alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58f079edd44f9f36098b4568/kisah-kasih-anak-samarinda
Kisah Kasih Anak Samarinda [BASED ON TRUE STORY]
Quote:Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
TOP THREAD LAGI, MAKASIH MIN


Quote:Quote:Quote:Quote:Quote:Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
MY STORY

- PART 1: KELUARGA GUE BROKEN HOME

- PART 2: WELCOME JAKARTA

- PART 3: GALAU OH GALAU

- PART 4: ICHA HAMIL

- PART 5: GUE DIPANGGIL KIPLI

- PART 6: KIPLI MULAI NAKAL

- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 1)

- PART 7: KIPLI MAKIN NAKAL (BAG 2)

- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 1)

- FLASHBACK: SUKA DUKA KIPLI DI PESANTREN (BAG 2)

- PART 8: KIPLI KERJA HALAL

- PART 9: KIPLI NIATNYA MOVE ON, TAPI...

- PART 10: GOODBYE MRA!

- DAILY: NGUKUR BAJU ANAK DI BPK PENABUR

- PART 11: PEDEKATE KE CK (BAG 1)

- PART 12: PEDEKATE KE CK (BAG 2)

- PART 14: TAMA GALAU

- PART 15: BABY AND SWEETY JADI ABSURD

- PART 16: KIPLI NGAMEN LAGI

Quote:Kalau ada komentar agan yang menurut ane layak, ane akan lemparin cendol ke agan.. Jadi pantau terus ya gan...
emoticon-Cendol Gan

wah kentang gan emoticon-Wowcantik
PART 1: KELUARGA GUE BROKEN HOME

Halo, kenalin dulu mungkin ya, nama gue Tama. Sekarang, gue berusia 26 tahun dan berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Gue anak pertama dari 4 bersaudara, tapi saudara gue bertambah dengan seiring berjalannya waktu. Jelasnya, simak kisahnya aja ya!

Beberapa menit sebelum menulis cerita ini, gue kebingungan untuk mulai dari mana untuk mengawalinya. Akhirnya, gue memutuskan untuk memulainya dengan hari itu.

***
“Teettt…,” bunyi bel pertanda sekolah telah usai.
Gue pun langsung bergegas untuk pulang namun jalan gue terhenti karena melihat temen-temen gue berkumpul di depan mading sekolah. Ternyata nilai hasil try out sudah keluar.
“Yes… Yuhu..,” begitulah gerutu gue saat melihat nilai gue yang ternyata di atas 8 semua dari 3 mata pelajaran, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia.

Gue pun bergegas jalan kaki ke depan gang menuju jalan besar untuk pulang naik angkot. Gue sekolah di SMA Muhammadiyah II Samarinda. Jarak gang dari sekolah ke jalan besar kurang lebih sekitar 700 meter.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
SMA Negeri Muhammadiyah II


Begitu sampai ke jalan besar, gue harus menyeberang dua jalan besar dan berada tepat di depan sebuah masjid yang gue lupa namanya. Biasanya sebelum naik angkot, gue nongkrong dulu bareng temen-temen, “sambil ngerokok”.

Di dalam hisapan rokok tersebut, gue mengingat kembali masa lalu yang sebenarnya sedih untuk diceritakan. Saat dimana keutuhan keluarga gue hancur, begitu juga dengan kehidupan gue, terutama sekolah gue.

***
Saat itu gue masih duduk di bangku SMP, gue bersekolah di SMP N 1 Samarinda. Sekolah itu bisa dibilang sebagai sekolah favorit kedua setelah SMP Plus Samarinda. Dari sini bisa diartikan bahwa gue bukan anak yang bego-bego banget ya.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
SMP Negeri 1 Samarinda


Pada akhirnya orangtua gue memutuskan untuk bercerai, menurut sepengetahuan gue, nyokap gue yang minta cerai karena sifat bokap gue yang memang tempramental. Namun, karena bokap gue bersikukuh gak mau bercerai, akhirnya proses perceraian ini pun berlarut-larut hingga membutuhkan waktu yang lama.

Oh ya, bokap gue juga sudah terserang penyakit stroke sejak tahun 2004 kalau gak salah inget gue. Entah nanti bakal gue ceritakan lebih lengkap atau nggak kisah nyokap dan bokap ini karena selain agak sensitif, privasi dan banyak juga yang sudah berhasil gue lupakan. Intinya, gue anak “Broken Home”.

