alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58ccf26b5c779859128b4568/kuliah-kedokteran-di-tiongkok-rp-1-juta-per-bulan
Kuliah Kedokteran di Tiongkok, Rp 1 Juta Per Bulan
Wendy Dersyanto, merupakan salah satu putra daerah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berangkat ke Tiongkok melalui program Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Jawa Pos.

Sabri – Nunukan

Banya cerita yang disampaikan Wendy kepada awak media ini saat mencoba menghubungi melalui pesan Whats App.

Wendy merupakan salah satu dari 160 mahasiswa yang kuliah di Tiongkok, tepatnya University Hubei.

Ia mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas yang cukup ternama di Tiongkok tersebut.

Setahun menuntut ilmu, sejak musim gugur hingga musim dingin di Tiongkok, telah dia rasakan.

Saat musim dingin, suhu di kota tempatnya menempuh pendidikan itu hingga di bawah 10 derajat celcius.

Menggunakan pakaian pun harus tebal dan tidak boleh makan makanan yang pedas, karena dapat menyebabkan penyakit radang tenggorokan. Jelas sangat berbeda sekali dengan di Indonesia.

“Awal tiba di Tiongkok bertepatan dengan musim dingin, jadi hampir semua mahasiswa asal Indonesia batuk-batuk, karena tidak terbiasa dengan musim dingin,” kata Wendy Desyanto.

Kuliah di luar negeri terkadang menjadi “ketakutan” bagi orangtua mahasiswa, karena membayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Padahal, tidak selalu begitu.

Di Tiongkok, Wendy Desyanto membutuhkan biaya hidup sebesar 500 Yuan atau sebesar Rp 1 juta tiap bulan.

Pengeluaran tentu kembali kepada mahasiswa masing-masing dan tergantung kebutuhan hidup.

Wendy sapaan akrabnya, menghabiskan dana Rp 1 Juta per bulan karena digunakan untuk makan sehari-hari, karena jarang masak sendiri.

Sedangkan untuk masak sendiri bisa lebih irit lagi, karena hanya bisa mengeluarkan dana sebesar Rp 500 ribu.

Selama ia kuliah, seluruh fasilitas telah terpenuhi. Termasuk fasilitas tempat tinggal, air dan listrik yang tak perlu dibayar. Namun penggunaannya dibatasi.

Air hanya 8 ton diberikan per kamar, listrik dikenakan biaya ketika melebihi batas pemakaian.

Hal yang memudahkan mahasiswa di Tiongkok yakni aplikasi wechat. Segala sesuatu yang dibutuhkan bisa menggunakan aplikasi tersebut, seperti ingin memesan tiket bioskop, kereta, bayar makanan dan banyak lagi hanya menggunakan satu aplikasi itu.

Selain itu, tenaga pengajar di Universitas Hubei tak semuanya berasal dari Tiongkok sendiri, bahkan ada dari negara lain.

Seperti tenaga pengajar jurusan kedoktoren yang berasal dari Pakistan.

Walaupun status sebagai dosen, namun hubungan dengan mahasiswa sangat akrab. Di Tiongkok, hubungan dosen dengan mahasiswa tak ubahnya pertemanan.

Di Univesitas Hubei, dosen mendatangi asrama untuk kelas tambahan jika mahasiswa tersebut tidak mengikuti mata kuliah.

Selama kuliah di Universitas Hubei, Wendy tak pernah jalan ke luar kota.

Pasalnya, di area kampus sudah dilengkapi fasilitas hiburan seperti, taman rekreasi, game center, rumah bernyanyi bahkan tempat perbelanjaan disiapkan seperti mall.

Walaupun berada di Tiongkok hampir setahun, masih ada mahasiswa asal Indonesia yang belum terlalu fasih berbahasa Mandarin.

“Lumayan untuk saat ini karena sering bergaul dengan warga Tiongkok, jadi semakin lama bisa menguasai bahasa Mandarin, begitu pula dengan bahasa Inggris, tiap hari digunakan jika berbicara dengan mahasiswa asal negara lain,” ujarnya. (***/eza)

https://bengkuluekspress.com/kuliah-...uta-per-bulan/

sejuta gan
setahun 12jeti di itung2 bisa beli motor metik emoticon-Matabelo
murah gan kalo segitu ..
asal pulangnya jangan jadi dokter cabul bray emoticon-Entahlah
Quote:Original Posted By zhouxian
Wendy Dersyanto, merupakan salah satu putra daerah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berangkat ke Tiongkok melalui program Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Jawa Pos.

Sabri – Nunukan

Banya cerita yang disampaikan Wendy kepada awak media ini saat mencoba menghubungi melalui pesan Whats App.

Wendy merupakan salah satu dari 160 mahasiswa yang kuliah di Tiongkok, tepatnya University Hubei.

Ia mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas yang cukup ternama di Tiongkok tersebut.

Setahun menuntut ilmu, sejak musim gugur hingga musim dingin di Tiongkok, telah dia rasakan.

Saat musim dingin, suhu di kota tempatnya menempuh pendidikan itu hingga di bawah 10 derajat celcius.

