alexa-tracking
Selamat Guest, Agan dapat mencoba tampilan baru KASKUS Masih Kangen Tampilan Sebelumnya
Kategori
Kategori
5 stars - based on 2 vote 5 stars 0 stars
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58e5c08d54c07a9d1c8b4567/si-macan-kampus

Si Macan Kampus

MEMOAR SI MACAN KAMPUS

Prolog

Sebelum saya jadi jurnalis, sebelum saya jadi stand-up comedian, saya adalah seorang macan kampus. Saya mau berbagi cerita soal pengalaman saya selama kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad ’97 hingga dijuluki Macan Kampus. Tapi untuk sampai di cerita bagaimana saya mendapat julukan itu di kampus, saya mau cerita dulu masa masih berseragam putih abu-abu. Masa ketika masih jadi remaja tanggung dengan hormon yang bergejolak.

---

Daftar Isi (Biar Kaya Buku. Hehehehe)

Prolog - Memoar Si Macan Kampus
( Part 2 ) - Bimbel Oh Bimbel
( Part 3 ) - Mau Jadi Musisi
( Part 4 ) - Cinta Monyet
( Part 5 ) - Kanuragan
( Part 6 ) - Karma
( Part 7 ) - Rumah Singgah
( Part 8 ) - LULUS!

---

Mari kita kembali ke pertengahan tahun ’90.

Waktu itu saya adalah salah seorang murid di SMAN 3 Bogor. Berat badan saya masih 55 kg. Dengan tinggi badan 177 cm, jadinya terlihat kurus dan agak memprihatinkan. Kalau kamu melihat foto saya waktu kelas 2 SMA, itu lebih memprihatinkan lagi. Rambut cepak membuat saya terlihat lebih tak menarik. Malah, kalau saya melihat foto saya waktu kelas 1 dan pertengahan kelas 2 SMA, itu terlihat tua sekali. Seorang kawan, ketika melihat foto itu, mengatakan saya seperti Benjamin Button. Itu loh, film yang diperankan oleh Brad Pitt. Bukan, bukan maksudnya saya ketika SMA terlihat seperti Brad Pitt, tapi di film itu diceritakan si Benjamin Button yang siklus hidupnya bukan dari bayi lalu menjadi tua, tapi malah sebaliknya.

Lebih dari satu tahun, saya berambut cepak. Semua karena saya jadi anggota Korps Taruna SMAN 3 Bogor, sebuah organisasi ekstra kurikuler pasukan pengibar bendera. Saya bergabung bukan karena sukarela, tapi karena “dijebloskan” ke sana. Saya tak tahu seperti apa prosesnya sekarang, yang jelas, di jaman saya dan beberapa angkatan sebelumnya, semua anggota Korps Taruna dimasukan ke dalam dua kelas khusus, setelah melewati proses seleksi berdasarkan tinggi badan dan wawancara (dilakukan ketika kami daftar ulang ke SMA) yang bahkan saya awalnya tak sadar itu untuk keperluan penerimaan ekstra kurikuler di sekolah. Alasannya: supaya kalau mau mengikuti lomba baris berbaris dan harus meninggalkan ruang kelas, mudah ijinnya, karena satu kelas. Pada prakteknya, tak semua yang dijebloskan ke sana, mau ikut latihan baris berbaris.

Tahun 1994, saya diterima di SMAN 3 Bogor dan masuk sebagai angkatan VII di Korps Taruna SMAN 3 Bogor. Kelas I-8 dan kelas I-4 adalah dua kelas Taruna angkatan kami. Hampir semuanya tingginya di atas 170 cm, kecuali seorang teman kami, Achmad Hadiyatul Munawar alias Awank, yang tingginya di bawah 170 cm. Hingga sekarang, kami tak tahu kenapa dia bisa masuk kelas kami. Entah petugas administrasi salah memasukkan dia, entah karena dia dianggap punya potensi. Meskipun hingga lulus, kami tak tahu potensi dia apa, selain punya rumah yang besar di daerah Cigombong, Sukabumi, dan sering kami jadikan tempat kumpul hingga menginap. Selain rumahnya paling besar di antara kami, setiap menginap di sana, kami selalu dijamu.

Oke, mumpung sedang membahas Korps Taruna, saya mau cerita sedikit pengalaman ketika aktif jadi paskibra.

Saya tak tahu seperti apa kegiatan paskibra di sekolah lain, yang jelas Korps Taruna SMAN 3 Bogor, kegiatannya setiap Minggu pagi selalu latihan baris berbaris. Maka, ini membuat saya tak pernah libur di rumah begitu masuk SMA. Kalau dipikir-pikir sekarang sih, kenapa saya dulu mau ya, disuruh baris di bawah sinar matahari, latihan fisik macam push up, scot jump, lari, dan lain-lain padahal saya juga bisa mengelak datang, toh ada beberapa teman kami yang tak ikut latihan dan baik-baik saja di kelas.

Panas terik hujan deras kami tetap berlatih. Dan hebatnya badan di usia belasan, sepertinya daya tahan tubuh sedang bagus-bagusnya. Tak ada itu yang namanya pilek setelah hujan-hujanan. Tak pernah masuk angin. Tak ada flu. Badan boleh saja cungkring 55 kg, tapi sungguh tahan banting.

