alexa-tracking

METAMORFOSIS LUPHUS

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58cd2dad54c07a30678b456a/metamorfosis-luphus
Love 
METAMORFOSIS LUPHUS - SEMUA KARENA PATAH HATI [ GADIS SERIGALA 'TAMAT' ]
-Metamorfosis Luphus adalah cerita tentang pengalaman seorang remaja dalam mencari jati dirinya dari mulai pertemuan dengan kumpulan mahluk absurd bernama ABas yang berubah menjadi sebuah keluarga sampai bertemu dengan 'Gadis Serigala' & 'Bayi Bebek' semua ada di dalam cerita ini-


METAMORFOSIS LUPHUS


Nama gue Luphus (itu nama asli lo? Nanti akan gue ceritain kenapa gue bisa dipanggil Luphus).
Disini gue ingin berbagi cerita ke kalian tentang METAMORFOSIS LUPHUS. Secara garis besar, cerita ini berisi tentang pengalaman gue bersama sahabat dan pacar, eh sebentar, kok pacar sih? Mantan lebih tepatnya he he he.

Spoiler for p.s:


Gue dedikasikan cerita ini untuk sahabat & mantan gue. Tanpa mereka, mungkin gue tidak akan sadar bahwa patah hati yang selama ini menjadi momok menakutkan buat gue, justru malah menjadi kenangan manis yang mengubah gue hingga menjadi seseorang yang kalian sebut dengan Luphus ini. Tanpa banyak basa - basi dan cipika - cipiki, this is it, METAMORFOSIS LUPHUS.


METAMORFOSIS LUPHUS
.

Quote:


Spoiler for Part 1 : Pertemuan Dengan MEREKA:
Pertamax

Edit tar kalo ada part 2
Part 2

Memang sih pada awalnya, gue sama sekali engga ada niatan sedikitpun untuk main basket, apalagi dengan keadaan cuaca yang sangat terik waktu itu semakin menghilangkan niat gue. Tapi entah kenapa, jadinya malah gue yang paling semangat main. Mungkin faktor main bareng mereka lah, yang membuat gue jadi semangat, padahal saat itu gue belum terlalu bisa sama basket. Begitupun dengan mereka, yang kami lakukan saat itu hanya dribble - dribble engga jelas dan tembakan ke arah ring yang dilakukan secara ngawur, tapi saat itu kami tetap menikmatinya.

Quote:


Hari ini menjadi awal bergantinya julukan gue dari 'Si Anak Malas Dari Meja Belakang' berganti menjadi julukan yang lebih baik lagi, yaitu 'Si Tampan Yang Doyan Basket'. Sungguh julukan yang sangat cocok untuk gue. Dengan badan mengkilap penuh keringat, gue kembali ke kelas dan mengambil tas gue untuk pulang. Waktu gue kembali ke kelas, gue menjadi perhatian seisi kelas karena hari itu gue terlihat mirip dengan anak dari Nigeria.

Dengan badan yang lemes, gue berjalan dengan malas menuju pintu keluar. Karena saat itu gue jarang berolahraga gue jadi ngerasa sangat kecapekan, sampai - sampai gue tidak mendengar ada seseorang yang berteriak dari belakang gue dan DER! Terjadilah tabrakan yang mengakibatkan gue terkapar di lantai di depan ruang tamu sekolah. Gue langsung buru - buru bangun dan ingin segera menghardik orang kampret yang berani menabrak gue ini. Tapi niat untuk memarahi itu menghilang setelah gue melihat wajah orang yang menabrak gue. Serius men. Dia cantik banget!!

Quote:


Cewe itu lumayan tinggi untuk seorang cewek. Dengan kulitnya yang putih, kacamatanya yang bulat dan rambutnya yang terurai, dia sangat cocok apabila menjadi milik gue. Tapi setelah gue berpikir - pikir lagi tentang sifatnya, sepertinya engga jadi deh!

