alexa-tracking

69 BUMDes di Banyuwangi Punya Nama, Tapi Tidak Beroperasi

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58cd5225d89b094a388b4568/69-bumdes-di-banyuwangi-punya-nama-tapi-tidak-beroperasi
69 BUMDes di Banyuwangi Punya Nama, Tapi Tidak Beroperasi
69 BUMDes di Banyuwangi Punya Nama, Tapi Tidak Beroperasi
17-03-2017 - 13:55 | Views: 3.72k

69 BUMDes di Banyuwangi Punya Nama, Tapi Tidak Beroperasi
ILSUTRASI: BUMDes. (Grafis: Tyo/TIIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA,BANYUWANGI – Dari 96 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 69 diantaranya hanya titip nama. Alias hanya memampang plang nama tapi tidak beroperasi. Kondisi tersebut terjadi lantaran pihak Pemerintah Desa belum memberikan penyertaan modal. Padahal, tahun 2017 ini, Pemerintah Daerah menargetkan seluruh desa wajib membentuk BUMDes dan harus berjalan.

Bahkan, data Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Banyuwangi, pada Februari 2017, juga mencatat ada 16 BUMDes yang kurang berkembang.

Empat diantaranya ada di Kecamatan Songgon. Yakni BUMDes Sayu Suto di Desa Balak; Bangkit Bersama di Desa Bangunsari; Durian Merah di Desa Songgon dan Basma Panca di Desa Sumberbulu.

Termasuk BUMDes Jenggirat Tangi di Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro; Arum Wangi di Desa Jambesari, Kecamatan Giri; Gangga Jaya di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran; Tri Maret di Desa Sumbersari serta BUMDes Kian Langgeng di Desa Kepundungan Kecamatan Srono. Ada juga di Kecamatan Sempu, yakni BUMDes Bumiasri di Desa Temuasri; Jambewangi Makmur di Desa Jambewangi; dan Karangsari di Desa Karangsari.

Sedang sisanya, BUMDes Sejahtera di Desa Sepanjang, Kecamatan Glenmore; Segobang di Desa Segobang, Kecamatan Licin; Sejahtera di Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung; dan BUMDes Delima Mekar di Desa Tegaldlimo, Kecamatan Tegaldlimo.

“Yang mampu tumbuh dan berkembang hanya 11 BUMDes untuk seluruh Banyuwangi,” kata Kabid Pemberdayaan Usaha Ekonomi Pedesaan, DPMD Kabupaten Banyuwangi, Eko Wahyudi, Jum’at (17/3/2016).

11 BUMDes yang mampu berkembang, lanjutnya, adalah Citra Mandiri di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro. Dua BUMDes di Kecamatan Purwoharjo, yakni BUMDes Loh Jinawi di Desa Sumberasri dan Sentosa di Desa Karetan.

BUMDes Jolo Sutro di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah; Sejahtera di Desa Sukonatar, Kecamatan Srono; Sejahtera di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh; Sri Rejeki di Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru; dan BUMDes Bina Cipta di Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari.

Sedang tiga BUMDes lainya adalah Lembu Suro di Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng; Ijen Lestari di Desa Tamansari, Kecamatan Licin; serta BUMDes Al Madina di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo.

Seperti diberitakan sebelumnya, dari total 189 Desa yang ada di Banyuwangi, baru 96 desa yang telah membentuk BUMDes. Wajar jika komitmen kepala desa untuk meningkatkan pendapatan asli desa dan mengurangi angka pengangguran dipertanyakan. Terlebih Bupati Abdullah Azwar Anas, dalam setiap momen sudah berulang kali mengingatkan para Kepala Desa. (*)

Pewarta
: Syamsul Arifin
Editor
: Wahyu Nurdiyanto
Publisher
: Ahmad Sukma
http://m.timesindonesia.co.id/read/1...dak-beroperasi
Lupa komen,

Mantap,,
emoticon-Traveller
Daripada duitnya buat usaha perlu nunggu waktu lama buat balik modal

Mending langsung masuk kantong, iye ga gan? emoticon-Shakehand2
Indonesia itu emang fenomena 😂

Di luar negri, orang2 mengedepankan Rural Finance dan Agriculture Finance untuk memperbaiki jarang kemiskinan antara kota dan desa, memperbaiki kemiskinan di desa, menaikkan prodiktivitas petani sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, dll.