Oya, sebelum resmi menjadi anggota Korps Taruna, kami harus mengikuti kegiatan pelantikan berupa kemping di kawasan perkebunan teh di Gunung Mas, Puncak, Bogor. Udaranya kurang ajar sungguh menusuk tulang ketika malam hari. Dan kami tak diberi kesempatan memakai jaket. Ketika jurit malam (kegiatan jalan-jalan di malam hari terus mengikuti jalur yang disediakan untuk bertemu dengan pos-pos yang disediakan), kami bertemu sekelompok anggota silat Cimande yang sedang ujian kenaikan tingkat. Melihat mereka, saya jadi merasa kegiatan pelantikan kami tak ada apa-apanya. Kami hanya disuruh push up dan semacamnya yang sering kami lakukan setiap Minggu, paling seram juga dibentak senior. Tapi anak-anak silat Cimande, tak hanya dibentak, tapi juga ditendang dan dipukul. Tanpa pandang usia. Saya melihat anak kecil, mungkin masih SD, sekujur badannya ditendang seniornya. Meskipun anak itu meringis kesakitan, kegiatan itu tetap saja dilakukan. Mungkin sekarang, anak kecil itu sudah sakti mandraguna.

Saya tak tahu, apakah sekarang Korps Taruna SMAN 3 Bogor masih menjalankan prosesi pelantikan seperti kami dulu. Dan saya juga tak tahu apakah sekarang masih ditempatkan di dua kelas khusus. Serta saya juga tak tahu apakah para seniornya masih memberikan doktrin kuat pada anggotanya. Maklum, dulu kami merasa bahwa kami adalah paskibra paling bagus se-Bogor.

“Satu-satunya paskibra yang dimasukan di kelas khusus, ya kita.”
“Kalian ini siswa pilihan. Siswa terbaik di SMA 3.”
“Korps Taruna adalah paskibra yang disegani di Bogor.”

Nyatanya, ketika kami ikut lomba baris berbaris antar SMA se Kota Bogor, kami tak juara. Bahkan masuk 3 besar pun tidak.

Selain jadi anggota paskibra, saya juga ikut ekstra kurikuler silat. Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong [PPS BETAKO] Merpati Putih, sebuah perguruan silat dari Yogyakarta. Merpati Putih adalah bentuk pendek dari Mersudi Patitising Tindak Pusakane Titising Hening, yang artinya mencari sampai mendapat, tindakan yang benar dalam ketenangan. Bukan hanya gerakan beladiri yang dipelajari di Merpati Putih (selanjutnya kita singkat saja menjadi MP), tapi juga ilmu pernafasan.

Nah, makanya, selama SMA, kehidupan saya tak dilepaskan dari dua hal itu. Kelas satu latihan baris dan silat, kelas 2 melatih baris dan silat ditambah nongkrong, kelas 3 latihan silat dan nongkrong. Lalu, pertanyaannya: kapan belajarnya? Haha.

Eh iya, dari tadi cerita soal ekskulnya, tapi belum cerita seperti apa sekolahnya.
SMAN 3 Bogor beralamat di Jalan Pakuan No 4, Bogor. Buat yang pernah ke Bogor, dari gerbang tol Jagorawi yang di Bogor, belok kiri maka kira-kira 400 meter kamu akan menemukan SMA 3. Angkutan kota yang melintas di depan SMA 3 adalah angkot 06. Makanya kalau corat coret di dinding, sering ditulis 3 BGR 406, atau Fuckone 406, alias Jalan Pakuan No. 4, naek 06. Waktu saya masih kelas 1, lapangan upacara kami hanyalah berupa lapangan berbatu kerikil yang ukurannya tak terlalu luas, karena di antara bangunan sekolah yang berbentuk kotak, ada dua kelas melintang di tengah. Bangunan kelas itu akhirnya diruntuhkan ketika saya kelas 2, sehingga kami punya lapangan basket yang bagus, sekaligus jadi lapangan upacara.

Sekarang, di dekat SMA 3, tepatnya di Jl. Pajajaran, sudah banyak gedung pertokoan. Dulu, hanya ada beberapa bengkel mobil, dan gedung yang sekarang jadi pertokoan, adalah semak-semak di tanah kosong. Dulu, bangunan paling besar selain sekolah kami adalah Mesjid Raya. SMAN 3 Bogor adalah salah satu SMA bergengsi ketika saya masuk, dan sepertinya sih masih begitu hingga kini. Walau begitu, angkatan sebelumnya, murid SMA 3 terkenal beringas. Sering terjadi perkelahian antar kelas, bahkan hingga saling tusuk. Kalau tawuran, murid SMA 3 Bogor biasanya melawan STM. Ketika saya baru masuk, cerita yang entah mitos atau fakta itu, sering didengungkan oleh senior. Cerita yang sangat sesuai segmen remaja yang masih penuh gejolak. Ada semacam kebanggaan semu bahwa murid SMA 3 Bogor, terkenal pemberani.

Tahun ’90-an sering sekali terjadi tawuran antar pelajar. Setiap hari, berita di televisi tak pernah luput dari berita soal tawuran pelajar, khususnya di ibukota. Pelajar saling lempar batu, kejar-kejaran di jalanan sambil memutar-mutar sabuk yang ujungnya dipasangi gir sepeda yang sudah diasah jadi tajam. Sekarang, sudah jarang berita pelajar tawuran. Entah karena pelajarnya sudah banyak sarana menyalurkan gejolak kawula muda nya, atau karena sekarang yang tawuran adalah lebih banyak orang dewasa.

