alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
Home / FORUM / All / News / Berita dan Politik /
Pembunuhan Satu Keluarga di Medan dan Rasa Aman yang Mahal
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58eda20a1854f75a418b4568/pembunuhan-satu-keluarga-di-medan-dan-rasa-aman-yang-mahal

Pembunuhan Satu Keluarga di Medan dan Rasa Aman yang Mahal

Pembunuhan Satu Keluarga di Medan dan Rasa Aman yang Mahal

Pembunuhan Satu Keluarga di Medan dan Rasa Aman yang Mahal

MEDAN, KOMPAS.com - Kinara (4) sedang tidur nyenyak di RS Bhayangkara Medan, Senin (10/4/2017). Selang infus menempel di hidungnya. Luka lebam di wajah dan sekujur tubuhnya masih jelas.

Kinara adalah satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari pembunuhan sadis di rumahnya di Pasar I Gang Tengah, Lingkungan 11, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli, Sumatera Utara, Minggu (9/4/2017) dini hari. Dia ditemukan luka-luka di kolong tempat tidur.

Ayahnya, Riyanto (40), beserta ibunya, Sri Ariyani (35), serta kedua kakaknya, Naya (13) dan Gilang (8), dan juga neneknya, Sumarni (60), tewas dalam pembunuhan tersebut.

Kepala RS Bhayangkara Medan AKBP Nyoman Eddy Purna Wirawan mengatakan, kondisi Kinara mulai pulih meski masih dalam penanganan tim medis.


"Kondisinya stabil, sudah mulai membaik dan lebih tenang. Untuk memulihkan kondisi psikologisnya pasca trauma, kami akan memberikan pendampingan secara intensif, baik secara medis maupun psikis," ungkap Eddy, Senin (10/4/2017).


Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi mengutuk perbuatan para pelaku pembunuhan. Erry berulang kali mencium dan mengusap-usap kepala Kinara.

"Pelaku pembunuhan ini sangat keji dan biadab. Mudah-mudahan polisi segera menangkapnya, pelaku pantas dihukum seberat-beratnya," kata Erry dengan wajah muram saat membesuk pada hari yang sama.

Dia lalu menyerahkan uang duka kepada keluarga yang menunggui Kinara. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, lanjutnya, siap membantu biaya pendidikan Kinara kelak jika diperlukan.

Mahalnya rasa aman

Sekretaris Komisi A DPRD Sumatera Utara Sarma Hutajulu mengatakan, pihaknya secara khusus sudah membicarakan tingginya angka kriminalitas di Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan, kepada Polda Sumut sejak sebulan lalu.

Masyarakat, menurut dia, sudah merasa terancam dan takut dengan aksi-aksi kriminalitas yang terbilang sadis dan nekat yang hampir setiap hari terjadi.

"Rasa aman dan hak masyarakat untuk bebas dari rasa takut sudah kita bicarakan sejak sebulan lalu dengan Polda Sumut. Masyarakat merasa rasa aman dan bebas dari rasa takut hampir tidak bisa dimiliki lagi karena tingginya angka kriminalitas seperti begal, terutama kepada perempuan dan anak," ucap Sarma.


Sejumlah warga kembali mendatangi rumah korban pembunuhan di Jl Kayu Putih, Gang Banteng, Lingkungan XI, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli. Warga penasaran setelah mendapat kabar pelaku sudah tertangkap, Selasa (11/4/2017).(Tribun Medan/Array A Argus)

Jika kepolisian beralasan karena terbatasnya jumlah personel, lanjut Sarma, seharusnya polisi bisa mengaktifkan partisipasi masyarakat seperti Siskamling.

Sarma mengatakan, Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel saat itu sudah berjanji akan meningkatkan pengamanan di Kota Medan. Namun, faktanya kasus demi kasus terus bertambah, termasuk soal izin penggunaan senjata api, seperti air softgun.

