alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58c7baec1ee5df87148b460a/diskriminasi-dan-budaya-feodal-awal-dari-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak
Diskriminasi dan Budaya Feodal Awal Dari Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak
Diskriminasi dan Budaya Feodal Awal Dari Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak


TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Menurut Presiden Republik Indonesia kelima Megawati Soekarnoputri, problem kemiskinan termasuk menjadi penyebab tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak terus terjadi.

Hal itu dikatakan Megawati dalam acara seminar tentang 'Kerjasama Wilayah ASEAN dengan tema: Hentikan Kekerasan Seksual Terhadap Anak-Anak', di Kuala Lumpur, Selasa (14/3/2017).

Seminar tersebut diselenggarakan di Putra World Trade Centre atas prakarsa istri Perdana Menteri (PM) Malaysia Najib Razak, Datin Paduka Seri Rosmah Mansor.

Megawati yang hadir sebagai pembicara kunci didampingi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani.

Dampak negatif perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat juga dinilai termasuk menjadi penyebabnya.

"Begitu gencarnya ancaman liberalisasi global yang diikuti oleh gencarnya kampanye atas nama sex bebas dan berbagai nilai yang tidak sesuai dengan tradisi dan sistem budaya kita. Hal inilah yang harus diwaspadai," kata Megawati.

Namun pada saat bersamaan, Megawati menyampaikan, perenungan yang dia lakukan terhadap tradisi dalam 'budaya timur', nampak adanya budaya feodal dan diskriminatif yang terus dipertahankan.

Contoh sederhana, kata Megawati, laki-laki dianggap sebagai kepala rumah tangga yang berkuasa penuh atas apa yang boleh dan tidak boleh terjadi dalam rumah dan perempuan terbatas hanya sekadar 'pelengkap'.

"Akibatnya, walau perempuan dapat beraktivitas di ruang publik, dia memiliki 'beban ganda', yaitu mengurus rumah dan mencari nafkah. Tak ada pembagian tugas yang berimbang di dalam rumah," beber Megawati.

Kekerasan dalam rumah tangga terhadap perempuan dan anak, lanjut Megawati, juga sepertinya mendapat tempat.

Semua hanya dengan alasan "budaya Indonesia tidak mengizinkan kekerasan dalam rumah tangga dibuka ke ruang publik, sebab hal tersebut dianggap tabu".

Nilai dan tradisi yang diskriminatif inilahyang harus diubah, melalui skenario kebudayaan untuk menjadikan seluruh warga negara setara dan tidak pernah dibedakan atas dasar gender, suku, agama, status sosial dan beragam pembeda lainnya.

"Bagi kami prinsip dasar kesetaraan warga negara ini menjadi prinsip sila ketiga dalam Pancasila, yakni Persatuan Indonesia, yang menempatkan setiap warga negara adalah sama," tegasnya.

Megawati juga menyampaikan meski sistem hukum dan budaya yang berpihak pada kaum perempuan dan anak dapat dihasilkan, kunci dari seluruh persoalan terletak pada semangat kaum perempuan.

Tanpa adanya semangat juang, tanpa adanya fighting spirit yang percaya pada kekuatan perempuan sendiri, maka berbagai upaya tersebut tidak akan mampu dijalankan.

Megawati kemudian menceritakan beberapa waktu lalu dirinya menonton film India yang sangat inspiratif bagi kaum perempuan, yakni 'Dangal'.

Dalam film tersebut, diperlihatkan bagaimana kehidupan suatu desa yang masih terkungkung oleh tradisi yang diskriminatif terhadap perempuan.

Tampak pula bagaimana tradisi tersebut dirombak oleh perjuangan seorang perempuan yang karena perjuangannya mampu menjadi pegulat tangguh dan berdiri sejajar dengan kaum laki-laki.

"Itulah syarat pentingnya fighting spirit sebagai modalitas terpenting, bagi bangitnya peran kaum perempuan, termasuk kepemimpinan perempuan dalam politik," Megawati menegaskan.

Sumber : http://www.tribunnews.com/internasio...mpuan-dan-anak

---

Baca Juga :

- Menko PMK: Indonesia Siap Bekerja Sama Hapus Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan

- Megawati Terinspirasi Pemikiran Bung Karno yang Jadikan Perempuan Sebagai Ibu Peradaban

- Wakil Menteri Luar Negeri Malaysia: 9 Warga Kita Berada Dalam Situasi Sangat Aman di Korea Utara