Sepanjang saya sekolah, baru mengalami 2 kali kejadian yang mungkin bisa dikategorikan tawuran. Pertama, ketika satu hari, ada sekelompok pelajar menghampiri area sekolah kami dan saya juga kurang ingat bagaimana detinya, yang jelas, tiba-tiba saya diajak teman-teman untuk melawan anak STM yang cari gara-gara. Tak ada aksi lempar batu, untungnya. Hanya ada aksi baku hantam tangan kosong, dan saya sendiri karena refleks melihat bambu panjang yang tergeletak di jalanan, langsung saya gunakan untuk menakut-nakuti musuh pelajar dari sekolah lain. Latihan silat dua kali seminggu, tapi ketika terjadi tawuran, saya malah terlalu pengecut untuk menggunakan keahlian yang dilatih itu. Kejadian kedua adalah ketika corat-coret dalam rangka merayakan kelulusan. Dari pagi hingga siang, pelajar dari sekolah tetangga, yaitu SMA PGRI 1 Bogor, aman-aman saja ketika melintas di depan sekolah kami. Tapi selepas jam 1, tiba-tiba ada yang mengomandoi kami bahwa pelajar SMA PGRI 1 Bogor menyerang kami, sehingga kami harus menyerang ke sekolah mereka dan menghadang semua pelajar dari sekolah itu yang melintas. Kalau dipikir dengan kepala dingin dan tak mudah terpancing emosi, mungkin saja kejadian itu hanya bohong, kemungkinan besar ada yang menyebarkan kebohongan supaya kami emosi dan ikut tawuran terakhir sebelum lulus. Saya rasa, yang begini ini sering terjadi. Bukan hanya dalam konteks tawuran pelajar, tapi juga di kehidupan sekarang. Banyak orang yang mudah terpancing emosi atas sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

Di sub judul berikutnya, saya akan cerita seperti apa masa sekolah saya. Kalau begini, saya menyesal dulu ketika SMA tak menulis buku harian. Coba dulu saya menuliskan setiap hari yang saya jalani, pasti sekarang saya tak kesulitan mengingat kejadian apa saja yang menarik selama masa remaja. Tapi, ya saya juga tak akan menyangka kalau ternyata kehidupan saya akan ada yang mau membaca dan menerbitkannya ke dalam buku. Maklum, saya bukan tipe orang yang penuh perencanaan. Bukan orang yang sudah tahu apa yang mau dilakukan di masa depan. Bukan tipe orang yang berpikir jauh ke depan. Saya ini tipe orang yang lebih mementingkan hari ini. Menikmati yang sedang dijalani. Memang, kalau kata motivator sih, pandangan hidup “gimana nanti” ini bukan pandangan hidup yang ideal. Harusnya kan, “Nanti gimana?” tapi saya tak mau hidup terlalu menguatirkan yang belum terjadi. Meskipun kata Utha Likumahuwa, esok kan masih ada, kata saya mah, esok belum tentu ada. Jadi, ya nikmati saja hari ini.

Ah sial. Kenapa saya malah jadi seperti motivator begini, ya?
Diubah oleh simacankampus
Halaman 1 dari 3
Soleh solihin emoticon-Ngakak
Kasih enter antar spasi gan.
Biar ga rapet emoticon-Hammer2
Mata gw sepet bacanya.. Rapet bener tulisannya emoticon-Leh Uga

Macaaan *raaaaawwwrrr

Spoiler for raaawr:
Diubah oleh VictimMax

ngikut TS . macan kampus vs macan bahagia..



atas ane korban bang ipoel emoticon-Ngakak .
pasti sering makan bis*uat emoticon-Embarrassment
aduh pake alinea dong, mumet bacanya emoticon-No Hope
judulnya udah sipp emoticon-Leh Uga
Post ini telah dihapus oleh dipretelin
Aw..aw.. Seyem.. Macan kampus buruannya ayam kampus ya?
Ikut di blkng ah, sapa tau dpt buruan seger..
macan bahagia?
Kiraib ayam kamvus ooppss hehehe lanjott guan emoticon-Ngacir
Bimbel Oh Bimbel ( Part 2 )

Beberapa tahun terakhir, saya sering melihat berita di televisi soal betapa hebohnya murid SMA yang menghadapi Ujian Nasional. Entah berita yang melebih-lebihkan, atau memang keadaannya begitu. Banyak sekali pelajar yang menangis, berdoa bersama, meminta maaf kepada orang tua, supaya lulus Ujian Nasional. Seakan-akan, itu persoalan hidup dan mati. Seingat saya, ketika saya kelas 3 SMA, tekanannya tak sebesar sekarang. Memang, ada semacam peringatan dari guru bahwa kalau nilai Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS)—dulu belum disebut UN, tak bagus, maka kita tak akan lulus sekolah. Namun, tak ada acara berdoa bersama, tak ada menangis bersama, dan tak ada berita yang berlebihan soal pelajar menghadapi EBTANAS. Sepertinya, jaman saya SMA, kami para pelajar cenderung memilih untuk menyiapkan diri kami dengan belajar, bukannya mengadakan acara yang heboh macam merenungi semua kesalahan.

Sebetulnya, yang lebih menjadi perhatian bagi saya waktu di tahun terakhir SMA adalah soal apakah bisa masuk ke perguruan tinggi negeri atau tidak. Soal lulus sih, cukup yakin bakal lulus. Nah, setelah lulus, mau kuliah di mana? Makanya, salah satu usaha untuk menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri [UMPTN] dan EBTANAS adalah dengan ikut bimbingan belajar [bimbel]. Sebetulnya, maraknya usaha bimbel ini menunjukan bahwa yang didapat di sekolah belum cukup. Saya tak tahu bagaimana jam sekolah anak sekarang, tapi jaman saya, kami sekolah Senin – Sabtu, dari jam 7 pagi hingga jam 12.30 siang, kecuali Jumat hingga jam 11.30 siang. Istirahat jam 10 – 10.30 pagi.

