alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58cd410060e24bb6298b456a/merayakan-perpisahan
Merayakan Perpisahan - Kumpulan Cerpen
Merayakan Perpisahan
salam,
perkenalkan dan perkenankan saya untuk ikut menulis di subforum ini,
sebelumnya saya cuma bisa bikin puisi di subforum poetry dan instagram

mengutip aan mansyur dari bukunya yang jadi pecutan untuk saya menulis cerita ini,
tak ada cerita yang benar-benar fiksi, seperti tak ada cerita yang betul betul nyata.

mungkin format cerita sedikit berbeda,
tapi semoga menu dari yang berbeda ini tetap bisa dinikmati

Quote:
Warung Makan Langganan Emma
Emma: shit!
"Masa kecil, seburuk apapun, tetaplah sebuah keajaiban"

emoticon-heart
pertamax reserved ya gan emoticon-Smilie

Warung Makan Langganan Emma

AKU masih di kampus. Matahari baru hilang sejam yang lalu. Aku duduk sendiri di taman belakang yang selalu penuh orang orang yang tak rindu dengan rumah. Atau malah merindukan orang lain seperti yang aku rasakan sekarang.

Emma masih belum nampak di mana pun mataku mencarinya. Pesan singkatku dibalasnya setengah jam yang lalu. “sorry ya jer, bentar lagi kok” katanya membalas pesanku “masih lama, ma?”

Sudah 6 bulan aku semakin dekat dengan Emma teman dekat ku. Teman ku masih ada beberapa, tapi Emma yang paling sering menemani ku bercerita. Begitu pula sebaliknya. Emma suka bercerita tentang apapun yang sedang menjadi masalah di kepala atau di hatinya. Penyesalan adalah yang paling banyak ia ceritakan. Aku suka membantunya, atau sekedar mendengar keluhan-keluhannya tentang apapun. Aku sendiri paling suka bercerita tentang cita-cita. Aku terlalu tak sabar hidup di masa yang aku impikan itu. Bagiku cita–cita itu serius. Bukan sekedar mimpi retoris seorang seorang anak kecil, lalu lupa mau jadi apa dia waktu sudah besar.

Tapi sudah 2 minggu ini kami tak saling berbagi cerita. Perjumpaan kami di kampus hanya sekedar sapa basa basi. Kalau ada pun percapakan, hanya sekedar tanya jawab biasa. Mentah tak ada rasanya. Beberapa hari yang lalu aku mengajaknya makan malam di salah satu warung langganan kami selesai pulang dari kampus. Sekalian aku antar pulang seperti waktu awal-awal kuliah dulu. Aku tak perlu modus murah seperti yang banyak orang lakukan sekarang. Aku sampaikan kalau aku rindu dan ingin bertemu dengannya. Aku mau cerita, atau sebenarnya aku rindu mendengarkan ceritanya. Bagiku bercerita dengannya seperti bermain game bagi anak-anak lain seumuran. Kami menjajah bumi sesukanya dari sana. Awalnya dia menolak dan mengganti hari ke hari ini. Aku tak mau menolak. Aku terlalu mementingkan dia dan aku sendiri yang sudah kelewat rindu.

Dia tak kunjung datang padahal azan terakhir hari ini sudah berkumandang. Aku terlalu segan untuk menanyakan keberadaan dirinya. Aku memilih menunggu. Aku, dari kecil sampai sekarang, tak suka merepotkan orang. Menurutku, mementingkan aku lalu menunda semua urusan yang sedang ia kerjakan itu membuat ku merasa telah merepotkan dia.

Buku yang menemaniku semakin menunjukkan akhir cerita. Emma belum juga menunjukkan awal cerita malam ini.

Aku kembali mengirimkan pesanku, “ma..” kataku mengingatkan. Sudah jam 8.15 malam, mungkin ini waktu yang pas untuk mengingatkannya pikirku. “Jerriii sorry aku otw kesana, kamu dimananya”,“Aku masih di taman” jawabku. Sekali lagi aku masih harus menunggu.

