alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58cd5fd6c0d770b57c8b4567/my-scary-me-part-2
My Scary Me part 2
Jam dua dini hari, aku tetap terjaga mengerjakan pekerjaanku. Walau kutahu jika lelahpun aku tidak dapat tertidur sejak umur lima belas tahun. Saat berkaca di toilet aku sempat terkejut, dulu aku sangat cantik. Semenjak kantung mata ini datang, aku terlihat buruk, tak segar dan tak sedap dipandang lagi.
DEGG!!!
Tiba-tiba saja nafasku terasa berat, nyaris tak dapat bernapas. Ada sesuatu yang panas keluar secepat kilat menyebar ke tulang, pembuluh darah, daging, lemak lalu kulitku. Aku hampir tidak dapat merasakan rohku ada. Seluruh badanku bergetar dan mengeluarkan banyak keringat akibat menahan nafsunya. Wajah dan bibirku nyaris pucat. Jantung manusia layaknya morphine bagiku, setiap menginginkannya aku harus mendapatkannya. Jika tidak, aku akan mati dalam nafsunya.
Aku segera mengambil borgol di dalam saku celana dan memborgol tanganku bersama keran wastafel. Aku segera berjongkok dan menyudutkan diri di sampingnya, kedinginan, membeku seperti tanpa baju. Aku merindukan kehangatan. Aku berupaya menahan nafsu membunuhnya yang sangat kuat. Untungnya, tak ada sesiapapun di sini.
Kudengar pintu berdecit, diringi langkah kaki seseorang masuk dengan sepatu ketsnya.
“Oh ..,. tidakkk!! Kumohon jangan mendekat!”
Aku segera menundukkan kepalaku hingga mencium dengkul dan lebih merapatkan posisi berjongkokku.
“Zeeqwa!”
DEGG!!!
Tiba-tiba saja panas yang menyergap tubuhku sekejap hilang, untuk kedua kalinya aku kembali kesifat semula tanpa bantuan Zepa. Firsta ikut berjongkok dan menatapku dengan cemas. Aku mendongak menatapnya, bola mata biru kehijauannya indah sekali.
“Kau baik-baik saja?”
Aku tersenyum, “iya! Aku hanya lelah dan beristirahat di sini.”
“Pasti ada tempat yang lebih baik untuk beristirahat, kan?”
Setelah itu kami berdua tersenyum lepas.

***

Firsta mengajakku minum di salah satu meja makan. Ia memesankan beberapa makanan untukku. Aku bilang aku tidak makan, tapi dia memaksa dan terpaksa aku memakannya. Seperti biasa dia hanya terdiam, tidak memulai topik, terkadang hanya membalas senyum saat kutatap atau mengamati sekeliling cafe miliknya.
Aku membayangkan dia memakai toksedo. Aku memakai gaun hijau lumut yang elegan. Kami duduk di meja yang sama. Para pelayan dengan setia menjamu kami, banyak makanan enak yang terhidang, begitupun dengan bunga-bunga lotus yang menghiasi malam kami.