Ketika saya kelas 3, di Bogor baru dibuka tempat bimbel Sony Sugema College [SSC], yang sudah lebih dulu terkenal di Bandung. Slogan mereka, “the fastest solution”, sepertinya memang menjanjikan sekali. Solusi cepat untuk menghadapi UMPTN. Mereka presentasi ke ruang kelas dan mempromosikan soal jasa bimbelnya. Kombinasi presentasi meyakinkan, tak ada saingan, teman-teman banyak yang ikutan, dan demi memuaskan orang tua, maka saya pun ikut bimbel. Akhirnya, seminggu dua kali, setiap jam 2 siang, saya pergi ke SSC yang lokasinya di dekat Terminal Merdeka, Bogor. Hanya butuh sekali naik angkot dari sekolah: angkot 03 jurusan Baranangsiang – Terminal Merdeka. Lumayan, kalau hari biasa, uang jajan saya, Rp 1300 (ongkos naik bis pulang pergi Rp600, sisanya buat jajan), kalau di hari bimbel saya dapat tambahan Rp1.000. Dulu, semangkok mie ayam atau bubur ayam, dihargai Rp250. Makanya, badan saya cungkring, karena tak banyak makan. Dengan sisa uang jajan yang hanya Rp700, kalau dipakai untuk ongkos angkot main ke rumah teman, maka tak cukup untuk makan dua kali. Nah, makanya bimbel jadi menyenangkan buat saya karena saya dapat tambahan uang. Bukan karena tambahan pelajarannya.

Ikut bimbingan belajar merupakan tantangan tersendiri dan menurut saya kurang efektif juga dalam membuat pelajar jadi lebih pintar. Ya, setidaknya itu tak berpengaruh ke saya. Sudah capek belajar di sekolah, dari pagi sampai siang, eh harus belajar lagi. Saya sebenarnya sudah malas sekolah sejak kelas 2 SMP, tapi karena tak tahu harus ngapain jadi, demi mengisi waktu maka saya belajar di sekolah. Meskipun saya sudah menemukan kebosanan akan ruang kelas sejak dini, saya tak pernah bolos sekalipun. Sejak SD hingga kuliah, saya selalu hadir di ruang kelas. Kalaupun saya tak masuk ke ruang kelas, itu karena saya memang tak sekolah karena sakit.

Idealnya, jam 2 siang setelah makan siang adalah waktu yang sangat kondusif untuk tidur siang. Apalagi ruang kelas bimbelnya memakai AC. Wah itu sih mantap sekali untuk memejamkan mata. Maklum, ruang kelas di sekolah saya tak ber-AC, begitu pun rumah saya, makanya ketika bertemu AC, langsung terasa mewah bak orang kaya. Kombinasi ruangan ber-AC, perut penuh, dan mendengarkan penjelasan guru bimbel mengenai pelajaran-pelajaran yang tak saya sukai, hasilnya: mata semakin berat. Meskipun iklan bilang, “Bila Anda ngantuk tapi Anda sibuk tak sempat ngopi, ambil saja Kopiko” buat saya obatnya ngantuk bukan permen atau minuman kopi, tapi ya tidur. Ngantuk itu cuma bisa hilang kalau sudah tidur. Nah, jadilah setiap bimbel, jam pelajaran pertama sebelum istirahat, saya lebih banyak tertidur di ruang kelas. Bukan apa-apa, penjelasan guru bimbel tak lebih menarik dari penjelasan guru di sekolah. Dan saking seringnya saya tertidur di kelas, pernah satu kali, ketika saya mau menyenderkan kursi ke dinding, saya malah terjerembab ke belakang sehingga ditertawakan teman-teman sekelas. Tapi demi masa depan yang saat itu masih kabur, saya tetap rajin datang ke bimbel. Lagipula, bimbel adalah kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman dari sekolah lain. Harapannya sih, ada perempuan cantik di kelas. Nyatanya, tak ada yang menarik buat saya. Tapi ya, kalaupun ada yang menarik, belum tentu dia tertarik sama saya sih. Haha.

Saya tak ingat dengan pasti, apa yang diajarkan di bimbel. Dulu ketika menjalaninya saja saya tak begitu ingat, apalagi sekarang setelah 20 tahunan. Hehe. Satu yang saya ingat, adalah bahwa setiap hari, guru bimbel selalu mengatakan prediksinya akan soal EBTANAS dan UMPTN yang akan saya hadapi besok. Dia menunjukkan soal-soal tahun sebelumnya, dan atas dasar itu dia bisa mengungkapkan prediksinya. Sejujurnya, semua prediksi itu tak membuat saya tenang, karena tetap saja saya tak mengerti pelajarannya.

Kalau ada salah satu jasa bimbel buat kehidupan kampus saya, itu adalah buku panduan memilih jurusan untuk UMPTN. Satu hari, sepulangnya bimbel, di angkot, saya membaca penjelasan di buku itu mengenai apa yang dipelajari kalau kita masuk salah satu jurusan di universitas. Saya memang sudah berniat memilih Ilmu Pengetahuan Campuran (IPC) ketika ikut UMPTN, karena kalau kita memilih Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) saja hanya bisa memilih 2 jurusan, sedangkan IPC bisa memilih 2 jurusan, jadi kemungkinan lolosnya lebih besar. Saya terpikir jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung sebagai pilihan pertama, dan Biologi Universitas Padjadjaran Bandung sebagai pilihan kedua. Tak ada alasan khusus, hanya menurut saya dua jurusan itu terasa cukup keren dan maskulin. Geologi berhubungan dengan batu-batuan. Cadas sekali. Biologi sepertinya tak terlalu membuat pusing jika dibandingkan dengan Fisika atau Kimia. Nah, saya masih bingung dengan pilihan ketiganya, hingga akhirnya saya membaca di buku panduan SSC, ada yang namanya jurusan Ilmu Komunikasi. Deskripsinya sih tak begitu detil, tapi yang terbayang di benak saya betapa enaknya kuliah di jurusan itu. Tak ada belajar hitung-hitungan. Hanya berkomunikasi. Kuliahnya hanya berhubungan dengan ngobrol alias bicara.