“Jerii, sorry ya, tadi aku ga enak ninggalin adek kelas. Anak ukm seni. Dia minta saran buat gambarnya. Dia ikut lomba gitu.” Tanpa aku minta pun dia sudah menjelaskan dan minta maaf. Dari situ aku tau kalau dia benar-benar merasa bersalah. Kira kira dia datang 5 menit setelah pesan terakhir dikirmnya.

“Lah kukira kamu ada rapat.” Aku menebak-nebak saja sebenernya. Soalnya memang minggu depan ada sebuah acara kampus dan dia ikut jadi salah satu panitia. Itu alasan kenapa kami susah buat ketemuan 2 minggu ini.

“Iaa rapatnya udah siap dari jam 7.15, tapi ada anak itu tadi. Dia minta tolong ke aku habis rapat. Dia bilang deadline, besok harus dikumpul. Jadi ya aku bantu.” Anak itu tak salah orang, Emma hebat menggambar dan hebat membantu.

“Terus udah siap?”

“Belum sih, tapi lumayan lah. Paling tinggal ditambahin dikit sama dia. Aku udah kelaperan soalnya hehe.”

“Sama ma.”

“Sorry ya jer. Tadi dia juga ngajakin aku makan gitu.”

“Kok ga di ajak sekalian?”

“Males ah.” Jawab Emma, sambil naik ke atas motorku.

Tak sampai 10 menit dari kampus, kami sudah sampai di warung tepi jalan favorit kami. “Jer, mau pesen apa?”

“Ayam bakar sama teh obeng.” Sebutan orang di kota kami untuk es teh manis.

Setelah memesan makanan, Emma langsung membuka percakapan kami malam itu. Seperti biasa, dia selalu bercerita tentang keluh kesahnya. Aku tau dia lagi sibuk-sibuknya di organisasi. Jadi malam itu aku lebih banyak mendengarnya bercerita. Walau sebenarnya banyak yang mau aku ceritakan juga. Tapi waktu tak akan cukup untuk 2 cerita malam itu.

Emma seperti mengeluarkan semua yang sudah menumpuk di kepalanya selama ini. Menurutnya, karna aku juga pernah jadi panitia acara waktu semester 3 dulu, mungkin aku bisa memberikan beberapa masukan. Walau sebenarnya Emma tak butuh itu. Menurutku yang dia butuhkan sekarang hanyalah sepasang telinga yang mau mendengarkan dia bercerita tanpa merasa menjadi tempat sampah yang menampung semua yang ingin dibuang.

“Capek jer. Aku bingung gimana mau bilang ke Rahman. Dia keras kepala banget.” Aku tak tau itu pertanyaan atau bukan. Rahman adalah ketua panitia di acara itu. Emma merasa acara itu mulai tak sesuai dengan rencana awal. Sekarang, semua ikut mau ketua. Panitia lain seperti buruh serabutan yang mengerjakan semua hal, dan Rahman seperti presiden, tak mau tau.

Untuk kali ini aku tak tau mau menyarankan apa ke Emma. Aku cuma bisa menikmati mukanya yang lelah, dengan kantung mata yang semakin jelas terlihat.

“Paling tidak kau sudah lebih kurus sekarang.” Satu hal yang aku pelajari dari Emma. Dia sangat jago untuk merubah haluan pembicaraan seperti yang aku coba barusan. Jago maksudnya, tanpa sadar orang yang kita ajak bicara akan lupa dalam sekejap apa yang barusan ia persalahkan. Emma sering melakukan itu waktu aku mengeluhkan beberapa hal kepadanya.

“Ah masa?” Kata Emma dengan senyum malunya. Wanita mana yang tak terbang saat dibilang mengkurus?

“Kau tau ma. Kata orang, semua ada hikmahnya, itu benar. Paling tidak kau kurusan. Paling tidak kau jadi sering menyebut Tuhan waktu kau kelelahan dan tak tau mau berbuat apa. Paling tidak, malam ini kita makan malam yang sudah lama sekali aku angan-angankan. Kalau kau tak ikut acara itu, mungkin kita sudah pulang dari sore tadi”

Emma semakin malu, kali ini matanya tak berani melihat aku. Senyum kecilnya sekarang ia alihkan ke sebrang jalan yang sepi.