Setelah lulus sekolah, gue pun melanjutkan sekolah di SMK TI Airlangga. Kehidupan gue sudah mulai gak jelas di sini. Gue persingkat saja ya, di jenjang ini gue pindah sekolah beberapa kali. Kalau gue urutin yaitu SMK TI Airlangga Samarinda trus pindah ke SMK TI Airlangga Balikpapan, terus pindah lagi ke SMK TI Airlangga Samarinda, terus pindah ke Pondok Pesantren Nabil Husein Loa Bakung Samarinda, dan terakhir di SMA N MUhammadiyah 2 Samarinda, itu pun pada akhirnya gak lulus. Gue juga jadi membayangkan bagaimana rasanya pindah ke sekolah yang sama sebanyak dua kali. Kebayang gak rasanya? Sudah pindah, terus balik lagi, haha, jadi anak baru tapi lama.
Spoiler for SMK TI Airlangga Samarinda:

Spoiler for Ponpes Nabil Husein:

***
Akhirnya rokok pun habis dan gue memutuskan untuk pulang. Gue rogoh kantong, masih ada uang Rp 2.000. Kalau gak salah ingat, dulu angkot dari sekolah ke rumah gue sekitar Rp 1.800, kembali 200.

“Bro, aku duluan ya, gerah nih,” pamit gue ke teman-teman gue yang kalau nongkrong bisa sampe malem di situ.
“Yaelah, cepatnya pang ikam bulik, handak ngapain gerang?”, kurang lebih begitulah logat orang samarinda yang artinya “Yaelah, cepat sekali kamu pulang, mau ngapain sih?”.
“Ndak papa, mau bulik aja, dah ya, besok lagi,” jawab gue sambil menyetopkan angkot yang kalau gak salah ingat warnanya hijau.

Akhirnya gue pun pulang melewati jembatan Mahakam dan menuju ke Komplek Perumahan Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda di Samarinda Seberang. Ini rumah dinas bokap gue karena bokap gue dosen di kampus itu. Ya, sekarang gue tinggal bareng bokap sedangkan nyokap tinggal di Makroman yaitu sebuah desa yang berada masih di kawasan Samarinda tapi kalau mau ke sana harus melewati banyak sekali gunung. Eh tapi jangan salah karena jalanannya mulus dan lebar serta sudah diaspal.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
Kebetulan nemu gambar ini, rumah ane gak jauh dari persimpangan ini. Jalan kaki juga sampe. Biasanya kalau subuh pas puasa, tiap subuh bocah-bocah kebut-kebutan di sini abis sahur.


Turun di angkot, perjuangan gue belum selesai karena gue harus jalan kaki lagi masuk ke dalam komplek. Jaraknya, sekitar 2 kilometer lebih. Bukan karena jauhnya yang bikin gue capek, tapi karena harus melewati dua jalanan aspal mendaki. Yang pertama tidak begitu tinggi, hanya sekitar 150 meter saja. Namun yang kedua ini, mencapai 400 meter, jadi kebayang ya gimana tingginya. Setelah itu, gue harus menuruni jalan aspal menurun juga sekitar 200 meter. Baru deh sampai ke rumah.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda


Begitu sampai di rumah, gue pun langsung lepas sepatu ganti pakaian namun belum selesai copot celana, nyokap gue telepon.

“Assalamu’alaikum”, sapanya.
“Wa’alaikum salam, kenapa ma?”, jawab gue.
“Kamu besok siap-siap, kita besok ke Jakarta, pokoknya siapin aja yang mau dibawa, kita liburan,” ucapnya santai.
“Lah, lah, lah. Kok buru-buru gini, gak ada ngabar-ngabarin dulu?,” jawab gue lagi kaget. Memang sih gue sudah mulai libur karena habis Try Out, hari ini terakhir sekolah untuk pembagian nilai.
“Udah, besok siapin aja, pagi jam 6 mama jemput!,” kata nyokap gue yang mulai nyolot.
“Ya udah, iya,” jawab gue.

Setelah selesai telpon, gue langsung mikir dulu sebentar, terus gak lama kemudian, gue siap-siapin barang-barang yang mau gue bawa.
Saat siap-siap itu, gue mikir, bilang ke bokap gue atau gak ya soal liburan ini? Apa bokap gue udah dikasih tau ya sama nyokap?
Akhirnya pun gue bilang ke bokap gue dan Dia kaget karena gak dikasih tau sama nyokap gue. Terus bokap gue telepon nyokap gue deh, gue gak tau mereka ngomongin apa, kayaknya ya beranteman lagi. Padahal udah cerai, masih aja berantem.

