa di akses oleh truck seperti ini tapi jarang sekali yang tahu bahwa ada rumah di dekat puncak gunung seperti ini.” Semua pertanyaan pertanyaan yang melompat lompat di kepala ayah Wisang yang kemudian mengantarkan pada mereka yang tertidur lelap pagi itu, dengan matahari yang menyorot panas.

Truck sampai ke jalan tol yang sudah terbengkalai tidak terurus, truck itu memasuki jalan tol sebelum nya melewati gedung sate yang sama terbengkalai juga, jalanan sepi, satu dua kendaraan seperti sengaja di tinggal pemiliknya di jalan. Tandus dan gersang, nyaris seperti tidak ada kehidupan. Kemudian sebelum memasuki jalan tol untuk menuju Jakarta, truck berhenti di satu titik temu. Selang beberapa menit entah datangnya dari mana satu dua truck lain bermunculan membawa pria dan wanita di belakangnya, hingga akhirnya puluhan truck berkumpul sebelum masuk tol tersebut.

Komandan yang memimpin masing masing dua truck itu bertemu seperti mendiskusikan sesuatu, satu orang mengakat tangan yang sudah di lapisi sarung tangan hitam, kemudian ia menggerakan tangannya dan muncul ponsel hologram.
“Gimana masih mencari, kita sudah berkumpul di titik temu, kalau sekiranya masih lama kami tinggal, kau nanti menyusul saja, okey kalau begitu !,” ujar salah satu komandan yang berbicara pada seseorang lewat ponsel hologram di tangan nya itu. Kemudian mereka kembali
berdiskusi dan sepakat untuk lanjutkan perjaalanan membawa yang masih hidup pria dan wanita ini ke ibu kota.

Lalu kedua kakak Wisanggeni terbangun dari dekapan ayahnya di belakang truck melihat ke belakang, ternyata truck sudah lama memasuki tol kemudian berbelok dan terkaget, bahwa ada sekitar puluhan truck di belakang truck yang mengangkut nya, seperti lakukan konvoi panjang. Mereka saling pandang satu sama lain, kemudian mata mereka seperti berbicara

“ADA APA INI, ADA APA DI IBUKOTA ?”

------------------------

Truck satu persatu memasuki daerah ibukota negara yang tidak jauh beda dengan Bandung, namun ketika memasuki daerah Jakarta pusat, ada seperti kegiatan manusia disitu, walau dengan panas terik dan gersang, anehnya semakin menuju monas, cuaca panas semakin berkurang. Dua kakak Wisanggeni dan ayahnya melihat banyaknya manusia yang lalu lalang di jalan raya, tidak menggunakan kendaraan namun dari pandangan mata mereka bisa simpulkan bahwa ada harapan bertahan hidup di ibukota negara Jakarta ini.

Puluhan Truck yang membawa ratusan pria dan wanita ini kemudian melewati pelataran gerbang monas atau monumen nasional. Sungguh berbeda dari sebelum perang nuklir hawa panas Jakarta dulu di tambah kemarau hilang adanya, tidak ada lagi hawa lengket keringat seperti dulu. Tertuama ketika memasuki pelataran monas sejuk dan nyaman di rasakan kedua kakak Wisanggeni beserta ayahnya.

Ibu Wisanggeni yang duduk di depan sebelah sopir terperanga begitu melihat kain panjang hitam bertuliskan arab gundul seperti menempel di semua sisi monumen nasional. Apakah arti tulisan itu, kalau tulisan arab tauhid ia hafal bentuknya, namun ini ia tidak tahu.
Melihat dari balik kaca truck, begitu truck mulai memutar mencari tempat parkir. Banyak kemudian orang mengerumuni berusaha mendekat ke puluhan truck yang baru datang, seperti ingin tahu apa yang tentara bawa, walau mereka sudah tahu bahwa itu adalah pengungsi yang selamat yang di evakuasi tentara tentara berseragam hitam ini.

Ketika truck sudah mulai berhenti, ibu Wisanggeni yang sedari di perjalanan tidak terlelap bangunkan Wisanggeni kecil, yang tertidur di pangkuan ibunya selama perjalanan menuju ibukota.

“PRIA SEBELAH KANAN SAYA, WANITA SEBELAH KIRI SAYA CEPAT !!!,” teriak seorang komandan yang di wajahnya seperti ada bekas luka sayatan.

Lalu dengan sigap semua berbaris sesuai instruksi, ibu Wisanggeni kemudian berbaris di kumpulan wanita yang sudah membentuk barisan sambil menggendong Wisanggeni kecil. Orang banyak yang sudah ada disitu melihat ratusan orang yang baru datang dari jauh, di batasi tentara yang berjaga dengan senjata laras panjang. Mereka berbaris ratusan meter dari dimana truck di parkirkan.

Dari jauh ayah Wisanggeni sambil memegang pundak kedua anaknya erat mencuri pandang mencari keberadaaan istrinya dan anaknya yang bungsu. Begitu bertemu mata, bisa temukan mereka ada sedikit lega di dada, namun harus kembali waspada manakala kemudian seorang lelaki paruh baya berjenggot hingga pusar membuka suara.

Sarung tangan hitamnya munculkan seperti mic kecil berbentuk hologram membantu suaranya menjadi lantang.

“KERABAT SELAMAT DATANG DI HUTAN DUNIA, SUMBER SEGALA KEHIDUPAN, TENTU KALIAN BERTANYA TANYA AKAN DI BAWA KEMANA ATAU AKAN DI APAKAN DI AKHIR JAMAN INI KAMI, BELUM INI BELUM AKHIR JAMAN, MASIH ADA HARAPAN, HARAPAN YANG ADA DI TAMAN DUNIA, KESEMBUHAN KEKAYAAN, HIDUPKAN YANG KAU CINTAI, APAPUN !

UNTUK KESANA HANYA SATU SYARATNYA,”

Ia menghela nafas untuk lanjutkan kalimat terakhir,

“TIDAK AKUI ADANYA TUHAN.”
Mending di bikin 1 thread aja gan emoticon-Mewek

**