Makan malam kami tiba. Tak ada yang istimewa disana sebenarnya, kecuali Emma. Emma yang membuat ayam bakar disini enak. Emma yang membuat warung ini jadi langganan kami.


Emma: shit!

someday in emma's head
WAKTU aku ke kampus tadi siang, aku lupa bawa hape. Paginya sih aku charge di kamar. Terus aku ketiduran waktu nungguin kelas jam 1. Aku baru bangun jam 1 kurang 20 menit dan aku belum siap-siap. Aku telfon Jerry buat nebeng dia tapi ga diangkat. Aku telfon Ulfa, tapi katanya dia udah di kampus dari jam 12. Shit! Terpaksa aku naik ojek dan ga makan siang plus telat 15 menit. Mana dosennya pak Agus yang bawel banget pula. Aku dibilang ga niat kuliah karna telat dan rambutku yang masih acak-acakan waktu masuk kelas. Ya namanya aja buru-buru pak! Aku baru sadar hapeku tinggal waktu aku mau pulang terus mau minta nebeng sama Jerry. And shit happen again. Waktu aku telfon Jerry pake hape Tania, dia bilang mau latihan basket sampe malam. Ulfa juga masih ada rapat sampe malem. Ya udah deh aku gabut di kantin sampai Jerry siap latihan. Gabut, ga megang hape, ga bisa dengerin lagu, sendirian, nunggu, beeeeeeeeh boseeeen.

Jerry baru kelar jam 7.15. Dia datang pake nyengir-nyegir waktu ngeliat aku yang udah cemberut banget karna nungguin dia yang lama. “sorryyyyyy mbak-eeee” katanya sambil nyengar-nyengir. Aku minta dia minjem helm dulu ke pos satpam terus langsung anterin aku pulang.

Waktu aku sampai rumah, aku langsung ninggalin jerry. Ya bilang terimakasih dulu sih, tapi ga ku liatin sampe dia beneran pergi. Aku langsung masuk kamar sak kaus kaki yang masih kupake. Yang pertama ku cari ya hape. And my feeling was right. Ada banyak misscall dan wa dari Riko.

Aku telfon balik Riko dan dia ga ngejawab. Dia cuma nge-wa aku dan bilang “bentar” doang. Perasaan aku makin ga enak waktu aku baca wa-nya yang tadi siang. Dia ngirim “kamu kemana sih? Pasti sibuk sama jerry ya?” what the fuck? Aku tau Riko sering banget jealous dengan Jerry, tapi kali ini kayaknya ada yang beda. Soalnya baru kemaren Riko juga marah waktu tau aku pulang jam 10 malem sama Jerry. Padahal kami baru balik dari kampus karna ada kuliah umum jam 7 malem, dan hape ku mati jadi ga bisa ngabarin dia. Tapi Riko ga percaya.

Akhirnya Riiko nelfon aku dan dia nanyain aku yang dari mana aja. Dia kira aku habis jalan lagi sama si jerry. Padahal aku udah bilang kalau hapeku tinggal di kamar. Tapi dia tetep ga pernah percaya. Dia marah karna aku deket sama Jerry, yang padahal udah jadi temen aku dari smp! Ya aku marahin balik lah, aku bilang kalau aku ga suka dibentak apalagi alasannya juga ga jelas. Dan akhirnya riko mutusin aku. “kalo gini ya udah aku pikir kita putus aja ya, sorry emma. Bye” katanya terus langsung nutup telfon ku. Aku ga nangis. Aku marah. Aku marah se marah-marahnya sampe hapeku mau aku banting, tapi ga jadi. Setebel-tebelnya case hp kalo di banting ya rusak jua. Aku diem sebentar, tarik napas, and then baru deh aku nangis. Aku sadar udah jam 1 malem waktu aku aku liat jam di dapur buat cari makan. Rupanya nangis itu bikin laper juga! Kalau ada yang bilang galau itu bikin ga nafsu makan,hmm thats not work for me dude.

