alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58c7f4a7ddd77042258b456d/bertandang-ke-blora
Bertandang ke Blora
Berguru ke desa Samin

Bertandang ke Blora

Entah kenapa tiba-tiba ingin bepergian mungkin dikarenakan tidak adanya kegiatan yang berarti dan jiwa purba penjelajah muncul lagi. Saya bernit menuju Blora. Langsung saja saya bahas mengenai tempat itu tanpa perlu saya ceritakan mengenai cara saya kesana dan lain-lain yang terutama adalah saya kesana naik motor.
'
Saya sampai di depan gerbang desa karangpace itu di sore hari jam sekitar 3 an. Jalan-jalan yang dibentuk dengan menyusun batu-batu yang dipaving secara sederhana menambah kesan sederhana dan ke dulu-duluannya. Sampai kepada di deretan rumah-rumah kayu tanpa pintu. Dan di tengah deretan rumah-rumah itu terdapat sebuah pendopo mungkin digunakan untuk pertetmuan bersama atau sekedar berkumpul bercengkrama menikmati sore. Sama seperti pemuda-pemuda yang saya temui pertama kali di pendopo itu. Saya kira merekalah para pemuda samin ternyata mereka adalah pemuda dari desa sebelah yang ingin menghabiskan waktu sore harinya di pendopo itu bercengkrama bersama.

Agak lama saya berkumpul dan berbincang dengan para pemuda desa sebelah itu dan juga bertanya-tanya mengenai masyarakat desa ini dan juga mengenai tokoh masyaralat Samin yang sebelumnya saya ketahui dari internet dipersis mana rumahnya. Pemuda-pemuda tersebut malah ternyata tidak tahu menahu mengenai tokoh tersebut mereka disana sekedar hanya berkumpul sore hari alias nongkrong. Padahal banyak orang luar leih tertarik dengan kehidupan mereka dan siapa saja mereka, pak Jokowi pun pada tanggal 2015 sehabis bertandang dari sana. Mungkin karena citra samin yang sudah terlalu melekat stigmanya di masyarakat sekitar bukan samin yang membuat mereka agak acuh atas masayarakat yang padahal ikut membentuk daerah mereka di waktu itu.

Bertandang ke Blora

Coba saja cari di internet mengenai cerita lucu orang samin, anda boleh membuat anggapan dan statetment sendiri bagaimana sehabis membaca cerita itu dan tulisan ini. Setelah agak lama kemudian ada dua wanita dating yang kemudian setelah bertanya dengan salah seorang ibu-ibu di bagian lain pendopo, mereka langsung menuju ke rumah pojokan desa itu. Dan saat mereka keluar lagi, saya tanyakan kepada mereka sehabis dari manakah mereka, sama dengan tujuan saya juga ternyata mereka sehabis dari mewawancarai Pak Lasio yang menjadi took desa samin disitu.

Lalu saya kemudian langsung bergegas menuju rumah tersebut dan mendapati ibu-ibu yang berada di bagian pendopo yang lain yang jgua ternyata adalah istri dari Pak Lasio sendiri. Kenapa saya tadi tidak langsung bertanya kepadanya.

Setelah bersamalan dan dipersilahkan duduk di ruang tamu saya menunggu pak Lasio yang sedang makan. Tidak lama kemudian Pak Lasio masuk mengajak bersalaman dan mempersilahkan, Suaranya berat tipikal orang jawa dengan logat halus. Kemudian kesalahan saya juga tidak mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya tanyakan jadi daya ebrtanya secara acak apa saja yang muncul di kepala saya. Pertama pembukaan percakapan adalah mengenai pembangunanpabrik semen yang sempat heboh. Pertamanya saya kira pabrik semen tersebut berada di daerah sekitar desa itu, ternyata ada banyak desa dengan masyarakat saminnya yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang berbeda dan yang menolak pembangunan semen tersebut pertama kali adalah orang samin yang berada di desa Sukolilo di Kendeng sana. Kurangnnya informasi dan persiapan membuat pembuatan kronologi agak carut. Tetapi tetap saja pengetahuan dan kearifan yang saya dapat bermanfaat.

Pendapat Pak Lasio sendiri mengenai pembangunan pabrik semen tersebut adalah tidak memihak manapun karena dia menganggap semuanya saudara dan semua pihaktidak ingin ia cekcoki. Bukannya pak Lasio jugamenolak Pak Gunretno yang menjadi tokoh masyarakat samin di desa Sukolilo tersebut. Tetapi pak lasio bukannya menolak maupun bukannya mendukung dan dia tetap menganggap berbedaannya dengan pak Gunretno itu membuatnya tidak menjadi satu sedulur (saudara) sikep(panggilan yang lebih dipilih oleh masyarakat tersebut sendiri karena samin mendapat citra negative dari masyarakat sekitar).