Sesampainya di rumah, gue langsung tergeletak diatas kasur. Gue tidur dengan nyenyak hingga adek gue datang dan membangunkan gue dengan cara yang tidak lazim yaitu dijepret karet.

Quote:


SKIP KE LUSA.


Pagi itu alarm yang gue set untuk membangunkan gue jam tujuh pagi, sukses untuk membuat ricuh satu rumah. Sepatu? Udah. Minum? Udah. Baju ganti? Udah. Tinggal minta izin sama duit ke orang tua yang belum.

Quote:


Hari itu gue ingat betul bagaimana panasnya bisa menembus jaket gue dan pintarnya lagi, saat itu gue memakai jaket berwarna hitam. Begitu gue sampai disana, gue sudah berkeringat terlebih dulu sebelum main. Tapi ada yang aneh, gue sama sekali tidak melihat mereka. Kampret! Padahal, kemarin mereka sendiri yang bikin janji mau main jam tujuh, tapi sekarang mereka dimana?

Quote:


Masih dengan orang yang sama yaitu : Garin, Kevin, Bobby dan Naufal. Tapi kali ini ada tambahan pasukan, yaitu :
Juple. Doi ini temen sekelas gue. Si ganteng ini merupakan mantan model yang sudah berhasil membuat wanita – wanita kesepian jatuh hati. Rambutnya selalu tampil klimis seperti lantai yang baru dipel.

Setya. Si gendut ini juga temen sekelas gue. Karir percintaan dia tidak begitu bagus, karena dari awal masuk sekolah dia masih kena Friendzone, lumayan lah kalo main disitu nanti tiketnya bisa dituker sama kapal pesiar. *beda woy!

Kat-chan. Kita udah temenan dari jaman gue sama dia masih suka meper – meperin ingus ditembok. Suaranya mampu menghipnotis para wanita, tapi entah kenapa sampai sekarang dia memilih untuk menekuni dunia Per-jomblo-an.

Yono. Para wanita harus berhati – hati dengan Yono. Selain penembak 3pt yang jitu, doi juga penembak hati para wanita kesepian,

Rafi. Sama seperti gue dan Kat-chan, kita sudah berteman sejak kita sering nongkrong di perosotan. Buku kumpulan soal – soal UN engga ada apa – apanya sama tebel kacamatanya.
Panas matahari saat itu bukan jadi penghalang buat kami, anak – anak yang kelewat polos dan nantinya ketika mereka tumbu dewasa, mereka akan menyesal telah bermain dibawah terik matahari yang mengubah mereka dari Edward Cullen menjadi Morgan Freeman.
Lanjut gan cerita basket'y emoticon-Bola
sunat pake hipnotis, baru tau ane

biasanya bius otong model semprot emoticon-Big Grin
Part 3


Quote:


Tanpa perlu berlama - lama, kalo kelamaan takutnya perut gue Gue langsung duduk lalu memesan makan dengan cepat & tepat. *ini mau mesen makanan apa ngejawab soal ujian sih?!

Quote:


Sambil menunggu datangnya mie ayam, kami banyak bercerita tentang keadan sekolah hingga sampai ke titik…..

Quote:


Kalau bukan gara - gara ABas (kumpulan anak kampret yang doyan main basket dimana gue jadi anggota yang paling kece di antara mereka) gue sekarang engga bakalan mengalami kecapekan seperti ini, tapi itu semua tidak ada apa - apanya dengan memori indah yang kini sudah terlukis di otak gue.

Sepulang dari main basket sama mereka, gue langsung mengambrukan diri di kamar atas, gue berharap agar bisa tertidur dengan pulas. Suara ribut - ribut yangada dibawah membangunkan gue dengan paksa. Kalo udah sampe ribut - ribut pasti Nyokap ketemu sama temennya nih.

Quote:


Saking ngantuknya cuma bagian itu aja yang gue denger. DAK! Kaki gue di injek entah oleh siapa. Gue kontan menjerit, mata gue langsung melek seutuhnya. Gue mencoba menerka siapa yang berani menginjak kaki gue.

