alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58cd5dc1dc06bd910f8b4568/my-scary-me
My Scary Me
“Selama rasa dendam tidak bisa kubawa pergi dan kubuang jauh dari wujud ini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Di kota Esmerald pada malam hari—seperti yang mereka tahu, senyap dan hening bersatu. Nyaris tak bersuara, selain ketukan ritme langkah kaki yang mengadu pada bumi. Ia terhenti di tengah pertigaan—berpisah pada ketiga kawan. Lantas, sendirian ia melanjutkan perjalanan ke jalan Ruby menuju perumahannya. Lampu jalan redup, angin malam yang menusuk rusuk, seakan tak penat mengikuti langkahnya.
Ia tak lama sadar—sebuah siluet tubuh berbeda membututinya. Namun, tak ada suara langkah kaki atau hembusan napas yang terserap telinga. Apapun itu, ia memilih untuk tidak menoleh ataupun terhenti untuk sekedar memastikan. Bisa jadi itu pencopet atau pemerkosa yang sudah terlatih. Berpikiran negatif, membuat napasnya sengal. Dahi dan telapak tangannya berkeringat—ia berjalan sambil mengempit tasnya rapat, lebih tergesa.
Tak terduga, ia dengan berani menghentikan langkahnya dan berbalik, menoleh ke kanan kiri dan bersuara dengan mimik ketakutan, “siapa di sana?”
Hening. Tak ada yang membalas, tak ada sesiapapun di sana. Lalu ia kembali menghadap ke depan, bersiap untuk mengambil langkah lebih panjang. Akan tetapi, sang pemilik Mata Fajar mencekalnya dari jarak lima centi sambil menatapnya seperti santapan enak tersaji.
Sang pemilik Mata Fajar pun mendesis, “jantung yang lezat.”
Wanita itu Cumiik di kesunyian malam.