Ajaran mereka mengenai persaudaraan, perdamaian, ketentraman, kecukupan dan keselarasan dengan alam adalah pelajaran yang saya tangkap dari penjelasan Pak Lasio. Hebat aya katakana pada masyarakat itu, di tengah derasnya arusmodernitas itumereka tetaplebih memilihberada di tanah mereka dan meneruskan ajaran mereka.

Mereka punya pilihan sebenarnya ingin kemana,tetapi tidak mereka sendiri juga bangga terhadap ajaran mereka itu. Mereka juga saya anggap termasuk sebagai orang-orang yang menjadalingkungan. Dikasus pabrik semen tersebut mereka menolaknya karena eksploitasi alam. Pabrik semen yang berada di Gresik menjadi buktinya dalam tenggat waktu kurang dari setengah abad gunung kapur disana menghilang. Makanya pak Gunretno menolaknya karena keselarasan dan keseimbangan bakal terganggu dan manusia sekitarnya yang begitu dekat dengan alam akan merasakannya pertama kali tetapi untuk memperingatkan yang lain sudah terlambat. Lebih baik mencegah kan.

Sepak terjang masyarakatini dari dulu mengagumkan ketika masih dikuasai Belanda daerah-daerah kitaini, mereka melakukan perlawanan dengan berani tanpa bantuan manapun tanpa sokongan orang luar, tanpa pendidikan dari barat ajaran dan pemikiran yang mereka gunakan untuk bergerak bersama dari ajaran leluhur mereka dari tanah mereka sendiri. Mereka melakukangerakan perlawanan tanpa kekerasan dan mencanangkan swadaya bahwa tidak akan mengikuti peraturan belanda dan segalakebutuhan merekabuat sendiri sesuai kecukupan mereka masing-masing. Daripada bekerja kepada Belanda yang meskipun mereka adalah penguasa tetapi menindas. Gerakan model seperti ini mirip dengan ajaran dari Mahatma Ghandi tetapi bedanya adalah tenggat waktunya karena Samin lebih dahulu melakukan ini, tetapi bisa dikatakan kita lupa. Kita seharusnya memasukkan perjuangan mereka di buku-buku sejarah di sekolah-sekolah agar kita dapat ingat bahwa mereka pernah masuk ke dalam rentang waktu perlawan terhadap para penjajah di negeri kita ini.
Quote:
Baca Artikel Saya Mengenai Sejarah Samin


Silaturahmi ke Rumah Masa Kecil Pram

Bertandang ke Blora

Di desa samin itu saya habiskan hari sampai isyak, kemudian karena waktu kurang mencukupi dan tabu juga untuk bertamu dimalam-malam hari saya tidur duru di tempat yang gratis. Untuk kemduian besoknya saya dapat berkunjung ke rumah pembentukan diri masa kecil Pramoedya Ananta Toer yang sekarang menjadi perpustakaan atau terkenalnya bernama PATABA (Pramoedya Annta Toer Anak Semua Bangsa) di urus oleh adik Pram sendiri Susilo Toer.

Rumah itu berada di pojokkan tikungan jalan raya . Rumput-rumput memang agak tinggi dan ketika disana pak Susilo sedang tidur saya yang tidak mengetahui langsung saja bilang permisi yang seraya langsung membangunkannya. Tetapi mau bagaimana lagi karena tidak tahu juga kalau beliau sedang tidur, dan juga saya lupa minta maaf atas itu hehe.

Saya dipersilahkan untuk menuju kebagian pintu rumah bagian samping belakang, ketika dibuka oleh pak susilo terlihatlah rak-rak berisi buku-buku yang terlihat kesan buku lamanya. Juga terdapat poster foto maupun lukisan Pram dan tokoh-tokoh penulis terkenal lainnya. Setelah dipersilahkan duduk dan berkenalan saya mulai menanyakan mengenai koleksi buku-buku pram yang ada di perpustakaan itu, karena saya sedang mencari di tepi kali bekasi yang tidak pernah ketemu mungkin saja jika ada akan saya fotokopi walau memang juga tidak ada. Ternyata di perpustakaan di dalam rumah tersebut tetap saja ada yang tega meminjam dan tidak mengembalikan dan itupun bukunya pram sendiri sungguh sangat tidak menghormati dan yang melakukakan itupun ada yang pejabat juga. Lalu percakapan itupun brlanjut kemana-mana, saya disana sama seperti berguru privat kepada dosen, karena pak susilo sendiri pun memiliki gelar Doctor dari Universitas di Moskow sana, kebanggaankan.

Selain itu ketika bercakap-cakap dengan beliau banyak sekali cerita-cerita terselubung di Indonesia ini, sama saja saya mewawancarai atau malah di berikan kronologi sejarah oleh sang saksi hidup sejarah sendiri. Pak susilo juga ikut tertangkap oleh pemerintahan Orde Baru sama seperti Pram, karena dituduh PKI. Padahal dia baru saja kembali dari Moskow.