Menggunakan pakaian pun harus tebal dan tidak boleh makan makanan yang pedas, karena dapat menyebabkan penyakit radang tenggorokan. Jelas sangat berbeda sekali dengan di Indonesia.

“Awal tiba di Tiongkok bertepatan dengan musim dingin, jadi hampir semua mahasiswa asal Indonesia batuk-batuk, karena tidak terbiasa dengan musim dingin,” kata Wendy Desyanto.

Kuliah di luar negeri terkadang menjadi “ketakutan” bagi orangtua mahasiswa, karena membayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Padahal, tidak selalu begitu.

Di Tiongkok, Wendy Desyanto membutuhkan biaya hidup sebesar 500 Yuan atau sebesar Rp 1 juta tiap bulan.

Pengeluaran tentu kembali kepada mahasiswa masing-masing dan tergantung kebutuhan hidup.

Wendy sapaan akrabnya, menghabiskan dana Rp 1 Juta per bulan karena digunakan untuk makan sehari-hari, karena jarang masak sendiri.

Sedangkan untuk masak sendiri bisa lebih irit lagi, karena hanya bisa mengeluarkan dana sebesar Rp 500 ribu.

Selama ia kuliah, seluruh fasilitas telah terpenuhi. Termasuk fasilitas tempat tinggal, air dan listrik yang tak perlu dibayar. Namun penggunaannya dibatasi.

Air hanya 8 ton diberikan per kamar, listrik dikenakan biaya ketika melebihi batas pemakaian.

Hal yang memudahkan mahasiswa di Tiongkok yakni aplikasi wechat. Segala sesuatu yang dibutuhkan bisa menggunakan aplikasi tersebut, seperti ingin memesan tiket bioskop, kereta, bayar makanan dan banyak lagi hanya menggunakan satu aplikasi itu.

Selain itu, tenaga pengajar di Universitas Hubei tak semuanya berasal dari Tiongkok sendiri, bahkan ada dari negara lain.

Seperti tenaga pengajar jurusan kedoktoren yang berasal dari Pakistan.

Walaupun status sebagai dosen, namun hubungan dengan mahasiswa sangat akrab. Di Tiongkok, hubungan dosen dengan mahasiswa tak ubahnya pertemanan.

Di Univesitas Hubei, dosen mendatangi asrama untuk kelas tambahan jika mahasiswa tersebut tidak mengikuti mata kuliah.

Selama kuliah di Universitas Hubei, Wendy tak pernah jalan ke luar kota.

Pasalnya, di area kampus sudah dilengkapi fasilitas hiburan seperti, taman rekreasi, game center, rumah bernyanyi bahkan tempat perbelanjaan disiapkan seperti mall.

Walaupun berada di Tiongkok hampir setahun, masih ada mahasiswa asal Indonesia yang belum terlalu fasih berbahasa Mandarin.

“Lumayan untuk saat ini karena sering bergaul dengan warga Tiongkok, jadi semakin lama bisa menguasai bahasa Mandarin, begitu pula dengan bahasa Inggris, tiap hari digunakan jika berbicara dengan mahasiswa asal negara lain,” ujarnya. (***/eza)

https://bengkuluekspress.com/kuliah-...uta-per-bulan/

sejuta gan


emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo emoticon-Matabelo
Quote:Original Posted By zhouxian
Wendy Dersyanto, merupakan salah satu putra daerah Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang berangkat ke Tiongkok melalui program Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Jawa Pos.

Sabri – Nunukan

Banya cerita yang disampaikan Wendy kepada awak media ini saat mencoba menghubungi melalui pesan Whats App.

Wendy merupakan salah satu dari 160 mahasiswa yang kuliah di Tiongkok, tepatnya University Hubei.

Ia mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas yang cukup ternama di Tiongkok tersebut.

Setahun menuntut ilmu, sejak musim gugur hingga musim dingin di Tiongkok, telah dia rasakan.

Saat musim dingin, suhu di kota tempatnya menempuh pendidikan itu hingga di bawah 10 derajat celcius.

Menggunakan pakaian pun harus tebal dan tidak boleh makan makanan yang pedas, karena dapat menyebabkan penyakit radang tenggorokan. Jelas sangat berbeda sekali dengan di Indonesia.

“Awal tiba di Tiongkok bertepatan dengan musim dingin, jadi hampir semua mahasiswa asal Indonesia batuk-batuk, karena tidak terbiasa dengan musim dingin,” kata Wendy Desyanto.

Kuliah di luar negeri terkadang menjadi “ketakutan” bagi orangtua mahasiswa, karena membayangkan besarnya biaya yang harus dikeluarkan. Padahal, tidak selalu begitu.

Di Tiongkok, Wendy Desyanto membutuhkan biaya hidup sebesar 500 Yuan atau sebesar Rp 1 juta tiap bulan.

Pengeluaran tentu kembali kepada mahasiswa masing-masing dan tergantung kebutuhan hidup.

Wendy sapaan akrabnya, menghabiskan dana Rp 1 Juta per bulan karena digunakan untuk makan sehari-hari, karena jarang masak sendiri.