***

Aku menguap, nyaris seharian aku merebahkan diri di ruang televisi. Sesekali menukar posisi tubuh agar lebih nyaman. Jika lapar, aku meminum segelas susu didampingi donat di meja. Setidaknya, aku melakukan hal tak berguna ini sampai tengah malam.
Aku meninggalkan rumah berjalan kaki ke Cafe Ginevla untuk bekerja. Di sana, aku menjadi seorang pelayan yang pekerjaannya mencatat menu dan mengantar makanan. Terkadang, aku membersihkan cafe jika disuruh.
Temanku bilang, aku insomnia—kubilang bukan—tapi ia malah mengejekku ‘dungu’ karena tidak mengerti kondisi sendiri. Untuk kedua kalinya, kubilang ’tidak!’ Agak kencang. Ia pun bungkam setelah melihat bola mataku berubah merah, semerah fajar membakar bumi. Keesokannya datang sebuah kabar—seseorang mati tanpa jantung di cafe itu, pelakunya tak meninggalkan jejak. Kisah ini mengingatkanku pada kejadian dua tahun silam. Seorang siswi mati mengenaskan di sebuah jalan tanpa jantung. Ada puluhan yang bernasib sama dengan mereka, “mati tanpa jantung”. Selalu ada yang mati saat aku meninggalkan tempat yang kudatangi. Dulu aku tak mengerti dengan keadaan ini, tetapi semua berubah saat sebuah makhluk datang di kehidupanku.
Aku pulang membawa kantung belanjaan pagi buta, rencananya aku ingin membuat sandwich daging asap dan selada merah di dapur.
WWUSHHHH!!!
Hembusan angin tak lazim lagi membuka lebar jendela dapur sebelah kanan. Setidaknya tunggu aku selesai membuat sandwich dulu.
“Taarrraaa ....”
Pria berkulit putih dengan bentuk rahang sempurna datang bersama angin barusan dan tak lupa memberikan efek ceria saat tiba. Ia pikir dengan kedatangannya aku akan senang? Karena tidak ada respon dariku, senyuman dungu itu pun ia hentikan dengan kejam dan segera mengganti mimiknya dengan yang kecut.
“Kau selalu begitu, wajahmu menunjukkan tidak ingin punya teman.”
“Apa alasanku untuk senang saat kau datang?” Aku masih sibuk dengan sandwichku.
Ia tampaknya senang dengan pertanyaanku, “karena aku Zepa Clocka! Seorang Malaikat dan kau tahu tugasku apa?” Tanyanya yang selalu ia bahas setiap pertemuan.
Lucu memang, seorang pria memakai pakaian terusan sedengkul berwarna putih yang lebih mirip daster ini adalah Malaikat? Mungkin sedang magang.
“Kau datang untuk menggangguku?”
“Bukan! Tapi untuk melindungimu.”
Sejak kedatangannya, tragedi kematian itu berkurang. Entah apa yang dilakukannya. Aku berkali-kali memintanya untuk menjelaskan, tapi ia selalu menolak seolah aku belum cukup umur untuk mendengarnya.
“Zeeqwa! Kau makan roti isi?” Tanyanya histeris sambil menatap lima sandwich buatanku.
“Aku sudah terlatih, semoga tidak kembali berubah.”
Ia mengangguk sambil memayunkan bibirnya.
Diawal pertemuanku dengan Zepa diumur lima belas. Aku tidak diperbolehkan berduaan dengan manusia dan tidak boleh mengkonsumsi makanan mereka. Katanya itu akan memancing si Mata Fajar untuk datang. Setelah berlatih selama dua tahun, aku bisa melahap makanan manusia tanpa kehadiran si Mata Fajar. Tetapi, soal berduaan dengan manusia adalah hal yang sangat sulit untuk dilatih, karena harum jantung mereka sangat menggiurkan.
Sandwichku sudah siap disantap, aku meletakkannya di piring kemudian membawanya ke ruang tengah dan beranjak memakannya sebelum Zepa mencegahnya mendarat ke mulutku.
“Kemarin ada yang mati lagi, kau tidak bisa membohongiku,” ungkapnya serius.
“Waktu itu aku sedang lapar.”
Setelah ia melepas tangannya, aku langsung memasukkan sandwich demi sandwich ke dalam mulut tanpa mengunyahnya.
DEGG!!!
Waktu terasa terhenti begitu juga dengan kerja otakku. Sandwich yang kupegang terjatuh—tanganku serasa lumpuh—dadaku sesak—nyaris tak ada oksigen. Sesuatu yang panas keluar secepat kilat menyebar ke tulang, pembuluh darah, daging, lemak, lalu kulitku. Aku hampir tak dapat merasakan rohku ada.
“Si Mata Fajar kembali!!” Zepa mengambil posisi—menjaga jaraknya tetap sepuluh meter di depanku. Ia selalu tak bisa menyembunyikan rasa paniknya. Ketegasan itu datang begitu saja saat ia menghempaskan jurus jarak jauh dari telapak tangannya ke arahku—membuat bagian belakang kepalaku tertinju telak menatap lantai—kekuatannya menahanku bangkit dari sofa.
Sang pemilik Mata Fajar brontak—melepaskan segel mantra seperti merobek bahan katun. Zepa terkejut. Sang Mata Fajar tidak memaafkannya—Zepa mendapatkan balasan serangan yang lebih kejam. Lewat erangan kemurkaan—ia mengeluarkan aura hitam pekat mematikan, hingga Zepa terpental ke atap dan membuat rekahan besar. Zepa terjatuh perlahan seperti air yang menetes di dedaunan dan tak sadarkan diri. Dalam kecepatan permilidetik sang Mata Fajar berada dihadapannya.
“LARI!!!” Aku begitu mengkhawatirkannya, namun hanya sanggup Cumiik dalam hati. Percuma, Zepa tak bisa mendengarnya. Dalam keadaan mata yang masih terpejam, ia tampak kesakitan.
Dengan tangan kanannya, Sang Mata Fajar mencekik hendak menghabisinya. Kaki Zepa meronta-ronta kehabisan napas. Lalu Sang Mata Fajar menghunuskan kuku tajamnya ke dada Zepa. Untung saja Zepa cepat-cepat membuka matanya dan segera berteleportasi. Sang Mata Fajar pun kehilangan jejaknya.
Saat-saat genting seperti ini, seseorang mengetuk pintu rumahku dan tanpa kusadari Sang Mata Fajar sudah berada di depan pintu. Lalu ia membukakan pintu dan melihat Firsta sedang tersenyum di baliknya.
“Hai ..., Zeeqwa!”
“Oh ..., tidak! Jangan sekarang!!” Teriak gemetarku dalam hati. Aku sadar jika hal itu tidak mungkin bisa didengar olehnya.
DEGG!!!
Aku mengambil sekali napas panjang seolah aku baru terkurung di dalam rumah yang terbakar untuk kemudian menghirup oksigen yang melegakan paru-paru. Aku sempat tidak memercayainya, jika aku bisa berubah sendiri tanpa bantuan Zepa. Berkali-kali aku menepuk-nepuk pipiku sampai membuat pria yang mempunyai mata ramah di hadapanku terheran-heran.
“Ada apa, Zeeqwa?”
“Tidak apa-apa,” jawabku sambil tersenyum kebingungan.