Quote:


Gue reflek langsung ngelap mulut gue, tapi ternyata gue dibohongi. Teganya kau membohongi ku dengan parasmu nona manis? Tapi kok gue agak familiar sama mukanya ya….

Quote:


Kenapa harus pake acara nemenin si kampret ini sih, tapi cantik jadi gimana dong? Aduh gue harus seneng apa sedih ini sih?! *gue mencoba bertanya pada cermin ajaib*
Kita diem – dieman hampir 5 menit, gue engga peduli dia mau kayang, koprol, kayang sambil koprol pun gue tetep engga bakalan peduli. Tapi, sodoran tangannya tiba – tiba muncul di hadapan gue, memecahkan kesunyian yang ada diantara kita berdua.

Quote:


Awalnya gue berpikir bahwa dia ini tipikal anak sekolahan yang sok – sokan cantik lalu bertingkah layaknya gadis idola sekolah, tapi ternyata dia memang sepenuhnya cocok untuk jadi gadis idola sekolah dan akan lebih cocok kalo jadi milik gue sepertinya. Kita malah jadi keasikan ngobrol hingga akhirnya gue memberanikan diri untuk mengajaknya pergi atau isitilah lainnya date.

Quote:


Sebelum dia balik, kami sempat bertukar nomer hape. Sekarang gue tau julukan apa yang harus gue pakai, yaitu "Penakluk Hati Wanita".
Quote:

Siap gan! emoticon-Toast

Quote:


Di daerah ane dulu ada gan, engga tau sekarang masih ada apa engga emoticon-Ngakak
Keesokan harinya gue inget banget kalo gue bangun lebih cepat dari biasanya, apalagi alesannya kalo bukan buat siap - siap ketemu Eriska. Gue langsung menenteng handuk ke kamar mandi. Hari itu merupakan kemajuan untuk gue yang biasanya jarang mandi ketika liburan. Gue engga mau kalo first date kali ini harus berakhir dengan Eriska pingsan di tengah jalan. Gue engga mau kalo nantinya gue dan Eriska harus keliling Purwokerto pake ambulans.

Sekarang yang harus gue lakukan adalah menunggu sms dari dia. Gue merebahkan badan di sofa sambil menggonta - ganti channel tv. Hape gue yang tiba - tiba bergetar membuat gue jadi seneng banget karena gue kira itu sms dari Eriska, tapi perasaan seneng itu berubah menjadi perasaan ingin mematahkan badan Kevin karena gue malah dapet sms dari si empal gentong itu. Gue tau kalo gue itu tipe cowo yang ngangenin tapi jangan cowo juga yang kangen sama gue. *digaplok perutnya Kevin*

Beberapa menit kemudian, hape gue kembali bergetar, ‘ah palingan juga dari Kevin lagi’ batin gue. Awalnya sih masih gue biarin, tapi lama kelamaan gue malah jadi kesel sendiri. Akhirnya gue buka hape gue dan TERNYATA ITU SMS DARI ERISKA.

Quote:


Lo semua mungkin nganggep gue sedikit berlebihan tapi percaya deh sama gue, lo kalo ada di posisi gue pasti juga akan ngelakuin hal yang sama. Gue berangkat lebih awal dari waktu kita janjian, itulah salah satu bentuk pencitraan gue, sok - sokan on time, padahal kalo sama temen sendiri gue yang paling akhir berangkatnya. Begitu gue sudah ada di depan pintu gerbang, gue masih belum melihat Eriska. Kampret! Siang itu gue malah pake pakaian serba item, kalo gini caranya pulang - pulang Nyokap bisa engga ngenalin gue.


Quote:


Gue langsung menoleh ke belakang. Men! Dia bener - bener tampil natural, cantik banget! Apalagi dengan perpaduan kaus belang hitam dan putih, kacamatnya yang lucu dan rambutnya yang terurai. Dengan ini, semua rasa kesal gue mendadak lenyap.