***
“Tam, bangun. Udah jam berapa ini? Tam…,” nyokap bangunin gue.
“Loh mama kok di sini?,” tanya gue bingung.
“Gimana sih kamu ini, kan kemaren mama udah telepon, kita mau ke Jakarta sekarang,” jawab nyokap gue yang mulai nyolot lagi.
Gue pun langsung duduk sambil nyambung nyawa karena masih terasa banget ngantuknya.
“Buruan mandi, siap-siap,” suruh nyokap gue.
“Iya,” jawab gue lemes.

Begitu gue keluar kamar, gue lihat di ruang depan ada bokap gue lagi ngopi sambil nonton tv kecil berukuran 14 inch. Dia gak sendirian, ada seorang wanita paruh baya bermata belo duduk di sampingnya. Wanita itu adalah nyokap tiri gue.

Hubungan antara bokap dan nyokap gue gak begitu baik, jadi jangan tanyakan soal hubungan nyokap tiri gue sama nyokap gue deh. Bahkan, sampai sekarang gue nulis cerita ini pun mereka kalau ketemu kayak kucing dan tikus, nyokap gue entah kenapa benci banget sama nyokap tiri gue. Bahasa yang dipakai nyokap gue untuk nyebut nyokap tiri gue juga serem banget. Kadang bilang wanita iblis, racun, dan sejenisnya.

Sepertinya belum lengkap rasanya kalau gue belum bercerita tentang nyokap tiri gue ini ya. Daripada nanti bingung, mending gue ceritain sekarang.

***
Nyokap tiri gue sebelum dinikahi sama bokap gue adalah seorang janda beranak dua yang tinggal di Balikpapan. Sebenarnya nyokap tiri gue ini sudah kenal sejak lama dengan bokap dan nyokap gue. Dulu, saat bokap gue masih kerja di PT Barito Pasific, suami dari nyokap tiri gue ini diajak sama bokap gue ke hutan. Masalah pekerjaan, gue gak tahu persis gimana kerjaannya tapi ya namanya kerja di perusahaan kayu tentu wajar kalau suka keluar masuk hutan.

Lalu, terjadi sebuah kecelakaan di hutan tersebut yang mengakibatkan suami dari nyokap tiri gue ini meninggal dunia dan akhirnya menjadi janda dengan dua anak.

Eh, daripada ribet gue nyebut nyokap tiri terus, gue selama ini manggil Dia dengan sebutan “Bunda”, jadi mulai sekarang gue sebutnya bunda aja ya.

Oke lanjut, setelah bokap gue resmi bercerai dengan nyokap gue. Bokap gue berpikir bagaimana menjalani hidup jika tidak memiliki istri, sedangkan kondisinya bokap gue stroke. Oleh karena itulah, terjadi rembukan di keluarga besar bokap gue yang rata-rata tinggal di Balikpapan.

Gak tau bagaimana pastinya, keluarlah nama bunda gue ini untuk bisa menggantikan sosok nyokap gue untuk jadi istri bokap gue.
Gue masih ingat betul bagaimana bokap gue menikah sama bunda di KUA yang hanya dihadiri oleh gue dan beberapa rekan sesame dosen di Politeknik. Sedangkan adik-adik gue yang berjumlah 3 orang tidak ikut.

“Ya Bapak, tolong ulangi perkataan Saya ya,” ujar penghulunya.
“Iya pak, duh, Saya gugup ini,” jawab bokap gue sambil senyum-senyum malu.
“Loh kenapa malu, kan sudah pernah,” tanya pengulu meledek.
“Justru karena sudah pernah pak, sekarang jadi malu, apalagi di depan teman-teman begini,” ungkap bokap gue mengutarakan alasannya.
“Ya sudah, fokus saja, ulangi perkataan Saya,” ungkap penghulu.
“Baik pak,” jawab bokap gue singkat sambil mengerutkan wajahnya karena serius.
“Saya nikahkan.. blablablabla,” ujar penghulu. Gue pake “blablabla” karena gak begitu ingat kata pastinya, intinya ya yang biasa dipakai untuk nikahan gitu lah ya.
“Saya terima nikah dan kimpoinya, anu,” jawaban bokap gue salah karena grogi. Terpaksa diulangi lagi.
“Ayo ulangi lagi, ini kedua kalinya, kalau tiga kali salah, berarti besok lagi ya,” ucap penghulunya mengancam.
“Sah.. Sah… Sah…?,” tanya penghulu setelah bokap gue lancar menjawab.
“SAH,” teriak temen-temen bokap sekaligus gue sambil mengucapkan hamdalah.