Aku segera mempersilakannya masuk, rumahku sudah dianggap rumahnya sendiri begitupun sebaliknya. Sejak kecil kami sudah dekat, saat sekolah dasar Firsta pernah diganggu preman jalanan dan aku datang untuk menolongnya. Bukan tanpa alasan dia menjadi pria lemah, dia punya penyakit jantung.
Di rumah sakit dia hanya duduk terdiam di kursi rodanya sambil memandang anak lain bermain di taman lewat jendela. Ia pernah hampir meninggal saat berumur sepuluh karena tidak adanya pendonor jantung yang cocok. Tapi, dia terbilang beruntung. Dimasa komanya, orangtuanya berhasil menemukan pendonor yang cocok. Setelah operasi pencangkokan berhasil, ia kembali hidup dan tidak lemah lagi. Sekarang gantian dia yang melindungiku atau aku yang akan mematikannya suatu saat nanti?
Firsta meletakkan brownies yang sudah dipotongnya menjadi beberapa bagian di meja makan. Aku memakannya. Ia sempat terheran-heran saat melihat kediamanku yang kacau. Aku berbohong dengan mengatakan jika rumahku sedang direnovasi dan belum selesai diperbaiki. Setelah itu, tak ada pertanyaan lagi darinya, kami pun saling terdiam sambil memakan kue brownies kesukaan kami. Teleponnya tiba-tiba berdering, mengganggu suasana. Ia melihat layar telepon genggamnya dan segera meminta pamit padaku. Aku memperbolehkannya. Kemudian Zepa kembali muncul dengan napas yang terengah-engah. Ia segera menarik tanganku.
“Coba kulihat tanganmu.” Zepa memperhatikan tato di pergelangan tanganku, terjejer empat baris garis merah berukuran satu centi, Zepa terkejut.
“Tidak mungkin ...,” gumamnya sambil tebelalak kaku.
“Kenapa?”
“Bagaimana bisa kau tidak menyerang pria itu?”
“Mana kutahu?”
“Apa kau sadar akan garis ini?”
“Memang ada apa dengan garis ini?”
“Satu garis diumur lima belas, sifatmu berubah menjadi si Mata Fajar namun hanya bisa memberontak. Garis kedua diumur tujuh belas, kau mulai membunuh satu persatu manusia tanpa memakan jantungnya. Garis ketiga saat kau berumur dua puluh satu, kau sudah mulai memakan jantung. Namun, masih bisa kukendalikan. Garis keempat diumur dua puluh tiga, tanpa melanggar pantangan kau bisa langsung berubah dan tidak dapat dikendalikan. Garis kelima entah diumur berapa, wujudmu akan berubah dan kau bisa mencabik seratus orang dalam lima detik”
“Berubah?”
“Jika satu garis lagi muncul kau akan berubah wujud menjadi ‘IB-LIS’.”
Aku tidak pernah takut pada apapun, kecuali mengenai berita itu. Aku menggigil membelalaki Zepa.
“Sepertinya aku harus memberitahumu sesuatu,” Zepa berpindah duduk di seberangku, mengambil sepotong brownies di meja dan memulai bercerita. “Di depan gerbang Neraka yang merah membara. Para iblis mengantri untuk mendapatkan hukuman dari dosa-dosa yang mereka buat. Setelah masuk ke dalam lautan api yang panasnya tak terbayangkan akal makhluk hidup, mereka akan dipastikan lenyap tak tersisa dan dinyatakan tidak dapat masuk ke bumi lagi untuk menganggu manusia.
Salah satu Iblis menolak perintah itu dan memilih kabur dengan kejeniusannya mengkelabui para Malaikat. Iblis itu pun berhasil keluar dan menyamar sebagai sesosok pria dan hidup sebagai manusia normal di bumi, para Malaikat tidak bisa mencium keberadaanya karena penyamarannya yang hebat. Iblis itu memiliki nama, namanya Novroz.
Di bumi Novroz menemui seorang wanita yang digilainya, wanita itu bernama Avrist Lotus. Lotus bekerja di panti sosial, dia terkenal ramah dan murah senyum, juga kebaikannya yang sempurna seperti malaikat. Novroz sudah mengamati tingkah Lotus sejak ia dilahirkan, itu juga menjadi alasan Novroz meninggalkan Neraka. Novroz telah jatuh cinta pada manusia, karena pada hakikatnya iblis seharusnya membenci manusia.
Sebulan berkenalan, Novroz dan Lotus saling jatuh cinta dan mempuyai anak tanpa pernikahan. Anak yang dilahirkan Lotus berbeda dari anak-anak lainnya, bola mata anak itu bukan coklat melainkan merah semerah fajar. Lotus terkejut, kemudian Novroz menceritakan semuanya pada lotus jika ia adalah Iblis yang menyamar sebagai manusia karena jatuh cinta kepada manusia berhati Malaikat. Novroz salah menduga, dikiranya Lotus akan menerimanya. Namun, kenyataan berbalik dari apa yang dikirakannya. Lotus menggila. Ia berteriak, mengusir Novroz bersama dengan anak haramnya yang baru berumur sehari.
Novroz sedih, walau ia sudah meminta maaf berulang kali Lotus tidak mau dan tidak akan pernah memaafkannya. Lalu Novroz berkata, “jika di Neraka lebih indah dibandingkan di sini aku akan kembali. Jika di bumi tidak ada yang dapat menerima cintaku, aku tetap akan mati di sini. Sejujurnya aku ingin mati bahagia dengan cinta, mari kita mati bersama saja.” Di hadapan Lotus, seketika Novroz berubah menjadi sesosok iblis yang mengerikan. Matanya berubah merah begitupun dengan kulitnya. Dia punya kuping yang panjang dan kepala yang tanpa rambut. Lotus hanya dapat berteriak saat Novroz meruncingkan kuku kelima jari kanannya untuk kemudian menembus rongga dada Lotus, mengambil jantungnya, kemudian memakannya sambil menangis darah.
Lotus sudah tak bernyawa saat para Malaikat datang, Novroz masih berada di tempat sambil menghabiskan jantung Lotus. Kemudian para Malaikat membawanya kembali ke Neraka untuk mematikannya.
Sementara anak yang dilahirkan mereka tetap berada di bumi karena belum pantas hidup di Neraka dengan wujud setengah manusia setengah iblis. Tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari seorang Malaikat. Yaitu aku.”
Aku menelan ludah dan berharap ia berbohong. Namun, tatapan matanya meyakinkanku untuk percaya dan segera aku percaya.
“Jadi, apa yang harus kulakukan?”
“Kau tidak dapat mengubah takdir, Zeeqwa Lotus. Aku pun begitu. Aku hanya dapat melindungimu dan mencegah makhluk itu keluar dengan cepat.”
Kami terdiam. Entah apa yang harus kulakukan saat sebuah takdir yang tidak diinginkan menyerang kehidupanku.
“Aku akan mencari tahu alasan sang Mata Fajar tidak menyerang Firsta,” sambungnya.
Kemudian Zepa menghilang dan meninggalkanku dalam kebingungan juga ketakutan.