Di indonesia, yang dibuat adalah kementrian Desa yang isinya adalah bagi2 duit ke masyarakat desa lewat program2 gak jelas yang secara dangkal tujuannya adalah peningkatan sarana dan prasarana fisik 😂 kementrian desa dan dana desa dibuat justru karena orang2 yang membahas APBN dan APBD gagal membangun daerah pedesaan, dan sekarang justru orang2 desa mau diminta ikut serta dalam kegagalan tersebut 😂

Padahal jelas2 dalam lagu kebangsaan kita disebutkan membangun jiwa lebih dulu dibandingkan membangun raga .. "bangunlah jiwanya, bangun lah raganya"

Indonesia memang negri dengan penuh fenomena, dimana mentri yang bagi2 Traktor ke petani masih dianggap mentri terbaik .. 😂 pertanyaan penting, jika cuma bisa bagi2 Traktor, kenapa kementrian pertanian dan kementrian sosial digabung saja? 😂
Quote:


Hmm,,,
Yah ada yang gagal ada juga yang berhasil sob.

Salah tuh sob menteri pertanian harusnya digabung sama menteri perindustrian kalo mau efektif jadi enak hasil pertanian terserap ke industri,dan industri menyediakan kebutuhan pertanian dengan baik pula bahkan made in Indonesia semuanya kalo bisa yah contohnya traktor atau yang sederhana pacul,mau advance yah industri petrokimia dan pupuknya harus maju juga.

Eth dah ane doakan ente jadi presiden sob.
yang penting duitnya..soal bermanfaat kek, berfaedah, bantu orang...P E R S E T A N ! emoticon-Leh Uga

dan akhirnya korupsi merata sampe ke pelosok desa.. tergiur dana desa n akhirnya buat anggaran fiktif..
Quote:


Hmm,,
Ini nunggu modal sob,yah tahu sendiri dah desa yang benar-benar desa banget yah begini sob,jadi ga ada usaha rakyat yang sudah eksis disana dan berbadan hukum yang bisa dijadikan bumdes jadi buat bumdes benar-benar dari 0 (nol) yah jadinya cuma namanya dulu sob.
emoticon-Turut Berduka
Sdm d desa masih cetek emoticon-Big Grin
Malah udah ga boleh sekdes dari pns sekarang emoticon-Big Grin

Malah di suruh ngelola dana ratusan juta ampe miliaran pula emoticon-Ngakak (S)

Berapa kades nih kira2 yang ampe masuk bui emoticon-Big Grin

emoticon-Traveller
Quote:


ya semoga aja benar2 bermanfaat buat warga..
kadang desa di jawa lebih ngenes dr desa2 di daerah..
Quote:


Bukan gitu juga bray .. emoticon-Big Grin
Semua sektor harus didekati dengan cara yang benar, bahkan misalnya untuk pertanian yang mendominasi perekonomian desa .. Itu harus dilakukan pendekatan berdasarkan komoditas nya, gak bisa general.

Tata nilai dan tata niaga di komoditas cabe, gula, tembakau, kopi, dll itu semuanya berbeda. Dan masing2 butuh di dekati dengan pendekatan yang berbeda. Ketidakktahuan atau gagal nya interaksi yang efektif antar stakeholder masing2 komoditas tidak akan menyelesaikan permasalahan di lapangan.

Kalau pemerintah kita sendiri gak bisa mengidentifikasi permasalahan masing2 sektor dan komoditas, lalu bagaimana mereka bisa membantu petani2 kecil kita yang notabene adalah pihak yang paling lemah dan rentan dalam hampir semua value chain komoditas pertanian kita? 😂

Tapi setidaknya kementrian desa sudah memberikan upaya yang cukup agar orang2 desa juga merasakan kegagalan orang2 kota dalam mengelola keuangan negara 😂 dan mudah2an traktor2, bibit2 gratis serta pupuk subsidi yang dibagikan setidaknya bisa menunjukkan bahwa mentri desa dan mentri pertanian kita sedang bekerja keras menghabis2kan anggaran 😂
Jadi percuma dong emoticon-Cape d...
Bupati Banyuwangi katanya bagus emoticon-EEK!
Salah satu sosok yg disegani juga
Quote:


Makanya bagi pemerintah studi masalah itu penting disini baik studi lapangan studi laboratorium studi perpustakaan studi banding (asal bukan dewan yang dikirim).

Seharusnya tata nilai dan tata niaga jelas kementrian perindustrian paham betul masalah itu makanya saya bilang lebih baik gabung sama yang itu.

Masalah pupuk subsidi sekarang sudah mulai dibenahi sob,nanti harus pakai kartu tani baru boleh dapat subsidi.

Sip sob semoga semua lebih baik nantinya,,,kalo ga yah resapel aja lah.
Quote:


Ga semuanya salah bupati kali sob,itu mah beritanya aja kali.

Salah semuanya sob,kadesnya juga salah ga bisa menemukan potensi kegiatan usaha melibatkan hasil musyawarah mufakat warga yang mau dijadikan bumdes atau tuh desa ga ada badan usaha rakyat selama ini yang berbadan hukum yang bisa dijadikan bumdes makanya cuma bisa setor namanya dulu saat ini.

Atau sudah ada/dilakukan itu semua hanya tinggal nunggu modal saja sob.