Maka, saya pun memilih jurusan Ilmu Komunikasi Unpad ketika UMPTN. Dan ternyata selesai UMPTN bukan berarti selesai juga masa bimbel, karena orang tua saya masih merasa kuatir saya tak akan masuk kuliah di kampus yang bagus akhirnya mereka membuat saya harus ikut lagi bimbel sambil menunggu pengumuman UMPTN. Kalau tak lolos UMPTN, saya berencana kuliah di Politeknik ITB, dan ternyata sodara-sodara, ada bimbel untuk persiapan mengikuti ujian masuk Politeknik ITB. Ah saya lupa namanya, yang jelas, sebulan setelah lulus SMA, sambil menunggu pengumuman UMPTN, saya ikut lagi bimbel di Bandung. Tak iklas memang mengerjakannya, tapi karena saya juga tak yakin akan bisa lolos UMPTN, mau tak mau saya ikut bimbel lagi.

Apalagi yang membuat orang tua saya makin kuatir adalah karena teman-teman sekomplek yang juga satu sekolah dengan saya, semuanya sudah diterima di Institut Pertanian Bogor dengan jalur Penelusuran Minat Dan Kemampuan [PMDK], itu loh yang diterima di kampus tanpa harus ikut tes, alias dilihat dari nilai rapor. Ada tiga teman saya sekomplek BTN Gunung Putri Permai yang lolos: Bahtiar Andy Musafa yang rumahnya ada di jalan yang sama dengan rumah saya, Ari Wibowo yang beda satu gang, lantas Budi yang di gang berikutnya. Semuanya teman dari SD. Semuanya pulang ke rumah sejak siang hari, sedangkan saya selalu pulang malam hari karena terlalu lama nongkrong di sekolah.

“Mamah mah suka malu sama tetangga, kamu pulang malem melulu. Apa kata tetangga coba? Anak mamah pulang malem. Takutnya ada yang mikir macem-macem. Liat tuh, si Andi mah dari siang juga udah pulang. Kamu ngapain aja sih di sekolah? Mau kuliah di mana? Si Andi mah udah keterima di IPB,” begitu kira-kira kalimat yang sering diucapan ibu saya.

Padahal saya juga di sekolah tak berbuat nakal. Tak pernah minum alkohol atau mabuk-mabukan, tapi tetap saja orang tua saya kuatir akan masa depan saya. Kenakalan masa remaja saya paling hanya sekali sempat nonton film porno ketika menginap di rumah teman, lalu senang corat-coret: di tembok, di meja, hingga di bis kota. Meja biasanya dicoret memakai tippex, kalau bus kota memakai spidol (pernah satu kali, saya coret nama saya di bis, ditutupi oleh gorden setelah beres, eh, kondekturnya tahu-tahu datang, ngomel dan menghapus coretan saya. Ah malunya bukan main), dan di dinding memakai pilox alias cat semprot yang dari kaleng.

Orang tua saya juga sering heran, ketika saya bilang bahwa saya pulang malam itu, seringnya hanya nongkrong di sekolah, terutama ketika kelas 3. Saya dan teman-teman tak kemana-mana, paling juga ke rumah teman kami, Irman Aryatna Nasoetion dan Adri Triputra karena mereka berdua punya SEGA, yang belakangan jadi Play Station dan Super Nintendo. Namun, kami lebih sering di sekolah. Nongkrong di warung, ngobrol seharian, lalu ketika murid-murid yang kelas siang sudah pulang, kami kembali ke dalam sekolah, untuk bermain basket atau bola plastik. Sebenarnya bukan hanya orangtua saya yang kuatir kami pulang selepas magrib, tapi guru dan kepala sekolah juga. Pernah, dalam satu upacara bendera, Pembina upacaranya mengingatkan supaya anak-anak tak ada yang berlama-lama di sekolah untuk nongkrong. Bahkan, salah satu hari ketika kami sedang nongkrong di sekolah, saya pernah dimarahi kepala sekolah karena masih ada di sekolah selepas magrib.

“Kamu kalau pulang telat begini, gimana makannya? Nanti gizinya bagaimana? Kamu ngapain aja sih jam segini belum pulang?” kata bapak kepala sekolah.

Saya ketiban sial. Di antara sekian banyak anak, malah saya yang sedang jalan kaki menuju WC, malah berpapasan dengan dia dan didamprat. Padahal, tak ada peraturan sekolah yang tertulis mengatakan bahwa murid tak boleh ada di area sekolah di luar jam belajar. Yang tak boleh, kan merokok atau berbuat hal tak baik di lingkungan sekolah. Sedangkan bermain basket atau bola plastik, kan masuknya kategori olahraga yang menyehatkan. Haha.

Untungnya, semua kekhawatiran orang tua soal saya tak lolos UMPTN dan tak masuk universitas negeri, langsung sirna begitu saya diterima di Fikom Unpad. Ada dua yang membuat saya lega: menghilangkan kekhawatiran orang tua, dan tak perlu lagi ikut bimbel untuk ujian masuk Politeknik ITB.