"Keluhan mereka, tingginya peredaran dan penggunaan narkoba dan ekonomi menjadi faktor naiknya angka kejahatan. Ini tidak bisa jadi alasan untuk kita memaafkan kepolisian yang tidak bisa memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat. Solusi harus dipikirkan kepolisian dengan pemerintah daerah," katanya.

Untuk kejadian yang menimpa keluarga Kinara, wakil rakyat ini meminta polisi mengusut tuntas motif sebenarnya pembunuhan tersebut. Apalagi, ada anak kecil yang akan mengalami trauma seumur hidupnya.

Hasil penyelidikan, lanjutnya, harus dipublikasikan segera supaya khalayak mengetahui duduk masalahnya dan bisa menilai kecepatan kinerja polisi dalam mengungkap kasus-kasus kriminalitas di Kota Medan.

"Apalagi ini menjelang Lebaran, pasti kebutuhan meningkat dan kriminalis tinggi. Untuk kasus Mabar, pelakunya harus dihukum matilah, tidak cukup hukuman maksimal. Perbuatannya sudah tidak manusiawi lagi," tutur Sarma.


Hal senada juga dikatakan advokat dan pemerhati sosial Rina Sitompul. Menurutnya, keamanan dan kenyamanan masyarakat sudah di taraf mengkhawatirkan. Kejahatan sudah sering terjadi di siang hari yang ramai. Keamanan saat ini menjadi barang yang mahal.

"Rasa aman itu mahal..." ucapnya.


Bisa jadi, kata Rina, disebabkan tingkat kepedulian lingkungan yang terus menurun dan antisipasi aparatur keamanan yang tidak mampu membendung penurunan tatanan kepedulian sosial.

Konteks kepedulian misalnya pola komunikasi sesama telah berubah. Dulu, antisipasi sesama di lingkungan tempat tinggal dengan kerap berkomunikasi, lalu melakukan rutinitas yang membangun emosianal.

"Ditambah lagi posko keamanan siskamling yang sudah hilang dari peredaran lingkungan saat ini. Kemerosotan rasa memiliki, di tambah polemik strata sosial yang sekarang menjadi jurang yang menimbulkan konflik, bahkan rasa ketidaksukaan yang bisa mengancam keselamatan diri," ujar Rina.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Ginting yang dikonfirmasi mengatakan, belum ada perkembangan penyelidikan pembunuhan satu keluarga itu. Tim, lanjut dia, masih terus bekerja untuk mengungkap dan menangkap pelaku.

Ditanya soal tingkat kriminalitas meningkat yang membuat masyarakat merasa terancam dan takut, Rina menyebutkan, Polda Sumut dan jajarannya terus meningkatkan kegiatan kepolisian seperti meningkatkan patroli, penyuluhan agar masyarakat patuh hukum, meningkatkan pengamanan swakarsa serta melakukan penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan.

Tapi membutuhkan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan kejahatan seperti mengaktifkan siskamling, pemasangan CCTV di lokasi objek vital dan permukiman.

"Kriminalitas itu banyak faktor penyebabnya, setiap kasus berbeda, multi factor causa, diantaranya bisa karena faktor ekonomi, lingkungan sosial, dampak kecanduan narkoba, dan sebagainya. Harus diteliti secara akurat. Makanya seluruh stake holder harus berperan, tidak bisa diserahkan kepada polisi sendiri. Lembaga pendidikan, keagamaan, orangtua dalam keluarga harus berperan," tutur Rina.

Nasib Kinara

Terkait nasib Kinara yang kini sebatang kara, Rina mengatakan, trauma yang dialami korban harus secepatnya diantisipasi. Apalagi, dia menyaksikan dan mengalami langsung kejadian tersebut.