Quote:


Siang itu gue pacu motor menuju tempat - tempat yang menurut gue cocok untuk anak muda yang kelewat gaul seperti gue. Dari semua tempat yang gue pilih, semuanya mendapat nilai sempurna berupa senyuman manisnya yang mampu menyejukkan hati gue, bahkan gue masih ingat bagaimana senyuman pertamanya mampu membekas dengan sempurna di benak gue.

Hari itu jadi semakin lengkap karena malemnya Eriska ngajak gue buat main di tempat eyangnya. Sejak gue mulai duduk di teras, gue langsung disibukkan dengan puluhan sms yang masuk ke hape gue. Eriska yang daritadi sedang berkutat dengan gitarnya, mulai penasaran dengan hal seperti apa yang membuat gue terus - terusan menatap layar hape.

Quote:


Gue sangat menikmati malam itu, seakan malam berlalu dengan lambat seiring dengan senandung kami di malam itu, seolah alam ingin kami untuk bersama lebih lama lagi.
Part 5


Gara - gara gue kemaren "main bareng" sama Eriska sampe malem, paginya gue bangun kesiangan. Hari itu gue beruntung karena tidak ada jadwal upacara pagi sehingga gue tidak perlu berebut topi dengan teman - teman gue di kelas. Untung gue sampe sekolah sebelum Pak Mamat mengunci gerbang sekolah.

Begitu gue sampai di depan pintu kelas, gue langsung ditondg pertanyaan sama Juple.

Quote:


HORE!! Paket komplit siap menghadang di depan mata. Kacau! Kenapa gue bisa sampe lupa kalo punya PR seabrek – abrek gini? Gue yang masih dalam keadan panik di kursi belakang, tiba – tiba dikagetkan dengan suasana kelas yang tiba - tiba berubah menjadi hening. Dan yang paling tidak gue tungu - tunggu hari ini pun datang, guru fisika tersebut sudah siap untuk mencari mangsa baru.

Quote:


Sudah jadi rahasia umum buat anak - anak yang dikeluarkan dari kelas sampai yang minggat dari kelas, pasti memilih perpustakan sebagai tempat evakuasi sementara mereka. Bukan karena mau dibilang 'gabut berfaedah', cuma disini lah tempat yang cocok untuk menghibur diri, apalagi buat gue yang doyan banget sama komik dan disini adem banget.

Entah saat itu gue dapet ide darimana, tiba - tiba gue kepikiran buat ngegodain Eriska. Err...bukan ngegodain juga sih namanya, lebih kearah ngajak ngobrol dia.

Quote:


Lah. Lah. Lah. Kenapa jadi dia yang ngambek? Kan aturannya yang harus ngambek gue.

Quote:


Lima menit berlalu dan gue tak kunjung mendapatkan balasan.

Quote:


Gokil! Belajar dimana ini anak soal ilmu mata – mata, perasaan Detektif Conan engga buka cabang di Indonesia.

Quote:


Kami lanjut chatting sampai bel istirahat berbunyi. Beban pikiran gue karena dikeluarin dari kelas jadi sedikit berkurang. Makasih ya Ris! Hari yang kacau ini dimulai dengan dikeluarkan dari kelas dan begitu gue pergi ke kantin, gue kena ledek sama anak – anak kelas.

Quote:


Seribanya kami di depan warung kantin, kami langsung memesan makanan. Lalu dimulai lah kebingungan yang selalu hadir setiap istirahat : mau duduk dimana kita? Gue kadang suka heran sama kantin di sekolah gue ini. Walaupun kantinnya udah luas banget, kenapa masih harus kena macet juga sih?! Ini gara - gara banyak yang ngebet makan di kantin, termasuk gue. Salah satu alasan yang jadi 'alasan sejuta umat' adalah : sambil makan, mari kita cuci mata.

Quote:


Gue dan Garin menghampiri mereka yang sedang sibuk membahas tempat baru untuk kami main basket di lain waktu. Sebenernya sih engga ada masalah dengan lapangan yang lama, cuma kami butuh lingkungan yang baru. Mirip - mirip dikit sama anak muda yang suka gonta - ganti pacar kalo udah bosen, mungkin mereka pikir nyari pacar itu segampang nyari ikan cupang di Samudra Atlantik.