“Kalau udah lulus UMPTN mah, bapak juga enak kalau ditanya sama temen kantor, kamu kuliah di mana, bapak bisa bilang, di Unpad. Nggak bingung lagi kalau ada obrolan soal kuliah anak,” kata bapak saya.

Dan belakangan, saya mendengar dari adik kelas yang ikut bimbel SSC di tahun berikutnya, ternyata para pengajar di sana, menyebut saya sebagai contoh yang bisa dibanggakan oleh SSC.

“Tahun lalu, ada murid SMA 3, namanya Soleh. Kerjanya tidur melulu di kelas. Tapi ternyata, di sini mah, anak yang di kelasnya kerjanya cuma tidur aja, bisa lulus UMPTN.”

Mungkin ini yang namanya rejeki anak soleh. Yah terlepas dari apakah saya sudah soleh secara perbuatan, yang jelas, saya sudah “Soleh” secara nama. Hehe.
Mau Jadi Musisi ( Part 3 )


Saya tak pernah punya cita-cita yang konsisten. Waktu SD, kalau ditanya apa cita-citanya, saya tak pernah menjawab ingin jadi dokter, pilot atau presiden. Biasanya kan, itu profesi paling sering disebut oleh anak kecil kalau ditanya cita-cita. Kalau menulis biodata di buku tulis teman (itu saya lakukan ketika kelas 6 SD, karena yang lain juga melakukan itu, saling menulis biodata di buku masing-masing sehingga punya biodata teman-teman sekelas), saya menulis cita-cita: ustadz, dan tentara.

Ada dua penyebab saya menulis cita-cita itu. Pertama, saya ingin jadi ustadz karena KH Zainuddin MZ. Tahun 80-an, kaset dakwah beliau adalah salah satu kaset paling laku dan paling sering didengarkan orang. Pada resepsi pernikahan hingga acara sunatan, orang memutar kaset dakwah Zainuddin MZ sebagai hiburan. Buat yang belum tahu, dakwah Zainuddin MZ itu lucunya bukan main. Selama satu jam lebih, beliau bisa berdakwah sekaligus membuat orang tertawa. Itu sebabnya saya menganggap beliau keren lalu bercita-cita jadi ustadz. Mungkin juga karena ketika kelas 5 SD, saya juara lomba dakwah di sekolah saya. Tak jelas, siapa yang menyuruh saya ikut lomba dakwah waktu itu. Apakah ibu saya—yang juga guru di SD saya, ataukah bapak saya yang melihat bahwa anaknya satu saat nanti punya potensi untuk jago bicara di depan umum. Yang jelas, bapak saya menuliskan naskah dakwahnya, kemudian saya menghapalkan dan membawakannya di lomba. Naskah yang dibuat bapak saya, adalah tentang cerita Isra’ Mi’raj. Kedua, alasan saya ingin jadi tentara adalah karena mereka terlihat gagah. Seragamnya begitu jantan. Dan saya pikir, kalau saya jadi tentara, pasti tak akan ada yang mengganggu. Saya akan merasa aman dalam kehidupan.

Sayang cita-cita itu buyar ketika saya melihat John Travolta di film “Grease” produksi 1978. Jaket kulit, celana jins, kaos oblong dan musik rock n’ roll merupakan kombinasi yang keren. Belum lagi, ketika SMP saya mendengarkan Iwan Fals dan jatuh cinta pada musiknya, saya ingin jadi musisi. Saya ingin jadi penulis lagu yang bagus, seperti Iwan Fals. Saya membayangkan diri saya manggung, bermain gitar, dan dielu-elukan banyak orang.

Maka, saya pun belajar memainkan gitar. Sebenarnya, Ade Bayu Indra, alias adik saya lah yang membeli gitar akustik. Saya tak pernah bertanya kenapa dia meminta bapak membelikan gitar itu. Saya juga tak pernah melihat dia bisa memainkannya. Gitar itu tergeletak di rumah, tanpa disetem, menunggu untuk dimainkan tapi tak ada yang bisa memainkannya. Saya lupa kapan tepatnya saya mulai mencoba belajar gitar. Mungkin antara kelas 1 atau kelas 2 SMA. Bermodalkan buku kord gitar saya coba-coba memainkan kunci-kunci standar. Kunci C, D, E, atau G sih masih gampang, tapi ketika mencoba kunci F yang melibatkan kombinasi jari yang sangat sulit, di situ saya mulai kesal dan menyerah. Belum lagi, suara gitar saya terdengar fals. Saya, adik saya, maupun bapak, sama-sama tak tahu caranya menyetem gitar. Maka saya jadi frustasi belajar gitar. Kalaupun saya bisa memainkan genjrengan gitar untuk lagu yang kuncinya standar, tak bisa mendengarnya merdu, suara yang dikeluarkannya selalu fals hingga akhirnya saya kesal dan memutuskan bahwa tak mau lagi belajar gitar. Jari sakit karena kapalan, gitar tetap fals, dan kunci F yang susah dipraktekan, adalah penyebab saya berhenti belajar gitar.

Sebelum belajar gitar, ketika SD saya belajar alat musik tiup yang disebut recorder. Entah kenapa disebut begitu, padahal itu suling terbuat dari plastik dan bermerk Yamaha. Itu adalah alat musik yang wajib dipelajari ketika SD. Alat musik yang siap menampung air liur. Kalau sudah dimainkan berkali-kali, maka sulingnya harus dikibas-kibaskan demi air liur yang menumpuk di dalamnya keluar. Seminggu sekali, suling itu direndam di dalam air hangat dengan harapan kumannya mati. Lagu yang waktu itu kami pelajari adalah lagu wajib nasional yang saya masih ingat nadanya sampai sekarang:

Do Re Mi Fa Sol Mi Do. La Do Si La Sol .Fa La Sol Fa Mi Do. Re Fa Mi Re Do.
Do Re Mi Fa Sol Mi Do. La Do Si La Sol. Fa La Sol Fa Mi Do. Re Fa Mi Re Do.
Fa Mi Fa La. Sol La Sol Mi Do. Mi Re Fa Mi Re Do. Fa Mi Fa La. Sol La Sol Mi Do.
Mi Re Fa Si Re Do.