***

Jam dua dini hari, aku tetap terjaga mengerjakan pekerjaanku. Walau kutahu jika lelahpun aku tidak dapat tertidur sejak umur lima belas tahun. Saat berkaca di toilet aku sempat terkejut, dulu aku sangat cantik. Semenjak kantung mata ini datang, aku terlihat buruk, tak segar dan tak sedap dipandang lagi.
DEGG!!!
Tiba-tiba saja nafasku terasa berat, nyaris tak dapat bernapas. Ada sesuatu yang panas keluar secepat kilat menyebar ke tulang, pembuluh darah, daging, lemak lalu kulitku. Aku hampir tidak dapat merasakan rohku ada. Seluruh badanku bergetar dan mengeluarkan banyak keringat akibat menahan nafsunya. Wajah dan bibirku nyaris pucat. Jantung manusia layaknya morphine bagiku, setiap menginginkannya aku harus mendapatkannya. Jika tidak, aku akan mati dalam nafsunya.
Aku segera mengambil borgol di dalam saku celana dan memborgol tanganku bersama keran wastafel. Aku segera berjongkok dan menyudutkan diri di sampingnya, kedinginan, membeku seperti tanpa baju. Aku merindukan kehangatan. Aku berupaya menahan nafsu membunuhnya yang sangat kuat. Untungnya, tak ada sesiapapun di sini.
Kudengar pintu berdecit, diringi langkah kaki seseorang masuk dengan sepatu ketsnya.
“Oh ..,. tidakkk!! Kumohon jangan mendekat!”
[/FONT]
pertamax...emoticon-Cool

itu ltulisan rapet bener kek baca novel aja emoticon-Big Grin
rapiin dikit gan emoticon-Shakehand2
makasih yah gan koreksinya, maklum newbie hehe emoticon-Shakehand2
wah cerita ttg dunia halfworld nih

kayaknya menarik, cuma tata bahasanya jg terlalu baku gan
dibikin agak lugas dikit, cuma saran aja emoticon-Big Grin

My Scary Me part 2

Jam dua dini hari, aku tetap terjaga mengerjakan pekerjaanku. Walau kutahu jika lelahpun aku tidak dapat tertidur sejak umur lima belas tahun. Saat berkaca di toilet aku sempat terkejut, dulu aku sangat cantik. Semenjak kantung mata ini datang, aku terlihat buruk, tak segar dan tak sedap dipandang lagi.

DEGG!!!

Tiba-tiba saja nafasku terasa berat, nyaris tak dapat bernapas. Ada sesuatu yang panas keluar secepat kilat menyebar ke tulang, pembuluh darah, daging, lemak lalu kulitku. Aku hampir tidak dapat merasakan rohku ada. Seluruh badanku bergetar dan mengeluarkan banyak keringat akibat menahan nafsunya. Wajah dan bibirku nyaris pucat. Jantung manusia layaknya morphine bagiku, setiap menginginkannya aku harus mendapatkannya. Jika tidak, aku akan mati dalam nafsunya.

Aku segera mengambil borgol di dalam saku celana dan memborgol tanganku bersama keran wastafel. Aku segera berjongkok dan menyudutkan diri di sampingnya, kedinginan, membeku seperti tanpa baju. Aku merindukan kehangatan. Aku berupaya menahan nafsu membunuhnya yang sangat kuat. Untungnya, tak ada sesiapapun di sini.
Kudengar pintu berdecit, diringi langkah kaki seseorang masuk dengan sepatu ketsnya.

“Oh ..,. tidakkk!! Kumohon jangan mendekat!”
Aku segera menundukkan kepalaku hingga mencium dengkul dan lebih merapatkan posisi berjongkokku.
“Zeeqwa!”
DEGG!!!
Tiba-tiba saja panas yang menyergap tubuhku sekejap hilang, untuk kedua kalinya aku kembali kesifat semula tanpa bantuan Zepa. Firsta ikut berjongkok dan menatapku dengan cemas. Aku mendongak menatapnya, bola mata biru kehijauannya indah sekali.
“Kau baik-baik saja?”
Aku tersenyum, “iya! Aku hanya lelah dan beristirahat di sini.”
“Pasti ada tempat yang lebih baik untuk beristirahat, kan?”
Setelah itu kami berdua tersenyum lepas.

***

Firsta mengajakku minum di salah satu meja makan. Ia memesankan beberapa makanan untukku. Aku bilang aku tidak makan, tapi dia memaksa dan terpaksa aku memakannya. Seperti biasa dia hanya terdiam, tidak memulai topik, terkadang hanya membalas senyum saat kutatap atau mengamati sekeliling cafe miliknya.
Aku membayangkan dia memakai toksedo. Aku memakai gaun hijau lumut yang elegan. Kami duduk di meja yang sama. Para pelayan dengan setia menjamu kami, banyak makanan enak yang terhidang, begitupun dengan bunga-bunga lotus yang menghiasi malam kami.

***

Aku masuk ke dalam rumah. Zepa sudah menungguku di ruang tengah. Ia bersandar di dinding menatapku layu. Tak seperti biasanya ia yang ceria. Aku lalu membuka sepatu dan segera melewatinya tanpa menyapa. Tatapan itu masih terasa sampai aku berada di dapur dan meletakkan bahan memasak di atas meja.