Quote:


Beda dengan Eriska, kalo doi ngambek bikin gemes kalo Kevin ngambek bikin gumoh.
Inilah Habis Gelap, Terbitlah Terang versi gue. Selalu ada bahagia di setiap duka yang ada, seperti Eriska yang hadir di hari buruk gue waktu itu.
Part 6


Hari itu setelah kejadian gue disuruh keluar dari kelas, semuanya kembali berjalan normal seperti biasa. Dalam rangka Ujian Nasional, sekolah gue meliburkan anak - anak kelas dua dan satu. Gue dan anak - anak ABas berpikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk kami menghitamkan kulit secara berjamaah.


-----


Hari itu adalah hari pertama dari liburan yang gue dapatkan. Sesuai dengan apa yang telah gue rencanakan bareng ABas, kami akan main di lapangan yang baru. Setelah gue menyiapkan semuanya, sekarang yang harus gue lakukan adalah menunggu anak - anak kampret itu berangkat lebih dulu. Ini merupakan salah satu tabiat buruk gue yaitu gue baru akan berangkat setelah ada 5 anak sudah berada di tempat janjian sehingga gue tidak-merasa-jomblo-banget.

Ditengah kegabutan gue menunggu mereka, gue memilih untuk tiduran di sofa sambil membaca beberapa komik. Hape gue yang daritadi terus bergetar, mulai menganggu konsentrasi gue ketika membaca komik yang sedang gue coba habiskan.

Quote:


Setelah gue menerima sms dari Garin, gue langsung membayangkan akan jadi seperti apa membosankannya menunggu anak - anak yang lain jika gue berangkat sekarang, apalagi harus menunggu bareng Garin, itu pasti akan sangat menyiksa batin gue. Membayangkannya saja gue tidak kuat.

Quote:


Sent. Send


Apakah setelah menjawab begitu gue beneran berangkat? Jawabannya tidak! Ha ha ha ha. Selamat menunggu sambil panas - panasan Tuan Kepala Telor.

Gara - gara keasyikan ngulet sampe hampir berubah jadi kepompong, gue hampir lupa kalo gue udah terlanjur ngomong otw ke anak - anak. Hape gue kembali bergetar, tapi kali ini getarnya panjang karena Garin langsung menelepon gue. Kampret! Dia udah mulai kangen sama gue kayaknya.

Quote:


Entah kenapa gue merasa ada yang kurang dari hari itu, gue merasa ada yang hilang dari hari pertama gue bermain bersama mereka. Dan entah kenapa, Eriska lebih melekat dibenak gue. Mungkin karena Eriska lebih enak dipandang daripada Garin yang lebih enak ditendang.

Begitu gue sampe di SPBU, gue langsung diberondong pertanyaan oleh si-kampret-tapi-tetep-aja-kampret a.k.a Garin. Si kampret ini gue rasa bakalan cocok kalo jadi host acara gosip. Dengan mulutnya yang tiada hentinya nyiyiran orang, rating untuk acara gosip tersebut bisa gue pastikan tinggi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan kalo Garin akan memenangkan penghargaan sebagai Orang Ternyinyir se-Indonesia.

Oh iya! Gue hampir lupa mau ngenalin anggota baru ABas.

Anto. Doi ini yang jadi Mentri Perekonomian ABas, badannya yang besar ditambah potongan rambutnya yang bros, menjadikan Anto terlihat seperti paspamres yang obesitas .

Lalu ada Benny, doi punya julukan ‘Bule Kanada’ gara - gara waktu kecil dia besar di Kanada, dia ini tipikal orang yang kalem di dunia nyata tapi berisik di dunia maya.

Gue merasa telah ditipu oleh si kampret Garin itu. Karena sejauh mata memandang baru ada beberapa anak dan bahkan ini belum setengahnya.