Bokap gue akhirnya lega karena gak harus kembali lagi besok karena tiga kali salah waktu ngucapin ijab kabulnya. Setelah itu, kita pun hanya sekedar minum air putih dan kue ala kadarnya. Ya, acara pernikahannya sangatlah sederhana. Semenjak saat itu, gue tinggal bareng bokap dan bunda gue di rumah dinas Politeknik.

Oke sepertinya sudah cukup dulu untuk pembahasan mengenai kehidupan bokap dan bunda gue. Sekarang kita balik lagi ke rencana gue dan nyokap mau pergi ke Jakarta ya!

***
Begitu gue selesai mandi dan mengenakan pakaian layaknya orang desa yang alay, gue pakai minyak rambut g*tsby yang warna biru muda. Gue pake celana levis gombrong borju yang merupakan hadiah ulang tahun dari seseorang waktu gue di Pondok Pesantren. Atasan gue pakai kaos lengan panjang dengan tulisan angka 86 kalau tidak salah di tengahnya. Belum sampai di situ, gue juga mengenakan Jaket berwarna merah terang serta kacamata 10 ribuan yang gue beli sudah 1 tahun lebih.

Selesai berdandan, gue pun keluar dari kamar dan gue lihat nyokap gue udah di dalam taksi warna biru. Gue pun pamitan sama bokap dan bunda gue. Bokap gue pun nangis karena mau gue tinggal liburan. Walaupun bokap gue pemarah, tapi dia orangnya sensitif dan suka nangis kalau soal hal beginian.

Gak lama setelah itu, gue pun langsung naik taksi dan berangkat ke Bandara untuk terbang menuju Ibu Kota DKI Jakarta.
Di sinilah hidup gue bener-bener berubah drastis!

Selanjutnya, gue bakal ceritain semua satu per-satu soal bagaimana kehidupan gue dulu. Dari mulai tinggal di pondok pesantren, hubungan percintaan, gue juga sempet jadi pengamen jalanan, gimana hidup sama bokap tiri dan kisah lainnya yang sebenarnya cukup absurd untuk diceritakan.

****** END OF PART 1 *******

Oh ya, Part 2 bakal gue kasih judul “Welcome Jakarta”. Di sini gue bakal bercerita tentang bagaimana kehidupan gue setelah menginjak Ibu Kota DKI Jakarta.

Gue sertakan lagu ini yang gue buat sekitar tahun 2006 saat gue baru tiba di Jakarta. Tepatnya kurang lebih sekitar 1-2 minggu setelah gue tau apa yang terjadi. Untuk penjelasannya, nanti gue bakal jelasin di part ke 2.

Lagu ini berhubungan dengan hubungan percintaan gue yang gak sempat gue ceritain di Part 1 karena gue mau fokus kepada kehidupan keluarga gue dulu.
youtube-thumbnail

PART 2: WELCOME JAKARTA

“Kita liburannya di Jakarta kemana aja nanti ma? Terus tinggal dimana nanti kita?,” tanya gue ke nyokap.
“Udah tenang aja kamu,” jawab nyokap gue sambil lihatin handphone.

Karena taksi jalannya ngebut banget, gak terasa sudah mau sampai ke Bandara Sepinggan, Balikpapan. Kalau belum pernah naik taksi di sini, lebih baik ngomong dulu sama sopirnya supaya jangan ngebut-ngebut. Soalnya, sopir di sini gokil-gokil. Kecepatan 100 km/h di jalan tikungan bukan apa-apa bagi mereka.

Sesampainya di Bandara Sepinggan, gue berlagak kayak orang yang lagi pengen liburan. Jalan dengan tegak, pakai kacamata, membawa tas bagaikan turis. Pokoknya saat itu gue ngerasa jadi cowok paling keren sedunia.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda

Ini kali pertama gue naik pesawat, sebelumnya belum pernah sama sekali. Gue lupa dulu pakai maskapai penerbangan apa.