Sedangkan untuk masak sendiri bisa lebih irit lagi, karena hanya bisa mengeluarkan dana sebesar Rp 500 ribu.

Selama ia kuliah, seluruh fasilitas telah terpenuhi. Termasuk fasilitas tempat tinggal, air dan listrik yang tak perlu dibayar. Namun penggunaannya dibatasi.

Air hanya 8 ton diberikan per kamar, listrik dikenakan biaya ketika melebihi batas pemakaian.

Hal yang memudahkan mahasiswa di Tiongkok yakni aplikasi wechat. Segala sesuatu yang dibutuhkan bisa menggunakan aplikasi tersebut, seperti ingin memesan tiket bioskop, kereta, bayar makanan dan banyak lagi hanya menggunakan satu aplikasi itu.

Selain itu, tenaga pengajar di Universitas Hubei tak semuanya berasal dari Tiongkok sendiri, bahkan ada dari negara lain.

Seperti tenaga pengajar jurusan kedoktoren yang berasal dari Pakistan.

Walaupun status sebagai dosen, namun hubungan dengan mahasiswa sangat akrab. Di Tiongkok, hubungan dosen dengan mahasiswa tak ubahnya pertemanan.

Di Univesitas Hubei, dosen mendatangi asrama untuk kelas tambahan jika mahasiswa tersebut tidak mengikuti mata kuliah.

Selama kuliah di Universitas Hubei, Wendy tak pernah jalan ke luar kota.

Pasalnya, di area kampus sudah dilengkapi fasilitas hiburan seperti, taman rekreasi, game center, rumah bernyanyi bahkan tempat perbelanjaan disiapkan seperti mall.

Walaupun berada di Tiongkok hampir setahun, masih ada mahasiswa asal Indonesia yang belum terlalu fasih berbahasa Mandarin.

“Lumayan untuk saat ini karena sering bergaul dengan warga Tiongkok, jadi semakin lama bisa menguasai bahasa Mandarin, begitu pula dengan bahasa Inggris, tiap hari digunakan jika berbicara dengan mahasiswa asal negara lain,” ujarnya. (***/eza)

https://bengkuluekspress.com/kuliah-...uta-per-bulan/

sejuta gan


emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om! emoticon-Om Telolet Om!
Quote:Original Posted By scroll.
murah gan kalo segitu ..


di kalimantan.... 1 jt cuma bs makan 1 hari 1 x.... Nasi kuning utk sarapan rp.23 rb..... Di kaskus 1 jt cuma bs full bar cendol /bata

Kuliah Kedokteran di Tiongkok, Rp 1 Juta Per Bulan

Cendol dong
murah jg ya...


dimari kalo masuk aja 200-400jt ..wkwk

kedokteran gak jelas

Quote:Original Posted By amin96
di kalimantan.... 1 jt cuma bs makan 1 hari 1 x.... Nasi kuning utk sarapan rp.23 rb..... Di kaskus 1 jt cuma bs full bar cendol /bata

Kuliah Kedokteran di Tiongkok, Rp 1 Juta Per Bulan

Cendol dong


hahaha
gile ya gan..

belom iso gan.. hahaa
Quote:Original Posted By gerogeroshop
murah jg ya...


dimari kalo masuk aja 200-400jt ..wkwk

kedokteran gak jelas


Sejeti itu kan biaya hidupnya gan bukan biaya kuliah.
Quote:Original Posted By missboy

Sejeti itu kan biaya hidupnya gan bukan biaya kuliah.


itu biaya awal doang...
istilahnya uang partisipasi..wkwk

klo pernah daftar di uki/trisakti dah tau lah...

namanya "sumbangan"

Yg membuat ane ngambil jurusan yg lain..


Biaya kost di belakang terminal grogol
1jt-4jt per kost (AC/Non AC)
parkir mobil 350rb di rmh orang

Makan dan hang out..bensin dll

Kayanya lebih parah dimari..haha
gila murah bgt emoticon-Matabelo
jgn asal murah, pulang" jadi dukun ala menlen

kasih diagnosa serampangan
kau kau om sarankan jangan masuk kedokteran apalagi kerja di negeri bedebah ini!!! emoticon-Marah

lebih baik kau jadi dukun atau buka praktik pengobatan tradisional di sini!!! emoticon-Marah

kerna tak akan dirazia apalagi ditangkap!!! emoticon-Marah

bisa iklan di tv tiap hari dengan klaim bisa menyembuhkan kanker, stroke, diabetes, dll tanpa ada yang protes kalau tak sembuh!!! emoticon-Marah
Murah biaya hidup disana.
Jatah air 8 ton sama seperti 8 M3.
kuliah kedokteran sekarang kira kira menghabiskan 300-500 jt hingga selesai belum termasuk biaya hidup!!! emoticon-Marah

kalau lanjut spesialis bisa menghabiskan hingga 1 milyar!!! emoticon-Marah

setelah lulus dihargai seharga tukang parkir / penjaga wc oleh bpjs!!! emoticon-Marah
murah ya sebulan sejuta emoticon-Cool emoticon-Peluk
murah amat ya?
di sini lebih mahal
murah bener, seharga pocin