Quote:


Setelah menunggu agak lama dan tentu saja gue harus terus mendengarkan bacotan si kampret Garin itu, akhirnya anak - anak telah datang semua. Kami semua langsung pergi menuju lapangan yang baru dengan petunujk dari Kevin.

Begitu kaki gue menginjak lapangan ini, yang ada dipikran gue dan pastinya ada dipikiran mereka juga adalah : akan jadi sehitam apa kami selama beberapa hari ke depan? Lapangan ini bener - bener kosong, dalam artian lain : engga ada tempat buat neduh. Gue yakin setelah dari sini kami tidak lagi dipanggil sebagai ‘Anak Basket’ melainkan ‘Anak – anak Zimbabwe’.

Seperti apa yang sudah bisa gue tebak, hari itu secara perlahan kami mulai menghitam, tapi kami tidak menyesal, justru kami senang, karena dari sini lah, semua momen indah kami dimulai, semua kenangan yang nantinya akan kami rindukan dan (sedikit) kami sesalkan karena kami berubah menjadi arang berjalan. Begitu kami selesai bermain dan bersiap untuk pulang, tiba - tiba dari belakang Garin, ada suara - suara yang menakutkan.

Quote:


Gue langsung mandi begitu sampai di rumah dan langsung mengambrukan diri di kasur setelah mandi. Tak lupa hape gue yang selalu setia menemani gue kemanapun, tidak luput dari genggaman gue. Tinggal sedikit lagi rasanya gue terlelap, tapi hape gue mendadak bergetar.

Quote:


Gue langsung pusing palawija begitu gue melihat isi sms tersebut. Kenapa doi harus balik cepet banget? Baru juga kenal beberapa hari, mana belum gue tembak lagi. Ugh! Gue bener - bener pusing saat itu.
kenalan sama eriska lempeng amat, dan doi langsung mau diajak jalan.

tapi pelan2 gan TS jangan lgs frontal ntar malah mental emoticon-Big Grin
Quote:


Ada alesannya kok gan kenapa dia mau langsung diajak jalan emoticon-Big Grin

Tungguin di part selajutnya gan emoticon-Angkat Beer
jejakk
Mejeng heula !!!
Jangan keseringan ngasih kentang ee
Izin deprok dimari gan
Semangat update gan
Part 7


Sehari sebelum Eriska pulang ke Jogja, gue menyempatkan diri untuk mengajaknya pergi bersama. Hanya sekedar jalan - jalan untuk memberikannya kenangan tentang kota ini dan tentang gue. Tapi ada yang aneh dengan Eriska pada hari itu, gue bisa merasakan kalau dia bukan Eriska yang gue kenal. Dia yang tadinya adalah seorang yang cukup riap bahkan lebih ke annoying sebenernya tapi sekarang beda, dia cuma diam membisu.

Bahkan diamnya masih terus berlangsung meskipun gue udah membawanya ke cafe yang dulu sempat gue datangi bersama dia.

Quote:


Lalu ada keheningan sebentar.

Tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung menarik tangan gue ke motor.

Ada apa dengan gadis ini? Gue bener - bener dibuat penasaran sama dia. Gue mencoba mencuri - curi pandang ketika kami sudah berada diatas motor. Tatapannya benar - benar datar. Ini bukan Eriska yang gue kenal, ini bukan dia!

Diapun masih terus diam meskipun kami sudah kembali ke rumah eyangnya. Dia hanya mengucapkan kalimat, 'kamu tunggu disini.' Hanya itu yang dia katakan ke gue, setelah itu dia masuk ke dalam, entah apa yang akan dia lakukan. Saat itu gue menunggu di teras rumah, atau lebih detailnya lagi gue duduk di lantai teras. Tiba - tiba dipikran gue terbesit untuk melakukan suatu hal yang cukup absurd, yaitu guling - guling di lantai a.k.a ngulet dengan brutal. Aaahh! Gue bisa merasakan betapa dinginnya lantai teras ini.