"Sebagai anak balita, daya rekamnya kuat, pemerintah diharapkan memberikan korban trauma healing. Khususnya pendampingan psikolog guna mengembalikan daya rekam yang dialami anak. Badan perlindungan anak dan perempuan harus menjadi garda terdepan dalam memfasilitasi penanganan trauma anak. Kejadian Mabar diharapkan menjadi yang terakhir. Sudah saatnya pemerintah mencoba membangun satgas dalam pencegahan tingkat kerawanan sosial," tegasnya.

Sarma menambahkan, Dinas Sosial Provinsi Sumut harus segera mengambil tindakan kalau keluarga dekatnya tidak ada yang bisa mengasuh.

"Pemerintah dalam hal ini dinas sosial harus memberikan pengasuhan, trauma healing. Kita minta korban menjadi anak negara kalau tidak ada keluarganya yang mau mengasuhnya, wajib memberikan perhatian penuh dan perlindungan," ungkap Sarma.

Di tempat terpisah, Psikolog Irna Minauli mengatakan, Kinara perlu mendapatkan penanganan psikologis yang tepat agar dapat beradaptasi dengan baik. Dan wajib mendapatkan perlindungan dari pemerintah atau lembaga terkait sebab dia juga terancam karena menjadi saksi kunci kasus pembunuhan terhadap seluruh keluarganya.

"Trauma yang dialami anak yang selamat dari bencana yang menghabisi nyawa seluruh anggota keluarganya, biasanya menjadi semakin besar. Selain dihantui ketakutan, juga disertai rasa bersalah karena hanya dia yang selamat," tutur Irna.

Dirinya meminta pihak kepolisian yang menangani kasus ini untuk memahami kondisi psikologis anak sehingga tidak buru-buru mengorek keterangan dari korban. Jika penanganannya tidak tepat, maka trauma yang dirasakan anak akan semakin besar sehingga informasi yang di dapat menjadi tidak akurat.

"Tanda-tanda trauma yang biasa muncul adalah mimpi buruk serta terjadi regresi yaitu kemunduran dalam perkembangan anak. Misalnya anak menjadi ngompol padahal sebelumnya sudah bisa ke kamar mandi sendiri," ungkapnya.

Direktur Minauli Consulting ini menjelaskan, metode yang biasa dilakukan untuk anak misalnya dengan terapi bermain (play therapy) atau menggambar (art therapy). Namun anak perlu merasa aman dahulu supaya mau bekerja sama dengan penyidik.

Sebelumnya diberitakan, Riyanto (40), Sri Ariyanti (40), Sumarni (60), Naya (13) dan Gilang (8) ditemukan tetangganya tewas bersimbah darah pada Minggu (9/4/2017). Sementara Kinara (4) ditemukan di kolong tempat tidur dalam keadaan kritis akibat luka-luka di sekujur tubuhnya.

Polisi sudah melakukan olah tempat kejadian perkara, mengidentifikasi korban, dan meminta keterangan saksi-saksi namun belum bisa menyimpulkan modus operandi dan menangkap pelaku.

Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel menduga, antara korban dan pelaku saling kenal. Sementara Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Yemi Mandagi menyebutkan, hasil pemeriksaan sementara, pembunuhan sudah direncanakan.

Pelaku menggunakan senjata tajam untuk menghabisi korbannya dilihat dari luka-luka di tubuh para korban. Setelah membunuh para korban, pelaku diduga mengambil ponsel dan sepeda motor korban.

Polda Sumut sudah membentuk tiga tim yang terdiri dari Unit Jatanras Polda Sumut, Polres Pelabuhan Belawan dan Polsek Medan Labuhan untuk mengungkap kasus ini. Masing-masing tim berjumlah 10 sampai 15 personel. Identitas pelaku sudah diketahui, tim sedang bekerja sama untuk menangkap pelaku.

MAU AMAN, BAYARLAH LAE ! INI SUMUT BUNG !

