alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58bd4134a09a39a43c8b456b/karena-aku-sayang-kamu
Hepi 
Karena Aku Sayang Kamu
Quote:PROLOG

Menjadi siswa SMA mungkin adalah salah satu hal yang aku inginkan dari dulu. Tidak ada alasan yang khusus kecuali karena celana panjang berwarna abu-abu itu. Impian yang sederhana tapi relevan dengan tempat tinggalku yang lumayan jauh dari kota. Mimpi? aku tidak pernah terlalu memikirkan karena aku sudah tahu takdirku menjadi apa. Aku adalah anak semata wayang dari janda bernama Ismi, ia adalah pemilik dari toko kelontong yang paling besar di desaku. Jangan bayangkan bangunan toku ibuku ini seperti supermarket di kota, bangunannya hanyalah rumah berbentuk kubus yang akses masukanya menggunakan rolling-door. Rolling-door inilah yang membedakan toko ibuku dengan kios-kios lainnya. Sebagai anak tunggal dari seorang janda tentu aku akan mewarisi semua hal yang dimiliki ibuku termasuk tokonya.

Walau ibuku tak pernah secara khusus membicarakan semua itu tapi dari caranya mendidikku terlihat jelas bahwa aku akan melanjutkan usahanya itu. Apakah aku pernah tidak nyaman dengan takdirku ini, mungkin tidak pernah karena aku tidak ingin mengecewakan beliau tentu karena aku sayang kamu. karena kamu ibuku.
Rules
INDEX
Sold out
Spoiler for "mantap":

[ I ] Toko Kelontong

Quote:Aku tidak pernah bosan dengan kampung ini. Setiap hari selalu saja ada hal yang baru. Fenomena aneh yang mungkin tidak akan pernah ditemukan di kota. Seperti Pak Sukirman. tukang ojek yang kimpoi untuk ketiga kalinya tapi tak satupun istrinya yang ingin diceraikan atau kasus Baron remaja 12 tahun yang jadi buronan karena mencuri tanaman hias mahal milik kepala desa dan juga kasus Pak Budiman, ketua RW berumur 50 tahun yang menikahi tetangganya yang baru lulus SMP bernama Melati. Melati adalah salah satu kembang desa yang juga teman sepermainku sewaktu kecil. Tak bisa kubayangkan seorang gadis seperti melati bisa bersanding dengan Pak Budiman yang terkenal mata keranjang.

"Bunda, air minum gelasnya 10 Dus ya." pinta Mpok Siti kepada ibuku. Entahlah aku tidak tahu sejak kapan orang-orang memanggil ibuku dengan sebutan bunda, aku tidak peduli karena sudah terbiasa.

"Minumannya ada di gudang Mpok Siti, sebentar aku ambilkan," sahutku di depan meja kasir.

"Si Bejo ga kerja Den," tanya Mpok Siti. Orang-orang memanggilku aden.

Aku keluar dari gudang sambil mendorong 5 Dus air mineral dengan menggunakn troli. "Si Bejo sakit Mpok jadi sekarang aku yang jaga" Bejo adalah satu-satunya pegawai di toko ibuku. Manusia serba bisa dari memperbaiki listrik yang rusak sampai mewakili kampungku sebagai penabuh beduk takbiran dalam kompetisi antar kampung di balai desa ."Kebetulan aku juga udah libur sekolah. Kok beli air minum banyak banget Mpok?" tanyaku sambil menurunkan dus-dus itu dari troli.

Mpok Siti agak ragu memberitahuku. Ia nampak menimbang-nimbang apakah ia akan menceritakan kepadaku atau tidak. Namun aku memilih untuk tidak membuat pelangganku merasa tidak nyaman, aku kembali mengambil sisa dus di dalam gudang. Tak butuh waktu lama 10 dus minuman itu sudah ada di depan toko dan siap untuk dibawa.

"Ini Mpok," kataku memberikan secarik kertas berisi total harga belanjaannya. Toko kecilku memang selalu mengedepankan transparansi walau nota itu hanya terbuat dari bungkus kotak rokok yang dipotong kecil-kecil. Hehe. Mpok Siti lalu memberiku beberapa lembar uang lima puluh ribu, aku lalu kembali kemeja kasir. Sekali lagi jangan bayangkan meja kasir ini memiliki mesin kasir. Hanya ada buku panjang yang berisikan barang-barang yang telah terjual.

"Kalau minumannya buat syukuran atau nikahan biasanya bundaku kasih satu dus gratis loh Mpok," tanyaku. Aku tidak bermaksud ingin tahu apa yang disembunyikan Mpok Siti namun aku hanya ingin membantu karena Mpok Siti termasuk orang yang kurang mampu.