Setelah cek in, gue pun langsung lari ke sebuah tempat yang sangat wangi kopi yaitu Toko Roti Boy. Sebuah roti khas yang biasa dijadikan oleh-oleh kalau bepergian dari bandara.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda

“Mbak, roti boy nya berapaan?,” tanya gue.
“Lima ribuan mas 1, mau beli berapa mas,” jawab mbaknya.
“Dua aja deh mba,” kata gue sambil ngambil duit satu lembar dua puluh ribuan yang memang tinggal segitu duit gue.
“Ini mas rotinya, sekalian kembaliannya,” jawab mbaknya.
Setelah membeli roti itu, gue langsung nyamperin nyokap gue yang lagi nunggu di sebuah tempat duduk gak jauh dari toko roti tadi.
“Nih ma, satu-satu rotinya,” ujar gue menawarkan roti boy yang barusan gue beli.
“Nggak ah, kamu aja,” jawab nyokap gue yang lagi sibuk lihatin tiket pesawat. Maklum aja jaman dulu tiketnya gak secanggih sekarang. Masih serba manual dan agak ribet kalau urus-urusannya.

Oke, akhirnya gue pun masuk ke dalam pesawat. Gue merasa aneh karena perasaan tadi gak ada ngerasa apa-apa tapi kok pas di dalam pesawat jadi deg-degan gini.

Tapi gue masih bisa ketawa saat ngeliatin pramugarinya memperagakan tips-tips di dalam pesawat. Dalam benak gue, ini orang tiap hari begitu, gue nganggapnya dia joget-joget doank sambil menirukan perkataan orang dari dalam menggunakan speaker. Gue langsung ngebayangin badut yang suka ada di Pasar Citra Niaga Samarinda.

Pesawat pun berangkat, pertama kalinya ini gue merasa tegang kayak gini. Apalagi pas pesawatnya melaju di menit pertama dan kepalanya mulai mengangkat ke atas. Gue pegang erat-erat bangku sambil menutup mata dan kepala menunduk kebawah. Gak berapa lama, akhirnya pesawat mulai stabil dan gue mulai memberanikan diri untuk membuka mata. Gue liat ke nyokap gue yang malah asik makan kacang atom dari tas kecil yang dibawanya.

“Ma, gak ngeri kah?,” tanya gue ke nyokap.
“Ngeri kenapa?,” jawabnya santai.
“Ya tadi gitu, ndak kerasa kah? Pesawatnya goyang-goyang,” ungkap gue yang masih deg-degan tapi ditenang-tenangin.
“Orang biasa aja kok,” jawabnya.

Akhirnya gue pun diem karena kesal sendiri, haha. Niatnya curhat, pengen ditenangin atau gimana gitu, eh jawabannya datar-datar aja, haha.

Setelah kurang lebih 30 menit berada di dalam pesawat, gue memberanikan diri untuk membuka jendela pesawat yang daritadi tertutup. Waktu gue buka, wow, gue langsung terperanjat dari duduk dan bener-bener kagum dengan pemandangannya.

Samudera terhampar dengan begitu luasnya, terlihat kapal-kapal kecil mengarungi luasnya lautan itu. Gue ngebayangin kalau gue yang ada di kapal itu terus tenggelem, kacau banget pikiran gue. Terus gue juga liat rumah-rumah yang jadi kelihatan kecil, mirip di gambar-gambar peta.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
Ilustrasi penampakan pemandangan di atas pesawat.

Namun malapetaka akhirnya pun datang di satu jam berada di dalam pesawat karena telinga gue tiba-tiba terasa sakit. Rasanya seperti telinga kemasukan semut, terus digigit-gigitin sama semutnya.

“Ma, ini kuping ku sakit nah, kaya apa?,” tanya gue ke nyokap.
“Oh, nih kunyah permen karet, biar gak sakit, tadi lupa kasih,” jawab nyokap sambil kasih permen karet lot*e.
Gue pun dengan segera mengunyah permen itu namun kok rasa sakitnya tidak hilang dan bahkan makin parah saja.
“Ma, sakit banget ini nah,” tanya ku sambil menggerutu.
“Tahan aja dulu, bentar lagi sampai. Gigit-gigit aja giginya,” jawab nyokap gue sambil memperagakan menggigit giginya.
Akhirnya gue tahan rasa sakit itu sampai terdengar suara yang paling gue nantikan dari dalam pesawat yaitu informasi pendaratan.
“Kepada seluruh penumpang harap memasangkan safety belt atau ikat pinggangnya karena kita akan segera mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta,” begitulah kira-kira pernyataan yang gue dengar dari speaker. Gue pun diem aja karena sejak awal gue udah masang dan gak pernah gue lepas.