Yang ikut menyanyikan nadanya sambil membaca tulisan di atas, berarti tahu bahwa itu adalah lagu “Ibu Kita Kartini”. Itu satu-satunya lagu yang saya tahu do re mi nya.

Tapi ya, saya tak tertarik mempelajari lagi suling lebih lanjut. Bukan apa-apa, kalau niat belajar gitar, karena gitar terlihat keren. Suling? Maaf ya, para pemain suling, tapi jarang sekali pemain suling yang jadi rockstar. Alat musik itu juga tak boleh dipinjamkan kepada orang lain. Kalau gitar kan, dipinjamkan ke orang lain, masih aman. Coba suling, itu namanya berbagi air liur. Nanti jadi rujak ludah. Pemain gitar adalah salah satu musisi yang kalau difoto, akan terlihat keren. Banyak pose pemain gitar yang memungkinkan dirinya terlihat keren ketika difoto. Bisa sambil menutup mata dan seakan-akan menghayati permainan. Bisa sambil beradu gitar dengan pemain gitar lainnya. Bisa sambil seperti memegang senjata. Bahkan dibiarkan tergantung di pundak saja, terlihat keren.

Ada satu alat musik yang agak susah untuk terlihat keren ketika memainkannya: Cajon (dibaca: Kahon). Alat musik ini berupa kotak seperti speaker. Pengganti drum. Biasanya dimainkan oleh grup musik yang memainkan set akustik. Kalau memakai drum akan terlalu berisik, maka dipakailah Cajon. Pemain Cajon agak sulit untuk terlihat keren ketika memainkannya. Dari sisi posisi bermain saja, sudah susah untuk terlihat keren. Pemain Cajon, duduk di atas Cajonnya dan tangannya menepuk-nepuk kotak di bawahnya. Mirip gerakan cebok. Susah untuk terlihat keren, kan? Mau pemainnya sambil merem pun, tetap saja dia mengingatkan kita pada posisi cebok. Mau dimainkan sambil diangkat Cajonnya? Tak mungkin, kan memang harus dimainkan sambil duduk, karena kalau diangkat-angkat, kan susah, karena ada mikrofon di belakannya. Kalaupun bisa diangkat-angkat, posenya tetap tak keren: seperti pose sedang mengangkat speaker. Serba salah.
Pemain kibord, masih bisa terlihat keren. Masih bisa diangkat-angkat lah. Saya pernah melihat pemain kibord penuh ekspresi hingga mengangkat kibordnya. Masih terlihat keren. Pemain saksofon, masih bisa terlihat keren dengan ekspresi penuh penghayatan. Bahkan pemain flute pun, masih bisa laah, sedikit terlihat keren. Tapi tidak demikan pada pemain Cajon. Mereka itu bermain musik dengan tulus, tanpa ada niat untuk riya atau dipuji, karena memang hampir mustahil untuk terlihat keren.

Selain gitar, alat musik yang sempat saya pelajari adalah harmonika. Saya selalu suka suara harmonika. Di musik country, blues, atau rock, kehadiran harmonika biasanya memberi warna yang menyenangkan. Dan yang paling penting, harmonika bisa mudah dibawa. Masuk saku celana, karena ukurannya kecil. Selain itu, saya mengira bahwa harmonika ditiup sembarang pun akan terdengar enak. Saya sering nonton film koboi di mana ada beberapa adegan yang ilustrasi musiknya hanya tiupan harmonika yang syahdu. Gara-gara itulah saya membeli harmonika, dibawa ke sekolah, lalu saya mainkan ketika saya sedang nongkrong sendirian. Nongkrong di pos satpam sekolah. Nongkrong di bangku depan kelas. Hingga nongkrong di warung. Saya sedang menghayalkan ada di film, meniup harmonika sendirian layaknya jagoan. Saya merasa permainan harmonika saya begitu menghanyutkan jiwa. Padahal mah belum tentu. Mungkin karena fase saya bermain harmonika di sekolah itu, ketika saya kelas 3, kalaupun ada yang terganggu dengan suara harmonika saya, jadinya tak ada satu pun siswa yang berani menegur saya. Haha. Nanti akan saya ceritakan bagaimana kisah saya dengan harmonika ketika di kampus.

Sebetulnya ada satu teman sekelas waktu saya kelas 3 SMA, yang bisa memainkan harmonika. Dia sempat mengajari saya teknik dan teorinya, sayangnya dia mengajarkannya menjelang saya lulus SMA. Baru juga saya tahu sedikit teorinya, eh kami keburu lulus. Selain “Ibu Kita Kartini”, saya bisa memainkan lagu “Auld Lang Syne” (itu loh, lagu tentang perpisahan) dengan harmonika. Itulah hasil saya belajar singkat cara memainkan harmonika.

Hingga sekarang sih, saya tak pernah tahu, apakah saya memang tak berbakat di musik, atau memang saya pemalas dan bukan pekerja keras? Makanya saya tak berhasil belajar alat musik satu pun. Kalau kata orang bijak, kerja keras mengalahkan bakat. Mungkin, saya kombinasi keduanya. Sudah tak berbakat, tak mau bekerja keras pula.