"Terima kasih loh Den," Mpok Siti sepertinya mengerti niat baikku. "Mpok rasa Haji Sahid tidak perlu sumbangan Den. Wong sawahnya dimana-mana," jawab Mpok Siti Polos. Aku tidak tahu apa Mpok Siti sadar bahwa ia tadi sudah memberitahukan untuk siapa minuman ini dibeli.

"Haji Sahid mau ada acara Mpok?" tanyaku seraya memberikan uang kembalian kepada Mpok siti. Mpok Siti kaget, ia sepertinya sadar telah salah bicara.

"Ya den," jawab Mpok siti sambil senyum malu karena telah membocorkan cerita kepadaku. Bukannya malah diam Mpok siti malah menceritakan kronologi kenapa Pak Sahid mengadakan acara. Ternyata Junaidi, anak bungsu Haji Sahid kedapatan melakukan hubungan seksual dengan pacarnya di rumahnya sendiri. Awalnya Pak Sahid ingin merahasiakan kejadian itu karena Junaidi baru saja naik kelas 3 SMA. Tapi ternyata nasib berkata lain, pacar si junaidi itu tak sadar bahwa ia telah mengandung dua bulan. Tak ada cara lain selain menikahkan mereka berdua. Mpok Siti bercerita dengan semangat, ia menceritakan bagaimana kemarahan Haji Sahid yang hampir menggorok leher anaknya. Aku tahu cerita itu sedikit dilebih-lebihkan tapi aku tetap menikmatinya. Butuh 15 menit lebih sampai semua cerita Mpok Siti selesai.

"Jadi cara Mpok bawa dus-dus ini gimana?" tanyaku, Dus itu menghalangi jalan masuk toko kelontongku.

"Nanti Rois yang ngambil pake grobak Pak Yoyok." kata Mpok Siti.

"Loh kenapa tidak Rois aja yang kesini Mpok, kenapa malah Mpok," tanyaku bingung. Cara Mpok Siti benar-benar tak efektif.

"Rois kalau dikasih pegang duit banyak bawaannya sering kalap Den." kata Mpok Siti. Aku tertawa kecil, kenapa aku bisa lupa kelakuan Rois. Anak Mpok Siti. ia tiga tahun lebih tua dariku. Pemuda yang tergila-gila dengan ayam jago, bahkan ia berhenti sekolah gara-gara ia menggunakan uang SPP untuk pergi kepasar untuk melihat-lihat ayam jago. Mpok siti akhirnya pulang untuk membantu Haji Sahid untuk mempersiapkan pernikahan Junaidi.

"Tadi siapa sayang?" bunda datang membawa makan siangku. Makan siang dengan menu wajib telur dadar favoritku. Aku langsung mengambil nampan yang dibawa bundaku lalu menaruhnya di meja di pojok belakang toko.

"Tadi Mpok Siti Bunda. Beli minuman gelas 10 Dus," jawabku namun mataku tidak lepas dari makanan di depanku.

"Mau bunda suapin," Bunda menggodaku.

"Terima kasih bunda, tapi nanda udah gede." Namaku Ananda Pratama. Remaja yang memiliki Bunda cantik bernama Ismi Mayangsari. Aku Remaja yang baru saja lulus SMP. Aku hanya tinggal bersama ibundaku. Aku tidak terlalu tahu kisah ayahku dan aku tidak pernah peduli. Ibuku masih cukup muda. Usianya masih 35 tahun. Ibuku lahir dengan wajah rupawan, mungkin gen itu menurun padaku. Aku selalu merasa punya tampang yang lumayan. Yah tapi lagi-lagi aku tidak terlalu peduli.

Kisahku dimulai disini.
Pertamax ya gan emoticon-Big Grin
Aku juga sayang kamu.
wah cerita baru...ikut nimbrung ya gan....moga lancar yak ga da kentang emoticon-Peace

lanjut breh
Quote:Original Posted By cummul
Aku juga sayang kamu.


Suamiku emoticon-Peluk


emoticon-Betty

[ II ] Dunia Baru

Quote:Pemikiran orang tua kadang membingungkan. Kadang ia mendorong sekuat tenaga untuk maju tapi kadang ia menyuruh kita untuk jangan berlari karena ia takut kita terjatuh padahal jatuh adalah resiko bagi orang-orang yang ingin melangkah maju. Sama halnya dengan ibundaku, berminggu-minggu ia menghabisakan waktu untuk membujukku agar mau sekolah di kota namun berapa malam terakhirku di rumah ia habiskan untuk menangisi kepergianku. Aku paham beliau mengkhawatirkanku, sama seperti aku mengkhawatirkan ibundaku tinggal tanpa diriku.