***

Aku masuk ke dalam rumah. Zepa sudah menungguku di ruang tengah. Ia bersandar di dinding menatapku layu. Tak seperti biasanya ia yang ceria. Aku lalu membuka sepatu dan segera melewatinya tanpa menyapa. Tatapan itu masih terasa sampai aku berada di dapur dan meletakkan bahan memasak di atas meja.
“Kalau mau bicara, bicara saja.”
“Sepertinya kau bukan orang yang bisa membaca hati,” sahutnya. Membuatku kesal.
“Selama ada mulut, gunakan saja mulutmu.”
“Aku melihatmu tadi, berubah menjadi monster. Tapi saat Firsta datang, semua itu berakhir.”
“Ah ...,” aku menepak keningku. ”Aku juga tidak mengerti alasannya.”
“Apa kau tau? Ternyata kutukan itu bisa hilang oleh cinta.”
“Benarkah?”
“Apa kau menyukainya?”
“Aku tidak tahu.” Aku segera memasukkan sayuran ke laci lemari pendingin. Aku sengaja menghalangi wajahku dari tatapan sendunya. Sesaat aku menyadari sesuatu dan kembali menatapnya, “kau cemburu?”
Zepa terdiam sejenak sambil memalingkan wajahnya untuk menutupi sesuatu yang keluar dari matanya. Dan sesaat, ia menatapku dengan mata berair, barulah setelah itu dia mau menjawab. “Dari sekian banyak Malaikat, kenapa hanya aku yang mau melindungimu?” Dia kembali terdiam untuk menyeka airmatanya.
“Aku rela berlatih mengembangkan kekuatanku untuk menyembuhkanmu, mereka bilang jika hal yang aku lakukan akan sia-sia, tapi aku tidak peduli.” Ia menggelengkan kepala, satu demi satu airmatanya terjatuh. “Aku tetap tidak peduli, karena ini menyangkut orang yang kucintai. Aku sudah bersamanya sejak ia lahir ke dunia ini dengan wujud yang dibenci,” sambungnya.
Aku membanting pintu lemari es, “lalu apa sekarang aku harus berterima kasih padamu?”
“Memang benar yang kulakukan selama ini hanya sia-sia. Setelah merasa hidupnya sempurna, manusia akan melupakan Tuhan. Padahal, Tuhan yang telah memberinya kesempurnaan!”
“Selama ini saja aku masih belum percaya jika Malaikat itu ada!”
“Aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak, mulai sekarang aku pergi dan menyempurnakan ketidakpercayaanmu tentang Malaikat, sekaligus menyempurnakan kesia-siaanku karena telah membantumu.” Kemudian Zepa menghilang.
“Kau pergi?! Kau takut kalau aku berubah dan menyerangmu lagi?” Aku kesal dan membanting pelaratan dapur.
Aku sadar apa yang kulakukan detik ini. Aku tidak menyuruhnya untuk cemburu dan menjadikanku seseorang yang paling menyesal di dunia ini.

***

Ia tahu aku tidak punya uang, jadi dia membawaku ke sebuah butik mahal. Saat kutanyakan untuk apa pakaian itu nantinya. Firsta malah diam menunjukkan senyumnya yang tak pernah bosan untuk kulihat.
Ia memilih setiap baju yang terpasang rapi di rak, sementara aku terdiam mengekor di belakangnya. Yang ini tidak cocok, yang itu tidak cocok. Ini sudah kelima kalinya dia menyuruhku untuk kembali ke ruang ganti dan mencocokkan gaun lainnya. Jangan–jangan dia tidak benar-benar ingin membelikanku salah satunya.
“Yang ini bagus!” ia segera menghampiriku yang berdiam di depan kamar ganti dengan gaun hijau lumut panjang menyapu lantai dengan punggung dada yang terbuka. Ia pun masih ingat dengan warna kesukaanku.
“Kau cantik,” pujinya membuatku tersipu.

***

MALAM waktu yang mengganggu untuk seorang ibu yang sedang terlelap tertidur saat mendengar anaknya menangis. Malam, begitu menggairahkan untuk sepasang kekasih. Malam, bagiku saat di mana aku bukanlah aku, di mana nafsu iblis itu sudah tak bisa kukendalikan seutuhnya.

