alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58c6f0bc9a09517f738b4569/demo-quotwaton-suloyoquot-pimpinan-gunretno
Demo "Waton Suloyo" Pimpinan Gunretno
SADIS nian lelaki aktivis penentang pabrik semen Rembang bernama Gunretno. Demi meraih sensasi, simpati, dan efek publikasi media, ia mengorbankan 10 perempuan tak berdosa untuk bersedia dicor kakinya dengan semen. Itulah demo JMPPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng), Senin, 13 Maret 2017 sore di depan taman pandang Istana Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Belasan pengunjuk rasa itu, dipimpin anak buah Gunretno, bernama Joko Priyanto.

Di Rembang, nama Joko Priyanto dikenal sebagai preman kampung yang bermasalah hukum, dan kasusnya sudah diadukan ke kepolisian dan sedang dalam proses penyelidikan. Ia terlibat sejumlah perkara hukum, antara lain penipuan dan penyebaran berita bohong.

Ia didukung LBH Semarang, dan LSM-LSM lain yang ditengarai menerima kucuran dana asing, membuat aksi cor kaki dengan semen untuk menuntut penghentian segala bentuk kegiatan penambangan semen di wilayah pegunungan Kendeng. Menolak segala bentuk perizinan dan menutup pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng. Terakhir, mereka menyelipkan agenda penghentian kriminalisasi terhadap para petani yang tergabung dalam JMPPK.

Tuntutan itu sarat muatan kepentingan asing, yang tidak ingin Indonesia sukses melaksanakan program percepatan pembangunan infrastruktur. Sebab, pabrik semen yang mereka protes, adalah pabrik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Semen Indonesia. Itu artinya, pabrik milik negara, berarti pula, milik bangsa Indonesia. PT Semen Indonesia telah menanamkan investasinya tak kurang dari Rp 5 triliun.

Namun, suara mereka hanya “tolak” dan “tolak”. Orang Jawa mengistilahkan gerakan mereka sebagai “waton suloyo”. Sebab, tidak bisa diajak berbicara. Menolak diajak berunding. Menolak diajak mencari solusi atas masalah yang mereka persoalkan. Karenanya, ketika PT Semen Indonesia sudah memperbaiki Amdal, disusul kemudian dengan keluarnya izin baru dari Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, sontak mereka kebakaran jenggot.

Dalih yang digaung-gaungkan selalu putusan Mahkamah Agung yang memenangkan gugatan mereka. Sementara, putusan itu sendiri cacat hukum, karena pihak penggugat melakukan kebohongan dan penipuan dengan cara mencantumkan 30 nama anak Balita, dalam daftar penggugat. Bukan hanya itu, banyak pula nama bohong-bohongan, alias fiktif, seperti Ultramen, Presiden RI, Copet Terminal, dan nama-nama ngawur lain. Ini yang luput dari hakim MA.

Seolah menafikan semua pelanggaran hukum yang telah mereka lakukan sebelumnya.... Seolah tak peduli ihwal penistaan yang mereka timpakan kepada para perempuan yang dibayar untuk bersedia dicor kakinya menggunakan semen, hanya demi menarik perhatian publik, utamanya pemberitaan media. Tuntutan mereka seperti suara penjual tahu goreng yang diulang-ulang.... ***

Demo "Waton Suloyo" Pimpinan Gunretno