Aku ga bisa tidur, aku ambil lagi hapeku dan ngeliat-liat story instagram terus tau kalo si Riko lagi di cafe dengan temen ceweknya. taik! Jadi dari tadi aku nangisin dia itu buat apa? Kayaknya waktu dia marah karna aku jalan sama Jerry itu, cuma alesan aja buat nyari-nyari kesalahan aku. Paling juga dia udah ketemu cewe baru disana. Shit!

"Masa kecil, seburuk apapun, tetaplah sebuah keajaiban"

Aku tak berminat untuk kembali ke masa kecil seperti yang banyak orang damba-dambakan sekarang. Antara masa kecilku yang kurang bahagia, atau mereka yang tak punya harapan di masa depannya. Waktu itu aku masih kelas 4 sd, kira-kira jam 8 malam di suatu hari selasa, aku meminta ayah dan ibuku untuk mengajakku keluar rumah karna aku tak tau mau melakukan apa lagi selain belajar. Kami pergi tak terlalu lama, membeli jus alpokat, lalu keliling kota. Saking senangnya, aku masih ingat hal sesederhana itu sampai sekarang. Teman ku tak sampai 5 orang dan hanya bertemu sampai sebelum azan maghrib. Sebagai anak yang sudah lebih bebas sekarang, kenapa aku harus kembali ke masa-masa itu? Aku masih main gamebox sampai tamat smp, yang ibuku belikan sebagai hadiah juara waktu aku kelas 3sd. Waktu itu kawan-kawanku sudah punya motor padahal mereka tak melakukan apa-apa. Aku masih main mario bross, duck hunt, contra, dan sebangsanya saat teman-temanku mulai kecanduan balap liar, minuman keras, sampai seks bebas.

Ayahku pernah membelikan piano yamaha kecil sebagai hadiah lebaran waktu kelas 2 sd dan masih ku pakai sampai sekarang. Aku dihadiahkan 2 komik one piece dan sebuha rubiks cube waktu masuk smp. Aku dihadiahkan sebuah jaket waktu masuk sma. Semua masih kupakai sekarang. Waktu aku ulang tahun ke 17, aku minta makan malam di restoran padang disaat teman-temanku merayakan dengan clubbing.

Aku baru selesai baca buku Aan Mansyur. Disana tertulis "masa kecil, seburuk apapun, tetaplah sebuah keajaiban", lalu aku kepikiran untuk menulis ini

Story of Muel

NAMAKU Reza. Waktu SMK aku masuk tim basket sekolah dan ikut beberapa kejuaraan walau tak pernah sampai juara. Basket tak sepopuler olahraga lain seperti futsal atau bahkan game online yang sekarang juga sudah dianggap olahraga. Tim kami tak sampai 10 orang, dan salah satunya Samuel.

Samuel satu jurusan denganku, tetapi masih 1 tahun dibawah ku dan hanya memanggil ku abang waktu pertama kali dia datang latihan. Malah tak jarang ikut memanggilku dengan panggilan yang hanya digunakan kawan-kawan sekelasku. Aku tak pernah jengkel apalagi marah. Aku belum pernah melihat ada orang yang marah dengan dia. Mungkin karna dia yang hobi tertawa dan tersenyum, bahkan di waktu dia tertimpa kesialan sekalipun.

2 tahun setelah aku lulus sekolah, aku bertemu lagi dengannya di tepian sebuah kolam berenang. Dia masih menyapaku dengan panggilan itu, “beruk”, sesaat setelah menyadari telah menemukan aku secara tak sengaja, lalu kami bertukar pertanyaan khas kawan lama yang lama tak jumpa.

“Kemana saja kau” kataku waktu itu. Aku tak tau kalau dia lanjut kuliah di salah satu univ swasta di kotaku sampai dia membertahukannya sore itu. Keputusan yang tak bisa aku pahami. Kampusku negeri, terlihat lebih bagus, dan anak-anak sekolahku dulu juga banyak yang lanjut di kampus ini.