Ada dua hal yang membuat gue melakukan hal absurd ini :

Quote:


Eriska keluar dari dalam rumah. Dia berganti pakaian dan menenteng gitar akustik dengan sedikit motif disana.

Quote:


Dia mendadak menjadi diam lagi. Ini sebernya dia lagi kenapa sih? PMS-nya macet apa gimana?

Gue berniat untuk menanyakan itu tapi gue urungkan setelah gue melihat dia sedang menatap jalan di depan rumah. Sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang tetapi dia masih terus memandangi jalan itu. Beberapa menit setelah itu, dia menatap gue sebentar lalu menunduk.

Quote:


Gue berada di posisi yang membuat gue salah tingkah. Mau meluk dia tapi gue baru sadar kalo gue cowo, gue takut kalo nanti ada warga yang lewat terus dia teriak - teriak dan gue harus berakhir diarak warga dengan keadaan telanjang bulat. Akhirnya gue dengan ragu - ragu mendekati dia tapi gue bingung, apa yang harus gue lakukan nih?! Mama tolong anakmu ini kebingungan.

Dia langsung menyendarkan dirinya ke badan pundak gue, dia masih tetap menangis semenatar gue panik takut ada warga yang liat. Gimana gue engga panik coba? Saat itu gue masih anak SMP kelas dua yang udah akil balig. Umur sunat gue aja baru dua tahun pada saat hari itu. Bayangkan kao gue harus keliling desa cuma pake sempak?! Horor banget!

Quote:


Semua pikiran absurd gue tiba - tiba hilang, gue beranikan diri untuk mengusap rambutnya. Gue bener - bener ikut sedih ngeliat cewe secantik Eriska nangis. Di depan gue, dia sama sekali tidak menunjukkan kesedihannya. Yang gue tau hanyalah, dia gadis periang.

Kalo ada orang yang bilang kalo perempuan adalah yang terkuat, gue pun setuju dengan omongan itu. Karena mereka sanggup menyembunyikan perasaaan sedih mereka di hadapan kita, mereka tidak mau melihat kita ikut sedih. Ini adalah pelajaran pertama yang bisa gue ambil ketika dekat dengan wanita. Mereka itu mahluk yang luar biasa.

Quote:


Setelah memastikan tangisnya telah berhenti, gue menyuruh dia untuk memainkan sebuah lagu. Suara gue menemani jemarinya yang kini sibuk memetik senar gitar. Seiring dengan senandung kami, dia mulai kembali menjadi Eriska yang dulu. Gue kembali menghiburnya dengan melakukan hal - hal konyol di depannya. Orang - orang di sekitar gue boleh menganggap gue sebagai orang yang aneh, tapi asalkan Eriska bisa bahagia, engga pa-pa deh!

Gue dedikasikan hari itu sepenuhnya untuk menemani Eriska. Dia terlihat sumringah ketika gue bilang bahwa hari itu gue akan menemani dia selama seharian. Keesokan harinya, gue ikut mengantar dia ke Stasiun yang menjadi tempat perpisahan bagi seorang teman, sahabat, atau mungkin………pacar? *ngarep
ngarep adalah bagian dari PDKT

teruskan perjuanganmu anak muda emoticon-Cool
keren keren
ijin nyimak
Part 8


Dua bulan sudah berlalu semenjak terakhir kalinya gue ketemu sama Eriska. Kangen? Pasti. Tapi itu gue pendam sendiri, kalo ketauan gengsi lah he he he. Bagaimana dengan ABas? Gara - gara keseringan main sama mereka kayaknya gue jadi tambah absurd. Mereka itu memang engga ada yang waras.

Bulan Juli adalah awal dimana gue duduk di bangku kelas 3. Gue masuk kelas 3-G. Entah apa yang ada dipikaran guru BP sehingga gue harus satu kelas sama Garin. Kenapa gue harus tersiksa bersam si kampret telor asin itu?! Apa gara - gara gue kebanyakan ngomongin dia ya? Padahal kan yang gue omongin yang jelek - jelek semua dan itu semua fakta. Tapi sebagai gantinya gue jadi satu kelas sama anak - anak yang asik.