Pesawat pun mendarat dan sukses membuat gue kembali tegang karena sensasinya saat menukik turun ke landasan bandara.
Setelah berhasil mendarat, gue masih merasa sakit pada telinga namun tidak sesakit sebelumnya. Gue merasa seperti setengah tuli karena pengingnya. Perkataan orang pun seakan mendengung di telinga.

“Ma, ini kuping ku gimana nah?,” tanya gue ke nyokap.
“Ndak papa sudah, nanti juga sembuh itu,” jawab nyokap gue menenangkan.

Gue pun akhirnya turun berdua bareng nyokap dan berencana untuk langsung mencari bus Damri. Sebelum sampai ke depan bandara, gue bareng nyokap antri untuk mengambil bagasi. Gue pun merasa kebingungan karena memang baru pertama kalinya ke sini.

Gue melihat sekitar, banyak sekali bule-bule lalu lalang dengan jalan yang sangat cepat sekali. Oh ternyata begini toh Bandara Soekarno-Hatta yang biasanya cuma gue lihat dari Tv aja.

Gak berapa lama, nyokap gue manggil gue minta bantuan untuk mengangkat tas yang memang cukup berat. Setelah itu, gue pun langsung menuju bagian depan bandara untuk bisa menunggu bus Damri. Jangan berharap untuk gue mengeksplorasi soal kesan gue di Bandara Soekarno-Hatta karena gue orangnya cukup cuek dan gak terlalu ingin tau. Jadi, walau ini pertama kalinya gue ke Bandara Soetta, tapi gue ya kayak udah sering ke sini aja. Paling ya berkesan kayak tadi aja, melihat sekeliling sebentar, udah tau, ya udah, cukup tau aja. Bahkan, sampai sekarang ya gue masih sama, kalau ditanya soal Bandara Soetta, gue gak terlalu banyak tau, padahal kalau sekarang gue dah berulang kali mondar-mandir ke sana.

Oke, kita balik lagi ke cerita ya. Setelah gue dan nyokap nunggu sekitar 20 menit, akhirnya bus yang kita tunggu datang. Bus Damri itu bertuliskan Soetta - Kp. Rambutan. Gue yang masih merasakan penging pada telinga pun gak mau terlalu banyak tanya-jawab sama nyokap gue. Di dalam bis pun gue lebih sering tidur karena balas dendam gak bisa tidur di dalam pesawat tadi.

“Taman Mini, taman mini,” teriak kenek bis.
“Tam, bangun, udah sampe,” kata nyokap gue.
“Hmm..,” jawab gue lemas sambil berdiri dan mengangkat barang bawaan. Gue sempat berpikir, tadi jurusannya ke Kp. Rambutan, tapi kok turun di Taman Mini?

Setelah turun dari bis itu, ternyata kita sudah ditunggu oleh seorang pria dengan menggunakan motor Hond* Kh*risma. Gue pun masih gak mengenali pria itu karena mengenakan helm. Nyokap gue menghampirinya dan “Cium Tangan”. Gue pun makin bingung, siapa orang ini kok sampai nyokap gue cium tangannya? Saudara kah?

“Ui Tam, masih ingat kah?,” tanya pria itu sambil membuka helmnya.
“Hah?,” jawab gue bingung. Tapi pas Dia buka helmnya, gue baru inget ternyata orang ini adalah pria yang pernah diajak nyokap gue jenguk gue waktu masih di Pondok Pesantren. Waktu itu setara dengan kelas 2 SMA.
“Om Bambang, yang waktu itu di pondok sama mama mu,” ujarnya lagi mengingatkan sambil senyum dan menyodorkan tangannya.
“Oh iya, inget,” jawab gue sambil menjabat tangannya.
“Ya udah ayo naik, biar cepet sampe rumah, kasian capek,” ajaknya sambil menaikkan barang bawaan ke atas motor.

Kondisi saat itu bisa dibilang begitu dah, satu motor bonceng tiga dengan barang bawaan beberapa tas. Bisa dibayangkan lah ya. Gue duduk di tengah, nyokap di belakang, gue di tengah sambil pegang tas kanan dan kiri yang ditumpukan ke paha.

Gue masih inget betul malam itu, gue melewati sebuah masjid yang ternyata sekarang gue tau namanya Masjid At-Tin. Jalan terus lewat Bambu Apus, Lubang Buaya, Sumir dan akhirnya masuk ke daerah Jati Rahayu. Kita masuk ke dalam komplek yang bernama Patria Jaya, tapi bukan di dalam kompleknya karena kita cuma numpang lewat jalannya aja.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda

Kita akhirnya sampai di sebuah kontrakan kecil berderet yang di dalamnya ada satu ruang tamu sekaligus tempat motor, satu kamar tanpa pintu yang dipakai tidur barengan, satu dapur dan satu kamar mandi.