Pagi itu aku harus meninggalkan desa tempat aku tumbuh menjadi seperti sekarang. Tumbuh menjadi sosok remaja yang sederhana. Lalu tiga tahun kedepan aku akan menghabiskan waktuku di tempat baru, aku sadar tempat baru itu akan menjadi tantangan besar bagiku mengingat aku hanya anak pelosok yang biasa hidup dengan kesederhanaan. Kota memang hanya dua jam sajadari desa bila menggunakan kendaraan pribadi tapi kalau menggunakan angkutan kota bisa menjadi dua kali lipatnya. Ini menandakan aku tidak bisa pulang setiap minggu, dulu aku menunggu masa-masa SMA ini tapi sekarang aku berharap masa-masa ini segera berakhir agar aku bisa kembali menjaga ibundaku.
***
Aku mengira aku akan tinggal di sebuah kos yang seperti aku lihat di TV. Kamar yang kecil yang berukuran 4x4 meter, dengan kasur dan beberapa prabotan yang sederhana. Namun tempat aku berdiri sekarang adalah sebuah rumah minimalis yang lengkap dengan garasi Mobil. Aku berdecak melihat ruang tamu dengan sofa cerah berwarna orange, perabotan yang baru, Vas bunga yang dihiasi bunga plastik yang indah. Ruang tamu itu langsung menghadap kesebuah dapur yang dilengkapi dengan ruang makan yang lumayan luas. Dapur itu sangat lengkap dari segi perabotan terdapat alat masak sampai lemari es. Di sisi kanan rumah terdapat ruang keluarga dan dua buah kamar. Di ruang keluarga itu terdapat sofa-sofa kecil dan sebuah TV yang besar. Di pojok ruangan juga terdapat Komputer langkap. Kamar tidurnya juga persis seperti kamar tidurku di rumah hanya agak sedikit kecil. Rumah ini tidak jauh beda dengan rumahku namun ukurannya hanya lebih kecil saja.

“Nanda akan tinggal disini?” tanyaku. Khayalanku tentang tinggal sendiri tidak seperti ini. Ini sama halnya seperti aku pindah rumah aja. Ibundaku mengangguk, seraya menarik koperku untuk merapikan baju-baju di lemariku.

“Bun, nanti Nanda aja yang rapikan,” kataku. Ibundaku tersenyum, “Kali ini biarkan Bunda saja, setelah ini bunda tidak bisa merapikan baju kamu lagi,” Bunda kembali meneteskan air mata.

Aku berjalan mendekati bunda lalu memeluknya, “Bunda kok nangis terus. Percaya sama Nanda, Nanda bisa hidup mandiri seperti yang Bunda bilang tempo hari,” kataku. Bunda akhirnya tersenyum lalu kembali merapikan bajuku dan memasukkannya kedalam lemari bajuku.

“Rumah ini hadiah dari Nenek dan Kakek,” kata Bundaku. Aku mengangguk, aku sama sekali tidak heran. Nenek dan kakek memang termasuk golongan berpunya, beliau berdua mengelola restoran yang kini diserahkan kepada pamanku. Aku adalah cucunya satu-satunya karena pamanku sampai sekarang belum ingin menikah. Wajar kalau mereka sangat memanjakanku.

“Kamu tidak suka?” tanya Bundaku karena aku diam saja. Aku berjalan menuju jendela lalu membuka agar udara bisa masuk dengan leluasa.

“Aku suka Bun, jauh dari bayanganku. Agak terlalu berlebihan bagi anak SMA tapi Nenek dan kakek akan sedih kalau mereka mendengarku berbicara seperti ini kan?”

“Kamu selalu tahu cara membuat Nenek dan Kakekmu senang,” Puji ibundaku.

“Jadi satu kamar lagi buat siapa Bun?” tanyaku.

“Untuk anakmu kelak” kata Bundaku santai, aku terbatuk saking kagetnya. “Rumah ini akan diberikan atas nama kamu, jadi rumah ini sudah jadi milik kamu,” lanjut Ibundaku.

“Aku tidak bisa menolak pemberian kakek tapi setelah dewasa nanti aku akan tetap tinggal bareng bunda,” kataku. Bundaku terdiam, “Aku akan tinggal di desa dan menjaga bunda sampai tua walaupun aku sudah menikah,” kataku.

