alexa-tracking

Tanpa Jiwa (Fiksi Gan, hehe ...)

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58ed5e7831e2e6d8358b4568/tanpa-jiwa-fiksi-gan-hehe
Tanpa Jiwa (Fiksi Gan, hehe ...)
Assalamualaikum Wr Wb


Oke GanSis semua. Jadi gini nih, karena keinginan ane buat jadi penulis, rasanya ane pengen bikin cerita di SFTH-nya kaskus. Walau pun sendiri sadar kalau di SFTH itu kebanyakan cerita true story atau kejadian nyata (Bahkan ane belum nemuin trit SFTH yang pure fiksi). Kebanyakan SFTH itu diminta oleh penulisnya untuk dianggap fiksi dan sebagainya. Tapi, ane tetep kepengen nulis di forum kita tercinta ini. Mungkin cara nulis ane bakal beda sama penulis kaskus lain yang lebih asikuntuk dikategorikan tulisan di forum. Tapi apa salahnya nyoba ya Gan emoticon-Big GrinYa syukur-syukur kalau ramai dan banyak yang nenda, mungkin ane bakal lanjutin terus ceritanya. Pokoknya, nothing to loselah Ganemoticon-Ngakak (S) .


Jadi buat yang baca cerita ane dan suka ama ceritanya, ya boleh lah kasih cendol atau rate, dan yang paling ane harepin adalah, komengtar dari para kaskuser sekalianemoticon-Metal . Entah itu kritik masukan dsb.nya ya Gan. Monggo Gan disimak dulu ... emoticon-Malu

PART 1 - SOSIAL

Awal langkah kehidupanku, adalah bangku taman kanak-kanak. Saat itu, kukenang lagi hangatnya genggaman tangan ibuku, serta punggungnya yang memimpinku melewati serak tangis anak lainnya. Aku menganggap kehadiranku spesial, meski yang lainnya juga melakukan peluk-cium terakhir sebelum masuk kelas. Aku satu di antara mereka. Dan inilah awal ku mengenal sosial, sebelum memahaminya. Aku duduk di antara anak lainnya. Kuperkenalkan dengan gugup namaku. Kemudian, atau untuk beberapa hari nanti—anak-anak lain akan mulai bertukar cerita dan mengobrol. Para guru akan menjadi perantara yang mengamati mereka. Dan ini akan menjadi sistem yang melahirkan kelompok. Dan di luar sistem itu, akan ada beberapa anak yang tak bisa masuk. Di sanalah aku.

Dalam satu pelajaran berkelompok, satu guru bertanya padaku, “Di mana kelompok mu?”

Aku terdiam. Aku tak memilikinya. Aku tak diterima.

Terlalu takut atas pengakuan, aku sendiri. Suara membisik, tak jelas katanya. Senyum ramah guruku pun menjadi seringai iblis yang mengejekku. Aku ketakutan melihatnya. Tampang polos teman ku pun berubah, menjadi samar tak kukenali. Aku beranjak keluar dari kelas dan berlari melewati koridor. Bersembunyi di dalam rumah berbentuk kodok di tengah arena bermain yang sepi.

Sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan kecil. Menguraskan keringat bersama rekan-rekan busuk demi bos gemuk yang bodoh. Bos kami galak dengan jam kerja kami yang gila. Dan tak satu pun dari kami yang berani untuk membantahnya. Bahkan jika itu untuk kebaikan perusahaan. Sudah kukatakan kan, bos kami bodoh. Mutlak kesalahan untuk apa pun yang bertentangan dengannya. Aku pun membencinya. Begitu pula semua pekerjanya. Bedanya mereka bawahan baik di depan, dan penggunjing busuk di belakang. Mereka bergantian menjilat dan meludah. Anehnya, pujian bos adalah hadiah bagi mereka.

Aku tak begitu mengerti. Tapi di suatu pagi bos memanggil, saat angin deras melewati kaca dan menyapu berkas berserakan. Apa yang dikatakannya padaku adalah, “Perusahaan berkembang seperti ini, memerlukan karyawan yang lebih berkompeten.” Ia mendekatkan bibirnya di telinga ku, “Aku tak mau mempekerjakan orang sepertimu.”

Kompeten hanyalah alasan busuk di balik makna sebenarnya. Alasan sebenarnya aku tidak memenuhi harapannya. Aku bukan pekerja penebar senyum palsu setiap pagi. Bukan pula penjilat pengambil hatinya. Sayangnya, aku lebih baik dari itu. Dan yang kukatakan adalah, “Selamat tinggal.”

Tas besarku tergandeng keluar mengikuti tiap-tiap kaki ini menapak. Kuhindari segala kontak mata dengan perhatian detail pada setiap sudut bangunan ini. Kepala merasa pusing dengan bisik-bisik yang samar terdengar. Dan samar perlahan, muncul bayangan persis saat aku TK dulu. Bayang-bayang gelap itu membicarakanku, menertawakanku, dan tatap remeh mereka padaku. Bayangan itu perasaan mereka. Diri mereka merasa seperti di atas tebing yang tinggi, dengan seseorang lainnya yang terbawa arus sungai di bawah. Mereka takkan sudi menjatuhkan diri hanya untuk menolongnya. Begitulah pemikiran mereka padaku saat ini, karena bayang-bayang itu jelas memberitahuku ...

Betapa kejamnya penghakiman sosial.

-----
Oke sekian dulu dari ane emoticon-Angkat Beer #TritCobaDulu
Wassalamualaikum Wr Wb
dipecat sepihak ? laporin aja ke depnakertrans bre emoticon-Mad (S)

biar nyahok tuh boss gendeng emoticon-Mad (S)

eh tapi ini fiksi kan ? emoticon-Ngakak (S)
image-url-apps
Flashback'y jauh dari TK... emoticon-Traveller
KASKUS Ads
image-url-apps
Ok, jemur beha dulu yaa
keep update emoticon-Kiss (S)
image-url-apps
Quote:


Iya Gan fiksi, entar klo ane laporin dsangka gila lagi emoticon-Big Grin

Quote:


Niatnya flashback pas masih jdi zigot, tapi kagak jadi emoticon-Big Grin

Quote:


Silahkan, smpe kering jemuranny emoticon-Big Grin
×