Kadang, saya berpikir, seandainya saja saya ketika SMA coba-coba membuat band, mungkin kemampuan bermusik saya jadi terasah. Kan, banyak tuh cerita musisi yang awalnya juga tak tahu bagaimana caranya memainkan alat musik, tapi karena berani mencoba, membuat band, hingga akhirnya jadi bisa memainkan alat musik. Di SMA, saya hanya bisa memandang kagum pada teman-teman yang punya band. Seburuk apapun penampilan band mereka, tetap saja, lebih baik dari saya yang tak punya band. Bahkan ketika teman sebangku saya, Reidha Syahputra, punya band ala kadarnya dan manggung dengan lagu “Kopi Dangdut” yang bahkan menurut saya biasa saja pun, saya agak iri melihatnya.

Dan bicara soal band, tahun ’96, Base Jam mengeluarkan album perdana mereka, Bermimpi dengan lagu yang berjudul sama yang membuat mereka terkenal. Dua personel Base Jam, gitaris Adnil dan vokalis Sigit, adalah murid SMA 3 Bogor. Wah, bangganya bukan main kami sebagai sesama SMA 3 Bogor. Yang lebih membanggakan lagi, kenyataan bahwa Sigit adalah anggota Taruna juga. Saya dua kali bangganya. Kakak kelas saya, artis! Lagunya enak, dan diputar di mana-mana. Sebelum ada Ariel, ada Sigit Base Jam vokalis bersuara merdu dan bertampang rupawan.

Sepertinya bukan hanya SMA 3 Bogor yang bangga pada Base Jam, bahkan anak sekolah lain pun ikut terpengaruh. Ada satu tongkrongan anak STM yang menamakan dirinya dengan BASE JAM, alias Basis Jembatan Merah, mereka yang pulang sekolah nongkrongnya di jembatan Merah, Bogor.

Kehadiran Base Jam sempat membuat misteri bagi saya dan mungkin banyak orang. Mereka punya dua vokalis. Selain Sigit, ada Adon. Nah, Adon ini adalah misterius ketika dia baru muncul. Saya tak yakin dengan jenis kelaminnya Adon. Namanya seperti nama laki-laki, tapi wajah dan suaranya begitu melengking manis seperti perempuan. Ada keraguan pada awalnya ketika membicarakan sosok Adon. Apakah dia laki-laki, ataukah dia perempuan? Kalau dia laki-laki, kenapa suara di umur yang seharusnya sudah akil balig tidak juga pecah? Kalau dia perempuan, kenapa kadang ada nuansa laki-laki? Ah, mungkin Adon adalah cewek tomboy, makanya kadang terlihat seperti laki-laki. Begitulah pertentangan batin di awal kemunculan Adon. Hingga akhirnya saya dapat konfirmasi bahwa Adon laki-laki.

Sebenarnya, selain Adon, ada lagi sosok musisi yang misterius: kibordis dari trio band adik kakak yang popular di era ’90-an dengan lagunya “Mmmbop”. Di antara ketiga personel Hanson, si kibordis memang terlihat paling menarik. Rambutnya lurus panjang dibelah tengah, warnanya pirang terang, dan wajahnya cantik. Saya selalu senang melihat si kibordis kalau ada video klip “Mmmbop” tayang di televisi. Duh, cantiknya. Duh, sudah cantik berbakat pula. Duh, senyumnya manis. Duh, bagus banget rambutnya. Duh, saya memang selalu suka perempuan berambut lurus panjang. Duh, kalau ketemu sama dia, saya pasti deg-degan. Duh, siapa ya pacarnya? Beruntung sekali pacar dia. Duh, itu kakak dan adiknya tak ganteng, kenapa si tengah bisa cantik begitu ya? Duh, itu warna bibirnya merah muda merekah. Duh, kalau ada perempuan seperti itu di Indonesia, saya mau dong jadi pacarnya. Dan sekian banyak puja-puji kagum dalam hati yang selalu bersliweran setiap melihat si kibordis di televisi. Baru beberapa bulan kemudian hingga akhirnya saya tahu bahwa si kibordis adalah laki-laki.
Dan itu adalah salah satu momen dalam hidup saya yang paling membuat bulu kuduk bergidik karena merasa jijik sendiri. Ada penyesalan yang begitu mendalam karena pernah naksir Taylor si kibordis Hanson.

Ini saat yang tepat untuk menyanyikan lagu Nugie: Tertipuuuuuuuuu….
Macan kampus?? Ane tau nya ayam kampus gan emoticon-Ngakak emoticon-Leh Uga
Quote:


Hayo? Kenapa?
macan kampus? wakakakakaka ok coment dlu bru baca hahaha salken ya om macan.. asal jgn jdi macan cisewu ya wkwkwk

soleh standupcomedyan bner gtu? emoticon-Wink btw kang soleh kenapa ga basist aj? ,wah keren pdhal mah apalagi kalo solo smbl slap bass an hahaha aemoticon-Big Grin
Diubah oleh sexypanda13
kenapa ngg bikin verified akun aja? tinggal hubungi mimin emoticon-Leh Uga
Quote:



Bukannya lu doyan yg rapet?


Quote:



Gw bilangin ke orangnya lu


Quote:


Quote:



Ya, sorry agan dan sista disini. Udah aing edit ye.
Nah setelah dikasih jarak jadi gampang dibaca'y emoticon-Jempol
ini beneran nih kang Soleh Solihun emoticon-Leh Uga




Eh gemboked emoticon-Big Grin
Diubah oleh Bregez
Halaman 1 dari 3


×
GDP Network
Copyright © 2018, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia.
Ikuti KASKUS di