“Kalau mau bicara, bicara saja.”
“Sepertinya kau bukan orang yang bisa membaca hati,” sahutnya. Membuatku kesal.
“Selama ada mulut, gunakan saja mulutmu.”
“Aku melihatmu tadi, berubah menjadi monster. Tapi saat Firsta datang, semua itu berakhir.”
“Ah ...,” aku menepak keningku. ”Aku juga tidak mengerti alasannya.”
“Apa kau tau? Ternyata kutukan itu bisa hilang oleh cinta.”
“Benarkah?”
“Apa kau menyukainya?”
“Aku tidak tahu.” Aku segera memasukkan sayuran ke laci lemari pendingin. Aku sengaja menghalangi wajahku dari tatapan sendunya. Sesaat aku menyadari sesuatu dan kembali menatapnya, “kau cemburu?”
Zepa terdiam sejenak sambil memalingkan wajahnya untuk menutupi sesuatu yang keluar dari matanya. Dan sesaat, ia menatapku dengan mata berair, barulah setelah itu dia mau menjawab. “Dari sekian banyak Malaikat, kenapa hanya aku yang mau melindungimu?” Dia kembali terdiam untuk menyeka airmatanya.
“Aku rela berlatih mengembangkan kekuatanku untuk menyembuhkanmu, mereka bilang jika hal yang aku lakukan akan sia-sia, tapi aku tidak peduli.” Ia menggelengkan kepala, satu demi satu airmatanya terjatuh. “Aku tetap tidak peduli, karena ini menyangkut orang yang kucintai. Aku sudah bersamanya sejak ia lahir ke dunia ini dengan wujud yang dibenci,” sambungnya.
Aku membanting pintu lemari es, “lalu apa sekarang aku harus berterima kasih padamu?”
“Memang benar yang kulakukan selama ini hanya sia-sia. Setelah merasa hidupnya sempurna, manusia akan melupakan Tuhan. Padahal, Tuhan yang telah memberinya kesempurnaan!”
“Selama ini saja aku masih belum percaya jika Malaikat itu ada!”
“Aku tidak peduli kau mau percaya atau tidak, mulai sekarang aku pergi dan menyempurnakan ketidakpercayaanmu tentang Malaikat, sekaligus menyempurnakan kesia-siaanku karena telah membantumu.” Kemudian Zepa menghilang.
“Kau pergi?! Kau takut kalau aku berubah dan menyerangmu lagi?” Aku kesal dan membanting pelaratan dapur.
Aku sadar apa yang kulakukan detik ini. Aku tidak menyuruhnya untuk cemburu dan menjadikanku seseorang yang paling menyesal di dunia ini.

***

Ia tahu aku tidak punya uang, jadi dia membawaku ke sebuah butik mahal. Saat kutanyakan untuk apa pakaian itu nantinya. Firsta malah diam menunjukkan senyumnya yang tak pernah bosan untuk kulihat.

Ia memilih setiap baju yang terpasang rapi di rak, sementara aku terdiam mengekor di belakangnya. Yang ini tidak cocok, yang itu tidak cocok. Ini sudah kelima kalinya dia menyuruhku untuk kembali ke ruang ganti dan mencocokkan gaun lainnya. Jangan–jangan dia tidak benar-benar ingin membelikanku salah satunya.

“Yang ini bagus!” ia segera menghampiriku yang berdiam di depan kamar ganti dengan gaun hijau lumut panjang menyapu lantai dengan punggung dada yang terbuka. Ia pun masih ingat dengan warna kesukaanku.
“Kau cantik,” pujinya membuatku tersipu.

***

MALAM waktu yang mengganggu untuk seorang ibu yang sedang terlelap tertidur saat mendengar anaknya menangis. Malam, begitu menggairahkan untuk sepasang kekasih. Malam, bagiku saat di mana aku bukanlah aku, di mana nafsu iblis itu sudah tak bisa kukendalikan seutuhnya.

”Selama iblis ini tidak bisa kubawa pergi dari tempat ini. Aku tidak akan membiarkanmu pergi.”

Permadani bermotif simpel, lampu dan musik klasik. Para pelayan siap membuatku mabuk dengan winenya, makanan kecil dan tamu berdansa di tengah aula. Aku tak kalah cantik dan berkelas. Sama seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Tanda-tanda kemunculan iblis itu tidak tampak dan aku bisa tenang. Aku yakin sudah sembuh dan tak perlu cemas.
Langkah kaki itu mendekatiku dengan halus dari arah belakangku, lalu ia menepuk bahuku. Aku segera berbalik dan melihat senyumnya merekah.

“Frista!” seruku ikut tersenyum.
Seorang wanita muncul dari arah belakangnya dan menatapku dengan ramah. Firsta memperkenalkannya, “Dia Crisan,” ucapnya riang.
Lalu aku dan wanita itu menjabat tangan.
“Ia tunanganku,” sambungnya.
Sesegera aku menciutkan senyumanku dan melepas tangan kami. Aku sadar jika saat ini warna mataku berubah karna semua yang terlihat menjadi merah.
“Kau sudah punya kekasih?” tanyaku lirih.
“Maaf karena terlambat memberitahumu” jawabnya sambil tersenyum bersama Crisan. Seakan aku tidak keberatan, seakan aku berdiri di sini untuk mereka.

DEGG!!!

Denyut jantungku bergema ke telinga, tubuhku memanas. Inilah! Ia akan muncul. Tidak bisa! Jangan sekarang! Sekuat apapun aku berusaha untuk mencegah kemunculannya, semakin kuat terasa ia ingin menunjukkan dirinya.
Tulang rusukku bergurat di kulit bagian depan maupun belakang membuat gaunku robek, itu menyakitkan. Setiap guratan tulang yang tampak adalah penderitaanku untuk menahan rasa dendam. Kupingku meruncing dan rambutku rontok satu persatu, kulit disekujur tubuhku berubah merah semerah api di Neraka.