Dia menjelaskan singkat “disini banyak yang sudah kerja, mana tau aku juga bisa cepat dapat kerja”

“lah kok gitu? kok kau ga pd dengan dirimu sendiri”

“hahaha bukan gitu maksudnya”

“emang kau mau jadi apa? Kau harus ada cita-citalah”

“hmm, aku cuma pingin hidup tenang”

Sesaat kemudian, aku merasa tak yakin tentang pertanyaan aku sebelumnya sampai aku merubah arah pembicaraan kami. “ya terserahmu lah, kapan ke kampusku, kita main basket lagi. Yang main di kampus juga orang-orang kita dulu”

“hahaha aman” katanya sambil tak lupa tertawa. Hanya saja, sampai sekarang kami belum sempat main basket lagi. Setahun yang lalu hari ini, dia meninggal meninggalkan cita-cita paling indah yang pernah aku dengar itu.

Pemakamannya ramai (sangat ramai) dan menyedihkan, dan kebetulan tak jauh dari lokasi kecelakaan dia di malam sebelumnya. Dan entah kenapa aku iri melihat pemandangan sore itu-aku iri melihat keramaian orang-orang yang kehilangan dia dan berberapa hal lain. “alangkah senangnya kau muel, cita-citamu pasti sudah terkabul sekarang” kataku waktu itu.

Kacamata Emma pt1 – Story of Emma

“Hai” sapaku.

Kemudian Emma hanya membalas dengan tersenyum tipis meski tetap terasa manis.

Pagi itu, aku datang menghampiri Emma yang duduk sendiri di salah satu kursi kantin, yang seolah memang dipersiapkan khusus untuknya. Dia memilih sebuah kursi ungu di antara banyak kursi kosong lain berwarna-warni lebih cerah, kontras dengan wajah pagi yang mendung abu-abu gelap.

Aku tau ada yang beda dengan Emma. Ini pertama kalinya aku melihihat Emma memesan secangkir kopi hitam, dan waktu itu sudah setengah dihabiskan. Mungkin ia tak cukup tidur tadi malam. Terlihat dari bengkak hitam di bawah matanya, yang ia coba tutupi dengan sebuah kacamata yang pertama kali pula aku lihat dipakainya.

Kacamata itu berbingkai hitam. Aku tak tau dengan ukuran lensa yang duduk di sana. Bingkainya sedikit membulat dan serasi dengan wajah Emma yang menurutku akan cocok dengan apapun model kacamata yang mau dipakainya. Ia akan tetap cantik, tak peduli kacamata apa yang menghalangi parasnya itu.

“Nanti mau pulang bareng?” Tawarku. Aku spontan saja menawarkannya sesuatu, seolah reflek saat melihatnya yang seperti sedang menanggung sedih begitu besar.

“Liat nanti ya” Jawabnya.

“Kacamatamu bagus” Kataku untuk kembali mencoba menghiburnya.

“Ngejek? Makasih” Jawabnya dingin. Mukanya berubah seperti tersinggung atau apa aku tak tau.

“Ngga. Aku serius. Kau cocok dengan kacamata itu” jawabku.

Tapi Emma tak berubah dengan sikapnya yang masih dingin. Kemudian seperti mengabaikanku yang dari tadi hanya bisa diam tak tau lagi apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya.

Kemudian aku meninggalkan Emma untuk kembali sendiri karna masih ada kuliah yang harus aku ambil. Waktu aku meminta pamit, Emma hanya melihatku dengan tatapannya yang terasa kosong. Ntah itu ekspresi sedih atau marah, aku kembali tak tau.

Kuliahku selesai lebih cepat dari kuliah Emma hari itu. Baru jam 3 dan jadwal Emma selesai jam setengah 5 sore. “Aku tunggu di kantin”, aku mengirim sebuah pesan elektronik ke Emma berharap dia datang dan mungkin bisa cerita tentang apa yang sedang membebaninya begitu berat.