Bunda melangkah mendekatiku yang sedang berdiri di dekat jendela kamar. “Ada saatnya kamu harus pergi meninggalkan Bunda lalu hidup bahagia dengan keluarga barumu nanti.”

“Tidak aku akan tetap bersama bunda kecuali Bunda menikah lagi dan menemukan lelaki yang akan melindungi dan membahagiakan bunda,”kataku. Bunda tidak menjawab, entah ada yang bunda sembunyikan atau tidak tapi bunda terlihat sedih.

“Bunda sudah terlalu tua untuk menikah lagi,”

“Bunda masih muda masih cantik, siapapun pilihan bunda Nanda akan terima. Asalkan bunda bahagia,” Bunda tidak menjawab. Ia hanya tersenyum lalu kembali merapikan bajuku kedalam lemari.

***
Dengan perkembangan media sosial dan segala bentuk teknologi informasi lainnya sekolah baruku ini masih menggunakan Majalah Dinding untuk mengumumkan peraturan dan perlengkapan MOS. Aku paham sekali semua ini hanya akan-akalan panitia OSIS yang ingin membuat kami repot. Aku bisa melihat senyum-senyum menyebalkan dari beberapa panitia OSIS yang sedang duduk santai di bawah pohon sementara kami berdesakan melihat pengumunan di Mading.

Aku cukup beruntung memiliki tubuh yang tinggi dan pengelihatan yang masih sehat. Aku tidak perlu merangsek masuk kedalam lautan siswa baru yang mulai anarkis berjejalan untuk melihat berapa lembar kertas A4 yang ditempel disana. Tiba-tiba aku merasakan ada yang sedang mencolek-colek lenganku, semakin lama sentuhan itu semakin terasa, Aku menoleh kearah asal sentuhan itu. Aku mendapati seorang gadis dengan badan yang tergolong kecil, pipi tembem dengan lesung pipi yang menghiasinya. Rambutnya berponi, gadis itu benar-benar sangat manis. Ah tidak bukan hanya manis tapi sangat cantik.
“Hmmm… Anu…” kata gadis itu malu-malu.

“Ada yang bisa aku bantu?,” tanyaku Ramah. Gadis itu mengangguk namun ia kembali diam.

“Kamu mau meminjam catatanku?” tanyaku kembali. Ia mengangguk kembali seraya tersenyum senang. Aku lalu memberikan catatanku yang berupa buku mirip diary berwarna hitam hadiah dari ibundaku.

“Kamu sudah mencatat semuanya?” tanya gadis itu. Kini aku hanya membalas dengan anggukan. “terima kasih,” jawab gadis itu dengan senyum yang membuat jantungku berdetak kencang.

“Lebih baik kita menjauh dari sini, anak-anak yang lain makin anarkis,” gadis itu terlihat setuju. Kami lalu berjalan menuju tempat duduk di bawah pohon ketapang yang sangat besar.

“Akhirnya aku tertolong,” ucap gadis itu seraya menulis ulang catatanku. “Sekali lagi terima kasih ya?” kini ia tidak tampak semalu tadi.

“Kamu datang sendiri?” tanyaku. Aku agak heran karena hampir semua siswa baru datang dengan temannya. Dua orang bahkan ada yang kelompok besar. Tentu kecuali aku yang masih tidak punya teman kecuali gadis ini walau kami belum berkenalan secara resmi.

“Aku tadi sama teman-temanku yang lain tapi aku enggak tahu mereka dimana,” kata gadis itu celingak-celinguk memastikan teman-temannya.

“Mungkin terjebak di dalam kerumunan,”

“Mungkin,”

Aku mulai berfikir sendiri kenapa gadis ini bertanya kepadaku. Ia terlihat seperti gadis pemalu, akan lebih nyaman kalau dia bertanya pada gadis lainnya bukan seorang cowok. Apa karena ia tidak bisa menemukan cewek yang sudah mencatat isi pengumuman itu atau ada hal yang lain. Entah kenapa gadis ini membuatku penasaran. Terlepas dari fisiknya yang memang tidak diragukan, ia seperti memancarkan aura yang berbeda. Aura yang membuatku senang tanpa sebab.

“Aku sudah selesai. Ini,” gadis itu mengembalikan catatanku,” terima kasih,” katanya sambil menghadiahiku senyum. Gadis itu tampak akan pergi mencari teman-temannya. “Aku duluan ya,” katanya.

“Ya,” jawabku. Gadis itu pergi. Ia pergi tanpa saling tahu nama satu sama lain.
lanjut?