alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58bd67a496bde6836c8b4579/aduhsusahnya-jadi-perempuan-ntt
Aduh...Susahnya Jadi Perempuan NTT!
Aduh...Susahnya Jadi Perempuan NTT!

Kupang, GATRAnews - Lemahnya upaya perlindungan bagi perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi perhatian utama bagi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (Apik) NTT. LBH yang fokus terhadap kasus hukum yang dialami perempuan ini menemukan kenyataan bahwa kekerasan terhadap perempuan di NTT sudah masuk ke dalam level gawat darurat. Hingga saat ini, LBH Apik NTT sudah menangani kurang lebih 300 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam lima tahun terakhir.

Direktur LBH Apik NTT, Ansi D Rihi Dara mengatakan kasus yang ditangani oleh timnya hanya lah yang terlihat dipermukaan. Masih banyak, kata dia, korban yang belum mendapatkan pelayanan hukum gi NTT. “Kekerasan terhadap perempuan dan anak itu seperti gunung es, permukaannya saja sekian, tapi masih banyak yang belum kelihatan,” ujar Ansi, dua pekan lalu (27/2) di Kantor LBH Apik, Kupang, NTT. Dari sejumlah kasus yang ditangani LBH Apik, kata Ansi, 90% korbannya adalah perempuan dan anak. Sebanyak 10% sisanya adalah anak laki-laki, dan masyarakat miskin termasuk laki-laki dewasa. Walaupun fokus terhadap perempuan dan anak, LBH Apik tak bisa menutup mata bahwa masih banyak masyarakat miskin yang tidak punya kemampuan untuk mengakses layanan hukum. “Selain itu, personil atau relawan yang kami miliki masih sedikit jumlahnya. Maka dari itu kami perlu bantuan dari LSM lain seperti Oxfam dan relawan di tingkat masyarakat atau paralegal,” urainya.
Libatkan Masyarakat Sebagai Paralegal
Sejauh ini, LBH Apik dan Oxfam telah merekrut sebanyak 35 orang paralegal. Mereka bertugas sebagai pendamping dan pengawas hukum di tingkat terbawah di masyarakat, sehingga paralegal memiliki kedekatan emosional dengan kaum perempuan dan korban. Ibarat dokter, kata Ansi, paralegal itu bertugas seperti perawat. “Syarat utama menjadi paralegal adalah memiliki kepedulian. Karena ini kerja sosial, dan tak ada bayarannya,” jelas Ansi. Paralegal juga berfungsi untuk menemukan potensi kasus yang terjadi di masyarakat. Karena bersifat suka rela, Ansi mengaku tak banyak orang yang berminat mencoba profesi ini.”Kerja mereka sebenarnya untuk pencegahan. Kami mengajak tokoh agama, dan tokoh masyarakat menjadi paralegal,” terangnya. Menjadi paralegal bukan lah perkara mudah, tak jarang mereka harus mencari sumber dana sendiri untuk menolong korban. Hebatnya, lanjut Ansi, korban sangat percaya dengan paralegal. “Mereka punya mekanisme memperkenalkan diri yang hebat kepada masyarakat. Mereka bahkan bergerak dengan usaha mereka sendiri. Kami hanya memberikan pelatihan teknis, seperti hal apa yang harus dilakukan jika mendapat laporan, mengamankan korban yang terluka, serta membuat kronologis kasus,” tandasnya.
Berhadapan Dengan Aparat Hukum dan Tokoh Masyarakat
Dalam perjalanan memberi layanan hukum kepada perempuan NTT, LBH Apik kerap menemukan kenyataan pahit yang menyedihkan. Tak jarang, tim pengacara dihalang halangi oleh aparat keamanan setempat. Ansi mengisahkan, terkadang oknum aparat mengakali pihak korban. Misalnya, kata dia, korban yang hendak melapor dikenakan biaya yang besar, sehingga kasus mereka tak bisa dilanjutkan karena tak punya biaya untuk membayar kepada oknum tersebut. “Banyak sekali kenyataan menyedihkan di lapangan. Oknum aparat hukum pun tidak tulus melayani korban, susahnya lagi, korban yang seperti ini berada di pelosok, yang memakan waktu lama untuk menuju lokasi,” kata Ansi mengisahkan. Sempat pula LBH Apik menemukan kasus hukum yang menguras emosi. Ansi mengatakan, di sejumlah daerah plosok NTT, pelaku kejahatan justru dari kalangan tokoh masyarakat yang dihormati. Dirinya pernah menemukan kasus pemerkosaan anak di bawah umur yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah. “Ini bikin emosi, si kepala sekolah meminta murid-muridnya menginap di sekolah menjelang Ujian Nasional. Dia sudah punya rencana, karena istrinya diminta mengunjungi keluarga jauh. Saat malam hari, kepala sekolah itu memperkosa murid-murid perempuan yang sudah dia incar,” urai Ansi. Hal semacam ini semakin menambah daftar kelam tentang perempuan NTT. Menjadi perempuan di wilayah Indonesia Timur ini tidak lah mudah. Tak jarang, tim juga berhadapan dengan korban yang tak mau kasusnya diungkap. Alasan adat dan harga diri sering digunakan untuk menutupi kasus dan akhirnya melindungi pelaku kejahatan. “Susahnya, korban pun ditutup-tutui, bahkan dari pihak keluarganya. Maka dari itu, kami bekerja 24 jam, kami rekrut orang-orang yang punya peran untuk proses penyadaran kepada masyarakat,” pungkasnya.
Jumlah Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan di NTT
Berdasarkan data yang dihimpun oleh tim LBH Apik NTT, jenis kekerasan yang paling banyak menimpa perempuan dan anak adalah pemerkosaan. Dalam lima tahun terakhir, pemerkosaan menjadi kasus dominan di NTT. Puncak kejadian kasus ini terjadi pada 2015 silam, yaitu sebanyak 74 kasus dalam setahun. Jumlah ini meningkat drastis dari dua tahun sebelumnya, yaitu 2013 sebanyak 11 kasus, dan 2014 sebanyak 8 kasus. Sementara di tahun 2016 lalu, terjadi sebanyak 43 kasus pemerkosaan. Data di tahun 2016 menyebutkan, korban terbanyak dari kasus perkosaan adalah anak-anak, yaitu sebanyak 56 orang, dan 4 orang dewasa. Di tahun yang sama, kasus pencabulan juga paling banyak menimpa anak-anak, dengan jumlah korban sebanyak 53 orang. Kasus ini juga terjadadi pada orang dewasa sebanyak 12 orang. Tak hanya pemerkosaan, perdagangan orang atau human trafficking juga menjadi kasus yang serius di NTT. Kasus ini mencapai puncaknya pada tahun 2014 dengan jumlah korban sebanyak 426 orang. Sementara di tahun berikutnya 2015 kasus ini juga masih mendominasi walau pun berkurang jumlahnya dari tahun 2014 menjadi 339 orang. Angka itu mengalami penurunan yang cukup signifikan pada tahun 2016, dengan jumlah korban sebanyak 60 orang.

Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Nur Hidayat

Sumber : http://www.gatra.com/nusantara/bali-...-perempuan-ntt

---


- Aduh...Susahnya Jadi Perempuan NTT! Terungkap Mengapa Wanita Lebih Menderita Nyeri daripada Laki-laki
yang terjadi di ntt juga terjadi di mana2.