Dan jam 5 pun kemudian datang, sialnya tak membawa Emma ikut serta.

“lihat Emma?” tanyaku ke Gita, teman sekelasnya yang baru saja sampai di kantin.

“udah pulang dari jam 12 gitu Jer, selesai kuliah ke dua tadi”

“loh kalian bukannya baru selesai sore ini?”

“ia, Ini kan aku baru keluar kelas. Kebetulan tadi dia nitip absen ke aku buat kuliah sore, katanya dia ga enak badan gitu terus mau pulang” jelas Gita.

Kacamata Emma pt2 – Story of Emma

2 hari kemudian aku kembali melihat Emma di kantin, masih dengan kacamata yang sama namun tanpa kopi hitam yang ikut dengannya. Hanya sebungkus makanan ringan dan ponsel yang digenggamnya tak begitu erat. Dengan rasa penasaran yang masih ada, aku kembali menganggu Emma di kesunyian yang sedang dinikmatinya.

“Emma” panggilku. Dia melihatku datang kemudian tersenyum lebih baik dari hari kemarin itu.

“hai jer” sapanya.

Siang itu jelas Emma terlihat jauh lebih baik. Dia minta maaf tentang perihal tempo hari. Katanya, dia sudah ketiduran di kamarnya dan tak tau kalau aku sedang menunggunya di kantin. Dia pulang lebih awal karna merasa tak enak badan. Dia juga tak masuk kuliah hari esoknya. Hari ini karna sudah merasa lebih baik dia memilih kuliah seperti biasa.

“sakit apa?” tanyaku serius.

“sakit hati, hahaha” jawabnya sambil tertawa kecil. Mungkin memang ada yang ia sembunyikan, tapi aku tak mau terlalu tau sampai harus mengganggu dia yang baru saja sembuh ini.



Semakin lama Emma jelas semakin terasa berubah. Emma yang awalnya memang pendiam, terasa semakin pendiam juga penyendiri sekarang. Dia sudah jarang terlihat bersama dengan teman-teman sekelasnya, kalau tidak sedang mengerjakan tugas kelompok. Dia lebih suka duduk sendiri di bawah pohon-pohon rindang di taman kampus, atau di dalam perpustakaan tempat dia menghabiskan banyak waktu membaca buku-buku cerita sambil menunggu jam kuliah yang sedang kosong. Dia juga tak ikut apapun lagi kegiatan organisasi. Dan kacamata sudah jadi identitasnya sekarang.

Aku sendiri masih dekat dengannya, beberapa kali kami masih sempat makan siang bersama juga dengan beberapa teman yang lain. Tapi Emma tak pernah mau cerita tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi dengannya. Dia hanya mengelak, kadang menjawab dengan tawa semua pertanyaan yang kami minta serius dijawabnya.

Menurut Habibi, adik Emma, sekarang Emma lebih suka menghabiskan hari di dalam kamar. Tak seperti dulu, saat masih sering kumpul bersama mama atau adiknya. Emma yang sekarang juga punya hobi baru, kata Habibi. Dia suka membaca buku-buku cerita atau sastra. Emma memang pernah menanyakan tentang buku yang sedang aku baca akhir-akhir ini, tapi sejujurnya aku tak tau apa yang Emma maksud. Maksudku, kalau memang dia suka baca buku sekarang, kenapa tak langsung saja pinjam buku yang aku punya?

Aku sempat menanyakan kondisi Emma ke Gita beberapa hari lalu. Katanya, Emma memang akhir-akhir ini mulai jarang ikut kumpul dengan teman sekelasnya seperti waktu-waktu dulu. Dan Emma juga tak pernah cerita apapun tentang apa yang sedang membebani hidupnya sekarang. Yang Gita jelas sadari adalah, kadang nampak olehnya mata Emma yang bengkak, yang coba dia tutupi dengan bingkai kacamatanya. Mungkin memang itu tujuan Emma memakai kacamata sekarang, ada sesuatu yang ia coba sembunyikan dari matanya. Mungkin memang dia sering menangis sekarang? Mungkin saja. Tapi kenapa?