Gue pun masuk kontrakan itu dan menaruh semua barang bawaan ke dalam lalu rebahan di atas pagar kecil depan kontrakan untuk menghilangkan lelah sambil memikirkan siapa Om Bbg ini.

“Ta, masuk sini, makan dulu,” ajak Om Bbg.
“Oh ya, bentar,” jawab gue yang langsung berkumpul dengan nyokap gue dan Om Bbg.
“ Gimana tadi perjalanannya? Capek ya?,” tanya Om Bambang coba mengakrabkan diri lagi karena waktu di Pondok Pesantren kala itu gue banyak ngobrolnya sama nyokap doang.
“Lumayan”, jawab gue singkat sambil mengunyah nasi goreng yang sudah disiapkan.

Setelah makan, kita pun nonton tv bareng di kamar. Namun, tiba-tiba saja ada yang mengetok pintu. Waktu menunjukkan jam setengah 12 malam, gue pun bingung, siapa yang mengetok.

“Mikum.. Tok tok tok..,” nyokap gue pun langsung berdiri dan membukakan pintu.
“Malem betul pulangnya, itu Kakakmu dah datang,” kata nyokap gue.
“Lah kamu di sini kah Gt?,” tanya gue bingung. Ternyata adek gue (cowok), Gt, sudah tinggal di sini sejak beberapa bulan lalu.
“Iya, dah lama gue di sini,” jawab Gt.

Jangan tanyakan kenapa gue bisa gak tau keberadaan adek gue karena ya memang kondisi keluarga gue begini semenjak ada masalah rumah tangga nyokap dan bokap gue. Satu sama lainnya gak ada kontak dan hubungan-hubungan lagi, aneh ya? Ya memang aneh, tapi ini nyata.

“Oh, gitu, terus gimana sekolah mu?,” jawab gue yang masih aneh dengan bahasa adek gue karena sudah berubah jadi pake “lu lu gue gue”.

Kalau di Samarinda, penggunaan bahasanya masih pakai Aku dan Kamu, bahkan sampai sekarang pun masih begitu walau sudah ada beberapa yang pakai bahasa “lu lu gue gue”, namun mayoritas masih Aku dan Kamu.

“Ya masih, gue di Al-Ikhsan”, jawabnya.
“Oh, sip sip,” kata gue merasa lega karena adek gue masih sekolah yang ternyata sebuah SMP di daerah Pondok Gede, Bekasi.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
SMP Al Ihsan, Pondok Gede, Bekasi

Gak lama setelah itu, kita semua pun tidur karena memang waktu sudah larut malam. Gue masih gak sempat mendapatkan informasi mengenai siapa sebenarnya Om Bbg ini.

Keesokan harinya, gue bangun, semua orang sudah gak ada semua. Gue sendirian di kontrakan itu dan akhirnya malah bengong di depan teras.

Sekitar 30 menit gue duduk di situ, akhirnya nyokap gue datang sambil membawa bungkusan yang ternyata nasi uduk. Gue pun disuruh segera makan.

“Ini apa ma? Kok nasinya aneh gini?” tanya gue sama nyokap.
“Nasi uduk itu, kalau di samarinda kayak nasi kuning,” jawabnya.
“Di sini ndak ada nasi kuning kah?,” tanya gue lagi.
“Ada aja, tapi jarang, ndak enak lagi,” jawab nyokap.
“Owalah,” ujar gue sambil ngunyah.

Quote:Kisah Kasih Anak Samarinda
Ilustrasi Nasi Kuning di Samarinda, rasanya maknyos banget, apalagi ikan harwan nya, beh, legit.

Karena suasananya tepat, gue pun akhirnya tanya ke nyokap gue soal siapa Om Bbg itu sebenarnya, kok tinggal satu rumah. Apakah dugaan gue bener soal Om Bbg itu adalah suami baru nyokap gue atau bukan.

“Ma, nanya dong,” tanya gue agak takut.
“Napa?,” jawabnya.
“Itu Om Bbg siapa sih?,” tanya gue.
“Bukan siapa-siapa,” jawabnya sambil kabur ngambil minum ke dapur.
“Yeee.. Orang ditanya beneran kok ya, suami baru mama kah?,” tanya ku blak-blakan aja.