Semua orang yang menatap, semua orang yang mencium bau busuk yang kupolusikan ke ruangan ini menjerit dan segera berlarian keluar aula dengan bermacam-macam ekspresi. Takut, panik, sesak. Itu makhluk apa? Mengerikan. Bau. Menjijikkan. Aku tidak mau dimakan makhluk itu! Aku bisa membaca pikiran mereka, jelas sekali. Aku melambaikan tanganku ke arah pintu masuk dan pintu pun tertutup rapat. Mereka terjebak dan kebisingan bertambah sepuluh kali lipat.

Lantas aku menyerang seratus orang dalam 5 detik seperti kata Zepa. Lalu aku mengumpulkan jantung mereka di meja makan seperti mengupas kacang dari kulitnya atau terkadang aku mencicipinya sedikit karna tidak sabar dengan kenikmatannya. Golongan darah tipe A adalah yang paling kusuka.

Setelah menghabisi tamu terakhir, aku menoleh ke arah Firsta. Dia masih berdiri sendirian di tempatnya sambil mengarahkan rosario perak kearahku dengan gemetar, dahinya bercucuran keringat dan mulutnya tak henti bergumam sesuatu.
“Zeeqwa lotus, entah sekarang kau ini apa. Tapi, aku mohon jangan bunuh aku!” Pintanya memelas, beberapa tetes air tumpah dari matanya. Dia masih saja lemah, setidaknya ia bisa menahan air matanya saat melihat wujud asliku.

Aku hanya memandangnya dingin. Aku tak menghiraukannya lagi. Lalu dengan kecepatan tak lazim aku sudah berada di hadapannya. Ia terkejut namun tak dapat berlari. Aku menghunuskan begitu saja kelima kuku runcingku ke bagian dadanya, jantung yang ia anggap berarti ini, ternyata mudah saja kulepaskan. Kemudian aku menembus segera untuk mengambil jantungnya tanpa belas. Sementara jasad Firsta terkapar di lantai, aku langsung memakan jantungnya diiringi dengan mengucurnya setetes demi setetes cairan kental berwarna merah dari mataku. Ini tangisan duka, tangisan para iblis yang kecewa.
Setelah itu para malaikat datang. Mereka selalu terlambat. Zepa tak ada. Dia tak muncul lagi sejak kecemburuan itu. Kedua kakiku diborgol dengan pemberat besi. Tanpa perlawanan aku dibawa pergi ke Neraka untuk dimusnahkan menyusul Novroz.

“Ketika kau membuatku kecewa dan menambah dendam di dalam wujud ini. Aku akan selalu menjadi aku yang menakutkanku.”
Nah dibikin 1 thread aja gan.
Thread yg ke 2 request delete aja gan ke momod
Fistaaaaaa.... emoticon-Turut Berduka

hai iblis enyah kau !! emoticon-Blue Guy Bata (L) emoticon-Blue Guy Bata (L)

Devil's Curse

“Dua jam lagi kalian akan kami antar pada kemusnahan kalian di Neraka,” umum Malaikat kepada ribuan Iblis yang sedang mengganggu manusia di bumi dari Surga.
Para Iblis berubah panik dan segera menghabiskan waktunya untuk menggoda manusia lebih keras.
Disisi lain, salah satu Iblis terlihat begitu sendu. Ia berdiri di samping wanita muda di sebuah ruangan kelas panti asuhan. Baru kali ini ia tidak ikut tersenyum saat wanita muda itu mengembangkan senyumnya pada puluhan anak-anak yatim piatu di hadapannya.
Ia tidak bisa memilikinya, itu adalah kenyataan yang menyakitkan bagi seorang iblis yang mencintai manusia. Ia masih belum puas melindungi Lotus selama 23 tahun dari sesatnya dunia.
Hembusan angin lembut dari taman bermain sengaja mampir untuk mengibas rambut panjang berwarna mutiara hitam Lotus, semakin menyambut senyumnya untuk merekah lebih indah. Hal itu membawanya ke dalam dasar ingatan saat awal mereka bertemu dihari kelahiran Lotus.