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mau aman di propinsi ormas preman sumut ? Bayarlah lae ! emoticon-Mad (S)

Masak mau rasa aman gratis di propinsi sumatera utara ? ga da otak kaw, lae ! emoticon-Mad (S)

apalagi menjelang bulan suci di sumut, setiap ruko akan di hajar 9-15 permintaan/proporsal/sumbangan paksa ormas dan okp sumut PER hari selama bulan suci, didukung kepling dan camat yang juga merupakan anggota ormas preman sumut, alhamdullillah, nikmat kentut halal khas ulama sumut

https://www.change.org/p/jokowi-save...atra-indonesia
Halaman 1 dari 3
Quote:


percuma, Pak..
Tuhan uda ndak punya kuasa sama apa2 yg ada di Medan..
yg punya kuasa cm uang, sm ormas..
mau berdoa kyk gmn pun, sambil berharap polisi tangkap pelaku jg, ndak bakal beresin masalah yg uda terlanjur mengakar disana ttg kriminalitas..

emoticon-norose
sudah saatnya dan SEMOGAAAAA DISEGERAKAN,
BOM NUKLIR saja SOLUSINYA emoticon-shakehand
Quote:


beliau kan porsinya cium" korban sambil kutuk dan kecam depan lensa media, sementara poldasu porsinya selfie" an

masing" ada porsi masing" emoticon-Blue Guy Peace
dari gotham city...pelaku paling banter kena bui..dah itu emoticon-Thinking
ga becus urus keamanan dan kenyamanan warganya
emoticon-Cendol Gan
Ah monyet, polisi disini cuma bisa retorika aja. Disini polisi rajinnya cuma waktu nilang doang. emoticon-Blue Guy Bata (L)
Jalankan operasi petrus di Medan aja udah.
Penjahat itu ga bisa dibina, hilangkan saja.
Quote:


SAYA PRIHATIN!
Quote:


nanti pihak ham hem hom protes lae emoticon-Big Grin
Ini medan bung, kota terlaknat di indonesia.. nama walikota medan aja ane g tau padahal walikota ane itu 😞
Medan gak tanggung2 kalo bunuh bunuhan sekeluarga sekalianemoticon-Leh Uga
Quote:



ok ok, bilang saja butuh berapa, ngak usah pakai mutar mutar
Belakangan ini ormas dan okp preman sumut ganti personel, yg mungud parkir liar dan uang keamanan itu residivis, banyak residivis keliaran di pemukiman dan kawasan ruko, korlap mereka anggota okp dan ormas yg nunggu di simpang jalan

Tahunya residivis karena ada yg kenalin beberapa dari mereka, ada yg habis dipenjara 8 bulan, ada yg habis dipenjara 3 bln, dst

Warga medan makin stress lihat kawanan residivis hilir mudik di kawasan pemukiman dan ruko mereka

Ormas dan okp preman sumut makin biadab hari demi hari emoticon-fuck
Jadi sebatang kara emoticon-Frown biadab banget pembunuh keluarganya emoticon-fuck3 napa ada makhluk sekejam dan sesadis itu emoticon-fuck2
Keamanan memang mahal kok akhi. emoticon-Embarrassment
Makin byk ormas, makin tinggi uang keamanannya. emoticon-Big Grin
"GILA"

itu doang yg terlintas dibenak gw baca berita iniemoticon-Mewek
ini gotham city bung!! emoticon-Mad
Medan uda gak heran. Toko hp ane pernah mau dibakar preman gara2 hp-nya yg beli di toko ane LCD pecah gara2 dibanting. Malah minta ganti baru hapenya. Padahal itu kesalahan dia sendiri. Apalagi toko2 etnis Tionghoa sering jadi sasaran anarkis preman OKP Sumut. Gotham City Medan jauh lebih parah daripada Gotham City asli di kartun Batman..emoticon-Big Grin
Quote:


polisi mana polisi?
apa ikut ngedeking preman sono?
Quote:


Kan uda dibilang, poldasu bagian selfi" doank emoticon-Mad
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di