alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58c7007bd44f9f512f8b456c/cerita-anak-hindun-pasca-kematian-sang-ibu
Cerita Anak Hindun Pasca-kematian Sang Ibu
Quote:Cerita Anak Hindun Pasca-kematian Sang Ibu

TEMPO.CO, Jakarta - Anak dari almarhumah Hindun, Sunengsih atau Neneng, 47 tahun, mengaku mendapatkan pesan berantai yang berisi sindiran untuk ibunya karena mendukung pasangan calon Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Pesan singkat itu, kata Neneng, cukup membuat dirinya sedih setelah kehilangan ibunya.

"Kita semua (sekeluarga) sakit hati ya. Setelah ibu saya enggak ada, lalu dikirimi pesan seperti ini. Tadinya sudah adem, 'mengkel' otak saya dan kakak-kakak saya. Cuma, saya bilang jangan dibalas, begitu," ujar Neneng saat dijumpai di rumahnya, Jalan Karet Karya II, Setia Budi, Senin, 13 Maret 2017.

Neneng mengatakan, pesan berantai itu ia dapatkan dari sebuah grup obrolan sebuah sekolah pendidikan usia dini (PAUD). Kebetulan, dalam grup itu keponakannya yang bernama Yenni menjadi salah satu murid, sementara itu kakaknya merupakan wali murid di sekolah itu.

"Setelah sehari ibu saya enggak ada, saya dikirimi ini. Keponakan saya sekolah di Paud Bunda," ujar Neneng. Ia pun tak menyangka bahwa pesan berantai itu kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Keesokan harinya, Neneng mengaku banyak awak media mencari dirinya.

"Keponakan saya dikirimi (pesan itu) pada saya. Padahal, sebelumnya tidak ada percakapan lain. Setelah ibu saya enggak ada kan, dikirim seperti itu. Artinya kan sindir ibu saya. Kalau saya cerita, nanti dikira politik lagi," ujar Neneng.

Dalam pesan berantai tersebut menampilkan dua sosok pocong tengah menyesal telah karena telah mendukung Ahok-Djarot. Keduanya saling berbincang dan saling mengolok-olok.

Neneng sendiri menyayangkan sikap guru dari keponakannya yang masih kecil itu. Padahal, Neneng menilai seharusnya seorang guru tak bersikap begitu, tetapi harus netral.

Sementara itu, Neneng bercerita awal mula kenapa akhirnya Hindun disebut-sebut sebagai pendukung Ahok-Djarot. Padahal, dengan kondisi tubuh Hindun yang sakit-sakitan tidak mungkin membuat perempuan renta itu berpikir politik.

Neneng menuturkan, saat Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, seorang, petugas tempat pemungutan suara (TPS) mendatangi rumahnya untuk memberikan hak suara Nenek Hindun untuk memilih. Saat itu, kondisi fisik Hindun sedang sakit dan tidak bisa berjalan.

"Ibu saya sakit, enggak bisa jalan. Digelar lah itu kertas (surat suara). Itu awalnya. Saya perkiraan (penyebab pesan berantainya) ke situ. Kebetulan ibu saya coblos itu (Ahok-Djarot). Kami kan rakyat biasa," ujar Neneng.

LARISSA HUDA
https://metro.tempo.co/read/news/201...atian-sang-ibu


seolah2 Tuhan padahal rakyat biasa.. seolah2 Maha benar padahal penuh dengan kebodohan.. Seolah2 baik padahal penuh dengan kebusukan..

turut berduka buat keluarga.. emoticon-Mewek
kasihan, udah meninggal masih aja jd bahan politik,
no komen yah...kayanya tadi udah ada himbauan dari salah satu paslon untuk tidak membesar2kan lagi...

do'akan saja semoga almarhum ditempatkan diantara orang2 yang beriman....emoticon-Toast
Nasbung2 anjing memang wajib dimusnahkan dari Indonesia.

Gak punya empati, merasa paling benar melebihi Allah.
semoga keluarga alm bu hindun diberi kesabaran
gag perlu dibales, biar Allah yg membalas
leh uga
sudah gays
kenapa media masih meributkan hal ini
menjijikkan.. senoga almarhumah tenang di alam kubur
Cerita Anak Hindun Pasca-kematian Sang Ibu Cerita Anak Hindun Pasca-kematian Sang Ibu
sabar buat keluarga, kasian orng yg udh meninggal di bawa2
kenapa sih masih ada orang picik yang membawa bawa agama dalam politik
Kelakuan umat 😂😂😂
Jokowi - Ahok
Membuka tabir kamuflase suci manusia2 jahat..
Ya silahkan menilai sendiri mana yg baik, mana yg jahat
emoticon-Smilie
Cerita Anak Hindun Pasca-kematian Sang Ibu
guru pun bisa gagal paham

mungkin belum dewasa ya emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By smarteez
kenapa sih masih ada orang picik yang membawa bawa agama dalam politik


bener banget sampai2 sang manusia suci rela datang melayat ke tempat kumuh yang biasanya dia gusur emoticon-Ngakak
garis keras ya gitu, bunuh sesamanya aja halal kok emoticon-Leh Uga
Neneng menuturkan, saat Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, seorang, petugas tempat pemungutan suara (TPS) mendatangi rumahnya untuk memberikan hak suara Nenek Hindun untuk memilih. Saat itu, kondisi fisik Hindun sedang sakit dan tidak bisa berjalan.

Hmmmm... Tiap daerah beda2 peraturan ya. Klo di daerah ane, panitia ga boleh mendatangi rumah warga, utk menghindari kecurigaan.
Ini juga jd pertanyaan ane pas Banwaslu mengadakan sosialisasi.
DAN TERJADI LAGI........
Quote:Original Posted By kaskusajee
Keputusan Muktamar NU 1999: Melarang dengan tegas kaum muslimin memilih pemimpin dan menguasakan urusan kenegaraan kepada non muslim, kecuali dalam situasi darurat.

Bahtsul Masail Waqiiyah Muktamar XXX NU di PP. Lirboyo, Kediri, Jawa Timur 21-27 November 1999.

KH. Sholahudin Wahid


kecuali darurat emoticon-Embarrassment
Telah lahir di tahun 2017 tuhan2 baru..
Tenang saja nanti di hadapan Allah akan di pertanggung jawabkan smw

1kampung berdosa tuh
mana tuh yang bilang hoax, biar mampus sekalian emoticon-Embarrassment
Quote:Original Posted By samudra6969
Neneng menuturkan, saat Pilkada DKI Jakarta putaran pertama, seorang, petugas tempat pemungutan suara (TPS) mendatangi rumahnya untuk memberikan hak suara Nenek Hindun untuk memilih. Saat itu, kondisi fisik Hindun sedang sakit dan tidak bisa berjalan.

Hmmmm... Tiap daerah beda2 peraturan ya. Klo di daerah ane, panitia ga boleh mendatangi rumah warga, utk menghindari kecurigaan.
Ini juga jd pertanyaan ane pas Banwaslu mengadakan sosialisasi.


Bukannya sudah dari dulu ya? orang yang terdaftar dan mengalami musibah, pasti petugasnya (KPPS, Saksi dan dari Bawaslu ) yang mendatangi, dan minimal membawa sekat tertutup biar hasilnya ga diletahui oleh siapapun. Mgkn dr kasus di atas, Panitianya kurang perlengkapannya, jadinya hasil coblos si nenek ketahuan.