Yanuar: Doi ini bisa dibilang ganteng tapi kelewat polos, gampang banget buat dijailin! Gue sama Garin hampir setiap hari ngejailin dia kalo lagi di kelas. Meskipun doi banyak yang suka, tapi dia tetap memandang ke satu arah untuk seseorang nun jauh di kelas seberang.

Rama : Beruang yang satu ini lumayan absurd. Pasti ada ja tingkah absurd yang dia lakuin kalo lagi di kelas. Doi ini juga partner gue kalo lagi ngomongin cewek sama ngomongin Garin.

Dimas : Doi merupakan Mantan-Ketua-Osis-Yang-Sukses. Kalo soal absurd, doi yang paling absurd di kelas. Doi juga hobi banget kalo ngejailin Yanuar.

Zidan : Si kampret ini mukanya agak ke timur tengah padahal aslinya dari Bekasi. Doi ini biang-nya kelas 3-G. Kalo udah ngomongin cewek, dia jagonya. Dan kalo ngomongin Garin, dia juga yang paling jago dan paling dahsyat.

Ada beberapa perubahanan yang cukup bagus ketika gue menginjak kelas 3. Yang pertama, gue jadi suka bangun gasik buat rebutan tempat duduk. Yang kedua, gue jadi engga males - malesan lagi karena hampir setiap bubaran sekolah, gue pasti ke lapangan basket. Predikat anak malas yang dulu sempat gue pegang kini gue biarkan pergi untuk mencari anak malas yang lain. Semoga kamu cepat menemukan pengganti wahai "anak malas".

Ketika bulan puasa pun gue tidak malas untuk pergi ke lapangan basket tapi bukan buat main basket tentunya. Ini aja masih awal puasa masa gue udah harus bolong, malu sama kucing. Eh, tapi kan kucing engga ada yang puasa ya? Ya pokoknya malu lah!

Quote:


Gue memang lagi kesel banget sama dia. Gara - gara si kampret telor asin itu, gue kepilih jadi sekretaris kelas.Mentang - mentang tulisan gue bagus dan tulisan dia jelek kaya cacing dugem tapi engga usah pake acara ngomporin anak - anak kelas juga. Untungnya gue dibantu sama Naya, anak pindahan entah darimana waktu kelas dua. Doi lumayan manis tapi setelah gue kenal banget dia engga jadi ngomong manis deh.

Disaat fue sedang menikmati lagu dari hape gue, tiba - tiba ada suara sms dari hape gue. Aduh! Siapa sih?!

Quote:


Di bulan puasa kali ini gue punya kekhawatiran yang cukup serius. Gue jadi keseringan megang hape. Hampir disetipa kegiatan gue pasti selalu ada yang namanya hape. Dari makan, mandi sampe boker pun gue engga bisa lepas dari hape. Bahkan sampe waktu suhur, gue engga bisa lepas sama hape. Sepertinya hape gue ada lem tikusnya. Gue menyibukkan tangan kiri gue untuk melihat ratusan pesan yang masuk ke hape gue. Dari semua pesan - pesan itu, ada satu pesan yang membuat mata gue melotot dan menghentikan aktivitas maka n gue saat itu.

Quote:


Besoknya ketika gue berangkat ke sekolah, gue mendapati sebuah surat yang sudah dibuka entah oleh siapa. Gue baca dan ternyata dari Naya. Gila enak banget dia udah main mudik duluan terus gue disini harus terbebani dengan tugasnya. Garin ngasih tau kalo waktu istirahat nanti anak - anak ABas mau kumpul di depan kelas 3-E. Kayaknya mereka mua ngebahas rencana selama liburan deh. Sayang gue engga bisa ikut.

Ada hal yang menurut gue lebih menarik daripada bacot - bacotan sama Garin selama liburan. Gue harus memenuhi janji gue ke Eriska, gadis serigala yang lucu itu.