Pengucapan Pak susilo lugas dan indah terlihat sangat banyak ilmunya tanpa perlu mengatakan apa saja itu. Sampai sekarang beliau pun tetap terus membaca dan menulis, banyak karangannya yang mulai dicetak dikerjakan oleh anaknya sendiri. Dan dapat dibeli di rumah itu langsung saya pun membeli salah satu bukunya. Cerita beliau mulai dari mengenai Ayahnya, Pram sendiri saudara satunya Pak Kosalah. Saya dapati mereka selalu mendapatkan kesulitan dari pihak pemerintah terus menerus di jaman Orba, mulai dari semua bersaudara tersebut dipenjara lah, dan karya mereka yang tidak diberikan apresiasi maupun royalty. Padahal kesemua dari mereka melakukan tugas yang mulia yaitu berkarya.

Bukan mengenai kehidupan keluargaanya saja, saya juga berbincang mengenai kondisi perpolitikan sejarah Indonesia seperti apa,kebenarnannya yang mana, dan juga apakah itu hanyalah isu maupun apa yang baru saya kenal disana adalah proyekan agar mendapatkan dana. Sampai juga dengan pembahasan mengenai dualistis,materialistis dan idealis yang meskipun secara sekilas karena pastinya saya bakal kelabakan kebingungan untuk mencernanya hehe.

Rumahbersejarahitu sendiri ditempati oleh Pak Susilo ketika tahun 2004 sekembalinya ia dari Jakarta, kondisi rumah itu hampir ambruk kemudian dibetulkan dan sesuai rencana bersaudara itu akan dibuatkan tempat pencerahan masyarakat. Tetapi Pak Pram meninggal sebelum bangunan itu selesai renovasi. Meskipun begitu tetap diteruskan oleh Pak Susilo sebagai bentuk untuk mengenangnya.Tetapi kadang beliau miris sendiri karena dia merasa masyarakat sekitar malah kurang menaruh perhatian lebih. Seperti janji pemerintah setempat yang akan memberikan bantuan dana yang hanya janji saja serta ada omongan yang akan mengubah nama jalan di depan rumah itu menjadi Jalan Pramoedya yang juga belum kunjung diubah. Apakah orang Blora tidak mengetahui Pram malah?. Padahal seantero dunia membicarakan karyanya dan menjadi bahan ajar di Negara lain.

Meskipun malah kebanyakan tamu yang datang dan sering berkunjung orang luar Blora sendiri mulai dari rekan seniman, penulis Pram maupun rekan pak Susilo sendiri. Dan juga ada yang kadang datang dan meminta kritik maupun saran terhadap skripsi ataupun tesisnya. Bahkan beberapa waktu lalu ada warga Negara jepang datang yang ingin meminta bantuannya untuk menerjemahkan Bumi Manusia ke dalam bahasa Jepang. Dan semua yang datang ke Pak Susilo dibantunya dengan tanpa pamrih.

Juga kegiatan malam pak Susilo yang sering mencari-cari barang-barang yang masih bisa digunakan di tempat sampah, pernah kegiatannya tersebut di buat video dokumentarinya yang memenangkan juara 3 eagle award entah tahun berapa. Pak Susilo dalam umurnya yang sudah 80 tahun itu masih bugar untuk meladeni para tamu dan juga kegiatan malamnya tersebut. Ingatannya pun masih sangat kuat, ketika dia menjelaskan begitu runtut seperti benar-benar kronologi mungkin saya yang masih muda kalah.

Saya sebagai tamu dan penggemar Pram sendiri hanya bisa membantu Pak Susilo dengan membeli fotokopian buku pram dan buku pak susilo saja, padahal pengetahuan yang ia bagian tidak sebanding dengan uang yang saya berikan. Tetapi dia tidak mencari hal itu, seperti komentarnya terhadap salah satu tokoh politik yang ingin masih saja mencari jabatan padahal gelarnya sudah tinggi dan dalam Hindu itu disebut sebagai brahma, pencerah sekitar bukan malah mencari jabatan. Tugasnya sudah harus memikirkan yang lain bukan dirinya. Terima kasih Atas sorenya Pak.

Mungkin terdapat beberapa kata yang diucapkan Pak Susilo saya salah tulis disini karena juga itu saya tidak mencatat hehe, untuk pengalaman semoga tidak terulang. Dan juga ada perkataan yang tidak saya tulis karena takut salah karena kalau salah tulis nanti terdapat pihak yang tidak suka hehe karena masalah saya juga tidak mencatatat itu juga, maaf pak.

Quote:Baca Juga Artikel Saya Mengenai Pramoedya di Panggil Dia Pram Saja