Ditanya begitu, nyokap gue cuma diam aja di dapur, gak tau ngapain. Gue pun gak mau maksa karena takut malah nanti nyokap marah.
Gak terasa, waktu pun mulai siang, adek gue pulang sekolah. Gue pun langsung cari suasana yang pas untuk tanya ke dia.

“Gt, sebenarnya Om Bbg itu siapa sih?, tanya gue.
“Suaminya mama lah, ada-ada aja lu nih. Mau digerebek Pak RT kalau belum nikah tinggal satu rumah?,” jawabnya ngeledek dengan muka nyinyir.
“Mana ku tau, orang mama ndak pernah bilang,” jawab gue bela diri. “Kapan nikahnya?” tanya gue lagi.
“Dah lama, gak tau juga kapan, tau-tau gue diajak ke sini juga udah ada dia. Katanya ya gitu,” jawabnya sambil ngambil sandal dan pergi main.
“Eh, mau kemana kamu, ikut dong!,” tanya gue.
“Main bentar, gak usah ikut,” jawabnya sambil lari.

Gue masih ingat betul percakapan ini karena kampret bener adek gue, dia gak mau ajak gue ikut karena logat dan bahasa gue serta sikap gue yang masih kayak orang kampung. Dia malu katanya.

Malam harinya, Gt belum juga pulang dari main yang katanya cuma sebentar, kampret bener memang. Bahkan sampai Om Bbg pulang dari kerjanya.

“Tam, sini dulu,” panggil nyokap gue.
“Kenapa ma,” jawab gue sambil duduk di depannya.
“Duduk aja dulu sini,” jawabnya.
Gak lama kemudian, Om Bbg yang barusan aja pulang dari kantornya ikut-ikutan duduk setelah naroh helm sama jaketnya.
“Oke, jadi gini Tam, om mau bilang sesuatu ke kamu soal hubungan mama mu sama om,” ujarnya menjelaskan.
Gue diem aja mendengarkan yang padahal gue dah tau dari Gt soal status dari Om Bbg ini.
“Mama sama om sudah menikah, jadi sekarang, om ini udah jadi bapak baru mu. Terserah kamu kalau masih kagok, panggil om aja gak papa. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa panggil om Papa. Gt sudah panggil om Papa,” jelasnya panjang lebar.
“Oh, ya udah,” jawab gue singkat.

Obrolan pun berakhir walau jawaban gue kurang nyambung karena masih bingung masih mau panggil Om atau Papa.
Dari sini gue mulai berpikir, apa maksud dari nyokap gue ajak gue ke sini. Katanya mau liburan, tapi sudah beberapa hari di sini, gue gak diajak kemana-mana. Apa sebenarnya rencana nyokap gue?

Harapan dan imajinasi gue soal liburan di Jakarta seketika buyar. Bayangan yang gue rasakan tentang “Welcome Jakarta” saat berada di Bandara Soetta berakhir sudah. Apalagi gue bukan tinggal di Jakarta, tapi di Bekasi.

***

Part 3: Galau oh Galau
ditunggu kelanjutan nya om
semangat gan ceritanya ...
jngn smpe tidak tamat ya....
muehehehe...

alur ceritanya pelan aja biar feel ny dapet n bolehlah di kash emoticon biar indah...
hahahaha
usul lho itu gan...
yg penting tmat ya ceritanya...
ayo gan jangan lama lama updatenya
ikutan nyimak kisahnya gan, moga lancar apdetnya...
wah mantep nih om ceritanya

moga ga kentang kyk yg lain..

gelar tikar dlu..

bisa nih kalo ada loker haha
ijin buka tenda ganemoticon-Big Grin emoticon-Big Grin
Semangat ane mau nyimak cerita sampe ente sukses
Ane jg nyimak yah.😎..Gimana sampe gaji 200 jt tuh 👌
Assalamualaikum !! Ikut nyimak gan !!
Semoga terus d beri kesehatan..

Amiinn
ijin ninggalin jejak dsini boleh kah wal
cerita baru ternyata.. nyimak ah emoticon-Cool
Ninggalin jejak dulu om .. Smoga ceritanya jgn sampe kentang di tengah jalan ya om .hehe
wih mantep 200jt
nyimak bray
nyimak bre gara gara ada 200 jeti emoticon-Belo
Nyimak dulu gan.emoticon-Traveller
Penasaran ama asal muasal 200jt nya.emoticon-2 Jempol