alexa-tracking

Main Content

1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/58bcd6d11854f7f17b8b457b/menebak-lukisan-koempoel-soeyatno
Menebak Lukisan Koempoel Soeyatno
Menebak Lukisan Koempoel Soeyatno


Oleh: Amang Mawardi (Penulis)

TRIBUNNEWS.COM, PALMERAH--Banyak lukisan diburu ketika pelukisnya telah meninggal dunia. Sebaliknya, ada banyak pelukis setelah di Alam Sana – maaf – nasib lukisan-lukisannya merana.

Namun banyak juga lukisan yang dikejar-kejar, baik saat pelukisnya masih hidup maupun ketika sudah meninggal.

Pada jajaran lukisan berbasis naturalisme di Surabaya – kalau tidak salah diawali sekitar tahun 1990-an – karya Koempoel Soeyatno (Kumpul) dan Rustamadji agaknya paling banyak diburu.

Lantas karya S.Toyo.

Dengar-dengar, saat ini karya Anshori juga banyak dicari.

Mungkin yang murni bercorak naturalisme adalah karya Rustamadji dan S. Toyo. Yang membedakan, Rustamadji lebih banyak menggunakan kuas dalam melukis, sedangkan S. Toyo dengan pisau palet.

Sementara karya-karya Kumpul menyiratkan impresionisme. Sehingga, barangkali, bisa diistilahkan sebagai karya yang naturalisme impresionistik.

Sedangkan karya Anshori menuansakan ekspresionisme. Maka boleh jadi sebagai naturalisme yang ekspresionistik.

Mereka berempat sudah almarhum. Mula-mula pelukis Kumpul, disusul Rustamadji. Lantas S. Toyo. Belakangan yang menghadap Sang Khalik adalah Anshori. (Al Fatihah buat semuanya …)

Karena lukisan mereka banyak dicari yang boleh jadi menimbulkan suplay and demand tak seimbang, bisa ditebak banyak muncul karya-karya palsu. Terutama karya-karya Kumpul dan Rustamadji.
Disusul yang mengatas-namakan S. Toyo.

Baru kemudian saya melihat beberapa lukisan palsu yang menjiplak dan menyantumkan tanda tangan Anshori.

Obyek karya-karya “kw” tersebut terbelah menjadi dua, yakni duplikasi dari karya asli atau paling tidak mirip-mirip, dan yang berobyek lain yang belum pernah diproduksi oleh pelukis aslinya.

Mungkin karena paling banyak karyanya, lukisan-lukisan Kumpul agaknya yang sering dipalsu. Dari yang agak sulit, sulit, sampai yang sangat sulit ditebak apakah asli atau palsu.

***

Apa landasan seseorang berani memastikan sebuah lukisan palsu atau asli? Mungkin secara ilmiah ada teorinya.

Namun di luar itu, untuk mengetahui lukisan palsu atau tidak, barangkali rumusnya sering-seringlah “bergaul” intens dengan lukisan yang asli. Syukur-syukur kalau pernah akrab dengan pelukisnya.

Persoalannya, bagaimana bisa menilai dengan mantap jika yang “digauli” selama ini ternyata palsu hasil dari tehnik canggih ?

Mungkin dengan sering mendatangi museum pelukis bersangkutan yang dijamin memajang karya-karya asli.

Lha kalau ada pelukis yang tidak punya museum, sebab banyak lho pelukis yang tidak punya museum ? Waduh, embuh!
Tapi sudahlah …

Dengan menggauli intens, seseorang akan semakin tahu jiwa dari lukisan-lukisan yang dihasilkan pelukis tertentu yang “bertubuh” warna, obyek yang sering dilukis, perspektif jauh dekat, dan beberapa hal lain lagi.

Celakanya seringkali didengar banyak pemalsu yang makin piawai lantaran terus belajar untuk menyempurnakan kelakuan busuknya, sehingga seseorang dibuat sulit untuk menebak yang asli dan yang palsu.

Konon pada sekian kurun waktu, pelukis Koempoel Soeyatno menggunakan cat yang dia “bikin” sendiri dengan membeli bubuk cat di kawasan dekat Kembang Jepun Surabaya. Maka “ditemukanlah” biru, magenta, kuning, putih, dan warna lain yang berbeda sebagaimana cat minyak yang dibikin produsen main stream. Dan inilah salah satu faktor sulitnya karya Kumpul dipalsu.