”Selama iblis ini tidak bisa kubawa pergi dari tempat ini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Permadani bermotif simpel, lampu dan musik klasik. Para pelayan siap membuatku mabuk dengan winenya, makanan kecil dan tamu berdansa di tengah aula. Aku tak kalah cantik dan berkelas. Sama seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Tanda-tanda kemunculan iblis itu tidak tampak dan aku bisa tenang. Aku yakin sudah sembuh dan tak perlu cemas.
Langkah kaki itu mendekatiku dengan halus dari arah belakangku, lalu ia menepuk bahuku. Aku segera berbalik dan melihat senyumnya merekah.
“Frista!” seruku ikut tersenyum.
Seorang wanita muncul dari arah belakangnya dan menatapku dengan ramah. Firsta memperkenalkannya, “Dia Crisan,” ucapnya riang.
Lalu aku dan wanita itu menjabat tangan.
“Ia tunanganku,” sambungnya.
Sesegera aku menciutkan senyumanku dan melepas tangan kami. Aku sadar jika saat ini warna mataku berubah karna semua yang terlihat menjadi merah.
“Kau sudah punya kekasih?” tanyaku lirih.
“Maaf karena terlambat memberitahumu” jawabnya sambil tersenyum bersama Crisan. Seakan aku tidak keberatan, seakan aku berdiri di sini untuk mereka.
DEGG!!!
Denyut jantungku bergema ke telinga, tubuhku memanas. Inilah! Ia akan muncul. Tidak bisa! Jangan sekarang! Sekuat apapun aku berusaha untuk mencegah kemunculannya, semakin kuat terasa ia ingin menunjukkan dirinya.
Tulang rusukku bergurat di kulit bagian depan maupun belakang membuat gaunku robek, itu menyakitkan. Setiap guratan tulang yang tampak adalah penderitaanku untuk menahan rasa dendam. Kupingku meruncing dan rambutku rontok satu persatu, kulit disekujur tubuhku berubah merah semerah api di Neraka.
Semua orang yang menatap, semua orang yang mencium bau busuk yang kupolusikan ke ruangan ini menjerit dan segera berlarian keluar aula dengan bermacam-macam ekspresi. Takut, panik, sesak. Itu makhluk apa? Mengerikan. Bau. Menjijikkan. Aku tidak mau dimakan makhluk itu! Aku bisa membaca pikiran mereka, jelas sekali. Aku melambaikan tanganku ke arah pintu masuk dan pintu pun tertutup rapat. Mereka terjebak dan kebisingan bertambah sepuluh kali lipat.
Lantas aku menyerang seratus orang dalam 5 detik seperti kata Zepa. Lalu aku mengumpulkan jantung mereka di meja makan seperti mengupas kacang dari kulitnya atau terkadang aku mencicipinya sedikit karna tidak sabar dengan kenikmatannya. Golongan darah tipe A adalah yang paling kusuka.
Setelah menghabisi tamu terakhir, aku menoleh ke arah Firsta. Dia masih berdiri sendirian di tempatnya sambil mengarahkan rosario perak kearahku dengan gemetar, dahinya bercucuran keringat dan mulutnya tak henti bergumam sesuatu.
“Zeeqwa lotus, entah sekarang kau ini apa. Tapi, aku mohon jangan bunuh aku!” Pintanya memelas, beberapa tetes air tumpah dari matanya. Dia masih saja lemah, setidaknya ia bisa menahan air matanya saat melihat wujud asliku.
Aku hanya memandangnya dingin. Aku tak menghiraukannya lagi. Lalu dengan kecepatan tak lazim aku sudah berada di hadapannya. Ia terkejut namun tak dapat berlari. Aku menghunuskan begitu saja kelima kuku runcingku ke bagian dadanya, jantung yang ia anggap berarti ini, ternyata mudah saja kulepaskan. Kemudian aku menembus segera untuk mengambil jantungnya tanpa belas. Sementara jasad Firsta terkapar di lantai, aku langsung memakan jantungnya diiringi dengan mengucurnya setetes demi setetes cairan kental berwarna merah dari mataku. Ini tangisan duka, tangisan para iblis yang kecewa.
Setelah itu para malaikat datang. Mereka selalu terlambat. Zepa tak ada. Dia tak muncul lagi sejak kecemburuan itu. Kedua kakiku diborgol dengan pemberat besi. Tanpa perlawanan aku dibawa pergi ke Neraka untuk dimusnahkan menyusul Novroz.

“Ketika kau membuatku kecewa dan menambah dendam di dalam wujud ini. Aku akan selalu menjadi aku yang menakutkanku.”


Jakarta, 20 September 2011
[/FONT][/FONT]
[/size]
lah kok beda2 thread gan? kenapa ga dijadikan satu aja biar gampang
lho part 1 nya mana emoticon-Bingung (S)
kenapa ga dijadikan satu ma part 1 nya?emoticon-Hammer2 emoticon-Kemana TSnya?
maaf gan, udah di jadi in 1 di sini My Scary Me
https://kask.us/iobqI
#ForumKaskus via @KASKUS

udah request dihapus tread yang ini, ga diapus2