23 tahun yang lalu, di singgasana sang Raja Iblis di kota Zamrud. Iblis itu bersimpuh dihadapan sang Raja yang sedang duduk di kursi kekuasaannya.
“Kau hebat, dalam sehari mampu mengganggu 200 kehidupan manusia. Kau patut di puji!” Seru sang Raja angkuh.
Si Iblis tertawa sombong, “ahahahah ..., itu memang keahlianku.”
“Aku akan memberikanmu tingkatan gelar Iblis yang lebih tinggi, dengan begitu kau akan lebih dan lebih mampu menggoda manusia-manusia bodoh itu untuk SESAT bersama kita.”
Si Iblis membalas dengan seringai licik.
“Kau pergilah ke kota Esmerald, kota baru untukmu. Dan ganggulah seorang anak yang baru lahir bernama Avrist Lotus,” perintahnya.
“Baiklah Raja!” si Iblis membungkukkan badan, kemudian pergi dalam sekejap mata.
Si Iblis sampai di ruang bersalin, tempat di mana Lotus yang masih kecil dan berkulit merah keluar dari rahim ibunya. Di mana seorang anak tanpa dosa akan menjadi sesat setelah menapaki dunia berlantai paku menurutnya.
Sehabis melahirkan Lotus, sang ibu meninggal dunia. Si Iblis kembali menyeringai sambil menikmati detik demi detik nyawa wanita penuh peluh itu direnggut Malaikat. Para suster segera membawa Lotus pergi ke ruangan lain karena terus menangis meminta susu. Sementara ayahnya menangis pilu kehilangan istri tercintanya.
Lotus di bawa ke ruang incubator, masih tidak berhenti menangis sampai suster yang membawanya risih dan kemudian meninggalkannya sendiri. Iblis itulah yang telah menggoda si suster untuk tidak menghiraukannya. Si Iblis merasa menang dan tertawa terbahak-bahak di hadapan Lotus.
Seketika Lotus berhenti menangis dan menunjukkan senyuman manis pertamanya pada sang Iblis. Si Iblis terkejut, sontak menghentikan tawanya. Lantas si Iblis menatap mata Lotus dengan sangar, berharap Lotus takut padanya.
“Berhenti tersenyum! Kau itu jelek sekali manusia bodoh!” Teriak si Iblis pada Lotus, namun Lotus tidak menurutinya dan tetap tersenyum.
Ada sebuah kesan di senyum Lotus yang bergetar di jiwa sang Iblis. Yang tersulit adalah mengartikannya, mungkin ia tidak ingin sekecil apapun mengetahuinya.
Sepuluh tahun sudah berlalu sejak kejadian itu. Ayah Lotus meninggal saat berlayar. Lotus dipindahkan ke panti asuhan karena tak ada siapapun yang mau menanggung kehidupannya.
Si Iblis sekalipun belum pernah menggangu Lotus, ia nyatanya tidak punya niat untuk menyesatkannya dan tak ada alasan untuk melakukannya. Sebaliknya, ia malah melindungi lotus dari ancaman iblis lain yang siap menggantikan posisinya kapanpun. Yang ia harus lindungi sekarang adalah senyum Lotus, ia tidak ingin menambah penderitaan Lotus dan membuat senyumnya menghilang.
Sepuluh tahun lagi berlalu, Lotus tumbuh sebagai wanita dewasa yang anggun, nyaris tak ada dosa yang berani menempel padanya, wajah dan hatinya begitu sempurna. Iblis itu mulai mengerti jika yang dirasakannya selama ini adalah CINTA. Ia telah jatuh cinta pada manusia, karena pada hakikatnya iblis seharusnya membenci manusia.


Sementara hari ini, para Malaikat datang di hadapannya untuk membawanya ke Neraka. Si Iblis lalu berkata pada Malaikat, “saat kau bertemu dengan seseorang dan harus berpisah walau sebenarnya tidak ingin. Setidaknya kau masih bisa menghibur diri dengan berkata, ‘kita hanya mencintai hal yang tak kekal’ begitu, kan?”
Para Malaikat hanya bungkam kemudian menariknya ke Neraka dalam sekejap.

***

Di depan gerbang neraka yang merah membara. Para iblis mengantri untuk mendapatkan hukuman dari dosa-dosa yang ia buat. Setelah masuk ke dalam lautan api yang panasnya tak terbayangkan akal makhluk hidup, mereka akan dipastikan lenyap tak tersisa dan dinyatakan tidak akan dapat masuk ke bumi lagi untuk mengganggu manusia.
Si Iblis terlihat ketakutan saat menyaksikan satu persatu temannya lenyap sekejap di dalam sumur besar dengan api membara yang tidak akan pernah padam. Dari arah belakang, para Malaikat menyeret paksa sang Raja Iblis untuk masuk ke dalam sumur api. Hal itu menjadi tontonan rakyatnya yang tak kalah takutnya.
Saat berpapasan dengan si Iblis, sang Raja dengan sengaja menjatuhkan sebuah batu kecil di kakinya. Meskipun tidak mengerti, si Iblis secara diam-diam mengambilnya. Dia melihat baik-baik batu bulat abu-abu itu, menurutnya tidak mungkin jika batu itu hanya batu biasa, lantas si Iblis menelannya dalam-dalam.
Ternyata tidak ada hal istimewa setelah ia menelan batu itu beberapa detik yang lalu. Sementara di depan gerbang Neraka, para Malaikat terus menyiksa teman-temannya sebelum terjun ke dalam sumur. Dan tak berapa lama, akan tiba gilirannya.
Si Iblis berusaha melepaskan borgol besi yang terikat ditangan dan kakinya yang merah, ia tidak menyangka jika ikatan borgol itu dengan mudah terlepas. Kemudian ia pun keluar dari gerbang Neraka karena wujudnya tidak terlihat siapapun, itulah efek dari batu tersebut.
Saat terjun ke bumi, sang Iblis mengubah wujudnya menjadi manusia. Di belakang ternyata Para Malaikat memburunya. Si Iblis tidak mau kalah, ia mempercepat lajunya. Sampai akhirnya si Iblis turun dikerumunan manusia yang sedang berlalu lalang, ia sengaja menyarukan keberadaannya dari Malaikat yang kehilangan jejekanya. Sang Iblis tersenyum, kini sang Iblis bukanlah iblis lagi, ia mempunyai nama, namanya Novroz.