Tetapi “maling ada kalanya lebih pintar dari polisi”. Boleh jadi pemalsu juga belajar bagaimana meramu bubuk cat sehingga bisa menyamai warna-warna yang dulu pernah “ditemukan” Kumpul, setelah mengetahui salah satu “rahasia” pelukis yang antara lain pernah tinggal di kampung Jagiran Surabaya dan di Batu Malang ini.

Di sisi lain, konon ada banyak pakar yang bisa menebak lukisan Kumpul asli atau tidak dari melihat sapuan paletnya. Sebab sapuan palet pada lukisan Kumpul seringkali meninggalkan seleretan garis-garis kecil yang sulit dilihat secara sambil lalu, karena dihasilkan dari potongan gedek tak berkulit sebagai pengganti pisau palet.

Tetapi apa tidak mungkin garis-garis seleretan ini juga dipraktikkan oleh pemalsu yang didengarnya dari mulut ke mulut perihal tersebut?

***

SUATU hari di sekitar awal tahun 2000-an saya mendatangi lapak ahli pigura yang ada di sebuah kawasan pusat Surabaya.

Di teras tampak lima orang bercengkerama gayeng. Tiga di antara mereka adalah pelukis. Dua lainnya saya tidak kenal. Mungkin kenalan salah satu dari pelukis itu.

Setelah menyerahkan sejumlah kolek(dol)si saya kepada Mas Ahli Pigura untuk dipesankan pigura, saya pun bergabung dengan mereka.

Obrolan lantas bermuara kepada lukisan Kumpul yang sering dipalsu. Kami pun berdiskusi seru.

Lantas salah satu dari mereka yang saya ketahui sering mendatangi iven-iven kesenian di Surabaya, masuk ke dalam dan dengan seizin Mas Ahli Pigura menggotong keluar beberapa lukisan ukuran sedang.

Lantas digelar di depan kami. Wow empat lukisan Kumpul ! Lukisan-lukisan ini cukup indah. Empat-empatnya berobyek pemandangan, dimana warna, komposisi, dan perspektif jauh-dekatnya khas Kumpul.

“Coba sampeyan tebak lukisan-lukisan ini asli atau palsu ?” katanya kepada saya.

Waduh kalau disuruh menilai lukisan asli atau palsu di depan banyak orang riskan juga, mas bro …

Tetapi apa boleh buat, karena pelukis yang sering menyelipkan istilah-istilah asing itu mendesak, saya mencoba menilainya dengan hati-hati dibantu insting yang berbasis kandungan lukisan Kumpul yang selama ini saya kenal. Setelah itu saya putuskan, tentu dengan tidak mengatakan palsu, tetapi “saya ragu-ragu”.

Ada dua yang saya ragukan, salah satunya lukisan yang ada gambar seorang pemancing sedang berjalan di sebuah jalan di tepi sawah.

“Sampeyan sudah lama jadi penyelenggara pameran lukisan ternyata tidak secanggih yang saya perkirakan …he-he-he,” katanya.

Meski diucapkan dengan nada guyon tapi cukup bikin saya nyengir.

“Lukisan-lukisan ini semuanya palsu, bos !” katanya.

“Iya ta ?” komentar saya.

Lantas debat seru lagi.

“Dasarnya apa sampeyan menilai ini semua palsu ?” kejar saya.

“Dasarnya? Dasarnya karena saya tahu pemalsunya !”

Eladalah !

*) Tulisan ini saya beri tambahan sub-judul tetap Cerita Seputar (Bisnis) Lukisan, melanjutkan cerita yang sebelumnya pernah saya posting yaitu “Lukisan yang Tak Terjual” dan “Pensiunan Polisi dan Lukisan Rustamadji”.

Selanjutnya akan saya turunkan serialnya yang saya selingi dengan postingan lain.

Semoga berkenan.

Sapa : Made Wirya , Aming Aminoedhin , Toto Sonata

Sumber : http://www.tribunnews.com/tribunners...mpoel-soeyatno

---

Baca Juga :

- Lukisan Ini Pasti Laku Karena Kolektor Yang Kita Datangi