***

Novroz dengan senyum mengembangnya berada di depan pintu panti asuhan yang diurus Lotus. Ia berkali-kali memencet bel, berharap Lotus akan membukakan pintu untuknya yang berwujud manusia pada tengah malam itu.
Terdengar suara handle pintu terbuka dari dalam, “siapa?” tanya Lotus saat membuka pintunya. Lotus merapatkan piyama sutra merah jambu yang menempel di tubuhnya, rambutnya hanya diikat satu, penampilannya nyaris berantakan.
“A-apa aku bisa menginap barang semalam di sini? Aku tersesat,” tanya Novroz gugup, ini kali pertama ia berbincang dan ditatap langsung oleh Lotus.
Lotus menoleh ke arah belakang sejenak sambil mengusap kepalanya. “Apa kau mau masuk dulu? Di luar sungguh dingin.” Lotus merapatkan piyamanya lagi.
“Apa boleh?”
“Tentu saja,” tanpa menaruh curiga pada Novroz, Lotus membukakan pintunya lebar dan menyuruh Novroz duduk di ruang tamu sementara ia membuatkannya minuman di dapur yang tak jauh dari ruang tamu, kemudian ia segera mengantarkan coklat panas untuk Novroz.
Novroz segera berdiri merasa merepotkan, “kenapa membuatkanku minuman?”
Lotus tersenyum tidak keberatan, “kau terlihat kedinginan dan …, gugup.” Kemudian Lotus meletakkan minuman di atas meja. Novros tak berkedip memandang wajah Lotus yang bercahaya meskipun terlihat lelah.
“Dengan kebaikan yang kau punya, kau sungguh cantik,” gumam Novroz.
Lotus menoleh ke arahnya, “apa?”
Novroz sadar gumamannya begitu kencang, ia pun tersenyum, “ah! tidak bukan apa-apa.” Novroz begitu senang sampai canggung dibuatnya.
“Minumlah selagi masih hangat.” Lotus kembali tersenyum, senyum itu seperti mengajak Novroz untuk semakin mencintainya.

***

Sebulan tinggal bersama, Novroz mampu membuat Lotus jatuh cinta padanya. Sampai akhirnya mereka mempuyai anak tanpa pernikahan. Sembilan bulan kemudian Lotus melahirkan bayi perempuan cantik tanpa cacat sedikitpun dan diberi nama Zeeqwa Lotus, akan tetapi anak yang di lahirkan Lotus berbeda dari anak-anak lainnya. Bola mata anak itu bukan hitam melainkan merah semerah fajar.
“Kenapa anak kita mempunyai bola mata yang berbeda?” Tanya Lotus saat memandang Zeeqwa di gendongannya dengan kaget.
Melihat ekspresi Lotus, akhirnya Novroz menceritakan yang sejujurnya pada istri tercintanya. “Lotus! Sejujurnya aku adalah Iblis yang menyamar sebagai manusia karena jatuh cinta kepada manusia berhati Malaikat.”
Lotus menoleh ke arah Novroz, pandangannya bertambah kaget. Dahinya bercucuran keringat akibat, badannya terus bergetar. Lotus hampir saja menjatuhkan Zeeqwa dari gendongannya.
“Ka ..., ka ..., kau itu Iblis?”
“Iya! Ta ...,” omongan Novroz terpotong oleh teriakan Lotus.
“PERGI!! Kau mengerikan, untuk apa kau ada di sini. Aku sudah cukup tersiksa dengan kehidupanku sekarang. AKU TIDAK INGIN TERSESAT DENGANMU!!”
“Kau tidak akan tersesat Lotus. Aku tidak akan membuat ....” sekali lagi omongan Novroz terpotong oleh teriakan Lotus yang semakin menggila.
“Bawa anakmu! Bawa dia ke manapun yang kau mau!” Teriak Lotus menjadi-jadi sambil menaruh Zeeqwa yang menangis di lantai.
“Lotus maafkan aku.” Novroz memohon sambil menundukkan kepalanya
Meskipun Novroz sudah meminta maaf berulang kali, Lotus tidak mau dan tidak akan pernah memaafkannya.
Kemudian Novroz berkata, “jika di Neraka lebih indah dibandingkan di sini aku akan kembali. Jika di bumi tidak ada yang dapat menerima cintaku, aku tetap akan mati di sini. Sejujurnya, aku ingin mati bahagia dengan cinta, mari kita mati bersama saja.”
Di hadapan Lotus, seketika Novroz berubah menjadi sesosok iblis yang mengerikan, matanya berubah merah begitupun dengan kulitnya. Ia mempunyai kuping yang panjang dan kepala yang tanpa rambut, guratan tulang rusuk yang tampak adalah penderitaannya menahan sakit.
Lotus hanya dapat berteriak saat Novroz meruncingkan kuku di kelima jari kanannya untuk kemudian menembus rongga dada Lotus, mengambil jantungnya, kemudian memakannya sambil menangis darah, itu adalah tangisan duka, tangisan para Iblis yang kecewa.
Tak berapa lama para Malaikat datang saat Lotus sudah tidak bernyawa. Sementara Novroz masih berada di tempat sambil menghabiskan jantung Lotus. Kemudian para Malaikat segera membawanya kembali ke Neraka untuk mematikannya di sana.
Sedangkan anak mereka, Zeeqwa. Tetap berada di bumi karena ia belum pantas untuk hidup di Neraka dengan wujud setengah manusia setengah Iblis. Tentu saja dengan pengawasan yang ketat dari seorang Malaikat.

makasih gan emoticon-Big Kiss